Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH DISASTER MANAJEMEN GEMPA BUMI Dosen Pembimbing : Ayu Nanda Lestari, S.Kep., Ners Ahmad Khusairi., S.Kep.

p., Ners., M.Kep

Disusun Oleh : 1. Choiriyah Fitriani 2. Dwi Indah Puji L. 3. Faroid Amirul G. 4. Halimatus S. 5. Handoko M. Prayitno 6. Hubaidillah 7. Humaidi 8. Indah Permatasari 9. Luluwati 10. M. Ridwan PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN STIKES HAFSHAWATI ZAINUL HASAN GENGGONG PROBOLINGGO 2013

Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah adalah salah satu sarana untuk mengembangkan kreativitas siswa juga pengetahuan yang dimiliki siswa. Makalah ini merupakan suatu sumbangan pikiran dari penulis untuk dapat digunakan oleh pembaca. Makalah ini disusun berdasarkan data-data dan sumber-sumber yang telah diperoleh penulis. Penulis menyusun makalah ini dengan bahasa yang mudah ditangkap oleh pembaca sehingga makalah ini dapat dengan mudah dimengerti oleh pembaca. Pada akhirnya, penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dalam memahami persoalan gempa bumi beserta kejadian-kejadiannya.

Genggong, 16 september 2013

Penulis

[2]

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bumi yang kita tempati memiliki banyak rahasia alam yang tidak kita ketahui. Kita tidak pernah mengetahui kejadian-kejadian yang akan terjadi di muka bumi ini. Banyak kejadian-kejadian alam yang mendatangkan pertanyaan bagi manusia. Salah satu kejadian alam yang sudah tidak asing di telinga masyarakat yaitu gempa bumi. Gempa bumi merupakan suatu peristiwa yang sangat sering terjadi di muka bumi ini. Salah satunya di Indonesia. Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki tingkat rawan bencana alam yang sangat tinggi. Indonesia sendiri memiliki titik-titik gempa yang tersebar diseluruh wilayah di Indonesia. Mungkin kita merasa biasa saja dengan bencana alam tersebut di Indonesia, tapi bencana tersebut sudah sangat sering terjadi berulang-ulang di negara kita. Gempa bumi sudah menghancurkan sebagian dari wilayah Indonesia. Dan sudah banyak sekali korban-korban yang berjatuhan akibat bencana tersebut. Berarti gempa bumi sudah menjadi suatu ancaman bagi masyarakat di muka bumi ini. Dan banyak dari masyarakat tidak mengerti akan apa sebenarnya yang terjadi di muka bumi ini. Maka sangatlah perlu bagi mereka untuk tahu dan mengerti serta memahami peristiwa-peristiwa gempa bumi yang terjadi. 1.2 Rumusan Masalah 1) Apa pengertian dari gempa bumi? 2) Apa penyebab terjadinya gempa bumi? 3) Bagaimana proses terjadinya gempa bumi? 4) Bagaimana klasifikasi gempa bumi yang terjadi di muka bumi? 5) Bagaimana aktivitas gempa bumi di Indonesia? 6) Apa saja alat pencatat gempa bumi ? 7) Apa saja dampak dari gempa bumi yang terjadi? 8) Apa persiapan saja yang dipersipkan untuk menghadapi gempa bumi ? 9) Apa istilah saja yang digunakan dalam gempa bumi ? 10) Bagaimana disaster management yang dilakukan dalam gempa bumi ?

[3]

1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui konsep teori, masalah keperawatan dan pendekatan asuhan keperawatan pasien dengan terjadinya gempa bumi. 1.3.1 Tujuan Khusus 1) Mengetahui pengertian dari gempa bumi. 2) Mengetahui penyebab dari terjadinya gempa bumi. 3) Mengerti tentang proses terjadinya gempa bumi. 4) Mengetahui jenis-jenis gempa dan pengertiannya berdasarkan klasifikasinya. 5) Mengetahui aktivitas gempa bumi di Indonesia. 6) Mengetahui alat yang digunakan dalam gempa bumi 7) Mengetahui dampak dari gempa bumi yang terjadi. 8) Mengetahui persiapan dalam menghadapi gempa bumi 9) Mengetahui istilah istilah dalam gempa bumi 10) Mengetahui disaster management dalam gempa bumi 1.4 Manfaat 1.4.1 Bagi Institusi Pendidikan Mahasiswa di Jurusan Keperawatan mendapat informasi tentang gempa bumi secara umum. 1.4.2 Bagi Pelayanan Kesehatan Masukan untuk pengembangan pemberian layanan kesehatan yang optimal kepada klien yang mengalami bencana gempa bumi.

[4]

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Gempa Bumi Gempa Bumi atau seisme banyak diartikan sebagai getaran atau guncangan yang timbul di permukaan bumi yang terjadi karena adanya per-gerakan lempeng bumi. Gempa bumi juga diartikan sebagai suatu pergeseran lapisan secara tiba-tiba yang berasa dalam bumi. Karena gempa bumi dikatakan bersumber dari dalam bumi atau lapisan bawah bumi berarti gempa bumi adalah getaran pada kulit bumi yang disebabkan oleh kekuatan dari dalam bumi. Getaran gempa biasa dinyatakan dalam skala richter. Ilmuwan yang mempelajari tentang gempa bumi disebut seismologist dan alat yang digunakan sisemologist untuk mengukur setiap getaran yang terjadi disebut siesmograf. 2.2 Penyebab Terjadinya Gempa Bumi Gempa bumi banyak disebabkan oleh gerakan-gerakan lempeng bumi. Bumi kita ini memiliki lempeng-lempeng yang suatu saat akan bergerak karena adanya tekanan atau energi dari dalam bumi. Lempeng-lempeng tersebut bisa bergerak menjauh (divergen), mendekat (konvergen) atau melewati (transform). Gerakan lempeng-lempeng tersebut bisa dalam waktu yang lambat maupun dalam waktu yang cepat. Energi yang tersimpan dan sulit keluar menyebabkan energi tersebut tersimpan sampai akhirnya energi itu tidak dapat tertahan lagi dan terlepas yang menyebabkan pergerakan lempeng secara cepat dalam waktu yang singkat yang menyebabkan terjadinya getaran pada kulit bumi. Gempa bumi bukan hanya disebabkan oleh pergerakan lempeng tetapi juga disebabkan oleh cairan magma yang ada pada lapisan bawah kulit bumi. Magma dalam bumi juga melakukan pergerakan. Pergerakan tersebut yang menimbulkan penumpukan massa cairan. Cairan tersebut akan terus bergerak hingga akhirnya menimbulkan energi yang kuat yang memaksa cairan tersebut untuk keluar dari dalam kulit bumi. Energi tersebut menimbulkan kulit bumi mengalami pergerakan divergen sebagai saluran untuk cairan tersebut keluar. Pergerakan tersebut yang mengakibatkan terjadinya gempa bumi.

