Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN SGD IMPAKSI & INFEKSI ODONTOGENIK

SGD 2 Nama Kelompok : 1. Anggun Novilia 2. Astri Rachmawati 3. Beti Ratnasari 4. Diah Enggar Winantu 5. Eggi Yenniawati 6. Frendi Shumna Purwa 7. Hanna J mahardhika 8. Mella Pramesti Rochana 9. Nadia Fitri Hapsari 10. Novita Eky Dianti 11. Silvia Ayu Purwaningtyas 112090053 112090057 112090061 112090065 112090070 112090075 112090079 112090087 112090090 112090091 112090097

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

SEMARANG 2012 PENDAHULUAN Skenario A 25 years old man visited RSGMP asking for treatment due to 2 days history of his trismus and right facial swelling. It was associated with mild pain and low grade fever. The patient had drug from drugstore, but not healed yet. The patient asked if his swelling can be cured and can open mouth wider. Clinical examination by drg. Ade : Extraoral: Asymetri (+) Right facial swelling Reddish Border mandibular can touch Trismus Pain on palpation No fluctuation Submandibular limfenode enlargement (+) Intraoral : There was dental #48 partial impactedreddish pain on palpation enlargement of vestibulum region dental #48, 47 fluctuation (+). Radiology examination : Dental periapical view showed there is radiolusen view on pericoronal dental #48 and periodontal ligament was wide.

Case management: An incision and drainage was performed with local anaestation and antibiotic treatment.

PEMBAHASAN A. TINJAUAN PUSTAKA Definisi Impaksi Gigi impaksi atau gigi terpendam adalah gigi yang erupsi normalnya terhalang atau terhambat,biasanya oleh gigi didekatnya atau jaringan patologis sehingga gigi tersebut tidak keluar dengan sempurna mencapai oklusi yang normal didalam deretan susunan gigi geligi lain yang sudah erupsi.

Gambar Gigi yang impaksi

ETIOLOGI IMPAKSI GIGI MOLAR 3

Gigi impaksi dapat disebabkan oleh banyak faktor,menurut Berger penyebab gigi impaksi antara lain : a. Kausa Lokal Faktor local yang dapat menyebabkan terjadinya gigi impaksi adalah : 1. Abnormalnya posisi gigi 2. Tekanan dari gigi tetangga pada gigi tersebut 3. Penebalan tulang yang mengelilingi gigi tersebut 4. Kekurangan tempat untuk gigi tersebut bererupsi 5. Gigi desidui persistensi(tidak mau tanggal) 6. Pencabutan prematur pada gigi 7. Inflamasi kronis penyebab penebalan mukosa disekitar gigi 8. Penyakit yang menimbulkan nekrosis tulang karena inflamasi atau abses 9. Perubahan-perubahan pada tulang karena penyakit eksantem pada anak-anak.

b. Kausa Umur Faktor umur dapat menyebabkan terjadinya gigi impaksi walaupun tidak ada kausa lokal antara lain: 1. Kausa Prenatal a. Keturunan b. miscegenation 2. Kausa Postnatal a. Ricketsia
4

b. Anemi c. Syphilis congenital d. TBC e. Gangguan kelenjar endokrin f. Malnutrisi g. Kista 3. Kelainan Pertumbuhan a. Cleido cranial dysostosis b. Oxycephali c. Progeria d. Achondroplasia e. Celah langit-langit Tanda Atau Keluhan Gigi Impaksi .Tanda-tanda umum dan gejala terjadinya gigi impaksi adalah : 1. Inflamasi,yaitu pembengkakan disekitar rahang dan warna kemerahan pada gusi disekitar gigi yang diduga impaksi 2. Resorpsi gigi tetangga,karena letak benih gigi yang abnormal sehingga meresorpsi gigi tetangga 3. Kista(folikuler) 4. Rasa sakit atau perih disekitar gusi atau rahang dan sakit kepala yang lama(neuralgia) 5. Fraktur rahang(patah tulang rahang) 6. Dan tanda-tanda lain

