Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pemilihan Judul Dari waktu ke waktu permintaan masyarakat akan gula terus meningkat.

Hal ini disebabkan perkembangan penduduk dan semakin maraknya industri yang menggunakan bahan baku gula. Meningkatnya konsumsi masyarakat akan gula hendaknya disertai dengan meningkatnya produksi gula. Barbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan produksi gula. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan mesin-mesin dalam proses pembuatan gula. Dengan adanya mesin-mesin ini pembuatan gula tidak lagi dilakukan secara tradisional. Seiring dengan semakin berkembangnya mesin-mesin pembuat gula, maka produksi gula pun semakin meningkat. Produksi gula dewasa ini jauh lebih baik dilihat dari segi kualitas maupun kuantitas bila dibandingkan dengan produksi gula pada waktu sebelum adanya mekanisasi. Proses pembuatan gula yang dilakukan secara tradisional tidak efektif dan efisien. Pabrik pabrik gula tradisional hanya mampu memproduksi gula dalam skala kecil. Selain itu gula yang dihasilkan berkualitas rendah, karena gula yang dibuat secara tradisional berwarna merah kecoklatan atau kuning. Hal ini menyebabkan masyarakat enggan mengkonsumsi gula tersebut, sehingga distribusi gula jenis ini terbatas pada masyarakat pedesaan sekitar pabrik gula tradisional. Apa yang dialami pabrik gula tradisional tentunya tidak dialami oleh pabrik-pabrik gula modern yang telah menggunakan mesin-mesin dalam proses pembuatan gula mampu memperoleh gula dalam skala besar, selain itu mutu gula yang dihasilkan lebih baik. Gula yang dihasilkan merupakan gula SHS ( Superieure Hoofd Suiker) yang berwarna putih. Berdasarkan kenyataan diatas, maka penyusun mencoba menyusun sebuah karya tulis yang berjudul PENGGUNAAN MESIN MANUAL SEBAGAI ALAT ALTERNATIF DALAM PROSES PEMBUATAN GULA. Dalam karya tulis ini penyusun membahas mengenai penggunaan mesin-mesin dalam proses pembuatan gula. 1. Perumusan Masalah Untuk memudahkan penyusunan karya tulis ini penyusun membatasi masalah yang akan dibahas. Dengan demikian yang menjadi pokok masalah adalah sebagai berikut dibawah ini.

1. Mesin-mesin apa sajakah yang digunakan dalam proses pembuatan gula ? 2. Bagaimana cara kerja mesin-mesin dalam setiap tahapan proses pembuatan gula ? 3. Apakah kelebihan dan kekurangan hasil produksi gula menggunakan mesin manual? Dengan melihat pokok-pokok permasalahan diatas penyusun berusaha menjelaskan mesin-mesin dan cara kerjanya dalam proses pembuatan gula. 1. Maksud dan Tujuan Penulisan Karya Tulis Penyusunan karya tulis ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan mengikuti UAN/UAS tahun pelajaran 2009/2010. Selain itu penyusunan karya tulis ini juga bertujuan untuk hal-hal di bawah ini. 1. Untuk mengetahui mesin-mesin apa sajakah yang digunakan dalam proses pembuatan gula 2. Untuk mengetahui bagaimana cara kerja mesin-mesin dalam setiap proses pembuatan gula 3. Untuk mengetahui kelebuhan dan kekurangan hasil produksi gula menggunakan mesin manual 1. Ruang Lingkup Pembahasan Masalah Ruang lingkup pembahasan karya tulis ini tidak terlepas dari judul karya tulis. Penyusunan menitikberatkan pada pemanfaatan/penggunaan mesin-mesin (mekanisasi) dalam proses pembuatan gula. Penyusun membahas mengenai tahapan-tahapan pembuatan gula dan jenis mesin yang digunakan dalam setiap tahapan serta cara kerjanya. 1. Metode Penelaahan Penyusunan karya tulis ini berdasarkan data-data hasil pengamatan. Dalam

pengumpulan data, penyusun menggunakan metode penelaahan seperti dibawah ini, 1. Metode Observasi Penyusun mengadakan kunjungan langsung ke pabrik gula Madukismo, Yogyakarta. Di sana penyusun mengadakan observasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan proses pembuatan gula. 1. Metode Wawancara

Penyusun mengadakan wawancara dengan karyawan PG. Madukismo Baru secara langsung mengenai mesin-mesin yang digunakan dalam proses pembuatan gula. 1. Metode Studi Pustaka Untuk melengkapi data-data dari hasil observasi dan wawancara, penyusun juga melakukan studi literatur atau telaah buku. penyusun mempelajari berbagai sumber dan memadukannya dalam kesatuan pemikiran. 1. Sistematika Karya Tulis HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Pemilihan Judul 2. Perumusan Masalah 3. Maksud dan Tujuan Penulis 4. Ruang Lingkup Pembahasan Masalah 5. Metode Penelaahan 6. Sistematika Karya Tulis BAB II PENGENALAN TANAMAN TEBU 1. Morfologi Tanaman Tebu 2. Varietas Tebu yang Baik untuk Bahan Baku Gula BAB III PROSES PENGOLAHAN 1. Jenis mesin yang digunakan dalam pembuatan gula 2. Tahapan tahapan pembuatan gula 1. Pemerahan Nira (ekstrasi) 2. Pemurnian

