Anda di halaman 1dari 18

Pentingnya Implementasi Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Disusun oleh: Nama : Misbakhudin NIM Prodi : 5302412065 : PTIK 2012

Rombel :

PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA DAN KOMPUTER

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sekarang ini, tak bisa dipungkiri lagi kita hidup di zaman yang serba cepat, instan, global yang biasa kita sebut era globalisasi, yang dimana waktu, ruang, dan jarak bukan lagi menjadi pembatas. Globalisasi dapat berpengaruh terhadap perubahan nilai-nilai budaya suatu bangsa. Yang mau tidak mau, suka tidak suka telah datang dan menggeser nilai-nilai yang telah ada. Nilai-nilai tersebut, ada yang bersifat positif ada pula yang bersifat negatif. Semua ini merupakan ancaman, tantangan, dan sekaligus sebagai peluang bagi bangsa ini untuk berkreasi dan berinovasi di segala aspek kehidupan, khususnya pada generasi muda Indonesia. Seiring dengan derasnya arus globalisasi saat ini yang mana setiap individu sering melupakan bahkan mempertanyakan nilai-nilai yang ada dalam pancasila maka dirasakan makin kuat pula desakan untuk terus menerus mengkaji nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila yang merupakan sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di negara Republik Indonesia ini. Berbicara tentang nilai, nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila memiliki arti yang mendalam dalam baik itu secara historis maupun Nilai-nilai

pengimplementasiannya

kehidupan

bermasyarakat.

pancasila ini bagi bangsa Indonesia meupakan landasan atau dasar, cita-cita dalam melakukan sesuatu juga sebagai motivasi dalam perbuatannya, baik dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat maupun dalam kehidupan kenegaraan. Bila kita lihat babak pergantian pemerintahan di Indonesia, tanpa disadari, pancasila sedikit mengalami perubahan dalam hal penghayatannya. Setidaknya penghayatan yang berbeda ini telah berdampak bagi reformasi hukum di indonesia. Pancasila telah menjiwai anak-anaknya untuk terus

mempertahankan cita-cita yang ada hingga masa reformsi kini. Akan tetapi lambat tahun, nilai-nilai pancasila yang tertanam di hati masyarakat sedikit demi sedikit memulai memudar akibat pengaruh dari globalisasi dan lainlain. Dalam kehidupan bermasyarakat saat ini, nilai-nilai kepancasilaan yang kita pertahankan tersebut yang ada, seakan dikesampingkan dan itu menjadi sebuah permasalahan baru dewasa ini. Pertanyaan yang paling dikedepankan adalah bagaimana bentuk nyata penerapan yang cocok terhadap nilai-nilai pancasila tersebut di dalam kehidupan bermasyarakat saat ini, berbangsa dan bernegara seiring dengan derasnya arus globalisasi dan juga bagaimana penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat.

1.2. Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas, dapat diketahui rumusan masalah sebagai berikut: 1) Apa makna yang terkandung dalam nilai-nilai pancasila? 2) Bagaimana mengimplementasikan Nilai Nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? 3) Bagaimana aktualisasi pancasila? 4) Apa pedoman penerapan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan seharihari, berbangsa dan bernegara?

1.3. Tujuan dan Manfaat a. Tujuan


Tujuan dari makalah ini adalah : 1) Untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. 2) Untuk mengetahui makna nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. 3) Untuk mengetahui apa pentingnya nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 4) Untuk mengetahui bagaimana cara mengimplementasikan

pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

b. Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini antara lain adalah :
1)

Sebagai sumber bacaan dan tambahan bagi semua pihak yang ingin mengetahui nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari, berbansa dan bernegara serta bagaimana implementasinya.

2)

Sebagai

bahan

perbandingan

dengan

makalah

lain

yang

mengangkat masalah yang sama.

