Anda di halaman 1dari 19

1

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Setiap reaksi kimia selalu disertai dengan perubahan energi dalam bentuk kalor (reaksi eksoterm) atau menyerap (reaksi endoterm). Termokimia mempelajari perubahan kalor dalam suatu reaksi kimia. Jika suatu sistem reaksi diberikan sejumlah energi dalam bentuk kalor, maka sistem akan melakukan kerja yang maksimum. Setelah kerja sistem menyimpan sejumlah energi yang disebut energi dalam. Suatu panas reaksi tergantung pada jumlah zat yang bereaksi, keadaan fisika, temperatur, tekanan dan jenis reaksi (P tetap atau V tetap). Panas yang timbul atau diserap pada pelarutan suatu zat dalam suatu pelarut disebut panas pelarutan. Panas pelarutan tergantung jumlah mol pelarut dan zat terlarut. Kelarutan bergantung pada berbagai jenis kondisi, seperti suhu, tekanan, konsentrasi bahan-bahan lain dalam larutan tersebut dan pada komposisi pelarutnya. Perubahan kalor yang terjadi pada reaksi kimia maupun proses fisika dapat diukur dengan suatu alat yang disebut kalorimeter. Setiap kalorimeter memiliki sifat khas dalam mengukur kalor. Ini terjadi karena komponenkomponen alat kalorimeter sendiri (wadah logam, pengaduk, termometer) menyerap kalor, sehingga tidak semua kalor yang terjadi terukur. Tetapan kalorimeter dapat ditentukan dengan mengukur suhu campuran air dingin dan air panas yang berguna untuk mengetahui nilai tetapan kalorimeter. Tetapan kalorimeter merupakan jumlah kalor yang diserap oleh kalorimeter untuk menaikkan suhu sebesar satu derajat celcius dengan satuannya Jk-1. Pada percobaan ini kita menentukan tetapan kalorimeter dengan menggunakan air panas dan air dingin. Digunakan aquades, karena kita mengukur tetapan standar dari kalorimeter. Sistem kerja dari kalorimeter termasuk didalam hukum Termodinamika yang pertama. Aplikasi dari hukum pertama

Termodinamika

yaitu

termokimia.

Termokimia

merupakan

ilmu

yang

mempelajari tentang kalor disertai dengan perubahan fisik atau kimia. Oleh karena itu, dilakukan percobaan tentang tetapan kalorimeter agar dapat mengetahui nilai standar tetapan kalorimeter dan sistem kerja dari kalorimeter. Serta dapat mengaplikasikannya didalam kehidupan.

1.2 Tujuan Percobaan Mengetahui nilai C pada kalorimeter dalam percobaan Mengetahui nilai Q serap kalorimeter dan Q serap air dingin Mengetahui sistem kerja dari kalorimeter.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


Hukum pertama termodinamika telah dinyatakan dalam bentuk yang sangat umum dan dapat diterapkan dalam proses manapun yang dimulai dan berakhir dalam keadaan keseimbangan. Bentuk kalor dan kerja telah dianalisis secara terpisah dan metode-metode telah ditunjukkan untuk menghitung, mengukur dan menafsirkannya. Semua konsep sekarang telah tesedia untuk menerapkan termodinamika dalam pembahasan mengenai proses laboratorium yang khusus. Namun demikian, penerapan tersebut memerlukan data mengenai sifat-sifat tertentu dari zat yang dipelajari, seperti persamaan keadaan dan kapasitas kalor. Argumen termodinamika menghasilkan persamaan dan tidak dapat memberikan nilai aktual sifat-sifat itu, tetapi termodinamika menghasilkan persamaan yang umum diantara sifat-sifat tersebut. Nilai aktual harus didapatkan dari metode-metode lain selain termodinamika statistik. Untuk menggambarkan hal ini, data kapasitas kalor gas ideal diperoleh dari metode diluar termodinamika dalam paragraf selanjutnya. Termodinamika lalu diterapkan untuk menganalisis proses tertentu yang dilakukan terhadap gas ideal. Pasangan kapasitas kalor molar Cv dan Cp gas ideal monoatomik dapat dihitung dari hasil teori kinetika gas dan persamaan gas ideal. Energi kinetik translasi rata-rata dari n mol gas ideal adalah:

