Anda di halaman 1dari 4

Seri I No.

6/Pusdu-BKKBN/Desember 2011

Policy Brief
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan - BKKBN

KAJIAN PROFIL PENDUDUK REMAJA (10-24 THN) :


Ada apa dengan Remaja?
Ringkasan Eksekutif

umlah penduduk Indonesia tahun 2010 sebanyak 237,6 juta jiwa, 26,67 persen diantaranya adalah remaja. Besarnya penduduk remaja akan berpengaruh pada pembangunan dari aspek sosial, ekonomi maupun demogra baik saat ini maupun di masa yang akan datang. Penduduk remaja (10-24 tahun) perlu mendapat perhatian serius karena remaja termasuk dalam usia sekolah dan usia kerja, mereka sangat berisiko terhadap masalah-masalah kesehatan reproduksi yaitu perilaku seksual pranikah, Napzah dan HIV/AIDS. Mengingat pentingnya penduduk usia remaja maka perlu dikaji dari berbagai aspek, seperti kelompok umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status sekolah, status kawin, daerah tempat tinggal, akses terhadap lapangan pekerjaan, dan pengetahuan kesehatan reproduksi. Kajian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang karakteristik demogra, sosialekonomi, pengetahuan sikap dan perilaku kesehatan reproduksi penduduk remaja (usia 10-24 tahun). Sumber data yang digunakan adalah Sensus Penduduk (SP) tahun 2010, Survei Demogra dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, dan Survei Demogra dan Kesehatan Indonesia Remaja (SDKI-R) tahun 2007. Hasil kajian menunjukkan bahwa masih terdapat 2,5 persen penduduk usia 7-15 tahun yang tidak/belum pernah sekolah, sedangkan yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi 6,01 persen. Jika dilihat dari pendidikan tertinggi yang ditamatkan, 6,33 persen penduduk remaja (7-12 tahun) tidak atau belum pernah sekolah dan 31,57 persen tidak atau belum tamat SD. Dari 23.902.077 jiwa penduduk kelompok umur 19-24 tahun hanya 0,66 persen tamat Diploma IV/Perguruan Tinggi. Sebagian penduduk remaja baik laki-laki maupun perempuan pada semua kelompok umur mampu membaca dan menulis huruf latin yaitu masing masing 49,35 dan 48,19 persen. Persentase buta huruf penduduk remaja laki-laki dua kali (0,8 persen) lebih besar dibandingkan penduduk remaja perempuan (0,44 persen). Temuan lain dari kajian tersebut adalah 55 dari 100 remaja kelompok umur 10-14 tahun ternyata ada yang sudah kawin, 1 dari 100 remaja umur 10 14 tahun pernah melahirkan hidup antara 1-2 anak, serta 10 dari 1000 remaja umur 10 14 berstatus cerai hidup. Perkawinan di usia muda ini akan memberikan sumbangan terhadap tingginya kelahiran. Berdasarkan data Sensus Penduduk 2010, Jumlah angkatan kerja sebanyak 172.070.339 jiwa, 66,06 persen diantaranya adalah remaja usia 15-24 tahun, jumlah tersebut menunjukkan bahwa penduduk remaja cukup besar yang termasuk dalam angkatan kerja yang perlu ditingkatkan kualitasnya agar dapat bener-benar sebagai aset pembangunan yang potensial. Diantara penduduk remaja 15-24 tahun tersebut, hanya 7 persen yang bekerja dan mencari pekerjaan, selebihnya (93 persen) bukan angkatan kerja (seperti masih sekolah, telah menikah). Menurut SDKI-R tahun 2007, pengetahuan remaja umur 15-24 tahun tentang kesehatan reproduksi masih rendah, 21 persen remaja perempuan tidak mengetahui sama sekali perubahan yang terjadi pada remaja laki-laki saat pubertas. Pengetahuan remaja tentang masa subur relatif masih rendah. Hanya 29 persen wanita dan 32 persen pria memberi jawaban yang benar bahwa seorang perempuan mempunyai kesempatan besar menjadi hamil pada pertengahan siklus periode haid. Sebesar 14 persen baik remaja perempuan maupun remaja laki-laki yang mengetahui dengan benar mengenai anemia karena hemoglobin rendah. Pengertian anemia lainnya yang paling sering disebut adalah kurang darah (remaja perempuan 77 persen dan remaja pria 63 persen). Remaja yang belum menikah umur 15-24 tahun yang mendengarkan pesan dari radio tentang penundaan usia kawin sebesar 12,9 persen, informasi tentang HIV/AIDS sebesar 40,8 persen, informasi tentang kondom sebesar 29,6 persen, pencegahan kehamilan sebesar 23,4 persen, dan Infeksi menular Seksual (IMS) sebesar 18,4 persen.