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Nilai-nilai Pancasila


Bagi bangsa Indonesia, Pancasila telah diterima sebagai kesepakatan bangsa bersama tiga pilar yang lain yaitu UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila secara de yure telah disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 sebagai dasar negara, ideologi dan falsafah bangsa. Rumusan Pancasila sebagaimana tertuang

dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV terdiri dari lima sila, azas atau prinsip yaitu : 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Kemanusiaan yang adil dan beradab; 3) Persatuan Indonesia; 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; 5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan Pancasila secara material memuat nilai-nilai dasar manusiawi, sedangkan sebagai dasar negara, Pancasila memiliki ciri khas yang hanya diperuntukkan bagi bangsa Indonesia. Atas dasar itu,

keberadaan Pancasila yang pada hakekatnya adalah nilai (value) yang berharga, yang memuat nilai-nilai dasar manusiawi dan nilai-nilai kodrati yang melekat pada setiap individu manusia diterima oleh bangsa Indonesia (Paulus Wahana, 2001: 73). Mencermati nilai-nilai dasar yang melekat dalam kehidupan manusia, Notonagoro yang membahas Pancasila secara ilmiah populer, menjelaskan bahwa sesuai sifatnya manusia memiliki sifat individual dan sekaligus sebagai makhluk sosial. Dengan memaknai nilai-nilai dasar

manusiawi tersebut, wajar bahwa nilai-nilai Pancasila dapat diterima oleh seluruh bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki landasan hubungan antara manusia dengan Tuhan Penciptanya, dengan sesamanya dan dengan lingkungan alamnya (Notonagoro, 1987: 12-23).

Sebagai

nilai-nilai

dasar

manusiawi,

Pancasila

dalam

implementasinya dapat dijabarkan kedalam nilai-nilai yang lebih khusus, lebih terperinci dan lebih operasional, sehingga dapat ditemukan dan dikembangkan dalam berbagai aspek kehidupan. Sehubungan dengan hal itu, perlu dipahami bahwa nilai-nilai Pancasila sebenarnya memiliki sifat sebagai realitas yang abstrak, umum, universal, tetap tidak berubah, normatif dan berguna sebagai pendorong tindakan manusia (Paulus Wahana, Loc. Cit : 29-33). Kelima sila, azas atau prinsip Pancasila dapat dikristalisasikan kedalam lima dasar yaitu nilai keTuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan. Pancasila merupakan jalinan nilai-nilai dasar

dan merupakan kristalisasi dari nilai-nilai budaya, nilai-nilai asli yang hidup, yang berasal dan berakar dari bangsa Indonesia. Sebagai ideologi nasional, nilai-nilai dasar Pancasila menjadi citacita masyarakat Indonesia, sekaligus menunjukkan karakter dan jati diri bangsa. Selama ini jati diri bangsa Indonesia diterima sebagai bangsa yang religius, bersatu, demokratis, adil, beradab dan manusiawi. Adapun wujud

dari jati diri bangsa ditunjukkan dengan kesepakatan untuk menggunakan prinsip kemanusiaan, keadilan, kerakyatan dan prinsip Ketuhanan dalam menyelesaikan masalah kebangsaan (Tilaar, 2007: 32).

2.2. Makna nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila


Ketuhanan (Religiusitas) Nilai religius adalah nilai yang berkaitan dengan keterkaitan individu dengan sesuatu yang dianggapnya memiliki kekuatan sakral, suci, agung dan mulia. Memahami Ketuhanan sebagai pandangan hidup adalah mewujudkan masyarakat yang beketuhanan, yakni membangun masyarakat Indonesia yang memiliki jiwa maupun semangat untuk mencapai ridlo Tuhan dalam setiap perbuatan baik yang dilakukannya. Dari sudut pandang etis keagamaan, negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa itu adalah negara yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Dari

dasar ini pula, bahwa suatu keharusan bagi masyarakat warga Indonesia menjadi masyarakat yang beriman kepada Tuhan, dan masyarakat yang beragama, apapun agama dan keyakinan mereka Kemanusiaan (Moralitas) Kemanusiaan yang adil dan beradab, adalah pembentukan suatu kesadaran tentang keteraturan, sebagai asas kehidupan, sebab setiap manusia mempunyai potensi untuk menjadi manusia sempurna, yaitu manusia yang beradab. Manusia yang maju peradabannya tentu lebih mudah menerima kebenaran dengan tulus, lebih mungkin untuk mengikuti tata cara dan pola kehidupan masyarakat yang teratur, dan mengenal hukum universal. Kesadaran inilah yang menjadi semangat membangun kehidupan

