Anda di halaman 1dari 36

BAB I LANDASAN TEORI

1.1. Bunyi1 Bunyi adalah bahan terpenting dalam musik. Bunyi berasal dari Sumber bunyi, yang digetarkan oleh tenaga atau energi. Kemudian getaran tersebut oleh pengantar diantarkan atau dipancarkan keluar. Dan bila getaran ini sampai di telinga kita, barulah kita dapat mendengarkannya. Ada beberapa Sumber bunyi yaitu, logam, kulit, dan udara. Selain perbedaan bahannya, sumber bunyi dapat dibedakan oleh bentuk dan ukurannya. Bila bentuknya berbeda, maka berbeda pula bunyinya. Jadi sumber bunyi akan berbeda oleh perbedaan bahan, bentuk dan ukurannya. Sumber bunyi akan bergetar, bila adanya tenaga atau energi yang menggetarkannya. Tenaga ini bisa berupa tenaga manusia, tenaga listrik tenaga angin , tenaga uap, dan tenaga air. Udara adalah pengantar bunyi yang paling banyak kita gunakan. Namun sebenarnya udara pengantar bunyi yang lamban, bukan berarti tidak baik. Kecepatan merambat bagi udara sebagai pengantar bunyi hanyalah 345 meter per detik. Bandingkan dengan kecepatan rambat bunyi pada zat pengantar lain : Tabel 1.1. Cepat Rambat Bunyi pada Zat Pengantar Zat Pengantar Gabus Timah Air Besi Cepat Rambat Bunyi (m/s) 500 1190 1440 5120

Angka-angka tersebut memang dapat berubah oleh perubahan suhu. Namun perubahan ini kecil sekali shingga praktis kurang begitu berarti.
1

Diakses dari http://id.shvoong.com/books/1926402-pengertian-bunyi/html pada 14 Mei 2012 pukul 08.00 WIB

Tinggi-rendahnya bunyi ditentukan oleh cepat-lambatnya getaran dari sumber bunyi. Biasanya dari banyaknya getaran per detik. Semakin banyak getaran per detiknya, semakin tinggi bunyinya. Dan banyaknya getaran per detik ini disebut Frekuensi. Dalam penguluran frekuensi biasanya dihitung denga satuan Cps ( cyeles per second) yang berarti getaran per detik. Disamping itu, khususnya dalam tehnik radio di pakai pula satuan Hz (hertz) ini diambil dari nama Heinric Hertz (1857-1894) seorang ahli pengetahuan alam bangsa Jerman. Bunyi yang kuat bebeda dengan bunyi yang tinggi. Kekuatan bunyi tidak ditentukan oleh frekuensi bunyi, tetapi oleh hal-hal yang lain, khususnya; amplitudo, resonansi, dan jarak. amplitudo adalah lebar getar atau simpang getar yang dibuat oleh sumber bunyi. Semakin lebar getaranya, semakin kuat pula bunyinya. Resonansi berarti ikut bergetar sejalan getaran bunyi. Biasanya dilakukan oleh benda atau bagian terdekatnya. Jarak dimaksukan bahwa kekutan bunyi juga ditentukan oleh jarak antara sumber bunyi dengan alat pendengar atau penerima. Memakin dekat, akan semakin keras bunyinya. Sebagaimana frekuensi, kekuatan bunyi juga dapat diiukur. Biasanya digunakan satuan decibel yang disngkat dB.

Timbre adalah warna bunyi, berupa keseluruhan kesan pendengaran yang kita peroleh dari sumber bunyi, setelah dipengaruhi resonansi dan zat pengantar. Kebisingan2 Kemajuan teknologi ternyata banyak menimbulkan masalah-masalah seperti diantarnya yang dikatakan sebagai polusi. Salah satu bentuk dari polusi di sini ialah kebisingan (noise) bunyi-bunyian yang tidak dikehendaki oleh telinga kita. Tidak dikehendaki karena terutama dalam jangka panjang bunyi-bunyian tersebut dapat menggangu ketenangan kerja. Kebisingan adalah bunyi-bunyian yang tidak dikehendaki oleh telinga kita, karena dalam waktu panjang bunyi-bunyian tersebut dapat mengganggu ketenangan kerja, merusak pendengaran dan dapat menimbulkan kesalahan komunikasi. Ada tiga aspek yang menentukan kualitas bunyi yang bisa
2

1.2.

Sutalaksana, Iftikar Z dkk.1979.Teknik Tata Cara Kerja.Hal:57-88

menentukan kualitas bunyi yang bisa menentukan tingkat gangguan pada manusia yaitu: a. Lama waktu bunyi tersebut terdengar. Semakin lama telinga kita mendengar kebisingan akan semakin buruk akibatnya bagi pendengaran atau tuli. b. Intentitas biasanya diukur dalam satuan desibel (dB) yang menunjukan besarnya arus energi per satuan luas. c. Frekuensi suara yang menunjukan jumlah dari gelombang-gelombang suara yang sampai ke telinga kita setiap detik dinyatakan dalam jumlah getaran per detik (Hz). Bising dalam kesehatan kerja diartikan sebagai suara yang dapat menurunkan pendengaran baik secara kuantitatif (peningkatan ambang

