Anda di halaman 1dari 21

Salah satu penentu dalam keberhasilan perkembangan adalah Konsep Diri.

Pada kali ini saya akan menjabarkan bagaimana pentingnya konsep diri dalam kehidupan. Sebelumnya apa sih konsep diri itu? Jenis-jenis Konsep Diri itu apa saja? Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologi kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri, sehingga terdapat beberapa pengertian. Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan. Perasaan individu bahwa ia tidak mempunyai kemampuan yang ia miliki. Padahal segala keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu memandang kualitas kemampuan yang dimiliki. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit untuk diselesaikan. Sebaliknya pandangan positif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan seseorang individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang mudah untuk diselesaikan. Konsep diri terbentuk dan dapat berubah karena interaksi dengan lingkungannya. Beberapa ahli merumuskan definisi konsep diri, menurut Burns (1993:vi) konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu (Mulyana, 2000:7). Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa konsep diri yang dimiliki individu dapat diketahui lewat informasi, pendapat, penilaian atau evaliasi dari orang lain mengenai dirinya. Individu akan mengetahui dirinya cantik, pandai, atau ramah jika ada informasi dari orang lain mengenai dirinya. Sebaliknya individu tidak tahu bagaimana ia dihadapkan orang lain tanpa ada informasi atau masukan dari lingkungan maupun orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari secara tidak langsung individu telah menilai dirinya sendiri. Penilaian terhadap diri sendiri itu meliputi watak dirinya, orang lain dapat menghargai dirinya atau tidak, dirinya termasuk orang yang berpenampilan menarik, cantik atau tidak. Seperti yang dikemukakan Hurlock (1990:58) memberikan pengertian tentang konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya. Konsep diri ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang mereka sendiri yang meliputi karakteristik fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi dan prestasi. Menurut William D. Brooks bahwa konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita (Rakhmat, 2005:105). Sedangkan Centi (1993:9) mengemukakan konsep diri (selfconcept) tidak lain tidak bukan adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana kita harapkan.

Konsep diri didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu (Rini, 2002:http:/www.epsikologi.com/dewa/160502.htm). Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya. Dari beberapa pendapat dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya.

Fuddin Van Batavia di dedikasikan bagi rekan alumni PEP Angkatan XX UHAMKA Jakarta.Selangkah Lebih Maju dalam pengembangan pendidikan Indonesia

Lompat ke isi Beranda Home


Profil Informasi Materi Kuliah Questioner Links Foto Komunikasi

Kepemimpinan Kepala Sekolah (Oleh: Didah Dinarsih) Informasi dari Republika

Konsep Diri
Posted on Maret 15, 2010 by Fuddin Van Batavia Rate This a. Pengertian Konsep Diri Menurut Jacinta, Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat

berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Orang dengan konsep diri negatif, akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika gagal, akan ada dua pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang lain. Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Orang dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang. Sedangkan, Salbiah berpendapat Konsep diri sangat erat kaitannya dengan diri individu. Kehidupan yang sehat, baik fisik maupun psikologi salah satunya di dukung oleh konsep diri yang baik dan stabil. Konsep diri adalah hal-hal yang berkaitan dengan ide, pikiran, kepercayaan serta keyakinan yang diketahui dan dipahami oleh individu tentang dirinya. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan individu dalam membina hubungan interpersonal. Meski konsep diri tidak langsung ada, begitu individu di lahirkan, tetapi secara bertahap seiring dengan tingkat pertumbuhan dan perkembanga individu, konsep diri akan terbentuk karena pengaruh lingkungannya . selain itu konsep diri juga akan dipelajari oleh individu melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain termasuk berbagai stressor yang dilalui individu tersebut. Hal ini akan membentuk persepsi individu terhadap dirinya sendiri dan penilaian persepsinya terhadap pengalaman akan situasi tertentu . Gambaran penilaian tentang konsep diri dapat diketahui melalui rentang respon dari adaptif sampai dengan non adaptif. Konsep diri itu sendiri terdiri dari beberapa bagian, yaitu : gambaran diri (body Image), ideal diri, harga diri, peran dan identitas. b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri Menurut Stuart dan Sudeen ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri. Faktor-foktor tersebut terdiri dari teori perkembangan, Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat) dan Self Perception (persepsi diri sendiri). 1). Teori perkembangan. Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap sejak lahir seperti mulai mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan kegiatannya memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui kegiatan eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama panggilan, pangalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata. 2). Significant Other ( orang yang terpenting atau yang terdekat ) Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara pandangan diri merupakan interprestasi diri pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat dipengaruhi orang yang dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya, pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus hidup, pengaruh budaya dan sosialisasi. 3). Self Perception ( persepsi diri sendiri ) Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya, serta persepsi individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat dibentuk melalui pandangan