3. Penguaupan (evaporasi) 4. Kristalisasi 5. Pemisahan keristal 6. Pengeringan 7. Sumber Tenaga Penggerak Mesin Pembuat Gula 8. Kelebihan dan Kekurangan Produksi Gula Menggunakan Mesin Manual BAB IV PENUTUP 1. Kesimpulan 2. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB II PENGENALAN TANAMAN TEBU 1. Morfologi Tanaman Tebu Sebelum kita membahas mengenai penggunaan mesin-mesin pembuat gula, ada baiknya bila kita mengulas sedikit mengenai bahan dasar pembuatan gula yaitu tebu. Nama tebu hanya terkenal di Indonesia. dilingkungan internasional tanaman ini lebih dikenal dengan nama ilmiahnya Saccharum officinarum L. Jenis ini termasuk dalam famili Gramineae atau kelompok rumput-rumputan. Secara morfologi tanaman tebu dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu batang, daun, akar, dan bunga. Masing-masing bagian memiliki ciri-ciri tertentu. 1. Ciri-ciri Batang 2. Ciri-ciri Daun 3. Ciri-ciri Akar 4. Ciri-ciri Bunga 1. Tumbuh tegak, sosoknnya tinggi kurus dan tidak bercabang. 2. Tinggi mencapai 3,5 meter. 3. Memiliki ruas dengan panjang ruas 10,30 cm. 4. Kulit batang keras berwarna hijau, kuning, ungu, merah tua atau kombinasinya.

1. Merupakan daun tidak lengkap 2. Daun berpangkal pada buku batang dengan kedudukan yang berseling 3. Pelepah memeluk batang, semakin keatas semakin menyempit, terdapat bulu-bulu daun dan telinga daun. 4. Pertulangan daun sejajar 5. Helaian daun berbentuk garis dengan ujung meruncing, bagian tepi bergerigi dan permukaan daun kasar. 1. Akar serabut 2. Panjang mencapai 1 Meter 1. Merupakan bunga majemuk 2. Panjang bunga majemuk 70-90 cm 3. Setiap bunga mempunyai 3 daun kelopak, 1 daun mahkota, 3 banang sari dan 2 kepala putik 1. Varietas Tebu yang Baik untuk Bahan Baku Gula Varietas tebu sangat banyak jumlahnya, tetapi tidak semua unggul. Yang dimaksud variatas unggul adalah varietas yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Tingkat produktivitas gula yang tinggi. Produktivitas dapat diukur dari bobot atau rendaman yang tinggi; 2. Tingkat produktivitas (daya produk) yang stabil;

3. Kemampuan yang tinggi untuk di kepras; dan 4. Teloransi yang tinggi terhadap hama dan penyakit; Varietas tebu yang baik untuk bahan baku gula adalah Varietas tebu yang termasuk kedalam kriteria Varietas yang sudah mencapai masa tebu layak giling. Yang dimaskud tebu layak giling adalah : 1. Tebu yang ditebang pada tingkat pemasakan optimal. 2. Kadar kotoran (tebu mati, pucuk, pelepah tanah, dll) maksimal 2% 3. Jangka waktu sejak tebang sampai giling tidak lebih dari 36 jam. Berdasarkan ciriciri tebu diatas maka pada umumnya pabrik gula di Indonesia memakai tebu Varietas Ps dari pasuruan dan Bz dari Brazil. 1. Jenis Mesin Manual yang Digunakan dalam Pembuatan Gula

Mesin-mesin manual yang digunakan dalam proses pembuatan gula antara lain adalah : 1. Mesin elektrolisa yang terdiri dari 1. Mesin pengerja pendahulu (Voorbewer kers) yang terdiri dari Unigator Mark IV dan Cane knife. 2. Alat gilingan terdiri dari 5 buah gilingan dan 3 rol penggiling. 2. Mesin pemurnian nira yang terdiri dari : 1. Tabung Defekator 2. Alat Pengendap 3. Rotary Vacuum Filter 3. Mesin penguap yang terdiri dari : 1. Beberapa evaporator 2. Kondespot 3. Michaelispot 4. Pompa vakum 4. Mesin kristalisasi terdiri dari : 1. Pan vakum 2. Palung pendingin (kultrog) 5. Mesin putaran gula (centrifugal) 1. Broadbent 2. Batch Sangerhausen 3. Wester Stated CCS 4. BMA 850 K 6. Mesin pengering 7. Mesin pembangkit tenaga uap/listrik D. Jenis Mesin Modern yang Digunakan dalam Pembuatan Gula 1. Boiler 2. Diffuser 3. Clarifier 4. Vakum Putar

