Anda di halaman 1dari 22

31

BAB III STRATIGRAFI

3.1.

Stratigrafi Regional

Stratigrafi regional daerah penelitian termasuk dalam Peta Geologi Lembar Majene dan Bagian Barat Lembar Palopo, Sulawesi, skala 1 : 250.000 (Djuri dan Sudjatmiko, 1974 ; Djuri dkk, 1998, Edisi Kedua ) Pada Peta Geologi Lembar Majene dan Bagian Barat Lembar Palopo (Djuri dan Sudjatmiko, 1974 ; Djuri dkk, 1998, Edisi Kedua ) dijumpai beberapa formasi batuan yang berdasarkan urutan stratigrafinya formasi batuan tertua daerah ini adalah Formasi Lamasi yang berumur Oligosen, terdiri dari aliran lava bersusunan basaltik hingga andesitik, breksi vulkanik, batupasir dan batulanau, setempat-setempat mengandung feldspatoid. Kebanyakan batuan terkersikkan

dan terkloritisasi serta tidak dijumpai adanya fosil, dengan tebal tidak kurang dari 500 m (Djuri dkk, 1998, Edisi Kedua). Di atas Formasi Lamasi diendapkan secara tidak selaras Formasi Salowajo yang terdiri dari batugamping dan napal yang tersisip, setempat mengandung batupasir gampingan berwarna abu-abu sampai kehitaman. Juga terdiri dari breksi dan konglomerat, pada umumnya fosil foraminifera yang dijumpai berumur dari Miosen Awal hingga Miosen Tengah ( Djuri dkk, 1998 ).

31

32

Daerah Penelitian

Gambar 3.1. Peta Geologi Lembar Majene Dan Bagian Barat Palopo (Djuri,Sudjatmiko, S. Bachri Dan Sukido , 1998, Edisi Kedua)

Gambar 3.2 Kolom Stratigrafi Regional Lembar Majene dan Palopo bagian Barat ( Djuri, Simandjuntak, S.Bachri dan Sukido, 1998 )

33

3.2.

Stratigrafi Daerah Penelitian Pengelompokan dan penamaan satuan batuan pada daerah penelitian

didasarkan pada litostratigrafi tidak resmi, yang bersendikan ciri fisik yang dapat diamati di lapangan, meliputi jenis batuan, keseragaman gejala litologi, keterdapatan fosil, posisi stratigrafi dan hubungan antara satuan batuan, serta dapat terpetakan pada sekala 1 : 25.000 (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996). Pembagian satuan batuan pada daerah penelitian yaitu didasarkan pada lithostratigrafi tidak resmi dapat dibagi menjadi tiga satuan batuan yang diurutkan dari satuan termuda ke satuan tertua yaitu : Satuan batugamping Satuan batulempung karbonatan Satuan basal porfiri Masing-masing satuan batuan akan diuraikan mulai dari satuan batuan tertua sampai satuan batuan termuda. Pembahasan dari tiap-tiap satuan batuan menyangkut dasar penamaan, penyebaran dan ketebalan, ciri litologi, lingkungan pembentukan dan umur, serta hubungan stratigrafi dengan satuan batuan di sekitarnya.

3.2.1 Satuan basal porfiri Satuan basal porfiri merupakan satuan tertua pada daerah penelitian, pembahasan mengenai satuan basal porfiri ini meliputi uraian mengenai dasar penamaan, penyebaran dan ketebalan, ciri litologi meliputi karakteristik

34

megaskopis dan mikroskopis, lingkungan pembentukan, umur dan hubungan stratigrafi dengan satuan batuan lainnya.

3.2.1.1 Dasar Penamaan Dasar penamaan satuan ini adalah berdasarkan pada litostratigrafi tidak resmi yang didasarkan atas ciri litologi, keseragaman litologi, kandungan mineral, dan penyebaran litologi yang mendominasi secara lateral, dan dapat terpetakan dalam sekala peta 1:25.000. Penamaan litologi batuan dari satuan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penamaan batuan secara megaskopis dan mikroskopis. Penamaan secara megaskopis ditentukan berdasarkan komposisi mineral yang dapat teramati langsung oleh mata dengan menggunakan klasifikasi Fenton, 1940. Sedangkan penamaan secara mikroskopis yaitu menggunakan mikroskop polarisasi untuk melakukan pengamatan secara mendetail terhadap kandungan mineral

menggunakan klasifikasi Travis, 1955.