[5]

Gempa bumi juga dapat disebabkan oleh manusia sendiri. Seperti yang disebabkan oleh peledakan bahan peledak yang dibuat oleh manusia. Selain itu juga pembangkit listrik tenaga nuklir atau senjata nuklir yang dibuat oleh manusia juga dapat menimbulkan guncangan pada permukaan bumi sehingga terjadi gempa. 2.3 Proses Terjadinya Gempa Dalam proses gempa bumi ada yang dikenal dengan hiposentrum dan episentrum. Hiposentrum adalah titik pusat gempa yang berada dibawah permukaan bumi sedangkan episentrum adalah titik pusat gempa yang berada di atas permukaan bumi. Pusat gempa atau hiposentrum berada pada pertamuan lempeng benua dan lempeng samudra yang saling bertumbukan dan menimbulkan gelombang getaran. Lempeng samudra Gelombang getaran tersebut merambat sampai pada episentrum dan terus merambat ke segala arah di permukaan bumi dengan cepat. 2.3.1 Macam-macam Gelombang Gempa 1). Gelombang Longitudinal (Gelombang Primer) Gelombang longitudinal adalah gelombang yang pertama kali tercatat pada seismograf. Gelombang ini dirambatkan dari hiposentrum melalui lapisan litosfer dan dirambatkan secara menyebar dan cenderung cepat. Jenis gelombang longitudinal ini sifatnya sama seperti gelombang suara yang bisa merambat melalui zat padat, cair dan padat. 2). Gelombang Transversal (Gelombang Sekunder) Gelombang transversal muncul setelah gelombang longitudinal dan tercatat pada seismograf setelah gelombang longitudinal. Gelombang ini dirambatkan dari hiposentrum ke segala arah dalam lapisan litosfer dan kecepatannya lebih rendah dibandingkan gelombang longitudinal dan bergerak tegak lurus dengan arah rambatannya. Gelombang transversal hanya dapat merambat melalui zat padat. Jika ia merambat melalui medium cair dan gas maka gelombang ini akan hilang dan tidak tercatat lagi pada seismograf. 3). Gelombang Panjang (Gelombang Permukaan) Gelombang panjang adalah gelombang yang merambat melalui episentrum dan menyebar ke segala arah di permukaan bumi. [6]

Gelombang ini melanjutkan perjalanannya di permukaan bumi dan merupakan gelombang pengiring setelah gelombang transversal. Gelombang transversal adalah gelombang yang bersifat merusak karena gelombang ini berjalan terus melalui wilayah sekitar pusat gempa bumi. 2.3.2 Faktor Yang Mempengaruhi Besar Kecilnya Gempa Bumi Gempa bumi yang terjadi pada suatu daerah bisa merupakan gempa yang berskala besar maupun gempa yang berskala kecil. Besar kecilnya gempa itu dikarenakan beberapa faktor yaitu: 1) Skala atau magnitude gempa. Yaitu kekuatan gempa yang terjadi yang bukan berdasarkan lokasi observasi pada suatu daerah . Magnitude gempa biasa dihitung tiap gempa terjadi dan dicatat oleh seismograf yang dinyatakan dalam satuan Skala Ricther. 2) Durasi dan kekuatan gempa. Yaitu lamanya guncangan gempa yang terjadi pada suatau daerah dan kekuatan gempa yang terjadi dengan melihat kerusakan pada daerah tempat terjadinya gempa bumi. 3) Jarak sumber gempa terhadap perkotaan. Jarak sumber gempa yang jauh dari perkotaan akan memungkinkan intensitas gempa semakin rendah. 4) Kedalaman sumber gempa. Yaitu kedalaman pusat terjadinya gempa diukur dari permukaan bumi. Semakin dalam pusat gempa maka semakin rendah kekuatan gempa yang terjadi. 5) Kualitas tanah dan bangunan. Kualitas tanah yang buruk akibat bangunan dapat mengakibatkan serangan gempa bumi yang kuat. 6) Lokasi perbukitan dan pantai. Pantai atau daerah perbukitan merupakan daerah rawan gempa karena perbukitan dan pantai merupakan daerah pertemuan lempeng. Sehingga dapat mempengaruhi besar kecil kekuatan gempa berdasarkan hiposentrumnya. 2.4 Klasifikasi Gempa Bumi 1) Berdasarkan Penyebabnya a) Gempa Tektonik: gempa yang terjadi karena perubahan kedudukan lapisan batuan yang mengakibatkan adanya pergerakan lempenglempeng pada lapisan kulit bumi. [7]

b) Gempa Vulkanik: gempa yang terjadi karena adanya aktivitas magma dalam lapisan bawah permukaan bumi. c) Gempa Runtuhan: gempa yang terjadi karena adanya runtuhan pada terowongan bawah tanah akibat aktivitas pertambangan. Runtuhan terowongan yang besar tersebut dapat mengakibatkan getaran yang kuat. 2) Berdasarkan Kedalaman Hiposentrum a) Gempa Dangkal: gempa yang memiliki kedalaman titik hiposentrumnya rendah. Titik hiposentrum ini dihitung dari permukaan laut sampai pada titik pusat gempa berada. b) Gempa Menengah: gempa yang memiliki kedalaman titik hiposentrumnya tidak terlalu dalam dan jauh dari permukaan bumi. Berada sekitar 100-300 km di bawah permukaan laut. c) Gempa Dalam: gempa yang memiliki kedalaman titik hiposentrumnya sangat jauh dari permukaan laut. Titik hiposentrum > 300 km di bawah permukaan air lut. 3) Berdasarkan Jarak Episentrum a) Gempa Setempat: gempa yang guncangannya dirasakan pada permukaan bumi namun hanya pada daerah tempat titik pusat gempa berada. Biasanya gempa semacam ini memiliki kekuatan yang sangat rendah sehingga hanya dirasakan oleh wilayah setempat saja. b) Gempa Jauh: gempa yang guncangannya dirasakan pada permukaan bumi dan getarannya dirasakan hingga daerah yang jauh dari titik pusat gempa berada. Gempa ini dapat terjadi apabila memiliki kekuatan yang cukup besar sehingga mengakibatkan guncangan yang kuat. c) Gempa Sangat Jauh: gempa yang guncangannya dirasakan pada permukaan bumi dan getarannya dapat dirasakan hingga daerah yang sangat jauh dari daerah asal gempa terjadi. Gempa ini memiliki kekuatan yang sangat besar sehingga menimbulkan guncangan yang dahsyat dan mencakup wilayah yang sangat luas. 4) Berdasarkan Bentuk Episentrum a) Gempa Sentral: gempa yang episentrumnya berupa suatu titik. Gempa yang dirasakan pada daerah setempat.

[8]

b) Gempa Linier: gempa yang episentrumnya berupa suatu garis. Gempa ini dirasakan oleh daerah-daerah yang berada disebelah daerah pusat gempa dan terus merambat hingga daerah berikutnya sehingga membentuk suatu garis. 5) Berdasarkan Letak Episentrum a) Gempa Laut: gempa yang episentrumnya berada di bawah dasar laut. Gempa ini terjadi karena hiposentrumnnya berada di bawah dasar laut sehingga guncangan dan getarannya berada di dasar laut. Biasanya gempa ini dapat mengakibatkan tsunami apa bila kekuatannya sangat besar. b) Gempa Darat: gempa yang episentrumnya berada di permukaan bumi atau daratan. Gempa ini terjadi apabila hiposentrumnya berada di bawah permukaan bumi dan berada pada lempeng benua. 2.5 Aktivitas Gempa Bumi Di Indonesia Bumi kita memiliki dua jalur pegunungan muda yaitu sirkum pasifik dan sirkum mediterania. Jalur pegunungan tersebut merupakan salah satu dari proses pembentukan batuan dan dampak dari gempa yang sering terjadi sehingga mengakibatkan tumbukan antar lempeng terus terjadi dan membentuk suatu pegunungan yang panjang. Sirkum pasifik dan sikum mediterania ini bertemu di wilayah Asia dan Indonesia merupakan salah satu negara yang berada diantara jalur tersebut. Di dunia ada 7 lempeng yang besar yaitu Pasifik, Amerika Utara, Amerika Selatan, Australia, Antartika, dan Eurasia, tempat Indonesia berada. Indonesia merupakan daerah pertemuan 3 lempeng yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Lempeng Eurasia merupakan lempeng yang keadaannya stabil, sedangkan lempeng Indo-Autralia adalah lempeng yang cenderung bergerak ke utara dan lempeng Pasifik yang cenderung bergerak ke barat. Itulah yang membuat Indonesia berada pada daerah rawan bencana gempa bumi. Wilayah-wilayah di Indonesia yang merupakan daerah rawan yaitu Sumatra terutama bagian pesisir barat, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua. a. Macam-macam aktivitas gempa bumi Berdasarkan sejarah kekuatan sumber gempa, aktivitas gempa bumi di Indonesia dibagi menjadi 6 daerah aktivitas: 1) Daerah sangat aktif. Magnitude lebih dari 8 SR mungkin terjadi di daerah ini. Yaitu di Halmahera, pantai utara Irian. [9]

