Anda di halaman 1dari 0

Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode

Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.


USU Repository 2009


PENETAPAN KADAR ZAT AKTIF PARASETAMOL
DALAM OBAT SEDIAAN ORAL DENGAN
METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (KCKT)



TUGAS AKHIR




YULIDA AMELIA NASUTION
062401068







PROGRAM STUDI DIPLOMA III KIMIA ANALIS
DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009








Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009




PENETAPAN KADAR ZAT AKTIF PARASETAMOL
DALAM OBAT SEDIAAN ORAL DENGAN
METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (KCKT)


TUGAS AKHIR


Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat memperoleh gelar Ahli
Madya.


YULIDA AMELIA NASUTION
062401068







PROGRAM STUDI DIPLOMA III KIMIA ANALIS
DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009









Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


PERSETUJUAN




Judul : PENETAPAN KADAR ZAT AKTIF
PARASETAMOL DALAM OBAT SEDIAAN ORAL
DENGAN METODE KROMATOGRAFI CAIR
KINERJ A TINGGI (KCKT)
Kategori : TUGAS AKHIR
Nama : YULIDA AMELIA NASUTION
Nomor Induk Mahasiswa : 062401068
Program Studi : DIPLOMA III KIMIA ANALIS
Departemen : KIMIA
Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM (FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA
UTARA


Disetujui di
Medan, Juni 2009



Diketahui/Disetujui oleh
Departemen Kimia FMIPA USU Pembimbing,
Ketua,



Dr. Rumondang Bulan Nst, MS. Dr. Ribu Surbakti, MS.
NIP : 131 459 466 NIP : 130 872 290
















Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009



PERNYATAAN



PENETAPAN KADAR ZAT AKTIF PARASETAMOL
DALAM OBAT SEDIAAN ORAL DENGAN
METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (KCKT)


TUGAS AKHIR




Saya mengakui bahwa Tugas Akhir ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali
beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.



Medan, Juni 2009




YULIDA AMELIA NASUTION
062401068





















Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


PENGHARGAAN


Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis diberikan kesehatan dan kesempatan untuk
dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini. Adapun tujuan penulis dalam menyelesaikan
Tugas Akhir ini adalah sebagai salah satu persyaratan akademis untuk menyelesaikan
program studi D-III Kimia Analis Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan Tugas Akhir ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan serta
dorongan dari pihak keluarga, pihak-pihak tertentu serta dari rekan-rekan
seperjuangan. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang teristimewa buat
kedua orang tua tercinta yaitu ayahanda Drs. Budi Nasution dan ibunda Huzaimah
Dalimunthe yang telah mengasuh, mendidik, memberikan kasih sayang dan
dukungan serta doa yang tiada putus-putusnya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Tugas Akhir ini. Juga buat kakanda Rahmatika Ulfah Nasution dan
adinda Chairunnisa Nasution dan Muhammad Fauzan Nasution, beserta seluruh
keluarga besar penulis.
Selain itu penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
memberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada :
1. Bapak Dr. Ribu Surbakti, MS., selaku Dosen Pembimbing yang banyak
meluangkan waktu dan kesempatan untuk memberikan bimbingan dan arahan
kepada penulis.
2. Ibu Dr. Rumondang Bulan, MS., selaku Ketua Jurusan Kimia Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengatahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Marpongahtun, MSc., selaku ketua Program Studi Diploma D III Kimia
Analis.
4. Bapak Prof. Dr. Eddy Marlianto, M.Sc., selaku Dekan Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan alam Universitas Sumatera Utara.
5. Ibu Zakiah Kurniati, S.Farm, Apt., selaku Pembimbing Lapangan Balai Besar
POM yang telah banyak meluangkan waktu dan kesempatan untuk
memberikan bimbingan dan arahan dalam pelaksanaan PKL.
6. Ibu Dra. Nina Refida, Apt., selaku Tata Usaha PKL di Balai Besar POM
7. Dan yang tidak terlupakan buat sahabat saya Ayu Utami Ningsih dan Weny
Febriani Dalimunthe yang selalu memberikan dukungan dan semangatnya
kepada saya serta rekan-rekan se-PAKA lainnya.
Demikianlah karya ilmiah ini penulis perbuat dan penulis menyadari bahwa
Tugas Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi isi maupun susunannya
dikarenakan keterbatasan, kemampuan serta pengetahuan penulis. Oleh sebab itu
penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca demi kesempurnaan penulisan
ini. Akhir kata penulis berharap semoga tulisan ini bermanfaat dan berguna bagi
pihak-pihak yang menggunakannya.
Medan, Juni 2009



Penulis
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


ABSTRAK




Telah dilakukan penetapan kadar zat aktif parasetamol dalam obat sediaan oral dengan
metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dengan menggunakan detektor
UV-Vis dengan panjang gelombang 243 nm. Dari data diperoleh kadar zat aktif
parasetamol sebesar 97,73%, ini berarti bahwa kadar zat aktif parasetamol dalam obat
sediaan oral tersebut memenuhi syarat sesuai dengan Farmakope Indonesia Edisi IV
Tahun 1995 yaitu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110%.





































Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009



DETERMINATION OF ACTIVE MATTER ACETAMINOPHEN
IN ORAL SOLUTION USING
HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAPHY (HPLC) METHOD


ABSTRACT




Determination of active matter acetaminophen in oral solution using High
Performance Liquid Chromatography (HPLC) method by using detector UV-Vis with
wave lenght 243 nm was done. From data was obtained the content of active matter
acetaminophen that was 97,73%, it means that active matter acetaminophen in oral
solution to comply requirement according to Farmakope Indonesia Edition IV 1995
that was not less than 90,0% and not more than 110,0%.































Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009




DAFTAR ISI




Halaman
PERSETUJUAN ............................................................................................... i
PERNYATAAN ................................................................................................ ii
PENGHARGAAN ............................................................................................ iii
ABSTRAK ........................................................................................................ iv
ABSTRACT ...................................................................................................... v
DAFTAR ISI .................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................. vii

BAB 1 PENDAHULUAN
Latar Belakang .............................................................................................. 1
Permasalahan ................................................................................................ 3
Tujuan .......................................................................................................... 4
Manfaat ........................................................................................................ 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Parasetamol ....................................................................................... 5
2.1.1. Sejarah Parasetamol ............................................................... 6
2.1.2. Keracunan Parasetamol .......................................................... 9
2.2. KCKT ............................................................................................... 11
2.2.1. Sejarah KCKT ....................................................................... 11
2.2.2. Kegunaan KCKT ................................................................... 11
2.2.3. Keuntungan KCKT ................................................................ 12
2.2.4. Kelebihan KCKT ................................................................... 14
2.2.5. Detektor Spektrofotometri UV-Vis ........................................ 14

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN
3.1. Alat .................................................................................................... 16
3.2. Bahan ................................................................................................. 16
3.3. Prosedur Percobaan ............................................................................ 17

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil ................................................................................................... 20
4.2. Perhitungan ......................................................................................... 21
4.3. Pembahasan ........................................................................................ 22

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan ......................................................................................... 23
5.2. Saran ................................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


LAMPIRAN


DAFTAR TABEL




Halaman
Tabel 4.1. Larutan Baku Prasetamol 22
Tabel 4.2. Larutan Sampel Prasetamol 22





































Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009



BAB 1

PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Panas tinggi atau demam adalah suatu kondisi saat suhu badan lebih tinggi daripada
biasanya atau di atas suhu normal. Umumnya terjadi ketika seseorang mengalami
gangguan kesehatan. Suhu badan normal manusia biasanya berkisar antara 36-37
o
C..
Jadi, seseorang yang mengalami demam, suhu badannya di atas 37
o
C. Sebenarnya,
suhu badan yang mencapai 37,5
o
C masih berada di ambang batas suhu normal. Tentu
saja sepanjang suhu tersebut tidak memiliki kecendrungan untuk meningkat. Dengan
kata lain, ketika kondisi suhu badan mencapai ambang batas, sudah selayaknya hal
tersebut mendapatkan perhatian yang lebih serius sehingga kemungkinan melampaui
batas ambang dapat dihindarkan.
Demam dapat diderita oleh siapa saja, dari bayi hingga berusia paling lanjut
sekalipun. Demam sesungguhnya merupakan reaksi alamiah dari tubuh manusia
dalam usaha melakukan perlawanan terhadap beragam penyakit yang masuk atau
berada di dalam tubuh. Dengan kata lain, demam adalah bentuk mekanisme
pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit. Apabila ada suatu kuman penyakit yang
masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan melakukan perlawanan terhadap
kuman penyakit itu dengan mengeluarkan zat antibodi. Pengeluaran zat antibodi yang
lebih banyak daripada biasanya ini diikuti dengan naiknya suhu badan. Semakin berat
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


penyakit yang menyerang, semakin banyak pula antibodi yang dikeluarkan, dan
akhirnya semakin tinggi pula suhu badan yang terjadi. ( Widjaja, 2001 )
Obat memiliki cakupan makna yang cukup luas, bukan hanya terbatas pada
zat-zat yang digunakan untuk menyembuhkan seseorang dari sakit. Zat-zat yang
berfungsi untuk menetapkan diagnosis (mengetahui penyakit), mencegah, mengurangi
(meski tidak menyembuhkan), menghilangkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau
kelainan, baik jasmaniah maupun rohaniah pada manusia dan hewan, juga disebut
dengan obat.
Para peneliti merasa bahwa penggunaan obat-obat nabati yang berupa rebusan
ataupun ekstrak, tidak sebaik yang diharapkan. Perbedaan asal tanaman dan cara
pembuatan ramuan mengakibatkan perbedaan jumlah kandungan zat aktif. Hal ini
menyebabkan efektivitas khasiat ramuan berbeda-beda, maka dilakukanlah isolasi
(pemisahan) zat aktif yang ada dalam ekstrak atau rebusan obat tersebut sehingga
didapatkan zat kimianya. Zat ini harus dapat diketahui rumus kimianya (nama
kimianya), sifat-sifat fisik dan kimianya, termasuk bagaimana obat bisa dibuat dalam
bentuk yang tepat, untuk kemudian dicobakan pada binatang. Percobaan pada
binatang ini dilakukan guna mengetahui cara kerja obat, efek obat, sifat-sifat obat,
kecepatan dan lamanya obat bereaksi di dalam tubuh.
Apabila zat kimia itu berhasil dalam percobaan binatang, maka tahap
selanjutnya adalah percobaan klinis kepada sukarelawan. Apabila percobaan ini
menyimpulkan bahwa obat memiliki khasiat dan keamanan yang baik, maka barulah
zat tersebut dapat didaftarkan kepada Badan Pemerintah yang berwenang (di
Indonesia adalah Badan Pengawasan Obat dan Makanan) untuk mendapatkan
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