KLASIFIKASI IMPAKSI a. Klasifikasi Menurut George Winter

Klasifikasi yang dicetuskan oleh George Winter ini cukup sederhana.Gigi impaksi digolongkan berdasarkan posisi gigi molar ketiga terhadap gigi molar kedua.Posisi-posisi meliputi 1. Vertical 2. Horizontal 3. Inverted 4. Mesioangular(miring ke mesial) 5. distoangular(miring ke distal) 6. bukoangular(miring ke bukal) 7. linguoangular(miring ke lingual) 8. posisi tidak biasa lainnya yang disebut unusual position

b. Menurut Pell & Gregory Berdasarkan hubungan antara ramus mandibula dengan molar kedua dengan cara membandingkan lebar mesio-distal molar ketiga dengan jarak antara bagian distal molar kedua ke ramus mandibula. c. Kelas I Ukuran mesio-distal gigi molar ketiga lebih kecil dibandingkan jarak antar distal gigi molar kedua dengan ramus mandibula.( cukup ruang) d. Kelas II Ukuran mesio-distal gigi molar ketiga lebih besar dibandingkan jarak antara distal gigi molar kedua dengan ramus mandibula.(ruang kurang) e. Kelas III Seluruh atau sebagian besar molar ketiga berada di dalam ramus mandibula. KELAS I KELAS II KELAS III

c. Menurut posisi terhadap garis oklusal: 1. Posisi A jika bagian tertinggi M3 rahang bawah sama tinggi atau sedikit di atas permukaan oklusal M2 rahang bawah 2. Posisi B bagian tertinggi M 3 terletak antara CEJ dan permukaan oklusal M 2 rahang bawah 3. Posisi C jika bagian tertinggi M 3 di bawah Cemento enamel jungtion ( CEJ) M 2 rahang bawah

POSISI A

POSISI B

POSISI C

PERAWATAN GIGI IMPAKSI Rencana perawatan yang dilakukan pada impaksi gigi molar tiga adalah pengangkatan gigi molar tiga tersebut. Gigi molar yang impaksi atau tumbuh miring tidak
7

berfungsi dengan baik dalam pengunyahan dan menyebabkan berbagai macam gangguan. Itulah mengapa gigi tersebut lebih baik diangkat daripada dipertahankan. Semakin cepat mengangkat gigi molar tiga impaksi akan semakin baik daripada harus menunggu sampai timbulnya komplikasi dan rasa sakit yang lebih lanjut. Bila Anda menunggu sampai timbul rasa sakit dan keluhan lainnya, resiko terjadinya komplikasi pada saat pengangkatan tentunya akan lebih tinggi, bahkan proses penyembuhan mungkin akan lebih lama. Semakin muda usia pasien, proses pengangkatan akan jauh lebih mudah dan proses penyembuhannya akan jauh lebih cepat. Prosedur perawatan gigi impaksi 1. Anestesi Anestesi yang digunakan dapat berupa anestesi lokal atau anestesi umum. Masing-masing anestesi memiliki keuntungan masing-masing. - Anestesi lokal : Biasanya dilakukan pada penderita yang memiliki keadaan umum baik atau normal, dan keadaan mental yang baik. Penggunaan anestesi ini jarang terjadi pendarahan karena digunakan juga vasokonstriktor. - Anestesi umum : Digunakan pada penderita yang gelisah dan debil (retardasi mental). Penggunaan vasokonstriktor pada anestesi umum harus mendapat izin dari ahli anestesi. 2. Teknik operasi - Membuat insisi untuk pembuatan flep Prosedur insisi: a. Di daerah distal Molar Dua sampai ke ramus, lakukan insisi horizontal tegak lurus pada pinggir oklusal tulang alveolar dan ramus b. Dari distal Molar Dua, kemudian insisi semi vertikal sebelah mesial Molar Dua sampai ke forniks kira-kira mencapai apeks Molar Satu. Setelah kedua insisi dibuat dengan baik sampai ke tulang, maka muko periosteal flep dibuka dengan raspatoriun dan kemudian ditarik dengan penarik pipi. Setelah flep dibuka, maka akan tampak tulang dan kadangkadang juga terlihat giginya sebagian. Selanjutnya dilakukan pengambilan tulang yang menghalangi gigi tersebut. Indikasi dan kontraindikasi insisi: Indikasi - Abses subakut - Sudah terdapat fluktuatif(fase selulose) Kontraindikasi - Abses besar yang ekstrim
8