pendengaran) maupun secara kualitatif (penyempitan sepektrum pendengaran). Berkaitan dengan faktor intensitas, frekuensi, durasi dan pola waktu. Kebisingan didefinisikan sebagai suara yang tak dikehendaki, misalnya yang merintangi terdengarnya suara-suara, musik dsb, atau yang menyebabkan rasa sakit. Jadi dapat disimpulkan bahwa kebisingan adalah bunyi atau suara yang tidak di kehendaki dan dapat mengganggu kesehatan, kenyamanan serta dapat menimbulkan ketulian. Jenis jenis kebisingan berdasarkan sifat dan spektrum frekuensi bunyi antara lain : 1. Bising yang kontinyu dengan spektrum frekuensi yang luas bising ini relatif tetap dalam batas kurang dari 5 dB atau priode 0.5 detik berturut-turut misalnya mesin, kipas angin, dapur pijar. 2. Bising yang kontinyu dengan spektrum frekuensi yang sempit. Bising ini juga relatif tetap, akan tetapi ia hanya mempunyai frekuensi tertentu saja (pada frekuensi 500. 1000 , dan 4000 Hz ) misalnya gergaji skuler dan katup gas. 3. Bising terputusputus, bising di sini tidak terjadi secara terus menerus, melainkan ada periode relatif tenang misalnya suara lalu lintas, kebisingan di lapangan terbang.

4.

Kebisingan implusif ,bising ini memiliki perubahan tekanan suara lebih 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya, misalnya tembakan,suara mercon, meriam.

5.

Bising implusif berulang samadengan bising imflusif hanya saja di sini terjadi secara berulang ulang, misalnya mesin tempa. Bising menyebabkan berbagai ganguan terhadap tenaga kerja, seperti

ganguan fisiologis, ganguan psikologis, ganguan komusikasi dan ketulian atau ada yang menggolongkan gangguannya menjadi auditory, misalnya gangguan terhadap pendengaran dan gangguan non auditory seperti komunikasi terganggu, ancaman bahaya keselamatan, menurunkan semangat kerja, menyebabkan kelelahan dan stress, lebih rinci dampak bising terhadap kesehatan kerja adalah sebagai berikut : 1. Gangguan fisiologis Ganguan dapat berupa peningkatan tekanan darah, peningkatan nadi basal metabolisme, konstruksi pembuluh darah kecil terutama pada bagian kaki,dan dapat menyebabkan gangguan sensoris. 2. Gangguan psikologis Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, susah tidur , emosi dan lain-lain. pemaparan jangka waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik seperti gastritis, penyakit jantung koroner dan lain lain. 3. Gangguan komunikasi Gangguan komunikasi ini menyebabkan terganggunya pekerjaan, bahkan mungkin terjadi kesalahan, terutama bagi pekerja baru yang belum berpengalaman, gangguan komunikasi ini secara tidak langsung akan mengakibatkan bahaya terhadap keselamatan dan kesehatan tenaga kerja, karena tidak mendengar teriakan atau isyarat tanda bahaya dan tentu akan menurunkan mutu pekerja dan produktivitas kerja. 4. Gangguan keseimbangan Ganguan keseimbangan ini mengakibatkan gangguan fisiologis seperti kepala pusing, mual dan lain- lain.

5.

Gangguan terhadap pendengaran ( ketulian ) Diantara sekian banyak gangguan yang ditimbulkan oleh bising, gangguan terhadap pendengaran adalah yang paling serius karena dapat menyebabkan hilangnya pendengaran atau ketulian, ketulian ini dapat bersifat progresif. Pada awalnya bersifat sementara tapi bila pekerja terus menerus di tempat bising tersebut maka daya dengar akan menghilang secara tetap atau tuli. Audiometer3 Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometer. Alat

1.3.

ini menghasilkan nada-nada murni dengan frekuensi melalui earphone. Pada setiap frekuensi ditentukan intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai presentasi dari pendengaran normal. Hal ini menghasilkan pengukuran obyektif derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang paling berpengaruh. Audiometer berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan mengukur (uji pendengaran). Audiometer tidak saja dipergunakan untuk mengukur ketajaman pendengaran, tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran. Audiometer adalah subuah alat yang digunakan untuk mengetahui level pendengaran seseorang. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometer, maka derajat ketajaman pendengaran seseorang dapat dinilai. Tes audiometer diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan pendengeran atau seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendengaran. Pemeriksaan audiometer memerlukan audiometer ruang kedap suara, audiologis dan pasien yang kooperatif. Jenis dari audiometer adalah sebagai berikut: 1. Audiometer nada murni
3

Diakses dari http://pemeriksaantespendengaran.blogspot.com/2009/11/pemeriksaan-audiometririnne-weber-test.html pada 10 Mei 2012 pukul 20.00 WIB.

Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500, 1000-2000, 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB). Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ke telinga orang yang diperiksa pendengarannya. Masing-masing untuk mengukur ketajaman pendengaran melalui hantaran udara dan hantaran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang, sehingga akan didapatkan kurva hantaran tulang dan hantaran udara. Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengetahui jenis dan derajat pendengaran seseorang. Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada murni. Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekuensi 20-20.000 Hz. Frekuensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari. Tabel 1.2. Tingkatan Klasifikasi Kehilangan Pendengaran Kehilangan dalam Desibel 0-15 >15-25 >25-40 >40-55 >55-70 Pendengaran normal Kehilangan pendengaran kecil Kehilangan pendengaran ringan Kehilangan pendengaran sedang Kehilangan pendenngaran sedang sampai berat >70-90 >90 Kehilangan pendengaran berat Kehilangan pendengaran berat sekali Klasifikasi

Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran pasien pada stimulus nada murni. Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbedabeda. Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik berada diatas. Grafiknya terdiri dari skala desibel, suara dipresentasikan dengan earphone

(air conduction) dan skala skull vibrator (bone conduction). Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya CHL. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL. 2. Audiometer tutur Audiometer tutur adalah sistem uji pendengaran yang menggunakan katakata terpilih yang telah dibakukan, dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi, untuk mrngukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. Prinsip audiometer tutur hampir sama dengan audiometer nada murni, hanya di sini sebagai alat uji pendengaran digunakan daftar kata terpilih yang dituturkan pada penderita. Kata-kata tersebut dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan dengan audiometer tutur, kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang diperiksa pendengarannya, atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman, kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur. Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setiap kata yang didengar, dan apabila kata-kata yang didengar makin tidak jelas karena intensitasnya makin dilemahkan, pendengar diminta untuk menebaknya. Pemeriksa mencatat presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas. Hasil ini dapat digambarkan pada suatu diagram yang absisnya adalah intensitas suara kata-kata yang didengar, sedangkan ordinatnya adalah presentasi kata-kata yanag diturunkan dengan benar. Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu : a. Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah katakata yang dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar, yang lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT, dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB). b. Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT. Satuan pengukuran NDT itu

adalah persentasi maksimal kata-kata yang ditirukan dengan benar, sedangkan intensitas suara berapa saja. Dengan demikian, berbeda dengan audiometer nada murni pada audiometer tutur intensitas pengukuran pendengaran tidak saja pada tingkat nilai ambang (NPT), tetapi juga jauh diatasnya. Audiometer tutur pada prinsipnya, pasien disuruh mendengar kata-kata yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50% tidak dapat menirukan kata-kata dengan tepat. Beberapa manfaat dari alat Audiometer adalah, mendiagnostik penyakit telinga, mengukur kemampuan pendengaran dalam menangkap percakapan sehari-hari, atau dengan kata lain validitas sosial pendengaran, skrining anak balita dan SD dan memonitor untuk pekerja-pekerja di tempat yang bising.

1.4.

Penyakit Tuli Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi, apabila

seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi, dikeraskan oleh ABD sehingga bisa terdengar. Prinsipnya semua tes pendengaran agar akurat hasilnya, tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. Karena kita memberikan tes pada frekuensi tertetu dengan intensitas lemah, kalau ada gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian. Pada audiometer tutur, memang kata-kata tertentu dengan vokal dan konsonan tertentu yang dipaparkan ke penderita. Intensitas pada pemeriksaan audiometer bisa dimulai dari 20 dB bila tidak mendengar 40 dB dan seterusnya, bila mendengar intensitas bisa diturunkan 0 dB, berarti pendengaran baik. Tes sebelum dilakukan audiometer tentu saja perlu pemeriksaan telinga : apakah congok atau tidak (ada cairan dalam telinga), apakah ada kotoran telinga (serumen), apakah ada lubang gendang telinga, untuk menentukan penyabab kurang pendengaran.

Berikut ini adalah beberapa kriteria orang tuli :

1. Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB 2. Sedang masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB 3. Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB 4. Berat sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB

1.5

Berbahasa Portugis-Brazil dan Aplikasinya pada Pendengaran Sehari-hari Berbahasa portugis uji materi pemain asal brazil , yang terdiri dari

sembilan daftar yang sedang dikembangkan dan disensus di satu saluran televisi digital dengan kompak disk dan sebuah speech-weighted modulated broadband saluran suara di atas yang lain . Pidato bekerja dengan tenang dan dalam pengenalan suara , kata dan dengan skor fonem itu diperoleh , pidato yang normatif dan pengakuan data standar dengan penentuan fungsi psychometric normally-hearing pada 21 orang relawan dengan tenang , dan dalam mata pelajaran 30 psychometric normally-hearing dalam suara . Homogeneity dari sembilan itu ada juga dalam daftar fonem pengakuan data dengan 30 normally-hearing subjek . Pidato bekerja dengan tenang dan dalam pengenalan suara , kata dan dengan skor fonem , itu diperoleh . Hasil ini sangat dekat dengan data normatif, ketika diuji dengan tenang , namun saat diuji di suara yang jauh lebih buruk . Disimpulkan bahwa uji materi pidato bisa bermanfaat untuk memperkirakan kinerja komunikasi.

1.5.1.

Pengenalan Kehilangan pendengaran akibat kebisingan berkembang perlahan-lahan

selama beberapa tahun sebagai akibat dari paparan cahaya atau suara keras bekesinambungan. Pekerja biasanya tidak mengeluh tentang masalah pendengaran ketika dalam diam , tetapi sering mengalami kesulitan dalam pemahaman pidato di lingkungan yang bising . Namun, rutin pengukuran klinis dari fakultas ini tidak sangat umum di brazil . Beberapa tes digunakan bervariasi secara luas di dalam format dan belum diterapkan untuk menilai pekerja gangguan. Yang berguna harus mengevaluasi

