Anda di halaman 1dari 19

Dimuat di Lintasan Ekonomi, Vol. XX No. 2, Juli 2003, hal.

104-14 (Penerbit: Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya) Skandal Korporasi1 dan Akuntan Gugus Irianto Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya

Abstraksi: Runtuhnya berbagai perusahaan raksasa di Amerika Serikat telah mewarnai wajah dunia bisnis di awal abad ini. Enron, WorldCom, Kmart Corp., dan sederet nama perusahaan raksasa lainnya berguguran oleh berbagai sebab, diantaranya adalah karena adanya manipulasi pembukuan. Implikasi dari berbagai skandal tersebut diantaranya adalah tuntutan di pengadilan (litigasi) terhadap auditor independen. Litigasi terhadap auditor independen antara lain disebabkan oleh adanya expectation gap antara auditor independen dan pemakai informasi keuangan dalam memandang tanggung jawab auditor dalam mendeteksi kecurangan. Fakta demikian memerlukan perhatian seksama dari akuntan, profesi akuntan dan pendidikan akuntansi untuk memperbaiki diri dalam kerangka membangun citra akuntan yang terpercaya. Kata kunci: skandal korporasi, akuntan, profesi akuntan, expectation gap, pendidikan akuntansi

Pengantar Kebangkrutan perusahaan raksasa Enron pada tahun 2001 yang lalu (lihat, misalnya, Auditor Internal, April-Juni 2002) seakan menjadi momentum awal runtuhnya keperkasaan perusahaan-perusahaan raksasa di Amerika Serikat lainnya, seperti WorldComp, Global Crossing Ltd., Adelphia

1 Ada beragam pandangan tentang istilah skandal korporasi ini; Keraf (2002) dan Syahrir (2002) menyebutnya sebagai skandal akuntansi, Sunarsip (2002) menyebutnya sebagai skandal korporat sedangkan Hardjapamekas (2002) menyebut sebagai skandal manajemen, atau skandal moral manajemen yang berkomplot atau skandal pasar modal. Isitlah skandal korporasi digunakan oleh Tempo (28 Juli 2002) yang dipilih dalam tulisan ini dengan substansi yang tidak jauh berbeda dengan istilah-istilah lain diatas.

Communications, Kmart Corp. dan NTL Inc. (Kompas, 14/7/02; 15/7/02; 24/7/02). Menurut Sunarsip (Kompas, 15/7/02), ada berbagai sebab yang

memicu kebangkrutan berbagai perusahan tersebut, sebagaimana diikhtisarkan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 1: Skandal Kejahatan Korporat di AS


Nama Perusahaan Enron Corp Tyco International Adelphia Communications Global Crossing Xerox Corporation Worldcom Walt Disney Company ImClone System Inc. Sumber: Sunarsip, Kompas 15 Juli 2002 Pemicu Permasalahan Manipulasi Pembukuan Penggelapan Pajak Penipuan Sekuritas Insider Trading, Penipuan sekuritas Manipulasi Pembukuan Manipulasi Pembukuan Manipulasi Pembukuan Insider Trading

Dari tabel 1 diatas dapat dilihat bahwa ada beberapa sebab yang menjadi pemicu timbulnya skandal korporasi, masing-masing adalah

manipulasi pembukuan, penggelapan pajak, penipuan sekuritas dan insider trading. Walaupun beragam sebab namun juga tampak bahwa sebagian besar pemicu timbulnya berbagai kasus tersebut adalah adanya manipulasi pembukuan. Jika manipulasi pembukuan memang terbukti menjadi sebab dari sebagian besar skandal korporasi tersebut, maka mau tidak mau wajah profesi akuntan secara umum ikut tercoreng, lebih-lebih dalam kasus Enron, Arthur Andersen, salah satu dari The Big Five Public Accounting Firms, terkena imbasnya.

Dalam memberikan respon terhadap berbagai kasus tersebut, ada yang berpandangan bahwa manipulasi pembukuan sesungguhnya merupakan mega kolusi dari berbagai pihak sehingga kesalahan tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada salah satu pemeran (misalnya: akuntan manajemen atau auditor independen) yang diduga atau bahkan sudah terbukti terlibat didalamnya. Pandangan seperti ini adalah sah-sah saja, meskipun dapat

dianggap sebagai sikap apolojetik dalam membela kepentingan tertentu.

