Anda di halaman 1dari 15

Karet

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Untuk tumbuhan penghasil karet, lihat artikel para.

Lateks karet tengah disadap. Karet adalah polimer hidrokarbon yang terkandung pada lateks beberapa jenis tumbuhan. Sumber utama produksi karet dalam perdagangan internasional adalah para atau Hevea brasiliensis (suku Euphorbiaceae). Beberapa tumbuhan lain juga menghasilkan getah lateks dengan sifat yang sedikit berbeda dari karet, seperti anggota suku ara-araan (misalnya beringin), sawo-sawoan (misalnya getah perca dan sawo manila), Euphorbiaceae lainnya, serta dandelion. Pada masa Perang Dunia II, sumbersumber ini dipakai untuk mengisi kekosongan pasokan karet dari para. Sekarang, getah perca dipakai dalam kedokteran (guttapercha), sedangkan lateks sawo manila biasa dipakai untuk permen karet (chicle). Karet industri sekarang dapat diproduksi secara sintetis dan menjadi saingan dalam industri perkaretan.

Daftar isi

1 Biokimia 2 Biosintesis 3 Pemanenan 4 Penemuan 5 Manfaat 6 Lihat pula

Biokimia
Karet adalah polimer dari satuan isoprena (politerpena) yang tersusun dari 5000 hingga 10.000 satuan dalam rantai tanpa cabang. Diduga kuat, tiga ikatan pertama bersifat trans dan selanjutnya cis. Senyawa ini terkandung pada lateks pohon penghasilnya. Pada suhu normal, karet tidak berbentuk (amorf). Pada suhu rendah ia akan mengkristal. Dengan meningkatnya suhu, karet akan mengembang, searah dengan

sumbu panjangnya. Penurunan suhu akan mengembalikan keadaan mengembang ini. Inilah al asan mengapa karet bersifat elastik.

Biosintesis
Lateks dibentuk pada permukaan benda-benda kecil (disebut "badan karet") berbentuk bulat berukuran 5 nm sampai 5 m yang banyak terdapat pada sitosol sel-sel pembuluh lateks (modifikasi dari floem). Sebagai substratnya adalah isopentenil difosfat (IPD) yang dihasilkan sel-sel pembuluh lateks. Dengan bantuan katalisis dari prenil transferase, pemanjangan terjadi pada permukaan badan karet yang membawa suatu polipeptida berukuran 14 kDa yang disebut rubber elongation factor (REF). Sebagai bahan pembuatan starter, diperlukan pula 3,3dimetilalil difosfat sebagai substrat kedua. Suatu enzim isomerase diperlukan untuk tugas ini.

Pemanenan
Lateks diperoleh dengan melukai kulit batangnya sehingga keluar cairan kental yang kemudian ditampung. Cairan ini keluar akibat tekanan turgor dalam sel yang terbebaskan akibat pelukaan. Aliran berhenti apabila semua isi sel telah "habis" dan luka tertutup oleh lateks yang membeku.

Penemuan
Karet diyakini dinamai oleh Joseph Priestley, yang pada 1770 menemukan lateks yang dikeringkan dapat menghapus tulisan pensil. Ketika karet dibawa ke Inggris, dia diamati bahwa benda tersebut dapat menghapus tanda pensil di atas kertas. Ini adalah awal penamaan rubber dalam bahasa Inggris. Di tempat asalnya, di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, karet telah dikumpulkan sejak lama. Peradaban Mesoamerika menggunakan karet dari Castilla elastica. Orang Amerika Tengah kuno menggunakan bola karet dalam permainan mereka (lihat: permainan bola Mesoamerika). Menurut Bernal Diaz del Castillo, Conquistador Spanyol sangat kagum terhadap pantulan bola karet orang Aztek dan mengira bahwa bola tersebut dirasuki roh setan. Di Brasil orang lokal membuat baju tahan air dari karet. Sebuah cerita menyatakan bahwa orang Eropa pertama yang kembali ke Portugal dari Brasil dengan membawa baju anti-air tersebut menyebabkan orang-orang terkejut sehingga ia dibawa ke pengadilan atas tuduhan melakukan ilmu gaib.