Policy Brief
Puslitbang Kependudukan - BKKBN

Pendapat remaja tentang umur kawin ideal untuk perempuan 23,1 tahun dan untuk pria 25,9 tahun, sedangkan rata-rata umur ideal menikah bagi perempuan 22 tahun dan pria 25 tahun. Pendapat diantara remaja yang tidak tamat SMTA tentang umur ideal mempunyai anak pertama kali adalah antara 20-24 tahun dan mempunyai 2 anak, yaitu masing-masing 63 persen remaja perempuan dan 55 persen remaja laki-laki. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah adalah meneruskan kebijakan wajib belajar 12 tahun dalam rangka meningkatkan kualitas SDM; kebijakan untuk meningkat kualitas penduduk remaja yg putus sekolah melalui peningkatan ketrampilan dalam memanfaatkan kesempatan kerja; pelaksanaan kebijakan peningkatan pengetahuan Kesehatan Reproduksi bagi remaja melalui jalur formal (sekolah, institusi pendidikan), non formal (melalui kelompok-kelompok yang ada dimasyarakat misalkan Karang Taruna) dan informal (melalui keluarga misalkan: BKR)

Latar Belakang
Hasil Sensus Penduduk tahun 2010 menunjukan bahwa jumlah penduduk Indonesia sebesar 237,6 juta jiwa, 63,4 juta diantaranya adalah remaja yang terdiri dari Laki-laki sebanyak 32.164.436 jiwa (50,70 persen) dan perempuan sebanyak 31.279.012 jiwa (49,30 persen). Besarnya jumlah penduduk kelompok remaja ini akan sangat mempengaruhi pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang. Penduduk kelompok umur 10-24 tahun perlu mendapat perhatian serius mengingat mereka masih termasuk dalam usia sekolah dan usia kerja, mereka akan memasuki angkatan kerja dan memasuki umur reproduksi. Apabila tidak dipersiapkan dengan baik remaja sangat berisiko terhadap perilaku seksual pranikah. sehingga akan mengakibatkan LPP yang sangat tinggi untuk beberapa tahun ke depan. Remaja yang dalam bahasa Inggris adolesence, berasal dari bahasa latin adolescere yang berarti tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa. WHO, 1975 mendenisikan masa remaja sebagai masa terjadinya perubahan sik, mental, dan sosial-ekonomi. Melihat jumlah penduduk remaja yang cukup besar, maka remaja sebagai generasi penerus bangsa perlu dipersiapkan menjadi manusia yang sehat secara jasmani, rohani dan mental spiritual. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa usia remaja merupakan fase umur penduduk yang sangat menentukan kualitas penduduk pada masa depan. Keberhasilan penduduk pada kelompok umur dewasa sangat tergantung pada masa remajanya. Apabila umur remaja memperoleh pendidikan formal dan non formal yang cukup maka kualitas penduduk yang bersangkutan pada fase umur dewasa akan cenderung lebih baik; dan selanjutnya akan menghasil kan generasi yang berkualitas. Mengingat pentingnya penduduk usia remaja maka perlu dilakukan kajian penduduk usia remaja dari berbagai aspek, seperti kelompok umur, jenis kelamin, tingkat dan status pendidikan, status kawin, daerah tempat tinggal serta remaja yang telah akses dengan lapangan pekerjaan. Adapun tujuan dari kajian ini adalah diketahuinya gambaran penduduk remaja usia 1024 tahun tentang karakteristik demogra, sosial-ekonomi dan pengetahuan sikap perilaku kesehatan reproduksi penduduk remaja (usia 10-24 tahun). Sumber data yang digunakan Kajian Prol ini adalah Sensus Penduduk tahun 2010, SDKI-R 2007, Survei RPJMN tahun 2010 dan Sakernas.

