Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN PPOM

PPOK adalah klasifikasi luas dari gangguan yang mencakup bronkitis kronis, bronkiektasis, emfisema dan asma. PPOK merupakan kondisi ireversibel yang berkaitan dengan dispnea saat aktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar udara paru-paru. (Smeltzer & Bare, 2002)

PPOK adalah suatu gangguan yang mempengarui pergerakan udara dari dan keluar paru, yang meliputi bronskrutis kronik, empisema dan asma bronkhiale. (Brunner & Sudaart, 2002)

BRONKITIS KRONIS A. Pengertian Bronkitis kronis didefinisikan sebagai adanya batuk produktif yang berlangsung 3 bulan dalam satu tahun selama 2 tahun berturut-turut. Merokok atau pemajanan terhadap polusi adalah penyebab utama bronkitis kronik. Kisaran infeksi virus, bakteri dan mikro plasma yang luas dapat menyebabkan episode bronkitis. (Smeltzer & Bare, 2002) B. Patofisiologi Asap mengiritasi jalan nafas mengakibatkan hipersekresi lendir dan inflamasi. Karena iritasi yang konstan ini, kelenjar-kelenjar yang mensekresi lendir dan sel-sel goblet meningkat jumlahnya, fungsi silia menurun dan lebih banyak lendir yang dihasilkan. Sebagai akibat bronkiolus dapat menjadi menyempit dan tersumbat. Alveoli yang berdekatan dengan bronkiolus dapat menjadi rusak dan membentuk fibrosis, mengakibatkan perubahan fungsi makrofag alveolar yang berperan penting dalam menghancurkan partikel asing termasuk bakteri. Pasien kemudian menjadi lebih rentan terhadap infeksi pernapasan.

Penyempitan bronkial lebih lanjut terjadi sebagai akibat perubahan fibrotik yang terjadi dalam jalan napas. Pada waktunya mungkin terjadi perubahan paru yang ireversibel, kemungkinan mengakibatkan emfisema dan bronkiektasis. ( Smeltzer & Bare, 2002) C. Tanda dan Gejala Batuk produktif, kronis pada bulan-bulan musim dingin. Batuk mungkin dapat diperburuk oleh cuaca yang dingin dan lembab. Pasien biasanya mempunyai riwayat merokok dan sering mengalami infeksi pernafasan. (Mansjoer,Arif.2001) D. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan analisa gas darah : hipoksia dengan hiperkapnia 2. Rontgen dada : pembesaran jantung dengan diafragma

normal/mendatar 3. Pemeriksaan fungsi paru : Penurunan kapasitas vital (VC) dan volume ekspirasi kuat (FEV), peningkatan volume residual (RV), kapasitas paru total (TLC) normal atau sedikit meningkat. 4. Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit : dapat sedikit meningkat (Smeltzer & Bare.2002)

BRONKIEKTASIS A. Pengertian Bronkiektasis adalah dilatasi bronki dan bronkiolus kronis yang mungkin disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk infeksi paru dan obstruksi bronkus; aspirasi benda asing, muntahan, atau benda-benda dari saluran pernapasan atas; dan tekanan akibat tumor, pembuluh darah yang berdilatasi, dan pembesaran nodus limfe. (Smeltzer & Bare,2002) B. Patofisiologi Infeksi merusak dinding bronkial, menyebabkan kehilangan struktur pendukungnya dan menghasilkan sputum yang kental yang akhirnya dapat menyumbat bronki. Dinding bronkial menjadi teregang

secara permanen akibat batuk hebat. Infeksi meluas ke jaringan peribronkial sehingga dalam kasus bronkiektasis sakular, setiap tuba yang berdilatasi sebenarnya adalah abses paru, yang eksudatnya mengalir bebas melalui bronkus. Bronkiektasis biasanya setempat, menyerang lobus atau segmen paru. Lobus yang paling bawah lebih sering terkena. Retensi sekresi dan obstruksi yang diakibatkannya pada akhirnya menyebabkan alveoli di sebelah distal obstruksi mengalami kolaps (ateletaksis). Jaringan parut atau fibrosis akibat reaksi inflamasi menggantikan jaringan paru yang berfungsi. Pada waktunya pasien mengalami insufisiensi pernapasan dengan penurunan kapasitas vital, penurunan ventilasi dan peningkatan rasio volume residual terhadap kapasitas paru total. Terjadi kerusakan campuran gas yang diinspirasi (ketidakseimbangan ventilasi-perfusi) dan hipoksemia. (Corwin.2009) C. Tanda dan Gejala 1. Batuk kronik dan pembentukan sputum purulen dalam jumlah yang sangat banyak 2. Jari tabuh, karena insufisiensi pernapasan 3. Riwayat batuk berkepanjangan dengan sputum yang secara konsisten negatif terhadap tuberkel basil (Mansjoer,Arif.2001) D. Pemeriksaan Penunjang 1. Bronkografi 2. Bronkoskopi 3. CT-Scan : ada/tidaknya dilatasi bronkial (Smelzer & Bare.2002)

