Anda di halaman 1dari 4

FORM REFLEKSI KASUS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

_____________________________________________________________________________________________ Nama Dokter Muda Stase Identitas Pasien Nama / Inisial Umur Diagnosis/ kasus : SNH Pengambilan kasus pada minggu ke: 2 Jenis Refleksi: lingkari yang sesuai (minimal pilih 2 aspek, untuk aspek ke-Islaman sifatnya wajib) a. Ke-Islaman* b. Etika/ moral c. Medikolegal d. Sosial Ekonomi e. Aspek lain Form uraian 1. Resume kasus yang diambil (yang menceritakan kondisi lengkap pasien/ kasus yang diambil ). Ny. M adalah seorang pasien berusia 49 tahun yang datang dengan keluhan kelemahan anggota gerak sebelah kiri dan pusing. Pasien dalah seorang guru SD yang kesehariannya mengajar di sekolah dasar. Kelemahan anggota gerak sebelah kiri sudah dirasakan sejak 5 hari yang lalu. Keluhan ini muncul secara tiba-tiba pada sore hari saat pasien sedang mencuci baju. Gejala lainnya pada saat itu adalah bicaranya pelo dan mulutnya perot. Pasien sadar saat kejadian dan tidak merasakan adanya nyeri kepala. Sedangkan pusing yang dirasakan juga sejak 5 hari yang lalu. Pusing dirasakan hilang timbul dengan durasi 5 menit. Pusing dirasakan snut-snut di daerah mata, yang muncul biasanya dipicu oleh pergantian posisi. Keluhan pusing membaik dengan istirahat. Pasien tidak memiliki keluhan serupa berupa kelemahan anggota gerak, namun pasien pernah dikatakan menderita vertigo oleh dokter. Riwayat darah tinggi dan penyakit gula disangkal. : Ny. M : 49 tahun No RM Jenis kelamin : : Perempuan : Dita Wahyu Rahman : Saraf NIM: 09711131

Page 1

2. Latar belakang /alasan ketertarikan pemilihan kasus Pasien ini merupakan pasien dengan gejala stroke dengan usia yang relatif masih muda. Pasien juga seorang guru yang kesehariannya tentu saja menuntut beliau untuk mengajar yang pastinya membutuhkan kekuatan dari seluruh anggota gerak baik tangan maupun kaki. Dengan gejala yang dialami pasien tentu saja bisa menghambat kegiatan sehari-harinya, baik dalam fungsinya sebagai seorang istri, seorang guru, dan dalam hal beribadah kepada Allah SWT yang pasti berpengaruh secara sosial dan psikologis. Karena alasan-alasan itulah saya mengambil kasus ini untuk refleksi kasus.

3. Refleksi dari aspek etika moral /medikolegal/ sosial ekonomi beserta penjelasan evidence / referensi yang sesuai * *pilihan minimal satu Jika mengambil dari sisi sosial dan ekonomi ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada pasien dan keluarga. Jika melihat dari sisi ekonomi mungkin pada pasien ini tidak terlalu berpengaruh karena pasien adalah seorang guru sehingga sudah mempunyai gaji per bulan yang tetap. Namun, dari segi sosial perlu adanya pengertian dari pihak-pihak terdekat seperti suami dan anak-anaknya untuk memahami keadaan pasien. Saat ini pasien sedang mengalami penurunan fungsi, oleh karena itu orang-orang terdekatnya wajib untuk mendampingi pasien dalam hal paling sepele sekalipun seperti memakai baju, menyuapi makan dan lain-lain. Selain itu keluarga juga wajib mengingatkan kepada pasien untuk berlatih menggerakkan kaki dan tangannya agar lebih cepat pulih. Hal ini pasti akan sangat perpengaruh terhadap proses kesembuhan dan dalam segi psikologis pasien. Untuk pasien sendiri, dihimbau untuk tetap semangat menjalani hari-hari, tetap semangat untuk berlatih menggerakkan anggota geraknya agar cepat sembuh dan perlu dihilangkan perasaan seperti tertekan atau minder terhadap apa yang sedang dideritanya. Bahkan jika memungkinkan saat keadaan pasien sudah mulai membaik, mungkin perlu diberikan motivasi agar pasien lebih cepat untuk mengajar di sekolah kembali walaupun harus menggunakan alat bantu seperti kursi roda. Hal ini pasti akan mengurangi beban psikologis pasien dan memperbaiki fungsi sosialnya yang hari-harinya hanya berada di rumah. Bertemu dengan anak-anak didiknya dan menjalankan fungsinya kembali sebagai guru juga pasti akan menimbulkan perasaan senang dan bahagia dalam diri pasien.