pengakuan sebagai obat yang boleh diproduksi dan diedarkan. Zat kimia inilah yang
kemudian oleh pengobatan modern dinamakan sebagai obat (zat aktif).
Obat dibuat dalam skala besar di pabrik obat. Dibuat dalam bentuk tablet,
kapsul, sirup, atau bentuk lainnya, bisa pula dibuat dalam berbagai bentuk sekaligus.
Pada proses pembuatannya, zat aktif obat tersebut biasanya akan ditambahkan bahan-
bahan lain yang dimaksudkan agar dapat membantu menjadi bentuk obat yang baik.
Bahan-bahan tambahan juga dimaksudkan untuk membantu agar obat tersebut mudah
masuk dan berkhasiat dalam tubuh sesuai dengan yang diharapkan. ( Widodo, 2004 )

Parasetamol merupakan obat yang memiliki khasiat meredakan sakit / nyeri
dan menurunkan suhu demam. Parasetamol dimetabolisir oleh hati dan dikeluarkan
melalui ginjal. Parasetamol tidak merangsang selaput lendir lambung atau
menimbulkan perdarahan pada saluran cerna. Diduga mekanisme kerjanya adalah
menghambat pembentukan prostaglandin. ( http://www.actavis.co.id/ )

Obat ini digunakan untuk mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri dan
menurunkan suhu badan yang tinggi. Misalnya pada sakit kepala, sakit gigi, nyeri
haid, keseleo, demam imunisasi, demam flu dan lain sebagainya. Obat-obat golongan
ini yang beredar sebagai obat bebas adalah untuk sakit yang bersifat ringan,
sedangkan untuk sakit yang berat (misal: sakit karena batu ginjal, batu empedu dan
kanker) perlu menggunakan jenis obat keras (harus dengan resep dokter) dan untuk
demam yang berlarut-larut membutuhkan pemeriksaan dokter. ( Widodo, 2004 )

1.2. Permasalahan
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


Permasalahannya adalah apakah kadar zat aktif parasetamol yang terkandung
dalam obat sediaaan oral telah memenuhi syarat sesuai dengan Farmakope Indonesia
(FI) Edisi IV Tahun 1995 yaitu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0%.


1.3. Tujuan
- Untuk mengetahui kadar zat aktif parasetamol dalam obat sediaan oral
- Untuk mengetahui metode yang digunakan dalam penetapan kadar zat aktif
parasetamol dalam obat sediaan oral secara laboratorium

1.4. Manfaat
- Memberikan informasi tentang kadar zat aktif parasetamol dalam obat sediaan
oral
- Memberikan informasi tentang apakah kadar zat aktif parasetamol yang
terkandung dalam obat sediaaan oral telah memenuhi syarat sesuai dengan
Farmakope Indonesia (FI) Edisi IV Tahun 1995 yaitu tidak kurang dari 90,0%
dan tidak lebih dari 110,0%
- Memberikan informasi tentang metode yang digunakan dalam penetapan kadar
zat aktif parasetamol dalam obat sediaan oral









Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009













BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Parasetamol
Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik dan antipiretik yang digunakan
untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal dan sakit ringan, dan demam. Digunakan
dalam sebagian besar resep obat analgesik salesma dan flu. Parasetamol aman dalam
dosis standar, tetapi karena mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak
sengaja sering terjadi. Berbeda dengan obat analgesik yang lain seperti aspirin dan
ibuprofen, parasetamol tidak memiliki sifat antiradang.

