Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRATIKUM FISIOLOGI EKG BLOK KARDIOVASKULER

Nama : E. C. Aryo Nugroho NIM Kel. : 41110014 :C

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA 2012

BAB I A. PENDAHULUAN Tekanan darah sangat penting dalam dinamika peredaran darah (hemodinamika). Nilai tekanan darah pada berbagai macam pembuluh darah tidak sama; tekanan darah pada arteri lebih tinggi daripada tekanan darah pada vena. Tinggi tekanan darah pada arteri orang dewasa sehat dalam kondisi istirahat dengan posisi berbaring rata adalah 120mmHg untuk sistol dan 7mmHg untuk diastolnya (120/70 mmHg). Tinggi tekanan darah ini bervariasi antara lain karena usia, jenis kelamin, dan posisi badan atau bagian badan ditimbulkan oleh adanya gaya berat (gravitasi). Aktivitas fisik juga memiliki pengaruh terhadap hemodinamika. Kemampuan respon faali terhadap tantangan kerja fisik berat paling baik dinilai dengan pengukuran secara langsung kapasitas aerobic dalam bentuk penggunaan O2 maksimal. Kapasitas aerobic dapat ditaksir dari frekuensi jantung yang dihitung semasa waktu pemulihan. Walaupun tidak tepat benar seperti cara langsung, cara ini cukup memadai dan dipergunakan secara luas untuk penapisan. Otot jantung mampu menghasilkan impuls secara otomatis dan ritmis serta menjalarkan impuls tersebut ke seluruh otot jantung. Impuls tersebut menimbulkan eksitasi pada otot jantung yang selanjutnya menyebabkan serabut otot jantung berkontraksi. Aktivitas listrik pada jantung menimbulkan arus listrik yang sangat lemah dan menjalar ke seluruh tubuh. Arus listrik tersebut menimbulkan potensial listrik yang berubahubah besarnya di beberapa bagian tubuh tergantung dari aktivitas jantung serta keadaan bagian tubuh. Dengan mengkaji perubahan potensial listrik pada bagian tubuh tertentui, dapat diketahui secara tidakl langsung berbagai peristiwa yang terjadi di jantung. B. TUJUAN 1. Mahasiswa mengerti dan memahami aktivitas listrik di jantung 2. Mahasiswa memahami respon fisiologis jantung terhadap aktivitas fisik

BAB II DASAR TEORI Elektrokardiogram (EKG) merupakan suatu grafik yang dihasilkan oleh suatu elektrokardiograf. Alat ini merekam aktivitas listrik jantung pada waktu tertentu (saat pemeriksaan). Secara harafiah didefinisikan : elektro = berkaitan dengan elektronika, dan kardio = berasal dari bahasa Yunani yang artinya jantung, kemudian gram, berarti tulis / menulis. Analisis sejumlah gelombang dan vektor normal depolarisasi dan repolarisasi menghasilkan informasi diagnostik yang penting. Elektrokardiogram tidak menilai kontraktilitas jantung secara langsung, namun dapat memberikan indikasi menyeluruh atas naik-turunya kontraktilitas jantung. (Dharma, 2010) EKG normal memperlihatkan tiga bentuk gelombang, yaitu :

1. Gelombang P yang mewakili depolarisai atrium. 2. Kompleks QRS yang mewakili depolarisai ventrikel. 3. Gelombang T yang mewakili repolarisasi ventrikel. Gelombang P Depolarisasi otot atrium (sebelum kontraksi atrium dimulai).Arah gelombang P normal selalu positif di II dan selalu negatif di a VR.Nilai nilai normal:Tinggi kurang dari 3mm(2.5mm) dan lebar kurang dari 3 mm(o,11 detik) Kompleks QRS Depolarisasi otot ventrikel (sewaktu gelombang depolarisasi melewati menyebar melewati ventrikel, sebelum ventrikel berkontraksi).