diri dan pengalaman yang positif. Sehingga konsep merupakan aspek yang kritikal dan dasar dari prilaku individu. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang dapat berfungsi lebih efektif yang dapat dilihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang terganggu. c. Pembagian Konsep diri Konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian. Pembagian Konsep diri tersebut di kemukakan oleh Stuart and Sundeen ( 1991 ) dikutip Salbiah , yang terdiri dari : 1) Gambaran diri ( Body Image ) Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu .Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya, menerima stimulus dari orang lain, kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan Gambaran diri ( Body Image ) berhubungan dengan kepribadian. Cara individu memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologinya. Pandangan yang realistis terhadap dirinya menerima dan mengukur bagian tubuhnya akan lebih rasa aman, sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri Individu yang stabil, realistis dan konsisten terhadap gambaran dirinya akan memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadap realisasi yang akan memacu sukses dalam kehidupan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi gambaran diri seseorang, seperti, munculnya Stresor yang dapat menggangu integrasi gambaran diri. Stresor-stresor tersebut dapat berupa : a). Operasi. Seperti : mastektomi, amputasi ,luka operasi yang semuanya mengubah gambaran diri. Demikian pula tindakan koreksi seperti operasi plastik, protesa dan lain lain. b). Kegagalan fungsi tubuh. Seperti hemiplegi, buta, tuli dapat mengakibatkan depersonlisasi yaitu tidak mengakui atau asing dengan bagian tubuh, sering berkaitan dengan fungsi saraf. c). Waham yang berkaitan dengan bentuk dan fngsi tubuh Seperti sering terjadi pada klien gangguan jiwa , klien mempersiapkan penampilan dan pergerakan tubuh sangat berbeda dengan kenyataan. d). Tergantung pada mesin. Seperti : klien intensif care yang memandang imobilisasi sebagai tantangan, akibatnya sukar mendapatkan informasi umpan balik dengan penggunaan intensif care dipandang sebagai gangguan. e). Perubahan tubuh berkaitan Hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang dimana seseorang akan merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan bertambahnya usia. Tidak jarang seseorang menanggapinya dengan respon negatif dan positif. Ketidakpuasan juga dirasakan seseorang jika didapati perubahan tubuh yang tidak ideal. f). Umpan balik interpersonal yang negatif Umpan balik ini adanya tanggapan yang tidak baik berupa celaan, makian sehingga dapat membuat seseorang menarik diri. g). Standard sosial budaya. Hal ini berkaitan dengan kultur sosial budaya yang berbeda-setiap pada setiap orang dan keterbatasannya serta keterbelakangan dari budaya tersebut menyebabkan pengaruh pada gambaran diri individu, seperti adanya perasaan minder. Beberapa gangguan pada gambaran

diri tersebut dapat menunjukan tanda dan gejala, seperti : a). Syok Psikologis. Syok Psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan dan dapat terjadi pada saat pertama tindakan.syok psikologis digunakan sebagai reaksi terhadap analitas. Informasi yang terlalu banyak dan kenyataan perubahan tubuh membuat klien menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti mengingkari, menolak dan proyeksi untuk mempertahankan keseimbangan diri. b). Menarik diri. Klien menjadi sadar akan kenyataan, ingin lari dari kenyataan , tetapi karena tidak mungkin maka klien lari atau menghindar secara emosional. Klien menjadi pasif, tergantung , tidak ada motivasi dan keinginan untuk berperan dalam perawatannya. c). Penerimaan atau pengakuan secara bertahap. Setelah klien sadar akan kenyataan maka respon kehilangan atau berduka muncul. Setelah fase ini klien mulai melakukan reintegrasi dengan gambaran diri yang baru.Tanda dan gejala dari gangguan gambaran diri di atas adalah proses yang adaptif, jika tampak gejala dan tandatanda berikut secara menetap maka respon klien dianggap maladaptif sehingga terjadi gangguan gambaran diri yaitu : 1. Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian yang berubah. 2. Tidak dapat menerima perubahan struktur dan fungsi tubuh. 3. Mengurangi kontak sosial sehingga terjadi menarik diri. 4. Perasaan atau pandangan negatif terhadap tubuh. 5. Preokupasi dengan bagian tubuh atau fungsi tubuh yang hilang. 6. Mengungkapkan keputusasaan. 7. Mengungkapkan ketakutan ditolak. 8. Depersonalisasi. 9. Menolak penjelasan tentang perubahan tubuh.14 2. Ideal Diri. Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu Standart dapat berhubungan dengan tipe orang yang akan diinginkan atau sejumlah aspirasi, cita-cita, nilai- nilai yang ingin di capai . Ideal diri akan mewujudkan cita-cita, nilai-nilai yang ingin dicapai. Ideal diri akan mewujudkan cita cita dan harapan pribadi berdasarkan norma sosial (keluarga budaya) dan kepada siapa ingin dilakukan. Ideal diri mulai berkembang pada masa kanakkanak yang di pengaruhi orang yang penting pada dirinya yang memberikan keuntungan dan harapan pada masa remaja ideal diri akan di bentuk melalui proses identifikasi pada orang tua, guru dan teman. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri yaitu : 1. Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas kemampuannya. 2. Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal diri. 3. Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang realistis, keinginan untuk mengklaim diri dari kegagalan, perasan cemas dan rendah diri. 4. Kebutuhan yang realistis. 5. Keinginan untuk menghindari kegagalan . 6. Perasaan cemas dan rendah diri. Agar individu mampu berfungsi dan mendemonstrasikan kecocokan antara persepsi diri dan ideal diri. Ideal diri ini hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi, tetapi masih lebih tinggi dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat dicapai

