Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS GINEKOLOGI

P8A1, 58 TAHUN, DENGAN MIOMA UTERI, RETENSIO URIN DAN PANSITOPENIA

Pembimbing dr. Zufrial Arief, Sp.OG

Penyusun Fadillah Nur Herbuono 030.06.085

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR.SOESELO SLAWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

15 Juli 2013 28 September 2013


BAB I STATUS PASIEN I. IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Usia Pekerjaan Pendidikan Alamat Suku Bangsa Agama Status Perkawinan Tanggal Masuk RS II. ANAMNESIS Diambil dari Tanggal Jam A.Keluhan Utama Lemas dan pusing sejak 1 minggu yang lalu B. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien wanita, 58 tahun, datang ke IGD RSUD dr. Soeselo Slawi dengan keluhan terasa sangat lemas sejak 1 minggu yang lalu seperti tidak memiliki tenaga, pasien juga mengeluh pusing seperti ingin terjatuh. Lemas dan pusing dirasakan semakin bertambah berat setiap harinya. Os juga mengeluh kesulitan untuk berkemih, kalau berkemih harus mengedan sejak 2 minggu SMRS. Selain itu, os mengeluh keluar darah menstruasi lebih banyak dari biasanya, berwarna merah kehitaman, ganti pembalut terisi penuh oleh darah hingga sebanyak 5 kali dalam sehari selama 4-5 hari setiap kali pasien menstruasi dalam 2 tahun terakhir ini, siklus menstruasi selalu teratur dan tidak pernah memanjang. Os mengaku 2 : Autoanamnesis di Nusa Indah : 21 September 2013 : 13.00 WIB : Ny. R : Perempuan : 58 tahun : Ibu rumah tangga : SD : Gembong Dadi : Jawa : Islam : Menikah : 18 September 2013

memiliki benjolan pada perut bagian bawah sejak 2 tahun SMRS. Os menyadari benjolan tersebut pada saat mengurut perutnya sendiri dan tadinya berpikir bahwa dirinya sedang hamil. Benjolan awalnya kecil hanya sebesar telur ayam namun dirasakan perlahan membesar hingga akhirnya sekarang membesar 3 kali lipat ukuran semula menjadi sebesar telur angsa, namun tidak terasa ada nyeri sedikitpun. Keluhan lain seperti demam, nyeri pinggang, kencing berwarna merah ataupun berpasir disangkal oleh pasien. Menurut pengakuan suami pasien, dulu badan os gemuk, namun sekarang jauh lebih kurus dibanding 2 tahun yang lalu. Tidak ada penurunan nafsu makan, os lebih sering memakan sayuran dibanding daging.. Os pernah dirawat di ruang Kemuning RSUD dr. Soeselo selama 1 bulan, 1 tahun yang lalu pada bulan Februari. Tadinya os datang ke IGD hanya dengan keluhan lemas dan kepala pusing, tetapi setelah diperiksa oleh dokter IGD ternyata pasien anemis dengan Hb awal masuk 5,9g/dL dan harus dirawat. Di bangsal setelah dianamnesa lebih lanjut, pasien mengaku darah menstruasinya lebih banyak dari biasanya sebulan terakhir dan ganti pembalut penuh dengan darah sebanyak 5 kali dalam sehari serta mengaku memiliki benjolan pada perut yang dirasa semakin membesar. Os kemudian melakukan serangkain pemeriksaan laboratorium dan USG, hasilnya os didiagnosis dokter dengan mioma uteri. Setelah itu, os direncanakan untuk operasi pengangkatan mioma uteri yang dideritanya (histerektomi) setelah dilaksanakan stabilisasi/perbaikan keadaan umum sebelumnya pada tanggal 26 Februari 2012 Hb os naik menjadi 10,3g/dL setelah menghabiskan transfusi 6 kantung PRC, os kemudian didaftarkan untuk mengikuti program operasi elektif pada tanggal 3 Maret 2012. Tetapi operasi dibatalkan karena os mulai menstruasi sehari sebelum dilakukannya operasi. Karena sedang menstruasi hari ke-2 dokter menginstruksikan pada os agar pulang terlebih dahulu dan kembali jika menstruasi telah berakhir untuk segera dilakukan operasi. Namun os tidak kembali karena merasa pasrah dengan keadaannya dan berharap penyakit yang sedang dideritanya dapat sembuh dengan sendirinya. Riwayat menstruasi sebelum gangguan haid: Menarche : 10 tahun Siklus teratur 28 hari sekali Banyaknya normal (ganti pembalut 3 kali dalam sehari dengan darah tidak penuh 1 pembalut) Lamanya Menstruasi 4-5 hari

C. Riwayat Pernikahan 3

Pernikahan ini merupakan pernikahan pertama, pasien menikah pada usia 16 tahun dan suami berusia 24 tahun. D. Riwayat Kehamilan Pasien pernah melahirkan sebanyak 8 kali dan 1 kali keguguran,.angka hidup 5 1. Anak 1, laki-laki, lahir spontan di rumah dibantu dukun, cukup bulan, BBL 3000gr dan meninggal pada usia 1 tahun karena demam tinggi. 2. Anak 2, perempuan, lahir spontan di rumah dibantu dukun, cukup bulan, dan meninggal pada usia 28 tahun karena sakit. 3. Anak 3, perempuan, lahir spontan di rumah dibantu dukun, cukup bulan, dan sekarang berusia 28 tahun. 4. Anak 4, gemeli, keduanya laki-laki, lahir spontan dalam keadaan mati di rumah dibantu dukun, pre-term (UK-7 bulan), BBL 1 1000gr dan BBL 2 1000gr. 5. Anak 5, perempuan, lahir spontan di rumah dibantu dukun, cukup bulan, dan sekarang berusia 14 tahun. 6. Anak 6, laki-laki, lahir spontan di rumah dibantu dukun, cukup bulan, dan sekarang berusia 27 tahun. 7. Anak 7, perempuan, lahir spontan di rumah dibantu dukun, cukup bulan, dan sekarang berusia 25 tahun. 8. Anak 8, laki-laki, lahir spontan di rumah dibantu dukun, cukup bulan, dan sekarang berusia 23 tahun. E. Riwayat Keluarga Berencana Pasien mengaku pernah menggunakan kontrasepsi dalam bentuk susuk selama 5 tahun setelah melahirkan anak yang ke 3. F. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien menyangkal adanya riwayat darah tinggi, asthma, kecing manis dan alergi makanan maupun alergi obat tertentu. G. Riwayat Penyakit Keluarga Pasien menyangkal adanya anggota keluarga yang menderita penyakit seperti pasien. Riwayat keganasan dalam keluarga disangkal. Pasien menyangkal adanya riwayat darah tinggi, asthma, kencing manis, dan alergi makanan atau obat pada anggota keluarga. Dalam keluarga pasien tidak ada yang mengalami kesulitan dalam memperoleh keturunan. H. Riwayat Operasi Pasien mengaku tidak pernah menjalankan operasi apapun. 4