Rotasi dan vibrasi dan molekul-molekul diatomik atau poliatomik mempunyai kontribusi tambahan. Namun dalam gas monoatomik, kontribusi ini tidak ada dan perubahan energi total E yang diukur dalam termodinamika dapat disamakan dengan perubahan energi kinetik translasi. Jika n mol gas monoatomik diambil dari suhu T1 ke suhu T2, perubahan energinya adalah: ( )

Ingat bahwa tekanan dan volume tidak mempengaruhi E secara eksplisit (kecuali melalui perubahan suhu), sehingga hasil ini tidak tergantung perubahan tekanan atau volume gas. Perubahan suhu gas ideal pada volume tetap dari sudut pandang termodinamika. Karena volume tetap, kerja tekanan-volume W harus nol, sehingga: (gas ideal) (Syukri, 1999). Kalor adalah perpindahan energi internal. Kalor mengetahui dari satu bagian sistem ke bagian lain atau dari satu sistem lain karena ada perbedaan temperatur. Selama pengaliran kita tidak mengetahui proses keseluruhannya, misalnya keadaan akhirnya. Kalor belum diketahui sewaktu proses berlangsung ialah laju aliran Q yang merupakan fungsi waktu. Jadi kalor ialah: Dan hanya bisa ditentukan bila waktu t2-t1 telah berlalu. Hanya setelah aliran itu berhenti orang bisa mengacu pada kalor-energi internal yang telah dipindahkan dari suatu sistem bertemperatur lebih tinggi ke sistem yang temperaturnya lebih rendah. Tidak benar bila kita mengatakan kalor dalam benda seperti halnya bila kita mengatakan kerja dalam benda. Pelaksanaan kerja dan aliran kalor metode untuk mengubah energi internal suatu sistem kita tidak bisa memisahkan atau membagi internal menjadi bagian termal dan bagian mekanis (Dogra, 2008). Pada umumnya, kerja yang dilakukan pada atau oleh sistem bukan merupakan fungsi koordinat sistem tetapi bergantung pada lintasan yang dilalui sistem dari keadaan awal ke keadaan akhir. Demikian juga untuk kalor yang dipindahkan dari suatu sistem. Q bukan merupakan fungsi koordinator termodinamika, tetapi bergantung pada lintasan. Jadi, sejumlah kerja infini stesimal adalah diferensial tak seksama dan dilambangkan oleh Q. Apabila sistem A dalam sentuhan termal dengan sistem B, kedua sistem itu dilingkungi oleh dinding adiabat. Untuk sistem A berlaku:

Uf Ui = Q + W Dan untuk sistem B adalah U'f - U'i = Q' + W Dengan menjumlahkan kedua sistem, didapatkan: ( Uf + U'f ) ( Ui + U'i ) = Q + Q' + W + W' Karena ( Uf + U'f ) ( Ui + U'i ) adalah perubahan energi sistem gabungan W + W' adalah kerja yang dilakukan oleh sistem gabungan, maka Q + Q' adalah kalor yang dipindahkan oleh sistem gabungan. Karena sistem gabungan ini dilingkungi oleh dinding adiabat, maka Q + Q = 0 dan Q = - Q' Dengan kata lain, dalam kondisi adiabat, kalor yang dibuang (atau diterima) oleh sistem A sama dengan kalor yang diterima (atau dibuang) oleh sistem B (Keenan, 1980). Proses yang menyangkut perubahan
infinitesimal

dari

koordinat

termodinamik suatu sistem dikenal sebagai proses infinitesimal. Untuk proses seperti itu hukum yang pertama menjadi: dU = dQ + dW Jika proses infinitesimal ini kuasi-statik, maka dU dan dW dapat

diungkapkan dalam koordinat termodinamika. Suatu proses kuasi-statik infinitesimal adalah proses yang sistemnya berpindah dari keadaan setimbang berikutnya. Untuk proses kuasi-statik infinitesimal dari suatu hidrostatik, hukum pertama menjadi dU = dQ P dV Dimana U merupakan fungsi dari dua antara koordinat termodinamik dan P tentu saja merupakan fungsi dari V dan Q. Persamaan yang dituliskan untuk masingmasing sistem sederhana lainnya Kalorimeter telah disajikan dalam pertengahan abad ke delapan belas. Pada saat itu pengukuran hanya terbatas pada daerah temperatur antara titik beku dan titik didih air. Satuan kalor yang palling sering dipakai disebut kalori dan didefinisikan sebagai jumlah kalor yang diperlukan untuk menaikkan temperatur 1

