Anda di halaman 1dari 0

5

BAB II LANDASAN TEORI

A. TINJAUAN PUSTAKA

Agar permukaan okuler terlindungi dari benda asing atau hal yang berbahaya, terdapat struktur anatomis dan fisiologis mata, sebagai berikut:

1. Palpebra 1.1. Anatomi Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, membersihkan permukaan mata dengan dari kotoran dan iritasi lain dengan berkedip, serta mengeluarkan sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan kornea (Ilyas, 2009b). Palpebra merupakan bagian penutup mata yang berguna untuk melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar dan pengeringan bola mata. Kelopak mempunyai lapis kulit yang tipis pada bagian depan,

a. b.
a.
b.

sedangkan di bagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal. Pada kelopak terdapat bagian – bagian, seperti:

Kelenjar: kelenjar sebasea, kelenjar moll atau kelenjar keringat,

kelenjar zeis pada pangkal rambut, dan kelenjar meibom pada tarsus.

Otot: m. orbikularis okuli yang berjalan melingkar di dalam

kelopak atas dan bawah, dan terletak di bawah kulit kelopak. Pada dekat tepi margo palpebra terdapat otot orbikularis okuli yang disebut sebagai M. Rioland. M. Orbikularis berfungsi menutup bola mata yang dipersarafi N. Fasial. M. Levator palpebra, yang berorigo pada anulus foramen orbita dan berinersi pada tarsus atas dengan sebagian menembus M. Orbikularis okuli menuju kulit kelopak bagian tengah. Bagian kulit tempat insersi M. Levator palpebra terlihat sebagai sulkus (lipatan) palpebra. Otot ini dipersarafi oleh N. III, yang berfungsi untuk mengangkat kelopak mata atau membuka mata.

6

c. Di dalam kelopak terdapat tarsus yang merupakan jaringan ikat

dengan kelenjar di dalamnya atau kelenjar Meibom yang bermuara pada

margo palpebra.

d. Tarsus ditahan oleh septum orbita yang melekat pada rima orbita

pada seluruh lingkaran permukaan rongga orbita. Tarsus (terdiri atas jaringan ikat yang merupakan jaringan penyokong kelopak dengan kelenjar Meibom (40 buah di kelopak atas dan 20 pada kelopak bawah).

e. Pembuluh darah yang memperdarahinya adalah a. Palpebra

f. Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari rumus

frontal N. V, sedang kelopak bawah oleh cabang ke II saraf ke V (Ilyas,

2009a). 1.2. Fisiologi mengedip 1.2.1. Refleks mengedip
2009a).
1.2. Fisiologi mengedip
1.2.1. Refleks mengedip

Sentuhan halus pada kornea atau konjungtiva mengakibatkan kelopak mata berkedip. Inpuls aferen dari kornea atau konjungtiva berjalan

melalui divisi ophthalmica nervus trigeminus ke nucleus sensorius nervi trigemini. Neuron internuncial menghubungkannya dengan nukleus motorik nervus facialis kedua sisi melalui fasciculus longitudinalis medialis. Nervus facialis dan cabang – cabangnya mempersarafi musculus orbicularis oculi yang menimbulkan gerakan menutup mata (Snell, 2007).

7

Gambar 1. Refleks Mengedip (Snell, 2007) a. b.
Gambar 1. Refleks Mengedip (Snell, 2007)
a.
b.

Pada beberapa penelitian telah dibuktikan adanya hubungan langsung antara jumlah dopamine di korteks dengan mengedip spontan dimana pemberian agonis dopamin D1 menunjukkan peningkatan aktivitas mengedip, sedangkan penghambatannya menyebabkan penurunan refleks kedip mata. Refleks kedip mata disebabkan oleh:

Stimulasi terhadap nervus trigeminus di kornea, palpebra dan konjungtiva yang disebut refleks kedip sensoris atau refleks kornea. Refleks ini berlangsung cepat, yaitu 0,1 detik. Stimulus yang berupa cahaya yang menyilaukan yang disebut refleks kedip optikus. Refleks ini lebih lambat dibandingkan refleks kornea.

1.2.2. Ritme normal kedipan mata

Pada keadaan terbangun, mata mengedip secara reguler dengan interval dua sampai sepuluh detik dengan lama kedip 0,3-0,4 detik. Hal ini merupakan suatu mekanisme untuk mempertahankan kontinuitas film prekorneal dengan cara menyebabkan sekresi air mata ke kornea. Nilai normal frekuensi mengedip rata – rata adalah 15-20x/menit (Mario, 2010).

