Anda di halaman 1dari 35

BAB II TEORI DASAR 2.

1 Trafo Daya Transformator merupakan peralatan statis untuk memindahkan energy listrik dari satu rangkaian listrik ke rangkaian lainnya dengan mengubah tegangan tanpa merubah frekuensi. Transformator disebut peralatan statis karena tidak ada bagian yang bergerak/berputar, tidak seperti motor atau generator. Pengubahan tegangan dilakukan dengan memanfaatkan prinsip induktansi elektromagnetik pada lilitan.Fenomena induksi elektromagnetik yang terjadi dalam satu waktu pada transformator adalah induktansi sendiri pada masing- masing lilitan diikuti oleh induktansi bersama yang terjadi antar lilitan. Secara sederhana transformator dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu lilitan primer, lilitan sekunder dan inti besi.Lilitan primer merupakan bagian transformator yang terhubung dengan rangkaian sumber energi (catu daya).Lilitan sekunder merupakan bagian transformator yang terhubung dengan rangkaian beban.Inti besi merupakan bagian transformator yang bertujuan untuk mengarahkan keseluruhan fluks magnet yang dihasilkan oleh lilitan primer agar masuk ke lilitan sekunder.Berikut adalah gambar sederhana dari sebuah transformator.

Gambar 2.1 Rangkaian Transformator Sederhana

Dimana : V1 = Tegangan Primer E1 = Jumlah Lilitan Primer V2 = Tegangan Sekunder E2 = Jumlah Lilitan Sekunder

Salah satu bagian penting dari sistem tenaga listrik adalah transformator yang disebut

sebagai transformator daya atau power transformer.Transformator daya dapat didefinisikan sebagai sebuah transformator yang digunakan untuk memindahkan energi listrik yang terletak di berbagai bagian dari rangkaian listrik antara generator dengan rangkaian primer dari sistem distribusi. Berdasarkan hukum Faraday yang menyatakan magnitude dari electromotiveforce (emf) proporsional terhadap perubahan flukster hubung dan hukum Lenzyang menyatakan arah dari emf berlawanan dengan arah fluksse bagai reaksi perlawanan dari perubahan Flukster sebut didapatkan persaman : e = (d/dt) keterangan : e= emfsesaat(instantaneousemf) = fluksterhubung (linkedflux) Dan padatransformer ideal yang dieksitasi dengan sumber sinusoidal berlaku persamaan: E =4,44mNf N=jumlahlilitan f = frekuensi m= flukspuncak (peakflux) Dan persamaan : Keterangan: E = Tegangan rms

Dikarenakan

padatransformer

idealseluruhmutualfluxyangdihasilkansalahsatu

kumparanakanditerimaseutuhnya olehkumparanyanglainnyatanpaadanyaleakageflux maupun losslainmisalnyaberubah menjadipanas.Atasdasarinilahdidapatkanpula persamaan:

P1

= P2

V1 . I1 = V2 . I2 N1 . I1 = N2 . I2
2.2 Switchgear MV dan LV 2.2.1 Circuit Breaker (CB) Pengoperasian CB dapat dilakukan dengan atau tanpa beban karena memiliki media pemadam busur api (OCB, VCB, ABCB, dan SF6). Penggunaan CB untuk kapasitas besar pada gardu induk dan dikombinasikan dengan relay dan Current Transformer (CT).

Dalam operasi CB harus mampu: 1. Memutus/ memikul arus nominal secara kontinyu 2. Bekerja secara otomatis bila terjadi gangguan. 3. Bekerja sebagai isolasi pada keadaan kontak terbuka 4. Memikul arus hubung singkat maksimum dalam jangka waktu tertentu (breaking/ making capacity)

2.2.2 Disconnecting Switch (DS) DS bekerja sebagai komponen pemisah jaringan sehingga pengoperasiannya dilakukan dalam keadaan sistem tidak berbeban.

2.2.3 Load Break Switch (LBS) atau Fuse LBS (FLBS) LBS dipakai di gardu distribusi, bekerja berdasar beban lebih saat aliran arus menjadi sangat besar).Jika digunakan untuk arus lebih, dikombinasikan dengan fuse daya (NH Fuse). LBS dilengkapi dengan media pemadam busur api. Pemilihan :

Rated voltage (Un) Rated current (In) Breaking capacity

2.3 Sistem Pengaman 2.3.1 Fuse Pengama lebur atau sering disebut dengan fuse adalah salah satu jenis peralatan pengaman yang berfungsi untuk mengamankan peralatan listrik dari gangguan arus hubung singkat (Short circuit). Pengaman lebur ini mempunyai karakteristik pemutusan lebih cepat dibandingkan dengan MCB.Pengaman ini hanya dapat dipakai satu kali dan tidak bisa dioperasikan kembali. Fuse mempunyai dua karakteristik yaitu, karakteristik pengaman dan karakteristik pencairan (melting) dan pemutusan (clearing). Karakteristik pengaman yaitu hubungan antara arus hubung singkat simetri atau asimetri dengan arus pemutusan pelebur. Sedangkan karakteristik pencairan dan pemutusan adalah hubungan antara arus gangguan

dengan waktu mulai mencair dan pemutusan fuse. Untuk ini ada dua kurva yaitu maksimum clearing time dan minimum melting time.

Berikut ini adalah contoh macam fuse :

1. Fuse Type Ulir Secara konstruksi pengaman ini mempunyai ulir yang akan memudahkan dalam hal penggantian/pemasangan jika terjadi gangguan. Perlengkapan lain dari pengaman lebur yaitu : rumah sekering, tudung sekering, pengepas patron (pas ring) dan patron lebur. Patron lebur memiliki kawat lebur dari perak dengan campuran beberapa logam lainseperti timbel, seng dan tmbaga, sedang untuk kawat lebur digunakan perak karena mempunyai daya hantar yang tinggi. Selain kawat lebur dalam patron lebur, juga terdapat kawat isyarat dari kawat tahananyang terhubung paralel dengan kawat lebur. Dalam patron lebur juga terdapat pasir yang berfungsi sebagai meredam percikan api yang timbul jika kawat lebur putus dan sebagai isyarat untuk menandakan kuat arus yang dilalui didalam kawat lebur. 2. Fuse Type Pisau ( sistem NH/HRC) Pengaman lebur type ini biasanya digunakan untuk pengaman arus di atas 20 Ampere pada tegangan kerja 500-600 volt. Pada pengaman ini terdapat beberapa tanda plat atau tojolan sebagai penghubung. Sekering NH ( Needle Huspning ) atau HRC ( High Rupturing Capacity ) tidak dapat dilepas tanpa alat pengepasnya yang berbentuk mirip setrika yang mempunyai penahan yang dapat menahan atau menarik NH dari dudukannya atau kontaknya. Alat untuk menarik/menahan NH dari fuse holder disebut fuse puller. Fuse HRC ini memiliki kelas kerja gL dan gI ( IEC ).