Manfaat
Karet adalah bahan utama pembuatan Ban, beberapa Alat-alat kesehatan, alat-alat yang memerlukan kelenturan dan tahan goncangan. dibeberapa tempat salah satunya Perkebunan karet di Jember biji karet bisa dijadikan camilan dengan proses tetentu, rasanya gurih namun jangan berlebihan karena kadang membuat pusing kepala.

Lihat pula PENDAHULUAN Karet (Havea brasiliensis) merupakan salah perkebunan. Susunan taksonomi sebegai berikut; Divisi : Spermatophyta Sub Divisi : Dicotyledonae satu komoditas

Kelas : Euphorbiales SUku : Euphorbiaceae Marga : Havea Jenis : Havea brailiensis Tanaman karet berasal dari Brasil. Tanaman ini merupakan sumber utama bahan karet alam dunia. Sebagai penghasil lateks, tanaman karet merupakan satu-satunya yang dikebunkan secara besar-besaran. Devisa negara yang dihasilkan dari komditas karet ini cukup besar. Luas areal perkebunan karet di Indonesia pada tahun 2009 mencapai 3,435,417 Ha dengan total produksi 2,440,346 tons. Jumlah petani yang terlibat dalam usaha budidaya karet ini ini adalah 2,075,954 KK dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 195,325 orang. Volume ekspor komoditas karet pada tahun 2008 mampu menghasilkan devisa bagi negara sebesar US $ 6,056,572 dari total ekspor sebesar 2,295,456 tons. TEKNIS BUDIDAYA 1. Lahan dan Agroklimat Faktor lahan mempunyai andil yang cukup besar dalam mendukung produktifitas karet. Agar memperoleh pertumbuhan dan produktifitas yang baik, tanaman karet memerlukan persyaratan tumbuh sebagai berikut; a. Tanah Tanah latosol dan aluvial bisa dikembangkan untuk penanaman karet Kadar keasaman (pH) 5-6 Dapat tumbuh di ketinggian 1 - 600 m diatas permukaan laut b. Iklim Dapat tumbuh dengan baik pada 15deg LU - 10deg LS Suhu udara 25deg-30deg C Curah hujan optimal 2000-2500 mm/tahun 2. Kualitas dan Standar Mutu Benih Kualitas dan standar mutu benih harus diperhatikan mulai dari biji untuk batang bawah sampai bibit karet yang siap ditanam dilapang (klon). > Biji batang bawah

Berasal dari pohon induk yang berumur minimal 10 tahun dan berasal dari klon diketahui pasti. Biji masih segar, bernas, mengkilat, tidak berlobang dan tidak cacat. > Biji yang sudah disemai dan akan dipindahkan ke pembibitan. Telah berkecambah sebelum hari ke-22, akar tunggang kecambah lurus, biji bebas hama dan penyakit > Bibit batang bawah untuk okulasi Pertumbuhan bibit relatif seragam, sudah mencapai diameter batang tertentu untuk diokulasi hijau atau coklat. >Mata okulasi entres Berasal dari kebun kayu okulasi (kebun entres) yang sudah dimurnikan, terawat baik dan sehat. > Stum mata tidur Akar tunggang lurus, tidak bercabang, mempunyai akar lateral 5-10 cm dan panjang akarnya 35cm. Umur stum tidak lebih dari 12 bulan. >Bahan tanam dalam polybag Tinggi daun payung pertama diukur dari pertautan okulasi sampai titik tumbuh >25 cm dan diameter minimal 8 mm diukur pada ketinggian 10 cm dari pertautan okulasi. Daun hijau segar dan sehat. 3. Klon Karet Klon di Indonesia dihasilkan oleh lembaga riset pemerintah atau swasta, misalkan Balai penelitian Karet Getas, Sungai Putih atau Sembawa atau Bah Lias Riset PT London Sumatera Plantation. Klon Lateks : BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 260, PB 217 Klon Lateks-Kayu : BPM 1, PB 330, PB 340, RRIc 100, AVROS 2037, IRR 5, IRR 32 Klon Kayu : IRR 70, IRR 71, IRR 72, IRR 78 4. Pengolahan Tanah Pengolahan tanah dimulai dengan cara penebangan/pembabatan pohon-pohon besar dan alang-alang dengan herbisida dan membasmi sisa penyakit dengan fungisida > Tanah dengan dengan kemiringan diatas 10deg dibuat teras, lebar teras minimal 1.5 m, jarak antar teras 6 untuk jarak tanam (6x3) m.