masyarakat dan alam semesta untuk mencapai kebahagiaan dengan usaha gigih, serta dapat diimplementasikan dalam bentuk sikap hidup yang harmoni penuh toleransi dan damai. Persatuan (Kebangsaan) Indonesia Persatuan adalah gabungan yang terdiri atas beberapa bagian, kehadiran Indonesia dan bangsanya di muka bumi ini bukan untuk bersengketa. Bangsa Indonesia hadir untuk mewujudkan kasih sayang kepada segenap suku bangsa dari Sabang sampai Marauke. Persatuan Indonesia, bukan sebuah sikap maupun pandangan dogmatik dan sempit, namun harus menjadi upaya untuk melihat diri sendiri secara lebih objektif dari dunia luar. Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk dalam proses sejarah perjuangan panjang dan terdiri dari bermacam-macam kelompok suku bangsa, namun perbedaan tersebut tidak untuk dipertentangkan tetapi justru dijadikan persatuan Indonesia. Permusyawaratan dan Perwakilan Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan hidup berdampingan dengan orang lain, dalam interaksi itu biasanya terjadi kesepakatan, dan saling menghargai satu sama lain atas dasar tujuan dan kepentingan bersama. Prinsip-prinsip kerakyatan yang menjadi cita-cita utama untuk membangkitkan bangsa Indonesia, mengerahkan potensi mereka dalam dunia modern, yakni kerakyatan yang mampu mengendalikan diri, tabah

menguasai diri, walau berada dalam kancah pergolakan hebat untuk menciptakan perubahan dan pembaharuan. Hikmah kebijaksanaan adalah kondisi sosial yang menampilkan rakyat berpikir dalam tahap yang lebih tinggi sebagai bangsa, dan membebaskan diri dari belenggu pemikiran berazaskan kelompok dan aliran tertentu yang sempit. Keadilan Sosial Nilai keadilan adalah nilai yang menjunjung norma berdasarkan ketidak berpihakkan, keseimbangan, serta pemerataan terhadap suatu hal.

Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan citacita bernegara dan berbangsa. Itu semua bermakna mewujudkan keadaan masyarakat yang bersatu secara organik, dimana setiap anggotanya mempunyai kesempatan yang sama untuk tumbuhdan berkembang serta belajar hidup pada kemampuan aslinya. Segala usaha diarahkan kepada potensi rakyat, memupuk perwatakan dan peningkatan kualitas rakyat, sehingga kesejahteraan tercapai secara merata.

2.3. Lunturnya nilai-nilai ideologi pancasila


Dewasa ini, akibat kemajuan ilmu dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi, terjadilah perubahan pola hidup masyarakat yang begitu cepat. Tidak satupun bangsa dan negara mampu mengisolir diri dan menutup rapat dari pengaruh budaya asing. Demikian juga terhadap masalah ideologi.Dalam kaitan ini, M.Habib Mustopo (1992: 11 -12) menyatakan, bahwa pergeseran dan perubahan nilai-nilai akan menimbulkan

kebimbangan, terutama didukung oleh kenyataan masuknya arus budaya asing dengan berbagai aspeknya. Kemajuan di bidang ilmu dan teknologi komunikasi & transportasi ikut mendorong hubungan antar bangsa semakin erat dan luas. Kondisi ini di satu pihak akan menyadarkan bahwa kehidupan yang mengikat kepentingan nasional tidak luput dari pengaruhnya dan dapat menyinggung kepentingan bangsa lain. Ada semacam kearifan yang harus dipahami, bahwa dalam kehidupan dewasa ini, teknologi sebagai bagian budaya manusia telah jauh mempengaruhi tata kehidupan manusia secara menyeluruh. Dalam keadaan semacam ini, tidak mustahil tumbuh suatu

pandangan kosmopolitan yang tidak selalu sejalan dengan tumbuhnya faham kebangsaan.Beberapa informasi dalam berbagai ragam bentuk dan isinya tidak dapat selalu diawasi atau dicegah begitu saja.Mengingkari dan tidak mau tahu tawaran atau pengaruh nilai-nilai asing merupakan kesesatan berpikir, yang seolah-olah menganggap bahwa ada eksistens yang bisa berdiri sendiri. Kesalahan berpiklir demikian oleh Whitehead disebut sebagai the fallacy of misplace concretness (Damardjati Supadjar, 1990: 68). Jika pengaruh itu tidak sesuai dengan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, atau tidak mendukung bagi terciptanya kondisi yang sesuai dengan Pancasila, maka perlu dikembangkan sikap yang kritis terutama terhadap gagasan-gagasan, ide-ide yang datang dari luar.