menguji kemampuan bisa lihat gerak bibir pekerja untuk memahami percakapan sehari-hari dalam kondisi apapun . Tidak ada satupun dari pidato pengakuan pada uji suara telah mencapai mensyiarkan penerimaan di negara kita . Alasan utama telah kurangnya standar metode dan pidato bahan untuk membuat cepat dan dapat diandalkan klinis dan pengukuran pidato pengakuan baik di tenang dan dalam kebisingan . Di antara beberapa tes , tersedia tidak ada yang dirancang untuk monosyllable pengakuan dengan pekerja terkena kebisingan . Oleh karena itu memutuskan untuk mengembangkan beberapa pidato bahan yang cocok untuk pengukuran klinis pidato pengakuan dalam kebisingan yang akan digunakan dengan kegiatan kerja. orang-orang yang terjadi di lingkungan yang bising . Tujuan utama dari metode akan untuk menilai pidato gangguan dalam kehilangan pendengaran , tapi bisa juga berguna baik sebagai pelengkap tes diagnostik atau sebagai alat untuk mengevaluasi hasil sidang bantuan pas . Dalam dua kertas , sebelumnya penulis dilaporkan pada keterkaitan antara pure-tone ambang batas audiometric dan pidato pengakuan skor dalam tenang dan kebisingan dengan kebisingan . Tujuan studi sekarang adalah: 1. Mengembangkan materi pidato bahasa brazil. 2. Untuk memperoleh data normatif dalam tenang dan kebisingan 3. Untuk menguji homogen bahan pidato. 4. Untuk memverifikasi apakah bahan-bahan tersebut cocok untuk memperkirakan gangguan komunikasi suara terkena mata pelajaran.

1.5.2.

Metode dan Materi Untuk tujuan ini , tiga eksperimen, masing-masing dengan berbagai

tunduk kelompok : , 1. Membangun normatif dan verifikasi data daftar homogenitas dengan mata pelajaran normally-hearing, 2. Evaluasi rapat dengar pendapat dengan metode puskesmasnya mata pelajaran normally-hearing,

3. Evaluasi metode sebagai alat untuk memperkirakan cacat komunikasi suara pekerja yang tidak terlindung dalam sebuah sidang klinik . Bahan pidato baru disiapkan di audio compact disk (CD). Hal ini didasarkan pada sembilan bersuku kata satu kata 25 daftar saat ini digunakan di klinik mendengar di ini bagian dari negara. Kata-kata dengan konteks emosional atau tidak pantas atau hanya digunakan dalam dialek terbatas, sosial atau bisnis daerah dihindari. Daftar diserahkan untuk evaluasi fonetik dan itu diamati bahwa beberapa dari mereka tidak memiliki fonem penting yang saat ini digunakan di bahasa sehari-hari. Akibatnya, satu set sembilan 25-kata daftar dengan kira-kira tingkat yang sama dari difiiculty diciptakan, oleh menata ulang komposisi daftar, tanpa menambahkan setiap kata yang baru atau mengecualikan setiap satu (tabel 2). Karena beberapa kata yang hadir di lebih dari satu daftar, kata-kata hanya 112 tetap dalam daftar baru. Setiap daftar memiliki beberapa fitur fonetik berikut: 1. 73-82 fonem 2. 26-27 vokal 3. 10-12 awal berhenti konsonan 4. 6-9 awal frycatives

5. 1-4initaial lateral fryicatives 6. ada 3-5 trills dan sirip sayap 7. 2-3 awal nasals 8. 4-7 Semi-vowels 9. 11-16 akhir archifonems. Sembilan daftar audiometri terekam dalam sebuah bilik suara , dengan satu inci ( kondensor mikrofon tipe 4144 ) , mengukur penguat (tipe 2610 ) dan sebuah perekam dat ( sony tcd-d10-proll ) , sedikit pengetahuan analog-to-digital 16 bit ( / d ) converter . Mikrofon itu ditempatkan 0,6 m di depan mulut pembicara lakilaki. 1.5.3. Parameter Daftar kata sembilan orang yang sama yang diajukan di urutan seharusnya , tetapi setiap uji coba mulai dengan satu hal yang berbeda . Karena itu

, setiap daftar tersebut telah digunakan pada beberapa tingkat tenang dan di beberapa sinyal untuk gangguan yang.

1.5.4.

Eksperimen Pertama Tiga puluh relawan normally-hearing diundang untuk berpartisipasi

dalam eksperimen ini , yang terjadi di rumah sakit universitas . Semua lahir dan telah tumbuh besar di bagian ini negara . Tidak satupun telah terpapar untuk pekerjaan kebisingan dan tidak ada yang secara profesional terlibat dengan audiometric pengukuran . Dalam 15 mata pelajaran , pengujian dilakukan di sebelah kanan telinga , dan dalam 15 di sebelah kiri . Semua sedang diuji dalam kebisingan , tetapi hanya 21 sedang diuji dalam tenang seperti baik . Keseragaman antara daftar kata sembilan diteliti pada dua sinyal yang berbeda untuk rasio kebisingan, sesuai dengan dekat 50 persen (sinyal untuk kebisingan rasio =-15 dB) dan 85 persen (sinyal untuk kebisingan rasio =-6 dB) skor, masing-masing, dan pada 15 dB SL presentasi, dalam tenang. Tingkat ini ditentukan dari kurva normatif (fonem skor).

1.5.5.

Eksperimen Kedua Percobaan kedua yang delapan biasanya mendengar relawan

berpartisipasi, berlangsung di klinik mendengar. Empat diuji dalam telinga kanan, dan empat di kiri. Daftar kata diajukan kepada subjek, dalam tenang, di lima pidato level-45, 40, 30, 20 dan 10 dB atau 45, 35, 25, 15 dan 5 dB SL (berarti 0,5, 1 dan 2 kHz); dan empat sinyal untuk rasio kebisingan, noise. Tingkat pidato tetap pada 60 dB SPL, dan kebisingan yang disajikan dalam urutan menaik: 57, 63, 69, 75 dB atau 60, 66, 72, 78 dB SPL (dari 3 hingga-18 dB, dengan = langkahlangkah 6-dB).