Pada tanah yang landai dibuat rorak yang berguna untuk mencegah erosi dan sabagai aliran air. > pemancangan dilakukan dengan jarak tanam dan kerapatan pohon yang diinginkan. Untuk kerapatan per Ha 550 pohon maka jarak tanam adalah 6 x 3 meter. > Lubang tanam dibuat minimal 2 minggu sebelum tanam. Pada titik pancang dibuat lobang tanam dengan ukuran minimal 40 cm x 40 cm x 40 cm. > Sebelum penanaman dilakukan pemupukan untuk memacu pertumbuhan akar karet yang baru ditanam. 5. Penanaman Bibit karet dalam polybag yang siap ditanam kelapang ditandai dengan payung daun terakhir sudah tua. Penanaman dilakukan dengan cara kantong polybag dibuka, bibit diletakkan ditengah-tengah lubang tanam, kemudian ditimbun dengan tanah. Penanaman sebaiknya dilakukan saat musim hujan. Apabila ditanam pasa musim panas sebaiknya lubang tanam disiram dahulu. 6. Penyulaman Bibit yang baru ditanam harus diperiksa setiap 1-2 minggu. Bibit yang mati segera disulam agar populasi tanaman dapat dipertahankan. 7. Pembuangan tunas palsu dan tunas cabang Tunas palsu adalah tunas yang tumbuh bukan dari mata okulasi. Tunas palsu ini harus dibuang sebelum berkayu. Tunas cabang adalah tunas yang tumbuh pada batang utama pada ketinggian sampai dengan 2.75 - 3 m. Pemotongan tunas cabang dilakukan sebelum tunas berkayu. 8. Pembentukan Percabangan Pembentukan dan perangsangan percabangan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti penyanggulan, pengguguran daun, pengikatan batang, pembuangan ujung tunas, pemenggalan ujung batang dan pengeratan batang. Cara yang dianjurkan adalah dengan penyanggulan. 9. Penanaman Tumpang Sari

Tumpangsari bertujuan meningkatkan produktivitas lahan, mengurangi resiko rendahnya harga pada suatu komoditas, dan memberikan pendapatan pada masa sebelum produksi. 10. Pemupukan Pemupukan bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan dan matang sadap. Pemberian pupuk sebaiknya dilakukan pada saat pergantian musim dari musim penghujan ke musim kemarau.

Rekomendasi umum pemupukan tanaman karet HAMA DAN PENYAKIT 1. Hama yang sering menyerang tanaman karet adalah; > Serangga: rayap, uret tanah, kutu tanaman, dan tungau > Siput > Tikus > Binatang menyusui: babi hutan, rusa, kera gajah dsb 2. Penyakit yang sering dijumpai adalah > Penyakit akar: akar putih, akar merah > Penyakit batang: jamur upas, kanker bercak, busuk pangkal batang > Penyakit bidang sadap: kanker garis, mouldy rot, kering alur sadap > Penyakit daun: penyakit embun tepung, colletotrichum, penyakit phytophthora, penyakit corynespora Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan penanaman klon yang tahan terhadap penyakit, memberikan pupuk dan fungisida dengan dosis dan waktu yang tepat. PENYADAPAN 1. Penentuan Matang Sadap Dikatangan matang sadap jika lilit batang sudah mencapai 45 cm pada ketinggian 1 m, dan jumlah tanaman yang matang sadap 60% dari

