Anda di halaman 1dari 3

Pembangkit Listrik Tenaga Air sebagai Primadona di Tengah-tengah Krisis Energi Listrik

Oleh : Ir. Harianto, Dipl.HE1 Krisis energi sedang melanda negeri ini. Seminggu setelah harga BBM naik, giliran pasokan listrik terganggu. Sudah seminggu listrik di hampir semua daerah di wilayah Jawa, Madura, dan Bali mengalami pemadaman bergilir. Sampai pertengahan tahun 2009, sistem kelistrikan Jawa-Bali akan terus mengalami krisis sehingga pemadaman tidak bisa dihindari karena kapasitas pembangkit PLN tidak bertambah secara signifikan. Kapasitas pembangkit PLN hanya bertambah 2.000-3.000 megawatt, sedangkan konsumsi listrik masyarakat rata-rata naik 6 persen. Akibatnya, kapasitas cadangan listrik pun tergerus tinggal 25 persen, jauh di bawah kapasitas cadangan normal sebesar 40 persen. Demikian isi headline salah satu media nasional memberitakan tentang krisis listrik yang saat ini menimpa Indonesia. Memang sejak minggu lalu, sistem kelistrikan Jawa-Bali mengalami defisit 800-900 MW yang mengakibatkan pemadaman bergilir di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta dan Bali dimana dijelaskan bahwa defisit disebabkan oleh banyak faktor diantaranya penurunan daya di sejumlah pembangkit PLN dan swasta, kenaikan beban pemakaian listrik di Jawa Bali serta ketidaklancaran pasokan BBM ke pembangkit PLN. Di Indonesia saat ini terdapat beberapa jenis pembangkit listrik antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Uap, Diesel, Nuklir, Air dIl. Namun ditengah naiknya harga minyak dunia yang berdampak pada krisis energi listrik, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) menjadi altematif yang tepat untuk mengurangi beban Pemerintah dalam penyediaan energi listrik seiring dengan naiknya harga bahan bakar fosil (BBM & batu bara) serta adanya kendala transportasi yang dihadapi untuk pendistribusiannya. Apabila dibandingkan dengan pembangkit listrik dengan sumber energi fosil, PLTA memiliki kelebihan secara ekonomis. Dari data seperti tercantum pada tabel berikut, jelas terlihat pada tahun 2003-2005 terjadi kenaikan biaya operasi pembangkit tenaga fosil sebesar 11,7% per tahun untuk PLTU dan 15,9% per tahun untuk PLTD sehingga biaya PLTA jauh lebih murah dibanding PLTU dan PLTD. Biaya operasi masing-masing pembangkit listrik 2003
Sumber Energi Air Fosil Pembangkit PLTA PLTU (BBM + Batu bara) PLTD (BBM) Biaya (Rp/kWh) 128.81 256.47 701.89

Biaya operasi masing-masing pembangkit listrik 2005


Sumber Energi Air Fosil Pembangkit PLTA PLTU (BBM + Batu bara) PLTD (BBM) Biaya (Rp/kWh) 114,71 316,71 925,18