1.5.6.

Eksperimen ketiga Di klinik mendengar sama, 65 terkena kebisingan pekerja diuji dengan

pidato pengakuan tes dalam tenang atau kebisingan menerapkan prosedur yang sama seperti yang digunakan dalam percobaan kedua. Namun, subyek diuji hanya

dalam tenang atau kebisingan. Mereka semua telah bekerja dalam pekerjaan manual (31 di industri metalurgi), dengan paparan berarti kebisingan dari 16 tahun. Tiga puluh tiga mata pelajaran dengan usia rata-rata 37.2 tahun SD (9,7) diuji dalam tenang. Tiga puluh dua subyek dengan usia rata-rata 39,8 tahun (SD 10,7) diuji dalam kebisingan. 1.5.7. Kesimpulan Dalam tes yang secara tenang, pekerja tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dari hasil pendegaran yang dilakukan secara normal. Walaupun pada keadaan bising, perbedaan yang signifikan dari keadaan normal telah diperoleh berdasarkan observasi, walaupun hanya dari bunyi benda yang jatuh. Ini berarti pekerja lebih nyaman pada frekuensi suara yang tinggi.

BAB II ALAT YANG DIPERAGAKAN


2.1. Gambar dan Spesifikasi Alat Peragaan alat Audiometer menggunakan alat Diagnostic Audiometer AD 27. Gambar Audiometer dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Diagnostic Audiometer AD 27 (Sumber : http//sulit.com.ph//)

Alat Audiometer yang digunakan mempunyai spesifikasi untuk mengetahui ambang batas minimum dan maksimum pendengaran manusia, yaitu : 1. Test signal : Pure, pulsed, warble tone, narrow band dan speech masking noise. 2. 3. 4. Tes frekuensi Level steps Input : 0.125; 0.25; 0.5; 0.75; 1; 1.5; 2; 3; 4; 6; 8 kHz. : 5 db, 2 db noise free. : CD, tape, live speech microphone, patient microphone, patient response switch. 5. Output : AC, BC, insert phone, freefield, monitor phone, electrical output. 6. 7. Fungsi Standard : Tracking. : IEC 601-1, IEC 645-1 class 2, IEC 645-2 menurut medical directive 93/42/EEC, CE 0124). 8. 9. PC interface Power : Serial RS 232C, 9 pin connector dan MAICO protocol. : 100 - 240 V, 50/60 Hz, 25 VA. : 36 x 46 x 15 cm.

10. Dimensi

11. Berat

: 5.8 kg (termasuk aksesoris).

12. Aksesoris standar : Headphones TDH 39, Radio ear B 71, kabel utama (2 meter), patient response switch, live speech microphone, kertas audiogram. 13. Air conduction : -10 - 120 dBHL.

14. Bone conduction : -10 - 70 dBHL. 15. Freefield : -10 - 90 dBH dalam jarak 1 meter

2.2.

Algoritma dan Flowchart Penggunaan Alat Langkah-langkah penggunaan alat Audiometer adalah sebagai berikut: 1. Dipasang headset pada kedua telinga. 2. Ditekan tombol right dan left tergantung pada telinga mana yang akan diukur. 3. Diatur tombol intensitas suara mulai dari 0 dB untuk intensitas minimum dan 100 dB untuk intensitas maksimal dengan frekuensi 1000 Hz. 4. Jika pendengar mulai mendengar suara, nilai tersebut dicatat sebagai intensitas minimum. Dan ketika pendengar tidak mampu lagi mendengar suara yang dihasilkan maka dicatat sebagai intensitas suara maksimum. 5. Begitu selanjutnya dilakukan terhadap pendengar lainnya dan dicatat intensitas pendengaran minimum dan maksimum untuk masing-masing pendengar. Dibedakan hasil pengukuran antara telinga kiri dan kanan. Flowchart dari peragaan alat Audiometer adalah sebagai berikut:

Mulai

Pemakaian headset pada telinga

Left

Pemilihan tombol left atau right

Right

Pengaturan intensitas suara dari 0 dB sampai 100 dB

Pengaturan intensitas suara dari 0 dB sampai 100 dB

- Data Min - Data Maks

- Data Min - Data Maks

Selesai

Selesai

Gambar 2.2. Flowchart Peragaan Alat Audiometer

BAB III FUNGSI DAN APLIKASI ALAT


3.1. Fungsi Alat Fungsi dari alat Audiometer ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengukur tingkat kemampuan pendengaran manusia. 2. Untuk menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran. 3. Untuk melihat pengaruh kebisingan dengan adanya gangguan

pendengaran.

3.2.

Aplikasi Alat Audiometer dapat diaplikasikan dalam berbagai kebutuhan, yaitu:

1. Pada bidang kesehatan : a. Mengetahui ambang batas pendengaran manusia. b. Mendiagnostik penyakit telinga c. Skrining anak balita dan SD d. Mengetahui tingkat keparahan pendengaran dari seorang tunarungu. 2. Pada bidang industri : a. Memonitor untuk pekerja-pekerja di tempat yang bising. b. Mengetahui adanya gangguan pada pendengaran pekerja yang diakibatkan oleh faktor lingkungan kerja. c. Untuk melihat adanya hubungan antara kebisingan dengan menurunnya produktivitas pada pekerja di lantai pabrik.