Perilaku tidak etis (ethical misconduct) dan pelanggaran hukum Tanda-tanda yang akan digambarkan lebih lanjut dibawah ini menunjukkan bahwa tidak sedikit skandal yang melibatkan berbagai pelaku bisnis sesungguhnya bukan hal yang baru. Menariknya, benih-benih perilaku demikian sudah tersemaikan sejak berada di lingkungan pendidikan. Nuansanya beragam, dari perilaku atau tindakan yang tidak etis (ethical misconduct) sampai dengan kasus pelanggaran hukum. Sebuah survei yang dilakukan di penghujung tahun 1990an oleh harian Bisnis Indonesia bekerjasama dengan Jakarta Media Communication (JMC) Research menunjukkan hasil yang dapat menjadi contoh atas fenomena yang disebut sebelumnya. Responden dari survey tersebut rata-rata berpendidikan sarjana dan merupakan eksekutif bisnis perusahaan besar dari berbagai jenjang manajemen. Hampir 70% responden menyatakan bahwa mereka

menggunakan cara-cara yang tidak sewajarnya dalam menjalankan bisnis 3

terutama bila berurusan dengan birokrasi pemerintah maupun dengan bank pemerintah (Bisnis Indonesia, Minggu II, Oktober 1997). Survei serupa juga pernah dilakukan oleh Fortune, majalah bisnis terkemuka di Amerika Serikat (Fortune, April 1992; Obi, 1992). Hasil survey Fortune yang memotret perilaku pelajar, mahasiswa, alumnus perguruan tinggi, dan juga para manajer menarik untuk dicermati. Di lingkungan menengah (setingkat SMU) pendidikan

menunjukkan bahwa 70-80% responden

melakukan cheating (ngrepek, menjiplak, dan sejenisnya), sedangkan di lingkungan perguruan tinggi angka tersebut lebih rendah yaitu antara 40-50%. Tidak ketinggalan bahwa 12-24% lulusannya menulis informasi yang tidak benar dalam resume/curriculum vitae mereka. Temuan dari survei ini paralel dengan hasil studi yang dilakukan Ludigdo (1998) yang memperoleh gambaran bahwa kematangan pribadi seseorang berpengaruh terhadap persepsi etisnya. Temuan lebih jauh dari survei tersebut menunjukkan bahwa 20-30% midle manager menulis fraudulent report. Praktek-praktek bisnis seperti telah menjadi

penggelembungan budget, bribery, overbilling customers

kelaziman yang juga ditemukan dalam survei tersebut. Tidak ketinggalan, beberapa kasus serupa juga terjadi di lembaga pemerintahan. Temuan diatas membuktikan tesis yang dikemukakan oleh Sierles et al. (1980), seperti dikutip Adib (2001) yang menyatakan bahwa perilaku tidak etis di lingkungan pendidikan merupakan prediktor atas perilaku tidak etis dalam dunia kerja.

Studi Albrecht dan Willingham (1993) memotret berbagai kasus yang terkait langsung dengan profesi akuntan terutama akuntan publik di Amerika Serikat. Studi tersebut mengungkap bahwa pada tahun 1980-an dan awal

1990-an terjadi puluhan kasus penuntutan di pengadilan (litigasi) terhadap akuntan publik di Amerika Serikat (Tabel 2). Dari tabel 2 tersebut dapat

dilihat bahwa berbagai kasus litigasi telah menimpa kantor-kantor akuntan publik besar di AS. Sedangkan pemicu litigasi tersebut diantaranya adalah karena kegagalan atau kelalaian akuntan dalam mengungkap terjadinya kecurangan (fraud) oleh manajemen. Hanya saja, meskipun semua kantor