2) Daerah aktif. Magnitude 8 SR mungkin terjadi dan magnitude 7 SR sering terjadi. Yaitu di lepas pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa, Nusa Tenggara, Banda. 3) Daerah lipatan dan retakan. Magnitude kurang dari 7 SR mungkin terjadi. Yaitu di pantai barat Sumatra, kepulauan Suna, Sulawesi tengah. 4) Daerah lipatan dengan atau tanpa retakan. Magnitude kurang dari 7 SR bisa terjadi. Yaitu di Sumatra, Jawa bagian utara, Kalimatan bagian timur. 5) Daerah gempa kecil. Magnitude kurang dari 5 SR jarang terjadi. Yaitu di daerah pantai timur Sumatra, Kalimantan tengah. 6) Daerah stabil, tak ada catatan sejarah gempa. Yaitu daerah pantai selatan Irian, Kalimantan bagian barat. Indonesia memiliki banyak sejarah gempa yang terjadi. Salah satu gempa yang terdahsyat yaitu di tahun 2004 pada bulan desember yang mengguncang Aceh dan sekitarnya dengan gempa yang berkekuatan 9,8 SR. Gempa ini mengakibatkan timbulnya tsunami karena hiposentrumnya yang berada pada dasar laut. b. Skala Gempa Dalam penentuan besarnya kekuatan gempa bumi, ada 2 skala yang digunakan: 1) Skala Mercalli Skala Mercalli diambil dari nama seorang pakar sains gunung berapi berbangsa Itali bernama Giuseppe Mercalli, untuk mengukur kekuatan gempa bumi, pada tahun 1902. Skala Mercalli terbagi dalam 12 skala dengan mengidentifikasi mereka yang selamat dan juga dengan melihat dan membandingkan tahap kerusakan yang ditimbulkan gempa bumi tersebut. Oleh itu skala Mercalli dianggap sangat subjektif dan kurang tepat dibandingkan dengan skala Richter. Oleh karena itu, pada masa sekarang skala Richter lebih meluas digunakan untuk untuk mengukur kekuatan gempa bumi. Tetapi skala Mercalli yang sudah disesuaikan, masih boleh digunakan jika tidak terdapat peralatan mesin seismograf untuk mengukur kekuatan gempa bumi di tempat kejadian.

[10]

Skala Intensitas Mercalli mengukur kekuatan gempa bumi melalui tahap kerusakan yang terjadi yang disebabkan oleh gempa bumi itu. Skala Intensitas Mercalli adalah seperti di bawah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tidak terasa Terasa oleh orang yang berada di bangunan tinggi Getaran dirasakan seperti ada kereta api yang melintas. Getaran dirasakan seperti ada benda berat yang menabrak dinding rumah, benda yang tergantung bergoyang. Dapat dirasakan di luar rumah, hiasan dinding bergerak, benda kecil di atas rak dapat jatuh. Terasa oleh hampir semua orang, dinding rumah rusak. Dinding pagar jatuh/rusak, orang tidak dapat berjalan/ berdiri. Bangunan mengalami kerosakan ringan. Bangunan mengalami kerosakan berat. runtuh. 11. Rel kereta api hancur. 12. Seluruh bangunan hancur/luluh lantak. 2) Skala Richter Skala Richter diambil dari nama Charles F. Richter. Charles F. Richter merupakan seorang pakar seismologi yang terkenal. Charles F. Richter dilahirkan di Ohio, Amerika Serikat pada 26 April 1900. Charles F. Richter mempelajari bidang seismologi di "University of Southern California" dan Universitas Stanford. Pada tahun 1927, Charles F. Richter mulai bekerja di laboratorium seismologi di Pasadena California dan setahun kemudian Charles F. Richter telah berhasil mendapat ijazah doktor dalam bidang theori fisika di Universitas CalTech pada tahun 1928. Pada tahun 1935, Charles F. Richter telah mengembangkan satu sistem untuk mengukur kekuatan gempa bumi yang dikenali sebagai skala Richter dan pada mulanya hanyalah digunakan di California. Skala Richter yang dikembangkannya merupakan turunan matematika untuk membesarkan suatu kekuatan gempa [11]

10. Jembatan, dan sarana umum lainnya rusak, terjadi tanah

bumi dan diterima pakai secara meluas setelah disesuaikan. Kekuatan gempa bumi ditetapkan dengan penggunaan logaritma turunan (amplitude) gelombang yang direkam oleh mesin seismograf. Tahap angka skala Richter meliputi variasi jarak antara seismograf yang berbagai dengan pusat gempa (episentrum). Menurut skala Richter, kekuatan gempa bumi digambarkan dengan angka desimal. Sebagai contoh, gempa dengan kekuatan 2.0 atau lebih kecil dianggap gempa mikro, biasanya tidak dapat dirasakan oleh manusia dan hanya direkam di mesin seismograf setempat. Gempa bumi dengan kekuatan 4.5 mampu direkam di mesin seismograf di seluruh dunia. Kekuatan 5.3 digolongkan sebagai gempa bumi menengah dan kekuatan 6.3 digolongkan sebagai gempa bumi yang besar. Oleh karena skala Richter menggunakan turunan logaritma, setiap angka mewakili kekuatan yang 10 kali lebih kuat berbanding angka sebelumnya. Gempa bumi besar seperti yang terjadi di Alaska tahun 1964, memiliki magnitude 8,0 atau lebih. Rata-rata satu gempa bumi yang berukuran seperti itu terjadi setiap tahun. 2.6 Alat Pencatat Gempa Bumi (Seismometer/ seismograf) Seismometer (bahasa Yunani: seismos: gempa bumi dan metero: mengukur) atau lebih dikenal dengan nama seismograf adalah alat atau sensor getaran, yang bisaanya dipergunakan untuk mendeteksi gempa bumi atau getaran pada permukaan tanah. Hasil rekaman dari alat ini disebut seismogram (rekaman gerakan tanah, atau grafik aktifitas gempa bumi sebagai fungsi waktu yang dihasilkan oleh seismometer). Prototip dari alat ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 132 SM oleh matematikawan dari Dinasti Han yang bernama Chang Heng. Dengan alat ini orang pada masa tersebut bisa menentukan dari arah mana gempa bumi terjadi. Dengan perkembangan teknologi dewasa ini maka kemampuan seismometer dapat ditingkatkan, sehingga bisa merekam getaran dalam jangkauan frekuensi yang cukup lebar. Alat seperti ini disebut seismometer broadband. Seismograf yaitu alat atau sensor getaran, yang biasanya dipergunakan untuk mendeteksi gempa bumi atau getaran pada permukaan tanah. Hasil [12]

