Anda di halaman 1dari 12

Makalah

STRUKTUR INSTITUSIONAL AKUNTANSI KEUANGAN


Ditulis sebagai bahan presentasi mata kuliah Teori Akutansi

OLEH:

1. Aulia Rachman (F1312021) 2. M. Faisal Suseno (F1312077) 3. Toufan Toufiq Akbar Nurzaman (F1312112)

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2013

Periode perkembangan akuntansi


Sejarah awal akuntansi C. Littleton membuat daftar tujuh prasyarat bagi munculnya pembukuan yang sistematis: a) Seni Penulisan (The Art of Writing), karena pembukuan pada intinya adalah sebuah catatan; b) Aritmetika (Arithmetic), karna aspek mekanis dari pembukuan mengandung adanya serangkaian perhitungan sederhana; c) Milik Pribadi (Private Property), karena pembukuan hanya berkepentingan dengan pencatatan fakta-fakta mengenai harta benda dan hak miliknya; d) Uang (Money) yaitu perantara dalam perekonomian, karena akuntansi hanya dapat dibuat jika diukur dengan uang; e) Kredit yaitu catatan dibuat untuk transaksi yang belum selesai; f) Perniagaan karena transaksi membutuhkan system pencatatan; g) Modal (Capital), karena tanpa modal perniagaan akan tidak berarti dan kredit akan tidak mungkin. Jika melihat tujuh kriteria di atas, beberapa kebudayaan kuno telah memiliki sistem pencatatan yang mencakup prasyarat-prasyarat tersebut. Jika kita ingin melacak akuntansi kembali ke asal usulnya, kita secara alamiah akan menganggap pertemuan pertamanya akan berasal dari para pedagang; karena kebutuhan untuk melakukan transaksi secara jujur dan transparan. Pada masa itu orang-orang Arab terkenal sebagai bangsa pedagang. Bangsa mesir yang telah maju kebudayaannya pada saat itu melakukan interaksi dengan para pedagang arab yang melahirkan suatu sistem pencatatan yang merupakan bentuk pertama dari akuntansi, yang menurut cara perdagangan yang umum, dikomunikasikan ke seluruh kota-kota di Timur Tengah. Bisnis perdagangan, yang untuk setiap kota-kota perdagangan di Eropa dihubungkan oleh orang-orang Lombardia, ikut pula memperkenalkan metode mereka dalam pencatatan rekening, melalui penggunaan pencatatan berpasangan; yang kini dikenal dengan sebutan pembukuan Italia. Pembukuan Italia ini berkembang, seiring dengan perkembangan perdagangan dari republik Italia dan penggunaan metode pembukuan pencatatan berpasangan di abad ke-14. Buku pencatatan berpasangan yang pertama kali dikenal adalah pembukuan Massari dari Genoa, sejak tahun 1340. 1. Kontribusi Luca Pacioli Nama Luca Pacioli, seorang pastur dari ordo Fransiskus, pada umumnya diasosiasikan dengan pengenalan pembukuan pencatatan berpasangan untuk pertama kalinya. Pada tahun 1494 ia menerbitkan bukunya, Summa de Arithmetica Geometria, Proportioni et Proportionalita yang didalamnya terdapat dua buah bab-de Computis et Scripturis yang menjelaskan pembukuan pencatatan berpasangan. Ia menyatakan bahwa tujuan pembukuan adalah untuk memberikan informasi yang tidak tertunda kepada para pedagang mengenai keadaan aktiva dan utang-utangnya. Debit (adebeo) dan kredit (credito) digunakan dalam pencatatan untuk memastikan sebuah pencatatan berpasangan. Ia berkata, Seluruh pencatatan harus berpasangan. Yaitu, jika Anda membuat seorang kreditor, maka Anda harus membuat seorang debitor. Tiga buku digunakan disini: sebuah memorandum, sebuah jurnal, dan sebuah buku besar. Pada waktu yang bersamaan, mengingat umur yang pendek dari perusahaanperusahaan bisnis, Pacioli menyarankan perhitungan dari laba suatu periode dan penutupan buku. Dibawah ini adalah saran yang diberikan: Merupakan suatu hal yang baik untuk menutup buku setiap tahun, terutama jika Anda memiliki kerja sama kemitraan dengan pihak-pihak lain. Seringnya melakukan pencatatan akuntansi akan memperpanjang persahabatan.