Gelombang T Repolarisasi otot ventrikel (sewaktu ventrikel pulih dari keadaan depolarisasi).Arah normal:sesuai dengan arah gelombang utama QRS.Amplitudo normal:Kurang dari 10 mm di sadapan dad,kurang dari 5 mm disadapan ekstremitas,dan minimum 1mm. Interval P-R Jarak antara permulaan gelombang P sampai dengan permulaan komplek QRS.Batas normal : 0,12-0,20 detik Interval Q-T Interval tersebut adalah jarak antara permulaan gelombang Q sampai dengan akhir gelombang T,sehingga interval ini mengambarkan lamanya aktivitas depolarisasi dan repolarisasi ventrikel.Nilai normal :0,42 detik(laki-laki) &0,43 detik(wanita) Interval Q-R-S Interval tersebut mengambarkan lamanya aktivitas depolarisasi ventrikel.Interval ini adalah jarak permulaan gelombang Q sampai akhir gelombang S.Nilai normal <0,12 detik. Interval R-R Jarak antar puncak R, biasanya untuk mengukur frekuensi denyut jantung. Interval S-T Diukur sejak akhir gelombang S sampai akhir gelombang T Segmen PR Perlambatan nodus AV. Diukur sejak akhir gelombang P sampai awal gelombang R. Segmen ST Waktu ventrikel kontraksi dan mengosongkan diri. Diukur sejak akhir gelombang S sampai awal gelombang T. (Guyton, 2007. Hal. 129-135)

Kurva potensial aksi aksi menunjukan 4 fase : a. Fase 0 : awal potensial aksi yang berupa garis vertical ke atas yang merupakan lonjakan potensial hingga mencapai +20 mV. Disebabkan oleh masuknya ion Na+ ketika kanal Na terbuka dari luar ke dalam sel. b. Fase 1 : Masa repolarisasi awal yang pendek, dimana potensial kembali dari +20 mendekati 0 mV. c. Fase 2 : Fase datar / fase plateu dimana potensial berkisar pada 0 mV. Dalam fase ini terjadi gerak masuk dari ion Ca2+ ketika kanal Ca2+ terbuka, dan terjadi gerak keluar ion K+ ketika kanal K+ terbuka . d. Fase 3 : Masa repolarisasi cepat terjadi dimana gerak keluar ion Ca2+ .Ion K+ mengalami gerak keluar. Selanjutnya adalah fase 4 adalah keadaan istirahat / resting. ( Tortora, 2009. Hal. 734). Tabel kecepatan penghantaran dalam jaringan jantung: Jaringan Kecepatan Hantar (m/detik) Simpul SA Lintasan Atrium Simpul AV Berkas His Sistem Purkinje Otot Ventrikal 0,05 1 0,05 1 4 1

Sistem konduksi jantung diperankan oleh 1. Nodus sinoatrial (nodus SA),yang berperan sebagai peacemaker 2. Nodus atrioventrikularis (nodus AV) 3. Berkas Hiss (berkas atrioventrikular) 4. Serat purkinje ( L. Sherwood, 2012. Hal. 334 ) Faktor-faktor yang mempengaruhi denyut jantung yaitu:

1. Aktivitas, aktivitas yanhg tinggi dapat menigkatkan frekuensi kerja jantung. 2. Ion kalsium, ion kalsium memicu sistole yaitu kontraksi salah satu ruangan jantung pada proses pengosongan ruangan tersebut. Diastole adalah reaksi dari satu ruang jantung sesaat sebelum dan selama pengisian ruangan tersebut. 3. Kadar CO2, dapat menaikkan frekensi maupun kekuatan kontraksi jantung. 4. Acetylcolin, mengurangai frekuensi jantung. 5. Adrenalin, dapat menaikkan frekuensi jantung. 6. Atropin dan nikotin, dapat mempercepat frekuensi jantung 7. Morphin, dapaty memperlambat frekuensi jantung. 8. Suhu tubuh, semakin tinggi suhu maka frekuensi jantung juga semakin besar. 9. Berat badan, semakin berat badan seseorang maka frekuensi jantung juga semakin besar. 10. Usia, usia muda memiliki frekuensi jantung yang lebih cepat. (Adisuwirdjo, 2001)

BAB III METODOLOGI A. ALAT DAN BAHAN 1. Set Elektrokardiograf 2. Gel/kapas beralkohol 3. Tissue 4. Sphygmomanometer 5. Stetoskop 6. Tempat tidur 7. Meja tinggi 40 cm untuk naik turun 8. Stopwatch

B. CARA KERJA I. Pengukuran fungsi jantung saat istirahat 1. Naracoba diminta berbaring dengan kedua lengan lurus sejajar sumbu badan ditempat tidur.