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA


4.1. Pengumpulan Data Adapun Data pengukuran tingkat kemampuan pendengaran anggota kelompok II dengan menggunakan audiometer yang adalah sebagai berikut: Tabel 4.1. Data Hasil Pengukuran Tingkat Kemampuan Pendengaran menggunakan Audiometer No. 1 2 3 4 Nama Ridhaul Fuadi Gemadana Irza Danu Jaya Saputro M. Fauzi Harahap Kanan Min (dB) 30 45 30 35 Max (dB) 100 95 100 55 Kiri Min (dB) 25 15 35 30 Max (dB) 100 100 90 65

4.2.

Pengolahan Data Hasil pengukuran yang diperoleh akan diolah dengan mencari rata-rata

data baik secara kelompok maupun secara perorangan. I. Secara Kelompok 1. Kanan Min X= = =35 2. Kanan Max X= = =87,5 3. Kiri Min X=

= =26,25 4. Kiri Max X= = =88,75

II. Perorangan 1. Rhidaul Fuadi a. Max X= = 100 b. Min X= = 27,5 2. Gemadana Irza a. Max X= = 97,5 b. Min X= = 30 3. Danu Jaya Saputro a. Max X= = 95 b. Min X=

= 32,5 4. Fauzi Harahap a. Max X= = 60 b. Min X= = 32,5 Adapun Tingkat kemampuan pendengaran untuk kedua telinga dapat adalah sebagai berikut: Tabel 4.3 Tingkat Kemampuan Pendengaran Rata-Rata untuk Kedua Telinga No. 1 2 3 4 Nama Rhidaul Fuadi Gemadana Irza Danu Jaya Saputro M. Fauzi Harahap Max (dB) 100 97,5 95 60 Min (dB) 27,5 30 32,5 32,5

4.2.1.

Intensitas Bunyi Perhitungan intensitas bunyi yang diperoleh dari pengukuran

audiometer adalah sebagai berikut. Rumus intensitas bunyi : I1 ( ) :

Keterangan I1 = = I =

Intensitas bunyi yang diperoleh dari alat audiometer (dB) Intensitas awal dengan nilai sebesar Intensitas bunyi

1. Hasil pengukuran pada telinga sebelah kanan a. Pada operator Rhidaul Fuadi

Nilai I1 untuk intensitas bunyi maksimum sebesar 100 dB I1 ( ) ( )

Nilai I1 untuk intensitas bunyi minimum sebesar 30 dB I1 ( ) ( )

b. Pada operator Gemadana Irza Nilai I1 untuk intensitas bunyi maksimum sebesar 95 dB I1 ( ) ( )

Nilai I1 untuk intensitas bunyi minimum sebesar 45 dB I1 ( ) ( )

c. Pada operator Danu Jaya Saputro Nilai I1 untuk intensitas bunyi maksimum sebesar 100 dB I1 ( ) ( )

Nilai I1 untuk intensitas bunyi minimum sebesar 30 dB I1 ( ) ( )

d. Pada operator M. Fauzy Harahap Nilai I1 untuk intensitas bunyi maksimum sebesar 55 dB I1 ( ) ( )

Nilai I1 untuk intensitas bunyi minimum sebesar 35 dB I1 ( ) ( )

2. Hasil pengukuran pada telinga sebelah kiri e. Pada operator Rhidaul Fuadi

Nilai I1 untuk intensitas bunyi maksimum sebesar 100 dB I1 ( ) ( )

Nilai I1 untuk intensitas bunyi minimum sebesar 25 dB I1 ( ) ( )

f. Pada operator Gemadana Irza Nilai I1 untuk intensitas bunyi maksimum sebesar 100 dB I1 ( ) ( )

Nilai I1 untuk intensitas bunyi minimum sebesar 15 dB I1 ( ) ( )

g. Pada operator Danu Jaya Saputro Nilai I1 untuk intensitas bunyi maksimum sebesar 90 dB I1 ( ) ( )

Nilai I1 untuk intensitas bunyi minimum sebesar 35 dB I1 ( ) ( )

h. Pada operator M. Fauzy Harahap Nilai I1 untuk intensitas bunyi maksimum sebesar 65 dB I1 ( ) ( )

Nilai I1 untuk intensitas bunyi minimum sebesar 30 dB I1 ( ) ( )

Hasil dari pengukuran intensitas bunyi dapat dilihat pada Tabel 4.2. Tabel 4.2. Data Hasil Pengukuran Intensitas Bunyi Menggunakan Audiometer Kanan No. 1 2 3 4 Nama Ridhaul Fuadi Gemadana Irza Danu Jaya Saputro M. Fauzi Harahap Max ) Min ) Max Kiri ) Min )

4.2.2.