akuntan publik besar di AS tersangkut dalam berbagai kasus tersebut, gaung dan implikasinya tidak separah kasus Enron dan Worldcomp serta berbagai skandal pada tahun-tahun awal abad ini. Hebatnya gaung dan implikasi berbagai kasus tersebut dapat diduga karena Worldcomp merupakan perusahaan terbesar yang bangkrut di AS sejak 1980an (Kompas, 24/7/02), dan karena dugaan atas keterlibatan beberapa politisi paling berkuasa di AS dalam skandal yang terkait dengan Harken Energy Corporation dan Halliburton Corporation (Tempo, 28/07/02). Kerugian pemilik modal akibat skandal korporasi di AS tersebut mencapai US$8 trilyun (Kompas 23/12/2002). Berbagai konsultan keuangan

ternama yang terbukti telah secara tidak langsung menyebabkan terjadinya skandal keuangan tersebut mendapat sanksi hukum secara finansial berupa

denda (Tabel 3) dari

Jaksa Agung New York yang ditetapkan pada 20

Desember 2002 yang lalu.

Tabel 3: Berbagai Perusahaan Sekuritas/Konsultan Keuangan di AS yang didenda karena secara tidak langsung terlibat Skandal Keuangan
Nama Perusahaan Citigroup Inc. (Induk dari Salomon Smith Barney) Credit Suisse First Boston (CSFB), anak perusahaan Credit Suisse Group Merrill Lynch Morgan Stanley Goldman Sachs Deutsche Bank Lehman Bros Bear Stearns JP Morgan Chase UBS Sumber: Kompas 23 Desember 2002, h. 15 Jumlah Denda (US$) 400 juta 200 juta 200 juta 125 juta 110 juta 80 juta 80 juta 80 juta 80 juta 80 juta

Informasi lebih lanjut dari sumber yang sama menyebutkan bahwa selain denda secara finansial, perusahaan-perusahaan tersebut juga dituntut untuk memisahkan divisi riset dan analisa dengan divisi pembiayaan (dapat diduga dalam rangka meminimumkan conflict of interest), serta untuk mematuhi sanksi hukum yang akan diputuskan pengadilan negara bagian. Hal yang menarik dalam kasus ini adalah bahwa pemanfaatan denda dinyatakan secara tranparan diantaranya untuk (a) membayar sebagian kerugian investor sebanyak US$ 900 juta, (b) untuk pembiayaan riset independen sebanyak US$450 juta, dan (c) untuk biaya pendidikan terhadap investor sebanyak US$ 85 juta.

Kasus manipulasi pembukuan dan manipulasi pasar ternyata juga terjadi di Indonesia. Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) telah

menjatuhkan sanksi kepada berbagai pihak baik itu perseorangan atau dalam bentuk lembaga berbadan hukum, diantaranya kepada 12 perusahan sekuritas (Tabel 4), 1 rekan dari salah satu KAP besar di Indonesia (didenda sebesar Rp. 100 juta), salah satu manajemen perusahaan farmasi (didenda sebesar Rp. 500 juta), dan sekitar 15 individu dan 1 PT (secara keseluruhan didenda lebih dari Rp. 3 milyar) (Kompas, 28/12/2002). Total denda keuangan secara

keseluruhan mencapai lebih dari Rp. 4,4 milyar.

Tabel 4: Berbagai Perusahaan Sekuritas di Indonesia yang didenda BAPEPAM


Nama Perusahaan Jasabanda Sekuritas dan Ficor Sekuritas Indonesia BNI Securities Kuo Capital Raharja, Megakarya Securities, dan Intra Asia Securities Arab Malaysia Securities, Samuel Sekuritas, Danawitta Securities, Global Inter Capital, Jalur Wahana, dan Panin Sekuritas Sumber: Kompas 28 Desember 2002, h. 14 Jumlah Denda (Rp.) 500 juta*) 150 juta 100 juta*) 75 juta*)

*) tidak dijelaskan secara rinci apakah denda ini untuk masing-masing perusahaan sekuritas, atau untuk keseluruhan.