- Abses difus - Abses pada area yang sulit di jangkau - Keadaan yang akut 3. Pengambilan tulang 4. Pengambilan gigi Pengambilan gigi dapat dilakukan secara : o Intoto (utuh) o In separasi (terpisah) 5. Pembersihan luka 6. Intruksi pasca perawatan o Pasien tidak boleh berkumur-kumur selama 24 jam dan terus menggigit tampon o Tampon harus diganti dengan tangan yang bersih bila masih berdarah o Pasien harus istirahat yang cukup o Tampon steril yang diletakkan pada daerah luka harus dibuang setelah setengah jam karena dapat menyebabkan infeksi. Jika masih terjadi perdarahan, maka pasien tersebut harus datang kembali ke rumah sakit untuk diganti tamponnya o Bila terjadi perdarahan di rumah, maka pasien disuruh tidur dengan kepala agak ditinggikan

B. PEMBAHASAN DARI SKENARIO

1. Diagnose Abses vestibulum et causa pricoronitis et causa impaksi

2. Pemariksaan radiografi umtuk kasus impaksi Dental foto (intra oral)


9

Oblique Occlusal foto/bite wing

3. Perawaatan pada kasus Pasien pada fase akut diberi antibiotic sesuai dengan bakteri. a. Metronidazole (antibakteri gram negatif) b. Penicillin (antbakteri gram positif) Selama 3 hari agar berubah menjadi fase subakut Bila sudah dalam masa subakut lakukan insisi dan drainase pada abses(gold standard) Lakukan ekstraksi dan dapat dilakukan operkulektomi pada gigi impaksi. Ekstraksi dapat dilakukan setelah insisi Atau saat insisi dan drainase bila prosedur insisi dengan General Anastesi

4. Hubungan impaksi dengan terjadinya trismus - Impaksiinfeksiinflamasimelepaskan mediator kimiawi (ex : prostaglandin dan histamin)meningkatkan reflex otot tonus tendon otot mengecil trismus Rangsang sensorik pada reseptor di rongga mulut kemudian mengirimkan rangsang afferen ke system saraf pusat yang kemudian diolah menjadi rangsang motorik yang disalurkan melaui nucleus motoris nervus trigeminus(merupakan otot penutup mulut yang paling besar) ke serabut motorisnya menuju ke otot mastikasi dengan demikian timbul respon muscular yang berupa spasme otot(trismus) toxin bakteri mengalir ke pembuluh darahaliran berkurang nekrosis sel kekurangan nutrisi dan kekurangan pelumas dan terjadi pembengkakan trismus

4. Penyebab radiolusen jaringan dekat impaksi gigi Abses di pericoronalberisi cairan cairan itu resistensinya lebih kecil dari sinar X sehingga sinarnya dapat menembus radiolusen
10

Karena adanya Destrusi tulang yang reaktif oleh enzim kolagenolitik akibat reaksi inflamasi sehingga terjadi kehancuran tulang dan jaringan sekitar

5. Mekanisme pembesaran limfonodi akibat impaksi Tidak semua impaksi disertai pembesaran kelemjar limfe, tergantung ketahanan tubuh(apabila pertahanan tubuh sudah tidak mampu melawan maka muncul pertahanan dari limfe), virulensi bakteri,jenis dan posisi gigi dan adanya potensial space Inflamasi permeabilitas vaskuler meningkatCairan ekstravaskuler masuk ke kelenjar limfe sebelum masuk ke jaringan kemudian terjadi proliferasi limfosit dan hipertrofi sel fagosit akibat respon radang sehingga terjadi pembengkakan pada bagian limfe.