2. Perkembangan Pembukuan Berpasangan : Sekitar abad ke-16 terjadi beberapa perubahan di dalam teknik-teknik pembukuan. Perubahan yang patut dicatat adalah diperkenalkan jurnal-jurnal khusus untuk pencatatan berbagai jenis transaksi yang berbeda. Pada abad ke-16 dan 17 terjadi evolusi pada praktik laporan keuangan periodik. Sebagai tambahan lagi, di abad ke-17 dan abad ke-18 terjadi evolusi pada personifikasi dari seluruh akun dan transaksi, sebagai suatu usaha untuk merasionalisasikan aturan debit dan kredit yang digunakan pada akun-akun yang tidak pasti hubungannya dan abstrak. Penerapan sistem pencatatan berpasangan juga diperluas ke jenis-jenis organisasi yang berbeda. Abad ke-17 juga mencatat terjadinya penggunaan akun-akun persediaan yang terpisah untuk jenis barang yang berbeda. Dimulai dengan East India Company di abad ke-17 dan selanjutnya diikuti dengan perkembangan dari perusahaan tadi, seiring dengan revolusi industri, akuntansi mendapatkan status yang lebih baik, yang ditunjukkan dengan adanya kebutuhan akan akuntansi biaya, dan kepercayaan yang diberikan kepada konsep-konsep mengenai kelangsungan, periodisitas, dan akrual. Metode-metode untuk pencatatan aktiva tetap mengalami evolusi pada abad ke-18. Sampai dengan awal abad ke-19, depresiasi untuk aktiva tetap hanya diperhitungkan pada barang dagangan yang tidak terjual. Akuntansi biaya muncul di abad ke-19 sebagai sebuah hasil dari revolusi industri. Pada paruh terakhir dari abad ke-19 terjadi perkembangan pada teknik-teknik akuntansi untuk pembayaran dibayar di muka dan akrual, sebagai cara untuk memungkinkan dilakukannya perhitungan dari laba periodik. Akhir abad ke-19 dan ke-20 terjadi perkembangan pada laporan dana. Di abad ke-20 terjadi perkembangan pada metode-metode akuntansi untuk isu-isu kompleks, mulai dari perhitungan laba per saham, akuntansi untuk perhitungan bisnis, akuntansi untuk inflasi, sewa jangka panjang dan pensiun, sampai kepada masalah penting dari akuntansi sebagai produk baru dari rekayasa keuangan (financial engineering).

Perkembangan Akuntansi di United Stated (US) 1. Akuntansi di US sebelum 1930 Kesadaran bahwa akuntansi merupakan instrumen yang penting untuk menjalankan bisnis sudah muncul sejak tahun 1880. Pada tahun 1896, terbentuk kerjasama antara American Association of Public Accountant dengan The Institute of Bookkeepers and Accountants yang menghasilkan perancangan desain Certified Public Accountant. Namun hingga tahun 1913 belum ada standar yang jelas bagi tiap negara bagian terkait persyaratan yang dibutuhkan untuk mendapatkan predikat CPA. Selain pencapaian tersebut, American Association of Public Accountant juga mulai menerbitkan Journal of Accountancy. Sepuluh tahun setelah penemuan jurnal tersebut (1915), komite terminologi American Association of Public Accountant merumuskan sebuah daftar istilah akuntansi beserta definisinya. Lebih banyak istilah beserta definisi mucul di Journal of Accountancy, sehingga pada 1931 akhirnya terbit sebuah buku yang berisi istilah dan definisi akuntansi. Pada tahun 1916, American Institute of Accountants (AIA) dibentuk dari American Association of Public Accountant untuk meningkatkan keseragaman dan standardisasi terkait kualifikasi dan persyaratan membership. Pada 1918, AIA bekerja sama dengan Federal Trade Comission (FTC) menerbitkan Approved Methods for the Preparation of Balance Sheet Statements. Dokumen ini dianggap FTC telah memberikan standar minimum untuk

melaksanakan sudit neraca. Direvisi ppada tahun 1929 dengan arahan Federal Reserve Board, dokumen ini sebagian besar membicarakan tentang prosedur audit, dan sedikit masalah akuntansi ketika dirasa perlu. Pada momen Great Depression tahun 1929, mulai muncul pertanyaan apakah praktek akuntansi telah membawa pada keputusan investment yang buruk, walaupun hal tersebut tidak pernah terbukti. Namun, momento tersebut serta terpilihnya Franklin D Roosevelt sebagai presiden dan pelaksanaan New Deal legislation membuat perubahan besar pada bidang akuntansi sehingga membawa pada periode pengembangan akuntansi yang pertama: FORMATIVE YEARS. 2. Formative Years (1930-1936) a) NYSE-AICPA Agreement Pada tahun 1930, AICPAs Special Committee on Cooperation with Stock Exchange dan New York Stock Exchange (NYSE)s Committee on Stock List untuk mengembangkan prinsip akuntansi yang harus diikuti oleh semua perusahaan yang terdaftar pada bursa, sebab menurut NYSE, perusahaan-perusahaan yang terdaftar menggunakan banyak praktek-praktek akuntansi yang undisclosed. Komite AICPA akhirnya menyarankan pada NYSE untuk membebaskan tiap-tiap perusahaan untuk memilih metode akuntansinya sendiri, dengan syarat metode tersebut harus diungkapkan serta konsisten pelaksanaannya dari tahun ke tahun. b) Formation of the SEC Securities and Exchange Commission (SEC) awalnya didirikan oleh Congress pada tahun 1934 untuk mengatur pelaksanaan Securities Act of 1933 (penerbitan surat berharga pada interstate markets) dan Securities and Exchange Act of 1934 (perdagangan surat berharga). Namun, karena muncul kebutuhan akan badan yang memiliki otoritas untuk memperbaiki dan mempertahankan standar akuntansi, maka diputuskan bahwa kecuali kalau profesi akuntansi mendirikan suatu badan otoritas untu pengembangan standar akuntansi, SEC akan menentukan metode praktek dan mandat akuntansi untuk dilaksanakan dalam pembuatan laporan. c) Committee on Accounting Procedure, 1936-1946 Committee on Accounting Procedure (CAP) didirikan untuk menggantikan peran Special Committee on Development of Accounting Principles. CAP awalnya ingin mengembangkan pernyataan prinsip akuntansi komprehensif yang akan berfungsi sebagai panduan umum untuk menyelesaikan masalah-masalah praktikal khusus. Namun, karena pembuatan dirasa terlalu lama, maka CAP memutuskan untu mengadopsi peraturan untuk mengatasi masalah khusus dan merekomendasikan metode akuntansi yang lebih baik jika dibutuhkan. Dan pada 1939, CAP mengeluarkan pernyataan prinsip akuntansi yang memiliki substantial authoritative support sebgai respon atas ASR 4. Era ini tidak banyak menghasilkan prinsip-prinsip akuntansi yang komprehensif, namun tetap menghasilkan dua kontribusi penting : Keseragaman praktek akuntansi berkembang secara signifikan. Sektor privat mulai dijadikan sebagai sumber pembuatan aturan akuntansi. 3. Postwar Period Ledakan ekonomi yang lebih besar terjadi pada masa pascaperang. Perindustrian membutuhkan semakin banyak modal agar bisa berkembang. Laporan keuangan perusahaan menjadi sumber informasi penting untuk membuat berbagai keputusan finansial kala itu. Dengan demikian, peraturan akuntansi kembali diperhatikan, terutama untuk menyelesaikan masalah keseragaman atau comparability reported earning dari perusahaan-perusahaan yang berbeda.