Sesungguhnya masih banyak kasus yang terjadi di Indonesia yang penyelelesaiannya belum jelas, misalnya kasus terkait dengan divestasi Bank Niaga dan Indosat. Dalam kasus Bank Niaga, beberapa anggota DPR

melaporkan adanya dugaan penyuapan untuk memuluskan proses divestasi tersebut. Sedangkan divestasi Indosat menyisakan berbagai pertanyaan dari

soal transparansi sampai dengan dugaan mengalirnya komisi dalam prosentase tertentu kepada pihak tertentu. Dari kasus-kasus diatas, berbagai pertanyaan dapat dikedepankan, misalnya, mengapa kasus-kasus tersebut terjadi? dan bagaimana upaya pencegahan dimasa depan dapat dilakukan agar kasus dimaksud tidak terulang lagi.

Expectation Gap? Diantara berbagai faktor yang diduga menjadi penyebab munculnya litigasi terhadap akuntan, terutama pada akuntan publik (independent auditor), adalah adanya perbedaan ekspektasi (expectation gap) antara auditor dengan publik dan atau pemakai laporan keuangan dalam memandang tanggungjawab auditor dalam mendeteksi dan melaporkan terjadinya kecurangan oleh manajemen (Albrecht dan Willingham, 1993). Publik memiliki ekpektasi bahwa semua bentuk kecurangan manajemen dapat dideteksi dan dilaporkan oleh auditor, sementara auditor menjalankan tugas profesionalnya berdasar kepada standar profesi yang tidak selalu sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi publik. Menjadi lebih tidak mudah lagi, karena posisi profesi akuntan dalam kaitan dengan pendeteksian dan pelaporan kecurangan manajemen mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sementara secara umum ekspektasi publik tidak banyak mengalami perubahan dan bahkan cenderung mengalami penguatan. 8

Carmichael

dan

Willingham

(1971)

mencatat

bahwa

peran

pendeteksian kecurangan oleh manajemen sesungguhnya merupakan peran historis auditor (the historical role of auditors). Pandangan ini didasarkan

pada pendapat Montgomery di tahun 1920an yang menyatakan bahwa ada tiga tujuan utama dari audit, masing-masing (1) The detection of fraud, (2) The detection of technical errors, dan (3) the detection of errors in principle. Lebih jauh peran ini dapat ditelusuri dari sejak abad 16 dan masih menjadi tujuan utama audit hingga tahun 1930an. Di AS, perubahan yang dramatis terjadi sejak diterbitkannya Statement on Auditing Procedure (SAP) No. 1, Extensions of Auditing Procedure, yang didalamnya antara lain menegaskan bahwa (Albrecth dan Willingham (1993, 104): The ordinary examination to the issuance of financial statements accompanied by a report and opinion of an independent certified public accountant is not designed to discover all defalcation Setelah dikeluarkannya SAP tersebut, profesi akuntan di AS mendapat tekanan publik secara terus menerus untuk meninjau kembali posisinya, sehingga dalam kurun waktu hingga penghujung abad lalu, berbagai perubahan telah dilakukan. Dua perubahan terakhir dapat dijadikan sebagai contoh

bagaimana posisi profesi dalam kaitan persoalan pendeteksian kecurangan oleh manajemen. Pada dekade 1990-an, profesi akuntan di AS memutakhirkan dan menerbitkan serangkaian standar audit yang dikenal dengan the expectation gap standards sebagai respon atas besarnya litigasi terhadap anggotanya. 9

Salah satunya adalah Statements on Auditing Standards (SAS) No. 53: The Auditors Responsibility to Detect and Report Errors and Irreguralities2 yang diantaranya memberikan pedoman tentang tanggungjawab auditor dalam mendeteksi dan melaporkan kecurangan oleh manajemen, baik itu yang tidak disengaja (errors) maupun yang disengaja (irreguralities). Posisi yang cukup firm dari profesi ini memiliki tujuan bukan saja untuk penyempurnaan dan pembenahan kedalam, namun pada gilirannya diharapkan dapat mempersempit expectation gap antara pengguna informasi (laporan) keuangan atau publik dengan auditor. Akan tetapi, standar diatas kemudian mengalami

metamorfosis dan menjadi standar baru yang juga diadopsi oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam Standar Auditing Seksi 316: Pertimbangan atas Kecurangan dalam Audit Laporan Keuangan. Menilik judul dari kedua Standar Auditing (SA) tersebut, dapat saja diduga telah dilakukan penyempurnaan atau setidaknya penghalusan bahasa dari tanggung jawab