4. Refleksi ke-Islaman beserta penjelasan evidence / referensi yang sesuai Page 2

Pada pasien ini perlu diingatkan bahwa apa yang sedang dialami pasien semata-mata hanya ujian dalam kehidupan yang diberikan oleh Allah SWT. Dan yang perlu diingatkan kepada pasien adalah Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, yang ayat ini merupakan terjemahan dari Surat Al-Baqarah ayat 286 yang berbunyi:

Semakin Allah sayang kepada seseorang hambanya, semakin kuat ujian buatnya. Selain itu diingatkan juga kepada pasien untuk selalu bersyukur atas apapun yang diterimanya karena banyak sekali pasien stroke yang memiliki gejala lebih parah dibanding apa yang diderita pasien. Dalam Al-Quran surat Ibrahim ayat 7 sudah diperintahkan kepada seluruh umat muslim untuk senantiasa bersyukur dengan janji Allah berupa kenikmatan yang akan ditambah.

Dalam masalah shalat, sholat adalah salah satu perkara yang tidak boleh ditinggalkan, karena sholat adalah bentuk pengabdian atau penyembahan kepada Allah. Walau dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun sholat tidak boleh tidak dilaksanakan, jadi harus dilaksanakan walaupun dalam keadaan sakit sekalipun. Maka dari itu ada tata cara sholat bagi yang sakit dan cara bersucinya. Sholat bagi yang sakit memiliki aturan tersendiri. Untuk setiap Muslim, sholat adalah wajib selama akal dan ingatannya masih berfungsi dengan baik (normal), namun berbeda aturannya dengan sholat yang dilakukan ketika sehat. Allah SWT memberikan keringanan bagi si sakit dalam melaksanakan sholat, yaitu; A. Jika tidak dapat sholat sambil berdiri, boleh mengerjakan sambil duduk. Caranya: 1. Cara mengerjakan rukuknya ialah dengan duduk membungkuk sedikit 2. Sujudnya seperti sujud biasa, hanya saja dilakukan sambil duduk. B. Jika tidak dapat duduk, boleh mengerjakannya dengan cara dua belah kakinya diarahkan kearah kiblat, kepalanya ditinggikan dengan alas bantal dan mukanya diarahkan ke kiblat. 1. Cara rukuknya ialah dengan menggerakkan kepala ke muka. 2. Sujudnya menggerakkan kepala lebih ke muka dan lebih ditundukkan.

Dalam masalah bersuci untuk menjalankan shalat, pasien dapat bertayamum sebelum melaksanakan shalat jika pasien merasa tidak sanggup untuk mengambil air wudhu. Hal ini merujuk pada Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah menyebutkan beberapa keadaan
yang dapat menyebabkan seseorang bersuci dengan tayammum, Jika tidak ada air baik dalam keadaan safar/dalam perjalanan ataupun tidak. Terdapat air dalam jumlah terbatas, sementara ada kebutuhan lain yang juga memerlukan air tersebut, Page 3

seperti untuk minum dan memasak Adanya kekhawatiran jika bersuci dengan air akan membahayakan badan atau semakin lama sembuh dari sakit Ketidakmapuan menggunakan air untuk berwudhu dikarenakan sakit dan tidak mampu bergerak untuk mengambil air wudhu dan tidak adanya orang yang mampu membantu untuk berwudhu bersamaan dengan kekhawatiran habisnya waktu sholat Khawatir kedinginan jika bersuci dengan air dan tidak adanya yang dapat menghangatkan air tersebut.

Dalam Al-Quran juga sudah disebutkan dalam surat Al Maidah ayat 6 yang artinya : Dan jika
kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. (Qs. Al Maidah: 6).

Untuk itu, perlu diajarkan kepada pasien mengenai tata cara untuk bertayamum. Berdasarkan
sebuah hadits. tata cara tayammum Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah sebagai berikut.

Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan tanah sekali kemudian meniupnya. Mengusap punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya. Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan. Semua usapan dilakukan sekali. Bagian tangan yang diusap hanya sampai pergelangan tangan saja

Umpan balik dari pembimbing

.,... TTD Dokter Pembimbing TTD Dokter Muda

-----------------------------------

--------------------------------

Page 4

Anda mungkin juga menyukai