3. Fuse Type Tabung Isolator ( catridge fuse ) Pengaman lebur type tabung isolator dapat dipasang dan dilepas bagian tabungnya. Pengaman ini biasanya digunakan untuk arus 1-100 A dengan tegangan kerja 220 volt AC.

Berdasarkan karakteristiknya, pengaman lebur type tabung isolator ini dapat dibagi menjadi :

Fast Acting Fuse Fast acting fuse dirancang agar bekerja pada sensitifitas tinggi walaupun kondisi arus gangguannya sesaat.

Slow Blow fuse Slow blow fuse didalamnya mempunyai coil dan dirancang untuk terbakar hanya pada arus atau beban lebih yang terjadi secara continue, misal hubung singkat. Konstruksi coil ini adalah untuk mencegah terbakarnya pengaman hanya karena hentakan arus besar sesaat dalam waktu tertentu. Sebagai contoh slow blow fuse 2 A akan mampu menahan 400% arus lebih sampai 6 detik. 4. MV Fuse

MV Fuse terdiri dari jenis FUSE ARC (DIN Standar) dan SOLEFUSE (UTE Standar). Di mana fuse ini memilki kemampuan untuk melindungi peralatan distribusi tegangan menengah. MV Fuse dapat di aplikasikan pada tegangan menengah 3 KV hingga 36 KV tergantung dari tipenya. MV Fuse dapat melindungi peralatan terhadap efek thermal dan dinamik yang timbul akibat hubung singkat yang arusnya lebih besar dari kemampuan minimum breaking current fuse tersebut. MV Fuse ini merupakan alat proteksi terhadap efek thermal overload yang tersederhana dan termurah. MV Fuse dapat di aplikasikan pada : MV Distribusi Power Transformer dengan kapasitas maksimum hingga 2 MVA pada tegangan 24 kV. Dalam pemakaiannya sebagai pengaman, pengaman lebur ( fuse ) mempunyai kelebihan serta kekurangan. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan dari fuse : Kelebihan Pengaman lebur ( fuse ) antara lain : 1) 2) Handal dalam pemutusan bila terjadi gangguan arus lebih/hubung singkat. Tidak terjadi pengelasan kontak

3)

Kecepatan dan waktu pemutusan tinggi, sehingga cocok untuk mengamankan peralatan elektronika atau semi konduktor.

4)

Memberikan tingkat pengamanan yang pasti dan meyakinkan unutuk nilai arus hubung singkat yang sangant tinggi.

5)

Kerugian tegangan pada penghantar leburnya kecil, karena menggunakan tahanan menggunakan tahanan penghantar lebur yang kecil juga.

Kekurangannya antara lain : 1) 2) Jika pengaman lebur putus diperlukan waktu dan biaya untuk mengganti Dapat mengganggu dan menghambat aktifitas kerja, karena harus menunggu pengganti pengaman lebur yang baru. 3) Untuk sistem tiga fasa, pengaman ini tidak dapat bekerja secara serentak untuk memutuskan hubungan tiga fasa tersebut jika terjadi gangguan pada salah satu fasanya.

2.3.2 Grounding Sistem pengetanahan peralatan-peralatan pada gardu induk biasanya menggunakan konduktor yang ditanam secara horisontal, dengan bentuk kisi-kisi (grid).Konduktor pengetanahan biasanya terbuat dari batang tembaga kertas dan memiliki konduktivitas tinggi, terbuat dari kabel tembaga yang dipilin (bare stranded copper) Konduktor ini ditanam sedalam kira-kira 30 cm-80 cm atau bila dibawah kepala pondasi sedalam kira-kira 25 cm.Luas kisi-kisi di daerah swicthyard, sesuai peralatan-peralatan yang ada, dibatasi maksimum 10 m 5 cm. Kisi-kisi pengetanahan bersambungan satu dengan lainya dan dihubungankan dengan batang pengetanahan yang terdiri dari batang tembaga. Semua dasar isolator-isolator.Terminal terminal pengetanahan dan pemisah

pengetanahan, netral trafo arus dan trafo tenaga, dasar penagkap petir (lighthing arrester) dan struktur dihubungkan dengan kisi-kisi pengetanahan.Gangguan tanah yang mengalir di tempat gangguan maupun di tempat pengetanahan gardu induk menimbulkan perbedaan tegangan di permukaan tanah yang dapat mengakibatkan terjadinya tengangan sentuk dan tegangan langkah yang melampaui batas-batas keamanan manusia dan binatang.

Sistem pengetanahan pada gardu induk membuat permukaan tanah di lokasi gardu induk mempunyai perbedaan tegangan yang serendah-rendahnya pada waktu terjadi gangguan hubung tanah atau membuat tanah serendah-rendahnya.

Pengukuran tahanan jenis tanah pada lokasi gardu induk diambil pada beberapa titik lokasi. Tahanan jenis dapat di hitung dengan rumus sebagai berikut : =2aR Di mana : a R = tahanan jenis rata-rata tanah (ohm-meter) = jarak antara batang elektroda yang terdekat (meter) = besar tahanan yang terukur (Ohm)
2

Pada waktu arus gangguan mengalir antara batang pengetanahan dan tanah, tanah akan menjadi panas akibat arus I .suhu tanah harus di bawah 1000C untuk menjaga sampai

terjadi penguapan pada air kandungan dalam tanah dan kenaikan tahanan jenis. Kerapatan arus yang yang diizinkan pada permukaan batang pengetanahan dapat dihitung dengan rumus :

I = 3,1414 10-2 d
Di mana : i d t = kerapatan arus yang diizinkan (amp/cm) = diameter batang pengetanahan (mm) = panas spesifik rata-rata tanah (kurang lebih 1,75 106 watt-detik, tiap m3 tiap 0p). = kenaikan suhu tanah yang diizinkan (0C) = tahanan jenis tanah (Ohm-meter) = lama waktu gangguan

Kenaikan suhu tanah yang diizinkan adalah antara perbedaan temperatur rata-rata tahanan dan 1000C.misalkan kenaikan suhu diambil =50 0C, maka kerapan arus i.

i = 0,186 amp/cm ( = 750 Ohm-meter).

Besar tegangan sentuh yang diizinkan dapat ditentukan dengan rumus :

Es = Ik (Rk + 1,5 s).


Dimana : Ik = arus fibrilasi Rk = tahanan badan manusia s = tahanan jenis permukaan batu kerikil basah dimana orang berdiri = 3000 Ohm-meter (untuk tanah yang dilapisi hamparan batu koral).

Tabel Tegangan sentuh yang diizinkan dan lama gangguan berdasarkan IEEE Std 80-1986. Lama Gangguan (t) (detik) 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 1 2 3 Tegangan Sentuh Yang Diizinkan (Volt) 1980 1400 1140 990 890 626 443 362

Untuk pentanahan grid dengan model bujur sangkar maupun empat persegi panjang (rectangular grid) menurut IEEE Std 80-1986 mempunyai batasan : 1. 2. 3. 4. Jumlah konduktor parallel dalam satu sisi kurang dari 25 (n<25), 0.25 < h < 2.5 dengan h adalah kedalaman penanaman konduktor (m), d< 25 m, d adalah diameter penghantar (m), D > 2.5 m, D adalah jarak antar konduktor parallel (m).