3.2.1.2 Penyebaran dan Ketebalan Satuan basal porfiri ini menempati sekitar 69.17% dari luas keseluruhan daerah penelitian yaitu dengan luas penyebaran sekitar 28,52 km2. Penyebaran satuan ini meliputi bagian Barat Laut hingga Tenggara pada daerah Salo Lombok dan menyebar dari Utara ke Selatan sepanjang anak sungai Salo Talorong, Salo Arangan, dan Salo Barabba. Satuan basal porfiri ini tersingkap segar sepanjang sungai utama yaitu Salo Lombok .

35

Berdasarkan perhitungan ketebalan satuan basal porfiri pada penampang sayatan geologi A B, maka tebal satuan ini adalah sekitar 650 m.

3.2.1.3 Ciri Litologi Kenampakan megaskopis yang dijumpai dilapangan dari basal porfiri ini yaitu dalam keadaan segar berwarna abuabu kehijauan sedangkan dalam keadaan lapuk berwarna abu-abu kecoklatan, kristalinitas hipokristalin, granularitas porfiritik, bentuk subhedral-anhedral dengan relasi inequigranular, struktur masive, komposisi mineral plagioklas, piroksin, serta massa dasar. (Foto 3.1 ) Kenampakan petrografis (Foto 3.2), pada sayatan tipis dengan nomor sayatan BB/GC/68 dan BB/GC/02 memperlihatkan warna kuning kecoklatan, warna interferensi abuabu kehitaman, tekstur hipokristalin, granularitas porfiritik, bentuk subhedraleuhedral, ukuran mineral antara (< 0,11,4 mm), tersusun atas mineral Plagioklas (Bitownit) (2540%), Piroksin (Diopsit) (7-10 %) , Biotit (5-10 %) , Mineral Opak (5-7%) serta massa dasar afanitik (20-33%) dengan nama batuan Basal porfiri ( Travis, 1955), pemerian petrografis terlampir.

36

Foto 3.1

Singkapan basal porfiri pada Salo Lombok yang difoto relatif ke arah N 290 0 E pada Stasiun 68

e b

d
Foto3.2 Fotomikrograf basal porfiri pada sayatan BB/GC/68 yang memperlihatkan adanya mineral plagioklas (a), piroksin (b), Biotit (c) mineral opak (d), massa dasar (e)

37

3.2.1.4 Lingkungan Pembentukan dan Umur Satuan Basal porfiri pada daerah penelitian memiliki ciri fisik dalam keadaan segar berwarna abuabu kehijauan sedangkan dalam keadaan lapuk berwarna abu-abu kecoklatan. Berdasarkan ciri-ciri fisik litologi satuan ini dan penyebaran geografisnya maka satuan basal porfiri ini dapat disebandingkan dengan Formasi Lamasi, sehingga lingkungan pembentukan dari satuan basal porfiri ini yaitu lingkungan darat. Penentuan umur satuan basal porfiri ini ditentukan berdasarkan data-data yang dijumpai dilapangan serta kesebandingan terhadap stratigrafi regional daerah penelitian yaitu batuan gunungapi Lamasi (Tolv) yang dicirikan lava bersusunan basal, setempat mengandung feldspatoid, sebagian besar terkloritisasi dan terbreksikan yang diketahui berumur Oligosen, sehingga dapat diketahui bahwa umur dari satuan basal porfiri pada daerah penelitian adalah Oligosen.

3.2.1.5 Hubungan Stratigrafi Hubungan stratigrafi antara satuan basal porfiri dengan satuan yang berada diatasnya yaitu satuan batulempung karbonatan dilihat dari lingkungan pembentukan yang berbeda dan adanya selang waktu pembentukan batuan, maka hubungan stratigrafinya adalah hubungan ketidakselarasan.