8

2. Air Mata Air mata merupakan salah satu proteksi mata atau daya pertahanan mata disamping tulang rongga mata, alis dan bulu mata, kelopak mata, refleks mengedip dan adanya sel-sel pada permukaan kornea dan konjungtiva sebagai salah satu alat proteksi. Air mata merupakan hasil dari

kelenjar air mata (lakrimal) yang terletak pada bagian luar kantung mata atas. Air mata disekresikan oleh aparatus lakrimalis dan disertai dengan mukus dan lipid oleh organ sekretori dari sel-sel pada palpebra serta konjungtiva. Sekresi yang dihasilkan inilah yang disebut sebagai film air mata atau film prekorneal. Air mata membentuk lapisan tipis setebal 7-10 μm yang menutupi epitel kornea dan konjungtiva (Ilyas, 2009a).

2.1 Lapisan Air Mata atau Film Air Mata (Tear Film) 1. 2.
2.1 Lapisan Air Mata atau Film Air Mata (Tear Film)
1.
2.

Air mata mempunyai susunan yang sangat melindungi permukaan bola mata akibat susunan dari lapisannya. Lapisan air mata atau film air mata (tear film) terdiri atas tiga lapisan, yaitu:

Lapisan superfisial adalah lapisan lipid monomolekuler yang berasal dari kelenjar meibom, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat pada daerah margin palpebra. Lapisan ini berfungsi untuk melicinkan permukaan mata dan diduga menghambat penguapan dan merupakan sawar kedap air bila palpebra ditutup (Zulkarnain, 2009).

Lapisan akueus tengah merupakan lapisan paling tebal film air mata yang mempunyai ketebalan 0,7 µm. Lapisan ini dihasilkan oleh kelenjar lakrimal mayor dan minor, Wolfring dan Kelenjar Krausee. Lapisan ini juga mengandung substansi larut-air, yaitu:

garam anorganik, glukosa, urea, protein dan glikoprotein yang berfungsi dalam pengambilan oksigen untuk metabolisme kornea Lapisan akueus ini juga mengandung bahan protein lain seperti:

lipocalin, lactoferin, lysozyme, dan lacritin. Fungsi dari lapisan ini adalah untuk membersihkan mata dan mengeluarkan benda asing.

3. Lapisan musin yang dihasilkan sel goblet konjungtiva dan kelenjar lakrimal yang terletak pada bagian terdalam film air mata

9

(tear film) dan bersifat hidrofobik. Lapisan terdalam film air mata merupakan lapisan yang paling tipis, dengan tebal 0.02 – 0.05 µm. Di dalamnya terdiri atas glikoprotein dan melapisi sel-sel epitel kornea dan konjungtiva. Musin diadsorpsi sebagian pada membran sel epitel kornea dan tertambat oleh mikrovili sel-sel epitel permukaan. Lapisan air mata ini memegang peranan dalam mengatur stabilitas tear film dan sebagai pemulas bagi mata, dengan demikian permukaan mata menjadi licin dan menghasilkan penglihatan yang tajam (Ilyas, 2009a).

Gambar 2. Lapisan Film Air Mata
Gambar 2. Lapisan Film Air Mata

2.2 Susunan Air Mata

Air Air merupakan bagian terbesar dari pada air mata. Air mata dihasilkan kelenjar air mata dengan penyaluran pada forniks

konjungtiva.

2. Elektrolit Elektrolit membantu kelembaban dan kesehatan tear film. Elektrolit seperti natrium, klorida (Cl), kalsium (Ca) dan kalium (K) mempertahankan larutnya seluruh protein dan mucin yang terdapat pada akuos tear film.

1.

10

3. Protein Air mata normal mengandung campuran protein yang membantu melindungi air mata terhadap infeksi dan kesehatan mata pada umumnya. Susunan protein pada tear film mempertahankan mata terhadap serangan infeksi, mempertahankan kesehatan epitel dan kesehatan permukaan kornea, peranan terpenting protein adalah immunoglobin dan sitokin, dan factor growth dan penyembuhan (Ilyas, 2009b).

Gambar 3. Kandungan Film Air Mata
Gambar 3. Kandungan Film Air Mata

Volume air mata normal diperkirakan 7 ± 2 μL pada setiap mata. Albumin merupakan 60% dari protein total dalam air mata. Globulin dan lisozim berjumlah sama banyak pada bagian sisanya. Selain itu, terdapat imunoglobulin IgA, IgG, dan IgE dengan jumlah yang paling banyak adalah

IgA (Ilyas, 2009a).