Tegangan mesh merupakan salah satu bentuk tegangan sentuh. Tegangan mesh ini didefenisikan sebagai tegangan peralatan yang diketanahkan terhadap tengah-tengah daerah yang dibentuk konduktor kisi-kisi (center of mesh) selama gangguan tanah .tegangan mesh ini menyatakan tegangan tertinggi yang mungkin timbul sebagai tegangan sentuh yang dapat dijumpai dalam sistem pengetanahan gardu induk, dan inilah yang diambil sebagai tegangan untuk disain yang aman. Tegangan mesh itu secar pendekatan sama dengan i, dimana tahanan jenis tanah dalam Ohm-meter dan i arus yang melalui konduktor kisi-kisi. Tetapi tahanan jenis tanah nyatanya tidak merata. Demikian juga arus i tidak sama pada semua konduktor kisi-kisi. Oleh karena itu untuk mencakup pengaruh-pengaruh jumlah konduktor pararel n , jarak-jarak konduktor pararel, D. diameter konduktor, d, dan kedalaman penanaman, h, tegangan mesh itu dihitung dari persamaan sebagai berikut :

Em = Km Ki
Dimana, Kn = ln ln Ki = factor koreksi untuk ketidak merataan kerapatan arus, yang dihitung dengan jarak rumus emperis : = 0,65 + 0,172 n (= 3,402) D = jarak antara konduktor-konduktor pararel pada kisi-kisi (=4m) h = kedalam penanaman konduktor (=0,8 m) d = diameter konduktor kisi-kisi (=0,016) n = jumlah konduktor pararel dalam kisi-kisi utama, tidak termasuk sambungan melintang (=16) = tahanan jenis rata-rata tanah (=750 Ohm-meter) I = besar arus gangguan tanah (=1.200 Amp)

= panjang konduktor pengetanahan yang ditanam termasuk semua batang

pengetanahan (= 1.600 m).

Tegangan sentuh maksimum yang timbul dalam rangkain (mesh) tidak terletak di pusat kisi-kisi (daerah persegi empat yang dibentuk konduktor kisi-kisi), dimana tegangan mesh diatas dihitung, tetapi terletak agak dibagian kuar kisi-kisi (grid). Tetapi bila kisi-kisi mempunyai delapan konduktor pararel atau kurang perbedaan tegangan sentuh maksimum yang ada dan tegangan mesh di bagian luar kisi-kisi tidak akan melebihi 10%. Oleh karena itu, untuk kisi-kisi dengan delapan konduktor pararel atau kurang tidak dibutuhkan perhitungan yang eksak (teliti) bila dipergunakan factor keselamatan yang sesuai dalam perbandingan antara tegangan mesh tegangan sentuh yang diizinkan.Jadi bila kisi-kisi mempunyai delapan konduktor pararel atau kurang, tegangan mesh dapat dihitung dengan persamaan (11.6) dan (11.7).tetapi bila jumlah konduktor pararel melebihi 8, persamaan sehari-hari sudah cukup menggunakan persamaan (11.6) dan (11.7) diatas. Maka,

Em = 0,3695 3,402 750 ( 1.200 / 1.600) = 707 Volt.


Jadi tegangan sentuh sebenarnya (707 Volt) lebih kecil dari tegangan sentuh yang diizinkan (737 Volt), dengan demikian jaraj antara kisi-kisi serta panjang total konduktor sudah memenuhi persyaratan. Tegangan langkah yang diizinkan dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

E = Ik (Rk + 6 s)
Dimana : I = arus fibrilasi R = tahanan tubuh menusia s= tahanan jenis permukaan tanah

Tabel Tegangan Langkah yang diijinkan dan lama gangguan berdasarkan IEEE Std 80-1986 : Lama Gangguan Tegangan Langkah yang

(t) (detik) 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 1 2 3

Diijinkan (Volt) 7000 4950 4040 3500 3140 2216 1560 1280

Tegangan langkah sebenarnya adalah peredaan tegangan yang terdapat diantara kedua kaki bila manusia berjalan diatas tanah system pengetanahan pada keadaan terjadi gangguan. Tegangan langkah maksimum sebenarnya dapat dihitung dengan rumus :

Em = Ks Ki

(contoh) Di mana : = tahanan jenis rata-rata tanah (=750 Ohm-meter) Ki = 0,65 + 0,172 n = 3,402 (n = 16) I = arus gangguan tanah maksimum (= 1200 Amp). L = panjang total konduktor yang ditahan , termasuk batang pengetanahan = 1.600 meter. Ks = 0,4014 (n = 16). Dimana: h = kedalaman penanaman konduktor pengetanahan (=0,8m) D = jarak antara konduktor-konduktor pararel (=5 m). Maka,

Em= 0,4014 3,402 750 (1.200 / 1.600) = 768 Volt.

2.4 Instrumen Transformator dan Meteran

2.4.1 Current Transformer (CT) Current Transformer atau CT adalah salah satu type trafo instrumentasi yang menghasilkan arus di sekunder dimana besarnya sesuai dengan ratio dan arus primernya . Ada 2 standart yang paling banyak diikuti pada CT yaitu : IEC 60044-1 (BSEN 60044-1) & IEEE C57.13 (ANSI), meskipun ada juga standart Australia dan Canada. CT umumnya terdiri dari sebuah inti besi yang dililiti oleh konduktor beberapa ratus kali.Output dari skunder biasanya adalah 1 atau 5 ampere, ini ditunjukan dengan ratio yang dimiliki oleh CT tersebut. Misal 100:1, berarti sekunder CT akan mengeluarkan output 1 ampere jika sisi primer dilalui arus 100 Ampere. Jika 400:5, berarti sekunder CT akan mengeluarkan output 5 ampere jika sisi primer dilalui arus 400 Ampere. Dari kedua macam output tersebut yang paling banyak ditemui, dipergunakan dan lebih murah adalah yang 5 ampere. Pada CT tertulis class dan burden, dimana masing masing mewakili parameter yang dimiliki oleh CT tersebut. Class menunjukan tingkat akurasi CT, misalnya class 1.0 berarti CT tersebut mempunyai tingkat kesalahan 1%.Burden menunjukkan kemampuan CT untuk menerima sampai batas impedansi tertentu. CT standart IEC menyebutkan burden 1.5 VA (volt ampere), 3 VA, 5 VA dst. Burden ini berhubungan dengan penentuan besar kabel dan jarak pengukuran (lihat table). Aplikasi CT selain disambungkan dengan alat meter seperti ampere meter, KW meter Cos Phi meter dll, sering juga dihubungkan dengan alat proteksi arus. Dengan mempergunakan bermacam ratio CT didapatkan proteksi arus dengan beragam range ampere hanya dengan satu unit proteksi arus. Yang perlu dipersiapkan adalah unit proteksi arus dengan range dibawah 5 ampere dan CT dengan ratio XXX:5. CT terdiri dari belitan primer, belitan sekunder dan inti mekanik. Jika arus primer yang masuk ke CT ke terminal P1/K dan arus yang mengalir ke sekunder dinamakan terminal S1/k, seperti yang terlihat pada gambar 1.Selanjutnya terdapat terminal kedua pada CT disisi primer yaitu P2/L adalah terminal yang arusnya diperoleh dari P1/k yang dialirkan kek beban dan S2/l sisi sekunder adalah terminal yang arusnya diperoleh dari S1/k.

