Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Limfoma adalah kanker yang berasal dari jaringan limfoid mencakup sistem limfatik dan imunitas tubuh. Tumor ini bersifat heterogen, ditandai dengan kelainan umum yaitu pembesaran kelenjar limfe diikuti splenomegali, hepatomegali, dan kelainan sumsum tulang. Tumor ini dapat juga dijumpai ekstra nodal yaitu di luar sistem limfatik dan imunitas antara lain pada traktus digestivus, paru, kulit, dan organ lain. Dalam garis besar, limfoma dibagi dalam 4 bagian, diantaranya limfoma Hodgkin (LH), limfoma non-hodgkin (LNH), histiositosis X, Mycosis Fungoides. Dalam praktek, yang dimaksud limfoma adalah LH dan LNH, sedangkan histiositosis X dan mycosis fungoides sangat jarang ditemukan. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud Limfoma maligna? 2. Bagaimana etiologi limfoma maligna ? 3. Bagaimana patofisiologi limfoma maligna ? 4. Bagaimana klasifikasi dari limfoma maligna ? 5. Bagaimana manifestasi klinis dari limfoma maligna ? 6. Bagaimana penatalaksanaan dari limfoma maligna ? 7. Bagaimana komplikasi dari limfoma maligna ? 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian dari limfoma maligna 2. 3. 4. 5. 6. Untuk mengatehui dari etiologi limfoma maligna Untuk mengetahui patofisiologi limfoma maligna Untuk mengetahui klasifikasi dari limfoma maligna Untuk mengetahui gejala klinis dari limfoma maligna Untuk mengetahui penatalaksanaan dari limfoma maligna 1

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

7. Untuk mengetahui komplikasi limfoma maligna

BAB II TINJAUAN TEORITIS


2.1 Pengertian Limfoma maligna adalah kelompok neoplasma maligna/ganas yang muncul dalam kelenjar limfe atau jaringan limfoid ekstranodal yang ditandai dengan proliferasi atau akumulasi sel-sel asli jaringan limfoid (limfosit, histiosit dengan pra-sel dan derivatnya). Limfoma atau limfoma maligna adalah sekelompok kanker di mana sel-sel limfatik menjadi abnormal dan mulai tumbuh secara tidak terkontrol. Karena jaringan limfe terdapat di sebagian besar tubuh manusia, maka pertumbuhan limfoma dapat dimulai dari organ apapun.

2. 2 Etiologi Limfoma maligna mencakup hereditas, pemajanan terhadap karsinogen lingkungan, imunosupresi dan pemjanan virus dan onkagenik. Limfoma adalam plasma padat yang mengandung sel-sel imforetikular. Tumor-tumor ini mencakup tumor sistem imun, karena prinsip komponen selularnya adalah limfosit. Organ limforetikuler mencakup limfonodus, sum-sum tulang, tymus, dan submukosa saluran gastroinstestinal dan pernafasan, secara patologis, lifadenopati adalah karakteristik dengan keterlibatan akhir hati dan visera.. Beberapa hal yang diduga berperan sebagai penyebab penyakit ini antara lain: agen infeksius Faktor lingkungan seperti pajanan bahan kimia (pestisida, herbisida, bahan kimia organik, dan lain-lain), kemoterapi, dan radiasi. Inflamasi kronis karena penyakit autoimun Faktor genetik 2.3 Patofisiologi SLE (Sistemik Lupus Eritematosus) 2 imunodefisiensi