Struktur Asetaminofen (parasetamol)
N-acetyl-para-aminophenol Berat molekul 151.17 Rumus empiris C
8
H
9
NO
2

Asal kata
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


Kata asetaminofen dan parasetamol berasal dari singkatan nama kimia bahan
tersebut : - Versi Amerika N-asetil-para-aminofenol asetominofen
- Versi Inggris para-asetil-amino-fenol parasetamol
( http://id.wikipedia.org/wiki/Parasetamol )


Asetaminofen atau yang biasa disebut Parasetamol, mempunyai daya kerja
analgetik dan antipiretik sama dengan Asetosal, meskipun secara kimia tidak
berkaitan. Tidak seperti Asetosal, Asetaminofen tidak mempunyai daya kerja
antiradang, dan tidak menimbulkan iritasi dan pendarahan lambung. Sebagai obat
antipiretika, dapat digunakan baik Asetosal, Salsilamid maupun Asetaminofen.
Diantara ketiga obat tersebut, Asetaminofen mempunyai efek samping yang
paling ringan dan aman untuk anak-anak. Untuk anak-anak di bawah umur dua tahun
sebaiknya digunakan Asetaminofen, kecuali ada pertimbangan khusus lainnnya dari
dokter. Dari penelitian pada anak-anak dapat diketahui bahwa kombinasi Asetosal
dengan Asetaminofen bekerja lebih efektif terhadap demam daripada jika diberikan
sendiri-sendiri. ( Sartono, 1996 )

2.1.1 Sejarah Parasetamol
Sebelum penemuan asetaminofen, kulit sinkona digunakan sebagai agen
antipiretik, selain digunakan untuk menghasilkan obat antimalaria, kina. Karena
pohon sinkona semakin berkurang pada 1880-an, sumber alternatif mulai dicari.
Terdapat dua agen antipiretik yang dibuat pada 1880-an; asetanilida pada 1886 dan
fenasetin pada 1887. Pada masa ini, parasetamol telah disintesis oleh Harmon
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


Northrop Morse melalui pengurangan p-nitrofenol bersama timah dalam asam asetat
gletser. Biarpun proses ini telah dijumpai pada tahun 1873, parasetamol tidak
digunakan dalam bidang pengobatan hingga dua dekade setelahnya.
Pada 1893, parasetamol telah ditemui di dalam air kencing seseorang yang
mengambil fenasetin, yang memekat kepada hablur campuran berwarna putih dan
berasa pahit. Pada tahun 1899, parasetamol dijumpai sebagai metabolit asetanilida.
Namun penemuan ini tidak dipedulikan pada saat itu. Pada 1946, Lembaga Studi
Analgesik dan Obat-obatan Sedatif telah memberi bantuan kepada Departemen
Kesehatan New York untuk mengkaji masalah yang berkaitan dengan agen analgesik.
Bernard Brodie dan Julius Axelrod telah ditugaskan untuk mengkaji mengapa agen
bukan aspirin dikaitkan dengan adanya methemoglobinemia, sejenis keadaan darah
tidak berbahaya.
Di dalam tulisan mereka pada 1948, Brodie dan Axelrod mengaitkan
penggunaan asetanilida dengan methemoglobinemia dan mendapati pengaruh
analgesik asetanilida adalah disebabkan metabolit parasetamol aktif. Mereka membela
penggunaan parasetamol karena memandang bahan kimia ini tidak menghasilkan
racun asetanilida. ( http://id.wikipedia.org/wiki/Parasetamol )

Derivat-asetanilida ini adalah metabolit dari fenasetin, yang dahulu banyak
digunakan sebagai analgeticum, tetapi pada tahun 1978 telah ditarik dari peredaran
karena efek sampingnya (nefrotoksisitas dan karsinogen). Khasiatnya analgetis dan
antipiretis, tetapi tidak antiradang. Dewasa ini pada umumnya dianggap sebagai zat
antinyeri yang paling aman, juga untuk swamedikasi (pengobatan mandiri). Efek
analgetisnya diperkuat oleh kofein dengan kira-kira 50% dan kodein. Resorpsinya dari
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


usus cepat dan praktis tuntas, secara rektal lebih lambat. Efek samping tak jarang
terjadi, antara lain reaksi hipersensitivitas dan kelainan darah.
Overdose bisa menimbulkan antara lain mual, muntah, dan anorexia.
Penanggulangannya dengan cuci lambung, juga perlu diberikan zat-zat penawar (asam
amino N-asetilsistein atau metionin) sedini mungkin, sebaiknya dalam 8-10 jam
setelah intoksikasi. Wanita hamil dapat menggunakan parasetamol dengan aman, juga
selama laktasi walaupun mencapai air susu ibu. Interaksi pada dosis tinggi
memperkuat efek antikoagulansia, dan pada dosis biasa tidak interaktif. ( Tjay, 2000 )
Cara kerja Parasetamol
Analgesik - antipiretik
- Sebagai analgesik, bekerja dengan meningkatkan ambang rangsang rasa sakit
- Sebagai antipiretik, diduga bekerja langsung pada pusat pengatur panas di
hipotalamus
Indikasi
- Meringankan rasa sakit pada keadaan sakit kepala, sakit gigi dan menurunkan
demam
Kontra indikasi
- Penderita gangguan fungsi hati yang berat
- Penderita hipersensitif terhadap obat ini
Efek samping
- Penggunaan jangka lama dan dosis besar dapat menyebabkan kerusakan hati
- Reaksi hipersensitivitas
Perhatian
- Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita penyakit ginjal
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