3.2.2 Satuan batulempung karbonatan Pembahasan tentang satuan batulempung karbonatan pada daerah penelitian berupa meliputi uraian mengenai dasar penamaan, penyebaran dan ketebalan, ciri litologi meliputi karakteristik megaskopis dan mikroskopis, umur,

38

lingkungan pengendapan dan hubungan stratigrafi dengan satuan lainnya pada daerah penelitian.

3.2.2.1 Dasar Penamaan Dasar penamaan satuan ini yaitu berdasarkan litostratigrafi tidak resmi yang didasarkan pada ciri litologi, keseragaman gejala litologi dan ukuran butir, kandungan mineral, dan penyebaran batuan yang mendominasi secara lateral, serta dapat terpetakan dalam peta bersekala 1: 25.000. Penamaan litologi dari satuan batulempung karbonatan ini dilakukan dengan dua cara yaitu penamaan batuan secara megaskopis dan mikroskopis. Penamaan secara megaskopis ditentukan berdasarkan ukuran butir yang dapat teramati langsung oleh mata dilapangan dengan memakai klasifikasi Wentworth, 1922. Sedangkan penamaan secara mikroskopis menggunakan mikroskop polarisasi untuk mengetahui kandungan mineral secara lebih spesifik

menggunakan klasifikasi Pettijohn 1956.

3.2.2.2 Penyebaran dan Ketebalan Satuan batulempung karbonatan ini menempati sekitar 25 % dari luas keseluruhan daerah penelitian yaitu dengan luas penyebaran sekitar 10,274 km2. Penyebaran satuan ini meliputi bagian Selatan daerah penelitian yang memanjang relatif dari Barat ke Timur desa Lombok sampai dusun Pandreng. Berdasarkan perhitungan ketebalan satuan batulempung karbonatan pada penampang sayatan geologi A B, maka tebal satuan ini adalah sekitar 550 m.

39

3.2.2.3 Ciri Litologi Satuan ini terdiri dari batulempung karbonatan dan sisipan batugamping pasiran. Satuan batulempung karbonatan ini memiliki kenampakan lapangan dalam keadaan segar berwarna abu abu dan dalam keadaan lapuk berwarna kuning kecoklatan, tekstur klastik halus, ukuran butir lempung, bersifat karbonatan, struktur berlapis (N1250E/250), nama batuan Batulempung

karbonatan (Foto 3.3). Kondisi singkapan di lapangan umumnya dijumpai dalam keadaan segar pada anak sungai Salo Paung, Salo Maula dan Salo Likkua di daerah penelitian. Kenampakan petrografis pada sayatan tipis dengan nomor sayatan GC/BL/46 (Foto 3.4), memperlihatkan warna kuning kecoklatan, tekstur klastik, komposisi material terdiri dari mineral lempung (7080%), mineral karbonat (1015%), mineral opak (23%), fosil (1-2%), nama batuan Calcareous claystone (Pettijohn 1956), pemerian petrografis terlampir.

Foto 3.3 Singkapan Batulempung karbonatan pada salo Paung difoto ke arah N 2300 E (Stasiun 46)

40

b a

Foto 3.4 Fotomikrograf batulempung karbonatan dengan nomor sayatan GC/BL/46, memperlihatkan komposisi material berupa mineral lempung (a) material karbonat (b), mineral opak (c), fosil foraminifera (d) Kenampakan batugamping pasiran dilapangan di jumpai dalam bentuk sisipan pada batulempung karbonatan dengan kedudukan N1240E/270 (Foto 3.5) memiliki ciri fisik berwarna putih keabuabuan dalam keadaan segar, dan berwarna kuning kecoklatan dalam keadaan lapuk, tekstur klastik, ukuran butir pasir sedang, struktur berlapis. Hasil analisis petrografis batugamping pasiran pada sayatan tipis dengan nomor sayatan GC/BG/64 (Foto 3.6) memperlihatkan warna kuning kecoklatan, tekstur grain supported, komponen penyusunnya terdiri dari grain berupa skeletal grain mikrofosil dan nonskeletal berupa mineral kalsit (40-45%) mud berupa mineral karbonat ( 35- 40%) dan impuritis berupa mineral opak (5-7%)

