Anda di halaman 1dari 3

REAKSI TRANSFUSI

1. REAKSI NON HEMOLITIK Reaksi transfusi akibat Golongan darah yang tidak cocok Bila darah dari salah satu golongan ditransfusikan ke resipien dari golongan darah yang lain, sering terjadi reaksi transfusi sel darah merah dan darah donor diaglutinasi.sangat jarang darah yang ditransfusikan menyebabkan aglutinasi sel-sel resipien dengan alasan sebagai berikut; bagian plasma darah donor dengan segera diencerkan oleh semua plasma resipien, karena itu mengurangi titer aglutinin yang diinfus sampai kadarnya terlalu rendah untuk meyebabkan aglutinasi. Sebaiknya darah yang diinfus tidak banyak mengmengencerkan aglutinin dalam plasma resipien. Karena itu, aglutinin tetap dapat mengaglutinasi sel-sel donor. Reaksi anafilaksis Komplikasi ini jarang terjadi pada transfusi komponen darah atau derivat plasma. Resiko terjadinya anafilaksis akan meningkat pada pemberian transfusi yang cepat, khususnya bila digunakan plasma beku dan segar sebagai cairan penukar dalam terapi pertukaran plasma. Sitokin plasma dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya bronkokonstriksi dan vasokontriksi pada beberapa resipien tertentu. Defisiensi IgA pada resipien merupakan kelainan langka yang dapat menyebabkan reaksi anafilaksis yang sangat berat. Keadaan ini dapat ditimbulkan oleh setiap produk darah karen asebagian besar produk tersebut mengandung runutan IgA. Terjadi dalam waktu beberapa menit setelah transfusi berlangsung dengan ditandai oleh kolaps kardiovaskular, gawat nafas dan tanpa disertai febris. Rekasi anafilaksis ini akan cenderung berakibat fatal jika tidak ditangani secepatnya.

Kelebihan muatan cairan Kelebihan muatan cairan dapat menimbulkan gagal jantung dan edema paru. Keadaan ini kan terjadi ketika terlalu banyak cairan yang ditransfusikan, terganggunya fungsi ginjal dan bila infus atau trasfusi dilakukan terlalu cepat. Kejadian kelebihan muatan cairan ini terutama terjadi pada pasien dengan anemia kronis yang berat dan penyakit kardiovaskular yang mendasari.

Cedera paru akut yang berkaitan dengan transfusi (TRALI) Biasanya disebabkan oleh plasma donor yang mengandung antibodi terhadap leukosit resipien. Kegagala fungsi fisiologis paru yang terjadi dengan cepat biasanya muncul dalam waktu satu hingga empat jam sesudah transfusi dimulai, dengan terlihatnya gambaran opasitas yang difus pada thoraks. Terapim ynag spesifik untuk keadaan ini tidak ada. Tetapi suportif respirasi dan sistemik yang intensif diperlukkan dalam unit perawatan intensif.

Syok septik Kontaminasi bakteri mengenai sampai 0,4% preparat sel darah merah dan 1-2 % konsentrasi trombosit. Sediaan darah dapat terkontaminasi oleh beberapa agen: o Bakteri dari kulit donor yang mengenai drah pada saat pengambilan darah tersebut (biasanya staphylococcus yang hidup pada kulit) o Bakterimia yang terjadi dalam darah donor pada saat darah tersebut diambil. Misalnya Yersinia ( genus bakteri infeksi dengan gejala gastroenteritis dan limfadenitis kronis) o Penanganan yang tidak benar dalam pemrosesan darah. o Cacat atau kerusakan pada kantong plastik darah. o Pencairan plasma beku segar atau kriopresipitat dalam penangas air (yang sering terkontaminasi). Beberapa kontaminan, khususnya spesies Pseudomonas, akan tumbuh pada suhu 2 oC-6oC sehingga dapat bertahan hidup atau memperbanyak diri dalam unit sel darh merah yang disimpan dalam lemari pedingin. Oleh

karena itu, resiko kontaminasi akan meningkat pada saat preparat darah tersebut dikeluarkan dari lemari pendingin. Staphylococcus tumbuh dalam suasana yang lebih hangat dan akan memperbanyak diri dalam konsentrat trombosit pada suhu 20o sampai 24oC. hal tersebut membatasi waktu penyimpanan konsentrat trombosit. Tanda-tanda kontainasi dan syok septik biasanya muncul dengan cepat setelah transfusi dimulai, kendati kemunculannya bisa saja tertunda setelah beberapa jam. Reaksi hebat yang ditandai dengan panas tinggi yang onsetnya mendadak, gejala menggigil dan hipotensi. Tindakan suportif yang dapat dilakukan adalah dengan segera memberikan antibiotik dosis tinggi dengan intavena. 2. PENULARAN PENYAKIT MELALUI TRANSFUSI Sebagian besar Diantaranya: Hepatitis B,C HIV/AIDS Malaria penyakit berbahaya dapat ditularkan donor pda resipiennya.