C. Riwayat Kebiasaan Pasien tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol. Konsumsi makan sehari 3-4 kali dengan lauk pauk sayuran tempe tahu, jarang mengkonsumsi daging. III. PEMERIKSAAN FISIK A. Pemeriksaan Umum Kesadaran Keadaan umum Tinggi Badan Berat Badan BMI Tekanan Darah Nadi Respirasi Suhu Mata Konjungtiva Sklera THT Leher Thorax o Cor: o Inspeksi: Tampak pulsasi iktus cordis 2 cm medial lnea midklavikula kiri. Palpasi : Teraba pulsasi iktus cordis 2 cm medial linea midklavikula kiri. Perkusi : Batas jantung dalam batas normal Auskultasi :Bunyi jantung I-II murni reguler, murmur (-), gallop (-) : anemis (+/+) : ikterik (-/-) : Dalam Batas Normal : KGB tidak teraba membesar : compos mentis : tampak sakit sedang : 160 cm : 65 kg : 25,3 (overweight) : 100/60 mmHg : 68 x/menit : 22 x/menit : 36,8oC

Pulmo:

Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris saat statis dan dinamis saat inspirasi maupun ekspirasi. Palpasi : ICS tidak melebar, tidak menyempit, vocal fremitus simetris sama kuat kiri kanan depan belakang Perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru Auskultasi :Suara nafas vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-), krepitasi (-/-). : Simetris, hiperpigmentasi pada areola, benjolan (-), retraksi puting (-)

Mammae Abdomen :

o Inspeksi: membuncit, sikatrik (-), striae (-) o Palpasi: defense muscular (-), massa (+) berukuran sebesar telur angsa, permukaan atas berbenjol-benjol terfiksir, bagian bawah rata tidak berbenjol mobile, nyeri tekan(-), hepar & lien tidak teraba membesar o Perkusi: timpani keempat kuadran, shifting dullness (-), nyeri ketuk (-) o Auskultasi : bising usus (+) normal Ekstremitas : o Superior : akral hangat (+/+), edema (-/-) o Inferior : akral hangat (+/+), edema (-/-) Pemeriksaan Ginekologi Abdomen Palpasi : Teraba benjolan pada regio umbilikus, berukuran 16x15x11cm, dengan batas : Kanan : 1 cm lateral garis midclavicula dextra Kiri Atas : 1 cm lateral garis midclavicula sinistra : setinggi umbilicus

Bawah : tepat di atas simphisis

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Laboratorium Pemeriksaan 18/09/13 20:24 22/09/13 16:44 24/09/13 09:12 Nilai Rujukan 6

Hematologi Hb Leukosit Trombosit Ht Eritrosit Diff Count: - Eosinofil - Basofil - Netrofil - Limfosit - Monosit Gol.Darah Rhesus Faktor Sero Imunologi HbsAg 3,2 3,5 47.000 12 2,1 0,00 0,30 49,50 35,70 14,50 B + 7,0 5,5 31.000 23 3,5 1,10 0,20 58,30 34,20 6,20 9,0 6,0 35.000 28 4,2 0,20 0,30 75,10 16,20 8,20 11,7-15,5 g/dL 3,6-11,0 10^3/ul 150-400 10^3/ul 35-47 % 3,8-5,3 10^6/ul 2,0-4,0 % 0-1 % 50-70 % 25-40 % 2-8 % Non reaktif

Non Reaktif Kesan : Pansitopenia dengan perbaikan Anemia Trombositopenia

b. USG Tampak uterus berukuran 11,6 x 10,42 x 10,33 cm dengan EL (+), kontur dan textur inhomogen. Tampak sarang miom di dalamnya dengan ukuran 4,40 x 5,21 cm. Tak tampak masa pada adneksa. Kesan : Mioma Uteri FOLLOW UP

TGL 19/9/2013 07.00

Subjective Benjolan di perut (+), PPV (+) Sesak Nafas (+) lemas (+), pusing (+), pandangan berkunangkunang mual (-), muntah (-), nyeri perut (-), BAK (+) DC, BAB (+) mobilisasi (+)

Objective KU : Baik / CM TD : 100/600 mmHg Nadi : 76x/m Suhu 36,5 C RR: 24x/mnt Mata :CA +/+ Thorax: Jantung : S1-S2 Normal regular murmur(-), gallop(-) Paru : SN vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-) Abdomen : Teraba massa (+) berukuran sebesar telur angsa keras, permukaan atas berbenjol-benjol terfiksir, bagian bawah rata tidak berbenjol mobile, nyeri tekan(-) Ekstrimitas: Oedem (-) Hb=3,2gr/% Ht= 12% Lekosit:=3.5/uL Trombosit: 47.000/uL KU : Baik / CM TD : 100/60 mmhg Nadi : 84x/m, Suhu 36,5 C RR: 26x/mnt Mata :CA +/+ Thorax: Jantung : S1-S2 Normal reguler murmur(-), gallop(-) Paru : SN vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-) Abdomen : Teraba massa (+) berukuran sebesar telur angsa,
0 0

Assesment P8A1, 58 tahun, dengan Mioma uteri dengan pansitopenia H+1

Plan

Perbaiki KU Infus Rl 20 tpm Transfusi PRC sampai Hb 10 gr%. Transfusi 2 kolf/hari, premedikasi dexamethason 1 ampul (masuk kolf ke-2)

Injeksi Kalnex 3x500 mg Injeksi Ceftriaxon 2x1 gram.