2. Hitung frekuensi nadi dan ukurlah tekanan darah naracoba saat istirahat (dilakukan 2x5 menit dan diambil hasil reratanya? 3. Hitung tekanan nadi/ pulse pressure dan tekana arteri rata-rata / mean arterial pressure dengan rumus: diastolic Tekanan arteri rata-rata: tekanan diastolik + (1/3 tekanan nadi) 4. Rekam aktivitas listrik jantung naracoba dengan elektrokardiograf: a. Sebelum mengukur pastikan semua alat logam dilepaskan dari naracoba b. Cek fungsi elektrokardiograf c. Pasang elektroda-elektroda pada tubuh naracoba dengan terlebih dahulu membersihkan area dan elektroda dengan alcohol kemudian menggosokan gel pada permukaan elektroda yang menempel pada tubuh naracoba. tekanan nadi = tekanan sistolik tekanan

elektroda yang menghubungkan anggota gerak dengan instrumen: 1. Lengan kanan 2. Lengan kiri 3. Kaki kiri 4. Kaki kanan : merah : kuning : hijau : hitam

4 elektroda hisap/tempel yang menghubungkan area prekordial dengan instrumen: 1. Pasang elektroda C4 diruang interkostal 5 di linea midklavikula kiri (putih/coklat) 2. C1 di ruang interkostal 4 di linea parasternalis kanan (putih/merah) 3. C2 di ruang interkostal 4 di linea parasternalis kiri (putih/kuning) 4. C3 antara C2 dan C4 5. C6 sejajar dengan C4 di linea midaksilaris kirih (putih/ungu) 6. C5 antara C4 dan C6 (putih/hitam) d. Mulailah merekam e. Setelah selesai merekam, bersihkan alat dan rapikan kembali. 5.Analisis elektrokardiogram saat istirahat

II Pengukuran fungsi jantung setelah aktivitas fisik

1.Naracoba diminta naik trurun bangku dengan 4 hitungan (satu: kaki kiri/kanan naik, dua: kaki kanan/kiri naik lutut lurus, tiga:kaki kiri/kanan turun, empat: kaki kanan/kiri turun) selama 1 menit dengan kecepatan 30 langkah permenit selama 1 menit. 2.Naracoba disuruh berbaring kembali, segera rekam aktivitas listrik jantung naracoba dengan elektrokardiograf 3.Analisislah elektrokardiogram setelah beraktivitas.

BAB IV
A. HASIL Tabel hasil pengukuran fungsi jantung Data naracoba : Usia Jenis kelamin Tinggi badan Berat badan : 19 : Laki-laki : 170 cm : 61 kg

Saat istirahat Tekanan sistolik 1 115 Tekanan diastol 65 PP 50 MAP 81,67

Hasil pemeriksaan EKG saat istirahat Frekuensi jantung Axis Interval PR QRS QT Irama Posisi Segmen PR : 79 x/menit : + 60 O kuadran 4 : : 0,16 detik : 0,12 detik : 0,4 detik : Irama sinus : Normal, Axis L I = +, AvF = + : 0,06 detik (N = 0,12 - 0,2 detik) (N < 0,12 detik) (N = 0,3 - 0,4 detik) (N = 60 - 110 per menit) (N = kuadran 4)

Segmen ST

: 0,12 detik

Saat beraktivitas Tekanan sistolik 1 125 Tekanan diastol 60 PP 65 MAP 81,67

Hasil pemeriksaan EKG saat beraktivitas Frekuensi jantung Axis Interval PR QRS QT Irama Posisi Segmen PR Segmen ST : 100 x/menit : Positif : : 0,12 detik : 0,12 detik : 0,32 detik : Irama sinus : Normal : 0,04 detik : 0,06 detik

B. PEMBAHASAN Gambaran elektrokardiogram terdiri atas gelombang depolarisasi dan gelombang repolarisasi. Di dalam arus listrik yang diperolah dari jantung tersebut, terdapat jumlah potensial pada titik segitiga sama sisi dengan sumber arus di pusat adalah nol pada setiap waktu. Segitiga dengan jantung pada pusatnya disebut segitiga Einthoven. Segitiga ini dapat diperkirakan dengan menempatkan elektroda pada kedua lengan dan tungkai kiri. Dimana ketiga sisinya merupakan sadapan ekstremitas standar, yang dipergunakan pada elektrokardiographi. Bila semua elaktroda tersebut dihubungkan ke ujung bersama, maka akan diperoleh elektroda indiferen yang berada dekat potensial nol. Depolarisasi yang bergerak menuju elektroda aktif dalam konduktor volume menghasilkan defleksi positif, sedangkan depolarisasi yang bergerak ke arah berlawanan menghasilkan defleksi negatif. Menurut perjanjian cara penulisan defleksi ke atas ditulis bila elektroda aktif menjadi relatif positif terhadap elektroda indiferen, dan defleksi ke bawah ditulis bila elektroda aktif menjadi negatif.