II. EMFISEMA A. Pengertian Emfisema didefinisikan sebagai suatu distensi abnormal ruang udara diluar bronkiolus terminal dengan kerusakan dinding alveoli. (Smeltzer & Bare, 2002) B. Patofisiologi Pada emfisema beberapa faktor penyebab obstruksi jalan napas yaitu : inflamasi dan pembengkakan bronki; produksi lendir yang berlebihan; kehilangan rekoil elastik jalan napas; dan kolaps bronkiolus serta redistribusi udara ke alveoli yang berfungsi. Karena dinding alveoli mengalami kerusakan, area permukaan alveolar yang kontak langsung dengan kapiler paru secara kontinu berkurang, menyebabkan peningkatan ruang rugi (area paru dimana tidak ada pertukaran gas yang dapat terjadi) dan mengakibatkan kerusakan difusi oksigen. Kerusakan difusi oksigen mengakibatkan hipoksemia. Pada tahap akhir penyakit, eliminasi karbondioksida mengalami kerusakan, mengakibatkan peningkatan tekanan karbondioksida dalam darah arteri (hiperkapnia) dan menyebabkan asidosis respiratorius. Karena dinding alveolar terus mengalami kerusakan, jaring-jaring kapiler pulmonal berkurang. Aliran darah pulmonal meningkat dan ventrikel kanan dipaksa untuk mempertahankan tekanan darah yang tinggi dalam arteri pulmonal. Dengan demikian, gagal jantung sebelah kanan (kor pulmonal) adalah salah satu komplikasai emfisema. Terdapatnya kongesti, edema tungkai, distensi vena leher atau nyeri pada region hepar menandakan terjadinya gagal jantung. Sekresi meningkat dan tertahan menyebabkan individu tidak mampu untuk membangkitkan batuk yang kuat untuk mengeluarkan sekresi. Infeksi akut dan kronis dengan damikian menetap dalam paru yang mengalami emfisema memperberat masalah. Individu dengan emfisema mengalami obstruksi kronik ke aliran masuk dan aliran keluar udara dari paru. Paru-paru dalam keadaan

heperekspansi kronik. Untuk mengalirkan udara kedalam dan keluar paruparu, dibutuhkan tekanan negatif selama inspirasi dan tekanan positif dalam tingkat yang adekuat harus dicapai dan dipertahankan selama ekspirasi. Posisi selebihnya adalah salah satu inflasi. Daripada menjalani aksi pasif involunter, ekspirasi menjadi aktif dan membutuhkan upaya otot-otot. Sesak napas pasien terus meningkat, dada menjadi kaku, dan iga-iga terfiksaksi pada persendiannya. Dada seperti tong (barrel chest) pada banyak pasien ini terjadi akibat kehilangan elastisitas paru karena adanya kecenderungan yang berkelanjutan pada dinding dada untuk mengembang. (Smeltzer&Bare.2002) C. Tanda dan Gejala 1. Dispnea 2. Takipnea 3. Inspeksi : barrel chest, penggunaan otot bantu pernapasan 4. Perkusi : hiperresonan, penurunan fremitus pada seluruh bidang paru 5. Auskultasi bunyi napas : krekles, ronchi, perpanjangan ekspirasi 6. Hipoksemia 7. Hiperkapnia

8. Anoreksia 9. Penurunan BB 10. Kelemahan (Smeltzer & Bare) D. Pemeriksaan Penunjang 1. Rontgen dada : hiperinflasi, pendataran diafragma, pelebaran interkosta dan jantung normal 2. Fungsi pulmonari (terutama spirometri) : peningkatan TLC dan RV, penurunan VC dan FEV (Mansjoer,Arif.2001)