Dalam hal ini, polaritas sisi sekunder harus disesuaikan dengan datangnya arus di terminal sisi primer (tidak boleh terbalik). Secara normal yang sesuai standar IEC terminal S2/l harus ditanahkan sebagai pengaman sekunder CT terhadap tegangan tinggi akibat kopling kapasitif, sehingga sudut antara arus primer dan sekunder = 0, kalau S1/k yang ditanahkan maka sudut arus antara primer dan sekunder menjadi = 180o Untuk pemilihan CT diperlukan data teknis CT, yaitu primary rated current, secondary rated current, rated power output, accuracy class dan insulation rating.

2.4.2 Potensial Transformer (PT) Trafo tegangan adalah suatu peralatan listrik yang dapat memperkecil tegangan tinggi menjadi tegangan rendah, yang dipergunakan dalam rangkaian arus bolak-balik. Fungsi trafo tegangan adalah untuk memperoleh tegangan yang sebanding dengan tegangan yang hendak dipergunakan untuk memisahkan sirkuit dari sistem dengan tegangan tinggi (yang selanjutnya disebut sirkuit primer) terhadap sirkuit dimana alat ukur (instrument) tersambung ( yang selanjutnya disebut sirkuit sekunder). Beda dengan transformator tenaga yang dibutuhkan adalah tegangan dan daya keluarannya tetapi trafo tegangan yang dibutuhkan adalah tingkat ketelitiannya dan penuruna tegangannya yang disesuaikan dengan alat ukur.

2.4.3 Instrumen Ukur Peralatan pengukuran ada berbagai macam sesuai dengan besar satuan yang akan diukur. Namun yang akan dibahas pada karya tulis ini adalah peralatan pengukuran yang dilakukan pada tegangan sebesar 20kV. Adapun penjelasan peralatan ukur sebagai berikut:

1. Amperemeter Amperemeter adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur arus yang mengalir pada suatu penghantar listrik. Amperemeter harus dipasang secara seri dengan rangkaian yang akan diukur karena mempunyai tahanan dalam (RA) yang kecil sehingga apabila

amperemeter dihubungkan parallel akan terjadi dua aliran (I1 dan I2). Untuk arus kecil dibawah 40A bisa menggunakan Type Direct., alat dengan TypeDirect ini digunakan secara Direct atau dipasang langsung, adapun caranya langsung dipasang seri dengan beban yang akan diukur. Namun bila beban yang diukur lebih besar dari 50A, alat ini harus menggunakan Trafo Arus (Current Transformer). Adapun arus pengeluaran dari trafo arus yang diijinkan antara1 5 A, misalnya untuk beban antara 0-50 A menggunakan CT 50/5 atau 50/1 dengan menggunakan type ampere meter dengan range scale 0 50 A. Bila arus yang akan diukur kisaran antara 0-100 A maka CT yang digunakan adalah CT 100/5 atau 100/1, dengan menggunakan type amperemeter dengan range scale antara 0 100 A, begitu seterusnya. Adapun cara wiring adalah dipasang seri, yaitu pada amperemeter terminal no 1 mendapat terminal K/P1 pada CT, dan terminal no 2 pada amperemeter mendapat terminal L/P2 pada CT. Tingkat akurasi dari alat ini mencapai 1 1,5. Internal konsumsi arus 0,5 VA. Frekwensi 50 60 Hz. Berat dari alat ini 210 gr untuk ukuran 96 x 96 mm, dan 150 gr untuk ukuran 72 x 72 mm.

2. Voltmeter Voltmeter Adalah alat untuk mengukur beda potensial atau tegangan . Voltmeter harus dipasangan secara parallel dengan tegangan yang akan diukur karena mempunyai tahanan dalam (RA) yang besar.

Tahanan voltmeter harus besar, agar tidak mempengaruhi system pada saat digunakan, juga agar daya yang hilang pada voltmeter itu kecil.

Untuk pengukuran tegangan antara 0 250 V dan 0 500 V dapat dipasang secara langsung, namun bila teganggan lebih dari 500V harus menggunakan PT (Potansial Transformer).Tingkat akurasi alat ini 1.5.frekwensi 50 60 Hz.

3. Frekwensi meter Frekwensi meter digunakan untuk mengetahui frekwensi (berulang) gelombang sinusoidal arus bolak-balik yang merupakan jumlah siklus sinusoidal tersebut perdetiknya (cycle/second) pada suatu sumber tegangan, Tegangan yang di ijinkan 0 220 V. cara penyambungannya sebagai berikut :

Frekwensi

meter

mempunyai

peranan

cukup

penting

khususnya

dalam

mensinkronisasikan (memparalelkan) 2 unit mesin pembangkit dan stabilnya frekwensi merupakan petunjuk kestabilan mesin pembangkit.

4. kWmeter Alat yang di gunakan untuk mengetahui besarnya daya nyata (daya aktif) yang dikonsumsi beban listrik. Pada wattmeter terdapat belitan arus dan belitan tegangan, sehingga cara penyambungannya merupakan kombinasi cara penyambungan voltmeter dan amperemeter sebagaimana pada gambar dibawah ini :

Alat untuk mengukur daya pada beban atau pada rangkaian daya itu adalah nilai rata-rata dari perkalian e . I , yaitu nilai sesaat dari tegangan dan arus pada beban atau rangkaian tersebut. Tegangan yang di ijinkan 380 V. Sytem wiring 3 phase 4 wire. Frekwensi 50 Hz.

5. kVAr meter Alat yang digunakan untuk mengetahui balance atau tidak suatu beban listrik 3 phase. Bila arus balance, maka Varmeter akan mununjuk pada angka 0, namun bila tidak balance jarum penunjuk akan menunjukkan ke IND ( terjadi beban induktif), atau CAP (terjadi beban capacitif).

6. Cosphi meter (Cos ) Alat ini digunakan untuk mengetahui besarnya factor kerja (power factor) yang merupakan beda fase antara tegangan dan arus. Cara penyambungannya seperti pemasangan kwh 3 phasa. Cos meter banyak digunakan dan terpasang pada : Panel pengukuran mesin pembangkit Panel gardu hubung, gardu induk Alat pengujian, alat penerangan, dll.