5. Evaporator Majemuk(multiple effect evaporator) 6. Sentrifugasi 7. Resin 8. Recovery BAB III PROSES PENGOLAHAN Tebu dipanen setelah cukup masak, dalam arti kadar gula (sakarosa) maksimal dan kadar gula pecahan (monosakarida) minimal. Untuk itu dilakukan analisa pendahuluan untuk mengetahui faktor pemasakan, koefisien daya tahan, dll. Ini dilakukan kira-kira 1,5 bulan sebelum penggilingan. Setelah tebu dipanen dan diangkat ke pabrik selanjutnya dilakukan pengolahan gula putih. Pengolahan tebu menjadi gula putih dilakukan di pabrik dengan menggunakan peralatan yang sebagain besar bekerja secara otomatis. 1. Tahap-tahap dalam Pembuatan Gula Pembuatan gula putih di pabrik gula mengalami beberapa tahapan pengolahan, yaitu pemerahan pengeringan. 1. Pemerahan Nira (Ekstrasi) Tebu setelah ditebang, dikirim ke stasiun gilingan untuk dipisahkan antara bagian padat (ampas) dengan cairannya yang mengandung gula (nira mentah). Alat penggiling tebu yang digunakan di pabrik gula berupa suatu rangkaian alat yang terdiri dari alat pengerja pendahuluan (Voorbewer keras) yang dirangkaikan dengan alat giling dari logam. Alat pengerja pendahuluan terdiri dari Unigator Mark IV dan Cane knife yang berfungsi sebagai pemotong dan pencacah tebu. Setelah tebu mengalami pencacahan dilakukan pemerahan nira untuk memerah nira digunakan 5 buah gilingan, masingmasing terdiri dari 3 rol dengan ukuran 36X64. nira, pemurian, penguapan, kristalisasi, pemisahan kristal, dan

2.

Pemurnian Nira

Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk proses pemurnian gula yaitu cara defekasi, sulfitasi dan karbonatasi. Pada umumnya pabrik gula di indonesia memakai cara sulfitasi. Cara sulfitasi menghemat biaya produksi, bahkan pemurnian mudah di dapat dan gula yang dihasilkan adalah gula putih atau SHS (Superieure Hoofd Sumber). Proses ini menggunakan tabung defekator, alat pengendap dan saringan Rotary Vacuum Filter dan bahan pemurniannya adalah kapur tohor dan gas sulfit dari hasil pembakaran. Mula-mula nira mentah ditimbang, dipanaskan, direaksikan dengan susu kapur dalam defekator, kemudian diberi gas SO2 dalam peti sulfitasi, dipanaskan dan diendapkan dalam alat pengendap. Nira kotor yang diendapkan kemudian disaring menggunakan Rotery Vaccum Filter. Dari proses ini dihasilkan nira jernih dan endapan padat berupa blotong. Nira jernih yang dihasilkan kemudian dikirim kestasiun penguapan.

3.

Penguapan Nira (Evaporasi)

Nira jernih masih banyak mengandung uap air. Untuk menghilangkan kadar air dilakukan penguapan (evaporasi). Dipabrik gula penguapan dilakukan dengan menggunakan beberapa evaporator dengan sistem multiple effect yang disusun secara interchangeable agar dapat dibersihkan bergantian. Evaporator bisanya terdiri dari 4-5 bejana yang bekerja dari satu bejana sebagai uap pemanas bejana berikutnya. Total luas bidang pemanas 5990m2 vo. Dalam bejana Nomor 1 nira diuapkan dengan menggunakan bahan pemanas uap bekas secara tidak langsung. Uap bekas ini terdapat dalam sisi ruang uap dan nira yang diuapkan terdapat dalam pipa-pipa nira dari tombol uap. Dari sini, uap bekas yang mengembun dikeluarkan dengan kondespot. dalam bejana nomor 2, nira dari bejana nomor 1 diuapkan dengan menggunakan uap nira dari bejana penguapan nomor 1. Kemudian uap nira yang mengembun dikeluarkan dengan Michaelispot. Di dalam bejana nomor 3, nira yang berasal dari bejana nomor 2 diuapkan dengan menggunakan uap nira dari bejana nomor 2. Demikian seterusnya, sampai pada bejana terakhir

merupakan nira kental yang berwarna gelap dengan kepekatan sekitar 60 brik. Nira kental ini diberi gas SO2 sebagai belancing dan siap dikristalkan. Sedangkan uap yang dihasilkan dibuang ke kondensor sentral dengan perantara pompa vakum.

4. Kristalisasi Nira kental dari sari stasiun penguapan ini diuapkan lagi dalam suatu pan vakum, yaitu tempat dimana nira pekat hasil penguapan dipanaskan terus-menerus sampai mencapai kondisi lewat jenuh, sehingga timbul kristal gula. Sistem yang dipakai yaitu ABD, dimana gula A dan B sebagai produk,dan gula D dipakai sebagai bibit (seed), serta sebagian lagi dilebur untuk dimasak kembali. Pemanasan menggunakan uap dengan tekanan dibawah atmosfir dengan vakum sebesar 65 cmHg, sehingga suhu didihnya 650c. Jadi kadar gula (sakarosa) tidak rusak akibat terkena suhu yang tinggi. Hasil masakan merupakan campuran kristal gula dan larutan (Stroop). Sebelum dipisahkan di putaran gula, lebih dulu didinginkan pada palung pendinginan (kultrog). 5. Pemisahan Kristal Gula pemisahan kristal dilakukan dengan menggunakan saringan yang bekerja dengan gaya memutar (sentrifungal). Alat ini bertugas memisahkan gula terdiri dari : 1. 3 buah broadbent 48 X 30untuk gula masakan A. 2. 4 buah bactch sangerhousen 48 X 28 untuk masakan B. 3. 2 buah western stated CCS untuk D awal. 4. 6 buah batch sangerhousen 48 X 28 untuk gula SHS. 5. 3 buah BNA 850 K untuk gula D.