20/09/2013 07.00

Benjolan di perut (+) PPV(+) Sesak (+) lemas (+), Pusing (-), mual (-), muntah (-), nyeri perut (-), BAK (+) DC, BAB (-), mobilisasi (+)

P8A1, 58 tahun, dengan Mioma uteri dengan pansitopenia H+2

Perbaiki KU Infus RL 20 tpm Transfusi PRC sampai Hb 10 gr%. Transfusi 2 kolf/hari, premedikasi dexamethason 2 ampul (masuk kolf ke-3)

8 Injeksi Kalnex 3x500 mg Injeksi

V. RESUME Pasien wanita, 58 tahun, datang dengan keluhan terasa sangat lemas sejak 1 minggu yang lalu seperti tidak memiliki tenaga, pasien juga mengeluh pusing seperti ingin terjatuh. Lemas dan pusing dirasakan semakin bertambah berat setiap harinya. Os mengeluh kesulitan untuk berkemih harus mengedan sejak 2 minggu SMRS. Selain itu, os mengeluh keluar darah menstruasi lebih banyak dari biasanya, berwarna merah kehitaman, ganti pembalut terisi penuh oleh darah hingga sebanyak 5 kali dalam sehari selama 4-5 hari setiap kali pasien menstruasi dalam 2 tahun terakhir ini, siklus menstruasi selalu teratur dan tidak pernah memanjang. Os mengaku memiliki benjolan pada perut bagian bawah sejak 2 tahun SMRS. Benjolan awalnya kecil hanya sebesar telur ayam namun dirasakan perlahan membesar hingga akhirnya sekarang membesar 3 kali lipat ukuran semula menjadi sebesar telur angsa, namun tidak terasa ada nyeri sedikitpun. Keluhan lain seperti demam, nyeri pinggang, kencing berwarna merah ataupun berpasir disangkal oleh pasien. Dulu badan os gemuk, namun sekarang jauh lebih kurus dibanding 2 tahun yang lalu. Pasien tidak pernah menimbang berat badannya. Tidak ada penurunan nafsu makan, os lebih sering memakan sayuran dibanding daging.. Os pernah dirawat 1 tahun yang lalu, dengan keluhan lemas dan kepala pusing, tetapi setelah diperiksa ternyata pasien anemis dengan Hb awal masuk 5,9g/dL dan harus dirawat. Pada anamnesa lebih lanjut, pasien mengaku darah menstruasinya lebih banyak dari biasanya sebulan terakhir dan ganti pembalut penuh dengan darah sebanyak 5 kali dalam sehari serta mengaku memiliki benjolan pada perut yang dirasa semakin membesar. Os kemudian melakukan serangkain pemeriksaan laboratorium dan USG, hasilnya os didiagnosis dokter dengan mioma uteri. Direncanakan histerektomi setelah dilaksanakan stabilisasi/perbaikan keadaan umum sebelumnya. Hb os naik menjadi 10,3g/dL post transfusi PRC 6 kolf. 1 hari sebelum tindakan os mulai menstruasi, operasi dibatalkan. Os dipulangkan dan diinstruksikan kembali jika menstruasi telah berakhir untuk segera dilakukan operasi. Namun os tidak kembali karena merasa pasrah dengan keadaannya dan berharap penyakit yang sedang dideritanya dapat sembuh dengan sendirinya. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan kesadaran compos mentis, tekanan darah: 100/60 mmHg, nadi: 68x/menit, respirasi : 22x/menit, suhu: 37oC. Konjungtiva anemis (+/+). Cor dan pulmo dalam batas normal. Pemeriksaan Ginekologi pada abdomen didapatkan benjolan suprasimpisis berukuran 16x15x11 cm, setinggi umbilkus, teraba dengan konsistensi padat keras, permukaan berbenjol-benjol, mobile, dan nyeri tekan (+), pada perkusi didapatkan pekak. 9

Pemeriksaan laboratorium tanggal 18 Juli 2013 Pemeriksaan USG didapatkan kesan mioma uteri. VI. DIAGNOSIS

didapatkan Hb 3,2 gr/dl yang

menunjukkan anemia berat disertai dengan penurunan trombosit, leukosit, dan eritrosit.

P8A1, 58 tahun, dengan Mioma Uteri, Retensio Urine dan Pansitopenia. VII. PENATALAKSANAAN Perbaikan keadaan umum Pengawasan keadaan umum, tanda vital Pro histerektomi menunggu perbaikan keadaan umum

VIII. PROGNOSIS Ad Vitam Ad Fungsionam Ad Sanationam : Dubia ad bonam : Dubia ad malam : Dubia ad malam

10

BAB II ANALISA KASUS Pada laporan kasus ini diajukan suatu kasus seorang wanita berusia 58 tahun dengan diagnosa mioma uteri. Diagnosa ditegakkan berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik-ginekologik, serta pemeriksaan penunjang berupa USG dan pemeriksaan laboratorium. Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang tersusun dari otot polos uteri dan jaringan ikat yang menumpangnya. Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan diduga merupakan penyakit multifaktorial. Faktor predisposisi pada mioma uteri adalah : 1. Umur: mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. 2. Paritas: lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relatif infertil, 3. Faktor ras dan genetik: pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadiaan mioma uteri tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma. 4. Fungsi ovarium: diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause. 5. Berat badan;: setaip kenaikan 10 kg berat badan kemungkinan menaikkan resiko mioma uteri sebesar 21%. Dilaporkan untuk yang obesitas juga meningkatkan resiko menderita mioma karena peningkatan konversi androgen andrenal kepada estrone dan menurunkan hormon sex binding globulin hasilnya akan meningkatkan estrogen. 6. Life style: diet tinggi lemak dan rendah serat meningkatkan resiko terkena mioma uteri. Merokok dapat mengurangi insiden mioma uteri, karena nikotin menurunkan bioavaibilitas hormon estrogen. Pada pasien tersebut faktor predisposisi yang mungkin karena umur pasien 58 tahun dimana tumor ini ditemukan sekitar 10 % pada wanita berusia > 40 tahun. Diperkirakan ada 11

korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause. Gaya hidup pasien cukup baik, pasien lebih sering mengkonsumsi sayuran, tempe, tahu, rendah lemak dan tinggi serat, juga tidak merokok, dimana rokok dapat menurunkan bioavalibiltas hormon estrogen pada jaringan seperti: penurunan konversi androgen kepada estrogen dengan penghambatan enzim aromatase oleh nikotin. Pada pasien ini juga terdapat faktor predisposisi lain seperti overweight yang berhubungan dengan konversi hormon androgen menjadi estrogen oleh enzim aromatase di jaringan lemak, dan setiap kenaikan 10kg dari berat badan normal kemungkinan mioma meningkat 21%. Tidak ada riwayat mioma dan keganasan dalam keluarga ataupun infertilitas dalam keluarga. Dari hasil anamnesis didapatkan adanya keluhan menometroragia serta benjolan pada perut bagian bawah pasien. Ada beberapa kemungkinan diagnosis untuk pasien dengan menometroragia disertai benjolan pada perut bawah antara lain yaitu mioma uteri dan endometriosis. Gejala yang timbul sangat tergantung pada tempat sarang mioma (serviks, intramural, submukus, subserus), besarnya tumor, perubahan dan komplikasi yang terjadi. Gejala yang ditimbulkan dapat digolongkan menjadi empat yaitu perdarahan abnormal, rasa nyeri, gejala dan tanda penekanan, serta infertilitas dan abortus. Pada kasus ini, beberapa dari gejala tersebut didapatkan pada Ny.R perdarahan abnormal berupa hipermenorhea dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain pengaruh ovarium sehingga terjadilah hiperplasia endometrium, permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasa, atrofi endometrium diatas mioma submukosum, miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma diantara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik. Rasa nyeri yang dikeluhkan pasien dapat disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis setempat dan peradangan. Gejala penekanan berupa gangguan BAK berupa retensio urine disebabkan oleh penekanan mioma uteri pada uretra. Pemeriksaan status generalis menunjukkan keadaan umum serta vital sign pasien dalam batas normal sehingga menunjukkan gangguan perdarahan serta nyeri sudah berlangsung lama dan tubuh telah melakukan penyesuaian diri. Pada pemeriksaan fisik, ditemukan konjunctiva tampak anemis. Anemia merupakan akibat paling sering dari mioma. Hal ini disebabkan perdarahan uterus yang banyak dan habisnya cadangan zat besi. Kadangkadang mioma menghasilkan eritropoeitin yang pada beberapa kasus dapat menyebabkan polisitemia. 12

Penatalaksanaan mioma uteri berdasarkan besar kecilnya tumor, ada tidaknya keluhan, umur dan riwayat paritas penderita. Pada pasien ini belum dilakukan tindakan operatif mengingat pada hasil pemeriksaan fisik pasien tampak lemas, pucat, laboratorium terakhir menunjukkan anemia dan trombositopenia dimana sebelumnya juga memiliki riwayat transfusi darah akibat perdarahan haid yang lama dan banyak dari biasa serta ada gejala penekanan uretra berupa retensio urine sehingga harus dilakukan pemasangan kateter urine. Pada pasien ini akan dilakukan tindakan histerektomi setelah dilakukan perbaikan keadaan umum/stabilisasi. Tindakan histerektomi pada pasien dengan mioma uteri merupakan indikasi bila didapatkan keluhan menorrhagia, metrorhagia, keluhan obstruksi pada traktus urinarius dan ukuran uterus sebesar usia kehamilan 12-14 minggu. Histerektomi perabdominal dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu total abdominal histerektomi (TAH) dan subtotal abdominal histerektomi (STAH). Masing-masing prosedur histerektomi ini memiliki kelebihan dan kekurangan. STAH dilakuka untuk menghindari resiko operasi yang lebih besar, seperti perdarahan yang banyak, trauma operasi pada ureter, kandung kemih dan rektum. Namun dengan melakukan STAH akan menyisakan serviks, dimana kemungkinan timbulnya karsinoma serviks dapat terjadi. Dengan menyisakan serviks, menurut penelitian didapatkan data bahwa terjadinya dysperaunia akan lebih rendah dibanding dengan menjalani TAH sehingga aan tetap mempertahankan fungsi seksual. Pada TAH, jaringan granulasi yang timbul pada vagina dapat menjadi sumber timbulnya sekret vagina dan perdarahan pasca operasi dimana keadaan ini tidak terjadi pada pasien dengan STAH.

13

TINJAUAN PUSTAKA I.1. Definisi dan Klasifikasi Myoma Uteri Myoma uteri adalah neoplasma jinak yang tersusun dari otot polos uteri dan jaringan ikat yang menumpangnya dan sering juga disebut sebagai fibromioma, leiomyoma, fibroid
(1,2,3,5)

. Dapat bersifat tunggal atau multipel dan mencapai ukuran besar (100 pon)

(1,3)

Konsistensinya keras, dengan batas kapsel yang jelas sehingga dapat dilepaskan dari sekitarnya (1,3). Menurut lokalisasi, myoma uteri terdapat di (1,2,6) : a. cervical (1-3%) b. corporal Cervical lebih jarang tetapi bila mencapai ukuran besar dapat menekan kandung kencing dan menyebabkan gangguan miksi (1) dan juga secara teknik operasinya lebih sukar (1). Ada beberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu : (5) 1) Umur : mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis antara 35-45 tahun. 2) Paritas : lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relatif infertil, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakah infertil menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertil, atau apakah kedua keadaan ini saling mempengaruhi. 3) Faktor ras dan genetik : pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadiaan mioma uteri tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma.

14

4) Fungsi ovarium : diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause. Menurut posisi myoma terhadap lapisan-lapisan uterus, dapat dibagi dalam 3 jenis (1,2,3,5,6) : a. mioma submukosa b. mioma intramural/interstitial c. mioma subserosa/subperitoneal Myoma Submukosa (1,2,3). Tumbuh tepat di bawah endometrium dan menonjol ke dalam cavum uteri. Sering juga tumbuh bertangkai yang panjang dan menonjol melalui serviks menuju ke vagina sehingga dapat terlihat secara inspekulo dan disebut sebagai Myom Geburt. Myom pada serviks dapat menonjol ke dalam saluran serviks sehingga OUE berbentuk bulat sabit. Karena tumbuh di bawah endometrium dan di endometriumlah pendarahan uterus yang paling banyak, sehingga myoma submukosa ini paling sering menyebabkan perdarahan uteri yang banyak dan iregular (menometrorrhagia). Akibatnya diperlukan tindakan histerektomi pada kasus myoma dengan perdarahan yang sangat banyak walaupun ukurannya kecil. Myoma submukosa yang bertangkai sering terinfeksi (ulserasi) dan mengalami torsi (terpelintir) ataupun menjadi nekrosis dan apabila hal ini terjadi maka kondisi ini menjadi perhatian utama sebelum mengatasi myoma itu sendiri (sindrom mirip dengan akut abdomen). Kemungkinan terjadi degerasi sarkoma juga lebih besar pada jenis myoma submucosa ini.Adanya myoma sub mucosa dapat dirasakan sebagai suatu curet bump (benjolan waktu kuret). Myoma Intramural atau Interstitial (1,2,3). Tumbuh di dinding uterus di antara serabut miometrium. Ukuran dan konsistensinya bervariasi, kalau besar atau multipel dapat menyebabkan pembesaran uterus dan berbenjol-benjol. Myoma Subserosa atau Subperitoneal 15

