Anda di halaman 1dari 7

Kokoh dalam IMTAQ Unggul dalam IPTEK

LAPORAN PENDAHULUAN GAGAL NAFAS

DISUSUN: TITIK AMBAR A

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA TAHUN 2013

I. PENDAHULUAN Kegagalan pernafasan adalah problem yang relatif sering terjadi, meskipun tidak selalu merupakan tahap akhir dari penyakit kronik pada sistem pernapasan. Keadaan ini semakin sering ditemukan sebagai komplikasi dari trauma akut, septikimia atau syok. Kegagalan pernapasan, seperti halnya kegagalan sistem organ lainnya, dapat dikenali berdasarkan gambaran klinik atau hasil pemeriksaan laboratorium, tetapi harus diingat bahwa pada kegagalan pernapasam, hubungan antara gambaran klinis dengan kelainan dari hasil pemeriksaan laboraotirum adalah tidak langsung. II. PENGERTIAN GAGAL NAFAS Adalah apabila paru-paru tidak lagi dapat memenuhi fungsi primernya dalam pertukaran gas, yaitu oksigenisasi dan pembuangan karbondioksida (Willson, Lorriene M, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, edisi 4, hal 727). Ketidakmampuan sistem pernapasan untuk mempertahankan oksigenasi darah normal dengan nila PaO2 : < 50 mmHg yang diakibatkan oleh masalah-masalah ventilasi, difusi dan/atau perfusi. (Martin Tucker, Susan, 1998, Standar Perawatan pasien, edisi ke V hal 268). Klasifikasi berdasarkan patofisiologi gas darah dibagi dua. 1. Berdasarkan tingkatan penyakit : a. Acut/berat Secara numeric didefinisikan bila PO2 <50 mmHg sampai 60 mmHg tanpa atau dengan PaCO2 > 50 mmHg dalam keadaan istirahat pada ketinggian permukaan laut. b. Kronik (Insufisiensi pernapasan kronik) Terjadi gangguan fungsional jangka panjang yang menetap selama beberapa hari/bulan dan mencerminkan adanya proses patologik yang mengarah kepada kegagalan dan proses kompensasi untuk menstabilkan keadaan. 2. Berdasarkan patofisiologi gas a. Hipoksemia tanpa hiperkarbia Pada jenis ini terjadi penurunan PaO2 dengan PaCO2 yang normal atau rendah. Jenis gagal napas ini selalu disebabkan oleh penyakit paru sendiri dan dikaitkan dengan keadaan yang mempengaruhi dinding alveolus dan interstitiil paru. b. Hipoksemia dengan hiperkapnia Pada jenis ini terjadi penurunan PaO2 yang disertai peningkatan PaCO2. Gagal napas ini merupakan jenis gagal napas yang paling sering terjadi. Pasien dengan jenis gagal napas ini dibagi atau dua kelompok : a. Pasien dengan paru-paru normal b. Pasien dengan penyakit paru

PENYEBAB KEGAGALAN PERNAFASAN Penyebab utama : 1. Hipoventilasi alveolar 2. Ketidak seimbangan antara ventilasi dan perfusi pada keadaan ini akan terjadi peningkatan ruang rugi fisiologis. 3. Gangguan difusi gas Secara struktur gagal napas dapat disebabkan : 1. Kelainan di luar paru-paru Dalam hal ini dapat terjadi pada : a. Penekanan pusat pernapasan b. Kelainan neuromuskuler c. Kelainan pleura dan dinding muka 2. Kelainan instristik paru-paru Pada kelainan ini dapat terjadi pada : a. Kelainan obstruktif difus b. Kelainan restriktif difus c. Kelainan vaskuler paru-paru Faktor-faktor pencetus dari kegagalan pernapasan pada penyakit paru-paru kronik 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Infeksi pada percabangan trakea bronchial/pneumonia Perubahan pada sekret trakea bronchial (volume atau viskositas yang meningkat). Broncospasme (inhalasi iritan atau overgen) Gangguan kemampuan pembersihan sekret, pemakaian sedatif, narkotika dan obat anestesi. Therapy oksigen Trauma, termasuk pembedahan Kelainan kardiovaskuler (gagal jantung, emboli paru0paru) Pneumonia thorax.

III. PATOFISIOLOGI Terdapat tiga mekanisme patologi yang mendasari terjadinya gagal napas, yaitu : 1. Hipoventilasi 2. Gangguan difusi 3. Pintasan intra pulmoner, ruang rugi dan gangguan perbandingan ventilasi dengan perfusi. Contoh : a. pada keadaan syok, dimana terjadi gangguan perfusi sedangkan ventilasi baik. b. Pada keadaan hipoventilasi, sementara perfusi dalam keadaan normal. Misalnya pada pasien dengan obstruksi partial / asma.

GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN Diagnosa pasti pada gagal napas akut adalah pemeriksaan analisa gas darah, tetapi kadangkadang diagnosa sudah dapat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis saja. 1. Gejala klinis : a. Apnea b. Batuk berdahak c. Perubahan pola napas d. Perubahan sistem kardio vaskuler Nadi, pada awalnya nadi akan meningkat yang merupakan suatu mekanisme tubuh untuk mempertahankan fungsi vital tuuh, yang selanjutnya nadi akan menurun. Tekanan darah, seperti pada nadi, dimulai dengan peningkatan tekanan darah yang kemudian akan menurun Cyanotis Banyak keringat dan akral dingin 2. Pemeriksaan : a. Analisa gas darah : Pada pemeriksaan analisa gas darah didapatkan adanya penurunan kadar PaO2 dengan PaCO2 yang normal/sedikit menurun atau dengan PaCO2 yang meningkat. b. Toraks foto : Toraks foto dibuat untuk menentukan penyebab dari pada gagal napas. c. EKG : EKG dibuat untuk menentukan ada tidaknya kelainan pada jantung. KOMPLIKASI Infeksi paru terjadi karena penurunan sulfaktan dan daya tahan tubuh Edema paru Hipoksia Penurunan sulfaktan Penurunan curah jantung