populasi. Penyadapan dapat dilakukan mulai dari ketinggian 130 cm diatas pertautan okulasi dengan sudut sadapan 30deg-40deg 2. Peralatan Sadap Peralatan sadap terdiri dari Mal sadap, pisau sadap, Talang lateks, Mangkuk, Cincin mangkuk, Tali cincin, Meteran, Pisau mal, dan Quadri atau sigmat. 3. Penggambaran Bidang Sadap Untuk menggambarkan bidang sadap digunakan mal sadap. langkahlangkah yang harus dilakukan adalah; > Seng dipakai pada bagian ujung sebelah atas kayu dengan kemiringan 30-45 deg > Kayu beserta keping seng diletakan pada batang pohon, ujung seng tidak diarahkan kesebelah kiri kayu. > Tegakkan pangkal kayu tepat diatas tinggi rata-rata pertautan okulasi > Keping seng dililitkan pada sebelah kiri batang pohon > Buat garis mengikuti seng tersebut, irisan sadap dibuka mengikuti garis tersebut dengan panjang setengah lingkaran batang 4. Pelaksanaan Penyadapan > Kedalam irisan 1-1.5 mm dari lapisan cambium kayu > Tebal irisan kulit (konsumsi kulit) 1.5-2 mm > Konsumsi kulit diberi patokan dengan membuat titik dengan cat putih atau goresan pada bagian bawah bidang sadap. Jarak antara 2 titik menunjukan batas konsumsi kulit per bulan yaitu 5 cm diatas pertautan okulasi. > Waktu penyadapan pada pagi hari antara pukul 05.00 - 06.00 pagi, sedangkan pengumpulan lateksnya dilakukan antara pukul 08.00 10.00 pagi. PRAKOAGULASI 1. Penyebab terjadinya prakoagulasi Prakoagulasi merupakan pembekuan pendahuluan yang menghasilkan lumps atau gumpalan pada cairan getah sadap. Prakoagulasi terjadi karena kemantapan bagian koloidal yang terkandung dalam lateks

berkurang. Bagian-bagian kolidal ini kemudian menggumpal menjadi satu dan membentuk komponen yang lebih besar dan membeku. 2. Tindakan Pencegahan Prakoagulasi Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah prakoagulasi adalah; > Menjaga kebersihan alat yang dipakai > Mencegah pengenceran lateks dari kebun dengan air kotor > Memulai penyadapan pada pagi hari supaya bisa segera sampai pabrik pengolahan, sebelum udara panas PENGOLAHAN KARET 1. Pengolahan karet sheet pengolahan karet sheet adalah mengubah lateks segar menjadi lembaran-lembaran sheet melalui proses penyaringan, pengenceran, pembekuan, pengggilingan, dan pengasapan 2. Pengolahan Crepe mengubah lateks segar melalui proses penyaringan, pengenceran, pembekuan, penggilingan dan pengeringan menjadi lembaran crepe. 3. Pengolahan karet Spesifikasi Teknis lateks disaring dalam bak atau tangki sehingga terbentuk bongkahan atau koagulum kemudian dipotong-potong, dilakukan pembutiran dengan mesin pelletiser lalu dicuci dikeringkan dengan mesin dan ban berjalan. Hasilnya dikempa agar ukuran seragam kemudian dikemas dengan polyethylene.
STANDAR MUTU BAHAN TANAM KARET (Hevea brasiliensis) UNTUK BATANG ATAS DAN BATANG BAWAH