Tumbuh di bawah tunica serosa (tumbuh keluar dinding uterus) sehingga menonjol keluar pada permukaan uterus, diliputi oleh serosa. Myoma jenis ini juga dapat bertangkai. Jika myoma subserosa yang bertangkai ini mendapat perdarahan extrauterine dari pembuluh darah omentum, maka tangkainya dapat atrofi dan diserap sehingga terlepas sehingga menjadi parasitic myoma. Kadang-kadang vena yang ada di permukaan pecah dan menyebabkan perdarahan intra abdominal. Malah myoma subserosa ini juga dapat tumbuh diantara kedua lapisan peritoneal dari ligamentum latum menjadi myoma intraligamenter yang dapat menekan ureter dan A. iliaca, sehingga menimbulkan gangguan miksi dan rasa nyeri. I.2. Patogenesis Myoma Uteri Penyebab myoma uteri tidak diketahui. Ada bukti bahwa setiap sel myoma adalah uniselular yang berasal (monoclonal) dari penelitian glukosa-6-fosfat dehidrogenase. Hal ini sesuai dengan teori dari Meyer dan De Snoo bahwa asal sel myoma adalah sel imatur, bukan dari sel otot yang matur (teori cell nest atau teori genitoblast) (2,3). Walau tidak ada bukti bahwa estrogen menyebabkan mioma uteri, tetapi estrogen jelas berpengaruh terhadap pertumbuhan myoma (menjadi lebih besar) (2). Hal ini juga sesuai dengan percobaan Lipschutz yang memberikan estrogen pada kelinci percobaan yang ternyata dapat menimbulkan tumor fibromatosa baik pada permukaan maupun pada tempat lain dalam abdomen
(2)

. Efek fibromatosa ini dapat dicegah dengan pemberian preparat

progesteron atau testosteron (2). Sel-sel myoma mempunyai reseptor estrogen yang lebih banyak daripada sel-sel myometrium yang normal dan hal ini sesuai yang ditemukan oleh penelitian Puukka dan kawan-kawan
(2,3)

, tapi sel-sel myoma yang tumbuh di endometrium mempunyai reseptor


(3)

estrogen yang rendah

. Sel-sel myoma tidak mempunyai reseptor progesteron

(3)

. Estrogen

mungkin memperbesar ukuran myoma dengan peningkatan produksi matriks ekstraseluler. Leiomyoma mungkin bertambah besar dengan terapi estrogen dan selama kehamilan, tetapi hal tersebut tidak selalu terjadi. Hipotesis yang menyatakan HGH (Human Growth Hormon) berhubungan dengan pertumbuhan myoma telah secara luas dibuktikan tidak berhubungan dengan penelitian radioimunoassay dari HGH pada wanita hamil dan wanita yang menggunakan estrogen tapi terdapat spekulasi bahwa pertumbuhan myoma pada kehamilan berhubungan sinergis dengan aktivitas estradiol dan HPL (Human Placental Lactogen) (3). 16

I.3. Patologi Anatomi Myoma Uteri Myoma uteri biasanya multipel, terpisah dan sferis atau berlobulasi yang tidak teratur
(1,2,3) (3)

. Walaupun myoma mempunyai pseudocapsule, myoma ini dapat jelas dibedakan

dari myometrium yang normal dan dapat dienukleasi secara mudah dari jaringan sekitarnya . Secara makroskopis pada potongan melintang, myoma itu berwarna lebih pucat, bulat, licin dan biasanya padat
(3)

dan jika myoma yang baru saja diangkat tersebut dibelah,

permukaan tumor terpisah dan mudah dibedakan dari pseudocapsulenya. Secara mikroskopik, myoma uteri terdiri dari berkas otot polos dan jaringan ikat, yang tersusun seperti konde/pusaran air (Whorled like appearrance) (1,2,3). I.4. Perubahan Sekunder pada Myoma Uteri Perubahan sekunder pada Myoma Uteri ini didasarkan atas gambaran histopatologi dan terbagi menjadi 2 bagian besar (1,2) : 1. Degenerasi jinak, yang terbagi lagi menjadi 7 (1,2,3). a. Atrofi Tanda dan gejala-gejala berkurang atau menghilang sesuai dengan ukuran myoma yang mengecil pada saat menopause atau sesudah kehamilan. b. Degenerasi Hialin (1,2,3,6). Perubahan ini sering terjadi terutama pada penderita usia lanjut karena myoma telah menjadi matang. Tumor kehilangan struktur aslinya menjadi homogen dimana tumor ini tetap berwarna putih tapi di dalamnya berwarna kuning, lembut bahkan seperti gel/agar-agar (bergelatin). Tumor ini biasanya asimtomatik. c. Degenerasi Kistik (Likuifikasi) (1,2,3,6). Merupakan kelanjutan dari degenerasi hialin yang ekstrim sehingga seluruh tumor menjadi mencair seolah-olah menyerupai uterus yang gravid atau kista ovarium. Stress fisik dapat menyebabkan pecahnya tumor ini sehingga menyebabkan evakuasi secara mendadak isi cairan tersebut ke dalam uterus, rongga peritoneum dan ruang retroperitoneal. Dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma. d. Kalsifikasi (Degenerasi membatu) (1,2,3,6). 17