a) ARB 32 and the SEC Pada 1950, CAP mulai gagal membuat rekomendasi positif untuk general accounting principles. Terjadi oversupply prinsip akuntansi yang baik karena tidak adanya teori akuntansi yang mendasarinya. Hal ini menimbulkan konflik antara SEC dengan CAP. Konflik yang paling disorot saat itu adalah antara all-inclusive income statement dengan current operating performance. Menurut CAP, current operating performance akan meningkatkan comparability earning report antar perusahaan dan earning report dari tahun ke tahun untuk suatu perusahaan. Extraordinary gain or loss akan dipisahkan dari laba bersih dibawah konsep current operating performance. Namun,SEC menganggap bahwa pengecualian pada laporan keuangan yang dicantumkan pada ARB 32 tersebut dapat misleading. Pada 1950, SEC mengusulkan penggunaan all-inclusive concept, yang bertentangan dengan Accounting Research Bulletin (ARB) 32. Setelah tercapai kesepakatan dengan SEC bahwa special items akan menjadi hal terakhir dalam laporan keuangan. b) The Price Level Problem Profesi akuntansi telah mencoba mengatasi masalah ini sejak akhir tahun 1953. Namun, masalah ini tidak terselesaikan karena masih ada hambatan terutama terkait dengan depresiasi. Depresiasi yang berdasar pada historical cost tidak mengukur secara tepat pengurangan nilai aset tetap terkait daya beli saat ini sehingga terjadi overstatement laba bersih. Akhirnya masalah ini dikesampingkan dan profesi akuntansi kembali fokus pada pengembangan standar akuntansi keuangan. c) Closing Years of the CAP Kritik terhadap CAP mulai bermunculan, banyak yang merasa CAP terlalu lambat. Mulai ada ajakan pada profesi akuntansi untuk menyiapkan pernyataan prinsip-prinsip dasar akuntansi yang komprehensif. Akhirnya, pada 1957, AAA menerbitkan pernyataan konsep dan definisi mendasar yang menggunakan sesedikit mungkin pendekatan deduktif. Sedangkan pada saat itu, CAP masih menyelesaikan masalah dengan membuat peraturan secara tambal sulam tanpa mengembangkan prinsip dasar akuntansi keuangan. d) A New Approach Pada 1957 muncul usulan untuk menggunakan pendekatan konseptual (penggunaan research) sebagai bagian dari proses pengembangan prinsip akuntansi. 4. Modern Period Accounting Principle Board (APB) didirikan untuk merumuskan dalil dasar akuntansi dan prinsip akuntansi yang terkoordinasi secara luas berdasarkan dalil-dalil tersebut. Bentuk organisasi APB mirip dengan CAP, dimana memiliki 18-21 anggota AICPA yang mewakili berbagai pihak seperti KAP besar dan kecil, akademisi, dan industri swasta. Untuk merumuskan sebuah opini, dibutuhkan persetujuan dari dua pertiga anggota. a) ARSs 1 and 3 ARS 1, The Basic Postulates of Accounting yang diterbitkan pada tahun 1961 tidak menerima banyak tanggapan baik dari APB sendiri maupun dari profesi akuntansi karena publik lebih menunggu publikasi studi prinsip sebelum memberikan penilaian. ARS 3, A tentative Set of Broad Accounting Principle for Business Enterprises, yang diterbitkan tahun 1962 juga justru menuai kritik dari berbagai pihak. Sebab, sekalipun studi tersebut memberikan dampak yang signifikan terhadap pemikiran akuntansi, mereka terlalu berbeda secara radikal dengan GAAP saat itu. b) Investment Tax Credit Profesi akuntansi terbagi menjadi dua kubu, yaitu (1) mengakui tax benefit pada tahun diterima (flow-through method), dan (2) mengakui tax benefit sepanjang usia aset terkait (deferral method). Akhirnya pada November 1962 APB mengeluarkan APB Opinion No. 2 yang memerintahkan untuk menggunakan deferral method, tanpa adanya studi terlebih dahulu. Namun, pada waktu yang hampir bersamaan, tiga KAP besar menyatakan