2.3 Fungsi Air Mata Air mata berfungsi untuk:

1. Mempertahankan integritas kornea dan konjungtiva dengan meniadakan ketidakaturan pada sel epitel permukaan guna mempertahankan permukaan kornea agar tetap licin dan rata.

11

Fungsi ini memperbaiki tajam penglihatan terutama pada saat setelah mengedip.

2. Membasahi dan melindungi permukaan epitel kornea dan konjungtiva yang lembut atau lubrikasi agar gerakan bola mata serta mengedip terasa nyaman dan membersihkan kotoran yang masuk mata

3. Membilas mikroorganisme dan produk-produk yang dihasilkannya (antimikrobial) karena mengandung anti bakteri

termasuk laktoferin, immunoglobulin, lisozim dan betalysin. Memberi kornea substansi nutrien dan sebagai media transpor produk mikroorganisme ke dan dari sel-sel epitel kornea dan konjungtiva terutama oksigen dan karbon oksida.

5. 6. 2009a). 3. Sistem Lakrimal
5.
6.
2009a).
3. Sistem Lakrimal

4.

Memberikan efek pembiasan sinar pada permukaan licin dengan baik dan membantu membelokkan sinar masuk dan terfokus pada retina.

Mengatur tonus cairan mata sehingga isotonik dan volume air tidak berubah pada kornea dan penglihatan akan tetap normal.

K+, Na+, dan Cl- terdapat dalam konsentrasi lebih tinggi dalam air mata dari dalam plasma. pH rata-rata air mata adalah 7,35. Air mata akan disekresikan secara refleks sebagai respon dari berbagai stimuli (Ilyas,

3.1 Sistem sekresi dan ekskresi air mata Sistem sekresi air mata atau lakrimal terletak di daerah temporal bola mata. Sistem ekskresi mulai pada pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal, duktus nasolakrimal, meatus inferior. Sistem lakrimal terdiri atas 2 bagian, yaitu:

a. Sistem produksi atau glandula lakrimal. Glandula lakrimal terletak di temporo antero superior rongga orbita.

b. Sistem ekskresi, yang terdiri atas pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal dan duktus nasolakrimal. Sakus

12

lakrimal terletak di bagian depan rongga orbita. Air mata dari duktus lakrimal akan mengalir ke dalam rongga hidung di dalam meatus inferior. Film air mata sangat berguna untuk kesehatan mata. Air mata akan masuk ke dalam sakus lakrimal melalui pungtum lakrimal.

Gambar 4. Sistem Lakrimal
Gambar 4. Sistem Lakrimal

4. Permukaan okuler 4.1 Konjungtiva Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea.

Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu:

a. Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus

b. Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di bawahnya.

c. Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.

13

Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan jaringan di bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak (Ilyas, 2009a). 4.2 Kornea Kornea (Latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang menembus cahaya, merupakan lapis

jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri atas lapis:

1.

Epitel Tebalnya 50 µm, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berkaitan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depannya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier. Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Epitel berasal dari ektoderm permukaan.

2.
2.

Membran Bowman Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.

3. Stroma Terdiri atas lamel yang merupakan sususan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang – kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma.

14

4. Membran Descement Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya. Bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 µm.

5. Endotel

Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20 - 40µm. Endotel melekat pada membran descement melalui hemidesmosom dan zonula okluden. Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran bowman melepaskan selubung schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi. Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea (Ilyas, 2009a).

sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea (Ilyas, 2009a). 5. Rokok 5.1 Definisi Rokok adalah silinder dari

5. Rokok 5.1 Definisi Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lain. Rokok dapat menyebabkan ketergantungan dan menyebabkan banyak macam penyakit, seperti kanker, penyakit jantung, penyakit pernafasan, penyakit pada mata dan berbagai organ lainnya.

15

5.2 Jenis Rokok Rokok dibedakan menjadi beberapa jenis. Rokok berdasarkan bahan baku atau isi, dibedakan menjadi:

1. Rokok Putih

Rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun tembakau yang diberi perasa untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu. Pada rokok jenis ini dibagi menjadi 2 jenis yaitu ada yang hanya ditambah perasa saja dan yang lainnya dinamakan rokok mentol yang didalamnya selain perasa juga ditambah dengan rasa

mentol atau mint.

2. 3. Rokok Klembak 1.
2.
3. Rokok Klembak
1.