Myoma jenis subserosa yang tersering mengalami kalsifikasi ini karena sirkulasi darah yang terganggu dan terutama pada wanita berusia lanjut. Hal ini terjadi karena presipitasi CaCO3 (calcium carbonate) dan fosfat sebagai kelanjutan dari sirkulasi darah yang terganggu itu. Dengan rontgen, dapat terlihat dengan jelas (opak) dan dikenal sebagai Womb Stone. e. Septik atau infeksi dan supurasi (1,2,3). Sirkulasi yang tidak adekuat menyebabkan nekrosis sentralis dari tumor yang kemudian terinfeksi terutama terjadi pada jenis submukosa akibat adanya ulserasi. Hal ini menyebabkan nyeri perut bawah yang akut disertai demam. f. Degenerasi merah (Red or Carneous) (1,2,3,6,7). Terutama terjadi pada kehamilan dan nifas dikarenakan trombosis vena dan kongesti dengan perdarahan interstitial (nekrosis sub akut) sehingga pada irisan melintang tampak seperti daging mentah dan merah yang diakibatkan penumpukan pigmen hemosiderin dan hemofusin. Selama kehamilan, ketika degenerasi merah ini terjadi juga diikuti edema dan hipertrofi myometrium. Degenerasi merah ini merupakan degenerasi dan infark yang aseptik. Biasanya pada degenerasi merah juga menimbulkan rasa sakit yang biasanya akan sembuh sendiri dan tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan. Tanda dan gejala ini mirip dengan torsi tumor ovarium dan torsi mioma yang bertangkai. Komplikasi potensial dari degenerasi dalam kehamilan meliputi kelahiran preterm dan sangat jarang mencetuskan DIC (Disseminated Intravascular coagulation). g. Degenerasi Lemak (myxomatous or fatty) (1,2,3,5) Merupakan degenerasi asimtomatik yang jarang terjadi dan merupakan kelanjutan dari degenerasi hialin dan kistik. 2. Degenerasi malignansi/Sarcomatosa/Ganas (1,2,3). Myoma uteri yang menjadi leiomyosarkoma ditemukan hanya 0,32 0,6% dari seluruh myoma serta merupakan 50-75% dari semua jenis sarkoma uteri (2). Kecurigaan malignansi apabila myoma uteri cepat membesar dan terjadi pembesaran myoma pada menopause. 18

I.5. Gejala-Gejala Myoma Uteri Gejala-gejala myoma hanya terdapat pada 35-50 % pasien dengan myoma uteri myoma yang sangat besar dapat tidak terdeteksi terutama pada pasien yang gemuk myoma uteri tergantung dari (1,2,3) : a. Jenis myoma (subserosa, intramural, submukosa) b. Besarnya myoma c. Lokalisasi myoma d. Perubahan (degenerasi) dan komplikasi yang terjadi Gejala-gejala myoma uteri sebagai berikut : a. Perdarahan yang abnormal (menometrorhagia, dismenorrhae) (1,2,3). b. Nyeri (1,2,3). c. Akibat tekanan (pressure effect) (1,2,3). d. Tumor/massa di perut bawah (1). e. Gejala-gejala sekunder (1). f. Infertilitas (3). g. Abortus spontan (3). Perdarahan yang abnormal Merupakan gejala yang tersering (+ 30%) dan manifestasi klinik yang paling penting pada leiomyoma(1,2,3). Biasanya dalam bentuk menorrhagia, metrorrhagia, dysmenorrhea(1,2,3). Jenis myoma yang sering menyebabkan perdarahan adalah myoma submukosa(1,3). Beberapa faktor yang menjadi penyebab perdarahan ini, antara lain adalah(2) : 1. Pengaruh ovarium sehingga terjadi hiperplasia endometrium sampai adenokarsinoma endometrium. 2. Permukaan endometrium di atas myoma submukosa 3. Atrofi endometrium di atas myoma submukosa 4. Myometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang myoma diantara serabut myometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik. Nyeri 19
(2,3) (3)

Malah kebanyakan myoma ini tidak memberikan gejala (kebetulan ditemukan) dan bahkan . Gejala

Gejala ini tidak khas untuk myoma

(1,2,3)

. Nyeri timbul karena gangguan sirkulasi darah

pada myoma, infeksi, nekrosis, torsi myoma yang bertangkai atau karena kontraksi myoma subserosa dari cavum uteri (1,2,3). Rasa nyeri yang diakibatkan infark dari torsi atau degenerasi merah dapat menyerupai Akut Abdomen (disertai enek dan muntah-muntah) (1,3). Myoma yang sangat besar dapat menyebabkan sensasi berat (penuh) pada daerah panggul (3), sensasi massa dalam pelvis, atau sensasi massa yang dapat diraba melalui dinding perut .Punggung yang pegal atau sakit adalah gejala yang umum karena penekanan terhadap urat saraf yang menjalar ke punggung, pinggang dan tungkai bawah (1,3) . Pada myoma Geburt menyebabkan kanalis servikalis sempit sehingga timbul dysmenorrhae. Akibat Tekanan (1,3) Bila menekan kandung kemih, akan menimbulkan kerentanan kandung kemih (Bladder Irritability), pollakisuria dan dysuria. Bila urethra tertekan, bisa timbul retentio urine. Bila berlarut-larut dapat menyebabkan hydroureteronephrosis. Tekanan pada rektum tidak begitu besar, kadang-kadang menyebabkan konstipasi dan kadang-kadang sakit pada waktu defekasi. Tumor dalam cavum Douglasi dapat menyebabkan retensio urine. Kalau besar sekali, mungkin ada gangguan pencernaan, kalau terjadi tekanan pada Vena Cava Inferior akan terjadi oedema tungkai bawah. Myoma pada cervical dapat menyebabkan sekret vaginal yang serosanguineous, perdarahan vaginal, dyspareunia dan infertilitas (3). Gejala Sekunder (2) Akibat perdarahan yang hebat : - Anemia - Lemah - Pusing-pusing - Erythrocytosis pada myoma yang besar Infertilitas (3) Myoma yang menyebabkan infertilitas primer hanya 2-10% dari pasien. Jenis myoma yang berhubungan dengan infertilitas adalah myoma submukosa yang bertangkai dan myoma yang terletak di dekat cornu. 20

Infertilitas sekunder yang disebabkan myoma dikarenakan perdarahan uteri abnormal, motilitas uterine atau tuba yang berpengaruh dengan transport sperma. Abortus Spontan (3) Insidens abortus spontan yang secara sekunder berhubungan dengan myoma tidak diketahui tapi insidens ini 2 x lebih banyak daripada wanita hamil normal. Contohnya, kejadian abortus spontan sebelum myomectomi kira-kira 40% dan sesudah myomektomi kira-kira 20%. I.6. Pemeriksaan Fisik Pada Myoma Uteri Myoma dapat secara mudah ditemukan dengan pemeriksaan rutin bimanual dari uterus atau kadang-kadang dengan palpasi pada abdomen bawah.(3) Pemeriksaan Bimanual akan mengungkapkan tumor padat, keras, teraba berbenjolbenjol, gerakan bebas, tidak sakit, umumnya terletak di garis tengah atau agak ke samping dan harus dipastikan bahwa tumor merupakan bagian dari rahim (1,2,3). Myoma submukosa kadang kala dapat teraba dengan jari yang masuk ke dalam kanalis servikalis dan terasanya benjolan pada permukaan kavum uteri (1). Dengan sondase, cavum uteri menjadi luas dan tidak rata yang terutama terdapat pada myoma intramural (1,2). Retroflexi uterus dan retroversi mungkin menyulitkan pemeriksaan diagnosis fisis walaupun tumor itu merupakan suatu myoma yang berukuran sedang
(3) (3)

. Apabila servix

ditarik ke atas dan ke belakang simfisis, biasanya ditemukan suatu jaringan fibroid yang besar .