(responsibility) ke pertimbangan (consideration), meskipun substansinya memang tidak banyak mengalami perubahan. Salah satu misal tentang

ketegasan posisi profesi yang termaktub dalam SA Seksi 316 (per 1 Agustus 1994, hal. 316.3) par. 05 yang menyatakan bahwa [cetak miring merupakan penekanan dari penulis]:

Standar Auditing ini diadopsi oleh IAI dan termaktub dalam Standar Profesional Akuntan Publik (per 1 Agustus 1994): Standar Auditing 316: Tanggung Jawab Auditor untuk Mendeteksi dan Melaporkan Kekeliruan dan Ketidakberesan, IAI dan Bagian Penerbitan STIE YKPN, Cetakan ke-2, Juni 1995

10

Auditor harus menentukan risiko bahwa suatu kekeliruan dan ketidakberesan kemungkinan menyebabkan laporan keuangan berisi salah saji material. Berdasarkan penentuan ini, auditor harus merancang auditnya untuk memberikan keyakinan memadai bagi pendeteksian kekeliruan dan ketidakberesan material bagi laporan keuangan

Dalam SA Seksi 316 terbaru (per 1 Agustus 2001, hal. 316.4) par. 12 pernyataan setara dapat ditemukan sebagai berikut: Auditor harus secara khusus menaksir risiko salah saji material dalam laporan keuangan sebagai akibat dari kecurangan dan harus mempertimbangkan taksiran risiko ini dalam mendesain prosedur audit yang akan dilaksanakan.

Dengan membandingkan dua paragrap tersebut diatas, tampak bahwa substansinya menunjukkan adanya perbedaan yang berarti atau setidaknya mengalami penghalusan dari suatu keharusan (mandatory) merancang audit untuk memberikan keyakinan memadai bagi pendeteksian kekeliruan dan ketidakberesan material bagi laporan keuangan menjadi hanya sebatas mempertimbangkan (consideration)3 taksiran resiko dalam desain prosedur audit. Dapat dicatat disini bahwa pemutakhiran dan penerbitan standar audit baru ternyata tidak selalu berorientasi pada upaya untuk makin mempersempit expectation gap, bahkan penerbitan standar audit baru yang semestinya

memberikan lebih banyak namun yang terjadi justru standar baru yang often

SA Seksi 316 terbaru merefer SA Seksi 230 [PSA No. 04] mengenai Keseksamaan dalam Pelaksanaan Pekerjaan yang menegaskan bahwa auditor harus dapat memperoleh keyakinan

11

esoteric standards which fail to reach the public consciousness. (Costello, 1991). Hal ini tentu sangat wajar dari sudut pandang profesi, akan tetapi jika expectation gap dianggap sebagai salah satu biang keladi litigasi terhadap akuntan, maka dengan posisi profesi sedemikian rupa, bukan tidak mungkin bahwa litigasi terhadap auditor independen tidak akan semakin menurun. Lebih jauh, jika upaya untuk mempersempit expectation gap saja belum dapat dilakukan secara konsisten, ditambah dengan berkelanjutannya berbagai skandal korporasi yang melibatkan akuntan manajemen dan auditor independen, maka pada gilirannya bukan tidak mungkin bahwa, seperti diingatkan oleh Brenner (1991), kompetensi auditor, kejujuran dalam proses audit, serta manfaat audit akan dipertanyakan.

Jejak sejarah Jejak sejarah akuntansi menunjukkan bahwa di awal-awal

perintisannya, profesi ini sesungguhnya dekat dan menjunjung tinggi nilai-nilai etis/moral/agama. Bapak akuntansi modern, Luca Pacioli adalah seorang

pendeta yang juga Professor Matematika di Universitas Pisa (Crivelli, 1924). Bisa jadi karena latar belakangnya sebagai rohaniawan sekaligus pemahaman akan kompleksitas dunia bisnis, Pacioli menekankan betapa pentingnya bagi

memadai bahwa salah saji material dalam laporan keuangan dapat terdeteksi, termasuk salah saji material sebagai akibat dari kecurangan [par. 10, hal. 316.4].