bahwa mereka tidak akan mensyaratkan klien mereka untuk mengikuti opini tersebut. Ditambah lagi pada Januari 1963, SEC mengeluarkan ASR 96 yang membolehkan perusahaan untuk menggunakan flow-through method. Akhirnya APB mengeluarkan APB Opinion no 4 yang membolehkan penggunaan kedua metode tersebut. Karena otoritas APB semakint terdesak, pada akhir 1964 AICPA mendeklarasikan bahwa segala penyimpangan dari opini APB harus diungkapkan pada laporan keuangan yang diaudit oleh anggota AICPA. Kalaupun ada metode yang digunakan ternyata memiliki dukungan otoritas substantial, walaupun tidak tercantum dalam prinsip akuntansi tertentu, support ini harus diungkapkan juga. Jika mungkin, auditor juga harus mengungkapkan kemungkinan efek dari penyimpangan tersebut. Jika prinsip yang digunakan tidak memiliki dukungan otoritas substantial, auditor harus mengeluarkan opini disclaimer, dengan pengecualian ataupun explanatory. c) The Embattled APB Pada 1965-1067, APB cukup produktif, mengeluarkan 3 opini menarik dari 7 yang dikeluarkan. Tiga opini itu adalah akuntansi untuk rencana cost of pension, (ARS 8, Accounting for the Cost of Pension Plans) yang menerima unanimous approval, akuntansi terkait barang-barang luar biasa dan earning per share (APB Opinion no 9), dan tentang alokasi income tax (ARS 9, Interperiod Allocation of Corporate Income Taxes). d) ARS 7 and APB Statement 4 Karena ARS 1 dan 3 tidak diterima profesi, studi untuk mendiskusikan konsep dasar akuntansi serta meringkas prinsip dan praktek yang ada dilakukan. Namun, ternyata hasilnya, ARS 7, Inventory of Generally Accepted Accounting Principles for Business Enterprises tidak memiliki sesuatu yang baru karena hanya mengambil keputusankeputusan yang sudah ada kemudian mendeduksikan prinsip-prinsip akuntansi dari keputusan-keputusan itu. Karena APB telah terbukti gagal melaksanakan tugas aslinya, maka Special Committee APB merekomendasikan dewan untuk sesegera mungkin menentukan tujuan dan batasan laporan keuangan, menentukan prinsip akuntansi dan menentukan GAAP. Menganggapi rekomendasi itu, APB Statement 4 dibuat, yang isinya : Menyediakan dasar untuk mengevaluasi praktek akuntansi, untuk membantu menyelesaikan masalah akuntansi dan memandu pengembangan akuntansi keuangan. Meningkatkan pemahaman tujuan akuntansi keuangan, sifat proses dan hal-hal yang membentuknya, serta potensi dan batasan laporan keuangan dalam memberikan informasi. Pernyataan itu menangani banyak topik yang sama dengan ARS 7, yang tidak memiliki authoritative standing. APB kembali gagal untuk membuat dalil dasar dan prinsip akuntansi secara luas. e) Continuing Criticism Ada dua kritik yang disampaikan kepada APB : Pengeluaran opini APB terlalu terbatas dan terlalu lambat prosesnya. Masalah kombinasi bisnis menunjukkan bahwa proses pembuatan standar terlalu panjang serta terlalu banyak tekanan pihak luar yang tidak seharusnya terkait dengan proses. Menanggapi kritik tersebut, APB akhirnya mengadakan beberapa perubahan. ASB terlebih dahulu menyebarkan hasil diskusi terkait aspek-aspek masalah akuntansi tertentu kemudian mengumpulkan komentar dari pihak-pihak terkait. Kemudian APB membagikan poin-poin draft opini untuk melihat reaksi pihak-pihak tersebut. Setelah itu, draft opini yang resmi dibagikan kepada pihak-pihak dan mereka dimintai komentar mengenai draft tersebut. Jika dua pertiga pihak setuju, opini tersebut diterbitkan. Kontroversi mengenai masalah kombinasi bisnis dan goodwill paling memakan waktu. Berdasarkan hasil studi sebelumnya, ada beberapa pendapat yang bertentangan.

Setelah melewati beberapa kali proses, pada Juni 1970 akhirnya diperoleh keputusan bahwa size test untuk pooling of interest pada kombinasi bisnis harus dihilangkan (APB opinion no 16) dan goodwill harus diamortisasi selama paling lama 40 tahun (APN Opinion no 17). Mengingat sulitnya mencapai standar akuntansi yang pasti untuk goodwill dan kombinasi bisnis, akhirnya diadakan review prosedur penetapan prinsip akuntansi, akhirnya pada April 1971 AICPA membuat dua kelompok studi terpisah. Kelompok pertama yang dipimpin oleh Francis M. Wheat merekomendasikan dibuatnya FASB (untuk membuat standar pelaporan keuangan), Financial Accounting Foundation (memilih anggota FASB dan mendanai operasinya), dan Financial Accounting Standards Advisory Council (berkonsultasi dengan FASB untuk membuat prioritas dan gugus tugas serta untuk memberi pendapat mengenai standar yang akan dipublikasikan. Sementara kelompok kedua yang dipimpin pleh Robert M. Trueblood mengenalkan beberapa tujuan pelaporan keuangan namun tidak memberikan saran mengenai implementasinya.