Rokok Kretek Rokok yang bahan baku atau isinya berupa cacahan daun

tembakau dan cengkeh yang diberi perasa untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu yang dibungkus dengan kertas.

Rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau, cengkeh, dan kemenyan yang diberi perasa untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu. Gangguan kesehatan pada penggunaan rokok, dapat disebabkan

oleh kandungan utama rokok, yaitu nikotin. Jenis rokok berdasarkan penggunaan filter, yaitu:

Rokok Filter Rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat sejenis busa yang berfungsi untuk menyaring nikotin.

2. Rokok Non – Filter

Rokok yang pada bagian pangkalnya tidak terdapat sejenis busa, sehingga tidak ada fungsi sebagai penyaring nikotin. Kandungan nikotin yang terdapat dalam rokok non – filter lebih besar dari rokok filter, sebab pada rokok non – filter tidak terdapat filter yang berfungsi untuk mengurangi asap yang keluar dari rokok, seperti yang terdapat pada rokok filter.

16

5.3 Zat yang Terkandung dalam Rokok Beberapa zat kimia yang terdapat dalam rokok maupun asap rokok mengandung zat kimia yang beracun dan berbahaya, antara lain:

1. Acrolein Merupakan zat cair yang tidak berwarna yang mengandung kadar alkohol. Cairan ini sangat mengganggu kesehatan.

2. Karbon monoksida Merupakan gas yang tidak berbau yang dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna dari unsur karbon. Gas ini mengikat hemoglobin sehingga tubuh dapat kekurangan oksigen, menghalangi transportasi dalam darah, dan sangat beracun karena dapat dibawa oleh hemoglobin ke dalam otot-otot di seluruh tubuh, termasuk otot – otot pada mata.

di seluruh tubuh, termasuk otot – otot pada mata. 3. 4. 5. Nikotin Merupakan cairan berminyak

3.

4.

5.

Nikotin Merupakan cairan berminyak yang tidak berwarna dan dapat membuat rasa perih yang sangat. Nikotin dapat menyebabkan ketergantungan, merusak jaringan otak, menyebabkan darah cepat membeku dan mengeraskan dinding arteri (Capah, 2010).

Ammonia Merupakan gas tidak berwarna yang terdiri atas nitrogen dan hidrogen. Ammonia mudah masuk ke dalam sel-sel tubuh dan bersifat racun.

Formic acid Merupakan sejenis cairan tidak berwarna namun baunya sangat tajam dan menusuk. Zat ini bergerak bebas dan dapat membuat lepuh sehingga menyebabkan seseorang merasa seperti digigit semut.

6. Hidrogen sianida Merupakan sejenis gas tidak berwarna, tidak berbau dan tidak mempunyai rasa. Zat ini mudah terbakar dan menghalangi pernapasan.

7. Nitrous oxide Merupakan gas yang tidak berwarna. Pada awalnya dapat digunakan sebagai anestesia sewaktu diadakan operasi.

17

8. Formaldehyde Merupakan sejenis gas tidak berwarna dengan bau yang tajam. Gas ini adalah tergolong pengawet dan pembasmi hama.

9. Fenol Merupakan campuran yang terdiri dari kristal yang dihasilkan dari destilasi beberapa zat organik
9. Fenol
Merupakan campuran yang terdiri dari kristal yang dihasilkan dari
destilasi beberapa zat organik seperti kayu dan arang. Fenol akan
terikat ke protein dan menghalangi aktifitas enzim.
10. Acetol
Merupakan hasil pemanasan aldehyde dan mudah menguap dengan
alcohol.
Hidrogen sulfida
Merupakan sejenis gas beracun yang mudah terbakar dengan bau
yang keras. Zat ini menghalangi oksidasi enzim.
Pyridine
Merupakan sejenis cairan tidak berwarna dengan bau yang tajam.
Zat ini terdapat pada tembakau.
Methyl chloride
Merupakan campuran atas hidrogen dan karbon. Zat ini sangat
beracun dan dapat berperan seperti anestesia.
Metanol
Merupakan sejenis cairan ringan yang mudah menguap dan
terbakar. Zat ini dapat diperoleh dari sintesis karbon monoksida dan
hidrogen, menghisapnya dapat mengakibatkan kebutaan, bahkan
kematian.
11.
12.
13.
14.

15. Tar Adalah sejenis cairan kental berwarna coklat tua atau hitam yang diperoleh dengan cara destilasi kayu dan arang. Tar ini juga terkandung dalam tembakau. Tar berpengaruh dalam membunuh sel dalam saluran darah, meningkatkan produksi lendir di paru, zat karsinogen dan dapat menyebabkan gangguan pada organ tubuh lainnya.