Limfoma maligna ini berasal dari sel limfosit. Tumor ini biasanya bermula dari nodus limfe, tetapi dapat melibatkan jaringan limfoid dalam limpa, traktus gastrointestinal (misalnya dinding lembung), hati, atau sumsum tulang. Sel limfosit dalam kelenjar limfe juga berasal dari sel-sel indik multipotensial di dalam sumsum tulang. Sel induk multipotensial pada tahap awal bertransformasi menjadi sel progenitor limfosit yang kemudian berdiferensiasi melalui dua jalur. Sebagian mengalami pematangan dalam kelenjar thymus untuk menjadi limfosit T, dan sebagian lagi menuju kelenjar limfe atau tetap berada dalam sumsum tulang dan berdiferensiasi menjadi sel limfosit B. Apabila ada rangsangan oleh antigen yang sesuai maka limfosit T maupun B akan bertransformasi menjadi bentuk aktif dan berpoliferasi. Limfosit T aktif menjalankan fungsi respon imunitas seluler. Sedangkan limfosit B aktif menjadi imunoblas yang kemudian menjadi sel plasma yang membentuk imunoglobulin. Perubahan limfosit normal menjadi sel limfoma merupakan akibat terjadinya mutasi gen pada salah satu sel dari sekelompok sel limfosit tua yang tengah berada dalam proses transformasi menjadi imunoblas (terjadi akibat adanya rangsangan imunogen). Hal ini terjadi didalam kelenjar getah bening, dimana sel limfosit tua berada di luar centrum germinativum sedangkan imunoblast berada di bagian paling sentral centrum germinativum. Apabila membesar maka dapat menimbulkan tumor dan apabila tidak ditangani secara dini maka menyebabkan limfoma maligna. Ada empat kelompok gen yang menjadi sasaran kerusakan genetik pada sel-sel tubuh manusia, termasuk sel-sel limfoid, yang dapat menginduksi terjadinya keganasan. 2. 5 Klasifikasi Ada dua jenis penyakit yang termasuk limfoma malignum yaitu penyakit Hodgkin (PH) dan limfoma non Hodgkin (LNH). Keduanya memiliki gejala yang mirip. Perbedaannya dibedakan berdasarkan pemeriksaan patologi anatomi dimana pada PH ditemukan sel Reed Sternberg, dan sifat LNH lebih agresif. a) LIMFOMA NON HODGKIN Dapat bersifat indolen (low grade), hingga progresif(high grade). Pada LNH indolen, gejalanya dapat berupa: pembesaran KGB, tidak nyeri, dapat terlokalisir atau meluas, dan bisa melibatkan sum-sum tulang. Pada LNH progresif, terdapat pembesaran KGB baik intra maupun extranodal, menimbulkan gejala "konstitusional" berupa : penurunan berat badan, febris, dan keringat malam, serta pada limfoma burkitt, dapat menyebabkan rasa penuh di perut.

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

Stadium limfoma maligna, penyebaran Limfoma dapat dikelompokkan dalam 4 stadium. Stadium I dan II sering dikelompokkan bersama sebagai stadium awal penyakit, sementara stadium III dan IV dikelompokkan bersama sebagai stadium lanjut. 1. Stadium I : Penyebaran Limfoma hanya terdapat pada satu kelompok yaitu kelenjar getah bening. 2. Stadium II : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening, tetapi hanya pada satu sisi diafragma, serta pada seluruh dada atau perut. 3. Stadium III : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening, serta pada dada dan perut. 4. Stadium IV : Penyebaran Limfoma selain pada kelenjar getah bening setidaknya pada satu organ lain juga seperti sumsum tulang, hati, paru-paru, atau otak. . b) LIMFOMA HODGKIN Terbagi atas 4 jenis, yaitu: 1. Nodular Sclerosing limfosit 2. mixed cellularity 3. rich limphocyte 4. limphocyte depletio Perjalanan Jenis Gambaran Mikroskopik Sel Reed-Stenberg sangat sedikit Limfosit Predominan Sejumlah kecil sel Reed-Stenberg Sklerosis Noduler & campuran sel darah putih lainnya; fibrosa daerah jaringan ikat 67%dari kasus Sedang tapi ada banyak limfosit 3% dari kasus Lambat Kejadian Penyakit

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

Sel Reed-Stenberg dalam jumlah Selularitas Campuran yang sedang & campuran sel darah putih lainnya Banyak sel Reed-Stenberg & Deplesi Limfosit sedikit limfosit jaringan ikat fibrosa yang berlebihan 5% dari kasus Cepat 25%dari kasus Agak cepat

LH lebih bersifat lokal, berekspansi dekat, cenderung intra nodal, hanya di mediastinum, dan jarang metastasis ke sumsum tulang. ia juga dapat terjadi metastasis melalui darah. Jika dibandingkan dengan NHL, NHL lebih bersifat tidak lokal, expansi jauh, cenderung extranodal, berada di abdomen, dan sering metastasis ke sum-sum tulang. Secara staging, dan pengobatan, sama saja dengan NHL.