7. KWH meter KWH meter digunakan untuk mengukur energi arus bolak-balik, merupakan alat yang sangat penting untuk KWH yang diproduksi, disalurkan ataupun yang dipakai konsumenkonsumen listrik.Max arus yang di ijinkan 20A tegangan 220V.

2.5 Sistem Rel Merupakan titik pertemuan/hubungan antara trafo-trafo tenaga, Saluran Udara TT, Saluran Kabel TT dan peralatan listrik lainnya untuk menerima dan menyalurkan tenaga listrik/daya listrik. Berdasarkan konstruksi relnya, busbar dapat dikelompokkan menjadi : 1. Single Bus Rel Tunggal

a) Rel Tunggal Standard b) Rel Tunggal Standard Pemisah bagian Pemutus bagian Rel Ganda

2. Double Duo -

Rel ganda standard Rel ganda duplicat Rel ganda 1 CB Rel ganda 2 CB

3. Rel Tertutup/Loop

1. Single Busbar Rel Tunggal Busbar tunggal adalah sistim Busbar yang paling sederhana.Karena hanya memerlukan sedikit peralatan dan ruang maka dari segi ekonomis sistim ini sangat menguntungkan.Sistim ini dipakai untuk gardu distribusi yang hanya mempunyai sedikit saluran keluar dan tidak memerlukan pindah-hubungan sistim tenaga. Semua perlengkapan peralatan listrik dihubungkan hanya pada satu / single busbar pada umumnya gardu dengan sistem ini adalah gardu induk diujung atau akhir dari suatu transmisi. Namun, jika terjadi gangguan pada ril, isolator pada sisi ril, pemutus beban dan

peralatan diantaranya, maka pelayanan aliran tenaga listrik akan terputus sama sekali. Jika dipandang perlu mencegah pemutusan pelayanan total, maka dipasang pemutus beban dan pemisah bagian; komposisi dari sistim tenaga harus disesuaikan seperlunya.

A) Rel Tunggal Standar


CT

LBS

F
PT

H
Es Es

B) Rel Tunggal dg PMS bagian


CT CT

LBS

LBS

LBS

LBS

F
PT

PLN

T1

T2

C) Rel Tunggal dg PMT bagian


CT CB CT

LBS

LBS

LBS

LBS

F
PT

PT

IN

T1

T2

2. Double Duo

Rel Ganda

Rel ganda adalah gardu induk yang mempunyai dua / double busbar . Sistem ini sangat umum, hampir semua gardu distribusi menggunakan sistem ini karena sangat efektif untuk mengurangi pemadaman beban pada saat melakukan perubahan. Busbar ganda terdiri dari dua ril, tiga ril atau empat ril; kedua jenis terkahir ini tidak lazim dipakai. Sistim ini memerlukan lebih banyak isolator, ril, bangunan konstruksi baja dan ruang dibandingkan dengan ril tunggal. Tapi dengan ini pemeriksaan alat dan operasi sistim tenaga menjadi lebih mudah. Tidak bekerjanya satu ril tidak diikuti dengan tidak bekerjanya transformator atau saluran transmisi. Di Jepang bila dipakai saluran transmisi rangkap (double circuit), maka biasanya rangkaian pertama dihubungkan dengan ril A dan rangkaian kedua dengan ril B, sehingga beban kedua rangkaian itu seimbang. Dengan cara demikian maka dimungkinkan untuk membatasi pemutusan pelayanan dan arus hubungsingkat dengan membuka pemutus beban penghubung kedua ril itu bila gangguan terjadi pada salah satu rangkaian. Juga bila ril A dan ril B dikerjakan terpisah maka dimungkinkan beroperasinya sistim tenaga yang berlainan. Oleh karena itu sistim dua ril ini pada umumnya dipakai pada gardu distribusi yang kedudukannya penting dalam sistim tenaga.

A) Rel Ganda Standard I

II

DS

DS

CB CB IN

CT

T PT

B) Rel Ganda Duplikat

CB

CB CB

CB

DS

DS

DS

DS

CB CB IN

CB

CB IN

PT

T1

T2

PT

C) Rel Ganda 2 CB Pada gardu distribusi di mana terdapat pemusatan banyak saluran transmisi dan dimana diperlukan keandalan yang sangat tinggi, maka dipasanglah pemutus beban bagian pada setiap rel. Di sini gardu distribusi itu terbagi menjadi dua bagian yang bekerja terpisah, sehingga akibat-akibat gangguan pada ril dikurangi. Pada sistim ini saluran transmisi dan transformator tidak usah terhenti selama pemutustenaga diperiksa atau diperbaiki. Dan dalam

keadaan gangguan ril, gangguan itu dapat ditiadakan dengan tidak mempengaruhi komposisi sistim tenaga. Di balik keuntungan-keuntungan tadi, sistim ini me mpunyai kerugiankerugian bahwa ia memerlukan banyak pemutus-tenaga, pemisah dan ruang serta sirkit kontrol dan pengamannya menjadi sangat kompleks. Oleh karena itu sistim ini sampai sekarang belum dipakai di Jepang.
IN

I
CB CB

CB

CB

II
T

D) Rel Ganda 1 CB Gardu induk dengan konfigurasi seperti ini mempunyai dua busbar juga sama seperti pada busbar ganda, tapi konfigurasi busbar seperti ini dipakai pada Gardu induk Pembangkitan dan gardu induk yang sangat besar, karena sangat efektif dalam segi operasional dan dapat mengurangi pemadaman beban pada saat melakukan perubahan sistem. Sistem ini menggunakan 3 buah PMT didalam satu diagonal yang terpasang secara seri.

IN

I
CB CB

CB

CB

CB

CB

II

T1

T2

3. Rel Tertutup Semua rel/busbar yang ada tersambung satu sama lain dan membentuk seperti ring/cicin. Ril gelang hanya memerlukan ruang yang kecil dan baik untuk pemutusan sebagian dari pelayanan dan pemeriksaan pemutus beban. Sistim ini jarang dipakai di Jepang karena mempunyai kerugian bahwa dari segi operasi sistim tenaga ia tidak begitu leluasa seperti sistim rua-ril; lagi pula rangkaian kontrol dan pengamanannya menjadi lebih kompleks, dan kapasitas arus dari alat-alat yang terpasang seri harus lebih besar.

IN CB CB

T CB CB

CB CB CB

CB

Bahan - bahan yang biasa digunakan untuk busbar yaitu : Cu (tembaga) dengan resistifitas 0,017241 mm/m yang lunak pada 200 C.
Al (aluminium) dengan resistifitas 0,02828 mm/m yang lunak pada 180 C.