Oleh : Yeti Ernaningtyas,S.Si,MP PBT BBP2TP Medan Tanaman karet (Hevea brasiliensis) adalah tanaman tahunan, yang merupakan salah satu komoditi unggulan tanaman perkebunan. Pengembangan perkebunan karet memberikan peranan penting bagi perekonomian nasional yaitu sebagai sumber devisa, bahan baku industri

dan berperan dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Dalam Woelan, 2012 menyatakan rata-rata produktivitas sampai saat ini masih tergolong rendah yaitu 600 700 kg/ha/th (2,37 ton). Rendahnya produktifitas ini selain penerapan teknologi budidaya seperti pemupukan dan pemeliharaan kurang, yang lebih pokok adalah masalah penggunaan bahan tanam. Penggunaan benih unggul bermutu untuk komoditi karet masih 41% (Disbun Sumut, 2012). Menggunakan bahan tanam karet yang bermutu merupakan kunci sukses menuju agribisnis karet yang menguntungkan secara berkesinambungan. Kesalahan dalam memilih bahan tanam karet akan dirasakan selama umur ekonomis tanaman. Dalam Suhendry I, 2012 menyatakan bahwa penggunaan bibit tidak bermutu akan berakibat : a. Tanaman yang tidak berkualitas memiliki heterogenitas tinggi, pertumbuhan lambat dan produktivitas lambat. b. Pemeliharaan yang optimal tetap tidak memberikan manfaat. c. Tidak ada sistem eksploitasi yang mampu memberikan hasil tinggi dalam jangka panjang secara konsisten. Sehingga penggunaan benih berkualitas yang membawa sifat genetik unggul (klon unggul) mutlak harus dilaksanakan. Bibit bermutu haruslah secara fisik memenuhi ukuran pertumbuhan yang normal, secara fisiologi memiliki daya hidup yang baik, dan secara genetis terdiri dari klon yang asli dan murni. A. Batang Atas (Entres) Kebun entres merupakan tempat mengkoleksi material genetik sebagai sumber mata tunas yang akan tumbuh sebagai batang atas tempat lateks diperoleh. Dalam budidaya tanaman karet, bahan tanaman yang lazim digunakan sampai saat ini adalah bahan tanam klonal yang diperbanyak secara okulasi. Hal ini dikarenakan tanaman karet yang berasal dari biji (seedling) memiliki keragaman yang cukup besar. Dibandingkan dengan bibit seedling, penggunaan bahan tanam klonal sangat menguntungkan karena produktivitas tanaman lebih tinggi, masa tanaman belum menghasilkan lebih cepat dan tanaman lebih seragam. Perbedaan produksi tanaman karet asal biji (seedling) dan tanaman karet klonal seperti terlihat pada tabel berikut (Indraty, 2010). Tabel 1. Perbedaan Produksi Tanaman Karet Asal biji (Seedling) dan Tanaman Karet Klonal

Tabel 1 diatas menunjukkan adanya perbedaan yang sangat jelas antara produksi tanaman yang berasal dari biji dan tanaman yang berasal dari klon. Pada sadap tahun pertama dan kedua tanaman seedling lebih tinggi dibanding tanaman karet klonal. Namun pada tahun sadap ketiga dan seterusnya produksi tanaman karet klonal jauh lebih tinggi. Ini berarti bahwa tanaman karet yang diperbanyak dengan cara okulasi mampu menaikkan produksi setiap tahun secara nyata. Tanaman karet hasil okulasi merupakan tanaman klonal yang pertumbuhannya seragam, sifat karakteristiknya lebih mendekati induknya dan variasi antar individu relatif sangat kecil. Dalam perbanyakan okulasi terdapat dua bagian tanaman yang disambung yaitu batang bawah yang dilengkapi dengan akar dan batang atas yang akan diharapkan hasilnya. Batang bawah merupakan tanaman dari biji (seedling). Dimana genetik biji untuk batang bawah sangat menentukan kejaguran dan produksi tanaman karet. Batang bawah diharapkan memiliki perakaran yang kuat dan memiliki daya serap zat hara yang baik. Perbanyakan dengan okulasi memerlukan dukungan kebun entres sebagai sumber mata entres. Kebun entres harus memenuhi kriteria: 1. Umur Maksimal 10 Tahun Koleksi tanaman entres yang lebih dari 10 tahun dapat menyebabkan penurunan potensi genetik yang mengakibatkan Tingkat juvenilitas rendah, pertumbuhan lingkar batang lambat, kulit tipis, berbunga sebelum waktunya dan daya hasil rendah 2. Pertumbuhan Batang Orthotrop 3. Klon Jelas Kebun entres yang baik apabila kemurnian satu blok klon mencapai 100%. Material genetik yang dikoleksi terdiri klon-klon yang dianjurkan.Hasil lokakarya pemuliaan tanaman pada tahun 2009 telah menghasilkan rekomendasi klon periode 2010-2014 adalah (Woelan, 2012): Klon penghasil lateks : IRR 104; IRR 107; IRR 220; BPM 24; PB