The FASB : An Overview


Mechanics of Operation Tujuan FASB adalah untuk membuat standar akuntansi keuangan dan pelaporan keuangan seefisien dan selengkap mungkin. Prosedur pembuatan standar dimulai dengan identifikasi masalah. Sebuah tim dibentuk untuk mencari semua aspek masalah yang hasilnya kemudian disebar ke pihakpihak yang terkait. Setelah memperoleh pandangan pihak-pihak tersebut, draft disesuaikan kemudian dilaksanakan voting untuk mendapatkan suara. Namun, proses ini dirasa sangat politis. Assessment of the FASB Pada tahun-tahun awal terbentuknya FASB, badan ini juga sering mendapat kritik, baik terkait jumlah keputusan yang dikeluarkan, pendekatan yang digunakan maupun terkait perubahanperubahan yang akhirnya berhasil digagas oleh FASB. Berdasarkan review yang dilakukan oleh Structure Committee of Board of Trustees FAF, beberapa perubahan akhirnya dilakukan. FASB mulai banyak melibatkan konstituen serta gugus kerja didalamnya menjadi lebih transparan. Singkatnya, FASB mulai lebih banyak menggunakan sumber daya yang tersedia di luar sehingga FASB menjadi lebih sensitif terhadap konsekuensi ekonomi potensial standar yang akan dibuat sebelum akhirnya standar itu diterbitkan. Hasil FASB sampai tahun 2007 secara umum telah menghasilkan laporan keuangan yang konservatif. FASB juga mengeluarkan Statements of Financial Accounting Concepts yang berisi teori yang menjadi pilar dalam menilai standar dan praktek akuntansi. Secara umum, FASB lebih berhasil menjalankan tugasnya dibandingkan dua organisasi pendahulunya. Berikut perbandingan antara FASB, APB dan CAP:
Karakter Independensi organisasi Independensi anggota Keanggotaan CAP Bagian dari AICPA APB Bagian dari AICPA FASB Terpisah dari AICPA

Other full-time employer Harus CPA

Other full-time employer Harus CPA

Full-time employee of FASB

Anggota terdiri atas akuntan publik, pemerintahan, industri, perusahaan sekuritas, dan akademisi

Karakter Due process

CAP Sedikit, jika memang ada

APB Sangat terbatas walaupun pada akhir berdirinya menjadi semakin melebar Gagal dalam merumuskan dalil dan prinsip (ARS no.7 dan APB Statement no 4 gagal) Sebagian besar untuk ARS

FASB Lebih ekstensif dan merupakan bagian dari proses, dapat menimbulkan democratic paralysis

Standar pendukung dokumen teoritis

Tidak diusahakan

Lebih berhasil menyelesaikan kerangka kerja konseptual

Penggunaan riset

Sangat terbatas

Lebih ekstensif

Evolution of FASBs Power and Congressional Investigations Beberapa pihak berusaha untuk membatasi kekuasaan legislatif FASB. Beberapa tantangan yang dihadapi diantaranya adalah adanya kekuatan membuat standar bagi pemerintah untuk mendirikan GASB (Government Accounting Standards Board). Standar GASB cenderung mengalahkan standar yang dibuat FASB untuk entitas pemerintah. Akhirnya diputuskan bahwa pelaporan keuangan organisasi-organisasi sektor publik akan tetap menggunakan standar FASB kecuali bila lembaga tinggi organisasi tersebut menyatakan untuk menggunakan standar GASB. Selain itu, ada juga tekanan lain terkait cost pembuatan standar dan sulitnya memahami standar serta ancaman terkait independensi lembaga (adanya dominasi) SEC yang memberikan pendanaan untuk FASB. Selain ancaman tersebut, tekanan juga datang dari pihak congress yang meminta seluruh profesi diatur oleh pemerintah.

Sarbanes-Oxley Act
SOX mendirikan Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB), yang tujuannya untuk mendaftarkan kantor akuntan publik, mengatur standar audit, memeriksa kantor akuntan terdaftar, dan mengadakan kepatuhan dengan SOX. PCAOB harus berkonsultasi dengan ASB, namun juga memiliki otoritas penuh untuk membuat standar jika dirasa perlu. Selain pendirian PCAOB, SOX juga memperjelas independensi auditor, persyaratan penyimpanan catatan, peran komite audit dalam corporate governance, keterangan CEO dan CFO dalam laporan keuangan serta hukuman terhadap ketidakpatuhan. Semua peraturan ini dilakukan untuk meningkatkan kembali kepercayaan publik akibat skandal-skandal yang terjadi pada 1990 dan 2000an. Walaupun SOX terlihat mempengaruhi profesi audit saja, namun selama lebih dari tigapuluh tahun SOX telah memindahkan tanggung jawab tersebut kepada FASB. SOX juga mengadakan perubahan di segi pendanaan yang menyebabkan independensi FASB terhadap konstituen menjadi berkurang, namun di sisi lain menjadi semakin bergantung pada SEC. Implementasi SOX mendadak menjadi fokus perusahaan publik dan KAP. Adanya perubahan besar-besaran pada financial restatement dan kejahatan kerah putih, pada akhirnya memunculkan argumen Hukum sudah terlibat terlalu jauh, bahkan perusahaan mulai mengeluarkan suara untuk mengubah saja hukum yang sudah disahkan itu.