3. Harga diri . Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi. Jika individu sering gagal , maka cenderung harga diri rendah. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Aspek utama adalah di cintai dan menerima penghargaan dari orang lain Biasanya harga diri sangat rentan terganggu pada saat remaja dan usia lanjut. Dari hasil riset ditemukan bahwa masalah kesehatan fisik mengakibatkan harga diri rendah. Harga diri tinggi terkait dengam analitas yang rendah, efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain. Sedangkan harga diri rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang buruk dan resiko terjadi depresi dan skizofrenia. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional ( trauma ) atau kronis ( negatif self evaluasi yang telah berlangsung lama ). Dan dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak langsung (nyata atau tidak nyata). Menurut beberapa ahli dikemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan harga diri, seperti : 1). Perkembangan individu. Faktor predisposisi dapat dimulai sejak masih bayi, seperti penolakan orang tua menyebabkan anak merasa tidak dicintai dan mengkibatkan anak gagal mencintai dirinya dan akan gagal untuk mencintai orang lain. Pada saat anak berkembang lebih besar, anak mengalami kurangnya pengakuan dan pujian dari orang tua dan orang yang dekat atau penting baginya. Ia merasa tidak kuat karena selalu tidak dipercaya untuk mandiri, memutuskan sendiri akan bertanggung jawab terhadap prilakunya. Sikap orang tua yang terlalu mengatur dan mengontrol, membuat anak merasa tidak berguna. 2). Ideal Diri tidak realistis. Individu yang selalu dituntut untuk berhasil akan merasa tidak punya hak untuk gagal dan berbuat kesalahan. Ia membuat standart yang tidak dapat dicapai, seperti cita cita yang terlalu tinggi dan tidak realistis. Yang pada kenyataan tidak dapat dicapai membuat individu menghukum diri sendiri dan akhirnya percaya diri akan hilang. 3). Gangguan fisik dan mental Gangguan ini dapat membuat individu dan keluarga merasa rendah diri. 4). Sistim keluarga yang tidak berfungsi. Orang tua yang mempunyai harga diri yang rendah tidak mampu membangun harga diri anak dengan baik. Orang tua memberi umpan balik yang negatif dan berulang-ulang akan merusak harga diri anak. Harga diri anak akan terganggu jika kemampuan menyelesaikan masalah tidak akurat. Akhirnya anak memandang negatif terhadap pengalaman dan kemampuan di lingkungannya. 5). Pengalaman traumatik yang berulang, misalnya akibat aniaya fisik, emosi dan seksual. Penganiayaan yang dialami dapat berupa penganiayaan fisik, emosi, peperangan, bencana alam, kecelakaan atau perampokan. Individu yang merasa tidak mampu mengontrol lingkungan. respon atau strategi untuk menghadapi trauma umumnya mengingkari trauma, mengubah arti trauma, respon yang biasa efektif terganggu. Akibatnya komplin yang biasa berkembang adalah depresi dan tekanan pada trauma. 4. Peran. Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak punya pilihan, sedangkan peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri. Harga diri yang tinggi merupakan

hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri. Posisi di masyarakat dapat merupakan stresor terhadap peran karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan serta posisi yang tidak mungkin dilaksanakan. Stress peran terdiri dari konflik peran yang tidak jelas dan peran yang tidak sesuai atau peran yang terlalu banyak. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menyesuaikan diri dengan peran yang harus di lakukan adalah : 1) Kejelasan prilaku dengan penghargaan yang sesuai dengan peran. 2) Konsisten respon orang yang berarti terhadap peran yang dilakukan . 3) Kesesuaian dan keseimbangan antara peran yang di emban. 4) Keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran. 5) Pemisahan situasi yang akan menciptakan ketidak sesuaian perilaku peran. Penyesuaian individu terhadap perannya dipengaruhi oleh beberapan faktor, yaitu : 1) Kejelasan prilaku yang sesuai dengan perannya serta pengetahuan yang spesifik tentang peran yang diharapkan . 2) Konsistensi respon orang yang berarti atau dekat dengan peranannya. 3) Kejelasan budaya dan harapannya terhadap prilaku perannya. 4) Pemisahan situasi yang dapat menciptakan ketidak selarasan Sepanjang kehidupan individu sering menghadapi perubahan-perubahan peran, baik yang sifatnya menetap atau sementara yang sifatnya dapat karena situasional. Hal ini, biasanya disebut dengan transisi peran. Transisi peran tersebut dapat di kategorikan menjadi beberapa bagian, seperti : 1). Transisi Perkembangan. Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. Setiap perkembangan harus di lalui individu dengan menjelaskan tugas perkembangan yang berbeda beda. Hal ini dapat merupakan stresor bagi konsep diri. 2). Transisi Situasi. Transisi situasi terjadi sepanjang daur kehidupan, bertambah atau berkurang orang yang berarti melalui kelahiran atau kematian, misalnya status sendiri menjadi berdua atau menjadi orang tua. Perubahan status menyebabkan perubahan peran yang dapat menimbulkan ketegangan peran yaitu konflik peran, peran tidak jelas atau peran berlebihan. 3). Transisi sehat sakit. Stresor pada tubuh dapat menyebabkan gangguan gambaran diri dan berakibat diri dan berakibat perubahan konsep diri. Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua kompoen konsep diri yaitu gambaran diri, identitas diri peran dan harga diri. Masalah konsep diri dapat di cetuskan oleh faktor psikologis, sosiologi atau fisiologi, namun yang penting adalah persepsi klien terhadap ancaman. Selain itu dapat saja terjadi berbagai gangguan peran, penyebab atau faktor-faktor ganguan peran tersebut dapat di akibatkan oleh : 1) Konflik peran interpersonal Individu dan lingkungan tidak mempunyai 2) harapan peran yang selaras. 3) Contoh peran yang tidak akurat. 4) Kehilangan hubungan yang penting 5) Perubahan peran seksual 6) Keragu-raguan peran 7) Perubahan kemampuan fisik untuk menampilkan peran sehubungan dengan proses menua 9) Kurangnya kejelasan peran atau pengertian tentang peran 10) Ketergantungan obat 11) Kurangnya keterampilan sosial 12) Perbedaan budaya 13) Harga diri rendah