12

pelaku bisnis dan akuntannya untuk selalu mengingat Tuhan. Pacioli menulis (Criveli, 1924:5) The end or purpose of every business man [is] being to make lawful, and fair enough profit to keep himself substantially; but he must always commence his affairs in the name of God, whose name must appear at the beginning of every manuscript, always bearing his Holy Name in mind.

Pacioli tampaknya meyakini bahwa mencari keuntungan yang optimal adalah hal yang wajar dalam bisnis. Akan tetapi, tujuan tersebut hendaknya dicapai dengan mengindahkan atau amanat Tuhan, dan bahkan proses dengan

menginternalisasikan

menghadirkanNya

dalam

pencatatan

transaksi bisnis itu sendiri. Dengan demikian perilaku bisnis yang eksploitatif dan jauh dari keadilan akan dapat dihindarkan dan pelaku bisnis dan terutama akuntan akan dapat berjalan pada rel yang benar. Praktek akuntansi yang membawa spirit Pacioli ini masih dapat ditemukan dalam manuscript jurnal yang dibuat oleh Sir Thomas Gresham pada pertengahan abad 16. Di awal buku jurnal yang dibuatnya, Gresham menuliskan pengantar yang diawali dengan In the name of God. Amen (Ramsey dalam Littleton dan Yamey, 1956:189). Setelah lebih dari lima abad, beberapa konsep dasar akuntansi yang dikembangkan Pacioli masih tetap digunakan. Namun pesan moralnya kepada pelaku bisnis dan akuntan kurang mendapat perhatian sebesar pemanfaatan konsep-konsep dasar akuntansi lainnya. Praktek-praktek bisnis untuk

mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan meniscayakan moralitas, 13

kejujuran dan keadilan seakan menjadi lagu wajib pada masa-masa sekarang ini, yang pada ujungnya menghasilkan berbagai skandal yang telah dipaparkan diawal tulisan ini. keniscayaan Jika kembali kepada pesan Pacioli, maka merupakan Triyuwono (1995), misalnya, menggagas dan

manakala

mengembangkan shariah accounting yang mengedepankan nilai-nilai moral, kejujuran dan keadilan dalam praktek akuntansi dan bisnis.

14

Catatan akhir Dengan keterlibatan akuntan dalam berbagai kasus mutakhir atau yang terjadi pada dekade sebelumnya, baik yang sudah terbukti maupun masih dalam dugaan, maka integritas akuntan akan menjadi sorotan publik. karena itu Oleh

organisasi profesi akuntan, akuntan secara individual, dan

pendidikan akuntansi perlu untuk memberikan respon yang konstruktif. Organisasi profesi akuntan memiliki peran untuk menetapkan ramburambu bagi perencanaan dan pelaksanaan tugas professional akuntan. Meskipun profesi telah mengatur rambu-rambu yang cukup ketat bagi akuntan dalam menjalankan tugas profesionalnya, baik itu untuk auditor independen maupun untuk akuntan manajemen, penyimpangan bisa saja terjadi di lapangan. Sehingga penegakan integritas akuntan sesungguhnya ada di

pundak setiap akuntan tanpa pandang bulu. Ketaatan dan kepatuhan terhadap rambu-rambu etika dan standar yang secara umum mengatur pelaksanaan tugas-tugas profesionalnya memerlukan kaji ulang secara berkelanjutan. Tidak dapat dipungkiri bahwa era keterbukan membawa konsekuensi semakin transparannya hasil-hasil tugas akuntan manajemen dan auditor independen, sekaligus dapat memiliki implikasi memperluas wilayah tanggung jawab auditor dengan atau tanpa diatur oleh profesi. Dalam

mengantisipasi persoalan ini, Levine dan Fitzsimons (1988) mengingatkan agar auditor meningkatkan due care dalam perencanaan dan pelaksanaan audit serta meningkatkan apa yang dikenal dengan professional scepticism. Yang 15

terakhir ini

antara lain menuntut auditor untuk memandang manajemen

neither honest nor dishonest. Pada tataran pendidikan akuntansi, tantangan yang dihadapi bukan saja peningkatan kompetensi teknis yang secara terus menerus di up date dengan perubahan lingkungan bisnis, namun juga peningkatan kompetensi moral para calon akuntan. Penyebarluasan informasi, terutama tentang tugas dan