41

Foto 3.5 Singkapan sisipan Batugamping pasiran pada stasin 64 salo Likkua difoto ke arah N 2700 E

ks

md

mo

mf

Foto 3.6 Fotomikrograf batugamping pasiran dengan nomor sayatan GC/BG/64, memperlihatkan grain mikrofosil (mf), mineral kalsit (ks), mud (md), mineral opak (mo)

42

3.2.2.4 Lingkungan Pengendapan dan Umur Penentuan lingkungan pengendapan pada satuan batulempung karbonatan ini didasarkan pada keterdapatan fosil bentonik yang dijumpai serta ciri fisik dari batuan tersebut. Berdasarkan hasil analisis mikropaleontologi pada fosil foraminifera bentonik yang dijumpai pada litologi batulempung karbonatan menunjukkan fosil Cibicides lobatulus ( Walker and Jacob ), Elphidium sagra ( dOrbigny ), dan Textularia bermudezi Cushman and Todd dalam jumlah yang banyak( Lihat Foto 3.7). Berdasarkan klasifikasi menurut Boltovskoy, 1976 kandungan fosil

bentonik yang ada pada batulempung karbonatan tersebut menunjukkan lingkungan pengendapan dari satuan batulempung karbonatan yaitu Middle neritic dengan kedalaman berkisar 30 100 meter ( Tabel 3.1 )

Foto 3.7 Fosil bentonik pada batulempung karbonatan pada stasiun 46 yaitu ; Elphidium sagra ( dOrbigny ) (a), Cibicides lobatulus ( Walker and Jacob) (b), Textularia bermudezi Cushman and Todd (c),

43

Tabel 3.1 Lingkungan pengendapan batulempung Boltovskoy, 1976 )


Intertidal zone Middle neritic

karbonatan ( Klasifikasi

Upper and middle bathyal zone

Nama Fosil

Cibicides bernettii Bermudez


Elphidium sagra ( dOrbigny ) Textularia bermudezi Cushman and Todd
Kedalaman 10003000 1301000 100130 0-30 30100

Penentuan umur Satuan batulempung karbonatan menggunakan penentuan umur relatif dengan melihat kandungan fosil plantonik yang dijumpai pada

batulempung yang ditunjukkan pada zonasi Blow, 1969 ( Postuma, 1971). Berdasarkan hasil analisis mikropaleontologi dijumpai adanya fosil plantonik berupa Globigerina praebulloides BLOW, Globigerina venezuelana HEDBERG, Globorotalia fohsi CUSHMAN and ELLISOR, Globorotalia menardii, Sphaerodinella subdehiscens BLOW, Orbulina universa DORBIGNY ( Foto 3.8 )

Foto 3.8 Fosil plantonik pada batulempung karbonatan yaitu ; Globorotalia


menardii (a), Globigerina venezuelana HEDBERG (b), Globigerina praebulloides BLOW (c), Orbulina universa DORBIGNY (d)

Lower bathyal zone

Inner neritic

Outer neritic

44

Tabel 3.2 Penentuan umur satuan batulempung karbonatan berdasarkan fosil plantonik menurut Blow. 1969 ( Postuma,1971)
PLIOSEN MIOSEN Awal Tengah Akhir QUARTER
OLIGOSEN

KANDUNGAN FOSIL PLANKTONIK

Globorotalia menardii Globigerina venezuelana HEDBERG Orbulina universa DORBIGNY


N20 N22 N23 N10 N12 N13 N14 N15 N16 N17 N18 N19 N21 N11 N2 N3 N4 N5 N6 N7 N8 N9 N1 ZONASI BLOW, 1969

Berdasarkan keterdapatan fosil plantonik maka umur dari satuan batulempung karbonatan yaitu Miosen Tengah bagian Tengah - Miosen Akhir ditandai dengan pemunculan fosil Globorotalia menardii dan pemusnahan fosil Globigerina venezuelana HEDBERG atau dapat disebandingkan dengan zonasi BLOW, 1969 yaitu pada zonasi N.12 N.18 yang ditandai dengan pemunculan Globorotalia (G) fohsi dan pemusnahan Globorotalia tumida ( Tabel 3.2 )

3.2.2.5 Hubungan Stratigrafi Penentuan hubungan stratigrafi antara satuan batulempung karbonatan pada daerah penelitian didasarkan pada ciri fisik dan umur batuan . Berdasarkan hasil penelitian dapat tentukan bahwa hubungan stratigrafi antara satuan batulempung karbonatan dengan satuan batuan yang lebih tua yaitu basal porfiri adalah ketidakselarasan. Sedangkan hubungan stratigrafi satuan batulempung karbonatan dengan satuan batugamping yang lebih muda adalah selaras .