rekaman dari alat ini disebut seismogram. Ada dua macam yaitu seismograf vertikal dan horizontal. Seismograf memiliki instrumen sensitif yang dapat mendeteksi gelombang seismik yang dihasilkan oleh gempa bumi. Gelombang seismik yang terjadi selama gempa tergambar sebagai garis bergelombang pada seismogram. Seismologist mengukur garis-garis ini dan menghitung besaran gempa. Dahulu, seismograf hanya dapat mendeteksi gerakan horizontal, tetapi saat ini seismograf sudah dapat merekam gerakan-gerakan vertikal dan lateral. Seismograf menggunakan dua gerakan mekanik dan elektromagnetik seismographer. Kedua jenis gerakan mekanikal tersebut dapat mendeteksi baik gerakan vertikal maupun gerakan horizontal tergantung dari pendular yang digunakan apakah vertikal atau horizontal. Seismograf modern menggunakan elektromagnetik seismographer untuk memindahkan volatilitas sistem kawat tarik ke suatu daerah magnetis. Peristiwa-peristiwa yang menimbulkan getaran kemudian dideteksi melalui spejlgalvanometer seismograf 2.7 Dampak Terjadinya Gempa Bumi a. Fisik Gempa bumi memiliki dampak negatif bagi manusia diantaranya kerusakan berat pada tempat tinggal warga yang bertempat tinggal ditempat kejadian. Terutama apabila gempa yang terjadi memiliki kekuatan yang besar. Banyak dari korban bencana kehilangan tempat tinggal dan tempat berlindung. Selain itu gempa yang menyebabkan banyaknya bangunan yang runtuh akan mengakibatkan banyak korban jiwa berjatuhan akibat tertindih bangunan. b. Non-Fisik Selain kerusakan fisik, gempa juga memiliki dampak negative bagi psikologis korban yang mengalami bencana. Beberapa dari korban juga akan mengalami trauma atas kejadian yang dialaminya. Ini juga dapat berdampak bagi perekonomian negara karena secara tidak langsung negara perlu mengeluarkan banyak biaya untuk mengatasi korban-korban bencana alam baik dari pangan maupun sandang. Tenaga medis dan fasilitasnyapun sangat diperlukan untuk mengatasi dampak dari bencana tersebut. Gempa juga dapat mengakibatkan timbulnya gelombang besar tsunami apabila gempa tersebut hiposentrumnya berada pada dasar laut dan memiliki kekuatan yang besar. Gelombang trunami tersebut dapat merusak [13]

semua benda yang dilaluinya dan membawa semua material-material kedalam laut. 2.8 Persiapan Menghadapi Gempa Bumi a). Persiapan untuk Keadaan Darurat 1. Menentukan tempat-tempat berlindung yang aman jika terjadi gempa bumi. Tempat berlindung yang aman adalah tempat yang dapat melindungi anda dari benda-benda yang jatuh atau mebel yang ambruk, misalnya di kolong meja 2. Menyediakan air minum untuk keperluan darurat. Bekas botol air mineral dapat digunakan untuk menyimpan air minum. Kebutuhan air minum bisaanya 2 sampai 3 liter sehari untuk satu orang 3. Menyiapkan tas ransel yang berisi (atau dapat diisi) barang-barang yang sangat dibutuhkan di tempat pengungsian. Barang-barang yang sangat diperlukan dalam keadaan darurat misalnya: a. b. c. Lampu senter berikut baterai cadangannya Air minum Kotak P3K berisi obat penghilang rasa sakit, plester, pembalut dan sebagainya d. Makanan yang tahan lama seperti biskuit e. Sejumlah uang tunai f. Buku tabungan g. Korek api h. Lilin i. j. Helm Pakaian dalam darurat 4. Mengencangkan mebel yang mudah rubuh (seperti lemari pakaian) dengan langit-langit atau dinding dengan menggunakan logam berbentuk siku atau sekrup agar tidak mudah rubuh di saat terjadi gempa bumi. 5. Mencegah kaca jendela atau kaca lemari pakaian agar tidak pecah berantakan di saat gempa bumi dengan memilih kaca yang kalau pecah tidak berserakan dan melukai orang (Safety Glass) atau dengan menempelkan kaca film [14]

k. Barang-barang berharga yang harus dibawa di saat keadaan

6. Mencari tahu lokasi tempat evakuasi dan rumah sakit yang terdekat. Jika pemerintah setempat tidak mempunyai tempat evakuasi, pastikan anda tidak pergi ke tempat yang lebih rendah atau tempat yang dekat dengan pinggir laut/sungai untuk menghindari Tsunami. b). Ketika Terjadi Gempa Bumi 1. Matikan api kompor jika anda sedang memasak. Matikan juga alat-alat elektronik yang dapat menyebabkan timbulnya api. Jika terjadi kebakaran di dapur, segera padamkan api dengan menggunakan alat pemadam api. Jika tidak mempunyai pemadam api gunakan pasir atau karung basah 2. Membuka pintu dan mencari jalan keluar dari rumah atau gedung 3. Cari informasi mengenai gempa bumi yang terjadi lewat televisi atau radio 4. Utamakan keselamatan terlebih dahulu, jika terjadi kerusakan pada tempat Anda berada, segeralah mengungsi ke tempat pengungsian terdekat 5. Tetap tenang dan tidak terburu-buru keluar dari rumah atau gedung. Tunggu sampai gempa mereda, dan sesudah agak tenang, ambil tas ransel berisi barang-barang keperluan darurat dan keluar dari rumah/ gedung menuju ke tanah kosong sambil melindungi kepala dengan helm atau barang-barang yang dapat digunakan untuk melindungi kepala 6. Jika anda harus berjalan di tengah jalan raya, berhati-hatilah terhadap papan reklame yang jatuh, tiang listrik yang tiba-tiba rubuh, kabel listrik, pecahan kaca, dan benda-benda yang berjatuhan dari atas gedung 7. Pastikan tidak ada anggota keluarga yang tertinggal pada saat pergi ke tempat evakuasi. Jika bisa ajaklah tetangga dekat Anda untuk pergi bersama-sama 8. Jika gempa bumi terjadi pada saat Anda sedang menyetir kendaraan, jangan sekali-kali mengerem dengan mendadak atau menggunakan rem darurat. Kurangilah kecepatan secara bertahap dan hentikan kendaraan Anda di bahu jalan. Jangan berhenti di dekat pompa bensin, di bawah kabel tegangan tinggi, atau di bawah jembatan penyeberangan.

[15]

2.9

Istilah-Istilah Dalam Gempa Foreshocks Adalah getaran atau gempa-gempa yang lebih kecil yang terjadi sebelum terjadinya gempa besar.

Main shock Gempa utama yaitu sebuah gempa yang sering dilaporkan ketika terjadinya. Aftershocks Gempa ini dikenal sebagai gempa susulan. gempa utama (Main shock) yang memiliki kekuatan diatas 6M bisaanya memiliki gempa susulan.

Earthquake Swarm Gerumbulan gempa adalah gempa-gempa yang terjadi pada satu lokasi tertentu. Sering berasosiasi dengan vulkanisme.

Primary and Secondary Quake Gempa primer adalah goyangan gempa yang datang duluan karena getaran ini memiliki kecepatan rambat paling besar. Sedangkan gempa sekunder adalah goyangan atau getaran yang datang setelahnya karena memiliki kecepatan rambat lebih rendah.