2.6 Manifestasi Klinis 1. Pembengkakan kelenjar getah bening Pada limfoma Hodgkin, 80% terdapat pada kelenjar getah bening leher, kelenjar ini tidak lahir multiple, bebas atas konglomerasi satu sama lain. Pada limfoma non-Hodgkin, dapat tumbuh pada kelompok kelenjar getah bening lain misalnya pada traktus digestivus atau pada organ-organ parenkim. 2. Demam tipe pel Ebstein 3. Gatal-gatal 4. 5. 7. 8. Keringat malam Berat badan menurun lebih dari 10% tanpa diketahui penyebabnya. Daya kerja menurun Terkadang disertai sesak nafas

6. Nafsu makan menurun.

9. Nyeri 10. Pola perluasan limfoma Hodgkin sistematis secara sentripetal dan relatif lebih lambat, sedangkan pola perluasan pada limfoma non-Hodgkin tidak sistematis dan relatif lebih cepat bermetastasis ke tempat yang jauh. SLE (Sistemik Lupus Eritematosus) 5

2.7 Panatalaksanaan Penatalaksanaan limfoma maligna dapat dilakukan melalui berbagai cara, yaitu: Pembedahan Tata laksana dengan pembedahan atau operasi memiliki peranan yang terbatas dalam pengobatan limfoma. Untuk beberapa jenis limfoma, seperti limfoma gaster yang terbatas pada bagian perut saja atau jika ada resiko perforasi, obstruksi, dan perdarahan masif, pembedahan masih menjadi pilihan utama. Namun, sejauh ini pembedahan hanya dilakukan untuk mendukung proses penegakan diagnosis melalui surgical biopsy.7

Radioterapi Radioterapi memiliki peranan yang sangat penting dalam pengobatan limfoma, terutama limfoma hodgkin di mana penyebaran penyakit ini lebih sulit untuk diprediksi. Beberapa jenis radioterapi yang tersedia telah banyak digunakan untuk mengobati limfoma hodgkin seperti radioimunoterapi dan radioisotope. Radioimunoterapi menggunakan antibodi monoclonal seperti CD20 dan CD22 untuk melawan antigen spesifik dari limfoma secara langsung, sedangkan radioisotope menggunakan 131Iodine atau 90Yttrium untuk irradiasi sel-sel tumor secara selektif. Teknik radiasi yang digunakan didasarkan pada stadium limfoma itu sendiri, yaitu: Untuk stadium I dan II secara mantel radikal Untuk stadium III A/B secara total nodal radioterapi Untuk stadium III B secara subtotal body irradiation Untuk stadium IV secara total body irradiation

KemoterapiMerupakan teknik pengobatan keganasan yang telah lama digunakan dan banyak obat-obatan kemoterapi telah menunjukkan efeknya terhadap limfoma.

Imunoterapi Bahan yang digunakan dalam terapi ini adalah Interferon-, di mana interferon- berperan untuk menstimulasi sistem imun yang menurun akibat pemberian kemoterapi.7

Transplantasi sumsum tulang

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

Transplasntasi sumsum tulang merupakan terapi pilihan apabila limfoma tidak membaik dengan pengobatan konvensional atau jika pasien mengalami pajanan ulang (relaps). Ada dua cara dalam melakukan transplantasi sumsum tulang, yaitu secara alogenik dan secara autologus. Transplantasi secara alogenik membutuhkan donor sumsum yang sesuai dengan sumsum penderita. Donor tersebut bisa berasal dari saudara kembar, saudara kandung, atau siapapun asalkan sumsum tulangnya sesuai dengan sumsum tulang penderita. Sedangkan transplantasi secara autologus, donor sumsum tulang berasal dari sumsum tulang penderita yang masih bagus diambil kemudian dibersihkan dan dibekukan untuk selanjutnya ditanamkan kembali dalam tubuh penderita agar dapat menggantikan sumsum tulang yang telah rusak. 2.8 Komplikasi Ada dua jenis komplikasi yang dapat terjadi pada penderita limfoma maligna, yaitu komplikasi karena pertumbuhan kanker itu sendiri dan komplikasi karena penggunaan kemoterapi. Komplikasi karena pertumbuhan kanker itu sendiri dapat berupa pansitopenia, perdarahan, infeksi, kelainan pada jantung, kelainan pada paru-paru, sindrom vena cava superior, kompresi pada spinal cord, kelainan neurologis, obstruksi hingga perdarahan pada traktus gastrointestinal, nyeri, dan leukositosis jika penyakit sudah memasuki tahap leukemia. Sedangkan komplikasi akibat penggunaan kemoterapi dapat berupa pansitopenia, mual dan muntah, infeksi, kelelahan, neuropati, dehidrasi setelah diare atau muntah, toksisitas jantung akibat penggunaan doksorubisin, kanker sekunder, dan sindrom lisis tumor.