dalam tingkatan pengkristalan, pemisahan gula dari tetesnya terjadi pada tingkat B. Pada tingkat ini terjadi poses separasi (pemisahan). Mekanismenya menggunakan gaya sentrifugal. Dengan adanya sistem ini, tetes dan gula terpisah selanjutnya pada tingkat D dihasilkan gula melasse (kristal gula) dan melasse (tetes gula). 6. Pengeringan Kristal Gula Air yang dikandung kristal gula hasil sentrifugasi masih cukup tinggi, kira-kira 20% . Gula yang mengandung air akan mudah rusak dibandingkan gula kering, untuk menjaga agar tidak rusak selama penyimpanan, gula tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu. pengeringan dapat dilakukan dengan cara alami atau dengan memakai udara panas kira-kira 800c. pengeringan gula secara alami dilakukan dengan melewatkan SHS pada talang goyang yang panjang. Dengan melalui talang ini gula diharapkan dapat kering dan dingin. Proses pengeringan dengan cara ini membutuhkan ruang yang lebih luas dibandingkan cara pemanasan. Karena itu, pabrik-pabrik gula menggunakan cara pemanasan. Cara ini bekerja atas dasar prinsip aliran berlawanan dengan aliran udara panas. 1. Sumber Tenaga Penggerakan Mesin Pembuat Gula Tenaga yang menggerakan mesin-mesin pembuat gula selain berasal dari pembangkit listrik juga berasal dari pembangkit tenaga uap. Sebagai penghasil tenaga digunakan 5 buah ketel pipa air Niew mark 16 ton/jam masing-masing 440 m2vo dengan tekanan kerja 15 kg/cm2 dan satu buah ketel cheng-cheng kapasitas 40 ton/jam. Uap yang dihasilkan dipakai untuk menggerakan turbin generator dan mesin uap. Uap bekasnya dipakai untuk memanaskan dan menguapkan nira dalam panci mengguapkan dan memanaskan gula. Bahan bakar pembangkit tenaga uap adalah ampas tebu yang berasal dari proses pemerahan nira. Ampas tebu yang di hasilkan dari proses pemerahan nira tersebut sekitar 30% tebu. Ampas tebu mengandung kalori sekitar 18000 kca/kg kekurangannya di tambah BBM (F,O). 1. Kelebihan dan Kekurangan Produksi Gula Menggunakan Mesin Manual Produksi gula menggunakan mesin manual hasilnya cukup memuaskan, gula yang diproduksi pun adalah gula putih atau SHS (Superieure Hoofd Suiker). Selain itu produksi gula menggunakan mesin manual lebih menghemat energi, karena bahan bakarnya berasal dari ampas tebu. Tetapi produksi gula menggunakan mesin manual juga memiliki kekurangan yaitu, tingkat produksi gula belum mampu mengimbangi dan

tingkat konsumsi masyarakat, karena produksi gula menggunakan mesin manual lebih sedikit dari pada produksi gula menggunakan mesin yang berteknologi canggih BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Produksi gula diupayakan terus meningkat baik dari segi kualitas maupum kuantitas, penggunaan mesin-mesin (mekanisaai) merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi gula. Meskipun mesin-mesin yang digunakan bukan mesin berteknologi canggih. Pada umumnya mesin-mesin yang digunakan oleh pabrik-pabrik gula di Indonesia pengoprasiannya dilakukan oleh manusia. Mesin-Mesin tersebut bekerja secara manual tidak secara komputerisasi. Pembuatan gula terdiri dari beberapa tahapan dan setiap tahap menggunakan mesinmesin tersendiri. Adapun tahapan-tahapan pembuatan gula itu adalah : 1. Tahapan pemerahan nira (ekstasi); 2. Tahapan pemurnian nira; 3. Tahapan penguapan nira; 4. Tahapan kristalisasi; 5. Tahapan pemisahan kristal; dan 6. Tahapan pengeringan. Mesin-mesin yang digunakan dalam tahapan-tahapan pembuatan gula di atas digerakan oleh tenaga yang berasal dari pembangkit listrik dan pembangkit tenaga uap. Sedangkan bahan bakar untuk pembangkitan tenaga uap itu sendiri berupa ampas tebu yang dihasilkan dari proses pemerahan nira. Produksi gula menggunakan mesin manual lebih menghemat energi dibandingkan dengan produksi gula menggunakan mesin yang berteknologi canggih. Kekurangan produksi gula menggunakan mesin manual adalah tingkat produksi gula belum mampu mengimbangi tingkat konsumsi masyarakat. B. Saran Penggunaan mesin-mesin pembuat gula (mekanisasi) memang telah mampu

meningkatkan produksi gula, tetapi hasilnya belum cukup memuaskan. Tingkat produksi gula belum mampu mengimbangi tingkat konsumsi masyarakat karena itu, uapnya untuk meningkatkan produksi gula dalam negeri masih harus diupayakan. Kalau

selama ini mesin-mesin yang digunakan di pabrik gula masih bersifat manual (tidak berteknologi canggih), mungkin untuk masa yang akan datang mesin-mesin yang digunakan harus lebih canggih. Dengan mesin-mesin berteknologi tinggi (canggih ) produksi gula akan lebih meningkat, baik dari segi kualitas maupun kuantitas dibanding dengan produksi gula saat ini.DAFTAR PUSTAKA Anonim.2007.PT.MADUBARU.Yogyakarta:Padokan. http://putrandaputranda.blogspot http://teknologietanol.blogspot.