pada kelompok umur 20-24 tahun (8.987.822 jiwa). Hal tersebut dimungkinkan karena remaja pada kelompok umur tersebut melakukan migrasi ke wilayah perkotaan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi ataupun mencari pekerjaan. Sebagian besar remaja-remaja 10-24 tahun baik laki-laki maupun perempuan mampu membaca dan menulis huruf latin (Laki-laki= 31.311.414 jiwa atau 49,35 persen; Perempuan = 30.570.490 jiwa atau 48,19 persen). Persentase remaja laki-laki yang buta huruf sedikit lebih besar (0,82 persen atau 517.172 jiwa) daripada remaja perempuan (0,44 persen atau 278.133 jiwa). Hal ini menunjukkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan sudah semakin merata. Beberapa hal yang mempengaruhi fertilitas diantaranya adalah pemakaian KB, rata-rata umur penduduk saat menikah pertama kali serta lamanya seseorang dalam status perkawinan akan mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat fertilitas. Pendewasaan usia perkawinan (PUP) memberikan dampak pada peningkatan umur kawin pertama yang pada gilirannya akan menurunkan Total Fertility Rate (TFR). Usia kawin dini menjadi perhatian penentu kebijakan serta perencana program karena berisiko tinggi terhadap kegagalan perkawinan, kehamilan usia muda yang berisiko kematian maternal, serta risiko tidak siap mental untuk membina perkawinan dan menjadi orangtua yang bertanggung jawab. Perkawinan diatur dalam Undang-Undang Perkawinan no.1 Tahun 1974: Perkawinan adalah ikatan bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk laki-laki minimal sudah berusia 19 tahun, dan untuk perempuan harus sudah berusia minimal 16 tahun. Perkawinan usia dini akan berdampak pada rendahnya kualitas keluarga, baik ditinjau dari sisi ketidak siapan secara psikis dalam menghadapi persoalan sosial atau ekonomi rumah tangga, maupun kesiapan sik bagi calon Ibu remaja dalam mengandung dan melahirkan bayinya. Data SP 2010 memberikan gambaran secara umum bahwa 55 dari 100 remaja kelompok umur 10-14 tahun ternyata ada yang sudah kawin, 1 dari 100 remaja umur 10 14 tahun pernah melahirkan hidup antara 1-2 anak, serta 10 dari 1000 remaja umur 10 14 berstatus cerai hidup. Perkawinan di usia muda ini akan memberikan sumbangan terhadap tingginya kelahiran. Temuan lain dari kajian tersebut dilihat dari wilayah Perkotaan dan Perdesaan bahwa penduduk kelompok umur 10-14 tahun ada yang sudah kawin (18 dari 100 remaja); cerai hidup (2 dari 1000 remaja) dan cerai mati (1 dari 1000 remaja). Meskipun persen-tasenya relatif kecil namun perlu mendapat perhatian karena masih terjadi perkawinan di usia kurang dari 14 tahun, bahkan terjadi didaerah perkotaan yang umumnya akses dan informasinya lebih banyak dan mudah diperoleh. Hal ini

Karakteristik Remaja
Jika dilihat menurut kelompok umur, tempat tinggal dan jenis kelamin terlihat bahwa remaja laki-laki dan perempuan pada setiap kelompok umur di wilayah perkotaan memliki proporsi yang hampir sama (masing-masing 16.159.001 jiwa dan 16.042.563 jiwa). Sedangkan pada wilayah pedesaan proporsinya berbeda antar kelompok umur remaja dimana proporsi terendah adalah