BAB III
SLE (Sistemik Lupus Eritematosus) 7

KONSEP DASAR ASKEP LIMFOMA MALIGMA A. FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN (Pengorganisasian Berdasarkan Pola Fungsi Kesehatan dari GORDON)

Tgl. Pengkajian : Ruang / Kamar :

Waktu Pengkajian : Tgl. Masuk RS :

A. IDENTIFIKASI I. KLIEN Nama Initial : . . Laki-laki Perempuan

Tempat / tgl lahir (umur) : Jenis Kelamin Status Perkawinan Jumlah Anak Agama / Suku Warga Negara Bahasa yang digunakan : : : : : :

. . . Indonesia Indonesia Daerah Asing Asing

Pendidikan

.
8

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

Pekerjaan Alamat Rumah

: :

. .

II. PENANGGUNG JAWAB Nama Alamat : : . .

Hubungan dengan klien :

B. DATA MEDIK I. Dikirim oleh II. Diagnosa Medik Saat masuk : : : UGD Dokter Praktek

Saat pengkajian

C. KEADAAN UMUM I. KEADAAN SAKIT : Klien tampak sakit ringan / sedang / berat / tidak tampak sakit

Alasan

Penggunaan alat medik : .................... Lain lain Keluhan Utama : ..................... : ......................................................................................
9

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

....................................................................................... Riwayat Keluhan Utama : .......................................................................................

II. TANDA TANDA VITAL a. Kesadaran Kualitatif :

: Somnolens Soporocomatous Coma

Compos mentis Apatis

Kuantitatif : Skala Coma Glasgow : - Respon Motorik - Respon Bicara : ... Jumlah : ...

- Respon Membuka Mata : ... Kesimpulan : .. Flapping Tremor / asterixis : .. Positif mm Hg Oral Axiliar Rectal Negatif

b. Tekanan darah c. Suhu d. Nadi e. Pernapasan :

: C : ..............x/ menit

Frekuensi .. x / menit Irama : Jenis : Teratur Dada Kusmaull Perut Cheynes-Stokes

III. PENGUKURAN Tinggi Badan

: : Cm Berat Badan : Kg

I.M.T. ( Indeks Massa Tubuh ) Kesimpulan

: .. kg / m2

: ..
10

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

Catatan GENOGRAM :

: ..

KET

D. PENGKAJIAN POLA KESEHATAN I. KAJIAN PERSEPSI KESEHATAN-PEMELIHARAAN KESEHATAN Riwayat Penyakit Yang Pernah Dialami : Sakit berat, dirawat, kecelakaan, operasi, gangguan kehamilan/persalinan, abortus, transfuse, reaksi alergi.

Kapan
Penyakit autoimun

Catatan . .

Kapan

Catatan . .

Data Subyektif Keadaan sebelum sakit :


11

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

Keadaan sejak sakit :

Data Obyektif Observasi Kebersihan rambut Kulit kepala Kebersihan kulit : : ........................................................................ : ...........................................................................

Higiene rongga mulut : ............................................................................ Kebersihan genetilia Kebersihan anus Tanda / Scar Vaksinasi : : : BCG Cacar

II. KAJIAN NUTRISI METABOLIK a. Data Subyektif Keadaan sebelum sakit : Keadaan sejak sakit :

2. Data Obyektif Observasi Pemeriksaan Fisik Keadaan rambut: .................................................................................... Hidrasi kulit Palpebrae ........................
SLE (Sistemik Lupus Eritematosus) 12

Sclera .. Hidung : ................................................................................................. Rongga mulut : ...................................................................................... Gigi geligi ..................... Kemampuan Mengunya keras Lidah ................ Kelenjar getah bening leher Kelenjar parotis .......................... ... Abdomen Inspeksi : Bentuk Bayangan vena ... Auskultasi : Palpasi Peristaltik x / menit

: Tanda nyeri umum Massa Hidrasi kulit .. Nyeri tekan : R. Epigastrica R. Suprapubica Titik Mc. Burney R. llliaca

Perkusi Ascites

: ................................................. Negatif Positif

Kelenjar limfe inguinal ... Kulit : Spider naevi Uremik frost Negatif Negatif Positif Positif
13

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

Edema Icteric

Negatif Negatif

Positif Positif

Tanda-tanda : melintang pangkal hidung serta pipi)

Lesi : ruam kulit atau lesi yang khas (ruam berbentuk kupu-kupu yang

Pemeriksaan Diagnostik Laboratorium Terapi : :

