Anda di halaman 1dari 10

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Redoks (reduksi/oksidasi) adalah istilah yang menjelaskan hambatannya bilangan oksidasi (keadaan oksidasi) atom-atom dalam sebuah reaksi kimia. Hal ini dapat berupa proses redoks yang sederhana seperti oksidasi karbon yang menghasilkan metana (CH4) ataupun ia dapat berupa proses yang kompleks seperti oksidasi gula pada tubuh manusia melalui rentetan transfer elektron yang rumit (Petrucci, 1995). Bilangan oksidasi suatu unsur menyatakan banyaknya elektron yang dapat dilepas diterima maupun digunakan bersama dalam membentuk ikatan dengan unsur lain bilangan oksidasi dapat berupa positif nol atau negatif (Petrucci, 1995). Reaksi setengah sel yang melibatkan hilangnya elektron disebut reaksi oksidasi. Istilah oksidasi pada awalnya berarti kombinasi unsur dengan oksigen. Namun, istilah itu sekarang memiliki arti yang lebih luas. Reaksi setengah sel yang melibatkan penangkapan elektron disebut reaksi reduksi. Dalam persamaan reaksi redoks tingkat oksidasi harus sama dengan tingkat reduksi yaitu jumlah elektron yang hilang oleh zat pereduksi harus sama dengan jumlah elektron yang diterima oleh suatu zat pengoksida (Chang, 2005). Partikel (unsur, ion atau senyawa) yang dapat mengoksidasi partikel lain disebut pengoksidasi, tetapi dia sendiri tereduksi. Sebaliknya partikel yang mereduksi partikel lain disebut pereduksi, tetapi ia sendiri teroksidasi. Dalam reaksi redoks, terdapat istilah yang sering dipakai, yaitu seperti yang diringkas pada table dibawah ini, Tabel 1. Beberapa istilah dalam reaksi redoks Istilah Oksidasi Reduksi Pengoksidasi Bilangan Oksidasi Bertambah Berkurang Berkurang Perubahan Elektron Melepaskan electron Menerima elektron Penarik electron

Pereduksi Zat yang dioksidasi Zat yang direduksi (Syukri, 1999).

Bertambah Bertambah Berkurang

Pemberi electron Kehilangan electron Menerima electron

Pada pengoksidasi, partikel akan bersifat pengoksidasi bila ia mempunyai kecenderungan menarik elektron dari partikel lain yaitu unsur elektronegatif (seperti oksigen, halogen) dan senyawa yang mengandung unsur elektronegatif (seperti HNO) (Syukri, 1999). Pada pereduksi, partikel bersifat pereduksi bila mempunyai elektron yang terikat lemah, sehingga mudah lepas dan ditarik oleh partikel lain. Dan bersifat periodik unsur diketahui bahwa unsur yang demikian adalah unsur elektropositif atau logam. Logam yang bersifat pereduksi (Syukri, 1999). Reaksi redoks dapat terjadi bila suatu pengoksidasi bercampur dengan zat lain yang dapat teroksidasi, atau pereduksi bercampur dengan zat lain yang dapat tereduksi. Dari perubahan masing-masing dapat ditentukan pereaksi dan hasil reaksi beserta koefisiennya masing-masing. Caranya ada dua, yaitu dengan cara setengah reaksi dan bilangan oksidasi (Syukri, 1999). Perhitungan reaksi redoks dengan mol memerlukan penyetaraan reaksi secara lengkap, sehingga memerlukan waktu. Sebenarnya ada cara yang lebih pendek tetapi hampir ditinggalkan orang, yaitu dengan ekivalen redoks. Dalam cara ini yang diperlukan hanyalah jumlah elektron yang diberikan atau diterima oleh pereaksi dalam reaksi tertentu. Kalau salah partikel A memberikan satu elektron dan partikel B menerima satu elektron, berarti satu mol A setara dengan 1 mol B (Syukri, 1999). Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mengoksidasi senyawa lain dikatakan sebagai oksidatif dan dikenal sebagai oksidator atau agen oksidasi. Oksidator melepaskan elektron dari senyawa lain, sehingga dirinya sendiri tereduksi. Oleh karena ia "menerima" elektron, ia juga disebut sebagai penerima elektron. Oksidator bisanya adalah senyawa-senyawa yang memiliki unsur-unsur dengan bilangan oksidasi yang tinggi (seperti H2O2, MnO4, CrO3, Cr2O72, OsO4) atau