tanggung jawab profesi akuntan, kepada profesi lain yang terkait dan juga kepada publik merupakan keniscayaan pula. Akhirnya, jika jujur harus diakui bahwa akuntan memang bukan malaikat yang bisa terbebas dari berbagai bentuk kesalahan dalam menjalankan tugas profesionalnya, baik itu disengaja atau tidak. Pacioli menyatakan bahwa praktek bisnis yang sehat ternyata tidak cukup hanya dengan akuntan yang baik saja. Akuntan yang baik dan terpercaya (good accountants) hanyalah salah satu pilar dari tiga pilar utama dalam praktek bisnis, dua pilar lainnya adalah para pelaku bisnis (good merchants) dan tata kelola manajemen yang baik (good governance) (*)

16

Tabel 2: Beberapa kasus litigasi tehadap KAP*)


Tahun Peristiwa 1985, 1986 Perseroan yang diaudit United Bank of Arizona Kantor Akuntan Publik Price Waterhouse Keterangan lain Kasus ini dipublikasikan pada tahun 1991dengan tuntutan yang diajukan ke pengadilan sebesar US$600 juta, dugaan adanya fraud; Kasus ini dipublikasikan pada tahun 1990 dengan tuntutan yang diajukan ke pengadilan sebesar US$560 juta, dugaan adanya negligence Kasus ini dipublikasikan pada tahun 1990 dengan tuntutan yang diajukan ke pengadilan sebesar US$300 juta, dugaan adanya negligence Kasus ini dipublikasikan pada tahun 1990 dengan tuntutan yang diajukan ke pengadilan sebesar US$250 juta, dugaan adanya negligence Kasus ini dipublikasikan pada tahun 1990 dengan tuntutan yang diajukan ke pengadilan sebesar US$160 juta, dugaan adanya negligence Kasus ini dipublikasikan pada tahun 1990 dengan tuntutan yang diajukan ke pengadilan sebesar 70 juta, dugaan adanya fraud dan negligence Kasus ini dipublikasikan pada tahun 1991 dengan tuntutan yang diajukan ke pengadilan sebesar US$165 juta, dugaan adanya fraud dan negligence Kasus ini dipublikasikan pada tahun 1991; tidak ada informasi lebih jauh. Publikasi kasus ini pada 1990, penyelesaian dilakukan di pengadilan, putusan pengadilan US$15.7 juta adanya negligence Publikasi kasus ini pada 1990, putusan pengadilan menghasilkan US$15.2 juta Dipublikasikan pada 1989, penyelesaian di pengadilan, putusan pengadilan mendenda US$ 13 juta

1984

Western Savings Association

Ernst and Young

1988

Beverly Hills Savings

Deloitte and Touche

1983, 1984

Sunrise Savings

Deloitte and Touche

1987

Thomas McKinnon Inc.

Coopers and Lybrand

1989

Eagle Trust

KPMG Peat Marwick

1990

Monarch

Ernst & Whinney

1982 1979-1984

Industril Tectonics Universal Casualty & Surety Co. Continental Illionis

Arthur Andersen BDO Seidman

Main Hurdman Laventhol dan Horwath

1980

Herman Fiesod

*) Albrecht dan Willingham (1993)