EKG pada orang normal mempunyai rangkaian bagian jantung yang mengalami depolarisasi dan posisi jantung relatif terhadap elektroda, yang mana merupakan pertimbangan penting dan menafsirkan konfigurasi gelombang pada tiap sadapan. Atrium terletak posterior dalam rongga dada. Ventrikel membentuk basis dan permukaan anterior jantung, dan ventrikel kanan terletak anterolateral ke kiri. Jadi, suatu VR melihat ke rongga ventrikel. Depolarisasi atrium, depolarisasi ventrikel, dan repolarisasi ventrikel bergerak menjauhi elektroda eksplorasi, sehingga gelombang P, kompleks QRS, dan gelombang T semuanya defleksi negatif (ke arah bawah), aVL dan aVF melihat ke ventrikel, dan karena itu defleksi dominan positif atau bifasik. Tidak ada gelombang Q pada V1 danV2, dan bagian awal kompleks QRS adalah defleksi ke atas kecil karena depolarisasi ventrikel mula-mula bergerak melintasi bagian tengah septum dari kiri ke kanan menuju elektroda aksplorasi. Gelombang eksitasi kemudian bergerak menuruni septum dan ke ventrikel kiri menjauhi elektroda menghasilkan gelombang S besar. Akhirnya bergerak kembali sepanjang dinding ventrikel menuju elektroda, menyebabkan kembali ke garis isoelektrik. Sebaliknya, pada sadapan ventrikel kiri (V4-V6) mungkin terdapat awal gelombang Q kecil (depolarisasi septum dan ventrikel kiri) diikuti dengan gelombang S, sedang pada V4 dan V5 (depolarisasi lambat dinding ventrikel bergerak kembali menuju sambung AV). Terdapat variasi dalam posisi jantung normal, dan posisi mempengaruhi konfigurasi kompleks elektrokardiografi pada bagian sadapan. Sadapan-sadapan Elektrokardiograph Sadapan Bipolar Sadapan ini digunakan sebelum dikembangkan sadapan unipolar. Sadapan ekstrimitas standar, I, II, dan III dimana masing-masing merekam perbedaan potensial antara dua ekstrimitas. Oleh karena arus mengalir hanya dalam cairan tubuh, rekaman yang diperoleh adalah yang akan diperoleh bila elektroda pada titik perlekatan ekstremisitas, tanpa mempedulikan elektroda ditempatkan pada ekstrimitas. Pada sadapan I elektroda dihubungkan sedemikian rupa sehingga defleksi ke atas dicatat ketika lengan kiri menjadi relatif positif terhadap kanan (positif lengan kiri). Pada sadapan II, elektroda pada lengan kanan dan tungkai kiri, dengan tungkai positif, dan pada sadapan III elektroda pada lengan kiri dan tungkai kiri, dengan tungkai positif. Sadapan unipolar (V) atau Sadapan Dada (Sadapan Prekordial) Elektroda pada sadapan ini dihubungkan dengan ujung positif pada elektrokardiograf, sedangkan elektroda negatif disebut sebagai elektroda indiferen, biasa dihubungkan melalui tahanan listrik ke lengan kanan, lengan kiri, dan tungkai kiri, semuanya pada saat yang sama. Biasanya dari dinding anterior dada dapat direkam enam macam

sadapan dada yang standar, elektroda dada dilekatkan secara berurutan pada enam titik seperti dalam diagram. Macam-macam rekaman yang direkam menurut metode seperti yang dikenal seperti V1, V2, V3, V4,V5,dan V6 (Dharma, 2010). Gambar elektrokardiogram normal: sadapan V1 dan V2, rekaman QRS dari jantung yang normal terutama bernilai negatif, sebab elektroda dada pada sadapan-sadapan ini terletak lebih dekat dengan basis jantung daripada aspek jantung, dengan arah penjalaran elektronegatif selama