Sumber : Sarwono HM dan Sriyono D. Siswoyo, Jurnal HATHI Vol. 1 Maret 2007

Profesional Utama Sumber Daya Air Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Tentunya perbandingan tersebut sudah sangat jauh berubah mengingat adanya kenaikan harga BBM dan batu bara secara signifikan sampai dengan tahun ini. Seperti diketahui kenaikan harga minyak mentah dunia pekan lalu mencapai US$130 per barel, sedangkan batu bara berkalori 5.000 kkal/kg menembus US$ 80-US$ 90 per ton. Besamya penggunaan BBM tentunya sangat memberatkan keuangan PLN. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2008, untuk menentukan besamya subsidi listrik, asumsi harga minyak Indonesia (Indonesia crude price/ICP) dipatok hanya US$ 95 per barel. Sedangkan untuk harga batu bara dipatok hanya sedikit di atas Rp 500.000 per ton (sekitar US$ 54 per ton). Keunggulan lain PLTA dibanding PLTD dan PLTU antara lain energi air dengan sifatnya yang bersih dan ramah lingkungan memiliki peluang yang tinggi untuk dikembangkan di masa depan. Sifatnya yang terbarukan (renewable), apabila dibarengi dengan pengelolaan yang baik akan membawa ke arah keberlanjutan (sustainability) dalam pemenuhan energi bagi masyarakat serta dengan potensi seperti itu, pemanfaatan energi air yang ada di berbagai tempat di Indonesia sebagai energi pembangkit listrik pengganti energi fosil mempunyai peluang besar untuk menjadi primadona, utamanya ditengahtengah krisis energi listrik. Dapat kita katakan bahwa PLTA merupakan pembangkit listrik yang smart, fleksibel dan dapat diandalkan untuk menyangga beban dasar ataupun beban puncak secara mudah operasionalnya dengan hanya mengalirkan air untuk memutar turbin sehingga dengan perputaran turbin maka dapat tercipta energi listrik dibandingkan PLTU yang memerlukan proses awal yang lebih lama. Dimasa yang akan datang, untuk menambah pasokan energi listrik perlu digalakkan pembangunan PLTA baru di lokasi-lokasi yang memiliki potensi untuk dibangun bendungan dan waduk. Sebagai contoh di Wilayah Sungai Kali Brantas terdapat beberapa lokasi yang telah direncanakan akan dibangun bendungan dan waduk dengan salah satu fungsinya adalah membangkitkan energi listrik seperti Bendungan Genteng, Beng, Babadan, Lesti, Kuncir, Kepanjen, Lumbangsari, Kepanjen dan Konto. Lokasi-lokasi yang berpotensi tersebut sebenamya telah termasuk dalam Rencana Induk Pengembangan Sumberdaya Air di Wilayah Sungai Kali Brantas, namun sampai sekarang belum terlaksana pembangunannya karena terbatasnya dana Pemerintah dan karena studi kelayakannya kalah priotitas dengan pembangkit non PLTA. Selain pengembangan PLTA dengan skala besar, perlu juga digalakkan pengembangan PLTA dengan kapasitas kecil atau yang biasa disebut Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). PLTMH ini dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan listrik khususnya di daerah terpencil yang tidak dapat dilayani oleh PLN. Selain itu PLTMH tidak saja dapat memenuhi kebutuhan listrik untuk penerangan, tetapi dapat digunakan untuk menunjang kegiatan produktif skala kecil seperti pengolahan hasil pascapanen dan industri kerajinan rakyat. Di Wilayah Sungai Kali Brantas sudah ada proposal untuk mengembangkan PLTMH di beberapa lokasi seperti di lokasi Check Dam Tokol, Bendung Gerak Mrican, Intake Irigasi Lodagung, Bendung Lodoyo, Bendung Karet Jatimlerek, Bendung Karet Menturus, Pintu Air Mlirip dan lain-lain. Upaya lain untuk menambah produksi listrik selain membangun PLTA dan PLTMH adalah dengan melakukan optimalisasi PLTA-PLTA yang telah berumur panjang seperti PLTA Golang, PLTA Giringan, PLTA Mendalan dan lain-lain. Optimalisasi tersebut dapat dilakukan dengan menambah kapasitas pipa pesat, menambah ketinggian tinggi jatuh dan menambah cascade. Tentunya operasional pembangkit tenaga air sangat bergantung dengan keberlanjutan pengelolaan sumber daya air yang ada dan bangunan prasarana pengairan seperti waduk, bendungan maupun mesin pembangkit itu sendiri. Keberlanjutan sumber daya air dapat terus terjaga melalui kegiatan konservasi daerah tangkapan hujan. Khusus untuk

waduk harus selalu prima dan dijaga dari berbagai permasalahan seperti sedimentasi dan eutrofikasi yang dapat mengancam kondisi pipa-pipa pembangkit listrik dan jaminan elevasi air sepanjang tahun. Dalam melakukan upaya-upaya untuk menjamin keberlanjutan sumber daya air dan keberlanjutan fungsi bangunan prasarana pengairan, yang pada akhimya dapat menjamin kontinuitas pembangkitan energi, maka harus terjamin dipenuhinya Biaya Jasa Pengelolaan Sumber Daya Air (BJP SDA). Memang selama ini hanya komponen biaya operasi dan pemeliharaan yang terakomodasi dalam BJP SDA tersebut mengingat kemampuan para pemanfaat yang masih terbatas. Selanjutnya diharapkan komponen biaya lain seperti biaya sistem informasi, biaya perencanaan, biaya pelaksanaan konstruksi, dan biaya pemantauan, evaluasi dan pemberdayaan masyarakat dapat juga tercakup dalam BJP SDA seperti yang diatur dalam UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.