45

3.2.3 Satuan batugamping Pembahasan tentang satuan batugamping pada daerah penelitian berupa meliputi uraian mengenai dasar penamaan, penyebaran dan ketebalan, ciri litologi meliputi karakteristik megaskopis dan mikroskopis, umur, lingkungan

pengendapan dan hubungan stratigrafi dengan satuan lainnya pada daerah penelitian. 3.2.3.1 Dasar Penamaan Dasar penamaan satuan ini yaitu berdasarkan litostratigrafi tidak resmi yang didasarkan pada ciri litologi, keseragaman gejala litologi dan ukuran butir, kandungan mineral, dan penyebaran batuan yang mendominasi secara lateral, serta dapat terpetakan dalam peta berskala 1: 25000. Penamaan litologi dari satuan batugamping ini dilakukan dengan dua cara yaitu penamaan batuan secara megaskopis dan mikroskopis. Penamaan secara megaskopis ditentukan berdasarkan ukuran butir yang dapat teramati langsung oleh mata dilapangan. Sedangkan penamaan secara mikroskopis dilakukan

dengan menggunakan mikroskop polarisasi untuk mengamati sifat optik dari komposisi mineral dan material yang menyusun batuan menggunakan klasifikasi batuan karbonat menurut Dunham, 1962 ( Sam Boggs, 1991 ) yaitu berdasarkan komponen penyusun dan tekstur batugamping.

46

3.2.3.2 Penyebaran dan Ketebalan Penyebaran satuan batugamping ini menempati 5,83% dari luas keseluruhan daerah penelitian, dengan luas penyebaran sekitar 2,28 km2. Satuan batugamping ini memiliki penyebaran meliputi bagian Barat Daya daerah penelitian. Satuan batugamping ini tersingkap dalam keadaan segar sepanjang anak sungai Salo Paung. Ketebalan satuan batugamping ini diperoleh dari perhitungan ketebalan pada penampang geologi A B yaitu 525 m.

3.2.3.3 Ciri Litologi Kenampakan lapangan dari batugamping pada stasiun 49 memperlihatkan warna segar abu abu, dalam keadaan lapuk berwarna coklat kehitaman, tekstur klastik, struktur berlapis ( Foto 3.9 ). Struktur berlapis dengan tebal perlapisan 1320 cm, jurus perlapisan yaitu N1250E dengan kemiringan perlapisan bervariasi 290 hingga 380. Struktur sedimen berupa convolute laminasi ( Foto 3.10 )

Foto 3.9 Singkapan batugamping pada Salo Paung difoto ke arah N 2850 E pada stasiun 49

47

Foto 3. 10 Struktur sedimen convolute laminasi difoto ke arah N 300 0 E pada stasiun 63 Analisis petrografis dilakukan pada sayatan tipis batugamping pada

stasiun 49 dan 63 ( GC/BG/49 dan GC/BG/63 ). Hasil analisis petrografis pada sayatan tipis batugamping pada stasiun 49 (Foto 3.11) memperlihatkan warna

kuning kecoklatan, tekstur grain supported , komponen penyusunnya terdiri dari grain berupa skeletal grain mikrofosil dan nonskeletal berupa mineral kalsit (4555%), mud berupa mineral karbonat ( 35-40%) dan impuritis berupa mineral opak ( 3 -5%), nama batuan Packstone ( Dunham,1962 ). Kenampakan batugamping pada stasiun 63 (Foto 3.12 ) dengan nomor sayatan GC/BG/63 pada sayatan tipis memperlihatkan warna kuning kecoklatan, tekstur grain supported, komponen penyusunnya terdiri dari grain yang berupa fosil dan mineral kalsit ( 75-80%), dan mud berupa mineral karbonat ( 20-25%), nama batuan Grainstone ( Dunham, 1962)