14) Konflik antar peran yang sekaligus di perankan Gangguan-gangguan peran yang terjadi tersebut dapat ditandai dengan tanda dan gejala, seperti : 1) Mengungkapkan ketidakpuasan perannya atau kemampuan menampilkan 2) peran 3) Mengingkari atau menghindari peran 4) Kegagalan transisi peran 5) Ketegangan peran 6) Kemunduran pola tanggungjawab yang biasa dalam peran 7) Proses berkabung yang tidak berfungsi Kejenuhan pekerjaan 5. Identitas Identitas adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh. Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat yang akan memandang dirinya berbeda dengan orang lain. Kemandirian timbul dari perasaan berharga (aspek diri sendiri), kemampuan dan penyesuaian diri.Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya. Identitas diri terus berkembang sejak masa kanak-kanak bersamaan dengan perkembangan konsep diri. Hal yang penting dalam identitas adalah jenis kelamin.Identitas jenis kelamin berkembang sejak lahir secara bertahap dimulai dengan konsep laki-laki dan wanita banyak dipengaruhi oleh pandangan dan perlakuan masyarakat terhadap masingmasing jenis kelamin tersebut. Perasaan dan prilaku yang kuat akan indentitas diri individu dapat ditandai dengan: a. Memandang dirinya secara unik b. Merasakan dirinya berbeda dengan orang lain c. Merasakan otonomi : menghargai diri, percaya diri, mampu diri, menerima diri dan dapat mengontrol diri. d. Mempunyai persepsi tentang gambaran diri, peran dan konsep diri Karakteristik identitas diri dapat dimunculkan dari prilaku dan perasaan seseorang, seperti : 1) Individu mengenal dirinya sebagai makhluk yang terpisah dan berbeda dengan orang lain 2) Individu mengakui atau menyadari jenis seksualnya 3) Individu mengakui dan menghargai berbagai aspek tentang dirinya, peran, nilai dan prilaku secara harmonis 4) Individu mengaku dan menghargai diri sendiri sesuai dengan penghargaan lingkungan sosialnya 5) Individu sadar akan hubungan masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang 6) Individu mempunyai tujuan yang dapat dicapai dan di realisasikan. Berdasarkan eksplorasi yang cukup komprehensif dari beberapa teori tersebut di atas, maka dapat dikonklusikan pengertian Konsep diri dapat disintesiskan bahwa konsep diri adalah sebagai evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki diri kita secara utuh, meliputi: fisik, intelektual, kepercayaan, sosial, perilaku, emosi, spiritual, dan pendirian Variabel Konsep diri terdari lima dimensi yaitu: (1) Dimensi gambaran diri dengan indikatornya (a) perasaan diri, (b) penampilan fisik, (2) Dimensi ideal diri dengan indikatornya (a) memiliki cita-cita profesionalis, (b) kemampuan mengajar, (3) Dimensi Harga Diri dengan indikator (a) pengakuan profesi, (b) penghormatan orang lain, dan (c) pengembangan karir, (4) Dimensi peran diri dengan indikatornya adalah (a) kesesuaian peran, (b) profesi tambahan, dan dimensi yang ke (5) Identitas dengan indikatornya (a) sikap positif, (b) penguasaan spesifikasi, (c) kemampuan komunikasi

B. Penelitian yang relevan Kajian empiris ini menyajikan beberapa hasil penelitian terdahulu yang mempunyai kaitan atau kesamaan dengan penelitian ini. Penelitian yang dilakukan oleh Purwaningsih (1995) mengenai hubungan kepuasan kompensasi dengan komitmen organisasi dan job involvement. Dalam penelitiannya kepuasan kompensasi dilihat dari 3 variabel antara lain : (a) Kompensasi material, (b) Kompensasi sosial, (c) Kompensasi aktivitas sebagai variabel bebas X, komitmen organisasi dan job involvement sebagai variabel tergantung (Y). Hasil penelitian tersebut adalah terdapat pengaruh positif antara kepuasan kompensasi dan komitmen organisasi job involvement. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah adanya penggunaan kompensasi sebagai salah satu variabel dan kepuasan kerja sebagai variabel terikatnya, namun masih banyak variabel lain yang tidak ada dalam penelitian Purwaningsih . Penelitian yang dilakukan oleh Wahyuningrat (2000) tentang pengaruh prestasi kerja terhadap imbalan dan kepuasan kerja yang merupakan studi terhadap Pegawai Kantor Pos kelas III Purwokerto. Dalam penelitian tersebut prestasi kerja ada 4 macam variabel : a. Pengetahuan tentang peraturan b. Pengetahuan dan kecakapan tentang tata usaha c. Kuantitas kerja d. Kualitas kerja. Sedangkan imbalan ditekankan pada imbalan ekstrinsik yang diterima yaitu : a. Imbalan finansial b. Imbalan interpersonal c. Promosi Kepuasan kerja dilihat dari imbalan ekstrinsik, analisa data menggunakan analisa jalur (path analysis). Hasil penelitian dilakukan oleh Wahyuningrat, bahwa prestasi kerja mempunyai pengaruh signifikan terhadap imbalan. Kemudian secara keseluruhan bahwa variabel pengetahuan tentang peraturan, pengetahuan dan kecakapan tentang tata usaha, kualitas kerja, kuantitas kerja, imbalan finansial, imbalan, interpersonal dan promosi secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kepuasan imbalan dalam ekstrinsik Herman Yulianto (1996) dengan penelitian berjudul Faktor-faktor yang mempengaruhi Kepuasan Kerja, Kebutuhan Berprestasi dan Kinerja. Salah satu tujuan penelitian adalah mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan Petugas Dinas Luar (PDL). Obyek penelitian adalah Petugas Dinas Luar di Lingkungan Industri Asuransi Jiwa di Kotamadya Malang. Pengambilan sampel dengan cluster sampling yaitu membagi perusahaan Asuransi Jiwa menjadi dua kelompok (BUMN dan non BUMN). Sampel diambil 25 % dari PDL. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis faktor, variansi dan analisis korelasi. Hasil penelitian menemukan bahwa faktor-faktor yang terdiri dari penghasilan, kondisi lingkungan kerja, kesempatan untuk mengembangkan potensi dan kreatifitas, hubungan sosial. Kesempatan untuk maju, perhatian terhadap hak-hak azasi, pengaruh pekerjaan terhadap kehidupan keluarga, persepsi masyarakat tentang tempat kerja dan kepemimpinan ditempat kerja secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja. Relevansinya dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah sama-sama ingin membuktikan bahwa ada faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kepuasan kerja karyawan Suwendra (1999) yang melakukan studi kasus tentang Penerapan Sistem Penilaian Prestasi Kerja Model Sistem Penilaian Kinerja Pegawai (SPKP) dan dampaknya terhadap Kepuasan Kerja Pegawai di PT Jamsostek (Persero) Kantor Wilayah VI . Salah satu tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui pengaruh SPKP(Sistem Penilaian Kinerja Pegawai) terhadap kepuasan kerja. Subyek penelitian adalah pejabat dan staf PT Jamsostek Kanwil VI,