- Bila setelah 2 hari demam tidak menurun atau setelah 5 hari nyeri tidak
menghilang, segera hubungi Unit Pelayanan Kesehatan
- Penggunaan obat ini pada penderita yang mengkonsumsi alkohol, dapat
meningkatkan resiko kerusakan fungsi hati
- Simpan pada suhu 15C - 30 C, terhindar dari cahaya
- Jauhkan dari jangkauan anak-anak ( http://www.actavis.co.id )



Hal-hal yang perlu diperhatikan pada penggunaan Parasetamol:
- Kelebihan dosis dapat menyebabkan gangguan fungsi hati
- Makanlah bersama dengan makanan atau susu
- Selama menggunakan obat ini hindari minum alkohol. Minumlah air yang
banyak (kira-kira 2 liter per hari)
- Pemakaian untuk dewasa tidak boleh lebih dari 10 hari terus menerus, dan anak
anak tidak boleh lebih dari 5 kali sehari selama 5 hari ( Widodo, 2004 )

2.1.2. Keracunan Parasetamol
Parasetamol (Asetaminofen) adalah obat yang sangat aman, tetapi bukan
berarti tidak berbahaya. Sejumlah besar asetaminofen akan melebihi kapasitas kerja
hati, sehingga hati tidak lagi dapat menguraikannya menjadi bahan yang tidak
berbahaya. Akibatnya, terbentuk suatu zat racun yang dapat merusak hati. Keracunan
asetaminofen pada anak-anak yang belum mencapai masa puber, jarang berakibat
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


fatal. Pada anak-anak yang berumur lebih dari 12 tahun, overdosis asetaminofen bisa
menyebabkan kerusakan hati.
Gejala keracunan parasetamol terjadi melalui 4 tahapan :
- Stadium I (beberapa jam pertama) : belum tampak gejala
- Stadium II (setelah 24 jam) : mual dan muntah; hasil pemeriksaan menunjukkan
bahwa hati tidak berfungsi secara normal
- Stadium III (3-5 hari kemudian) : muntah terus berlanjut; pemeriksaan
menunjukkan bahwa hati hampir tidak berfungsi, muncul gejala kegagalan hati
- Stadium IV (setelah 5 hari) : penderita membaik atau meninggal akibat gagal
hati

Gejalanya lainnya yang mungkin ditemukan ialah :
- berkeringat
- kejang
- nyeri atau pembengkakan di daerah lambung
- nyeri atau pembengkakan di perut bagian atas
- diare
- nafsu makan berkurang
- mual atau muntah
- rewel
- koma
Gejala mungkin baru timbul 12 jam atau lebih setelah mengkonsumsi parasetamol.
Tindakan darurat yang dapat dilakukan di rumah adalah segera memberikan sirup
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


ipekak untuk merangsang muntah dan mengosongkan lambung.
(http://fund0c.multiply.com/journal/item/128)

Asetilsistein (intravena atau oral ) dan metyion (oral) adalah antidot (penawar
racun) yang berpotensi menyelamatkan nyawa pada keracunan parasetamol karena
obat-obat tersebut meningkatkan sintesis glutation hati. Pasien yang mengkonsumsi
parasetamol overdosis seharusnya diambil sampel darahnya pada 4 jam (atau lebih)
setelah menelan untuk menentukan dengan cepat konsentrasi obat dalam plasma
sehingga dapat diberikan antidot. Antidot yang paling efektif adalah asetilsistein yang
diberikan secara intravena dalam 8 jam setelah menelan parasetamol. ( Neal, 2006 )



2.2 KCKT
2.2.1. Sejarah KCKT
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi atau KCKT atau biasa juga disebut dengan
HPLC (High Performance Liquid Chromatography) dikembangkan pada akhir tahun
1960-an dan awal tahun 1970-an. Saat ini, KCKT merupakan teknik pemisahan yang
diterima secara luas untuk analisis dan pemurnian senyawa tertentu dalam suatu
sampel pada sejumlah bidang, antara lain; farmasi, lingkungan, bioteknologi, polimer,
dan industri-industri makanan. Beberapa perkembangan KCKT terbaru antara lain:
miniaturisasi sistem KCKT, penggunaan KCKT untuk analisis asam-asam nukleat,
analisis protein, analisis karbohidrat, dan analisis senyawa-senyawa kiral.
( Rohman, 2006 )
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