III. KAJIAN POLA ELIMINASI a. Data Subyektif Keadaan sebelum sakit : . Keadaan sejak sakit :

................................................................................................................. b. Data Obyektif Observasi Pemeriksaan Fisik Peristaltik usus : x / menit Palpasi Suprapubika : kandung kemih Nyeri ketuk ginjal : Mulut Urethra Kiri negatif positif
14

Penuh

Kosong

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

Kanan Anus :

negatif Peradangan Fisura Hemoroid : : :

positif Negatif Negatif Negatif Negatif Positif Positif Positif Positif

Prolapsus recti: Pemeriksaan Diagnostik Laboratorium : Terapi :

IV.KAJIAN POLA AKTIVITAS DAN LATIHAN a. Data Subyektif Keadaan sebelum sakit : . Keadaan sejak sakit :

................................................................................................................ b. Data Obyektif Observasi : ............................................................................................... ...............................................................................................


0 : mandiri 1 : bantuan dengan

Aktifitas Harian : o Makan o Mandi o Berpakaian o Kerapian


SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

alat 2 : bantuan orang

15

o Buang air besar o Buang air kecil o Mobilisasi di tempat tidur o Abulasi : mandiri / tongkat / kursi roda / tempat tidur o Postur tubuh :. o Gaya jalan : o Anggota gerak yang cacat : ... Pemeriksaan Fisik Perfusi pembuluh perifer kuku : . Thorox dan pernapasan o Inspeksi : Bentuk thorax Stridor : : Negatif Negatif Negatif

Positif Positif Positif

Dyspnea dEffort : Sianosis o Palpasi o Perkusi :

: Vocal Fremitus : Sonor Redup Pekak

Batas paru hepar : . Kesimpulan o Auskultasi : Suara Napas Jantung o Inspeksi : Ictus Cordis : Negatif Positif o Palpasi : Ictus Cordis Thrill : o Perkusi : Positif : ......... : penurunan suara napas

Klien menggunakan alat pacu jantung

Negatif

: Batas atas jantung : ..


16

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

Batas kanan jantung : .. Batas kiri jantung : ..

o Auskultrasi : Bunyi jantung II A : .. Bunyi jantung II P : .. Bunyi jantung I T : ..

Bunyi jantung I M : .. Bunyi jantung III Irama Gallop : Negatif Murmur : Negatif Positif : Tempat : ....... Grade : ... HR : x / menit Lengan dan Tungkai o Atrofi otot : Negatif Positif, tempat . Positif

Rentang gerak : Mati sendi : ..

Kaku sendi : Pembengkakan sendi; kekakuan di pagi hari


5

o Uji Kekuatan otot : Kiri

1 2 3 4

Kanan : 1 2 3 4 5 o Reflex Fisiologik : o Reflex Patologik : Babinski, Kiri Kanan


SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

Negatif Negatif

Positif Positif
17

o Clubing jari-jari : o Varices tungkai : Columna Vertebralis

Negatif Negatif

Postitif Positif

o Inspeksi : Kelainan bentuk : .................................................................... o Palpasi : Nyeri tekan N. III - IV VI : Negatif Positif

: ................................................................................................ Negatif Postif

N. VIII Romberg Test :

N. XI Kaku kuduk Pemeriksaan Diagnostik Laboratorium : Terapi :

: : ..

V. KAJIAN POLA TIDUR DAN ISTIRAHAT a. Data Subyektif Keadaan sebelum sakit : ........................................................................................................................... Keadaan sejak sakit : ............................................................................................................................. b. Data Objektif
SLE (Sistemik Lupus Eritematosus) 18

Observasi : Expresi wajah mengantuk Banyak menguap Palpebrae Inferior berwarna gelap : : : Negatif Negatif Negatif Positif Positif Positif

Terapi : ............................................................................................................................... ........... VI. KAJIAN POLA PERSEPSI KOGNITIF a. Data Subjektif Keadaan sebelum sakit : .......................................................................................................................... Keadaan sejak sakit : b. Data Obyektif Observasi Pemeriksaan Fisik Penglihatan o Cornea o Visus o Pupil o Lensa Mata o Tekanan Intra Ocular Pendengaran o Pina o Canalis : : ................................................................ : ................................................................
19

: : : : :

o Membran Tympani

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

o Tes Pendengaran NI N II

: ................................................................

: ................................................................ : ................................................................ : ................................................................ : ................................................................ : ................................................................ : ................................................................