dimana pengambilan sample dilakukan dengan teknik Stratified Random Sampling (SRS), dengan jumlah sampel sebanyak 80 orang terdiri dari 38 pejabat dan 42 staf. Penelitian menggunakan analisis regresi dan untuk uji hipotesis dilakukan uji t dan uji F. Hasil penelitiannya adalah adanya pengaruh antara kerja yang secara mental menantang, imbalan yang pantas, kondisi kerja yang mendukung, rekan kerja yang mendukung dan kesesuaian kepribadian pekerjaan (variabel independen) terhadap kepuasan kerja. Relevansinya dengan penelitian penulis adalah sama-sama meneliti tentang pengaruh variabel terhadap kepuasan kerja. Adji Suratman (2003) melakukan penelitian tentang Studi Korelasional Antara Motivasi Kerja, Program Pelatihan dan Persepsi Tentang Pengembangan Karir Dengan Kepuasan Kerja Karyawan yang dilakukan pada PT. Dok & Perkapalan Kodja Bahari Jakarta. Subyek penelitian adalah Karyawan PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari Yakarta dimana pengambilan penelitian dengan simple random sampling dengan penyebaran questioner. Hasil penelitian ini adalah kepuasan kerja karyawan meningkat dengan adanya peningkatan motivasi kerja, program pelatihan dan persepsi tentang pengembangan karir baik sendirisendiri maupun bersama-sama. Relevansinya dengan penelitian penulis adalah sama-sama meneliti tentang pengaruh variabel terhadap kepuasan kerja Dari beberapa kajian empiris diatas bisa diambil kesimpulan bahwa penelitian yang dilakukan penulis hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Herman Yulianto (1996) yang berjudul Faktor-faktor yang mempengaruhi Kepuasan Kerja, Kebutuhan Berprestasi dan Kinerja dimana Herman Yulianto mengambil obyek penelitian pada Petugas Dinas Luar di Lingkungan Industri Asuransi Jiwa di Kotamadya Malang, perbedaannya terdapat pada variabel yang dipergunakan dan obyek yang diteliti dimana penulis dalam hal ini lebih menekankan pada lembaga pendidikan yaitu SMK Negeri dengan variable kepemimpinan kepala sekolah dan konsep diri guru sebagai variabel bebas dan kepuasan kerja sebagai variabel terikat
`

Pengaruh Lingkungan Dalam Proses Pembentukan Konsep Diri (Self-Concept)

Manusia adalah makhluk sosial yang satu sama lain saling membutuhkan. Dalam interaksi sosialnya dengan sesama manusia, juga sangat dipengaruhi dengan lingkungan dimana manusia membentuk konsep dirinya dan juga kehidupan sosialnya. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila ada penjulukan manusia selain makhluk sosial juga sebagai makhluk lingkungan. Maka studi perilaku manusia sedikit banyak merupakan pendekatan ilmu alam yang secara keilmuan mulai diperkenalkan pada akhir abad ke 19 oleh Wilhelm Wundt, orang pertama yang memproklamirkan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu yang ditandai dengan berdirinya laboratorium Leipzig, di Jerman. Pada tahun 1930 mulai diperkenalkan cabang ilmu psikologi sosial yang objek material dari psikologi sosial adalah fakta-fakta, gejala-gejala serta kejadian-kejadian dalam kehidupan sosial manusia. Sekilas ternyata objek psikologi sosial mirip dengan ilmu sosiologi dan bila digambarkan sebenarnya psikologi sosial adalah merupakan pertemuan irisan antara ilmu psikologi dan ilmu sosiologi Sedangkan hubungan manusia dan lingkungan telah banyak ditemukan ketidakcocokan antara manusia dan lingkungannya. Pada tahun 1950 an, psikolog mulai memecahkan masalah-masalah ini melalui pengembangan perencanaan. Sebuah bidang kajian yang dimulai dengan meneliti warna, susunan tempat dudukdi rumah sakitrumah sakit jiwa, lalu melakukan observasi di taman-taman nasional dan sampai mempelajari stress yang terasosiasi dengan pergerakan kota (urban communiting). Penelitian tersebut, pada akhirnya melahirkan sebuah disiplin dengan nama psikologi lingkungan. Objek materialnya meliputi : lingkungan psiko-sosial, lingkungan belajar, lingkungan informasi dan lingkungan binaan. Pertanyaannya, seberapa besar lingkungan mempengaruhi manusia dalam membentuk konsep diri-sosial? Pengertian Konsep Diri Masalah-masalah rumit yang dialami manusia, seringkali dan bahkan hampir semua sebenarnya berasal dari dalam diri. Mereka tanpa sadar menciptakan mata rantai masalah yang berakar dari problem konsep diri. Dengan kemampuan berpikir dan menilai, manusia malah suka menilai yang macam-macam terhadap diri sendiri maupun sesuatu atau orang lain dan bahkan meyakini persepsinya yang belum tentu obyektif. Dari situlah muncul problem seperti inferioritas, kurang percaya diri, dan hobi mengkritik diri sendiri.

Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Definisi yang lebih rinci lagi adalah sebagai berikut : a. Konsep diri adalah keyakinan yang dimiliki individu tentang atribut (ciri-ciri sifat ) yang dimiliki (Brehm & Kassin, 1993). b. Atau juga diartikan sebagai pengetahuan dan keyakinan yang dimilki individu tentang karakteristik dan ciri-ciri pribadinya (Worchel, 2000). c. Definisi lain menyebutkan bahwa Konsep diri merupakan semua perasaan dan pemikiran seseorang mengenai dirinya sendiri. Hal ini meliputi kemampuan, karakter diri, sikap, tujuan hidup, kebutuhan dan penampilan diri Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Orang dengan konsep diri negatif, akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika gagal, akan ada dua pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang lain. Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Orang dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang. Ada dua komponen dalam konsep diri yaitu komponen kognitif dan komponen afektif. Komponen kognitif disebut sebagai citra diri (self image) sedangkan komponen afektif adalah harga diri (self esteem). Pembentukan Konsep diri Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Sikap atau respon orang tua dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya. Oleh sebab itu, seringkali anak-anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negatif, atau pun lingkungan yang kurang

mendukung, cenderung mempunyai konsep diri yang negatif. Hal ini disebabkan sikap orang tua yang misalnya : suka memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan, melecehkan, menghina, bersikap tidak adil, tidak pernah memuji, suka marah-marah, dsb - dianggap sebagai hukuman akibat kekurangan, kesalahan atau pun kebodohan dirinya. Jadi anak menilai dirinya berdasarkan apa yang dia alami dan dapatkan dari lingkungan. Jika lingkungan memberikan sikap yang baik dan positif, maka anak akan merasa dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah konsep diri yang positif. Konsep diri ini mempunyai sifat yang dinamis, artinya tidak luput dari perubahan. Ada aspek-aspek yang bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, namun ada pula yang mudah sekali berubah sesuai dengan situasi sesaat. Misalnya, seorang merasa dirinya pandai dan selalu berhasil mendapatkan nilai baik, namun suatu ketika dia mendapat angka merah. Bisa saja saat itu ia jadi merasa bodoh, namun karena dasar keyakinannya yang positif, ia berusaha memperbaiki nilai. Dalam konsep diri ini terdapat beberapa unsur antara lain: 1. Penilaian diri merupakan pandangan diri terhadap: Pengendalian keinginan dan dorongan-dorongan dalam diri. Bagaimana kita mengetahui dan mengendalikan dorongan, kebutuhan dan perasaan-perasaan dalam diri kita. Suasana hati yang sedang kita hayati seperti bahagia, sedih atau cemas. Keadaan ini akan mempengaruhi konsep diri kita positif atau negatif. Bayangan subyektif terhadap kondisi tubuh kita. Konsep diri yang positif akan dimiliki kalau merasa puas (menerima) keadaan fisik diri sendiri. Sebaliknya, kalau merasa tidak puas dan menilai buruk keadaan fisik sendiri maka konsep diri juga negatif atau akan jadi memiliki perasaan rendah diri. 2. Penilaian sosial merupakan evaluasi terhadap bagaimana individu menerima penilaian lingkungan sosial pada diri nya. Penilaian sosial terhadap diri yang cerdas, supel akan mampu meningkatkan konsep diri dan kepercayaan diri. Adapun pandangan lingkungan pada individu seperti si gendut, si bodoh atau si nakal akan menyebabkan individu memiliki konsep diri yang buruk terhadap dirinya. 3. Konsep lain yang terdapat dalam pengertian konsep diri adalah self image atau citra diri, yaitu merupakan gambaran: Siapa saya, yaitu bagaimana kita menilai keadaan pribadi seperti tingkat kecerdasan, status sosial ekonomi keluarga atau peran lingkungan sosial kita.

Saya ingin jadi apa, kita memiliki harapan-harapan dan cita-cita ideal yang ingin dicapai yang cenderung tidak realistis. Bayangbayang kita mengenai ingin jadi apa nantinya, tanpa disadari sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokoh ideal yang yang menjadi idola, baik itu ada di lingkungan kita atau tokoh fantasi kita. Bagaimana orang lain memandang saya, pertanyaan ini menunjukkan pada perasaan keberartian diri kita bagi lingkungan sosial maupun bagi diri kita sendiri. Konsep diri yang terbentuk pada diri juga akan menentukan penghargaan yang berikan pada diri. Penghargaan terhadap diri atau yang lebih dikenal dengan self esteem ini meliputi penghargaan terhadap diri sebagai manusia yang memiliki tempat di lingkungan sosial. Penghargaan ini akan mempengaruhi dalam berinteraksi dengan orang lain. Faktor Lingkungan terhadap Pembentukan Konsep diri. Kita mungkin patut mempertanyakan, mengapa beberapa bagian kota terlihat sukses dan lainnya tidak? Mengapa orang-orang lebih senang tinggal di lingkungan tertentu dibandingkan dengan lainnya? Kenapa anak belajar lebih baik pada sebuah lingkungan ketimbang lingkungan lainnya?. Seringkali orang bertindak secara instinctive. Mereka melakukan sesuatu berdasarkan naluri untuk alas an yang tidak dapat mereka jelaskan secara pasti. Setiap orang memiliki perasaan dasar, yang secara bawah sadar menjadi kekutan yang mendasari perilakunya. Kekuatan ini sering juga disebut sebagai NILAI. Nilai adalah sesuatu yang bertahan lama dan menjadi penopang psikologis semua makhluk hidup. Nilai memberi manusia kerangka berfikir, dimana manusia merencanakan dan membangun kehidupannya. Nilai dibuat untuk sebuah tujuan akhir. Misalnya, kita mengharapkan kehidupan yang relative tidak rumit, produktif, aktif dan menarik. Kita menginginkan memiliki rumah yang tidak terlalu kecil, memiliki halaman yang nyaman dan mudah diurus. Orang lain mungkin memiliki rumah yang cukup luas, memiliki kolam renang dan garasi untuk parkir mobil mewah milik pribadi. Semua orang memiliki nilai individual yang berbeda dalam hidupnya dan dipenuhi dengan berbagai cara. Sebagai contoh, pengalaman masa kecil yang miskin akan mendorong keinginan untuk mencuri di masa dewasa atau malah menjadi seorang dermawan. Tidak adanya privasi di masa kanak-kanak (di mana bisa juga akibat budaya) dapat menghasilkan efek yang bervariasi terhadap setiap orang. Nilai Mempengaruhi Lingkungan. Lingkungan dapat sangat mempengaruhi manusia, tidak peduli berapapun usianya. Misalnya pada kasus ekstreem pada anak-anak yang tinggal di

