Anda di halaman 1dari 5

PLEURITIS Oleh : Eltari Prismasari dan Aditya Nugroho DEFINISI Pleuritis / radang pleura (Pleurisy/Pleurisis/ Pleuritic chest pain)

adalah suatu peradangan pada pleura (selaput yang menyelubungi permukaan paru-paru). Radang pleura dapat berlangsung secara subakut, akut atau kronis, dengan ditandai perubahan proses pernafasan yang intensitasnya tergantung pada beratnya proses radang. Bila disertai dengan penimbunan cairan di rongga pleura maka disebut efusi pleura tetapi bila tidak terjadi penimbunan cairan di rongga pleura, maka disebut pleurisi kering. Setelah terjadi peradangan, pleura bisa kembali normal atau terjadi perlengketan.

ETIOLOGI a. Infeksi-Infeksi: bakteri-bakteri (termasuk yang menyebabkan tuberculosis), jamur- jamur, parasit-parasit, atau virus-virus. b. Kimia-Kimia Yang Terhisap Atau Senyawa-Senyawa Beracun: paparan pada beberapa agen-agen perbersih seperti ammonia. c. d. e. f. g. h. Penyakit-Penyakit Vaskular Kolagen: lupus, rheumatoid arthritis. Kanker-Kanker: contohnya, penyebaran dari kanker paru atau kanker payudara ke pleura. Tumor-Tumor Dari Pleura: mesothelioma atau sarcoma. Kemacetan: gagal jantung. Pulmonary embolism: Rintangan dari Kanal-Kanal Limfa: sebagai akibat dari tumor-tumor paru yang berlokasi secara central. i. Trauma: patah-patahan rusuk atau iritasi dari tabung-tabung dada yang digunakan untuk mengalirkan udara atau cairan dari rongga pleural pada dada. j. Obat-Obat Tertentu: obat-obat yang dapat menyebabkan sindrom-sindrom seperti lupus (seperti Hydralazine, Procan, Dilantin, dan lain-lainnya). k. l. Proses-proses Perut: seperti pankreatitis, sirosis hati. Lung infarction: kematian jaringan paru yang disebabkan oleh kekurangan oksigen dari suplai darah yang buruk.

JENIS-JENIS PLEURITIS Berdasarkan etiologi: 1.Pleuritis karena Virus dan Mikoplasma Efusi pleura karena virus atau mikoplasma agak jarang. Bila terjadi jumlahnya tidak banyak dan kejadiannya hanya selintas saja. Jenis-jenis virusnya adalah: echovirus, Coxsackie group, chlamidia, rivkettsia, dan mikoplasma.

Cairan efusi biasanya eksudat dan berisi leukosit antara 100-6.000 per cc. Gejala penyakit dapat dengan keluhan sakit kepala, demam, malaise, mialgia, sakit dada, sakit perut. Kadang-kadang ditemukan juga gejala-gejala perikarditis. Diagnosis ditegakkan dengan menemukan virus dalam cairan efusi, tapi cara termudah adalah dengan mendeteksi antibodi terhadap virus dalam cairan efusi.

2. Pleuritis karena Bakteri Piogenik Permukaan pleura oleh bakteri yang berasal dari jaringan parenkim paru dan menjalar secara hematogen, dan jarang yang melalui penetrasi diafragma, dinding dada atau esophagus.

3. Pleuritis Tuberkulosis Permulaan penyakit ini terlihat sebagai efusi yang sero-santokrom dan bersifat eksudat. Penyakit ini kebanyakan terjadi sebagai komplikasi tuberculosis paru melaluifocus subpleura yang robek atau melalui aliran getah bening. Diagnosis utama berdasarkan adanya kuman tuberculosis dalam cairan efusi(biakan) atau dengan biopsy jaringan pleura. Pengobatan dengan obat-obat anti tuberculosis (Rifampisin, INH,Pirazinamid/etambutol/Streptomisin) memakan waktu 6-12 bulan.