2.2.2. Kegunaan KCKT
Kegunaan umum KCKT adalah untuk : pemisahan sejumlah senyawa organik,
anorganik, maupun senyawa biologis; analisis ketidakmurnian (impurities); analisis
senyawa-senyawa tidak mudah menguap (non-volatil); penentuan molekul-molekul
netral, ionik, maupun zwitter ion; isolasi dan pemurnian senyawa; pemisahan
senyawa-senyawa yang strukturnya hampir sama; pemisahan senyawa-senyawa dalam
jumlah sekelumit (trace elements), dalam jumlah banyak, dan dalam skala proses
industri. KCKT merupakan metode yang tidak destruktif dan dapat digunakan baik
untuk analisis kualitatif maupun kuantitatif.
KCKT paling sering digunakan untuk : menetapkan kadar senyawa-senyawa
tertentu seperti asam-asam amino, asam-asam nukleat, dan protein-protein dalam
cairan fisiologis; menentukan kadar senyawa-senyawa aktif obat, produk hasil
samping proses sintetis, atau produk-produk degradasi dalam sediaan farmasi;
memonitor sampel-sampel yang berasal dari lingkungan; memurnikan senyawa dalam
suatu campuran; memisahkan polimer dan menentukan distribusi berat molekulnya
dalam suatu campuran; kontrol kualitas; dan mengikuti jalannya reaksi sintetis.
Keterbatasan metode KCKT adalah untuk identifikasi senyawa, kecuali jika KCKT
dihubungkan dengan Spektrometer Massa (MS). Keterbatasan lainnya adalah jika
sampelnya sangat kompleks, maka resolusi yang baik sulit diperoleh. (Rohman, 2006)

2.2.3. Keuntungan KCKT
KCKT dapat dianggap sebagai pelengkap KG. Dalam banyak hal keduanya
dapat digunakan untuk menghasilkan pemisahan yang sama. Untuk KG diperlukan
pembuatan turunan senyawa, sedangkan KCKT dapat dilakukan tanpa pembuatan
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


turunan senyawa. Untuk senyawa yang tidak tahan panas atau tidak atsiri, KCKT
merupakan pilihan yang tepat. Bagaimanapun, KCKT tidak akan menggantikan KG,
sekalipun memang peranannya di lab analisis semakin lama semakin besar.
Pembuatan turunan senyawa menjadi populer pula pada KCKT karena cara itu dapat
dipakai untuk meningkatkan kepekaan detektor UV-Vis yang biasa digunakan.
KCKT mempunyai banyak keuntungan jika dibandingkan dengan
Kromatografi Cair klasik, yaitu :
Kecepatan
Waktu analisis umumnya kurang dari 1 jam. Banyak analisis yang dapat
dilakukan dalam 15-30 menit. Untuk analisis yang tidak rumit, waktu analisis dapat
dicapai kurang dari 5 menit.
Daya Pisah
Berbeda dengan KG, Kromatografi Cair mempunyai dua fase tempat
terjadinya interaksi. Pada KG, gas yang mengalir sedikit berinteraksi dengan zat
padat, pemisahan tercapai terutama karena interaksi dengan fase diam saja.
Kemampuan zat padat berinteraksi secara selektif dengan fase diam dan fase gerak
pada KCKT memberikan parameter tambahan untuk mencapai pemisahan yang
diinginkan.
Sensitivitas Detektor
Detektor serapan UV yang biasa digunakan dalam KCKT dapat mendeteksi
berbagai jenis senyawa dalam jumlah nanogram (10
-9
g). Detektor Fluoresensi dan
Elektrokimia dapat mendeteksi dalam jumlah pikogram (10
-12
g). Detektor-detektor
seperti Spektrometer Massa, Indeks Bias, Radiometri, dll semuanya telah digunakan
dalam KCKT.
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


Kolom yang dapat digunakan kembali
Berbeda dengan kolom kromatografi klasik, kolom KCKT dapat digunakan
kembali. Banyak analisis dapat dilakukan pada kolom yang sama sebelum kolom itu
harus diganti. Akan tetapi, kolom tersebut turun mutunya; laju penurunan mutu itu
bergantung pada jenis cuplikan yang disuntikkan, kemurnian pelarut, dan jenis pelarut
yang dipakai.
Molekul besar dan ion
Secara khusus senyawa ini tidak dapat dipisahkan dengan KG karena
volatilitasnya rendah. KG biasanya menggunakan senyawa turunannya untuk
menganalisis ion. KCKT dengan jenis eksklusi dan penukar ion ideal untuk
menganalisis molekul besar dan ion.
Mudah memperoleh cuplikan kembali
Sebagian besar detektor yang digunakan pada KCKT tidak menyebabkan
kerusakan pada komponen sampel sehingga komponen sampel dapat dikumpulkan
dengan mudah ketika melewati detektor. Biasanya pelarut dapat dihilangkan dengan
mudah dengan cara penguapan, kecuali pada penukar ion yang memerlukan prosedur
khusus. ( Johnson, 1991 )

2.2.4. Kelebihan KCKT
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) atau High Pressure Liquid
Chromatography (HPLC) merupakan salah satu metode kimia dan fisikokimia.
termasuk metode analisis terbaru yaitu suatu teknik kromatografi dengan fasa gerak
cairan dan fasa diam cairan atau padat. Banyak kelebihan metode ini jika
dibandingkan dengan metode lainnya. Kelebihan itu antara lain :
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