PENATALAKSANAAN DAN PENGOBATAN 1. Pengobatan non spesifik 2. Pengobatan spesifik

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GAGAL NAFAS PENGKAJIAN Aktivitas / istirahat Gejala : kekurangan energi/kelelahan,insomnia Sirkulasi a. Gejala Riwayat adanya bedah jantung/baypass jantung paru, fenomena embolik (udara, lemak) b. Tanda T/D dapat normal/meningkat pada awal (berlanjut menjadi hipoksia), hipotensi terjadi pada tahapakhir (syok) atau terdapat faktor pencetus seperti pada eklamsia. Frekwensi jantung : takikardi biasanya ada bunyi jantung normal pada tahap dini : S2 (komponen paru) dapat terjadi. Distritmia dapat terjadi, tetapi EKG sering normal. Kulit dan membran mukosa : pucat, dingin, cianosis biasanya terjadi pada tahap lanjut. Integritas ego a. Gejala : ketakutan b. Tanda : Gelisah, agitasi, gemetar, mudah terangsang, perubahan mental Nutrisi / cairan a. Gejala : kehilangan selera makan b. Tanda : Edema/perubahan berat badan, bilang/penurunan bising usus Neurosensori Gejala/tanda : adanya post trauma kepala mental, lamban, disfunsi motor Pernafasan : a. Gejala Adanya riwayat aspirasi/tenggelam, inhalas asap/gas, infeksi difus paru. Timbul tiba-tiba atau bertahap kesulitan nafas. b. Tanda Pernapasan cepat, mendekur, dangkal. Peningkatan kerja nafas, penggunaan otot aksesori pernafasan, contohnya : retraksi interkostal atau substernal, pelebaran nasal/memerlukan oksigen konsentrasi tinggi. Bunyi nafas : pada awal normal, krekles, ronchi dan dapat terjadi bunyi napas dangkal. Perkusi dada : bunyi pekak di atas area konsolidasi Ekspansi dada penurunan atau tidak ada sama sekali Peningkatkan premitus (gutar vibrasi pada dinding dada dengan palpitasi) Sputum : sedikit dan berbusa Penurunan kesadaran, bingung

Keamanan Gejala : riwayat trauma orthopedik/fraktus, sepsis, transfusi darah, episode analpilatik Seksualitas Tanda: kehamilan dengan adanya komplikasi eklamsia Penyuluhan / pembelajaran : Gajala : makan / minum/kelebihan dosis obat Rencana pemulangan : tergantung pada gejala sisa/kerusakan paru dapat memerlukan bantuan dalam transportasi, perawatan diri, pemeliharaan di rumah. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK a. b. c. d. Sinar X dada : tidak terlihat pada tahap awal AGD : penurunan PaO2 meskipun konsentrasi oksigen inspirasi meningkat hipokapnea Test fungsi paru : comptinonal paru dan volume paru menurun Kadar asam laktat : meningkat

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN RENCANA KEPERAWATAN Diagnosa Kererawatan 1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan a. Kehilangan fungsi cilia b. Peningkatan jumlah/viskositas secret c. Peningkatan tahanan jalan nafas 2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan a. Akumulasi secret dan cairan interstitial/area alveolar b. Hipoventilasi alveolar c. Kehilangan surfaktan ( dapat menyebabkan colaps alveolar ) 3. Resti/gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan a. Penggunaan diuretic b. Perpindahan cairan ke kompartemen lain RENCANA KEPERAWATAN DIAGNOSA 1 Mandiri : 1. Ukur tanda-tanda vital 2. Catat perubahan dan karakteristik bunyi napas 3. Pertahankan posisi tubuh / kepala tepat dan gunakan alat jalan napas sesuai kebutuhan, seperti gudel 4. Bantu dengan batuk/napas dalam, ubah posisi dan suction sesuai indikasi/ kebutuhan Kolaborasi : 1. Berikan oksigen lembab, cairan intravena 2. Berikan therapy aerosol, nebulezer ultrasonik 3. Bantu dengan/berikan fisioterapy dada, contoh drainase postoral ; perkusi dada/vebrasi sesuai indikasi. 4. Berikan bronchodilator 5. Awasi efek samping dari obat

DIAGNOSA 2 Mandiri : 1. 2. 3. Kaji status pernapasan dan catat adanya peningkatkan fekwensi/perubahan pola napas Anjurkan klien untuk istirahat dan atur lingkungan yang tenang Anjurkan klien untuk napas melalui bibir bila diindikasikan

Kolaborasi 1. 2. 3. 4. Beri oksigen lembab dengan masker (CPAP sesuai indikasi) Lakukan srial foto thorax Awasi hasil GDA / pulse oxymetri Berikan thrapy sesuai indikasi Contoh : steroid, antibiotic

Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan : a. Penggunaan diuretik b. Perpindahaan cairan ke area yang lain DIAGNOSA 3 Mandiri : 1. 2. 3. 4. Ukur tanda-tanda vital sesuai dengan kebutuhan Observasi tanda-tanda dehydrasi Catat intake out put Timbang berat badan tiap hari dan bila memungkinkan

Kolaborasi 1. Berikan cairan intravena dan observasi ketat dengan alat kontrol sesuai indikasi, seperti CVP 2. Awasi elektrolit Ansietas a. Krisis situasi b. Ancaman untuk/perubahan status kesehatan : takut mati c. Faktor psikologik (efek hipoksemia)