indonetwork.co.id Nurlaela,Ela.Marlina,dkk.1998.makalah.Sukaresmi. http://www.Suclose.com


LAMPIRAN Daftar Istilah Bleaching Carbonatasi : Pemutih : Cara pemurnian nira dengan menggunakan

CO2 sebagai bahan pemurni. Defekasi : Cara pemurnian nira dengan menggunakan

kapur sebagai bahan pemurni Interchangeable Multiple effect Nira Rendemen keseluruhan Stroop Sulfitasi : Campuran larutan dan kristal gula : Cara pemurnian nira dengan menggunakan gas : Memungkinkan pertukaran : memberikan banyak pengaruh : Cairan tebu : Persen Jumlah yang dapat dimanfaatkan dari

sulfit sebagai bahan pemurni

1.

LATAR BELAKANG

Kita sebagai mahasiswa tentunya harus memahami dan mengaplikasikan ilmu yang didapat selama kuliah kelak dalam dunia kerja.Sebagai mahasiswa generasi muda yang siap terjun dalam dunia kerja harus dapat memahami berbagai persoalan yang akan terjadi, maka diperlukan sumber daya manusia yang berkompeten, brekualitas , terampil, dan memahami serta menguasai dunia kerja sesuai dengan bidangnya (spesialisasi). Salah satu Kunjungan yang kami lakukan untuk menambah wawasan kami sebagai mahasiswa adalah melakukan KKL di Pabrik Gula dan Pabrik Spirtus Madukismo di Yogyakarta , hal tersebut disesuaikan dengan mata kuliah yang diambil yaitu matakuliah Biokimia. Pabrik Gula Madukismo merupakan salah satu perusahaan agroindustri berbasis tebu yang telah berdiri sejak tahun 1955 dan masih tetap eksis keberadaannya hingga saat ini. Selain menjalankan bisnis inti seperti Pabrik Gula dan Pabrik Alkohol, PT. Madubaru sebagai pengelola Pabrik Gula Madukismo yangberlokasi di Bantul, Yogyakarta juga telah mengembangkan program diversifikasiusaha. Salah satu diversifikasi usaha tersebut berupa agrowisata yang telahdikenalkan kepada masyarakat sejak 17 April 1993 oleh Sri SultanHamengkubuwono X. Dalam pelaksanaannya PT. Madubaru menjalankan setrategi bisnis Overal Cost Leadership pada usaha pokok dan strategi bisnis differensiasi serta diversifikasi usaha. Tidak dapat dipungkiri kegiatan agrowisata telah banyak mendatangkan keuntungan untuk berbagai pihak baik masyarakat umum, pemerintah,ataupun perusahaan pengelola itu sendiri. Berdasarkan kondisi tersebut Pabrik GulaMadukismo sebagai salah satu prasarana studi kasus disini perlu dilakukanpeninjauan terhadap kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui prospek keberlanjutan usaha serta pengaruh yang ditimbulkan terhadap berbagai kalangan Oleh karena ini dengan adanya KKL ini mahasiswa diharapkan mampu menerapkan teori yang telah dipelajari dibangku kuliah dan dapat mengaplikasikan dalam dunia kerja sesuai dengan ilmu yang kita terima.

1. III.

TINJAUAN PUSTAKA i. Metode Observasi

Penyusun mengadakan kunjungan langsung ke pabrik gula Madukismo, Yogyakarta. Di sana penyusun mengadakan observasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan proses pembuatan gula. ii. Metode Wawancara

Penyusun mengadakan wawancara dengan karyawan PG. Madukismo Baru secara langsung mengenai mesin-mesin yang digunakan dalam proses pembuatan gula. iii. Metode Studi Pustaka

Untuk melengkapi data-data dari hasil observasi dan wawancara, penyusun juga melakukan studi literatur atau telaah buku. penyusun mempelajari berbagai sumber dan memadukannya dalam kesatuan pemikiran. 1. IV. HASIL PENGAMATAN 1. Waktu dan tempat Waktu: Sabtu, 2 Juni 2012-06-1 Tempat: Pabrik Gula Madukismo. PT Madubaru, Yogyakarta. 1. Produk:

PRODUK GULA

Proses Pembuatan Gula di Pabrik Gula Madukismo Terdiri dari 3 Tahap: 1. 1.

Tahap persiapan

Panenan Tebu dipanen setelah cukup masak, dalam arti kadar gula (sakarosa) maksimal, dan kadar gula pecahan (monosakarida) minimal. Untuk itu dilakukan analisa pendahuluan untuk mengetahui faktor kemasakan, koefisiensi daya tahan dan lain lain. Ini dilakukan kira-kira 1,5 bulan sebelum giling dimulai.

1. 2.

Tahap Pembuatan

Pemerahan Nira

Tebu setelah ditebang, dikirim ke stasiun gilingan untuk dipisahkan bagian padat dengan cairannya yang mengandung gula melalui alat alat berupa unigratormark IV dan cane knife digabung dengan lima gilingan. Ampas yang diperoleh sekitar 30% tebu untuk bahan bakar di stasiun ketel (pusat tenaga), sedangkan nira mentah akan dikirim ke bagian pemurnian untuk proses lebih lanjut. Untuk mencegah kehilangan gula karena bakteri dilakukan sanitasi di stasiun gilingan.