6. Sumber infeksi odontogenik dan pembengkakannya Penyebaran Infeksi odontogenik 70% menyebar ke periapikal kemudian ke periodontal Penyebaran ke vestibulum(panjang akar diatas perlekatan dengan otot bucinator),bucal (panjang akar dibawah perlekatan dengan otot bucinator) atau lingual. Kalo infeksi besar bisa mendesak ke submandibula

7. Hubungan impaksi dan pembengkakan ektraoral Tidak semua erupsi gigi menyebabkan pembengkakan pipi, tergantung apakah ada inflamasi atau infeksi yang menyebar melelui space , pembuluh darah atau percontinuatum pembengkakan Abses lebih cenderung ke subcutan

8. Penyebab pelebaran ligamen periodontal akibat impaksi

11

Karena pada inflamasi terdapat mediator inflamasi yang salah satunya bersifat fibrinolitik ; sedangkan ligament periodontal sebagian besar terbentuk dari fibroblast sehingga mengakibatkan rupture dari ligament periodontal Jumlah dari fibrinolitik ligament itu sedikit tapi karena inflamasi lama akanmenyebabkan terjadinya destruksi ligamen periodontal yang akhrnya menyebabkan pelebar ligament

9. Tahap pemberian antibiotic Pemberian Antibiotik empirik Kultur bakteri untuk tahu jenis bakteri untuk memberikan Antibiotik yang sesuai sesuai

10. Patofisiologi demam saat terjadi infeksi Toxin dari bakteri dan monosit serta makrofag menstimulasi keluarnya endogenus preogen (IL-1, TNF, IL 6 dll) pada hipotalamus yang kemudian merangsang terbentuknya PGE2 yang kemudian meningkatkan thermostat set point dari hipotalamus yang menyebabkan keadaan suhu tubuh hipotermik, kemudian tubuh merespon untuk menaikkan suhu dengan vasokonstriksi untuk memnyamakan suhu tubuh dengan suhu thermostat yang mengakibatkan tubuh menggigil. Peningkatan suhu tubuh ini juga dapat mengakibatkan berkurangnya bakteri dalam tubuh. Apabila suhu tubuh dengan suhu set poin pada hipotalamus sama makan lama kelamaan getaran mulai menghilang . Set poin 37,1 Apabila suhu tubuh 38,5 tidak perlu pemberian antipiretik, karena itu merupakan kenaikan suhu sebagai reflak tubuh.

Notes : 1. Trismus Spasme otot pengunyahan shg tidak dapat membuka mulut
12

Hanya bisa buka mulut < 2 mm 2. Low grade fever Demam ringan , > 37,5 dan < 38 3. Pericoronal Jaringan gusi disekitar mahkota gigi yang sedang erupsi, nama lain operkulum 4. Fluktuasi Pembengkakan yang bila di sentuh konsistensinya kenyal atau terdapat cairan 5. Parsial impaksi Erupsi gigi hanya sebagian mahkota yanga terlihat 6. Insisi Membuka jaringan untuk melakukan drainase dengan menggunakan scalpel

KONSEP MAPPING
IMPAKSI GIGI M3 Penatalaksanaan: DEMA M INFEKSI ODONTOGENIK pericoroni tis INFLAMASI Pemberian antibiotic untuk merubah keadaan akut menjadi subakut Insisi dan darainase pada abses Ekstraksi gigi impaksi

TRISMUS

13

PEMBESARAN LIMFONODUS

PEMBENGKAKA N VESTIBULUM

FLUKTUAS

ABSES VESTIBULUM

DAFTAR PUSTAKA

Topazian et al,oral and maxillofacial infections,ed 4,2002 Fragiscos et al, oral surgery,2007 Pedersen et al, buku ajar bedah mulut,1996,EGC,Jakarta

14