senyawa-senyawa yang sangat elektronegatif, sehingga dapat mendapatkan satu atau dua elektron yang lebih dengan mengoksidasi sebuah senyawa (misalnya oksigen, fluorin, klorin, dan bromine) (Petrucci, 1995). Untuk memperluas konsep bilangan oksidasi pada molekul poliatomik, penting untuk mengetahui distribusi elektron dalam molekul dengan akurat. Karena hal ini sukar, diputuskan bahwa muatan formal diberikan pada tiap atom dengan menggunakan aturan tertentu, dan bilangan oksidasi didefinisikan berdasarkan muatan formal.Untuk lebih jelasnya lihat tabel 2. Tabel 2 Bilangan Oksidasi NO Keterangan 1 Unsur-unsur bebas 2 3 Unsur-unsur dalam senyawa Unsur-unsur penyusun dalam ion Biloks 0 0 Sama dengan muatan nionnya (Petrucci, 1995). Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mereduksi senyawa lain dikatakan sebagai reduktif dan dikenal sebagai reduktor atau agen reduksi. Reduktor melepaskan elektronnya ke senyawa lain, sehingga ia sendiri teroksidasi. Oleh karena ia "mendonorkan" elektronnya, ia juga disebut sebagai penderma elektron. Senyawasenyawa yang berupa reduktor sangat bervariasi. Unsur-unsur logam seperti Li, Na, Mg, Fe, Zn, dan Al dapat digunakan sebagai reduktor logam-logam ini akan memberikan elektronnya dengan mudah. Reduktor jenis lainnya adalah reagen transfer hidrida, misalnya NaBH4, reagen ini digunakan dengan luas dalam kimia organik, terutama dalam reduksi senyawa-senyawa karbonil menjadi alkohol. Metode reduksi lainnya yang juga berguna melibatkan gas hidrogen (H 2) dengan katalis paladium, platinum, atau riak reduksi katalitik ini utamanya digunakan pada reduksi ikatan rangkap dua atau tiga karbon-karbon. Cara yang mudah untuk melihat proses redoks adalah reduktor mentransfer elektronnya ke oksidator. Sehingga dalam reaksi, Contoh Cu, Zn, Ni, Ag H2SO4, NH4Cl, H2NO3 Cl = -1, CrO42-

reduktor melepaskan elektron dan teroksidasi, dan oksidator mendapatkan elektron dan tereduksi. Pasangan oksidator dan reduktor yang terlibat dalam sebuah reaksi disebut sebagai pasangan redoks (Petrucci, 1995). Redoks sering di hubungkan dengan terjadinya perubahan warna lebih sering dari pada yang di amati dalam reaksi asam basa reaksi redoks melibatkan pertukaran elektron dan selalu terjadi perubahan bilangan oksidasi dari dua atau lebih unsur dari reaksi kimia. Penerjemaan reaksi redoks agak lebih sulit ditulis dan dikembangkan dari persamaan reaksi biasa lainnya. Karena, jumlah zat yang di pertukarkan dalam reaksi redoks sering kali lebih dari satu sama lainya dengan persamaan reaksi lain. Persamaan reaksi redoks harus diseimbangkan dari segi muatan dan materi pengembangan materi biasanya dapat di lakukan dengan mudah sedangkan penyeimbangan muatan agak sulit karena itu perhatian harus di curahkan pada penyeimbangan muatan. Muatan berguna untuk menentukan faktor stiokiometri menurut batasan umum, reaksi redoks adalah proses serah terima elektron antara dua sistem redoks (Rivai, 1995). Oksidasi reduksi seperti dua sisi dari selembar kertas jadi tidak mungkin oksidasi dari reduksi berlangsung tanpa disertai lawannya. Bila zat menerima elektron maka harus ada yang mendonorkan elektron tersebut. Dalam oksidasi reduksi senyawa yang menerima elektron dari lawannya disebut oksidan sebab lawannya akan teroksidasi lawan oksidan yang mendonorkan elektron pada oksidan disebut dengan reduktan karena lawan oksidan tadi tereduksi suatu senyawa yang dapat berlaku selaku oksidan dan juga reduktan. Bila senyawa itu mudah mendonorkan elektron pada lawanya senyawa ini dapat menjadi reduktan sebaliknya bila senyawa ini mudah menerima elektron senyawa itu adalah oksidan (Rivai, 1995). Ternyata tidak semua reaksi oksidasi dengan senyawa organik dapat dijelaskan dengan pemberian dan penerimaan oksigen misalnya walaupun reaksi untuk mensintesis anilin dengan mereaksikan nitro benzene dan besi dengan kehadiraan HCl adalah reaksi oksidasi pembentukan CH3CH3 dengan penambahan