Pemurnian Nira

Nira mentah ditimbang, dipanaskan 70 derajat celcius sampai 75 derajat celcius, direaksikan dengan susu kapur dalam defeactor dan diberi gas Sulfur dioksida dalam peti sulfitasi sampai Ph 7,00 kemudian dipanaskan lagi sampai suhu 100 derajat celcius sampai suhu 105 derajat celcius.

Penguapan Nira

Nira jernih dipekatkan di dalam pesawat penguapan dengan sistem multiple effect, yang disusun secara interchangeable agar dapat dibersihkan secara bergantian. Nira encer dengan padatan terlarut 16% dapat dinaikkan menjadi 64% dan disebut nira kental, yang siap di kristalkan di stasiun kristalisasi/stasiun masakkan. Nira kental yang berwarna gelap ini diberi gas Sulfur dioksida sebagai bleaching atau pemucatan dan siap untuk dikristalkan.

Kristalisasi Nira kental dari stasiun penguapan ini diuapkan lagi dalam pan kristalisasi sampai lewat jenuh hingga timbul kristal gula. Sistem yang dipakai yaitu ACD, dimana gula A sebagai gula produk, gula C dan D dipakai sebagai bibit (seed) serta sebagian lagi dilebur untuk dimasak lagi. Pemanasan menggunakan uap dengan tekanan vakum sebesar 65CmHg, sehingga suhu didihnya hanya 65 derajat celcius, jadi sakarosa tidak rusak akibat terkena panas tinggi. Hasil masakkan merupakan campuran kristal gula dan larutan (stroop). Sebelum dipisahkan di Stasiun Puteran, gula lebih dahulu didinginkan di dalam palung pendingin (kultrog).

Puteran Gula

Pada tahap ini gula dipisahkan dengan larutannya dengan alat-alat yang menggunakan gaya centrifugal. 1. 3. Pengemasan

Penyelesaian dan Gudang Gula Dengan alat penyaring gula, gula shs dari dipisahkan antara gula halus, gula kasar dan gula normal dikirim ke gudang gula dan dikemas dalam karung plastik 50kg netto. Produksi gula perhari tergantung dari rendemen gulanya, kalau rendemen 8% maka pada kapasitas 3.000tth diperoleh gula 2.400 ku atau 4.800 sak. Untuk Pabrik Gula Madukismo sendiri kualitas gulanya masuk klasifikasi SHS IA, dengan nilai remisi direduksi diatas 70.

PRODUK ALKOHOL DAN SPIRITUS

Proses Pengolahan Alkohol dan Spiritus

Selain memproduksi gula, Madubaru juga memproduksi alkohol (C2H5OH) sebagai produk sampingan. Alkohol yang diproduksi di PS MADUBARU merupakan alkohol jenis etanol. Reaksi Kimia Saccarosa dihidrolisa menjadi glukosa C12H22O11 + H2O2C6H12O6 Glukosa bereaksi menjadi alkohol+gas CO2 C6H12O62C2 H5 OH+ 2CO2alkohol

Proses Produksi terdiri dari 3 tahap: 1. Alkohol teknis : yang masih mengandung aldehide,kadar 94 digunakan untuk membuat spiritus bakar. 2. Alkohol murni: inimal kadar 95 bisa dipakai pada industry farmasi, kosmetik dan lain-lain. 3. Hasil samping: minyak fusel ( amlaamyl alcohol ) 4. Pemakaian tetes: rata-rata 1 hari 900 kwt 5. Produksi rata-rata 25.000 l alcohol/24 jam, terdiri dari (90 alcohol murni, 10alk0hol teknis). 6. Rendemen :27,0 l alcohol/kwt tetes a. Masakan

Tetes diencerkan dengan air sampai kadar tertentu dan ditambah nutrisi untuk pertumbuhan ragi sebagai sumber Nitrogen dipakai pupuk urea dan sebagai sumber pospor dipakai pupuk NPK, PH diatur sekitar 4,8 dengan H2SO4 agar tidak terjadi kontaminasi dari bakteri lain. b. Peragian

Peragian dilaksanakan mulai volume3.010,18000 liter dan 75000 liter, waktu peragian utama berkisar 50-60jam dan kadar alcohol disampai antara 9 sampai 10.

c.

Penyulingan

Adonan yang telah selesai diragikan , dipisahkan alkoholnya (disuling) didalam pesawat penyulingan yang terdiri dari 4 kolom dan penyulingan dilakukan dengan mengunakan tenega uap dengan tekanan 0,5 kg/cm2 suhu 120C. 1. Kolom Maische

Alcohol kasar kadar 45masuk kolom vorloop. Hasil bawah: vinase dibuang 2. Kolom Voorloop

Hasil atas: alkohol teknis kadar: 94 masih mengandung aldehide, ditampung sebagai hasil. Hasil bawah: alkohol muda kadar 25masuk kekolom rektifiser 3. Kolom Rektifiser

Hasil atas: alkohol murni (prima 1) kadar minimal 95 ditampung sebagai hasil. Hasil tengah: alkohol muda yang mengandung minyak fusel, masuk kolom nachloop. Hasil bawah: lutter waser, air yang bebas alcohol, kadang-kadang bila perlu sebagian digunakan untuk menambah kolom voorloop sebagai bahan penyerap alcohol dan sebagian dibuang. 4. Kolom Nachloop

Hasil atas: alkohol teknis kadar 94 ditampung sebagai hasil. Hasil bawah: air yang bebas alkohol, dibuang . Minyak fusel (Amyl Alkohol) merupakan hasil samping pabrik sepiritus, ini biasa digunakan untuk bahan baku pembuatan Essence (Amylacetat).