260; dan PB 330. Klon penghasil lateks-kayu : IRR 5; IRR 39; IRR 42; IRR 112; IRR 118; IRR 119; IRR 220; dan RRIC 100. 4. Lokasi kebun entres Lokasi untuk kebun entres mempunyai persyaratan sebagai berikut (Subendi dan Raharjo, 2010): Lahan tidak tergenang air. Lahan kebun entres diusahakan pada tempat yang datar (kemiringan 0-10%). Tanahnya subur, bahan organik tinggi, bebas dari hama dan sumber penyakit. Dekat dengan sumber mata air untuk memudahkan penyiraman. Dekat jalan dan emplasmen untuk memudahkan pengontrolan/pengangkutan.

Mutu fisik batang atas juga menyangkut okulasi. sumber Kayu mata kesegaran okulasi okulasi kayu sebagai sebaiknya

segera dipakai setelah pemotongan dari tanaman induknya. Mata tunas yang baik adalah yang berasal dari kebun entres yang sehat, umurnya hampir sama dengan umur bibit batang bawah dan jenis mata untuk okulasi coklat (umur batang bawah 7 bulan dan berwarna coklat) adalah mata ketiak daun. Standar mutu mata okulasi atau entres ialah (Siagian, 2010): Berasal dari kebun entres yang terawat baik sesuai anjuran Umur kayu okulasi setelah penyerongan kurang dari 3 hari dan jaringan masih segar Berasal dari klon anjuran komersial dengan kemurnian 100%

Mata tunas yang berasal dari ketiak daun digunakan untuk okulasi coklat (umur batang bawah 7 bulan dan berwarna coklat) dan mata sisik yang berasal dari daun yang rudimenter digunakan untuk okulasi tanaman muda (3-4 bulan).

A. Biji Untuk Batang Bawah Biji untuk batang bawah berasal dari kebun monoklonal yang memiliki luasan minimal 10 ha dan dari klon anjuran. Hal ini dikarenakan penyerbukan bunga dilakukan oleh serangga sehingga induk betina dapat diketahui dengan pasti sedangkan induk jantan tidak diketahui pasti. Maka luasan sumber benih ditentukan dan dari kebun monoklonal, dengan harapan penyerbukan bunga yang dibantu oleh serangga berasal dari serbuk sari yang sama dengan induk betina. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi produksi biji karet antara lain umur tanaman, jarak tanaman, keadaan penyakit daun/bunga, pemupukan, sifat fertilitas bunga dan pengaruh iklim (Wycherly, 1971). Dalam Napitupulu (1977) menyatakan bahwa makin dewasa pohonnya, produksi buah makin banyak dan kemudian menurun pada tanaman tua. Dikatakan bahwa hasil yang paling banyak terdapat pada umur antara 10 20 tahun. Karena keberhasilan pembuahan secara alami pada tanaman karet sangat rendah yaitu berkisar 0% - 10% ( 4%) (Siagian, 2010). Maka untuk mendapatkan produksi biji yang banyak, kebun sumber benih ditentukan berumur 10 tahun. Selama ini masih belum ada kebun sumber benih khusus untuk menghasilkan biji, maka kebutuhan biji untuk batang bawah diambil dari kebun produksi monoklonal yang berasal dari salah satu klon anjuran. Untuk mendapatkan benih dengan mutu fisiologis yang baik, terlebih dahulu harus ditentukan tempat-tempat pengambilan benih yang sesuai dengan klon-klon anjuran. Adapun syarat kebun sumber biji untuk batang bawah (Anonim, tanpa tahun): Terdiri dari klon monoklonal anjuran untuk sumber benih. Kemurnian klon minimal 95%. Umur tanaman 10-25 tahun. Pertumbuhan normal dan sehat. Penyadapan sesuai norma. Luas blok minimal 15 Ha. Topografi relative datar. rekomendasi klon periode 2010-2014, yaitu biji karet anjuran untuk pembibitan batang bawah antara lain: AVROS 2037, GT1, PB 260 dan RRIC 100, PB 330 dan BPM 24 (Daslin A. dkk, 2009). Setiap jenis biji mempunyai ciri/bentuk atau motif yang dapat dibedakan dari jenis yang lain. Pada Tabel 2 tertera deskripsi beberapa biji anjuran untuk batang bawah.