Policy Brief
Puslitbang Kependudukan - BKKBN

ditunjukkan dengan kejadian kawin muda pada kelompok remaja umur 15-19 tahun lebih besar pada mereka yang tinggal di perdesaan (3.53 persen) dibandingkan di perkotaan (2.81 persen). Berdasarkan Undang-undang Nomor: 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, disebutkan bahwa setiap anak berhak mendapat kan perlindungan termasuk orang tua mencegah terjadinya perkawinan pada anak-anak. Untuk itu, orang tua serta anak perlu mendapatkan sosialisasi agar tidak terjadi perkawinan muda pada anak remaja. Dari aspek pendidikan, kebijakan wajib belajar sembilan tahun yang dilaksanakan pemerintah belum sepe-nuhnya dimanfaatkan oleh penduduk, lebih dari satu persen atau sekitar 2,4 juta penduduk usia remaja (7-15 tahun) tidak bersekolah lagi baik karena putus sekolah maupun karena tidak melanjutkan dari SD/MI ke SMP/MTS dan dari SMP/MTs ke jenjang pendidikan menengah disebabkan berbagai alasan, diantaranya karena tidak dapat membayar uang sekolah, masing-masing 51 persen remaja perempuan dan 54 persen remaja laki-laki (SDKI-R, 2007). Kondisi tersebut memerlukan perhatian pemerintah agar pelaksanaan program wajib belajar sembilan tahun dapat berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pemerintah mulai merintis program Wajib Belajar 12 tahun pada 2012 dengan memberikan Bantuan Operasional Siswa SMA (BOS SMA), dengan harapan tidak ada lagi remaja usia sekolah tidak bersekolah/putus sekolah.

15.509.254 jiwa (20 persen), Jawa Timur 12.132.654 jiwa (15,65 persen); dan Jawa Tengah 9.927.925 jiwa ( 12,80 persen). Sedangkan Hal ini perlu mendapat perhatian bagi pemerintah baik pusat maupun daerah agar mereka (penduduk) yang termasuk angkatan kerja ini dapat dipetakan bagaimana kondisinya, apakah mereka sudah bekerja, mencari pekerjaan dan bukan termasuk angkatan kerja. Provinsi yang mempunyai persentase penduduk usia 15-24 tahun yang bekerja lebih besar dibandingkan dengan provinsi lainnya adalah Nusa Tenggara Timur (13,21persen), Kalimantan Selatan (6,85 persen) dan Sulawesi Tenggara (5,09 persen). Selain itu persentase yang sedang mencari pekerjaan, tertinggi ada di provinsi DKI Jakarta (5,15 persen), Kepulauan Riau (5,03 persen) dan Sulawesi Utara (5,01 persen). Sementara provinsi dengan persentase penduduk remaja usia 15-24 tahun yang bukan angkatan kerja terbesar adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (96,97 persen), diikuti tiga provinsi yaitu Maluku Utara (96,6 persen), Papua (95,97 persen) dan Sumatera Barat (95,96 persen). Persentase remaja kelompok umur 20-24 tahun yang mengaku bekerja sebesar 53,17 persen, dan kelompok umur 1519 tahun adalah sebesar 11,21 persen. Sedangkan remaja yang mengaku bukan angkatan kerja sebagian besar (33 persen) berada pada remaja kelompok umur 15-19 tahun, hal ini kemungkinan banyak remaja yang masih melanjutkan pendidikan atau bekerja bukan status utamanya. Data lain menunjukan bahwa 10,52 persen remaja kelompok umur 2024 tahun dan 4,56 persen kelompok umur 15-19 tahun yang menjawab bersedia bekerja apabila ada yang menyediakan lapangan pekerjaannya. Diantara remaja yang melakukan kegiatan seminggu yang lalu, banyak remaja yang bekerja sebagai buruh/ pegawai (48,85 persen) serta remaja yang bekerja dengan berusaha sendiri (12,25 persen). Umumnya remaja yang pada kelompok 2024 tahun lebih besar (69,84 persen) dalam melakukan aktitas dalam bekerja dibandingkan remaja pada kelompok 15-19 tahun (30,16 persen). Remaja umur 15-19 tahun yang bekerja bersama keluarga dan tidak dibayar sebanyak 9,43 persen, sedang kan remaja kelompok umur 20-24 tahun sebesar 18,16 persen. Perbedaan yang mencolok terlihat pada remaja yang berusaha sendiri, yaitu remaja kelompok usia 20-24 tahun (2,78 persen) lebih besar dibandingkan remaja kelompok umur 15-19 tahun (13,56 persen). Hal ini terjadi karena kelompok remaja yang lebih tua kemungkinan telah memiliki penge-tahuan dan kemampuan untuk melakukan aktitas dalam mendapatkan uang. Sementara itu penduduk remaja umur 15-19 tahun (3,5 persen) dan kelompok 20-24 tahun (10,96 persen) yang bekerja lepas/ sebagai pekerja bebas, berarti mereka melakukan aktitas dalam memperoleh uang namun tidak memiliki kelangsungan dalam aktitas tersebut.