berlangsungnya sebagian besar proses depolarisasi ventrikel. Sebaliknya, kompleks QRS dalam sadapan V4, V5, dan V6 terutama bernilai positif sebab elektroda dada dalam sadapansadapan ini terletak lebih dekat dengan bagian aspek, dimana hal ini sesuai arah penjalaran muatan elektropositif selama berlangsungnya sebagian besar proses depolarisasi. Letak V1V6 secara rinci pada tubuh: V1: Pada ruang antar costa ke empat pada sebelah kanan stenum. V2: Pada ruang antar costa ke empat pada sebelah kiri stenum. V3: Antara V2 dan V4 (V3 dilakukan setelah pelaksaan V4). V4: Di ruang antar costa kelima pada garis medio clavicular. V5: Di left anterior axilarry line setinggi (sejajar) V4. V6: Di left mid axilarry line setinggi (sejajar) V4. Sadapan unipolar dapat juga ditempatkan pada ujung kateter dan dimasukkan ke esofaghus atau jantung. Bentuk sadapan unipolar: aVR : Pada lengan kanan aVL : Pada lengan kiri aVF : Pada tungkai kiri Pada praktikum ini kami akan membahas tentang aktivitas listrik di jantung dan respon fisiologis jantung terhadap aktivitas fisik. Elektrokardiografi digunakan untuk membuat grafik rekaman arus listrik jantung yang ditimbulkan oleh denyut jantung, seperti yang telah dijelaskan pada dasar teori. Disini akan dibahas tentang gambaran hasil EKG yang telah didapat setelah praktikum. Interval PR Interval ini diukur dari permulaan gelombang P hingga awal kompleks QRS. Dalam interval ini tercakup juga penghantaran impuls melalui atrium dan hambatan impuls melalui nodus AV. Interval normal adalah 0,12 sampai 0,20 detik. Dalam hasil percobaan, didapatkan hasil 0,16 s pada saat beristirahat dan setelah beraktivitas menjadi 0,12 s. Hal ini menunjukkan interval PR pada probandus dalam range yang normal karena diantara 0,12 sampai 0,20 detik

Kompleks QRS Kompleks QRS menggambarkan depolarisasi ventrikel. Amplitudo gelombang ini besar karena banyak massa otot yang harus dilalui oleh impuls listrik. Namun, impuls menyebar cukup cepat, normalnya lamanya komplek QRS adalah antara 0,06 dan 0,1 detik. Pada praktikum ini, didapatkan hasil 0,12 s pada saat beristirahat dan 0,12 s pada saat setelah melakukan aktivitas. Pemanjangan penyebaran impuls melalui berkas cabang disebut sebagai blok berkas cabang (Red Bundle Branch Block) akan melebarkan kompleks ventrikuler. Irama jantung abnormal dari ventrikel seperti takikardia juga akan memperlebar dan mengubah bentuk kompleks QRS oleh sebab jalur khusus yang mempercepat penyebaran impuls melalui ventrikel di pintas. Hipertrofi ventrikel akan meningkatkan amplitudo kompleks QRS karena penambahan massa otot jantung. Repolasisasi atrium terjadi selama massa depolarisasi ventrikel. Tetapi besarnya kompleks QRS tersebut akan menutupi gambaran pemulihan atrium yang tercatat pada elektrokardiografi. Namun dalam praktikum kali ini kondisi probandus dalam keadaan normal. Pemanjangan kompleks QRS disebabkan karena adanya kesalahan praktikan dalam memasang elektroda, dsb. Segmen ST Segmen ST terletak antara gelombang depolarisasi ventrikel dan repolarisasi ventrikel. Tahap awal repolarisasi ventrikel terjadi selama periode ini, tetapi perubahan ini terlalu lemah dan tidak tertangkap pada EKG. Dari praktikum ini didapatkan hasil 0,12 pada saat istirahat dan 0,06 pada saat setelah melakukan aktivitas. Iskemia miokardium sering di hubungkan dengan penurunan abnormal segmen ST sedangkan peningkatan segmen ST dikaitkan dengan infark. Gelombang T Gelombang T merupakan hasil dari repolarisasi ventrikel. Dalam keadaan normal gelombang T ini agak asimetris, melengkung dan ke atas pada kebanyakan sadapan. Inversi gelombang T berkaitan dengan iskemia miokardium. Hiperkalemia (peningkatan kadar kalium serum) akan mempertinggi dan mempertajam puncak gelombang T. Interval QT Interval ini diukur dari awal kompleks QRS sampai akhir gelombang T, meliputi depolarisasi dan repolarisasi ventrikel. Interval QT rata rata adalah 0,36 sampai 0,44 detik