gram air sebesar 1C. Untuk mengukur jumlah kalor yang dipindahkan antara suatu sistem dengan sejumlah air, hanya diperlukan dua pengukuran yaitu massa dan suhu (Petrucci, 1987). Hukum pertama dari ketiga hukum termodinamika menyatakan bahwa energi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Salah satu ukuran dari perubahan ini ialah banyaknya kalor yang dilepas atau diserap oleh suatu sistem selama suatu proses bertekanan tetap yang didefinisikan oleh kimiawan sebagai perubahan entalpi (H). Salah satu tujuan utama mempelajari termodinamika dari sudut pandang kimiawan ialah agar dapat memprediksi apakah suatu reaksi akan terjadi atau tidak ketika sejumlah pereaksi dicampur pada sekumpulan kondisi tertentu (misalnya pada suhu, tekanan, dan konsentrasi tertentu). Reaksi yang sesungguhnya terjadi pada kondisi-kondisi yang dinamakan reaksi spontan. Jika reaksinya telah terjadi , kita menyebutnya reaksi non spontan. Jika kita mengasumsikan bahwa proses spontan terjadi dengan tujuan menurunkan energi suatu sistem, dapat dijelaskan mengapa bola berguling. Demikian juga, banyak reaksi eksotermik merupakan reaksi spontan. Untuk memprediksi kespontanan suatu proses, bila perlu mengetahui dua hal tentang sistem itu. Salah satunya ialah perubahan entalpi, yang hampir setara dengan E untuk kebanyakan proses. Yang satunya ialah entropi (S), yakni ukuran keacakan atau ketidakteraturan suatu sistem. Semakin besar

ketidakteraturan, semakin besar entropinya. Sebaliknya, semakin teratur suatu sistem, semakin kecil entropinya (Chang, 2005). Perubahan kalor yang terjadi pada reaksi kimia maupun proses fisik, seperti telah dijelaskan diatas dapat diukur dengan suatu alat yang disebut kalorimeter. Setiap kalorimeter sendiri (wadah logam pengaduk, termometer) menyerap kalor, sehingga tidak semua kalor yang terjadi terukur. Oleh karena itu jumlah kalor yang diserap oleh kalorimeter (kapasitas kalor dari kalorimeter. Biasa juga disebut tetapan kalorimeter k1) perlu diketahui terlebih dahulu.

Alat yang paling penting untuk mengukur U adalah kalorimeter bom adiabatik. Perubahan keadaan yang dapat berupa reaksi kimia berawal didalam wadah bervolume tetap yang disebut bom. Bom tersebut direndam didalam bak air luar. Temperatur air di dalam bak luar dipantau dan diatur sampai nilainya sama. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak adanya kalor yang hilang sedikitpun dari kalorimeter ke lingkungannya (bak-air) sehingga kalorimeter itu adiabatik. Jika kerja dilakukan sistem hanya dipandang sebagai kerja tekanan volume, kalor reaksi yang diukur pada tekanan tetap dinyatakan dengan perubahan entalpi H sementara itu kalor reaksi yang diukur pada volume tetap dinyatakan dengan perubahan energi dalam U. Perubahan temperatur t dari kalorimeter yang dihasilkan dari reaksi sebanding dengan energi yang dibebaskan dari reaksi sebanding dengan energi yang dibebaskan atau diserap sebagai kalor. Oleh karena itu dengan mengukur T kita dapat menentukan q sehingga kita dapat mengetahui U. Konvensi dari T menjadi q tidak bisa lepas dari kapasitas kalor C adalah koefisien pembanding antara energi yang diberikan sebagai kalor dan kenaikan temperatur yang disebabkannya (Atkins, 1990). Setiap reaksi kimia selalu disertai dengan perubahan energi dalam bentuk kalor, yaitu dengan cara melepaskan kalor (reaksi eksoterm) atau menyerap kalor dalam suatu reaksi kimia. Jika suatu sistem reaksi diberikan sejumlah energi dalam bentuk kalor (q), maka sistem akan melakukan kerja yang maksimum (W = P.V). Setelah kerja sistem menyimpan sejumlah energi yang disebut energi dalam (u). Secara matematis, perubahan energi dalam dirumuskan sebagai berikut: U = q V Jumlah kalor dari hasil reaksi kimia dapat diukur dengan suatu alat yang disebut kalorimeter. Jumlah kalor yang diserap kalorimeter untuk menaikkan suhu satu derajat disebut tetapan kalorimeter, satuannya Jk-1. Hubungan kedua besaran tersebut pada tekanan tetap dinyatakan dengan H = V + PV. Dan untuk reaksi yang berkaitan dengan perubahan jumlah mol gas dengan asumsi gas ideal, persamaan menjadi V = U + nRT.