hidrogen pada CH2CH2 tidak melibatkan pemberiaan dan penerimaan oksigen (Rivai, 1995). Oksidator melepaskan elektron dari senyawa lain sehingga dirinya sendiri tereduksi. Oleh karena ia menerima elektron dapat disebut sebagai penerima elektron oksidator biasanya adalah senyawa yang memiliki unsur-unsur dengan bilangan oksidasi yang tinggi (Rivai, 1995). Metode reduksi lainya yang juga berguna melibatkan gas hidrogen (H 2) dengan katalis poladium atau nikel reduksi katalitik ini utamanya diutamakan pada ikatan rangkap dua atau tiga karbon-karbon cara yang mudah untuk melihat proses redoks adalah reduktor mentransfer elektronya ke oksidator (Rivai, 1995). Perjanjian atau aturan dalam menentukan bilangan oksidasi adalah sebagai berikut: 1. Setiap unsur bebas mempunyai bilangan oksidasi = 0, Contohnya H 2, Fe, He, S8, dan P4. 2. Hidrogen dalam senyawa mempunyai bilangan oksidasi +1, Contohnya HCI, H2SO4 dan HCIO4. 3. Unsur-unsur logam alkali/golongan alkali ( IA ) dalam senyawa mempunyai bilangan oksidasi +1, Contohnya NaCI, KOH, dan Li2SO4. 4. Oksigen dalam senyawa mempunyai bilangan oksidasi -2 Contohnya H2O, HIVO3 dan NOH. 5. Unsur-unsur golongan alkali tanah ( II A ) dalam senyawa mempunyai bilangan oksidasi +2 contohnya CaO, BaCO, dan SrSO4. 6. Ion Fluor ( F ) dalam senyawa mempunyai bilangan oksidasi -1, Contohnya Hf, LIF, dan CaF2. 7. Sebuah ion mempunyai bilangan oksidasi sama dengan muatannya Contohnya C1-=-1, SO42-=-2, dan Ca+2=2. 8. Senyawa netral mempunyai bilangan oksidasi 0 contohnya HCI = 0, KBr = 0, dan Na2SO4 = 0.

Dari aturan diatas dapat ditentukan bilangan oksidasi suatu unsur dalam senyawa tanpa menuliskan struktur molekulnya. Bilangan oksidasi berguna dalam menuliskan rumus senyawa antara ion positif dan ion negative. Rumus harus sedemikian rupa sehingga bilangan oksidasi senyawa adalah 0 atau jumlah muatan negatf dan positifnya sama (Syukri S, 1999). Metode elektron ion atau setengah reaksi, terdiri dari beberapa tahap. Dalam metode ini setengah persamaan oksidasi dan reduksi ditulis terpisah kemudian digabungkan menjadi persamaan keseluruhan yang seimbang. Beberapa tahap dalam metode elektron ion atau setengah reaksi antara lain : Tahap 1: Identifikasi spesies yang terlibat dalam perubahan bilangan oksidasi dan tulislah rangka setengah reaksi melibatkan penambahan bilangan oksidasi. Reduksi setengah reaksi melibatkan pengurangan bilangan oksidasi. Contohnya pada reaksi sulfite dan Permanganat SO3-2 + H+ +Mn04 SO42- + Mn 2+ + H2O Oksidasi: SO3-2 SO42Reduksi : MnO4 Mn 2+ Tahap 2: Seimbangkan Jumlah atom dari tiap persamaan. Untuk mendapatkan jumlah atom yang sama perlu ditambahkan H2O dan H+ ( untuk suasana asam ) dan OH- ( untuk suasana basa, pada sisi yang kekurangan O ) Oksidasi: SO32- + H2O SO42- + 2H+ Reduksi: MnO4- + 8H+ Mn2+ + 4H2O Tahap 3: Seimbangkan muatan listrik dari tiap setengah persamaan. Pada sisi kanan setengah persamaan oksidasi ditambahkan sejumlah elektron agar kedua sisi memiliki muatan keseluruhan yang sama. Lakukan hal yang sama untuk reduksi, penambahan elektron disebelah kiri Oksidasi : SO3-2 + H2O SO42- + 2H+ + 2 ( Muatan keseluruhan tiap sisi, -2 ) Reduksi : MnO4- + 8H+ + 5 Mn 2+ + 4H2O