N V sensorik N VII sensorik N VIII pendengaran Tes romberg Pemeriksaan Diagnostik Laboratorium Terapi :

VII. KAJIAN POLA PERSEPSI DAN KONSEP DIRI a. Data Subyektif Keadaan sebelum sakit : ........................................................................................................................... Keadaan sejak sakit : ............................................................................................................................ b. Data Obyektif Observasi Kontak mata Rentang Penglihatan : :

Suara dan Cara Bicara : Postur Tubuh Pemeriksaan Fisik Kelainan bawaan yang nyata :
20

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

Abdomen : Bentuk Bayangan vena Benjolan massa Kulit : Lesi

: : : :

VIII. KAJIAN POLA PERAN DAN HUBUNGAN DENGAN SEKSAMA (KOPING) a. Data Subyektif Keadaan sebelum sakit : Keadaan sejak sakit : b. Data Obyektif Observasi

IX. KAJIAN POLA REPRODUKSI SEKSUALITAS a. Data Subyektif Keadaan sebelum sakit : Keadaan sejak sakit :

b. Data Obyektif Observasi Pemeriksaan Diagnostik Laboratorium Terapi :

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

21

X. KAJIAN MEKANISME KOPING DAN TOLERANSI TERHADAP STRES a. Data Subyektif Keadaan sebelum sakit :

Keadaan sejak sakit : b. Data Obyektif Observasi Pemeriksaan Fisik Tekanan Darah : Berbaring Duduk Berdiri : mmHg : mmHg : mmHg Negatif Positif

Kesimpulan : Hipotensi Ortostatik : HR : .......................... x / menit

Kulit : Keringat dingin : ......................................................................... Basah Terapi : : .........................................................................

XI. KAJIAN POLA SISTEM NILAI KEPERCAYAAN a. Data Subyektif Keadaan sebelum sakit : Keadaan sejak sakit :

b. Data Obyektif Observasi

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

22

Tanda Tangan Mahasiswa yang Mengkaji

( NIM: Diagnosa Keperawatan

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

23

NO DIAGNOSA 1.
Hipertermi b/d PERSPIRATION ditandai dengan peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal

TUJUAN & KRITERIA HASIL Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan suhu tubuh klien turun / dalam keadaan normal dengan kriteria hasil : suhu tubuh dalam batas normal (35,9-37,5 derajat celcius)

INTERVENSI Mandiri Observasi suhu tubuh klien

RASIONAL Mandiri dengan memantau suhu tubuh klien dapat mengetahui keadaan klien dan juga dapat mengambil tindakan dengan tepat.

Berikan kompres hangat pada dahi, aksila, perut dan lipatan paha.

kompres dapat menurunkan suhu tubuh klien.

Penyuluhan Kesehatan Anjurkan dan berikan minum yang banyak kepada klien (sesuai dengan kebutuhan cairan tubuh klien). Dengan banyak minum diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh klien Kolaboratif Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antipiretik 2.
Ketidakseimabang nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan untuk mencerna dengan penurunan asupan makanan

Obat antipiretik dapat menurunkan suhu tubuh

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selam 3 x 24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi dengan Kriteria hasil :

Mandiri Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai. Observasi dan catat masukan makanan klien. Timbang berat badan Mengidentifikasi defisiensi nutrisi dan juga untuk intervensi selanjutnya mengawasi 24 kalori. masukan Mengawasi penurunan berat

makana ditandai SLE (Sistemik Lupusberat Eritematosus) badan/berat badan berat badan degan

Menunjukkan peningkatan stabil Nafsu makan klien meningkat Klien menunjukkan perilaku

BAB IV PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Limfoma maligna adalah kelompok neoplasma maligna/ganas yang muncul dalam kelenjar limfe atau jaringan limfoid ekstranodal yang ditandai dengan proliferasi atau akumulasi sel-sel asli jaringan limfoid (limfosit, histiosit dengan pra-sel dan derivatnya). Ada dua jenis penyakit yang termasuk limfoma malignum yaitu penyakit Hodgkin (PH) dan limfoma non Hodgkin (LNH). Keduanya memiliki gejala yang mirip. Perbedaannya dibedakan berdasarkan pemeriksaan patologi anatomi dimana pada PH ditemukan sel Reed Sternberg, dan sifat LNH lebih agresif.

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

25

DAFTAR PUSTAKA
http://artikel-kesehatan-online.blogspot.com/2008/04/gejala-kanker-kelenjar-getahbening.html

SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)

26