Panas pelarutan integral didefinisikan sebagai perubahan entalpi jika 1 mol zat yang dilarutkan dalam jumlah larutan yang tak terhingga, sehingga konsentrasinya tidak berubah dengan penambahan 1 mol zat terlarut. Jadi panasan pelarutan didefinisikan bergantung pada konsentrasi larutan. Secara matematik didefinisikan sebagai yaitu perubahan panas diplot sebagai jumlah mol zat terlarut, dan panas pelarutan diferensial dapat diperoleh dengan mendapatkan kemiringan kurva pada setiap konsentrasi. Jadi, panas pelarutan diferensial tergantung pada konsentrasi larutan (Dogra, 2008).

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN


3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat-alat Kalorimeter Beaker Glass Termometer Gelas ukur Stopwatch Botol semprot Pipet tetes Hot plate Bahan isolasi Batang pengaduk Corong kaca

3.1.2 Bahan-bahan Aquades Tissue Serbet Aquadest panas

3.2 Prosedur Percobaan Dirangkai alat kalorimeter Diukur 50 ml aquades dengan gelas ukur Dimasukan aquades ke dalam kalorimeter Diaduk Dicatat suhu air dalam kalorimeter setiap 30 detik sampai menit ke 4 Dimasukkan air panas sebanyak 50 ml dengan suhu 45C 9

10

Dicatat suhu air yang ada didalam kalorimeter Diaduk sampai menit ke 8 Dicatat suhu air dalam kalorimeter setiap 30 detik sampai menit ke 8

10

11

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tabel Pengamatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Waktu (menit) 0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 Suhu (C) 29 29 29 30 30 30 30 30 30 Waktu (menit) Penambahan air panas 45 C 4,5 5,0 5,5 6,0 6,5 7,0 7,5 8,0 Suhu (C) 31 35 34 33 33 32 32 32 32

4.2 Perhitungan

11

12

4.2.1 Q Lepas Air Panas ( ( ) )

4.2.2 Q yang Diserap Air Dingin ( ( ) )

4.2.3 Q Serap dari Kalorimeter

4.2.4 C Kalorimeter

12

13

4.3 Grafik Perubahan Suhu Sebelum dan Sesudah Penambahan Air Panas
40 35 30

Suhu (C)

25 20 15 10 5 0 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5 7 7.5 8

Waktu (menit)

4.4 Pembahasan Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur perubahan panas. Setiap kalorimeter mempunyai sifat yang khas dalam mengukur panas. Ini dapat terjadi karena kalorimeter sendiri mampu menyerap kalor atau panas sehingga tidak semua panas dapat terukur. Kapasitas kalor adalah banyaknya energi kalor yang dibutuhkan untuk menigkatkan suhu zat sebesar 1C. kapasitas kalor bergantung pada jumlah zat. Jenis-jenis kalorimeter ada 2 jenis, yaitu : 1. Kalorimeter Bom Kalorimeter bom merupakan kalorimeter yang khusus digunakan untuk menentukan kaor dari reaksi-reaksi pembakaran. Kalorimeter ini terdiri dari sebuah bom (tempat berlangsungnya reaksi pembakaran, terbuat dari bahan stainless steel dan diisi dengan gas oksigen pada tekanan tinggi) dan sejumlah air yang dibatasi dengan wadah yang panas. Reaksi pembakaran yang terjadi didalam bom, yang akan menghasilkan kalor dan diserap oleh air dan bom. Sehingga tidak ada kalor yang terbuang ke lingkungan. 2. Kalorimeter Sederhana