Ketenagakerjaan
Penduduk yang termasuk angkatan kerja adalah penduduk remaja usia 15-24 tahun, bukan penduduk remaja usia 10-24 tahun, hal ini karena penduduk remaja kelompok umur 10-14 tahun termasuk penduduk remaja yang masih harus sekolah. Berdasarkan data Sensus Penduduk 2010, Jumlah angkatan kerja sebanyak 172.070.339 jiwa, 66,06 persen diantaranya adalah remaja usia 15-24 tahun, jumlah tersebut menunjukkan bahwa penduduk remaja cukup besar yang termasuk dalam angkatan kerja yang perlu ditingkatkan kualitasnya agar dapat bener-benar sebagai aset pembangun-an yang potensial dalam menggerak-kan perekonomian. Secara umum jumlah angkatan kerja usia 15-24 tahun lebih banyak diperkotaan (42.138.175 jiwa) dibanding kan diperdesaan (35.402.013 jiwa). Hal ini disebabkan remaja di perkotaan ingin mendapatkan kemudahan dalam akses baik untuk mendapatkan pekerjaan dan mencari pekerjaan maupun mereka yang karena alasan lain ingin tinggal diperkotaan. Kecenderungan inipun ditunjukkan bahwa penduduk usia 15-24 tahun yang bekerja diperkotaan jauh lebih besar dibandingkan dengan diperdesaan, yaitu 445.438 jiwa dibanding 2.116.978 jiwa. Sebaliknya mereka yang mencari pekerjaan diperkotaan 1.877.807 jiwa lebih sedikit dibandingkan mereka yang tinggal dipedesaan 1.012.109 jiwa. Hal ini kemungkinan terjadi karena mereka yang tinggal dipedesaan kesulitan mendapatkan pekerjaan atau remaja tersebut memilih-milih lapangan pekerjaan yang sesuai/diinginkannya atau keterbatasan dalam menyediaan lapangan pekerjaan. Berdasarkan persebaran jumlah penduduk remaja umur 1524 tahun menurut provinsi dan kegiatan, terdapat beberapa provinsi memiliki jumlah penduduk usia 15-24 tahun lebih besar dibandingkan provinsi lainnya. Provinsi-provinsi dengan penduduk remaja 15-24 tahun tersebut adalah Jawa Barat

Kesehatan Reproduksi
Usia remaja adalah masa dimana seseorang berada pada sebuah kondisi masa peralihan antara anak-anak dan dewasa. Perubahan yang terjadi pada usia remaja adalah perubahan secara sik maupun perubahan non sik. Hasil SDKI-R tahun 2007 menunjukkan bahwa remaja perempuan yang tidak tahu tentang perubahan sik yang terjadi pada anak perempuan