Berdasarkan hasil lokakarya pemuliaan tanaman karet pada tahun 2009 menghasilkan

Tabel 2. Deskripsi Biji dari Beberapa Klon Anjuran untuk Batang Bawah

Deskripsi biji karet anjuran untuk batang bawah perlu diketahui, agar kesalahan dalam pemilihan biji untuk batang bawah tidak terjadi. Kesalahan dalam penggunaan batang bawah dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi karet. Selain itu keseragaman dalam penggunaan batang bawah juga mempengaruhi keserempakan waktu produksi. Penggunaan biji karet yang bermutu baik yang berasal dari klon anjuran dapat meningkatkan produksi batang atas sampai 20% (Sakhibun dan Husin M., 1990). Pengadaan benih sebagai sumber batang bawah merupakan tahap awal dari suatu proses pertanaman dan sangat menentukan keberhasilan suatu program penanaman. Biji karet yang dikumpulkan dari pohon pada saat masak fisiologis, dimana biji akan merekah dan jatuh dari pohon. Dengan demikian kebun sumber benih hendaknya mendapat perlakuan sebagai berikut (Siagian, 2010): Satu bulan sebelum biji jatuh, areal dibawah pohon dibersihkan/disiangi dan dibebaskan dari biji-biji yang lama. Kemudian pengumpulan biji dilakukan secara serentak setiap dua hari sekali. Biji yang telah dikumpul diseleksi untuk memisahkan biji yang baik dan jelek agar diperoleh mutu biji yang bernas. Seleksi biji dilakukan secara manual dan visual atau menggunakan alat pental biji karet. Adapun seleksi secara manual biji memiliki ciri-ciri antara lain warna benih mengkilap, permukaan licin, bentuk normal, tidak cacat dan bebas penyakit serta memiliki daya lenting yang tinggi dan nyaring apabila dijatuhkan di lantai. Seleksi secara visual dengan uji kesegaran biji dengan cara membelah biji dan diamati endosperm (daging buah) dan kotiledonnya (keping lembaga). Uji kesegaran ini sebagai pendugaan kecambah. Jika kesegaran biji tinggi, maka daya kecambah juga tinggi. Sebaiknya kesegaran biji tidak