Mampu memisahkan molekul-molekul dari suatu campuran
Mudah melaksanakannya
Kecepatan analisis dan kepekaan yang tinggi
Dapat dihindari terjadinya dekomposisi / kerusakan bahan yang dianalisis
Resolusi yang baik
Dapat digunakan bermacam-macam detektor
Kolom dapat digunakan kembali ( www.library.usu.ac.id )

2.2.5. Detektor Spektrofotometri UV-Vis
Detektor jenis ini merupakan detektor yang paling banyak digunakan dan
sangat berguna untuk analisis di bidang farmasi karena kebanyakan senyawa obat
mempunyai struktur yang dapat menyerap sinar UV-Vis. Detektor ini didasarkan pada
adanya penyerapan radiasi ultraviolet (UV) dan sinar tampak (Vis) pada kisaran
panjang gelombang 190-800 nm oleh spesies solut yang mempunyai struktur-struktur
atau gugus-gugus kromoforik. Sel detektor umumnya berupa tabung dengan diameter
1 mm dan panjang celah optiknya 10 mm, serta diatur sedemikian rupa sehingga
mampu menghilangkan pengaruh indeks bias yang dapat mengubah absorbansi yang
terukur.
Detektor spektrofotometri UV-Vis dapat berupa detektor dengan panjang
gelombang tetap (merupakan detektor yang paling sederhana) serta detektor dengan
panjang gelombang bervariasi. Detektor panjang gelombang tetap menggunakan
lampu uap merkuri sebagai sumber energinya dan suatu filter optis yang akan memilih
sejumlah panjang gelombang, misal 254, 380, 334, dan 436 nm. Panjang gelombang
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


yang dipilih biasanya 254 nm karena kebanyakan senyawa obat menyerap di 254 nm
sehingga panjang gelombang ini sangat berguna. Detektor dengan panjang gelombang
yang bervariasi lebih berguna dibanding detektor pada panjang gelombang yang tetap.
( Rohman ,2006 )














BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN


3.1. Alat
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


- HPLC Shimadzu Tipe LC-10AD
- Ultra Sonic Branson
- Membran Filter berukuran 0,45 m dan 0,5 m
- Gelas Ukur 1000 ml dan 50 ml
- Pipet volume 1 ml dan 2 ml
- Labu Ukur 10 ml dan 100 ml
- Neraca Analitis
- Pompa Vakum
- Aluminium Foil
- Kertas Saring Whatman
- Corong
- Syringe Injector

3.2. Bahan
- Parasetamol sirup
- Baku pembanding parasetamol BPFI
- Metanol
- Aquabidest

3.3. Prosedur Percobaan
1. Pembuatan Larutan Fase Gerak =Aquabidest : Metanol ( 3 : 1 )
- Dibuat campuran aquabidest dan metanol ( 3 : 1 )
- Disaring dengan penyaring membran filter berukuran 0,5 m kemudian
diawaudarakan dengan disonikasi
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


2. Pembuatan Larutan Baku
- Ditimbang 10,1 mg baku pembanding parasetamol BPFI
- Dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml
- Ditambahkan 50 ml fase gerak
- Disonikasi selama 10 menit
- Diencerkan dengan fase gerak sampai garis tanda
- Dihomogenkan
- Dipipet sebanyak 1 ml
- Dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml
- Ditambahkan 50 ml fase gerak
- Disonikasi selama 5 menit
- Diencerkan dengan fase gerak sampai garis tanda
- Dihomogenkan
- Disaring dengan membran filter berukuran 0,45 m
3. Pembuatan Larutan Sampel
- Dipipet 2 ml sampel parasetamol sirup
- Dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml
- Ditambahkan 50 ml fase gerak
- Disonikasi selama 10 menit
- Diencerkan dengan fase gerak sampai garis tanda
- Dihomogenkan
- Dipipet sebanyak 2 ml
- Dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml
- Ditambahkan 50 ml fase gerak
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


- Disonikasi selama 5 menit
- Diencerkan dengan fase gerak sampai garis tanda
- Dihomogenkan
- Disaring dengan membran filter berukuran 0,45 m
4. Cara Penetapan
- Dialirkan fase gerak (aquabidest : metanol =3:1) dengan menggunakan pompa
dengan laju alir 1,5 ml per menit ke dalam kolom yang berisi fase diam
oktadesilsilana
- Kemudian disuntikkan secara terpisah larutan baku parasetamol dan larutan
sampel parasetamol ke dalam Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dengan
volume penyuntikan masing-masing 20 l
- Pemisahan zat aktif terjadi melalui mekanisme kromatografi
- Hasil pemisahan dibaca oleh detektor dengan panjang gelombang 243 nm
- Dicatat di rekorder
- Dihitung luas area puncak utama masing-masing larutan baku dan larutan
sampel





5. Interpretasi Hasil
Kadar Zat Aktif Parasetamol =
Fb x Bu x Ab
Fu x Bb x Au
x % Kemurnian Baku
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


Keterangan : Au =Area Sampel
Ab =Area Baku
Fu =Faktor Pengenceran Sampel
Fb =Faktor Pengenceran Baku
Kemurnian baku =99,98 %
Bu =Bobot Sampel
Bb =Bobot Baku
