Al campuran

Bentuk bentuk yang biasa digunakan untuk busbar yaitu : Biasanya untuk gardu distribusi digunakan bahan Cu dengan bentuk

Busbar harus berupa tembaga HDHC persegi, memiliki kapasitas arus sesuai dengan gambar spesifikasi, dibuat dan diuji mengikuti standar IEC atau B.S 5486 dan tembaganya harus diinsulasi/dibungkus dengan lapisan tipis PVC tanpa kelim (seamless) dan dibungkus kaca tahan lama (non-ageing) berisi film polyester dengan sifat penghantar panas yang baik. Pemasangan support pada busbar harus terbuat dari bahan insulator berkualitas tinggi. Ukuran busbar untuk netralnya harus sama dengan ukuran busbar fasenya. Busbar untuk fase dan netralnya harus dibedakan menurut warnanya sesuai dengan PUIL 2000. Support-support busbar harus dilapis dan diberi jarak yang cukup antara permukaan konduktor dan kotak busbarnya. Bahan-bahan insulasi harus memiliki tahanan yang tinggi (high-resistivity), non-

hygroscopic, non-ignitable, kuat dan dibentuk sedemikian rupa untuk mencegah menumpuknya debu dan kotoran. Busbar yang meregang harus dipasang expansion joint. Joint-joint ini harus berupa tembaga yang berinsulasi yang memiliki kapasitas membawa arus tidak kurang dari kapasitas konduktornya. Gerakan expansion joint atau konduktor tidak boleh melebihi jarak minimum antar joint atau konduktor yang disyaratkan.

2.6 Emergency Power Supply

2.6.1 Generator Listrik seperti kita ketahui adalah bentuk energi sekunder yang paling praktis penggunaannya oleh manusia, di mana listrik dihasilkan dari proses konversi energi sumber energi primer seperti batu bara, minyak bumi, gas, panas bumi, potensial air dan energi angin. Sistem pembangkitan listrik yang sudah umum digunakan adalah mesin generator tegangan AC, di mana penggerak utamanya bisa berjenis mesin turbin, mesin diesel atau mesin baling-baling. Dalam pengoperasian pembangkit listrik dengan generator, karena faktor keandalan dan fluktuasi jumlah beban, maka disediakan dua atau lebih generator yang dioperasikan dengan tugas terus-menerus, cadangan dan bergiliran untuk generatorgenerator tersebut. Penyediaan generator tunggal untuk pengoperasian terus menerus adalah suatu hal yang riskan, kecuali bila bergilir dengan sumber PLN atau peralatan UPS.

Untuk memenuhi peningkatan beban listrik maka generator-generator tersebut dioperasikan secara paralel antar generator atau paralel generator dengan sumber pasokan lain yang lebih besar misalnya dari PLN.Sehingga diperlukan pula alat pembagi beban listrik untuk mencegah adanya sumber tenaga listrik terutama generator yang bekerja paralel mengalami beban lebih mendahului yang lainnya.

Tujuan kerja pararel dari generator adalah sebagai berikut :

Pengoperasian Generator Secara Paralel, Pasokan listrik ke beban dimulai dengan menghidupkan satu generator, kemudian secara sedikit demi sedikit beban dimasukkan sampai dengan kemampuan generator tersebut, selanjutnya menghidupkan lagi generator

berikutnya dan memparalelkan dengan generator pertama untuk memikul beban yang lebih besar lagi. Saat generator kedua diparalelkan dengan generator pertama yang sudah memikul beban diharapkan terjadinya pembagian beban yang semula ditanggung generator pertama, sehingga terjadi kerjasama yang meringankan sebelum beban-beban selanjutnya dimasukkan ke generator. Selain itu juga untuk membantu mengatasi beban untuk manjaga jangan sampai mesin dibebani lebih. Dan jika satu mesin dihentikan akan diperbaiki karena ada kerusakan, maka harus ada mesin lain yang meueruskan pekerjaan. Jadi untuk menjamin kontinuitas dari penyediaan tenaga listrik.

2.6.2 Diesel Sistem pembangkit listrik tenaga diesel ini menggunakan generator dengansistem penggerak tenaga diesel atau yang biasa dikenal dengan sebutan Genset ( Generator Set ). PLTD ini merupakan pembangkit tenaga listrik yang ada di industri yang penggunaannya sebagai daya listrik cadangan (emergency supply) dan beroperasi ketika PLN tidak aktif . Ada 2 komponen utama dalam genset : 1. Prime mover atau penggerak mula, dalam hal ini adalah mesin diesel. 2. Generator. Prime Mover / Penggerak Mula Prime mover merupakan peralatan yang mempunyai fungsi menghasilkanenergi mekanis yang diperlukan untuk memutar rotor generator.Penggerak mulayang dipakai dalam suatu PLTD adalah diesel / engine. Pada mesin diesel terjadi penyalaan sendiri, karena proses kerjanyaberdasarkan udara murni yang dimampatkan di dalam silinder pada tekanan yangtinggi ( 30 atm ), sehingga temperatur didalam silinder naik. Dan pada saat itubahan bakar disemprotkan dalam silinder dengan temperatur dan tekanan tinggimelebihi titik nyala bahan bakar sehingga akan menyala secara otomatis. Bahanbakar yang menyala ini menimbukan ekspansi gas yang akan menggerakkanpiston naik turun untuk melakukan kerja. Jadi dalam hal ini diesel tidakmemerlukan karburator untuk mencampur bahan bakar dengan udara karena telahbercampur dengan sendirinya di dalam silinder.Pada sebuah mesin yangmempergunakan siklus percikan kompresi tidak memerlukan busi, karenapercikan yang terjadi disebabkan oleh kompresi udara yang tinggi di dalamsilinder sehingga suhu menjadi tinggi.Pada mesin diesel penambahan panas atauenergi senantiasa dilakukan pada tekanan

konstan.Prinsip tersebut mirip siklus Otto.

Siklus Otto : 1. Proses 0-1 : Udara ditekan masuk ke dalam silinder pada tekanan atmosfir danvolume naik dari V2 menjadi V1. 2. Proses 1-2 : gas ditekan secara adiabatik dari V1 menjadi V2 dan temperaturnya naik dari TA ke TB. 3. Proses 2-3 : terjadi proses pembakaran gas (dari percikan api busi), kalor diserap oleh gas Qh. Pada proses ini volume konstan sehingga tekanan dan temperaturnya naik. 4. Proses 3-4 : Gas berekspansi secara adiabatik, melakukan kerja 5. Proses 4-1 : kalor Qc dilepas dan tekanan gas turun pada volume konstan. 6. Proses 1-0 : dan pada akhir proses, gas sisa dibuang pada tekanan atmosfir dan volume gas turun dari V1 menjadi V2.