Gelombang seismik adalah rambatan energi yang disebabkan karena adanya gangguan di dalam kerak bumi, misalnya adanya patahan atau adanya ledakan. Energi ini akan merambat ke seluruh bagian bumi dan dapat terekam oleh seismograf.

2.10 Disaster Management Gempa Bumi 2.10.1 Mitigasi Mitigasi yaitu mengurangi kerugian yang akan ditimbulkan oleh bencana. Usaha mitigasi adalah meningkatkan ketahanan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana alam sehingga risiko bencana alam dapat dikurangi. Mitigasi dapat dilakukan dengan tiga tahapan yaitu : sebelum terjadi, ketika berlangsung dan setelah terjadi gempa bumi. 1. Sebelum terjadi gempa Beberapa hal yang dapat kita lakukan agar selalu siaga adalah a) Dirikanlah bangunan (kantor, rumah dsb) sesuai dengan kaidah-kaidah yang baku. Diskusikan lah dengan para ahli agar bangunan anda tahan gempa. Jangan membangun dengan asal-asalan apalagi tanpa perhitungan [16]

b) Kenalilah lokasi bangunan tempat anda tinggal atau bekerja, apakah tidak berada pada patahan gempa atau tempat lain seperti rawan longsor dan sebagainya. c) Tempatkan perabotan pada tempat yang proporsional. Jika anda punya lemari, ada baiknya dipakukan ke dinding, agar tidak roboh dan ikut menindih ketika terjadi gempa. Jika ada perabotan yang digantung, periksalah secara rutin keamananya. d) Siagakanlah peralatan seperti senter, kotak P3K, makanan instan dsb. Sediakan juga Radio, karena pada saat gempa alat komunikasi dan informasi lain seperti Telpon, HP, Televisi, Internet akan terganggu. Radio yang hanya menggunakan baterai akan sangat berguna disaat bencana. e) Selalu periksa penggunaaan Listrik dan gas, matikan jika tidak digunakan. f) Catatlah telepon-telepon penting seperti Pemadam kebakaran, Rumah sakit dll. g) Kenalilah jalur evakuasi. Beberapa daerah di Indonesia, khususnya daerah rawan Tsunami, saat ini telah membangun jalur evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. h) Ikutilah Kegiatan simulasi mitigasi bencana gempa yang sudah mulai dilakukan oleh beberapa daerah seperti Kota Padang, Sumatera Barat. Hal ini sudah biasa dilakukan oleh masyarakat Jepang. Sehingga mereka tidak canggung lagi ketika terjadi bencana. Dengan mengikuti kegiatan ini, kita akan terbiasa dengan bentuk2 peringatan dini yang disediakan pemerintah daerah, seperti sirine pertanda Tsunami, Sirine Banjir dsb.

ILUSTRASI MITIGASI SEBELUM TERJADI GEMPABUMI [17]

A. Kunci Utama adalah 1. Mengenali apa yang disebut gempabumi 2. Pastikan bahwa struktur dan letak rumah Anda dapat terhindar dari bahaya yang disebabkan oleh gempabumi (longsor, liquefaction dll) 3. Mengevaluasi dan merenovasi ulang struktur bangunan Anda agar terhindar dari bahaya gempabumi.

B. Kenali Lingkungan Tempa Anda Bekerja 1. Perhatikan letak pintu, lift serta tangga darurat, apabila terjadi gempabumi, sudah mengetahui tempat paling aman untuk berlindung. 2. Belajar melakukan P3K 3. Belajar menggunakan alat pemadam kebakaran 4. Catat nomor telepon penting yang dapat dihubungi pada saat terjadi gempabumi.

C. Persiapan Rutin pada tempat Anda bekerja dan tinggal 1. Perabotan (lemari, cabinet, dll) diatur menempel pada dinding (dipaku, diikat, dll) untuk menghindari jatuh, roboh, bergeser pada saat terjadi gempabumi. 2. Simpan bahan yang mudah terbakar pada tempat yang tidak mudah pecah agar terhindar dari kebakaran. 3. Selalu mematikan air, gas dan listrik apabila tidak sedang digunakan. D. Penyebab celaka yang paling banyak pada saat gempabumi adalah akibat kejatuhan material 1. Atur benda yang berat sedapat mungkin berada pada bagian bawah 2. Cek kestabilan benda yang tergantung yang dapat jatuh pada saat gempabumi terjadi (misalnya lampu dll)

[18]

E. Alat yang harus ada di setiap tempat 1. 2. 3. 4. Kotak P3K Senter/lampu battery Radio Makanan suplemen dan air

2. Ketika berlangsung gempa a) Yang pertama sekali adalah DONT BE PANIC, kuasai diri anda bahwa anda dapat lepas dari bencana tersebut. b) Menghindar dari bangunan, pohon, tiang listrik dsb yang berkemungkinan roboh menimpa kita. Jika anda berada dalam gedung, berusahalah untuk lari keluar. Jika tidak memungkinkan berlindunglah di bawah meja yang kuat, tempat tidur. Atau berlindunglah di pojok bangunan, karena lebih kuat tertopang. c) Perhatikan tempat anda berdiri, karena gempa yang besar akan memungkinkan terjadinya rengkahan tanah. d) Jika anda sedang berkendara, matikan kendaraan anda dan turunlah. Jika anda sedang berada di pantai, maka berlarilah menjauhi pantai tersebut. jika anda sedang berada di daerah pegunungan, maka perhatikan disekitar anda apakah ada kemungkinan longsor.

ILUSTRASI MITIGASI SAAT TERJADI GEMPABUMI A. Jika Anda berada di dalam bangunan 1. Lindungi badan dan kepala Anda dari reruntuhan 2. bangunan dengan bersembunyi di bawah meja dll 3. Cari tempat yang paling aman dari reruntuhan dan goncangan 4. Lari ke luar apabila masih dapat dilakukan

[19]

B. Jika berada di luar bangunan atau area terbuka 1. Menghindari dari bangunan yang ada di sekitar Anda seperti gedung, tiang listrik, pohon, dll 2. Perhatikan tempat Anda berpijak, hindari apabila terjadi rekahan tanah

C. Jika Anda sedang mengendarai mobil 1. Keluar, turun dan menjauh dari mobil hindari jika terjadi pergeseran atau kebakaran. 2. Lakukan point B.

D. Jika Anda tinggal atau berada di pantai 1. Jauhi pantai untuk menghindari bahaya tsunami.

E. Jika Anda tinggal di daerah pegunungan 1. Apabila terjadi gempabumi hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran.