I.7. Pencitraan Pada Myoma Uteri USG pelvik umumnya dapat membantu diagnosis dan menyingkirkan kehamilan sebagai pembesaran hamil
(3)

. USG pelvik merupakan pemeriksaan pencitraan yang paling

utama pada kasus myoma tapi bukan berarti USG pelvik merupakan pengganti pemeriksaan bimanual dari uterus dan pemeriksaan abdomen (3). Leiomyoma yang besar terlihat sebagai massa jaringan yang lunak pada rontgen abdomen bawah dan pelvik terutama akan memberikan diagnosis yang kuat bila myoma mengalami kalsifikasi (gambaran rontgen pada kasus ini radioopak) (2,3). Histerosalpingografi mungkin berguna pada kasus leiomyoma intrauteri pada pasien dengan infertilitas (3). 21

MRI (Magnetic Resonans Imaging) sangat tinggi akurasinya dalam menunjukkan jumlah, besar dan lokasi leiomyoma (3). I.8. Penemuan Laboratorium Pada Myoma Uteri Anemia merupakan tanda umum dari myoma uteri. Anemia ini terjadi karena perdarahan uteri yang banyak dan penurunan kadar zat besi peningkatan erithropoetin (3). Selain itu, polisitemia dan kelainan ginjal mengarah pada spekulasi bahwa leiomyoma mungkin menekan ureter menyebabkan tekanan balik ureter dan kemudian merangsang produksi eritropoeitin ginjal. Leukositosis, panas dan kenaikan sedimentasi mungkin timbul bila terdapat degenerasi atau infeksi akut pada myoma (3). I.9. Pemeriksaan Khusus Pada Myoma Uteri Histeroskopi mungkin dapat membantu dalam identifikasi dan juga untuk mengangkat myoma submukosa
(1,3) (3)

. Kadang-kadang didapatkan

eritrositosis pada pasien. Hematokrit akan menjadi normal setelah rahim diangkat dan terjadi

. Laparaskopi lebih jelas dalam menentukan asal dari leiomyoma dan

lebih banyak digunakan untuk myomektomi (3) . I.10. Diagnosis Banding Myoma Uteri Pada myoma subserosa, diagnosa bandingnya adalah : a. Tumor ovarium yang solid (1,3) b. Kehamilan uterus gravidus (1,2,3) Pada myoma submukosa yang dilahirkan diagnosa bandingnya adalah : a. Inversio uteri (1,2) Pada myoma intramural, diagnosa bandingnya adalah : a. Adenomiosis (1,2,3) b. Khoriokarsinoma (2,3) c. Karsinoma korporis uteri atau sarcoma uteri (2,3) I.11. Penatalaksanaan Pada Mioma Uteri

22

Pilihan pengobatan myoma tergantung umur pasien, paritas, status kehamilan, keinginan untuk mendapatkan keturunan lagi, keadaan umum dan gejala serta ukuran lokasi serta jenis myoma uteri itu sendiri (3) . Disini akan dibahas penatalaksanaan myoma uteri pada wanita yang tidak hamil. Penatalaksanaan myoma uteri pada wanita hamil akan dibahas tersendiri. A. Konservatif dengan pemeriksaan periodik Tidak semua myoma uteri memerlukan pengobatan bedah ataupun medikamentosa terutama bila myoma itu masih kecil dan tidak menimbulkan gangguan atau keluhan. Walaupun demikian myoma uteri memerlukan pengamatan 3-6 bulan, maksudnya setiap 3-6 bulan pemeriksaan pelvik dan atau USG pelvik seharusnya diulang. Pada wanita menopause, myoma biasanya tidak memberikan keluhan
(1,2,3)

. Bahkan

pertumbuhan myoma dapat terhenti pertumbuhannya atau menjadi lisut (2). Estrogen harus digunakan dengan dosis yang terkecil-kecilnya pada wanita post menopause dengan myoma atau mengontrol gejala-gejala dan ukuran myoma harus diperiksa dengan pemeriksaan pelvik dan USG pelvik setiap 6 bulan
(3)

. Perlu diingat bahwa penderita

myoma uteri sering mengalami menopause yang terlambat (2). Bila didapatkan pembesaran myoma pada masa post menopause, harus dicurigai kemungkinan keganasan dan pilihan terapi dalam hal ini adalah histerektomi total (1,2,3). B. Pengobatan Medikamentosa dengan GnRHa (Gonadotropin Releasing Hormone Antagonist) Hal ini didasarkan atas pemikiran myoma uteri terdiri atas sel-sel otot yang diperkirakan dipengaruhi oleh estrogen
(2)

. GnRHa yang mengatur reseptor gonadotropin di hipofisis

akan mengurangi sekresi gonadotropin yang mempengaruhi mioma (2). Pemberian GnRHa (buseriline asetate) selama 16 minggu pada mioma uteri menghasilkan degenerasi hialin di miometrium hingga uterus dalam keseluruhannya menjadi lebih kecil
(2)

. Oleh karena efek inilah, GnRHa dapat berguna mengontrol perdarahan (kecuali pada

polypoid submucous yang malah dapat memperburuk perdarahan), terapi pengganti untuk bedah dimana bedah dalam masalah ini tidak bisa dilakukan, untuk vaginal histerektomi
(3)

.
(3)

Menurut literatur terakhir, pemakaian GnRHa lebih dari 3 bulan menyebabkan miomektomi lebih sulit . Pemakaian GnRHa hanya boleh digunakan sementara karena 23 GnRHa menyebabkan menopause yang palsu (3). Bila pemakaian GnRHa dihentikan maka

myoma yang lisut itu tumbuh kembali di bawah pengaruh estrogen oleh karena myoma itu masih mengandung reseptor estrogen dalam konsentrasi yang tinggi. C. Pengobatan Operatif Myomektomi adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus
(2)

. Myomektomi dilakukan bila masih menginginkan keturunan dan syaratnya harus


(1)

dilakukan dilatasi kuretase dulu untuk menghilangkan kemungkinan keganasan Myomektomi cukup berhasil untuk mengontrol perdarahan kronik akibat myoma (3).