Policy Brief
Puslitbang Kependudukan - BKKBN

sebanyak 13,3 persen lebih tinggi dibandingkan hasil SDKI-R tahun 2002/2003 sebesar 10,7 persen. Hampir separuh (47,9 persen) remaja perempuan tidak mengetahui kapan seorang perempuan memiliki hari atau masa suburnya. Sebaliknya dari hasil survei yang sama, persentase pengetahuan responden laki-laki yang mengetahui masa subur seorang perempuan lebih tinggi (32,3 persen) dibandingkan dengan responden perempuan (29 persen). Secara nasional remaja yang mengetahui masa subur dengan benar sebesar 21,6 persen (RPJMN 2010). Hasil survei RPJMN tahun 2010 menunjukkan remaja yang terpapar informasi PIK-Remaja (Pusat Informasi dan Konseling Remaja) mencapai 28 persen. Berarti hanya 28 dari 100 remaja yang akses dengan kegiatan yang berkaitan dengan informasi kesehatan reproduksi. Departemen kesehatan tahun 2010 mencanangkan target pengurang an prevalensi Anemia dibawah 20 persen bagi remaja. Kekurangan zat besi khususnya pada anemia masih merupakan salah satu permasalahan gizi yang paling tinggi dan berat bagi Indonesia. Kekurangan zat besi memiliki risiko meningkatkan kematian diantara wanita penderita anemia jika terjadi pendarahan berlebihan. Persepsi anemia dikalangan remaja yang pernah mendengar tentang anemia adalah 70 persen remaja perempuan dan 60 persen remaja laki-laki (SDKI-R, 2007). Sedangkan 14 persen masing-masing laki-laki dan perempuan memberikan jawaban yang benar mengenai anemia karena hemoglobin rendah. Hasil survei yang sama, menurut responden remaja bahwa median umur kawin ideal untuk perempuan adalah 23,1 tahun dan untuk laki-laki adalah 25,9 tahun. Sedangkan rata-rata umur ideal menikah bagi perempuan dan bagi laki-laki masing-masing adalah 22 tahun dan 25 tahun. Informasi tentang umur ideal mempunyai anak pertama kali adalah antara umur 20-24 tahun. Remaja perempuan dengan umur muda cenderung mengatakan bahwa umur ideal mempunyai anak pertama kali pada umur 20-24 tahun, sedangkan remaja perempuan dengan umur lebih tua berpendapat sebaiknya pada umur 25 tahun atau lebih. Lebih lanjut waktu ditanyakan jumlah anak yang ideal, menurut responden perempuan menginginkan punya anak 2 orang anak (63 persen) begitu juga responden laki-laki (55 persen) dari mereka yang berpendidikan tidak tamat SMTA. Sedangkan rata-rata jumlah anak ideal menurut remaja perempuan dan laki-laki lebih dari dua anak, masing-masing 2,5 anak dan laki-laki 2,7 anak. Dari hasil SDKI-R tahun 2007 menunjukkan bahwa pengetahuan remaja tentang cara paling penting untuk menghindari infeksi HIV masih terbatas, hanya 14 persen wanita dan 95 pria menyebutkan pantang berhubungan seks, 18 persen wanita dan 25 persen pria menyebutkan menggunakan kondom, serta 11 persen wanita dan 8 persen pria menyebutkan membatasi jumlah pasangan seksual sebagai cara menghindari HIV/AIDS (SDKI-R 2002-2003).

(sekolah, institusi pendidikan), non formal (melalui kelompokkelompok yang ada di masyarakat, misalkan Karang Taruna) dan informal (melalui keluarga misalkan: BKR)

Daftar Pustaka :
1. Badan Pusat Statistik, Hasil Sensus Penduduk tahun 2010 2. Badan Pusat Statistik (BPS) dan ORC Macro. 2003. Survei Demogra dan Kesehatan Indonesia 2007. Calverton, Maryland, USA: BPS and ORC Macro. 3. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keluarga Berencana, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, Survei Indikator Kinerja Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Program Kependudukan dan KB Nasional Tahun 2010, Jakarta. 4. Badan Pusat Statistik (BPS), BKKBN, Departemen Kesehatan dan Macro Internasional; Survei Kesehatan Reproduksi Remaja tahun 2007, Jakarta. 5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan -------------- Diundangkan oleh Menteri/Sekretaris Negara Republik Indonesia, Sudharmono, Sh.Mayor Jenderal TNI, Jakarta, tanggal 2 Januari 1974 6. H. Muhammad Basir Palu, Dr, Sp.A, MH.A, Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Rerpoduksi, BKKBN, Pendewasaan Usia Perkawinan dan Hak-Hak Reproduksi Bagi Remaja Indonesia, Jakarta, Oktober 2008 7. Undang-undang Nomor: 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,--------------- Diundangkan oleh Sekretaris Negara Republik Indonesia, Bambang Kesowo, Jakarta, tanggal 22 Oktober 2002.

Rekomendasi dan Implikasi Kebijakan


Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah adalah meneruskan kebijakan wajib belajar 12 tahun dalam rangka meningkatkan kualitas SDM; kebijakan untuk meningkatkan kualitas penduduk remaja yg putus sekolah melalui peningkatan ketrampilan dalam memanfaatkan kesempatan kerja; perlu digalakkan dan ditingkatkan pelaksana-an kebijakan dan program peningkatan pengetahuan Kesehatan Reproduksi melalui jalur formal

Policy Brief ini ditulis oleh Dwi Wahyuni dan Rahmadewi Isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Informasi lebih lanjut hubungi: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Gd. Halim 2 Lantai Dasar, Jl. Permata No. 1 Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur Ph. (021) 8098018,8009029 ext. 661,662 | Email. naufal_azmi2000@yahoo.com

Policy Brief
Puslitbang Kependudukan - BKKBN