2.4. Sebab-sebab lunturnya nilai-nilai pancasila


Jika dibandingkan pemahaman masyarakat tentang Pancasila dengan lima belas tahun yang lalu, sudah sangat berbeda, saat ini sebagian masyarakat cenderung menganggap Pancasila hanya sebagai suatu simbol negara dan mulai melupakan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Padahal Pancasila yang menjadi dasar negara dan sumber dari segala hukum dan perundang-undangan adalah nafas bagi eksistensi bangsa Indonesia. Sementara itu, lunturnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, akibat tidak satunya kata dan perbuatan para pemimpin bangsa, Pancasila hanya dijadikan slogan di bibir para pemimpin, tetapi berbagai tindak dan perilakunya justru jauh dari nilainilai luhur Pancasila. Contoh yang tidak baik dari para pemimpin bangsa dalam pengamalan Pancasila telah menjalar pada lunturnya nilai-nilai Pancasila di masyarakat. Kurangnya komitmen dan tanggung jawab para pemimpin bangsa melaksanakan nilai-nilai Pancasila tersebut, telah mendorong munculnya kekuatan baru yang tidak melihat Pancasila sebagai falsafah dan pegangan hidup bangsa Indonesia. Akibatnya, terjadilah kekacauan dalam tatanan kehidupan berbangsa, di mana kelompok tertentu menganggap nilai-nilainya yang paling bagus. Lunturnya nilai-nilai Pancasila pada sebagian

masyarakat dapat berarti awal sebuah malapetaka bagi bangsa dan negara kita. Fenomena itu sudah bisa kita saksikan dengan mulai terjadinya kemerosotan moral, mental dan etika dalam bermasyarakat dan berbangsa terutama pada generasi muda. Timbulnya persepsi yang dangkal, wawasan yang sempit, perbedaan pendapat yang berujung bermusuhan dan bukan mencari solusi untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, anti terhadap kritik serta sulit menerima perubahan yang pada akhirnya cenderung mengundang tindak anarkhis.

2.5. Aktualisasi Pancasila


Perwujudan Pancasila yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari adalah bentuk rumusan Pancasila. Secara otentik rumusan

Pancasila terdapat di dalam Pembukaan UUD 1945, yang telah disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. Selain diwujudkan dalam bentuk rumusan, Pancasila juga diwujudkan dalam bentuk sikap dan perilaku sehari-hari baik dalam kaitan dengan kegiatan sosial, budaya, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan tersedianya peranti lunak berupa pedoman untuk mengatur, mengarahkan, proses dan cara pelaksanaan organisasi

(Moedjanto, 1989: 82-86). Sebagai sistem nilai, Pancasila merupakan cita-cita luhur yang digali, ditemukan dan dirumuskan oleh para pendiri bangsa, yang menjadi motivasi bagi sikap, pemikiran, perkataan dan perilaku bangsa dalam mencapai tujuan hidupnya dan mendukung terwujudnya nilai-nilai Pancasila. Secara formal nilai-nilai Pancasila harus diterima, didukung dan dihargai oleh bangsa Indonesia, karena merupakan cita-cita hukum dan citacita moral seluruh bangsa Indonesia (Paulus Wahana, Op.cit., 75-76). Disadari bahwa rumusan Pancasila terlihat abstrak dan umum, sehingga perlu penjabaran lebih lanjut, yang dilengkapi dengan pedoman bagi terwujudnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Adapun tata urutan peraturan perundangan di Indonesia diawali

dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, yang merupakan cita-cita hukum, dijabarkan kedalam pasal-pasal UUD 1945

sebagai norma hukum tertinggi, yang menjadi sumber hukum bagi peratutan perundangan yang lebih rendah. Proses selanjutnya diharapkan normanorma hukum dapat mewujudkan nilai-nilai Pancasila secara operasional dan nyata dalam rangka mewujudkan kesejahteraan bangsa dan keamanan negara.

2.6. Implementasi Pancasila


Berdasarkan pengalaman sejarah dapat diketahui bahwa upaya implementasi Pancasila telah dilakukan sejak masa Pemerintahan Presiden Soekarno, yang dibagi menjadi tiga yaitu (a) tahap perjuangan 1945-1949, (b) pemerintahan RIS, dan (c) tahap setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Secara de yureupaya untuk mengimplementasikan Pancasila tersurat dalam UU No. 4 Tahun 1959 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah, pasal 3 dan pasal 4 yang dengan tegas menyatakan bidang pendidikan dan pengajaran adalah untuk mewujudkan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Namun secara de facto indoktrinasi Pancasila secara terencana dan sistematis belum dapat direalisasikan karena hambatan politik, ekonomi dan keamanan Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, implementasi Pancasila gencar dilaksanakan dengan Penataran P4 dengan tujuan agar setiap warga negara dapat memahami hak dan kewajibannya sehingga mampu bersikap dan berperilaku dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Secara institusional kebijakan tersebut juga ditempuh melalui jalur pendidikan, baik tingkat dasar, menengah hingga Perguruan Tinggi, dengan kurikulum yang berisi materi untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam hidup bernegara berdasarkan Pancasila. Selanjutnya paradigma