pemukiman kumuh, kehidupan ekonomi yang tidak baik, pola asuh orang tua yang tidak berfungsi dengan baik. Seseorang yang hidup dalam lingkungan tersebut terikat pada nilai yang didapatnya dari pengalaman tersebut. Seringkali kriminalitas muncul akibat pengalamannya tersebut. Namun perasaan hidup yang lebih bersih dan teratur bisa juga muncul dari pengalaman tersebut. Tidak ada yang bisa meramalkan perilaku manusia. Kita hanya bisa mengatakan pengalaman apa yang mempengaruhi lingkungannya. Contoh lainnya adalah berdasarkan penelitian, tingkat stress pada masyarakat kota lebih besar dibanding masyarakat di desa. Kemacetan lalu lintas, polusi udara, polusi air, mahalnya biaya hidup adalah beberapa faktor penyebab tingginya tingkat stress pada masyarakat kota. Berdasarkan gejala-gejala tersebut, orang mulai memikirkan bagaimana pola pemukiman yang baik yang dapat membuat orang hidup lebih nyaman dan terlindungi. Lingkungan hidup sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai manusia. Seringkali keberadaan materi-materi lingkungan seperti rumah tinggal, jalan raya dan sebagainya hanya dianggap sebagai materi fisik belaka. Padahal lebih dari itu keberadaannya berupa fisik juga mempengaruhi nilai-nilai dalam blok-blok persepsi dan psikologi manusia. Meskipun pada awalnya manusia yang membentuk bangunan dan lingkungan, namun selanjutnya bangunan dan lingkungan menjadi kekuatan yang membentuk konsep diri-sosial. Lingkungan Mempengaruhi Nilai. Manusia dipengaruhi oleh ruang dan lingkungannya. Orang lebih bisa menerima ruang dan lingkungannya jika itu membuatnya merasa nyaman. Memasang karpet di kantor akan membuat para karyawan merasa lebih dihargai. Pengaturan jarak tempat duduk yang baik, warna dinding kelas memberikan rasa nyaman dan mendorong pelajar untuk lebih konsentrasi dalam menerima materi pelajaran di kelas. Tetapi apabila nilai-nilai tersebut diabaikan, akan melahirkan perasaan-perasaan yang menghilangkan bisa sangat mengganggu kenyamanan seseorang dalam aktivitasnya. Karyawan akan sangat tertekan apabila ditempatkan pada ruang kerja yang menjadikan mereka hanya sebagai perangkat perpanjangan mesin tanpa mengindahkan nilai-nilai kemanusiaannya. Jarak tempat duduk yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah antropometri dan ergonomi, akan menghilangkan motivasi belajar para siswa. Panti weda merupakan salah satu contoh bagaimana nilai-nilai manusia diabaikan. Orang yang pindah di panti tersebut biasanya dilarang membawa perabotan pribadi. Padahal bagi sebagian orang-orang tua tersebut, kehadiran perabot menyimpan kenangan dan menjadi alat pengenal lingkungan yang diperlukan oleh mereka. Kepindahan

menghilangkan rumah mereka; bangunan, orang-orang dan kenangan tidak lagi bersama mereka di tempat pengasingannya. Dari penjelasan-penjelasan diatas dapat kita ambil beberapa kesimpulan : 1. Manusia adalah makhluk yang memiliki persepsi terhadap dirinya dan orang lain. 2. Persepsi tersebut lahir dari nilai-nilai yang diyakininya. 3. Nilai-nilai tersebut muncul dari pengalaman-pengalaman yang dialaminya dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam lingkungan hidupnya. 4. Nilai-nilai mempengaruhi lingkungan dan selanjutnya lingkungan mempenguri nilai-nilai. Oleh sebab itu penataan lingkungan sangat memerlukan kajian psikologi sebagai disiplin ilmu. Kerjasama psikolog dan perancang lingkungan binaan sangat dibutuhkan untuk memberikan rasa keman Pengaruh kultur
dan sosial terhadap konsep diri Pengaruh kultur dan sosial terhadap konsep diri akan memberikan persepsi individu akan sifat,sikap,perilaku,dan hubungan sosial. Individu dilahirkan dengan tidak membawa kepribadian tetapi dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya, pengalaman dalam kehidupan akan membentuk kepribadian tetapi setiap orang juga harus menyadariapa yang sedang terjadi dan apa yang telah terjadi pada diri sendiri terhadap terhadap hubungan dengan orang lain. Konsp diri bukan bawaan (hereditas) sejak lahir tetapi berkembang melalui tahapan-tahapan tertentu karena interaksi dengan lingkungan. Sejak lahir seorang mulai mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain. Dengan demikian pengaruh kultur dan sosial merupakan suatuperkembangan kosep diri dari dari individu melalui hubungan atau interaksi dengan orang lain seperti: -lingkungan -penggunaan bahasa -suara -pengalaman -pengenalan tubuh -nama panggilan