13

14

Kalorimeter sederhana dibuat dari gelas stirofoam. Kalorimeter sederhana digunakan untuk pengukuran kalor reaksi yang memiliki tekanan tetap. Kalorimeter sederhana biasa digunakan untuk mengukur kalor reaksi yang reaksinya berlangsung dalam fase larutan (misalnya reaksi netralisasi asam-basa / netralisasi pelarutan dan pengendapan). Pada kalorimeter ini, kalor reaksi= jumlah kalor yang diserap oleh gelas dan lingkungan. Hal tersebut dilakukan. Fungsi perlakuan pada percobaan ini adalah sebagai berikut : Pemanasan agar dapat membuat aquades memiliki suhu yang tinggi. Pengukuran suhu agar dapat mengetahui suhu air pada tiap 30 detik. Pengukuran volume agar dapat mengetahui volume air yang diinginkan sesuai dengan prosedur. Pada percobaan ini digunakan bahan yakni aquades. Hal ini karena, pada percobaan tetapan kalorimeter, kita akan menentukan nilai ketetapan standar pada kalorimeter. Karena yang kita tentukan adalah nilai standar, maka digunakanlah aquades. Karena aquades merupakan bahan atau reagen atau pelarut yang biasa digunakan dalam standar. Kapasitas panas adalah kalor jenis yang didefinisikan sebagai jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 gram zat sebesar 1C. Kapasitas panas bersifat ekstensif yang berarti bahwa jumlahnya tergantung dari besarnya sampel. Isotermal merupakan proses untuk mempertahankan suhu (suhu

masuk=suhu keluar). Jika suhu suatu bahan atau zat masuk = suhu zat keluar, maka energi didalam bahan tersebut tidak berubah. Isotermal juga merupakan suatu perubahan dari suatu sistem dimana suhu tetap konstan: T=0. Ini biasanya terjadi ketika suatu sistem berada dalam kontak dengan reservoir panas luar dan perubahan terjadi perlahan cukup untuk memungkinkan sistem untuk terusmenerus menyesuaikan diri dengan suhu reservoir melalui panas pertukaran. Isokhorik disebut juga isovolumetrik atau proses isometrik atau proses volume konstan. Isokhorik merupakan sebuah proses termodinamika yang selama itu volume dari sistem tertutup menjalani proses tersebut tetap konstan. Dalam

14

15

istilah non-teknis, proses isokhorik dicontohkan oleh pemanasan atau pendinginan dari isi wadah non-mampu deformasi bersegel. Endotermal atau reaksi endoterm adalah reaksi yang memerlukan energi atau menyerap energi dari lingkungan ketika reaksi terjadi. Umumnya reaksi ini menghasilkan suhu dingin. Contohnya adalah fotosintesis. Eksotermal atau reaksi eksoterm adalah reaksi yang mengeluarkan energy atau menghasilkan energi ketika reaksi terjadi. Umumnya reaksi ini menghasilkan panas. Contohnya adalah nyala api unggun. Asas penggunaan kalorimeter adalah asas Black. Setiap dua benda atau lebih dengan suhu berbeda dicampurkan maka benda yang bersuhu lebih tinggi akan melepaskan kalornya, sedangkan benda yang suhunya lebih rendah akan menyerap kalor hingga mencapai keseimbangan yaitu suhunya sama. Pelepasan dan penyerapan kalor ini besarnya harus imbang. Kalor yang dilepaskan sama dengan kalor yang diserap. Sehingga berlaku hokum kekekalan energi. Pada sistem tertutup, kekekalan energi panas (kalor) ini dapat dituliskan sebagai berikut: Q lepas = Q terima Dengan Q = m.c.T Dimana : Q = banyaknya kalor yang diperlukan (J) m = massa zat yang diberi kalor (kg) c = kalor jenis zat (J/kgC) T = kenaikkan atau perubahan suhu zat (C) Fungsi perlakuan pada percobaan ini adalah : Pengadukkan dilakuka agar suhu dalam air merata Penutupan kalorimeter agar tidak terjadi perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan atau sebaliknya. Fungsi aquadest dalam percobaan ini adalah sebagai media untuk perambatan kalor dalam kalorimeter. Pada percobaan tetapan kalorimeter ini digunakan awalnya aquadest dingin. Aquadest dingin diukur suhu awalnya yaitu 29C. Kemudian dikocok