yang diangkat adalah menciptakan stabilitas politik yang dinamis, namun paradigma dan kebijakan yang digulirkan ternyata tidak sesuai dengan jiwa Pancasila. Bahkan Pancasila ditafsirkan dalam hubungan dengan

kepentingan kekuasaan pemerintah yang sentralistik dan otoritarian. Akhirnya periode ini tidak mencapai hasil yang optimal karena metode dan materi tidak tepat, dan pendidik serta penatar kurang profesional.

Pada pasca reformasi, pemahaman dan pengamalan Pancasila mengalami berbagai hambatan yang berat dan sulit diprediksi, yang bermuara pada ancaman disintegrasi bangsa serta penurunan kualitas kehidupan dan martabat bangsa. Perkembangan yang sangat

memprihatinkan itu terutama disebabkan oleh dinamika politik yang menyalahgunakan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa dengan mengingkari nilai-nilai luhur untuk tujuan kekuasaan. Perilaku politik para pemegang kekuasaan yang mengingkari Pancasila tersebut akhirnya berpengaruh pada rentannya elemen bangsa dibawahnya untuk melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekuen (Kristiadi, 2011: 529). Akibatnya Pancasila mulai ditinggalkan, tidak lagi

difungsikan sebagai wacana, baik dalam forum diskusi, sarasehan, seminar maupun dalam program-program pemerintah. Bahkan di lingkungan perguruan tinggi tidak lagi diajarkan materi Pancasila. Selanjutnya tantangan lain yang dihadapi adalah munculnya ego kedaerahan dan primordialisme sempit. Fenomena ini mengindikasikan

bahwa Pancasila seolah-olah tidak lagi memiliki kekuatan untuk dijadikan paradigma dan batas pembenaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam perkembangannya, gerakan reformasi yang sebenarnya amat diperlukan, tampak tergulung oleh derasnya arus eforia kebebasan. Sehingga sebagian masyarakat seperti lepas kendali dan tergelincir ke dalam perilaku yang anarkis, timbul berbagai konflik sosial yang tidak kunjung teratasi, dan bahkan di berbagai daerah timbul gerakan yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa serta keutuhan NKRI. Bangsa Indonesia sampai saat ini terus dilanda krisis multidimensional di segenap aspek kehidupan, sehingga terjadi krisis moral yang mengarah pada demoralisasi. Mencermati pengalaman sejarah perjuangan bangsa tersebut dan dalam kaitan dengan perspektif ilmu, khususnya teori fungsionalisme struktural, maka Indonesia sebagai suatu negara yang majemuk sangat membutuhkan nilai bersama yang dapat dijadikan sebagai nilai pengikat integrasi (integrative value), titik temu (common denominator), jati diri

bangsa (national identity) dan sekaligus nilai yang baik dan mampu diwujudkan (ideal value). Nilai bersama ini diharapkan dapat diterima, dimengerti, dan dihayati. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, nilai-nilai tersebut dapat diimplementasikan oleh setiap individu, keluarga, kelompok dan masyarakat sehingga dapat berperan untuk membangun stabilitas dan komunitas politik, sehingga perlu diinternalisasikan agar dapat dihayati melalui pendidikan kewarganegaraan (civic education). Pancasila melalui pendidikan kewarganegaraan Implementasi bagi

diperlukan

pembangunan manusia seutuhnya kedepan karena Pancasila mengandung nilai-nilai penting tentang dasar negara, ideologi dan falsafah hidup bangsa.