dan bervariasi sesuai dengan frekuensi jantung, dimana hasil interval QT yang kami dapatkan adalah 0,4 s saat istirahat dan 0,32 saat aktifitas. Interval QT memanjang dapat dilihat pada pasien yang telah diberikan obat obat antidisritmia seperti kuinidin, prokainamid, sotalol (betapace) dan amiodaron (cordarone). Jarak R R Pada saat beristirahat gambaran EKG yang di dapatkan adalah jarak R R yang lebih renggang (berjauhan) di bandingkan dengan hasil EKG saat beraktifitas. Hal ini menunjukan dimana saraf sympatis berespon terhadap kenaikan aktifitas tubuh sehingga memacu jantung untuk memompa lebih cepat agar kebutuhan nutrisi dan oksigen tubuh terpenuhi. Sehingga perbedaan jarak R R ini merupakan proses fisiologis tubuh.

Bentuk Gelombang dan Interval EKG Kriteria gelombang P normal : a. Tidak boleh lebih dari 3 kotak (3mm) b. Amplitudonya 3mm c. Positif pada lead lateral (Lead I,II dan III) dan inferior (V1,V2,V3 dan V4) d. Positif ke atas e. Satu gelombang P selalu diikuti oleh gelombang QRS f. Gelombang P positif jika mendekati sadapan g. Gelombang P negatif jika menjauhi sadapan h. aVR menjauhi gelombang P

Pembesaran atrium dapat meningkatkan amplitudo atau lebar gelombang P, serta mengubah bentuk gelombang P. Disritmia jantung juga dapat mengubah konfigurasi gelombang P. Misalnya, irama yang berasal dari dekat perbatasan AV dapat menimbulkan inversi gelombang P, karena arah depolarisasi atrium terbalik. R-R Interval Digunakan untuk menghitung denyut jantung (jumlah denyut per menit). Dapat dihitung dari interval antar denyut R-R dengan membagi jumlah satuan waktu (kotak besar = 0,20 detik) antara 2 gelombang R berurutan dengan 300 atau membagi jumlah satuan kecil (0,04 detik) dengan 1500. Normalnya 60-100 bit/menit. Jika >100 : takikardia; < 60 : brakikardia; >350 : fibrilasi Hal-hal yang dapat diketahui dari pemeriksaan EKG adalah : a. Denyut dan irama jantung

b. Posisi jantung di dalam rongga dada. c. Penebalan otot jantung (hipertrofi). d. Kerusakan bagian jantung. e. Gangguan aliran darah di dalam jantung. f. Pola aktifitas listrik jantung yang dapat menyebabkan gangguan irama jantung

EKG biasanya dilakukan dalam rangka : a. Pemeriksaan fisik rutin (check up) b. Tes pembebanan jantung c. Penilaian beberapa gejala seperti nyeri dada, napas pendek, pusing, pingsan, atau palpitasi.

BAB V KESIMPULAN

1. Aktivitas litrik jantung tersebut dapat di rekam menggunakan Elektrokardiograf. 2. Tidak di temukan kelainan patologis pada hasil EKG naracoba 3. Respon fisiologi jantung terhadap aktivitas fisik memiliki sedikit perbedaan dibandingkan dengan respon fisiologi jantung pada saat istirahat. Hal ini dapat di baca dalam hasil rekaman Elektrokardiograf (elektrokardiogram). 4. Keabnormalan hasil rekaman bukan merupakan keadaan patologis namun ini terjadi akibat kesalahan praktikan dalam melakukan prosedur perekaman EKG dan mungkin juga karena kesalahan dalam membaca hasil EKG (menghitung kotak).

BAB VI DAFTAR PUSTAKA Dharma S. 2010. Pedoman Praktis Interpretasi EKG. Jakarta : EGC. Guyton, Arthur C. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC. Sherwood,laurale.2012. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. Ed 6.EGC.Jakarta. Tortora, Gerrard. 2009. Principles of Anatomy and Physiology 12th Edition. John willey & sons : America Adisuwirdjo, D. 2001. Buku Ajar Dasar Fisiologi Manusia. Fakultas Kedokteran.Unsoed : Purwokerto.