18

6. Asap rokok

6.1 Komposisi asap rokok

Asap rokok tembakau mengandung gas dan bahan-bahan kimia yang bersifat racun dan atau karsinogenik. Asap rokok mengandung sekitar 4.000 bahan kimia, misalnya nikotin, CO, NO, HCN, NH4, acrolein, acetilen, benzaldehyde, urethane, benzene, methanol, coumarin, etilkatehol-4, dan ortokresol. Selain komponen gas, ada komponen padat atau partikel yang terdiri atas nikotin dan tar (Ruslan Muchtar, 2007). Asap rokok terdiri atas dua jenis yaitu:

a.

Asap mainstream Asap ini adalah asap yang terkepul dari mulut perokok, setelah

Asap Sidestream
Asap Sidestream

b.

terlebih dahulu terisap dan melewati paru – paru sang perokok. Asap ini memuat kandungan senyawa karbon monoksida (CO), gas beracun yang cukup efektif dalam melumpuhkan kemampuan darah menyerap oksigen, lima kali lebih besar daripada asap rokok utama. Asap ini juga mengandung tiga kali lebih besar benzopyrene (pemicu kanker) dan 50 kali lipat kandungan amonia (penyebab iritasi mata dan pernapasan) daripada mainstream smoke.

Asap ini dibentuk ketika tembakau dalam keadaan terbakar namun asap tidak diinhalasi oleh perokok. Zat toksin pada asap sidestream memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan asap mainstream dan 85% dari asap rokok merupakan hasil dari asap sidestream.

6.2 Jumlah rokok yang dihisap

Jika sebatang rokok dihabiskan dalam sepuluh kali hisapan asap rokok, maka dalam tempo setahun bagi perokok sejumlah 20 batang (satu bungkus) per hari akan mengalami 70.000 hisapan asap rokok. Beberapa zat kimia dalam rokok yang berbahaya bagi kesehatan bersifat kumulatif, suatu saat dosis racunnya akan mencapai titik toksis sehingga akan mulai terlihat gejala yang ditimbulkan (Elliott and Shanahan, 2002).

19

Jumlah rokok yang dihisap dapat dalam satuan batang, bungkus, atau pak per hari. Berdasarkan jumlah rokok yang dihisap, perokok dapat dikelompokkan menjadi:

1. Perokok Ringan: Jumlah rokok yang dikonsumsi perhari adalah 1 sampai 9 batang rokok.

2. Perokok Sedang: Jumlah rokok yang dikonsumsi perhari adalah 10 sampai 19 batang rokok.

3. Perokok berat: Jumlah rokok yang dikonsumsi perhari adalah lebih dari 20 batang rokok.

6.3

Berikut adalah ilustrasi mengenai proses paparan zat iritatif yang berlangsung kronis dapat menyebabkan penurunan
Berikut
adalah
ilustrasi
mengenai
proses
paparan
zat
iritatif
yang
berlangsung kronis dapat menyebabkan penurunan sekresi air mata.
Gambar 5. Proses Paparan Zat Iritatif

Pengaruh pada mata secara eksternal

6.4 Pengaruh pada mata secara internal

Menurut Optometrists Association Australia (2005) dan Action on Smoking and Health (2005), beberapa zat yang terkandung dalam rokok bersifat toksik terhadap jaringan mata. Beberapa zat di dalamnya dapat menyebabkan penurunan kemampuan darah membawa oksigen dan menurunkan aliran darah ke mata (iskemia). Katarak nuklear, degenerasi makular terkait usia dan Graves’ Ophthalmopathy adalah beberapa penyakit yang berkaitan dengan merokok.

20

B. KERANGKA KONSEP PENELITIAN Frekuensi mengedip Merokok Keluhan yang dirasakan pada mata
B. KERANGKA KONSEP PENELITIAN
Frekuensi
mengedip
Merokok
Keluhan yang
dirasakan pada
mata

Variabel independen

Variabel Dependen

C. HIPOTESIS PENELITIAN

Satuan Induk BAIS TNI Bogor. pada anggota Satuan Induk BAIS TNI Bogor.
Satuan Induk BAIS TNI Bogor.
pada anggota Satuan Induk BAIS TNI Bogor.

1. Ada pengaruh merokok terhadap frekuensi mengedip pada anggota

2. Ada pengaruh merokok terhadap keluhan yang dirasakan pada mata