Siklus Diesel : 1. Proses 0-1 : Proses hisap, udara ditekan masuk ke dalam silinder pada tekanan atmosfir dan volume naik dari V2 menjadi V1. 2. Proses 1-2 : gas ditekan secara adiabatik dari V1 menjadi V2 dan temperaturnya naik. 3. Proses 2-3 : terjadi proses pembakaran gas, kalor (Qh) diserap oleh gas. 4. Proses 3-4 : Gas berekspansi secara adiabatic. 5. Proses 4-1 : kalor Qc dilepas dan tekanan gas turun pada volume konstan. 6. Proses 1-0 : dan pada akhir proses, gas sisa dibuang pada tekanan atmosfir dan volume gas turun dari V1 menjadi V2 volume gas turun dari V1 menjadi V2. Pada mesin diesel, piston melakukan 2 langkah pendek menuju kepala silinder pada setiap langkah daya.Pada langkah ke atas yang pertama adalah langkah pemasukan dan pengisapan, disini udara dan bahan bakar masuk sedangkan poros engkol berputar ke bawah.Kemudian langkah kedua poros engkol menyebabkan torak naik dan menekan bahan bakar sehingga terjadi pembakaran.Langkah ketiga adalah langkah ekspansi dan kerja, disini keduakatup yaitu katub masuk dan keluar tertutup sedangkan poros engkol terus berputar dan menarik kembali torak ke bawah. Langkah keempat adalah langkah pembuangan, disini katup buang terbuka dan menyebabkan gas akibat sisa pembakaran terbuang keluar. Gas dapat keluar karena pada proses keempat ini torak kembali dapat bergerak naik ke atas dan menyebabkan gas dapat keluar. Kedua proses terakhir ini merupakan proses pembuangan. Setelah proses keempatbdilakukan maka proses yang pertama, dimana udara dan bahan bakar masukkembali. Proses yang terjadi pada mesin diesel dapat digambarkan sebagai berikut:

Pembakaran Campuran Bahan Bakar dan Udara

Gas dengan Suhu Tinggi

Gaya dengan Tekanan Tinggi

Gerak Lurus Torak

Mekanik Engkol

Kopel Putar

Berdasarkan kecepatan proses di atas maka diesel dapat digolongkan menjadi 3 bagian, yakni : 1. Diesel kecepatan rendah ( N < 400 rpm ) 2. Diesel kecepatan menengah ( 400 < N < 1000 rpm ) 3. Diesel kecepatan tinggi ( N > 1000 rpm ) Hal hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan suatu mesin dieselantara lain : 1. Efisiensi termal tinggi, yaitu sekitar 45 %. 2. Desain nozzle tidak memerlukan perawatan yang terlalu rumit. 3. Tekanan efektif yang rata rata tinggi. 4. Mudah dalam proses starting. 5. Pada detonasi tidak menghasilkan suara mesin yang mengganggu. 6. Efisiensi volumetrik tinggi. 7. Gas buang tidak melebihi ambang batas polusi udara yang berbahaya. Keuntungan pemakaian mesin diesel sebagai prime over : 1. Desain dan instalasi yang sederhana. 2. Auxilary equipment sederhana. 3. Waktu pembebanan relatif singkat. 4. Konsumsi bahan bakar yang relatif murah dan hemat. Kerugian pemakaian mesin diesel sebagai prime over : 1. Berat mesin sangat berat karena harus dapat menahan getaran serta kompresiyang tinggi. 2. Starting awal yang berat, karena kompresinya tinggi ( 200 bar ).

3. Semakin besar daya mesin diesel tersebut dimensinya semakin besar juga, hal tersebut akan menyulitkan jika daya mesin besar. Prinsip Kerja Mesin Diesel Mesin/motor diesel (diesel engine) merupakan salah satu bentuk motor pembakaran dalam (internal combustion engine) di samping motor bensin dan turbin gas. Motor diesel disebut dengan motor penyalaan kompresi (compression ignition engine) karena penyalaan bahan bakarnya diakibatkan oleh suhu kompresi udara dalam ruang bakar. Dilain pihak motor bensin disebut motor penyalaan busi (spark ignition engine) karena penyalaan bahan bakar diakibatkan oleh percikan bunga api listrik dari busi. 2.6.3 Battre Baterai atau akumulator adalah sebuah sel listrik dimana di dalamnya berlangsung proses elektrokimia yang reversible (dapat berkebalikan) dengan efesiensinya yang tinggi. Yang dimaksud dengan proses elektrokimia yang reversible adalah di dalam baterai berlangsung proses pengubahan kimia menjadi listrik dan sebaliknya, untuk pengisian kembali dengan cara melewatkan arus listrik dalam arah (polaritas) yang berlawanan di dalam sel. Prinsip Kerja Baterai a. Proses discharge bila sel dihubungkan dengan beban, maka elektron mengalir dari anaoda beban ke katoda, kemudian ion ion negatif mengalir ke anoda dan ion ion positif mengalir ke katoda. b. Proses pengisian adalah bila sel dihubungkan dengan power supply maka elektroda positif menjadi anoda dan elektroda negatif menjadi katoda dan proses kimia yang terjadi adalah sebagai berikut : Aliran elektron menjadi terbalik, mengalir dari anoda melalui power supply ke katoda. Ion ion negatif mengalir dari katoda ke anoda Ion ion positif mengalir dari anoda ke katoda

Jadi reaksi kimia pada saat pengisian (charging) adalah kebalikan dari proses pengosongan (discharging).

Gambar Pengisian dan pengosongan baterai Cara cara Pengisian Baterai : a. Pengisian Awal (initial charge) Pengisian ini dimaksudakna untuk pembentukan sel baterai, cara ini hanya dilakukan pada baterai yang single atau baterai stasioner dan hanya dilakukan seklai saja. b. Pengisian kembali (recharging) Recharging dilakukan secara otomatis setelah baterai mengalami pengosongan. Lamanya pengisian kembali disensor oleh rectifier sehingga apabila baterai sudah penuh maka dilanjutkan kembali pengisian trickle. c. Pengisian equalizing / penyesuaian Pengisian penyesuaian dimaksudkan untuk mendapatkan kapasitas penuh pada setiap sel, atau dengan kata lain memulihkan kapasitas baterai. Pengisian ini juga dilakukan pada saat baterai setelah adanya penambahan aquades. d. Pengisian perbaikan / treatment

Pengisian perbaikan dimaksudkan untuk memulihkan kapasitas baterai yang berada di bawah standar setelah baterai dilakukan perbaikan. Apabila setelah dilakukan perbaikan hasilnya dicapa dapat dilakukan beberapa kali. e. Pengisian khusus / boost charge Pengisian ini dimaksudkan untuk memulihkan baterai secara cepat setelah adanya pengosongan yang banyak, misalnya pada sistem operasi charge discharge yang belum mendapat catuan PLN. f. Pengisian kompensasi Floating / trickle charge Pengisian ini dimaksudkan untuk menjaga kapasitas baterai selalu dalam kondisi penuh akibat adanya pengosongan diri (self discharge) yang besarnya 1 % dari kapasitas. Kapasitas Baterai Kapasitas suatu baterai adalah menyatakan besarnya arus listrik (Ampere) baterai yang dapat disuplai atau dialirkan ke suatu rangkaian luar atau beban dalam jangka waktu (jam) tertentu, untuk memeberikan tegangan tertentu. Kapasitas baterai (Ah) dinyatakan sebgai berikut :

C= I x t
Dimana : C = Kapasitas baterai (Ah) I = Besar arus mengalir (Ampere) t = Waktu pemakaian (jam) 2.6.4 UPS Uninterruptible power supply (disingkat UPS) adalah perangkat yang biasanya menggunakan baterai backup sebagai catuan daya alternatif, untuk Dapat memberikan suplai daya yang tidak terganggu untuk perangkat elektronik yang terpasang. UPS merupakan sistem penyedia daya listrik yang sangat penting dan diperlukan sekaligus dijadikan sebagai

benteng dari kegagalan daya serta kerusakan system dan hardware. UPS akan menjadi system yang sangat penting dan sangat diperlukan pada banyak perusahaan penyedia jasa telekomunikasi, jasa informasi, penyedia jasa internet dan banyak lagi. Dapat dibayangkan berapa besar kerugian yang timbul akibat kegagalan daya listrik jika sistem tersebut tidak dilindungi dengan UPS.