Tindakan myomektomi dapat dikerjakan misalnya dengan extirpasi melalui vagina pada myom geburt. Malah sekarang ini myomektomi dapat dikerjakan dengan histeroskopi untuk kasus myoma submukosa dan dengan laparaskopi untuk kasus myoma subserosa (3). Angka kemungkinan terjadi kehamilan setelah myomektomi adalah 30-50%
(2)

. Perlu diingat untuk dilakukan pemeriksaan patologi anatomi segera setelah

dilatasi kuretase dan myomektomi untuk menyingkirkan myosarcoma atau mixed mesodermal sarcoma (3). Kerugian myomectomi adalah : (1) a. melemahkan dinding uterus ruptura uteri pada waktu hamil b. menyebabkan perlekatan residif Histerektomi masih diperlukan oleh 25-35% penderita tersebut adalah pengangkatan uterus, yang umumnya merupakan tindakan terpilih
(2)

. Histerektomi . Histerektomi

(2)

dapat dilaksanakan perabdominam atau per vaginam. Histerektomi pervaginam sulit karena uterus harus lebih kecil dari telur angsa dan tidak ada perlekatan dengan sekitarnya
(2)

. Histerektomi pervaginam diperlukan bila ada perbaikan cystocele, rectocele atau Histerektomi secara umum dilakukan pada myoma yang besar dan multiple
(1)

enterocele (3) dan akan lebih mudah bila disertai prolapsus uteri. . Histerektomi total umumnya dilakukan dengan alasan mencegah akan timbulnya karsinoma servisis uteri. Histerektomi supra vaginal (sub total) hanya dilakukan apabila terdapat kesukaran teknis dalam mengangkat uterus keseluruhannya tahun sekali. Pada wanita muda sebaiknya ditinggalkan 1 atau ke-2 ovarium, maksudnya untuk : a. menjaga jangan terjadi menopause sebelum waktunya b.menjaga gangguan koroner atau aterosklerosis umum 24
(2)

dan bila

histerektomi supravaginal ini dilakukan maka pemeriksaan paps smear harus dilakukan 1

D. Radioterapi Tindakan ini bertujuan untuk agar ovarium tidak berfungsi lagi sehingga penderita mengalami menopause dan diharapkan akan menghentikan perdarahan nantinya (1,2) . Syarat-syarat dilakukan radioterapi adalah : (1) - hanya dilakukan pada wanita yang tidak dapat dioperasi (bad risk patient) (1) - uterus harus lebih kecil dari kehamilan 3 bulan (1) - bukan jenis submukosa (1) - tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum (1) - tidak dilakukan pada wanita muda sebab dapat menyebabkan menopause (1) - tidak ada keganasan uterus (2) II.12. Myoma Uteri dan Kehamilan Pengaruh mioma uteri pada kehamilan adalah (1,2) : - Kemungkinan abortus lebih besar karena distorsi cavum uteri khususnya pada myoma submukosum. - Dapat menyebabkan kelainan letak janin - Dapat menyebabkan plasenta praevia dan plasenta akreta - Dapat menyebabkan HPP akibat inersia maupun atonia uteri akibat gangguan mekanik dalam fungsi miometrium - Dapat mengganggu proses involusi uterus dalam masa nifas - Jika letaknya dekat pada serviks, dapat menghalangi kemajuan persalinan dan menghalangi jalan lahir. Pengaruh kehamilan pada myoma uteri adalah (1,2) : - Myoma membesar terutama pada bulan-bulan pertama karena pengaruh estrogen yang meningkat - Dapat terjadi degenerasi merah pada waktu hamil maupun masa nifas seperti telah diutarakan sebelumnya, yang kadang-kadang memerlukan pembedahan segera guna mengangkat sarang myoma. Anehnya, pengangkatan sarang myoma demikian itu jarang menyebabkan perdarahan. - Meskipun jarang, mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi dengan gejala dan tanda sindrom akut abdomen. 25

Terapi myoma dengan kehamilan adalah konservatif karena myomektomi pada kehamilan sangat berbahaya disebabkan kemungkinan perdarahan hebat dan dapat juga menimbulkan abortus
(1,2)

. Operasi terpaksa dilakukan kalau ada penyulit-penyulit yang

menimbulkan gejala akut atau karena myoma sangat besar (1). Jika myoma menghalangi jalan lahir, dilakukan SC (Sectio Caesarea) disusul histerektomi tapi kalau akan dilakukan enukleasi (myomektomi) lebih baik ditunda sampai sesudah masa nifas (12 minggu setelah melahirkan) (1,3). I.13. Prognosis Myoma Uteri Histerektomi dengan mengangkat seluruh myoma adalah kuratif. Myomektomi yang extensif dan secara signifikan melibatkan myometrium atau menembus endometrium, maka diharuskan SC (Sectio caesarea) pada persalinan berikutnya. Myoma yang kambuh kembali (rekurens) setelah myomektomi terjadi pada 15-40% pasien dan 2/3-nya memerlukan tindakan lebih lanjut (3,8). ___________________________________________________________________________ DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Bagian Obstetri Ginecologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung : Ginecologi, Elstar Offset, Bandung, 6 : 154 163. Wiknjosastro, Hanifa : Ilmu Kandungan, edisi ke-3, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 1997, 13 : 338-345. DeCherney, Alan H; Nathan Lauren : Current Obstetric & Ginecologic Diagnosis & Treatment, 9 th edition, International Edition, 2003, 36 : 693-699. Herbst, Arthur L., M.D., et al; Comprehensive Gynecology, second edition, Mosby Yearbook, 1992, 511-518. Hacker, Neville F : Essentials of Obstetrics and Gynecology, copy right @ 1992 by W.B. Saunders company, Philadelphia, Pennsylvania. Novak, Edmund R; Wood ruff, Donald D : Gynecologi and Obstetric Pathology, 8 edition, W.B. Saunders, USA, 1979, 11 : 260-274. Cunningham, F Gary ; Mac Donald, Paul C ; Gant, Norman F : Obstetri Williams , edisi 18, EGC, Th 1995. http://www.emedicine.com/med/topic3319.htm, Gynecologic Myomectomy, last update 9 May 2009. 26
th