International Convergence and the Liability Crisis in Public Accounting


Karena GAAP Amerika Serikat tidak bisa diimplementasikan di seluruh dunia, maka dikenal isitlah harmonisasi (sekarang convergence) yang merefleksikan tujuan internasional ini.

Krisis kewajiban pada akuntansi publik telah menjadi masalah penting yang dialami profesi. Ada tekanan besar untuk mengubah audit menjadi suatu mekanisme pendeteksi kecurangan dimana auditor diminta melapor ke SEC ketika ada manajemen perusahaan yang bertindak tidak semestinya.

Current Role of the AICPA, SEC, and Other Groups


AICPA tidak lagi memiliki otoritas eksklusif untuk membuat peraturan audit di sektor privat karena SOX telah mengalihkan tugas pemberian saran dalam proses pembuatan standar pada ASB. Tugas AICPA sekarang adalah menjadi penjaga ketertiban self-regulation, menjadi badan pembuat standar untuk perusahaan yang lebih kecil, dan juga shopping for accounting principles. Sementara otoritas SEC saat ini adalah berupa statutory authority dalam mengatur standar akuntansi untuk perusahaan publik.otoritas tersebut berupa pendanaan terhadap aktivitas FASB (sehingga pada akhirnya FASB menjadi quasi-governmental body), penekanan terhadap FASB untuk lebih mengontrol penerimaan anggota baru, serta pengisian data keuangan lewat EDGAR (Electronic Data Gathering, Analysis and Retrieval System). Saat ini ada tiga asosiasi lain yang berkepentingan dalam proses pembuatan standar, yaitu : AAA: mensponsori beberapa studi riset akuntansi. FEI: mereview semua hasil diskusi FASB dan draft yang dikeluarkan, serta mendanai riset akuntansi dan topik terkait IMA: mengadakan riset dan menerbitkan laporan pada area akuntansi biaya dan manajemen.

Perkembangan institusi akuntansi keuangan di Indonesia


Praktik akuntansi diIndonesia dapat ditelusuri pada era penjajahan Belanda sekitar abad 17 atau sekitar tahun 1642. Jejak yang jelas berkaitan dengan praktik akuntansi di Indonesia dapat di temui pada tahun 1747, yaitu praktik pembukuan yang dilaksanakan Amphioen Socitey yang berkedudukan di Jakarta. Pada era ini Belanda memperkenalkan sistem pembukuan berpasangan (Double-entry bookkeeping) sebagaimana yang dikembangkan oleh luca Pacioli. Perusahaan VOC milik Belanda yang merupakan organisasi komersial utama selama masa penjajahan memainkan peranan penting dalam praktik bisnis di Indonesia. Kegiatan ekonomi pada masa penjajahan meningkat cepat selama tahun 1800-an hingga awal tahun 1900-an. Hal ini ditandai dengan dihapuskannya tanam paksa sehingga pengusaha Belanda banyak yang menanamkan modalnya di Indonesia. Peningkatan kegiatan ekonomi mendorong munculnya permintaan akan tenaga akuntan dan juru buku yang terlatih. Akibatnya, fungsi auditing mulai dikenalkan di Indonesia pada tahun 1907. Peluang terhadap kebutuhan audit ini akhirnya diambil oleh akuntan Belanda dan Inggris yang masuk ke Indonesia untuk membantu kegiatan administrasi di perusahaan tekstil dan perusahaan manufaktur. Internal auditor yang pertama kali datang di Indonesia adalah J.W Labrijn yang sudah berada di Indonesia pada tahun 1896 dan orang pertama yang melaksanakan pekerjaan audit (menyusun dan mengontrol pembukuan perusahaan) adalah Van Schagen yang dikirim ke Indonesia pada tahun 1907. Pengiriman Van Schagen merupakan titik tolak berdirinya Jawatan Akuntan Negara, Government Accountant Dienst yang terbentuk pada tahun 1915. Akuntan publik yang pertama adalah Frese dan Hogeweg yang mendirikan kantor di Indonesia pada tahun 1918. pendirian kantor ini diikuti kantor akuntan yang lain yaitu kantor akuntan H.Y. Voerens pada tahun 1920 dan pendirian Jawatan Akuntan Pajak Belasting Accountant Dienst. Pada era penjajahan, tidak ada orang Indonesia yang bekerja sebagai akuntan publik. Orang Indonesia pertama yang bekerja di bidang akuntansi adalah JD. Massie, yang diangkat sebagai pemegang buku pada Jawatan Akuntan Pajak pada tanggal 21 September 1929. Kesempatan bagi akuntan lokal (Indonesia) mulai muncul pada tahun 1942-1945, dengan mundurnya Belanda dari Indonesia. Sampai tahun 1947 hanya ada satu orang akuntan yang