Daya Suara Perhitungan daya suara yang diperoleh dari pengukuran audiometer

adalah sebagai berikut. Rumus perhitungan daya suara :

Keterangan : I = Intensitas bunyi yang diperoleh dari alat audiometer W = Energi yang dikeluarkan oleh sumber bunyi/daya suara (watt) D = Jarak (m) 1. Hasil pengukuran pada telinga sebelah kanan a. Pada operator Ridhaul Fuadi Nilai W untuk intensitas bunyi maksimum sebesar 10-2 W/m2 W/m2 10-2 W/m2 10-2 W/m2 10-2 W/m2 W W x 10-2 Watt Watt W/m2 W/m2 W/m2

Nilai W untuk intensitas bunyi minimum sebesar 10-9 W/m2

W/m2 10-9 W/m2 10-9 W/m2 10-9 W/m2 W W x 10-9 Watt x 10-7 Watt W/m2 W/m2 W/m2

b. Pada operator Gemadana Irza Nilai W untuk intensitas bunyi maksimum sebesar 10-2,5 W/m2 W/m2 10-2,5 W/m2 10-2,5 W/m2 10-2,5 W/m2 W W x 10-2,5 Watt x 10-0,5 Watt W/m2 10-7,5W/m2 10-7,5 W/m2 10-7,5 W/m2 W W x 10-7,5 Watt x 10-5,5 Watt W/m2 W/m2 W/m2 W/m2 W/m2 W/m2

Nilai W untuk intensitas bunyi minimum sebesar 10-7,5 W/m2

c. Pada operator Danu Jaya Saputro Nilai W untuk intensitas bunyi maksimum sebesar 10-2W/m2 W/m2 10-2 W/m2 10-2 W/m2 10-2 W/m2 W W x 10-2 Watt Watt W/m2 W/m2 W/m2

Nilai W untuk intensitas bunyi minimum sebesar 10-9 W/m2

W/m2 10-9W/m2 10-9 W/m2 10-9 W/m2 W W x 10-9 Watt x 10-7 Watt W/m2 W/m2 W/m2

d. Pada operator M. Fauzy Harahap Nilai W untuk intensitas bunyi maksimum sebesar 10-6,5W/m2 W/m2 10-6,5 W/m2 10-6,5 W/m2 10-6,5 W/m2 W W x 10-6,5 Watt x 10-4,5 Watt W/m2 10-8,5 W/m2 10-8,5 W/m2 10-8,5 W/m2 W W 2. x 10-8,5 Watt x 10-6,5 Watt W/m2 W/m2 W/m2 W/m2 W/m2 W/m2

Nilai W untuk intensitas bunyi minimum sebesar 10-8,5 W/m2

Hasil pengukuran pada telinga sebelah kiri a. Pada operator Ridhaul Fuadi Nilai W untuk intensitas bunyi maksimum sebesar 10-2 W/m2 W/m2 10-2 W/m2 10-2 W/m2 10-2 W/m2 W W x 10-2 Watt Watt W/m2 W/m2 W/m2

Nilai W untuk intensitas bunyi minimum sebesar 10-9,5 W/m2 W/m2 10-9,5 W/m2 10-9,5 W/m2 10-9,5 W/m2 W W x 10-9,5 Watt x 10-7,5 Watt W/m2 W/m2 W/m2

b. Pada operator Gemadana Irza Nilai W untuk intensitas bunyi maksimum sebesar 10-2 W/m2 W/m2 10-2 W/m2 10-2 W/m2 10-2 W/m2 W W x 10-2 Watt Watt W/m2 10-10,5 W/m2 10-10,5 W/m2 10-10,5 W/m2 W W x 10-10,5 Watt x 10-8,5 Watt W/m2 W/m2 W/m2 W/m2 W/m2 W/m2

Nilai W untuk intensitas bunyi minimum sebesar 10-10,5 W/m2

c. Pada operator Danu Jaya Saputro Nilai W untuk intensitas bunyi maksimum sebesar 10-3 W/m2 W/m2 10-3 W/m2 10-3 W/m2 10-3 W/m2 W W x 10-3 Watt x 10-1 Watt W/m2 W/m2 W/m2

Nilai W untuk intensitas bunyi minimum sebesar 10-8,5 W/m2 W/m2 10-8,5 W/m2 10-8,5 W/m2 10-8,5 W/m2 W W x 10-8,5 Watt x 10-6,5 Watt W/m2 W/m2 W/m2

d. Pada operator M. Fauzy Harahap Nilai W untuk intensitas bunyi maksimum sebesar 10-5,5W/m2 W/m2 10-5,5 W/m2 10-5,5 W/m2 10-5,5 W/m2 W W x 10-5,5 Watt x 10-3,5 Watt W/m2 10-9 W/m2 10-9 W/m2 10-9 W/m2 W W x 10-9 Watt x 10-7 Watt W/m2 W/m2 W/m2 W/m2 W/m2 W/m2

Nilai W untuk intensitas bunyi minimum sebesar 10-9 W/m2

Hasil dari pengukuran Daya Suara dapat dilihat pada Tabel 4.3. Tabel 4.3. Data Hasil Pengukuran Daya Suara Menggunakan Audiometer No. 1 2 3 4 Nama Ridhaul Fuadi Gemadana Irza Danu Jaya Saputro M. Fauzi Harahap Kanan Min Max Min Kiri Max

BAB V ANALISIS DAN EVALUASI


5.1. 5.1.1. Analisis Analisis Kemampuan Pendengaran Tiap Operator Dari hasil pengolahan tersebut, dapat diketahui kriteria tuli dari anggota kelompok II Tabel 5.1. Tingkat Kemampuan Pendengaran dari Tiap Operator No. 1 2 3 4 Nama Ridhaul Fuadi Gemadana Irza Danu Jaya Saputro M. Fauzi Harahap Kemampuan mendengar minimal (dB) 27,5 30 32,5 32,5 Jenis Tuli Tuli ringan Tuli ringan Tuli ringan Tuli ringan

Berdasarkan data diatas diperoleh bahwa semua anggota kelompok II mempunyai tingkat kemampuan pendengaran dalam jenis tuli ringan. Dari data tersebut menunjukkan bahwa Ridhaul Fuadi mempunyai tingkat pendengaran yang paling tajam, yaitu mampu mendengar pada 27,5 dB, sementara Gemadana Irza mempunyai tingkat pendengaran sebesar 30 dB. Danu dan Fauzi memiliki tingkat pendengaran sebesar 32,5 dB.