4. Pleuritis Fungi Pleuritis karena fungi amat jarang. Biasanya terjadi karena penjalaran infeksi fungi dari jaringan paru. Jenis fungi penyebab pleuritis adalah Aktinomikosis, Koksidiomikosis, Aspergillus, Kriptokokus, Histoplasmolisis, Blastomikosis, dll. Patogenesis timbulnya efusi pleura adalah karena reaksi hipersensitivitas lambat terhadap organisme fungi. Pengobatan dengan Amfoterisin B memberikan respon yang baik. Prognosis penyakit ini relative baik. 5. Pleuritis Parasit Parasit yang dapat menginfeksi ke dalam rongga pleura hanyalah amuba. Bentuk tropozoitnya datang dari parenkim hati menembus diafragfma terus ke parenkim paru dan rongga pleura. Efusi pleura karena parasit ini terjadi karena peradangan yang ditimbulkannnya. Di samping ini juga dapat empiema karena amuba yang cairannya berwarna khas merah coklat. Di sini parasit masuk ke rongga pleura secara migrasi dari parenkim hati. Berdasarkan ada tidak substansi yang membentuknya : a. Pleuritis eksudativa (efusi pleura) Radiologis : Lebih dari 75 ml dengan sinus kostofrenikus tumpul Lebih dari 300 ml dengan gambaran efusi pleura , garis ellis domessau (pemeriksaan lateral dekubitus). Pemeriksaan fisik :Fremitus melemah Suara napas melemah

Redup b. Pleuritis fibrinosa (sicca/ kering) Penyebab : Trauma dinding paru, Penyakit primer di paru (TB paru, pneumonia, infark paru, Ca.bronkus, abses paru, rheumatoid arthritis, SLE, uremia).

Berdasarkan Jenis Cairan : a. Efusi pleura transudatif terjadi kalau faktor sistemik yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura mengalami perubahan. Efusi pleura

tipe transudatif dibedakan dengan eksudatif melalui pengukuran kadar Laktat Dehidrogenase (LDH) dan protein di dalam cairan, pleura.

b.

Efusi pleura eksudatif memenuhi paling tidak salah satu dari tiga kriteria berikutini, sementara efusi pleura transudatif tidak memenuhi satu pun dari tiga kriteria ini :1. Protein cairan pleura / protein serum > 0,52. LDH cairan pleura / cairan serum > 0,63. LDH cairan pleura melebihi dua per tiga dari batas atas nilai LDH yang normal didalam serum.

PATOGENESIS Penyebab akumulasi cairan pleura : a. b. c. d. . GEJALA KLINIS a. Nyeri pada dada yang diperburuk oleh bernapas b. Sesak napas Menurunnya tekanan koloid osmotik (Hipoalbuminemia) Meningkatnya permeabilitas kapiler (radang, neoplasma) Meningkatnya tekanan hidrostatik (gagal jantung) Meningkatnya tekanan negatif intrapleura (Atelektasis)

c. Perasaan ditikam d. Batuk

DIAGNOSIS a.Anamnesa gejala klinis Nyeri dari pleuristis adalah sangat khusus. Nyerinya di dada dan biasanya tajam dan diperburuk oleh bernapas. Bagaimanapun, nyerinya dapat dikacaukan dengan nyeri dari: Peradangan sekitar jantung (pericarditis) Seranganjantung (myocardial infarction) Kebocoran udara didalam dada (pneumothorax)

b.

Pemeriksaan fisik

c. Radiologi X-ray dada pada posisi tegak lurus (PA) dan ketika berbaring pada sisi (Lateral Dicubitus) adalah alat yang akurat dalam mendiagnosa jumlah-jumlah yang kecil dari cairan dalam ruang pleural. d. Ultrasound adalah juga metode yang sensitif untuk mendeteksi kehadiran cairan pleural. e. Thoracosentesis. Penyedotan cairan pleural dengan suntikan ini adalah penting dalam mendiagnosa penyebab dari pleuritis. Warna, konsistensi, dan kejernihan dari cairan dianalisa dalam laboratorium. Analisa cairan didefinisikan sebagai exudate (tinggi dalam protein, rendah dalam gula, tinggi dalam enzim LDH, dan tinggi dalam jumlah sel putih; karakteristik dari proses peradangan) atau transudate (mengandung tingkat-tingkat yang normal dari kimia-kimia tubuh ini).

TERAPI 1.Pungsi pleura / Pengosongan cairan (torasentesis) 2.Pemasangan Water Seal Drainase (WSD) 3.Pleurodesis merupakan tindakan memasukkan bahan ke ruang antar pleura untuk melekatkan pleura parietalis dan viseralis. 4.Terapi penyakit dasar (Underlying disease)

PROGNOSIS Prognosis radang pleura tidak selalu menggembirakan. Hal tersebut disebabkan oleh kesukaran dalam penanganan kasus, yang seharusnya penderita ditempatkan pada tempat yang hangat, bersih, dan tidak berdebu, serta kesulitan dalam menghentikan proses radang.

KOMPETENSI DOKTER UMUM Tingkat kemampuan 3a Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan (mis: labor sederhana dan X-Ray). Dokter dapat memutuskan dan memberikan terapi awal, serta merujuk ke spesialis yang relevan (bukan kasus gawat darurat).