BAB 4

Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Tabel 4.1. Larutan Baku Parasetamol
Nama Zat Bobot
(mg)
Faktor
Pengenceran
(ml)
Volume
Penyuntikan
(l)
Luas Area
Puncak
Utama
Rasio
(Menit)
Parasetamol 10,1 100 x 10/1 =
1000
20 239410
238884
238953
237577
238560
237911
rata-rata =
238549,2
1842
1837
1834
1824
1821
1817

Tabel 4.2. Larutan Sampel Parasetamol
Nama Zat Volume
(ml)
Faktor
Pengenceran
(ml)
Volume
Penyuntikan
(l)
Luas Area
Puncak
Utama
Rasio
(Menit)
Parasetamol I
Parasetamol II
2 100 x 100/2
=5000
20

221963
225763
1811
1808

4.2. Perhitungan
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


Kadar Zat Aktif Parasetamol =
Fb x Bu x Ab
Fu x Bb x Au
x % Kemurnian Baku
Keterangan : Au =Area Sampel
Ab =Area Baku
Fb =Faktor Pengenceran Baku
Fu =Faktor Pengenceran Sampel
Kemurnian Baku =99,98 %
Bb =Bobot Baku
Bu =Bobot Sampel
Bu = etiket dalam l parasetamo kadar x
etiket dalam Volume
dipipet yang Volume

= mg 120 x
ml 5
ml 2

=48 mg

Kadar Zat Aktif Parasetamol I = 99,98% x
1000 x 48 x 238549,2
0 500 x 10,1 x 221963

= 96,90 %
Kadar Zat Aktif Parasetamol II = 99,98% x
1000 x 48 x 238549,2
5000 x 10,1 x 22573

= 98,56 %
Kadar rata-rata =
2
II Kadar I Kadar +

=
2
98,56% 96,90%+

= 97,73%
Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009


Kadar zat aktif parasetamol dalam parasetamol sirup adalah : 97,73%
Syarat : tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0%
Kesimpulan : memenuhi syarat ( MS )

4.3. Pembahasan
Dari data pada tabel 4.2 untuk larutan sampel parasetamol setelah dilakukan
penetapan kadar dengan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dengan
volume pemipetan sebanyak 2 ml, volume penyuntikan 20 l dan faktor pengenceran
5000 ml diperoleh area pada parasetamol I adalah 221963 cm dan area pada
parasetamol II adalah 225763 cm, dari kedua area tersebut dapat diperoleh kadar zat
aktif parasetamol dari masing-masing area tersebut yaitu kadar parasetamol I sebesar
96,90% dan kadar parasetamol II sebesar 98,56%, sehingga dapat diperoleh kadar
rata-ratanya yaitu 97,73%. Dengan kadar rata-rata parasetamol sebesar 97,73% ini
berarti bahwa kadar zat aktif parasetamol dalam obat sediaan oral tersebut memenuhi
syarat sesuai dengan Farmakope Indonesia (FI) Edisi IV Tahun 1995 yaitu tidak
kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0%.








Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009



BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan
- Kadar zat aktif parasetamol dalam obat sediaan oral adalah : 97,73%
- Metode yang digunakan dalam menentukan kadar zat aktif parasetamol dalam
obat sediaan oral adalah Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)

5.2. Saran
Sebaiknya penetapan kadar zat aktif parasetamol dalam obat sediaan oral tidak
hanya dilakukan dengan metode KCKT tetapi juga dilakukan dengan metode lain
seperti Spektrofotometri agar dapat dibandingkan hasil analisa yang diperoleh dari
kedua metode tersebut.








Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009




DAFTAR PUSTAKA


Http://www.actavis.co.id
Http://www.fund0c.multiply.com/journal/item/128
Http://www.wikipedia.org/wiki/Parasetamol
Http://www.library.usu.ac.id
Johnsons,E.L.dan Stevenson,R.1991.Dasar Kromatografi Cair.ITB.Bandung.
Neal,M.J.2006.At a Galance Farmakologi Medis.Edisi Kelima.Erlangga.Jakarta.
Rohman,A.2007.Kimia Farmasi Analisis.Pustaka Pelajar.Yogyakarta.
Sartono.1996.Apa Yang Kamu Ketahui Tentang Obat-obat Bebas dan Terbatas.Edisi
Kedua.PT.Gramedia Pustaka Utama.Jakarta.
Tjay,T.H.2002.Obat-obat Penting.Edisi Kelima.Cetakan Pertama.PT.Elex Media
Komputindo.Jakarta.
Widjaja,M.C.2001.Mencegah dan Mengatasi Demam Pada Balita.Kawan Pustaka.
Jakarta.
Widodo,R.2004.Panduan Keluarga Memilih dan Menggunakan Obat.Kreasi Wacana.
Yogyakarta.







Yulida Amelia Nasution : Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Obat Sediaan Oral Dengan Metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), 2009.
USU Repository 2009