PRODUK LIMBAH INDUSTRI

PG. / PS. Madukismo telah menyusun dokumen amdalnya dan telah mendapat persetujuan dari pembinanya, sebagai berikut : PG. Madukismo Disetujui oleh PS. Madukismo : KA-SEL, SEL, RKL dan RPL. : departemen pertanian RI. : PEL, RKL dan RPL.

Disetujui oleh departemen perindustrian RI

Jenis limbah industry yang timbul dan cara pengolahannya 1. a) Limbah Padat Pasir atau Lumpur

Kotoran yang terbawa nira mentah, dipisahkan dgn dorrchone, dimanfaatkan untuk uruk lahan atas permintaan masyarakat b) Abu Ketel Uap

Sisa pembakaran di stasiun ketel uap, ditampung dengAn lori jading dan dimanfaatkan juga untuk uruk lahan yang memerlukan. Sekarang untuk bahan baku pupuk Mix Madros . c) Debu/Langes dari Ketel Uap

Debu /langes yang terbawa keluar lewat cerobong asa, ditangkap dengan alat penangkap debu (Dust Collector) dan ditampung dalam lori jading.

d)

Blothong

Endapan kotoran dari nira tebu yang terjadi di stasiun pemurnian nira dipisahkan dengan alat rotary vacuum filter, dimanfaatkan untuk pupuk tanaman lain, bisa juga dimanfaatkan untuk bahan lain. Jumlahnya cukup banyak, sekitar 100 ton/hari. Sekarang untuk bahan baku pupuk Mix Madros. 2. a) Limbah Cair Bocoran Minnyak Pelumas

Berasal dari pelumas mesin-mesin di stasiun gilingan dan pelumas yang terbawa pada air cucian kendaraan garasi pabrik. Bocoran minyak pelumas ini dipisahkan dalam air limbah di dalam penangkap minyak, kemudian ditampung dalam drum-drum untuk di manfaatkan lagi. b) Vinasse (Slop)

Berasal dari sistem penyulingan alkohol, di stasiun sulingan PS. Madukismo, jumlahnya cukup besar, sebelum sekitar 20 m/jam, suhu: 90 pH 4-5, warnanya coklat hitam. Sebelum dibuang ke sungai, diolah terlebih dahulu di unit pengolahan limbah cair (UPLC) yang ada, dengan menggunakan sistem/cara biologis. Operasionalnya masih perlu disempurnakan lagi secara bertahap, agar hasilnya memenuhi baku mutu limbah cair dari pabrik gula. Dan limbah pabrik spiritus banyak dimanfaatkan untuk air irigasi

oleh pertanian di sekitar pabrik, karena mengandung unsur N, P, dan K yang diperlukan untuk pupuk. c) Limbah Soda

Berasal dari cucian pan-pan penguapan di pabrik gula yang kandungan COD dan BODnya cukup tinggi. Jumlahnya relative sedikit, pengolahannya diikutkan di UPLC yang ada. 3. a) Gangguan Lingkungan Yang Lain Suara Bising

Berasal dari bocoran uap yang berlebih di stasiun ketel uap, untuk meredam suara tersebut, saat ini sudah dilengkapi dengan silencer (alat peredam suara) di setiap ketel uap. b) Limbah Gas

Bau belerang dan bau busuk yang lain, ditanggulangi pada alat-alat yang terkait (Inhouse Keeping).

1. V.

KESIMPULAN

Produk dari PT MADU BARU berupa gula, spiritus, dan alkohol. Tahapan-tahapan pembuatan gula:

1. Tahap persiapan

Panenan

1. Tahap Pembuatan

Pemerahan Nira Pemurnian Nira Penguapan Nira Kristalisasi Puteran Gula

1. Pengemasan

Penyelesaian dan Gudang Gula

Tahapan-tahapan pembuatan alkohol dan spiritus:

1. Masakan 2. Peragian 3. Penyulingan

Dari hasil produksi tersebut dihasilkan pula limbah yang masih dapat dimanfaatkan seperti:
o

Limbah Padat (Pasir atau Lumpur, Abu Ketel Uap, Debu/Langes dari Ketel Uap, Blothong)

Limbah Cair (Bocoran Minnyak Pelumas, Vinasse (Slop), Limbah Soda)

1. VI.

DAFTAR PUSTAKA

_____. Buku Dinamika Lima Puluh Tahun PT Madu Baru. Yogyakarta. Martoharsono, S. 1990. Biokimia I. Gajah Mada Press.Yogyakarta Notojoewono, A.W. 1981. Tebu. PT.Soeroengan. Jakarta Winarno, F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

http://mandhawai.wordpress.com/2012/07/05/laporan-kkl-biokimia/ http://deluk12.wordpress.com/makalah-proses-pembuatan-gula/