2.7. Pedoman pengimplementasian nilai-nilai Pancasila


Sesuai dengan penggagas awal, Ir. Soekarno, nilai-nilai Pancasila digali dari bumi Indonesia sendiri dan dikristalisasikan dari nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Nilainilai tersebut dapat diamati diberbagai kelompok masyarakat yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Diakui bahwa dalam mempraktikkan nilainilai tersebut terdapat perbedaan pada berbagai kelompok masyarakat

yang berbeda sekedar nilai praktiknya, namun nilai dasarnya tetap sama. Dengan demikian maka Pancasila memang merupakan living reality dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sementara pada jaman sekarang ini, beberapa konflik yang muncul akibat kesenjangan ekonomi, ketidakadilan, kesalahpahaman, rasa

primordialisme (perasaan mengutamakan hal-hal yang dibawa sejak lahir, melingkupi blood, mind dan place) dan ethnosentrisme (sikap atau cara pandang terhadap etnis dan budaya lain dari sudut pandang etnis dan budaya kita) yang berlebihan, untuk itu diperlukan beberapa pedoman yang

hendaknya dijadikan patokan bagi warga masyarakat yang bersifat majemuk.

Kebenaran dan ketangguhan Pancasila tidak perlu diragukan lagi. Namun tanpa pemahaman oleh masyarakat luas secara mendalam terhadap konsep, prinsip dan nilai yang terkandung di dalamnya, disertai dengan sikap, kemauan dan kemampuan untuk menerapkannya, maka Pancasila hanya sebagai simbol belaka. Hubungan antar warga masyarakat yang majemuk tidak akan menuju pada integritas bangsa namun setiap kelompok masyarakat akan lebih memikirkan kepentingan kelompoknya, apalagi jika ditambah dengan adanya kesenjangan sosial ekonomi dan kesalahpahaman atau miscommunication, maka yang muncul adalah konflik antar golongan, suku, agama dan budaya. Beberapa pedoman pengimplementasian Pancasila dalam

kehidupan sehari-hari, diantaranya; a. Mengembangkan pola pikir dan pola tindak berdasar pola konsep, prinsip dan nilai yang terkandung dalam Pancasila b. Mengembangkan sikap-sikap perilaku dalam mempertahankan dan menjaga kelestarian pembukaan UUD 1945 c. Mengembangkan kemampuan mengoperasionalisasikan demokrasi dan HAM berdasarkan Pancasila. d. Mengembangkan kemampuan dalam penyusunan peraturan perundangundangan yang sejalan dan tidak bertentangan dengan Pancasila dan dasar negara. e. Mengembangkan kemampuan mengoperasionalisasikan perekonomian nasional berdasarkan Pancasila. f. Mengembangkan pola pikir Bhineka Tunggal Ika yang terjadi sikap, tingkah laku, dan perbuatan dalam kehidupan bangsa yang pluralistik. g. Mengembangkan pemikiran baru dalam menghadapi perkembangan zaman tentang Pancasila tanpa meninggalkan jati dirinya. Untuk mengantisipasi munculnya sikap ethnosentrisme, primordialisme dan

maka dalam menerapkan Pancasila diperlukan strategi,

yang dapat dilakukan dengan pendekatan:

a. Tahap

artikulasi: pemberian penjelasan yang mantap tentang isi

kandungan, kebenaran rasional, struktur dan tujuan implementasi Pancasila. b. Tahap internalisasi: usaha memasukkan gagasan tersebut dalam hati

sanubari setiap warga negara sehingga benar-benar memahami dan bersedia menerimanya sebagai suatu kebenaran. c. Tahap aktualisasi: aplikasi gagasan tersebut dalam berbagai bidang

kehidupan secara nyata, baik dalam pemikiran maupun perbuatan. Ketiga tahap dapat dijalankan melalui; lembaga pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke, melalui

instansi-instansi pemerintahan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Selain tiga tahap tersebut, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan, yaitu; a. Menimbulkan atensi: sajian mengenai Pancasila diupayakan menarik perhatian setiap orang sehingga khalayak sasaran (target audience) tidak merasa terpaksa, tetapi dengan menerimanya. b. Mengembangkan komprehensi upaya untuk memahami, substansi konsep, prinsip dan nilai Pancasila, secara mendalam sehingga paham akan makna, esensi, maksud, dan tujuan gagasan yang apabila dilaksanakan bermanfaat dalam menjangkau masa depan yang lebih baik. c. Menimbulkan akseptasi, pengakuan secara jujur dan menerima secara sadar kebenaran konsep, prinsip, dan nilai yang terkandung dalam Pancasila. d. Menimbulkan retensi, terbentuknya keyakinan akan kebenaran dan ketangguhan gagasan tersebut sehingga dapat dijadikan senang hati, ikhlas, dan sukarela