- pengalaman budaya -interaksi sosial -hubungan interpersonal/personal

Kemampuan dalam bidang tertentuyang dinilai oleh diri kelompokatau masyarakat serta aktualisasi diri dengan meralisasikan potensi yang dimilikinya. Pemgaruh kultur dan budaya terhadap konsep diri terjadi pada saat masa kanak-kanak hal ini di pelajari melalui kontak dan pengalaman pribadi dengan orang terdekat. Belajar melalui cermin orang lain dengan cara pandangan diri merupakan interprestasi diri atas pandangan orang lain terhadap dirinya, ketika anak mulai tumbuh dewasa akan sangat dipengaruhi oleh budaya di keluarga dimana perilakunya akan banyak dibentuk dari budaya keluarga dengan ukuran dan interprestasi atau perilaku di kehidupan keluarga demikian halnya pada saat remaja di pengaruhi teman sekolah, lingkungan bermain dan orang lain yang dekat dengan dirinya. pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus hidupnya akan membentuk konsep diri seseorang. Persepsi terhadap diri pribadi (self perception ) Proses psikologis di asosiasikan dengan interprestasi dan pemberian makna terhadap orang atu objek tertentu yang dikenal dengan persepsi. Menurut fisher. Persepsi di definisikan sebagai interprestasi terhadap konsep diri berbagi sensasi reresentasi dari hubungan personal atau intertpersonal.

Body image Mencakup persepsi tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh bisa mempengaruhi dengan orang lain. Kadang seoran yang bentuk tubuhnya merasa beda dari orang lain (cacat) sering kali seseorang itu tidak mau berinteraksi dengan masyarakat. Hal ini mempengaruhi body image dengan hubungan sosial. Sejak lahir individu mengeksplorasi tubuhnya menerima stimulus dari orang lain kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungangambaran diri berhubungan dengan kepribadian, cara individu memandang dirinya memiliki dampak terhadap perkembangan psikologisnya.

usiaan pada efek keberadaan bangunan-bangunan dan penataan lingkungan secara luas.

DAFTAR PUSTAKA Halim, Deddy. 2005. Psikologi Arsitektur :Pengantar Kajian Lintas Disiplin Jakarta : Grasindo Artikel : Arief Sosiawan, Edwi. Psikologi Sosial Alatas, Alwi. Pendidikan Remaja dari Sudut Pandang Islam

Nama Suku / adat istiadat yang dianut

: Mira Lestari : Jawa

Pertanyaan

1. Bagaimana sikap Anda jika menghadapi keadaan : a. Marah / kesal / ada masalah Jawab: Ketika marah saya mengekspresikannya secara langsung dengan orang yang telah memmbuat saya kesal.

b. Sedih Jawab: Ketika saya sedih saya mengekspresikannya dengan menangis,murung,malas berkomunikasi dengan orang lain.dan saya jarang melakukan aktifitas yang biasa saya lakukan setiap hari.

c. Senang
Jawab:

Ketika saya senang saya mengekspresikannya dengan cara tertawa,tersenyum dan bawaan hati saya selalu senang.tetapi juga terkadang saya merasa terharu,ketika saya merasa amat bahagia.

2. Bagaimana perilaku Anda terhadap lingkungan di masyarakat ketika bersosialisasi dan beradaptasi dengan mereka, apakah mudah untuk berkomunikasi dengan mereka atau tidak? Jawab:
Ketika saya berada dilingkungan masyarakat saya dapat berkomunikasi dengan baik.

Nama Suku / adat istiadat yang dianut

: ratna ariyani : sunda

Pertanyaan

3. Bagaimana sikap Anda jika menghadapi keadaan : a. Marah / kesal / ada masalah Jawab: Ketkka saya marah saya mengekspresikannya langsung,misalnya melampiaskan kemarahan saya dengan kepada benda-benda yang ada didekat saya.

b. Sedih Jawab:

Ketika saya sedih saya mengekspresikannya dengan jarang melakukan aktifitas yang biasa saya lakukan setiap hari. Misalnya bersih-bersih rumah,dan juga saya terkadang menceritakannya kepada orang lain (teman).

c. Senang
Jawab: ketika saya senang saya mengekspresikannya dengan sikap dan tingkah laku yang menyenangkan,misalnya: tersenyum,ramah,jika bertegur sapa dengan orang lain.

2. Bagaimana perilaku Anda terhadap lingkungan di masyarakat ketika bersosialisasi dan beradaptasi dengan mereka, apakah mudah untuk berkomunikasi dengan mereka atau tidak?

Jawab: Ketika saya berada dilingkungan masyarakat saya kurang berkomunikasi dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.Karena kesibukan kuliah saya yang padat,dan saya jarang berada dirumah.

Kesimpulan Dari observasi yang telah kami lakukan didapat data sebagai berikut :

Dari 15 responden,didapat 8 responden suku jawa dan 7 responnden suku sunda. menyatakan bahwa ketika mereka menghadapi masalah mereka menanggapi dengan respon yang berbeda-beda seperti ketika mereka dalam keadaan marah,mereka menanggapi dengan cara mengalikan pada benda yang ada didekat mereka dan ada juga yang langsung dengan cara memarahi orang yang sudah memmbuaatnya kesal. Ketika mereka bersedih.Mereka menanggapi respon dengan cara menangis,malas berkomunikasi dengan orang lain,dan ada juga yang menceritakaan kesedihannya tersebut kepada orang lain ( temannya ). Ketika senang mereka mengekspresikannya dengan cara tertawa,tersenyum