Pabrik Gula Madukismo

Pabrik gula Madukismo, adalah salah satu pabrik gula tertua di tanah air. Pabrik ituberdiri sudah berdiri sejak tahun 1955. Mengunjungi Pabrik Gula Madukismo, anda akan merasakan nuansa awal era industri. Sebuah bangunan besar berusia tua dengan halaman luas, mesin-mesin kuno serta rel-rel kereta yang menjadi jalan kereta pengangkut tebu akan menyapa dan menguatkan kesan itu. Pabrik ini menawarkan kenikmatan berwisata yang berbeda dengan tempat lainnya. Seluruhnya dikemas dalam Paket Agrowisata Madukismo, anda bisa menikmatinya dengan mendaftar dulu sebagai peserta wisata jauh hari sebelumnya karena paket wisata ini tak bisa dinikmati setiap saat. Begitu sampai, anda akan disambut di Gedung Madu Chandya yang terletak tak jauh dari areal pabrik. Anda akan mendapat penjelasan tentang proses pembuatan gula dari tebu dan pembuatan spiritus dari hasil samping produksi gula. Sedikitnya, penjelasan yang diberikan akan membantu anda menikmati proses produksi di dalam pabrik. Tak perlu merasa bosan karena penjelasan dikemas secara audio visual sehingga menarik untuk disaksikan. Perjalanan menggunakan kereta api tua bisa dinikmati usai mendapat penjelasan tentang proses produksi. Anda bisa merasakan nuansa perjalanan dengan kereta pada masa lampau ketika berada di dalam gerbong yang ditarik oleh lokomotif tua bermesin diesel buatan Jerman. Dengan kereta itu, anda akan diantar dari Madu Chandya menuju areal pabrik melewati rel-rel tua dan perkebunan yang ada di dekat pabrik. Begitu turun dari kereta, anda akan menuju lokasi Pabrik Gula Madukismo. Jika datang pada bulan Mei - September, anda bisa menyaksikan proses produksi gula secara langsung. Produksi gula melewati tahap pemerahan nira untuk mendapatkan sari gula, pemurnian nira dengan sulfitasi, penguapan nira, kristalisasi, puteran gula, dan pengemasan. Sambil mencermati proses produksinya, anda juga bisa melihat mesin-mesin tua yang menjadi alat produksi di pabrik ini. Keluar dari lokasi produksi gula, anda akan menuju Pabrik Spiritus Madukismo yang terletak di sebelah barat pabrik gula. Di pabrik yang berdiri di pada tahun yang sama dengan pabrik gula ini, anda juga bisa melihat seluruh proses produksi spiritus yang meliputi tahap pengenceran bahan baku, peragian atau fermentasi dan penyulingan. Spiritus dan produk alkohol lainnya yang dihasilkan oleh pabrik ini diolah dari tetes tebu, hasil samping produksi gula. Meski paket wisata telah usai sehabis mengunjungi pabrik spiritus, anda tak perlu terburu-buru pulang. Masih banyak objek menarik lainnya yang perlu dinikmati, misalnya dengan berkeliling ke wilayah di sekitar pabrik. Anda bisa melakukan napak tilas melewati rel-rel kereta yang dulu digunakan untuk mengangkut tebu dari desa-desa di wilayah Bantul ke lokasi pabrik sambil melihat pemandangan sawah yang hijau. Di wilayah sebelah timur pabrik, anda juga bisa menemui gerbonggerbong pengangkut tebu yang kini juga sudah tidak terpakai. CEMBENGAN, Ritual Musim Giling Pabrik Gula Madukismo Pabrik Madukismo merupakan pabrik penghasil gula yang terletak di wilayah Bantul. Tiap tahun pabrik ini melaksanakan upacara yang dikenal dengan nama Cebengan. Tujuannya diadakan kegiatan ritual ini agar penduduk siap menyambut datangnya musim giling, sekaligus dengan permohonan agar proses penggilingan tebu menjadi gula bisa selamat tanpa aral melintang.

Upacara Cembengan dilaksanakan pada bulan April bertempat di komplek pabrik yang terletak sekitar 4 km ke arah barat daya kota Yogyakarta itu diantaranya kirab tebu temanten, penanaman kepala kerbau dan sapi, sesajian, pentas kesenian serta pembacaan ayat-ayat suci Alquran. Selain itu terdapat upacara penghormatan terhadap pabrik gula yang berupa prosesi Ruwatan Mesin Pabrik, Slametan Giling, pagelaran wayang kulit dan pasar rakyat. Pabik Gula Madukismo menargetkan luas lahan yang mereka miliki bisa mencapai 6.000 hektar dalam waktu tak lebih dari 10 tahun mendatang guna memenuhi kebutuhan gula di DI Yogyakarta. Bantul dan Purworejo, Jawa Tengah, menjadi dua wilayah sasaran. Luas lahan tebu Madukismo yang sekarang baru 5.250 hektar masih sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan gula di DIY yang mencapai 45.000 ton per musim giling. Musim giling sekarang hanya diprediksi mencapai 36.000 ton gula saja. Bantul dan Purworejo potensial sebagai lahan baru. Selain pertimbangan jarak yang relatif terjangkau, di kedua wilayah itu, terutama Purworejo, juga masih tersedia lahan lumayan luas. Selama ini 70 persen areal tebu berada di wilayah DIY dan sisanya di Magelang, Kebumen, Temanggung, serta Sragen. n