48

mf md

ks
Foto 3.11 Fotomikrograf batugamping pada stasiun 49 dengan nomor sayatan GC/BG/49, memperlihatkan mineral kalsit (ks) , mikrofosil (mf) dan mud (md)

f md

ks

Foto 3.12 Fotomikrograf batugamping pada stasiun 63 dengan nomor sayatan GC/BG/63, memperlihatkan mineral kalsit (ks), fosil( f) dan mud (md)

49

3.2.3.4 Lingkungan Pengendapan dan Umur Penentuan lingkungan pengendapan satuan batugamping ini didasarkan pada ciri fisik litologi, struktur sedimen dan kandungan fosil bentonik yang dijumpai. Berdasarkan sifat fisik batuan yang berkomposisi karbonat,dan struktur sedimen convolute laminasi yang menunjukkan bahwa material terendapkan pada daerah dengan sistem arus turbidit yang merupakan lingkungan dimana terjadinya percepatan transportasi yang mengindikasikan bahwa daerah tersebut merupakan daerah continental slope (Sam Boggs, 1991), serta hasil analisis

mikropaleontologi pada batugamping stasiun 63 dijumpai adanya fosil bentonik yaitu Elphidium sagra ( dOrbigny ), Cibicides lobatulus ( Lihat Foto 3.13 ), maka dapat disimpulkan bahwa lingkungan pengendapan satuan ini yaitu pada middle neritic atau kedalamannya sekitar 30 130 meter ( Boltovskoy, 1976).

Foto 3.13 Fosil bentonik pada stasiun 63 berupa Elphidium sagra ( dOrbigny )(a), Cibicides lobatulus (b) Penentuan umur dari satuan batugamping ini didasarkan pada penentuan umur relatif dengan menggunakan fosil plantonik yang dijumpai menurut Blow, 1969 dalam Postuma 1971. Fosil foraminifera yang dijumpai pada satuan

50

batugamping ini yaitu Orbulina bilobata, Globorotalia menardii, Sphaerodinella subdehiscens BLOW, Globigerina venezuelana HEDBERG ( Lihat Foto 3.14)

a
Foto 3.14

Kandungan fosil plantonik pada satuan batugamping berupa Globigerina venezuelana HEDBERG (a), Sphaerodinella subdehiscens BLOW (b), Orbulina bilobata (c), Globorotalia menardii (d)

Berdasarkan keterdapatan fosil plantonik maka umur dari satuan batugamping yaitu Miosen Atas Pliosen ditandai dengan pemunculan fosil Sphaerodinella subdehiscens BLOW dan pemusnahan fosil Globigerina venezuelana HEDBERG atau dapat disebandingkan dengan zonasi BLOW,

1969 yaitu pada zonasi N.16 N.18 yang ditandai dengan pemunculan Globorotalia acostaensis dan pemusnahan Globorotalia tumida Sphaerodinella subdehiscens ( Tabel 3.3 )

51

Tabel 3.3 Penentuan umur satuan Batugamping berdasarkan fosil plantonik menurut Blow, 1969 ( Postuma,1971)
OLIGOSEN MIOSEN Bawah Tengah Atas QUARTER PLIOSEN

KANDUNGAN FOSIL PLANKTONIK

Globorotalia menardii Globigerina venezuelana HEDBERG


Sphaerodinella subdehiscens BLOW

Orbulina bilobata
N20 N22 N23 N10 N12 N13 N14 N15 N16 N17 N18 N19 N21 N11 N2 N3 N4 N5 N6 N7 N8 N9 ZONASI BLOW, 1969 N1

3.2.3.5 Hubungan Stratigrafi Penentuan hubungan stratigrafi antara satuan batugamping dengan satuan batulempung karbonatan yang lebih tua didasarkan pada umur kandungan fosil. Berdasarkan umur kandungan fosil antara kedua satuan tersebut, maka hubungan stratigrafi antara kedua satuan tersebut adalah selaras.

Kolom Stratigrafi Daerah Penelitian Sekala Tidak Sebenarnya

52