15

16

terus-menerus hingga menit ke empat dan setiap 30 detik dicatat perubahan suhunya. Setengah menit (30 detik) pertama hingga menit ke 1,0 suhu aquadest adalah 29C. Pada menit ke 1,5 hingga menit ke 4,0 suhu aquadest adalah 30C. Pengocokkan dihentikan pada menit ke 4. Kemudian ditambah dengan aquadest panas yang memiliki suhu 45C sehingga suhunya menjadi 31C. Pengocokkan dilanjutkan kembali hingga menit ke 8. Pada menit ke 4,5 suhu campuran adalah 35C. Pada menit ke 5,0 suhu campuran menjadi 34C. Pada menit ke 5,5 hingga menit ke 6,0 suhu campuran menjadi 33C. pada menit ke 6,5 hingga menit ke 8,0 suhu campuran adalah 32C. Dari hasil perhitungan, massa air yang digunakan adalah sebesar 50 gram. Suhu rata-rata dari aquadest dingin adalah sebesar 29,625C. Kalor yang dilepas air panas (Qap) adalah sebesar 3213,375 J. Kalor yang diserap oleh air dingin (Qad) adalah sebesar 130,625 J. Kalor yang diserap oleh kalorimeter adalah sebesar 3082,75 J. Kapasitas kalorimeter (C) yang didapat dari hasil perhitungan adalah sebesar 4952,4 J/C. Asas Black adalah suatu prinsip dalam termodinamika yang dikemukakan oleh Joseph Black. Asas ini menyatakan : Jika dua buah benda yang berbeda yang suhunya dicampurkan, benda yang panas memberikan kalor pada benda yang dingin sehingga suhu akhirnya sama. Jumlah kalor yang disetiap benda dingin sama dengan kalor yang diserap benda panas. Benda yang didinginkan melepas kalor yang sama besar dengan kalor yang diserap bila dipanaskan. Fungsi alat pada percobaan ini adalah : Kalorimeter untuk tempat sempel dan tempat pengocokkan sampel Termometer untuk mengukur suhu Gelas ukur untuk mengukur volume sampel. Faktor kesalahan yang terjadi pada percobaan ini adalah : Kurang teliti dalam mengukur suhu sehingga suhu tidak stabil

16

17

Kurang cermat dalam pengocokkan sehingga suhunya turun dan tidak mengalami kenaikkan Kurang bersih dalam mencuci alat sehingga mempengaruhi hasil reaksi. Prinsip percobaan tetapan kalorimeter kali ini adalah menurut Asas Black yang mengatakan bahwa banyaknya kalor yang dilepas sama dengan jumlah kalor yang diterima, serta berdasarkan pertambahan energi akibat sistem yang dikenai kerja tanpa energi yang keluar ke lingkungan dan tidak ada energi masuk ke sistem, ini merupakan proses adiabatik. Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari yaitu pemanas ruangan biasa dengan elemen pemanas logam memanaskan ruangan, kopi dalam cangkir, kopi keramik yang menjadi dingin, kipas angin disertakan dalam pemanas, menggosokkan tangan kita pada saat suhu dingin, penggorengan beralas tembaga, boilen di stasiun pembangkit, menyimpan energi termis seperti dalam sistem pemanasan solar atau matahari, efek inesilasi pada botol, saat menyetrika baju dengan setrika, mancairnya es batu dan masih banyak lagi yang dapat kita temukan di sekitar lingkungan.

17

18

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan Nilai C kalorimeter pada percobaan adalah sebesar 4932,4 J/C. Nilai Q serap dari kalorimeter sebesar 3082,75 J dan Q serap dari air dingin adalah sebesar 130,625 J. Sistem kerja dari kalorimeter didasarkan pada proses adiabatik dimana tidak ada kalor yang masuk kedalam sistem kalorimeter dan tidak ada kalor yang keluar ke lingkungan.

5.2 Saran Sebaiknya pada percobaan berikutnya, pengadukkan pada kalorimeter dilakukan secara terus-menerus agar hasil yang didapat sesuai dengan teori dan hasilnya lebih maksimal serta akurat.

18

19

DAFTAR PUSTAKA
Atkins, P.W. 1990. Kimia Fisika Jilid 1. Jakarta: Erlangga Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasr Jilid 2 Edisi Ke 3. Jakarta: Erlangga Dogra, S.K. 2008. Kimia Fisika 1. Malang: JICA Petrucci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga Syukri, S. 1999. Kimia Dasar Jilid 1. Bandung: ITB

19