Fungsi Utama dari UPS 1. Dapat memberikan energi listrik sementara ketika terjadi kegagalan daya pada listrik utama. 2. Memberikan kesempatan waktu yang cukup untuk segera menghidupkan genset sebagai pengganti listrik utama. 3. Memberikan kesempatan waktu yang cukup untuk segera melakukan back up data dan mengamankan sistem operasi (OS) dengan melakukan shutdown sesuai prosedur ketika listrik utama padam. 4. Mengamankan sistem komputer dari gangguan-gangguan listrik yang dapat mengganggu sistem komputer baik berupa kerusakan software, data maupun kerusakan hardware. 5. UPS secara otomatis dapat melakukan stabilisasi tegangan ketika terjadi perubahan tegangan pada input sehingga tegangan output yang digunakan oleh sistem komputer berupa tegangan Yang stabil. 6. UPS dapat melakukan diagnosa dan management terhadap dirinya sendiri sehingga memudahkan pengguna untuk mengantisipasi jika akan terjadi gangguan terhadap sistem. 7. User friendly dan mudah dalam installasi. 8. Pengguna dapat melakukan kontrol UPS melalui jaringan LAN dengan menambahkan beberapa aksesoris yang diperlukan. 9. Dapat diintegrasikan dengan jaringan internet. 10. Notifikasi jika terjadi kegagalan dengan melakukan pengaturan perangkat lunak UPS management.

Jenis-Jenis UPS Berdasarkan Cara Kerjanya 1. Line-interactive UPS Pada UPS jenis ini diberi tambahan alat AVR (automatic voltage regulator) yang berfungsi mengatur tegangan dari suplai daya ke peralatan. 2. On-line UPS Pada UPS jenis ini terdapat 1 rectifier dan 1 inverter yang terpisah. Hal ini lebih mahal apabila dibandingkan dengan dua jenis UPS lainnya. Dalam keadaan gangguan, suplai daya ke rectifier akan diblok sehingga akan ada arus DC dari baterai ke inverter yang kemudian diubah menjadi AC. 3. Off-line UPS UPS jenis ini merupakan UPS paling murah di antara jenis UPS yang lain. Karena rectifier dan inverter berada dalam satu unit. Dalam keadaan gangguan, switch akan berpindah sehingga suplai daya dari suplai utama terblok. Akibatnya akan mengalir arus DC dari baterai menuju inverter. 4. Modified UPS UPS jenis ini sementara hanya di produksi oleh para antusias engineering yg berhubungan dengan komputer, Komponen-Komponen UPS 1. Baterai Jenis baterai yang digunakan UPS umumnya berjenis lead-acid atau jenis nikelcadmium. Baterai ini umumnya mampu menjadi sumber tegangan cadangan maksimal selama 30 menit. 2. Rectifier (penyearah) Penyearah berfungsi untuk mengubah arus AC menjadi arus DC dari suplai listrik utama. Hal ini bermanfaat pada saat pengisian baterai. 3. Inverter Kebalikan dari penyearah, inverter berfungsi untuk mengubah arus DC dari baterai menjadi arus AC. Hal ini dilakukan pada saat baterai pada UPS digunakan untuk memberikan tegangan ke komputer. Cara Kerja UPS

UPS bekerja berdasar kepekaan tegangan. (RT)UPS akan menemukan penyimpangan jalur voltase (linevoltage) misalnya, kenaikan tajam, kerendahan, gelombang dan juga penyimpangan yang disebabkan oleh pemakaian dengan alat pembangkit tenaga listrik yang murah. Karena gagal, UPS akan berpindah ke operasi on-battery atau baterai hidup sebagai reaksi kepada penyimpangan untuk melindungi bebannya (load). Jika kualitas listrik kurang, UPS mungkin akan sering berubah ke operasi on-battery. Kalau beban bisa berfungsi dengan baik dalam kondisi tersebut, kapsitas dan umur baterai dapat bertahan lama melalui penurunan kepekaan UPS. Kegagalan listrik sesaat akibat terputusnya aliran listrik atau akibat sambaran petir dapat meningkatkan arus catu daya dan dapat mematikan supplay arus listrik direct current (DC) yang menuju motherboard komputer. Kegagalan listrik sesaat tersebut dapat mempengaruhi kinerja perangkat komputer baik pada hardware maupun software sehingga menggunakan aktivitas pengolahan data. Gangguan hardware dapat mengakibatkan motherboard cepat rusak, berkurangnya performance system, dan turunnya performance hardware. Sedangkan gangguan system software dapat berupa kemungkinan operating system corrupt, data lost,dan lain sebagainya. 2.7 Instalasi Gardu Berdasarkan konstruksinya, gardu distribusi dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) yaitu : 1. Gardu Beton (Gardu Tembok) Adalah gardu distribusi yang bangunannya secara keseluruhan terbuat dari beton dan dibangun bilamana kepadatan bebannya lebih dari 2 MVA per km2. Gardu beton dibedakan menjadi 2, yaitu : a. Gardu untuk konsumen umum atau perumahan b. Gardu untuk konsumen tegangan menengah atau industri 2. Gardu Kios Adalah gardu distribusi yang bangunannya terbuat dari metal. Biasanya gardu ini dalam pembangunannya dipakai untuk sementara. 3. Gardu Portal

Adalah gardu distribusi yang seluruh instalasinya dipasang pada 2 tiang atau lebih.

4. Gardu Tiang (Gardu Cantol) Adalah gardu distribusi yang seluruh instalasinya dicantolkan pada satu tiang jaringan distribusi. Pada rancangan ini akan digunakan gardu beton, hal ini dikarenakan pada gardujenis beton untuk konsumen tegangan menengah dilengkapi dengan fasilitas: a. Satu atau dua kubikel tipe pemisah (Incoming) b. Satu atau dua kubikel tipe pemutus (Outgoing) c. Satu atau dua kubikel untuk trafo tegangan menengah d. Satu atau dua kubikel untuk pengaman dan pengukuran e. Satu atau dua kubikel untuk sambungan konsumen tagangan menengah f. Kubikel untuk pengaman trafo.