kurang dari 70% dan biji karet yang mempunyai kesegaran dibawah 50% tidak dapat diterima untuk benih batang bawah (Siagian N., 2010). Biji yang tergolong baik mempunyai ciri sebagai berikut (Sagala, 2012): Daging buah (endosperm) menunjukkan warna putih dan masih segar, serta kotiledon masih rapat (kelas I) Daging buah berwarna putih agak kekuningan, kotiledon terbuka tidak lebih dari 1 mm (kelas II) Jika daging buah berwarna kuning, kuning kehitaman serta lembek dan berminyak maka biji sudah jelek dan tidak akan mampu tumbuh menjadi kecambah normal (biji afkir masuk kelas III dan IV). Biji karet tergolong rekalsitran maka biji yang telah dipilih dan diseksi harus segera disemaikan dan paling lama 6 hari dari biji jatuh (Siagian dan Suhenry, 2006). Untuk biji yang telah jatuh lebih dari tiga hari, disarankan dilakukan perendaman satu sampai dua malam dalam air mengalir sebelum disimpan untuk meningkatkan kadar air. Jika biji tidak langsung dikemas, maka penyimpanan dilakukan dengan cara ditebar di lantai di area terlindung dari sinar matahari langsung, lama penyimpanan dapat mencapai 4-5 hari dengan daya tumbuh 60%. Untuk pengiriman jarak jauh, pengawetan dillakukan dengan cara mengemas biji didalam kantong plastik berlubang ditambah serbuk gergaji yang lembab. Daftar Pustaka Anonim, tanpa tahun. Pengelolaan biji karet untuk bibit. Balai Penelitian Sembawa.pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/wr315093.pdf. akses 12 nopember 2011

Daslin A. dkk, 2009. Bahan Tanam Klon Karet Unggul. Balai Penelitian Sungei Putih Pusat Penelitian Karet. Dinas Perkebunan Propinsi Sumatera Utara. Kebijakan Pembinaan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan. Makalah yang disampaikan dalam Kegiatan Pembinaan dan Inventarisasi Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Dinas Perkebunan Propinsi Sumatera Utara. 28 29 Juni 2012. Indraty, Indyah S. 2010. Mutu Entres untuk Tanaman Karet. Dalam Media perkebunan edisi 85 hal 56-58. Jakarta Pusat.

Napitupulu, L.A. 1977. Masalah Pengadaan Biji Karet dan Pengawasan Mutu. Balai Penelitian Perkebunan Medan. Ex.7709. Sagala, Aidi D. 2012. Teknik Pengelolaan Benih Tanaman Karet. Makalah yang disampaikan pada Pelatihan Pembinaan dan Inventarisasi Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Dinas Perkebunan Propinsi Sumatera Utara pada Tanggal 28-29 juni 2012. Sagala, Aidi D. Dan Sayurandi. 2010. Teknik Identifikasi dan Pengenalan Klon Unggul 20102014. Makalah yang disampaikan pada Magang Petugas Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Medan pada tanggal 30 Nopember 1 Desember 2010. Pusat Penelitian Karet Sungei Putih. Sakhibun dan Husin, M. 1990. Hevea Seed: Its Characteristics, Collection and Germination. Planterse Bulletin. 202. P.3-8 Siagian, Nurhawaty. 2010. Sifat dan Penanganan Biji Karet. Makalah yang Disampaikan pada Magang Petugas Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Medan pada Tanggal 30 Nopember 1 Desember 2010. Pusat Penelitian Karet Sungei Putih. Siagian, N dan Suhenry, I., 2006. Teknologi Terkini Pengadaan Bahan Tanam Karet Unggul. Balai Penelitian Sungei Putih Pusat Penelitian Karet. Subendi, Ahmad dan Raharjo, Budi, 2010. Petunjuk Teknis Pembibitan Tanaman Karet (Materi Pelatihan Agribisnis bagi KMPH) BPTP Sumatera Selatan. www.merang-redd.org/.../2reports.html. akses 8 agustus 2011. Suhenry I, 2012. Standar Mutu Bahan Tanam (benih) Karet Unggul. Slide yang disampaikan pada magang pengawas benih tanaman perkebunan pada tanggal 13-15 Pebruari 2012. Balai Penelitian Sungai Putih. Woelan, Sekar. 2012. Identifikasi Klon Unggul Baru Penghasil Lateks dan Lateks-Kayu. Makalah yang disampaikan pada magang petugas pengawas benih tanaman BBP2TP Medan pada tanggal 13-15 Pebruari 2012 . Pusat Penelitian Karet Sei Putih. Wycherly, P.R. 1971. Hevea Seed. The Planter, 47 (544, 545 & 546), 1-2.