3. Setelah terjadi gempa [20]

a) Jika anda masih berada dalam gedung, maka keluarlah dengan tertib, jangan gunakan Lift, gunakanlah tangga. b) Periksa sekeliling anda, apakah ada kerusakan, baik itu listrik padam, kebocoran gas, dinding retak dsbnya. Periksa juga apakah ada yang terluka. Jika ya, lakukanlah pertolongan pertama. c) Periksalah aliran/pipa gas yang ada apakah terjadi kebocoran. Jika tercium bau gas usahakan segera menutup sumbernya dan jangan sekali-kali menyalakan api dan merokok. d) Periksalah kerusakan yang mungkin terjadi pada bangunan kamu. e) Hindari bangunan yang kelihatannya hampir roboh atau berpotensi untuk roboh. Carilah informasi tentang gempa tersebut, gunakanlah radio tadi. f) Tetap menggunakan alas kaki untuk menghindari pecahan-pecahan kaca atau bahan-bahan yang merusak kaki. g) Dengarkan informasi melalui televisi, radio, telepon yang biasanya disiarkan oleh pemerintah, bila hal ini memungkinkan. h) Bersiaplah menghadapi kemungkinan terjadinya gempa-gempa susulan. Dan berdoa agar terhindar dari bencana yang lebih parah. 2.10.2 Preparedness (Kesiapsiagaan) Preparedness (Kesiapsiagaan) adalah upaya yang dilakukan pemerintah, masyarakat dan individu agar pada keadaan bencana respon dapat terjadi secara cepat, tepat, dan efektif. Preparedness program dibuat mulai dari tahapan perencanaan sebelum terjadinya bencana dan upaya yang dilakukan saat terjadi. Upaya utama yang perlu diutamakan adalah pembentukan tim. Pembentukan tim dalam membuat, menjalankan dan mengevaluasi program bertujuan untuk mengkaji lebih mendlam tenatng perencanaan untuk pencegahan sebelum gempa bumi terjadi. Tujuan Kesiapsiagaan antara lain : 1. Mengurangi korban akibat bencana 2. Meningkatkan kesiapan bencana 3. Meringankan penderitaan korban 4. Kerja sama dengan pihak terkait. A. Pra Gempa [21]

a. Pertama

dari

proses

kesiapsiagaan

adalah

edukasi

mengenai alam di sekitar kita, baik dari sisi keunggulannya maupun tantangannya. b. Kedua adalah membangun rumah dan infrastruktur lainnya yang sesuai dengan potensi ancaman. Belajar dari pengalaman Negara maju, selain terdapat standar minimum konstruksi bangunan tahan gempa, juga ada syarat-syarat lain saat membangun rumah dan bangunan, seperti: bunker perlindungan dan tempat persediaan makanan. Di Jepang, setiap kamar mandi sekaligus berfungsi sebagai bunker perlindungan gempa; desain dan konstruksinya dirancang khusus dan mudah dipasang saat membangun rumah. Selain itu, untuk gedung-gedung publik seperti sekolah dan hotel, harus tersedia meja tahan gempa yang dapat dipergunakan sebagai tempat berlindung. c. Ketiga atau terakhir, adalah edukasi tentang potensi ancaman, serta persiapan dan latihan menyelamatkan diri (survival) dalam keadaan darurat. B. Saat Gempa (Langkah Penyelamatan Diri) a. Di Dalam Rumah atau Gedung i. Lindungi kepala dan segera cari tempat berlindung. Bila Anda berlindung di pojok ruangan (dekat pondasi), cari benda untuk dipergunakan sebagai tameng untuk melindungi kepala Anda. ii. Anda dapat lari keluar bila sudah merencanakan bahwa hal tersebut paling aman. Namun, bila tidak cukup waktu, tetap di dalam ruangan dan cari tempat berlindung. iii. Jika dalam posisi tidur, segera lindungi kepala dengan bantal dan kemudian masuklah ke kolong tempat tidur. iv. Jika rumah Anda berada di tebing atau lembah suatu bukit, waspadalah terhadap bahaya longsor yang mungkin terjadi.

[22]

v. Jika rumah Anda berada di tepi pantai, Anda harus menyiapkan rute melarikan diri ke daerah yang lebih tinggi. Hal tersebut untuk menghindar dari bahaya tsunami. vi. Bila memungkinkan, matikan listrik atau kompor yang menyala, tapi bagaimanapun langkah menyelamatkan diri harus diutamakanAnda dapat melakukannya setelah gempa reda atau sebelum keluar ruangan. vii. Bila Anda berada di gedung bertingkat, tetaplah di ruangan dan cari tempat berlindung yang aman. Jauhi dinding luar, tangga dan lift. Setelah gempa berhenti, b. Di Luar Ruangan i. Jika Anda berada diluar, carilah tanah yang lapang, yang jauh dari gedung-gedung, pohon yang tinggi, dan kabel listrik, terowongan dan jembatan. ii. Jauhi retakan tanah akibat gempa, karena dapat membahayakan. iii. Jauhi tempat-tempat yang mungkin longsor atau terkena longsoran, seperti tebing yang curam. c. Di Perjalanan (Mengendarai Kendaraan) i. ii. Jika Anda sedang mengemudikan mobil atau motor, segeralah mencari tempat aman untuk berhenti. Jauhi gedung-gedung, pohon tinggi, jembatan, jembatan layang, terowongan, kabel listrik, papan reklame, iii. tiang-tiang listrik atau yang lainnya. Tetaplah di dalam mobil. Jika Anda terperangkap dalam mobil karena terkena reruntuhan atau sebab lain, jangan menyalakan mesin dan juga api. Upayakan untuk segera keluar, atau Anda dapat menyalakan klakson untuk meminta bantuan. sebaiknya Anda turun menggunakan tangga darurat (hindari lift dan eskalator).

[23]

C. Pasca Gempa (Pemulihan dan Waspada) Pasca gempa, segera periksa kondisi kesehatan Anda, keluarga dan orang-orang di sekitar Anda. Bila kondisi Anda selamat, beri bantuan kepada korban, serta waspada terhadap ancaman lain, seperti kebakaran, sengatan listrik dan juga adanya gempa susulan. Berikut panduannya: i. ii. Periksa keadaan Anda dan keluarga. Bila Anda terluka, pastikan mendapatkan pertolongan P3K. Bila kondisi bangunan mengkhawatirkan, segera keluarlah dari ruangan dan carilah tempat aman. Bawa serta tas siaga yang sudah Anda siapkan. Bila memungkinkan, matikan listrik atau kompor yang menyala sebelum Anda pergi ke tempat aman. iii. Perhatikan keamanan di sekitar Anda. Waspada terhadap hal-hal berikut: kebakaran atau kondisi yang rentan mengalami kebakaran, gas bocor, kerusakan pada sirkuit listrik, dan lain-lain. iv. Lindungi diri sendiri Anda dari bahaya-bahaya tidak langsung di atas. Dan tinggalkan area bila anda men-cium bau gas atau bau zat kimia lain. v. vi. Upayakan agar jalan umum lancar, sehingga memudahkan kendaraan darurat dan regu penolong. Pantau berita melalui radio yang dioperasikan dengan baterai untuk mengetahui keadaan darurat terakhir. Dan gunakan handphone untuk emergency call saja. (menghemat baterai). vii. Jangan kembali ke dalam rumah sebelum dinyatakan aman oleh petugas. Dan saat kembali ke rumah, berhati-hatilah saat membuka laci, dan juga awasi kepala jangan sampai dijatuhi barang dari rak. Bilamana Anda terjebak dalam reruntuhan, maka hal-hal beri-kut harus diperhatikan : i. Bila tidak dapat melepaskan diri, maka pukullah tembok atau pipa, atau tiuplah peluit jika ada.

[24]

ii.

Teriakan hanya dapat dilakukan sesekali sebab debu dapat terhirup dan membuat sesak nafas. Tidak perlu mengibas-ngibaskan debu, karena hal itu justru akan menggangu pernapasan Anda.

iii.

Jangan menyalakan api, untuk menghindari bahaya yang tidak diinginkan. Dan jangan memindahkan reruntuhan, kecuali Anda yakin bahwa hal tersebut aman dilakukan dan tidak akan menimbulkan reruntuhan lebih parah.