5.1.2.

Analisis Intensitas Bunyi Tiap Operator Dari hasil pengolahan yang telah dilakukan, dapat diketahui tingkat

intensitas bunyi dari tiap anggota kelompok II dan dapat dilihat pada Tabel 5.2.

Tabel 5.2. Tingkat Intensitas Bunyi Menggunakan Tiap Operator Kanan No. 1 2 3 4 Nama Ridhaul Fuadi Gemadana Irza Danu Jaya Saputro M. Fauzi Harahap Max ) Min ) Max Kiri ) Min )

Berdasarkan data diatas diperoleh bahwa Ridhaul Fuadi, Gemadana Irza, dan Danu Jaya Saputro mempunyai tingkat intensitas bunyi tertinggi yang dapat didengar tanpa rasa sakit yaitu sebesar ). Tingkat intensitas bunyi

terendah yang masih dapat didengar dimiliki oleh Gemadana Irza dengan nilai ). Dari hasil diatas menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendengaran yang dapat didengar akan semakin tinggi pula nilai intensitas bunyi. Sedangkan, semakin rendah tingkat pendengaran yang masih dapat didengar maka akan semakin kecil nilai intensitas bunyinya.

5.1.3.

Analisis Daya Suara Tiap Operator Dari hasil pengolahan yang telah dilakukan, dapat diketahui tingkat

intensitas bunyi dari tiap anggota kelompok II dan dapat dilihat pada Tabel 5.3. Tabel 5.3. Tingkat Daya Suara Menggunakan Audiometer No. 1 2 3 4 Nama Ridhaul Fuadi Gemadana Irza Danu Jaya Saputro M. Fauzi Harahap Kanan Max Min Max Kiri Min

Berdasarkan data diatas diperoleh bahwa Ridhaul Fuadi, Gemadana Irza, dan Danu Jaya Saputro mempunyai tingkat daya suara tertinggi yang dapat didengar tanpa rasa sakit yaitu sebesar . Tingkat daya suara

terendah yang masih dapat didengar dimiliki oleh Gemadana Irza dengan nilai . Dari hasil diatas menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendengaran yang dapat didengar akan semakin tinggi pula nilai daya suara. Sedangkan, semakin rendah tingkat pendengaran yang masih dapat didengar maka akan semakin kecil nilai daya suaranya.

5.2. 5.2.1.

Evaluasi Evaluasi Kemampuan Pendengaran Tiap Operator Dari pengolahan data telah didapat bahwa semua anggota kelompok II

mempunyai jenis pendengaran tuli ringan, dari hasil tersebut jika dibiarkan terlalu lama maka bisa menjadi semakin parah keadaannya. Oleh karena itu, sebaiknya bagi setiap operator selalu melatih pendengarannya dengan baik dan tidak melakukan kebiasaan yang dapat merusak pendengaran.

5.2.1.

Evaluasi Intensitas Bunyi Tiap Operator Intensitas bunyi dari tiap operator masih dalam batas normal yaitu

berada pada kisaran 10-12 1

). Khusus untuk operator M. fauzy Harahap

sebaiknya lebih sering melatih pendengarannya agar masih dapat mendengar pada intensitas bunyi yang lebih rendah dan mampu mendengar intensitas bunyi yang lebih tinggi tanpa merasakan sakit.

5.2.1.

Evaluasi Daya Suara Tiap Operator Daya suara dari tiap operator masih dalam batas normal. Namun,

khusus untuk operator M. fauzy Harahap sebaiknya lebih sering melatih pendengarannya agar masih dapat mendengar pada daya suara yang lebih rendah dan mampu mendengar daya suara yang lebih tinggi tanpa merasakan sakit.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1.

Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil setelah melakukan peragaan alat

dengan audometri adalah sebagai berikut: 1. Kemampuan pendengaran dari tiap operator berada pada jenis pendengaran tuli ringan. 2. Tingkat intensitas bunyi tertinggi dimiliki oleh Ridhaul Fuadi, Gemadana Irza, dan Danu Jaya Saputro dengan nilai sebesar ). Dan tingkat

intensitas bunyi terendah dimiliki oleh Gemadana Irza dengan nilai ). 3. Tingkat daya suara tertinggi dimiliki oleh Ridhaul Fuadi, Gemadana Irza, dan Danu Jaya Saputro yaitu sebesar terendah dimiliki . oleh Gemadana . Dan tingkat daya suara Irza dengan nilai

6.2.

Saran Adapun saran untuk praktikan dalam mempelajari peragaan alat

audiometri adalah sebagai berikut : 1. Praktikan diharapkan mengikuti prosedur pada saat melakukan peragaan alat audiometri. 2. Praktikan diharapkan mengikuti instruksi asisten dalam melakukan peragaan alat audiometri. 3. Dalam melakukan peragaan alat audiometri seharusnya dilakukan di ruangan kedap suara agar tidak terdengar suara lain yang mengganggu. 4. Praktikan sebaiknya teliti dalam melakukan pengolahan data agar tidak terjadi kesalahan.