17

Daftar Kepustakaan Adib, Noval, 2001, Perbandingan Sensitivitas Etis antara Mahasiswa Akuntansi Pria dan Mahasiswa Akuntansi Wanita serta Mahasiswa Akuntansi dan Mahasiswa Non Akuntansi, Tesis, Magister Sains Program Studi Ilmu Akuntansi, Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Albrecht, W. Steve, dan John J. Willingham, 1993, An Evaluation of SAS No. 53, The Auditors Responsibility to Detect and Report Errors and Irreguralities, dalam The Expectation Gap Standards: Progress, Implementation Issues, Research Opportunities, Proceedings of the Expectation Gap Roundtable, May 11-12, 1992, Charleston, South Carolina, New York: American Institute of Certified Public Accountants, Inc. Brenner, L., 1991, See No Evil: Why do Accountants Keep Giving Their Stamp of Approval to Unsound Companies?, Newsday, Inc., February 10: 35, 88 Carmichael, D. dan J. Willingham, 1971, Perspective in Auditing: Readings and Analysis Situations, New York: McGraw-Hill Costello, J.L, 1991, The Auditors Responsibilities for Fraud Detection and Disclosure: Do the Auditing Standards Provide a Safe Harbour?, Maine Law Review, Vol 43, 265-305 Hardjapamekas, Erry Riyana, 2002, Akuntan Publik: Tingginya Ongkos Kolusi, Gatra, 14 September 2002 Hendriksen, Eldon S., and Michael F. Van Breda, 1992, Accounting Theory, Homewood, IL: Richard D. Irwin, Inc. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), 1995, Standar Profesional Akuntan Publik, per 1 Agustus 1994, IAI/ Bagian Penerbitan STIE YKPN, Cetakan ke-2, Juni _________,2001, Standar Profesional Akuntan Publik, per 1 Januari 2001, IAI KAP/ Penerbit Salemba Empat, Cetakan ke-1, Januari 2001 Irianto, Gugus, 1992, Business Ethics: an historical and a contemporary perspective, paper untuk tugas akhir Matakuliah: Accounting Theory, California State University, Fresno, USA, Fall Semester. Irianto, Gugus, 1993, Errors and Irreguralities, and The Auditor's Responsibility: An Assesment to the SAS No. 53, paper untuk tugas akhir Matakuliah Seminar in Auditing, California State University, Fresno, USA, Fall Semester. Keraf, A. Sonny, 2002, Gagalnya Kontrol dan Hilangnya Trust: Belajar dari Skandal Akuntansi Amerika, Kompas, 13 Juli Konrath, Larry F., 1993, Auditing Concepts and Applications: A RiskAnalysis Approach, 2nd. Ed., St. Paul, MN: West Publishing Company 18

Labich, Kenneth, 1992, The New Crisis in Business Ethics, Fortune, April 20 Levine, M. dan A. Fitzsimons, Understanding the New Statements on auditing Standards, The Practical Accountant, November 1988 Littleton, A.C., dan Yamey, B.S, 1956, Studies in the History of Accounting, Homewood, IL: Richard D. Irwin., Inc. Ludigdo, Unti, 1998, Persepsi akuntan dan Mahasiswa terhadap Etika Bisnis, Tesis, Magister Sains Program Studi Ilmu Akuntansi, Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Obi, Samuel C., 1992, Teaching Ethics to Industrial Technologist, Journal of Industrial Technology, Spring Pacioli, Frater Lucas, 1494, Suma de Arithmetica, Geometria, Proportioni et Proportionalita, dalam Crivelli, Pietro, 1924, An Original Translation of the Treatise on Double-Entry Book-Keeping, New York and London: Harper & Brothers, Publishers. Sjahrir, 2002, Skandal Akuntansi AS: Akhir Kapitalisme?, Kompas, 15 Juli Sunarsip, 2002, Menarik Pelajaran dari Skandal Korporat di AS, Kompas, 15 Juli Triyuwono, Iwan, 1995. Shariate Organisation dan Accounting: The Reflections of Selfs faith and Knowledge, Thesis, Department of Accounting and Finance, University of Wollongong --------------, 1991, Random House Webster's College Dictionary, New York: Random House, Inc. --------------, 1997, Bisnis Indonesia, Minggu II, Oktober --------------, 2002, Setelah Enron, WorldCom, Xerox, Merk, Apa Lagi?, Kompas, 14 Juli --------------, 2002, WallStreet Mulai Rebound, Dollar Menguat, Kompas, 24 Juli --------------, 2002, Bapepam Denda Direksi Lama PT Kimia Farma, Kompas, 28 Desember --------------, 2002, Terlibat Skandal Keuangan, Perusahaan Amerika Didenda 1,4 Milyar Dollar AS , Kompas, 23 Desember --------------, 2002, Enron Debacle, Auditor Internal, April-Juni 2002, 5 --------------, 2002, Sebuah Pelajaran dari Skandal Enron, Auditor Internal, April-Juni, 6-7

19