Manakala Anda selamat dari bencana, ada baiknya untuk memberikan bantuan dan pertolongan kepada orang lain secara gotong-royong dan terkoordinir. Waktu adalah nyawa. Semakin cepat kita dapat membentuk kelompok-kelompok penyelamat, adalah semakin baik; hal tersebut akan meringankan penderitaan semua orang. 2.10.3 Response Response adalah upaya atau kegiatan berupa intervensi ketika bencan terjadi. Penanganan intervention/ response mengahadapi gempa bumi : 1. Pemberitahuan dan pemberian informasi prakiraan terjadinya gempa bumi susulan. 2. Reaksi cepat dan bantuan penangan darurat gempa bumi 3. Perlawanan terhadap gempa bumi

4. Jika anda masih berada dalam gedung, maka keluar


dengan tertib, jangan gunakan Lift, gunakanlah tangga.

5. Periksa sekeliling anda, apakah ada kerusakan, baik itu


listrik padam, kebocoran gas, dinding retak dsbnya. Periksa juga apakah ada yang terluka. Jika ya, lakukanlah pertolongan pertama.

6. Hindari bangunan yang kelihatannya hampir roboh atau


berpotensi untuk roboh

7. Carilah informasi tentang gempa tersebut, gunakanlah


radio tadi.

[25]

2.10.4 Recovery Recovery adalah proses pemulihan kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan memfungsikan kembali prasarana dan sarana pada keadaan semula. Upaya yang dilakukan adalah memperbaiki prasarana dan pelayanan dasar (jalan, listrik, air bersih, pasar puskesmas, dll) Tahap recovery sendiri merupakan kelanjutan yang dilakukan pemerintah dari kegiatan tanggap bencana. Akibat dari adanya gempa bumi itu sendiri telah menimbulkan berbagai dampak dari semua sektor yang dialami oleh masyarakat dan pemerintah, untuk itu diperlukan adanya tahap pemulihan kembali yang harus dilakukan oleh pemerintah dengan dibantu oleh NGO, LSM, maupun lembagalembaga donor lainnya pasca bencana tersebut. Tahap pemulihan inilah yang disebut dengan tahap recovery pasca terjadinya bencana. Recovery sendiri meliputi dua hal, yakni tahap rehabilitasi dan rekonstruksi didalamnya. 1. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana, sedangkan 2. Rekonstruksi sendiri memiliki pengertian pembangunan kembali semua prasarana dan saeana, kelembagaan pada wilayah pasca bencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, serta bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana. Di dalam melakukan tahap recovery ini, pendataan juga merupakan salah satu factor penting dari keberhasilan tindakan tersebut. Dapat diketahui pendataan mengenai data-data kerugian maupun kerusakan bangunan pemerintah maupun masyarakat yang diakibatkan oleh gempa telah didapat oleh pemerintah. Akan tetapi data-data [26]

keadaan sebelum terjadinya bencana juga perlu harus diketahui, agar tidak terjadi kevalidan data nantinya. Data-data mengenai jumlah bangunan sebelum terjadinya bencana kemudian akan dibandingkan dengan data kerusakan yang telah diakibatkan setelah bencana. Kemidian setelah data terkumpul barulah kemudian data-data tersebut dicari kebenarannya, dengan menerjunkan tim survey dilapangan dengan metode pendataan yang sistematis. Dari data yang diperoleh kerusakan sarana dan prasarana publik serta rumah warga memang begitu besar. Tidak hanya disektor pemukiman warga saja, di sektor sarana dan prasarana publik atau infrastruktur (data transportasi, sektor energi, telekomunikasi, dan sektor air dan snitasi ), lintas sekor, sektor ekonomi, serta sektor sosial pun sama saja. Perlu kiranya diketahui syarat utama dalam proses recovery yang efektif meliputi : 1. Memahami pengertian makna proses recovery sendiri 2. Merupakan keberlanjutan dari proses mitigasi 3. Sebagai upaya recovery dan pertumbuhan nasional 4. Dasar informasi recovery yang baik 5. Strategi recovery yang baik 6. Kebijakan pemeimpin dalam program recovery 7. Ketepatan sumber informasi 8. Bantuan internasional 9. Keputusan dan prioritas 10. Aspek manajemen bencana 11. Monitoring, pengawasan, dan transparansi 12. ketepatan sumber informasi 13. Ketepatan program 14. Publik dan media informasi Contoh : Dari itu pada tahap recovery ini, Presiden Republik Indonesia membentuk sebuah Tim Koordinasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Pasca Bencana Gempa Bumi di Propinsi D.I.Y dan Jawa Tengah yang ditandai dengan disahkannya Keputusan Presiden No. 9 Tahun 2006 dimana tim ini berada dibawah Bapenas. Presiden dan [27]

Wakil Presiden Republik Indonesia mengarahkan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gempa tersebut dititikberatkan pada: a. b. c. Rehabilitasi pemukiman dan perumahan penduduk Rehabilitasi saranan dan prasarana public Revitalisasi perekonomian daerah dan masyarakat

Dalam penerapannya, Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi di wilayah yang terkena bencana gempa bumi di Provinsi D.I.Y dan Provinsi Jawa Tengah, pemerintah daerah di kedua provinsi telah mencanangkan untuk berpegang pada prinsip umum dan khusus. Adapun prinsip umum pelaksanaan rencana aksi adalah: a. Partisipasi dan pendekatan pembangunan yang berpusat pada masyarakat (community based development) b. Penguatan kapasitas kelembagaan untuk penanganan manajemen bencana c. Pengembangan kapasitas manajemen resiko d. Pendekatan menyeluruh dalam penanganan manajemen bencana e. Koordinasi yang efektif dan kerjasama antar pihak di semua tingkatan dan lintas sector f. Melaksanakan mekanisme transparan dalam pelaksanaan monitoring dan akuntabilitas. Sedangkan prinsip khusus yang menjadi pegangan di setiap tahap pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi, meliputi : a. Pemulihan dan rekonstruksi didasarkan kepada Pemberdayaan Masyarakat setempat,yang dilaksanakan berdasar azas Gotong Royong, Guyub, dan azas kesatuan tekad untuk bersungguh-sungguh menyelesaikan segala persoalan dan permasalahan hingga selesai, saiyeg saeka praya b. Bantuan-bantuan dari luar masyarakat yang terkena bencana hanya sementara dan bersifat membantu masyarakat agar mampu memberdayakan dirinya sendiri c. Budaya dan kearifan lokal akan mendasari perencanaan dan pelaksanaan program rehabilitasi dan rekonstruksi. [28]

Upaya recovery pemukiman warga ini dikatagorikan oleh pemerintah sebagai suatu kebutuhan yang mendesak dan harus direalisasikan. Strategi yang dilaksanakan pemerintah dalam menanggapi kebutuhan mendesak tersebut adalah: 1. Menggunakan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah sebagai sarana membangun komunitas, ,agar pelaksanaan pembangunan rumah tepat sasaran dan tidak menimbulkan konflik antar masyarakat. 2. Menggunakan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah sebagai upaya menciptakan lapangan kerja dan membangun ekonomi lokal. 3. Membantu masyarakat membangun rumah dengan stimulan dana APBN dalam pekerjaan konstruksi tahan gempa. 4. Menyusun mekanisme pembangunan perumahan dan permukiman yang dilakukan secara swadaya dan gotong royong oleh masyarakat, termasuk mekanisme distribusi material bahan bangunan serta sistem informasi pembangunan perumahan dan permukiman. 5. Pembangunan perumahan sejauh mungkin tidak dilaksanakan oleh pihak ketiga atau kontraktor. 6. Merumuskan secara berkala prioritas aksi berdasarkan skala kerusakan dan kebutuhan kelompok rentan, serta selalu responsif terhadap kebutuhan dan prioritas mayarakat. 7. Penyusunan perencanaan jangka pendek dalam konteks pengembangan kawasan melalui proses partisipasi masyarakat serta menetapkan kriteria dan sumber pembiayaan untuk perbaikan dan pembangunan kembali perumahan dan permukiman. 8. Mengoptimumkan pemanfaatan sumber daya yang ada baik dari segi tenaga kerja, ketrampilan, organisasi, maupun pembiayaan. Secara spesifik mengoptimumkan pemanfaatan bahan bangunan bekas dari rumah yang roboh atau rusak berat dan mengembangkan bengkel konstruksi yang mencakup perencanaan dan teknik pembangunan serta bengkel bahan bangun-