berbangsa Indonesia yaitu Prof. Dr. Abutari. Praktik akuntansi model Belanda masih digunakan selama era setelah kemerdekaan (1950-an). Pendidikan dan pelatihan akuntansi masih didominasi oleh sistem akuntansi model Belanda. Nasionalisasi atas perusahaan yang dimiliki Belanda dan pindahnya orang-orang Belanda dari Indonesia pada tahun 1958 menyebabkan kelangkaan akuntan dan tenaga ahli. Atas dasar nasionalisasi dan kelangkaan akuntan, Indonesia pada akhirnya berpaling ke praktik akuntansi model Amerika. Namun demikian, pada era ini praktik akuntansi model Amerika mampu berbaur dengan akuntansi model Belanda, terutama yang terjadi di lembaga pemerintah. Makin meningkatnya jumlah institusi pendidikan tinggi yang menawarkan pendidikan akuntansi, seperti pembukaan jurusan akuntansi di Universitas Indonesia 1952, Institut Ilmu Keuangan (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara-STAN) 1990, Universitas Padjajaran 1960, Univeritas Sumatra Utara 1960, Universitas Airlangga 1960, dan Universitas Gajah Mada 1964, telah mendorong pergantian praktik akuntansi model Belanda dengan model Amerika pada tahun 1960. Selanjutnya, pada tahun 1970 semua lembaga mengadopsi sistem akuntansi model Amerika. Pada pertengahan tahun 1980-an, sekelompok teknokrat muncul dan memiliki kepedulian terhadap reformasi ekonomi dan akuntansi. Kelompok tersebut berusaha untuk menciptakan ekonomi yang lebih kompetetif dan lebih berorentasi pada pasar, dengan dukungan praktik akuntansi lebih baik. Kebijakan kelompok tersebut memperoleh dukungan yang kuat dari investor asing dan lembaga-lembaga internasional. Sebelum perbaikan pasar modal dan pengenalan reformasi akuntansi tahun 1980-an dan awal 1990-an, dalam praktik banyak ditemui perusahaan yang memiliki tiga jenis pembukuan, satu untuk menunjukkan gambaran sebenarnya dari perusahaan dan untuk dasar pengambilan keputusan; satu untuk menunjukkan hasil yang positif dengan maksud agar dapat digunakan untuk mengajukan pinjaman/kredit dari bank domestik dan asing; dan satu lagi yang menunjukkan hasil negatif (rugi) untuk tujuan pajak. Pada awal tahun 1990-an, tekanan untuk memperbaiki kualitas pelaporan keuangan muncul seiring dengan terjadinya berbagai skandal pelaporan keuangan yang dapat mempengaruhi kepercayaan dan perilaku investor. Skandal pertama adalah kasus Bank Duta (bank swasta yang dimiliki oleh tiga yayasan yang dikendalikan presiden Suharto). Bank Duta Go Public pada tahun 1990, tetapi gagal mengungkapkan kerugian yang terjadi. Bank Duta juga tidak menginformasi semua informasi kepada Bapepam, auditornya atau underwriternya tentang masalah tersebut. Celakanya, auditor Bank Duta mengeluarkan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Kasus ini diikuti oleh kasus Plaza Indonesia Realty (Pertengahan 1992) dan Barito Pacific Timber (1993). Rosser mengatakan bahwa bagi pemerintah Indonesia, kualitas pelaporan keuangan harus diperbaiki jika memang pemerintah menginginkan adanya transformasi pasar modal dari model casino mejadi model yang dapat memobilisasi aliran investasi jangka panjang. Berbagai skandal tersebut telah mendorong pemerintah dan badan berwenang untuk mengeluarkan kebijakan regulasi yang ketat berkaitan dengan pelaporan keuangan. Pertama, pada September 1994, pemerintah melalui IAI mengadopsi seperangkat standar akuntansi keuangan (PSAK). Kedua, pemerintah bekerja sama dengan Bank Dunia (Work Bank) melaksanakan proyek Pengembangan Akuntansi yang ditunjuk untuk mengembangkan regulasi akuntansi dan melatih profesi akuntansi. Ketiga, pada tahun 1995, pemerintah membuat berbagai aturan berkaitan dengan akuntansi dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas. Keempat, pada tahun 1995 pemerintah memasukkan aspek akuntansi/pelaporan keuangan kedalam Undang-Undang Pasar Modal. Jatuhnya nilai rupiah pada tahun 1997-1998 makin meningkatkan tekanan pada pemerintah untuk memperbaiki kualitas pelaporan keuangan sampai awal 1998, kebangkrutan konglomerat, collapsenya sistem perbankan, meningkatnya inflasi dan pengangguran memaksa pemerintah bekerja sama dengan IMF, melakukan negosiasi atas berbagai paket penyelamat yang ditawarkan IMF. Pada waktu ini kesalahan secara tidak langsung diarahkan pada buruknya praktik akuntansi dan rendahnya kualitas keterbukaan informasi (transparansi). Berikut ringkasan perkembangan praktik akuntansi di Indonesia dapat dilihat pada tabel.