( Muatan keseluruhan tiap sisi +2 ) Tahap 4: Dapatkan persamaan oksidasi-reduksi keseluruhan dengan menggabungkan kedua setengah pesamaan. Kalikan elektron oksidasi dengan elektron reduksi agar elektron dalam pesamaan dapat saling menghapuskan. Elektron tidak boleh terlihat pada suatu persamaan keseluruhan. Pada contoh ini oksidasi dikalikan 5 dan reduksi dikalikan 2. Oksidasi: 5SO32- + 5H2O 5SO4-2 + 10H+ + 10 Reduksi: 2MnO4-2 + 16H+ + 10 2Mn+2 + 8H2O 5SO3-2 +5H2O + 2MnO4- + 16 H+ 5SO4-2 +10H+ + 2 Mn2+ + 8H2O Tahap 5: Sederhanakan, Bila persamaan keseluruhan mengandung spesies yang sama pada kedua sisinya yang jumlahnya lebih sedikit. Kurangi lima H 2O dari tiap sisi persamaan keseluruhan pda langkah 4, dengan demikian akan tersisa 3 H2O pada sisi kanan, Serta pengurangan 10 H + dari tiap sisi sehingga tinggal 6 H+ pada sisi kiri. 5SO3-2 + 2MnO4- + 6 H+ 5SO4-2 + 2 Mn2+ + 3H2O Tahap 6: Teliti persamaan keseluruhan yang telah selesai. Pastikan bahwa persamaan keseluruhan seimbang, baik jumlah atom yang ada dalam pesamaan maupun jumlah elektronnya. Pada contoh terebut dapat dilihat jumlah elektron kiri dan kanan adalah -6 (Petrucci, 1987). Prinsip yang terlibat dalam titrasi oksidasi reduksi secara prinsip identik dengan dalam titrasi asam basa. Dalam titrasi reduksi oksidasi pilihan indikatornya untuk menunjukan titik akhir terbatas kadang hantar larutan di gunakan sebagai indicator berbagai macam senyawa aromatik direduksi oleh enzim untuk membentuk senyawa redikal bebas. Secara umum penderma elektrodanya adalah berbagai jenis Havoenzim dan koenzimnya. Seketika terbentuk radikal-radikal bebas anion ini akan mereduksi oksigen menjadi super oksida. Reaksi bersihnya adalah oksidasi koenzim

Havoenzim dan reduksi oksigen menjadi super oksida. Tingkah laku katalitik ini di jelaskan sebagai siklus redoks (Keenam, 1984).

4.2 Reaksi 4.2.1 KMnO4 dan H2C2O4 dalam suasana asam H2C2O4 dan KMnO4 MnO4- + C2O42Setengah reaksi Reduksi: MnO4Oksidasi: C2O42Reduksi: 8H+ + MnO4Oksidasi: C2O42Mn2+ CO2 Mn2+ + 4H2O 2 CO2 Mn2+ + 4H2O (+2) Mn2+ + 4H2O 2 CO2 (0) 2 CO2 + 2eMn2+ + 4H2O 2 CO2 + 2ex2 x5 Mn2+ + CO2

Reduksi: 8H+ + MnO4(+7) 5e- + 8H+ + MnO4Oksidasi: C2O42(-2) C2O425e- + 8H+ + MnO4C2O4210e- + 16H+ + 2MnO45C2O4216H+ + 2MnO4- + 5C2O422 KMnO4 + 5 H2C2O4 + 3 H2SO4

2Mn2+ + 8H2O 10 CO2 + 10e10 CO2 + 2Mn2+ + 8H2O K2C2O4 + MnSO4 + 10 CO2 + 8 H2O

Vitamin C + I2 C6H8O6 + I2 Oksidasi: C6H8O6 Reduksi: 2e- + I2 C6H8O6 + I2 Vitamin C + KMnO4 C6H8O6 + MnO4Oksidasi: C6H8O6 Reduksi: 5e- + 8H+ + MnO4Oksidasi: 5 C6H8O6 C6H6O6 + Mn2+ C6H6O6 + 2H+ + 2eMn2+ + 4H2O x5 x2 C6H6O6 + IC6H6O6 + 2H+ + 2e2 IC6H6O6 + 2H+ + 2 I-

5 C6H6O6 + 10 H+ + 10e2 Mn2+ + 8H2O 5 C6H6O6 + 2 Mn2+ + 8H2O

Reduksi: 10e- + 16 H+ + 2MnO45 C6H8O6 + 16 H+ + 2MnO4H2SO4 + H2C2O4