pegangan/pedoman dan panduan dalam menentukan pilihan tindakan. e. Mengadakan aksi menerapkan konsep, prinsip, dan nilai Pancasila untuk memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat dalam kegiatan berbangsa dan bernegara. Dengan dasar seperti itu, sikap saling menghormati (mutual respect),

mengakui eksistensi masing-masing (mutual recognition), berpikir dan

besikap positip (positive thinking and attitude), serta pengayaan iman (enrichment of faith) perlu terus-menerus dikembangkan. Sikap lain yang juga perlu ditumbuhkan adalah relatively absolute sekaligus absolutely relative, bahwa kebenaran yang saya miliki tetap relative bila dikaitkan dengan yang lain. Dengan demikian, demokrasi yang dikembangkan berdasarkan Pancasila adalah demokrasi yang religius. Sikap tersebut kemudian akan menumbuhkan toleransi. Terciptanya toleransi dlam

kehidupan beragama dan bersuku bangsa akan meminimalkan terjadinya politisasi dan radikalisme agama. Jika kemajemukan tidak memiliki nilanilai toleransi, tentu akan mengarah pada fanatisme berlebihan. Pada dasarnya nilai toleransi itu telah melembaga dalam kehidupan masyarakat Indonesia selama berabad-abad. Sedangkan tujuan
implementasi Pancasila dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara antara lain; 1. Masyarakat memahami secara mendalam konsep, prinsip, dan nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 2. Masyarakat memiliki keyakinan akan ketangguhan, ketepatan, dan

kebenaran pancasila sebagai ideologi nasional, pandangan, nilai bangsa dan negara dalam NKRI. 3. Masyarakat memiliki pemahaman, kemauan, dan kemampuan

mengimplementasikan pancasila dalam berbagai bidang kehidupan. Kemudian siapa saja yang menjadi sasaran implementasi nilainilai Pancasila tersebut? Sasaran implementasi nilai-nilai Pancasila antara lain adalah : elite politik, insan pers, anggota legislatif, eksekutif, yudikatif pusat dan daerah, tokoh agama, pendidikan, cendekiawan, pemuda, wanita, adat dan masyarakat, pengusaha, masyarakat luas. Meskipun kita sebagai bangsa pernah beberapakali terluka

karena ada pertikaian antar agama, suku, budaya dan bahasa, namun masih ada harapan di masa mendatang untuk sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, tenteram, adil, makmur dan sejahtera sebagai hasil dari penerapan nilai-nilai pancasila yang dilaksanakan oleh masing-masing sasaran implementasi diatas.

BAB III PENUTUP

3.1. Simpulan
Dari beberapa ulasan diatas maka dapat disimpulkan: Pancasila sebagai dasar negara Repubik Indonesia sangatlah penting untuk dijadikan pedoman hidup seluruh warga negara Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sangatlah luhur untuk dijadikan sebagai tameng untuk membentengi dari efek negatif globalisasi yang dapat mempengaruhi nilai-nilai budaya suatu bangsa. Oleh karena itu, penerapan atau pengimplementasian nilai-nilai pancasila sangatlah penting untuk diterapkan didalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara demi terciptanya sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, tenteram, adil, makmur dan sejahtera.

3.2. Saran
Saran yang dapat diberikan adalah agar terciptanya suatu kehidupan berbangsa dan benegara yang kondusif, aman, sejahtera makmur, diharapkan untuk semua lapisan masyarakat mulai dari kalangan pejabat sampai orang kecil dapat mempelajari makna-makna yang terkandung dalam nilai pancasila kemudian mau menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila tersebut dan tentunya tidak hanya sebatas mengetaui saja namun melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Erlangga. Latif, Yudi. 2011. Negara Paripurna Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Moedjanto, G. dkk. 1987. Pancasila, Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta : Gramedia. Soegito, A.T. dkk. 2012. Pendidikan Pancasila. Semarang: Unnes Press. Toyibin Aziz, M. 1997. Pendidikan Pancasila. Jakarta : Rineka Cipta. lppkb.wordpess.com/....../pedoman-umum-implementasi-pancasila-dalam kehidupan-sehari-hari. http://eprints.undip.ac.id/3241/2/3_artikel_P'_Mulyono.pdf http://francmartinno.blog.friendster.com/2009/01/penerapan-nilai-nilaipancasila/ http://muamartarifazis.blogspot.com/2012/03/pengamalan-nilai-nilai-pancasiladalam.html