Sejarah IAI
Akuntan-akuntan Indonesia pertama lulusan dalam negeri adalah Basuki Siddharta, Hendra Darmawan, Tan Tong Djoe, dan Go Tie Siem, mereka lulus pertengahan tahun 1957. Keempat akuntan ini bersama dengan Prof. Soemardjo mengambil prakarsa mendirikan perkumpulan akuntan untuk bangsa Indonesia saja. Alasannya, mereka tidak mungkin menjadi anggota NIVA (Nederlands Institute Van Accountants) atau VAGA (Vereniging Academisch Gevormde Accountants). Mereka menyadari keindonesiaannya dan berpendapat tidak mungkin kedua lembaga itu akan memikirkan perkembangan dan pembinaan akuntan Indonesia. Hari Kamis, 17 Oktober 1957, kelima akuntan tadi mengadakan pertemuan di aula Universitas Indonesia (UI) dan bersepakat untuk mendirikan perkumpulan akuntan Indonesia. Karena pertemuan tersebut tidak dihadiri oleh semua akuntan yang ada maka diputuskan membentuk Panitia Persiapan Pendirian Perkumpulan Akuntan Indonesia. Panitia diminta menghubungi akuntan lainnya untuk menanyakan pendapat mereka. Dalam Panitia itu Prof. Soemardjo duduk sebagai ketua, Go Tie Siem sebagai penulis, Basuki Siddharta sebagai bendahara sedangkan Hendra Darmawan dan Tan Tong Djoe sebagai komisaris. Surat yang dikirimkan Panitia kepada 6 akuntan lainnya memperoleh jawaban setuju.

Perkumpulan yang akhirnya diberi nama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) akhirnya berdiri pada 23 Desember 1957, yaitu pada pertemuan ketiga yang diadakan di aula UI pada pukul 19.30. Ketika itu, tujuan IAI adalah: 1) Membimbing perkembangan akuntansi serta mempertinggi mutu pendidikan akuntan. 2) Mempertinggi mutu pekerjaan akuntan. Saat ini IAI merupakan satu-satunya wadah yang mewakili profesi akuntan Indonesia secara keseluruhan. IAI merupakan anggota International Federation of Accountants, organisasi profesi akuntan dunia yang merepresentasikan lebih 2,5 juta akuntan yang bernaung dalam 167 asosiasi profesi akuntan yang tersebar di 127 negara. Sebagai anggota IFAC, IAI memiliki komitmen untuk melaksanakan semua standar internasional yang ditetapkan demi kualitas tinggi dan penguatan profesi akuntan di Indonesia. IAI juga merupakan anggota sekaligus pendiri ASEAN Federation of Accountants (AFA). Saat ini IAI menjadi sekretariat permanen AFA.

Keanggotaan IAI
Pada awalnya keanggotaan IAI adalah perseorangan yang diarahkan untuk memilih Kompartemen sesuai bidang kerja anggota. Anggota IAI bergabung dalam 4 (empat) Kompartemen yang dibentuk IAI kala itu, yaitu IAI Kompartemen Akuntan Publik (IAI KAP), IAI Kompartemen Akuntan Pendidik (IAI KAPd), IAI Kompartemen Akuntan Manajemen (IAI KAM), dan IAI Kompartemen Akuntan Sektor Publik (IAI KASP). Pada tanggal 23 Mei 2007 IAI melaksanakan Kongres Luar Biasa (KLB) yang memutuskan IAI adalah organisasi perofesi yang beranggotakan Perseorangan dan Asosiasi. IAI KAP merubah formatnya menjadi Asosiasi akuntan publik independen dengan nama Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) pada tanggal 24 Mei 2007. IAI KAP dibubarkan sesuai surat keputusan DPN IAI tanggal 4 Juni 2007 Nomor Kep-22/SK/DPN/IAI/V/2007. Selanjutnya IAPI pada saat yang sama ditetapkan menjadi anggota asosiasi IAI sesuai surat keputusan DPN IAI tanggal 4 Juni 2007 nomor Kep-23/SK/DPN/IAI/V/2007. IAI KAM juga merubah formatnya menjadi Asosiasi independen dengan nama Institut Akuntan Manajemen Indonesia (IAMI). Pada tanggal 1 September 2009 IAI KAM dibubarkan, dan IAMI ditetapkan menjadi anggota asosiasi IAI sesuai surat keputusan DPN IAI nomor Kep72/SK/DPN/IAI/IX/2009. Pada saat Kongres XI IAI dilaksanakan 10 Desember 2012, DPN IAI Periode 2010-2014 diberi amanah untuk mengkaji usulan perubahan keanggotaan IAI serta berwenang menentukan tindakan berikutnya. Kongres Luar Biasa IAI dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2012 dengan keputusan IAI adalah organisasi profesi yang beranggotakan perseorangan, terdiri dari Anggota Utama, Anggota Madya dan Anggota Muda.

Referensi
Wolk, Tearney, & Dodd, Accounting Theory A Conceptual and Institutional Approach. DhyahSetyorini, M.Si., Ak., PengembanganStrukturInstitusionalAkuntansiKeuangan (Bahan Ajar) Anis Chariri, SE, MCom, PhD, Akt, SEJARAH PERKEMBANGAN AKUNTANSI DI INDONESIA http://erika0391989.wordpress.com/2012/02/08/sejarah-dan-perkembangan-akuntansi/ http://tiaraaccounting.blogspot.com/2012/10/perkembangan-akuntansi-khususnya-di.html http://anggunfreeze.blogspot.com/2012/11/perkembangan-akuntansi-di-as.html http://theearthdew.wordpress.com/2012/05/27/accounting-theory-development-of-theinstitutional-structure-of-financial-accounting/ http://www.iaiglobal.or.id/v02/tentang_iai.php