[29]

an mencakup pengadaan bahan dan komponen pembangunan yang dikelola masyarakat. 9. Membantu masyarakat dengan stimulan dana dan pendampingan sehingga apapun pilihan bahannya rumah masyarakat menerapkan kaidah tahan gempa.. 10. Menetapkan mekanisme dan prosedur penyaluran Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) dan percepatan penyaluran bantuan bagi pembangunan kembali dan perbaikan perumahan masyarakat. 11. Membantu pembangunan perumahan dan permukiman yang akandilakukan secara swadaya dan gotong royong oleh masyarakat, denganberbagai alternatif pendanaan. 12. Peningkatan kapasitas dan peran pemerintah kota/ kabupaten dalam memfasilitasi masyarakat dalam pembangunan perumahan, melalui sosialisasi, penyiapan pedoman teknis, memfasilitasi proses konsultasi, proses perijinan dan serangkaian kegiatan lainnya yang dapat mendukung proses rehabilitasi rumah berbasis kebutuhan serta prakarsa masyarakat. 13. Menyiapkan sistem pengawasan dan pemantauan bantuan perumahan, termasuk pengawasan berbasis komunitas. 14. Untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, informasi untuk meningkatkan ketrampilan serta informasi untuk mengetahui hak, tanggung jawab dan pilihan harus disediakan secara jelas dan transparan. Hal yang tak kalah penting dalam tahap recovery yang meliputi proses rehabilitasi dan rekonstruksi ini adalah segi pendanaannya. Sumber pendanaan pemerintah sendiri melihat nilai kerusakan dan kerugian yang sedemikian besar dibandingkan dengan kemampuan keuangan negara yang sangat terbatas, maka kebijakan yang ditempuh adalah mendayagunakan semua potensi sumber pendanaan yang tersedia, yang secara garis besar terdiri dari sumber dana pemerintah dan sumber dana non pemerintah. Dana pemerintah adalah dana bentuk tanggung jawab pemerintah dalam penanganan bencana. Biasanya sumber dana pemerintah ini terdiri dari: 1. Dana rupiah murni ( APBN, APBD Propinsi dan Kota ) [30]

2. Relokasi dan reprogramming dana pinjaman luar negri yang sedang berjalan dan diadministrasikan oleh pemerintah 3. Relokasi dan reprogramming dana hibah yang sedang berjalan dan diadministrasikan oleh pemerintah. Sedangkan dana non pemerintah berasal dari Negara atau lembaga donor bilateral dan multilateral, LSM internasional, perusahaan swasta dan swadaya masyarakat. Adalagi sumber pendanaan non pemerintah ini bersumber dari komitmen bantuan pendanaan dari luar negeri dalam bentuk hibah.

. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Gempa bumi adalah getaran yang berasal dari energi dalam bumi yang bisa disebabkan oleh pergerakan batuan atau pergerakan lempeng, aktivitas [31]

magma, maupun aktivitas yang dilakukan manusia. Proses terjadinya gempa bumi juga dipengaruhi oleh jenis gempa yang terjadi baik tektonik maupun vulkanik. Gelombang gempa ada 3 yaitu gelombang longitudinal, transversal dan panjang. ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi besar kecilnya gempa yaitu, skala atau magnitude, durasi dan kekuatan, jarak sumber gempa dengan perkotaan, kedalaman sumber gempa, kualitas tanah dan bangunan, dan lokasi perbukitan dan pantai. Gempa dibagi menjadi beberapa macam yaitu: 1) Berdasarkan penyebabnya: tektonik-vulkanik-runtuhan 2) Berdasarkan kedalaman hiposentrum: dangkal-menengah-dalam 3) Berdasarkan jarak episentrum: setempat-jauh-sangat jauh 4) Berdasarkan bentuk episentrum: sentral-linier 5) Berdasarkan letak episentrum: laut-dasar Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan bencana gempa karena Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng besar di dunia yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia an Pasifik. Wilayah-wilayah di Indonesia yang dilalui oleh lempeng tersebut sehingga mengakibatkan wilayah tersebut rawan bencana gempa bumi adalah Sumatra, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua. Kalimantan merupakan satu pulau yang aman dari gempa bumi karena posisinya yang berada di tengah-tengah lempeng. Gempa dapat membawa dampak negatif bagi manusia. Baik secara fisik maupun psikologis. Secara fisik tentu dapat merusak bangunan-bangunan tempat terjadinya gempa sehingga banyak warga yang kehilangan tempat tinggal. Selain itu juga banyak korban jiwa yang timbul karena tertimbun oleh bangunan-bangunan yang runtuh. Dampak negatif dari segi psikologis adalah beberapa dari korban bencana gempa dapat mengalami trauma akibat kejadian tersebut. Gempa yang berkekuatan besar dan yang memiliki sumber gempa di dasar laut juga memiliki dampak terjadinya tsunami. Dampakdampak tersebut juga dapat berpengaruh bagi keadaan negara karena mempengaruhi perekonomian juga keamanan negara seperti banyaknya bantuan yang harus dijalankan pemerintah untung mengatasi bencana tersebut. 3.2 Saran Masyarakat harus lebih tahu mengenai gejala-gelaja alam yang sering terjadi di Indonesia dan pemerintah juga harus sering mengadakan penyuluhan-penyuluhan serta pengetahuan bagi masyarakat agar mereka [32]

mengerti dan dapat mengetahui apa yang harus mereka lakukan apabila suatu saat mereka dihadapkan dengan bencana gempa bumi. Pemerintah juga harus betindak cepat dalam menangani segala bencana yang terjadi agar tidak memakan banyak korban jiwa. Apabila dihadapkan dengan bencana gempa bumi, disaranakan yang pertama paling penting adalah menyelamatkan diri dibandingkan harta benda yang dimiliki.

DAFTAR PUSTAKA Riedho. (2009). Penyebab Terjadinya Gempa Bumi available at http://

www.riedhagookil.com/2009/09/penyebab-terjadinya-gempa-bumi.html Diakses pada hari Rabu, 18 September 2013 Waluyo, Joko. (2007). Ilmu Geografi. Jakarta : Graha Pustaka. Team Ensiklopedia Indonesia. (2012). Perambatan Gelombang Gempa available at http://ensiklopediindonesia.net/ perambatan_gelombang_gempa Diakses pada hari Rabu, 18 September 2013 Zastroni. (2013). Mitigasi Gempa Bumi available at http://Www.Scribd.Com/Doc/ 133572361/Mitigasi-Gempa diakses pada hari Rabu, 18 September 2013 [33]

Anda mungkin juga menyukai