III. ASMA A. Pengertian Asma adalah penyakit jalan napas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronki berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. (Smeltzer & Bare, 2002) B. Patofisiologi Individu dengan asma mengalami respon imun yang buruk terhadap lingkungan mereka. Antibodi yang dihasilkan (IgE) kemudian menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen dengan antibodi, menyebabkan pelepasan produk sel-sel mast (disebut mediator) seperti histamin, bradikinin dan prostaglandin serta anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRSA). Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan napas, bronkospasme, pembengkakan membran mukosa dan pembentukan mukus yang sangat banyak. Sistem saraf otonom mempersarafi paru. Tonus otot bronkial

diatur oleh impuls saraf vagal melalui sistem parasimpatis. Pada asma idiopatik atau non alergi ketika ujung saraf pada jalan nafas dirangsang oleh faktor seperti infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi dan polutan, jumlah asetilkolin yang dilepaskan meningkat. Pelepasan asetilkolin ini secara langsung menyebabkan bronkokonstriksi juga merangsang

pembentukan mediator kimiawi yang dibahas diatas. Individu dengan asma dapat mempunyai toleransi rendah terhadap respon parasimpatis. Selain itu, reseptor - dan -adrenergik dari sistem saraf simpatis terletak dalam bronki. Ketika reseptor adrenergik dirangsang , terjadi bronkokonstriksi; bronkodilatasi terjadi ketika reseptor -adrenergik yang dirangsang. Keseimbangan antara reseptor dan -adrenergik

dikendalikan terutama oleh siklik adenosin monofosfat (cAMP). Stimulasi reseptor alfa mengakibatkan penurunan c-AMP, yang mengarah pada peningkatan mediator kimiawi yang dilepaskan oleh sel-sel mast bronkokonstriksi. Stimulasi respon beta- mengakibatkan peningkatan 6

tingkat cAMP, yang menghambat pelepasan mediator kimiawi dan menyebabkan bronkodilatasi. Teori yang diajukan adalah bahwa penyekatan -adrenergik terjadi pada individu dengan asma. Akibatnya, asmatik rentan terhadap peningkatan pelepasan mediator kimiawi dan konstriksi otot polos. (Corwin.2009) C. Tanda dan Gejala 1. Batuk 2. Dispnea 3. Mengi 4. Hipoksia 5. Takikardi 6. Berkeringat 7. Pelebaran tekanan nadi (Manjoer,arif.2001) D. Pemeriksaan Penunjang 1. Rontgen dada : hiperinflasi dan pendataran diafragma 2. Pemeriksaan sputum dan darah : eosinofilia (kenaikan kadar eosinofil). Peningkatan kadar serum Ig E pada asma alergik 3. AGD : hipoksi selama serangan akut 4. Fungsi pulmonari : Biasanya normal Serangan akut : Peningkatan TLC dan FRV; FEV dan FVC agak menurun (Mansjoer, arif.2001)

IV. PATHWAY Stimulan Reaksi alergi bronkospasme Histamin & satmediator dilepas Obstruksi jalan nafas aktifitas anoreksia Perubahan kesehatan

cemas

Imunitas menurun

Ekspirasi menurun Inflamasi brochiolus CO2 meningkt, O2 menurun Sekret meningkat MK: resiko tinggi infeksi

MK:nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

MK: bersihan jalan nafas tidak efektif

lemas

BMR

MK: intoleransi aktifitas

MK: kerusakan pertukaran gas

(Smelzer & Bare. 2002)

ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT 1. Pengkajian Pengkajian pada pernafasan dengan klien PPOM yang didasarkan pada kegiatan sehari hari. Ukur kualitas pernafasan antara skala 1 sampai 10. Dan juga mengidentifikasi faktor sosial dan lingkungan yang merupakan faktor pendukung terjadinya gejala. Perawat juga mengidentifikasi type dari gejala yang muncul antara lain, tiba-tiba atau membahayakan dan faktor presipitasi lainnya antara lain perjalanan penularan temperatur dan stress. Pengkajian fisik termasuk pengkajian bentuk dan kesimetrisan dada, Respiratory Rate dan Pola pernafasan, posisi tubuh menggunakan otot bantu pernafasan dan juga warna, jumlah, kekentalan dan bau sputum. Palpasi dan perfusi pada dada diidentifikasikan untuk mengkaji terhadap peningkatan gerakan Fremitus, gerakan dinding dada dan penyimpanan diafragma. Ketika mengauskultasi dinding dada pada dewasa tua / akhir seharusnya diberi cukup waktu untuk kenyamanan dengan menarik nafas dalam tanpa adanya rasa pusing (dizzy) (Loukenaffe, M.A, 2000). Hal-hal yang juga perlu dikaji adalah : 1. Aktifitas / istirahat Keletihan , kelemahan, malaise, ketidak mampuan melakukan aktifitas sehari-hari karena sulit bernafas. 2. Sirkulasi Pembengkakan darah,takikardi. 3. Integritas ego Perubahan pola hidup, ansietas, ketakutan,peka rangsang 4. Makanan / cairan Mual / muntah, anoreksia, ketidakmampuan untuk makan karena distress pernafasan, turgor kulit buruk, berkeringat. 5. Higiene Penurunan kemampuan / peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktifitas sehari-hari, kebersihan buruk, bau badan. pada ekstremitas bawah, peningkatan tekanan

6. Pernafasan Nafas pendek, rasa dada tertekan, dispneu, penggunaan otot bantu pernafasan. 7. Keamanan Riwayat reaksi alergi / sensitif terhadap zat atau faktor lingkungan. 8. Seksualitas Penurunan libido. 9. Interaksi social Hubungan ketergantungan, kurang sistem pendukung, keterbatasan mobilitas fisik. (Doengoes, 2000 )

2. Diagnosa Keperawatan a. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan

bronkokonstriksi, peningkatan pembentukan mukus, batuk tidak efektif, infeksi bronkopulmonal. b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi c. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan in adekuat pertahanan primer dan sekunder, penyakit kronis. d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, produksi sputum, efek samping obat, kelemahan, dyspnea e. Defisit self care berhubungan dengan kelemahan fisik f. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplay dan kebutuhan oksigen, kelemahan, dispnea. ( Doengoes.2000) 3. Intervensi a. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan

bronkokonstriksi, peningkatan pembentukan mukus, batuk tidak efektif, infeksi bronkopulmonal. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, bersihan jalan nafas efektif

10

KH: Bunyi nafas bersih Menunjukan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas, misal batuk efektif dan mengeluarkan sekret. Intervensi : 1) Kaji /pantau frekuensi pernafasan R: Tachipneu biasanya ada pada beberapa derajat dapat ditemukan pada penerimaan atau selam stress/ proses infeksi akut. Pernafasan melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang disbanding inspirasi. 2) Auskultasi bunyi nafas R: Derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat /tak dimanisfestasikan adanya bunyi nafas. 3) Kaji pasien untuk posisi ygnyaman,Tinggi kepala tempat tidur dan duduk pada sandaran tempat tidur. R: .Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan mempergunakan gravitasi. Dan mempermudah untuk bernafas serta membantu menurunkan kelemahan otot-otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada. 4) Bantu latihan nafas abdomen . R: Untuk mengatasi dan mengontrol dispneu dan menurunkan jebakan udara 5) latih untuk batuk efektif R: Mengeluarkan sekret yang tertahan 6) beri minum yang banyak dan hangat R: Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret,mempermudah pengeluaran.cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. 7) Berikan obat sesuai indikasi. R:. Mempercepat proses penyembuhan.

11

b. Pola nafas tidak efektif berhubunagn dengan hiperventilasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, pola nafas efektif KH: RR dalam batas normal 18-24xpermenit tidak ada pegunana otot bantu pernafasan irama frekuensi nafas dalam batas normal

Intervensi : 1) kaji frekuensi dan kedalaman frekuensi pernafasan R: .kecepatan biasanya meningkt,kedalaman pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas. 2) posisikan pasien semi fowler R: membantu pernafasan berfungsi secara maksimal 3) pantau respirasi dan status O2 R: memonitor kebutuhan O2 4) ajarka pasien nafas dalam dan balatihan batuk efektif R: dapat meningktkan / banyaknya sputum dimana gaguan ventilasi dan ditambah ketidak nyamanan upaya bernafas. 5) bantu pasien mengatasi rasa takut/ansietas R: perasaan takut/ansietas berhubungan denagn ketidak mampuan bernafas dapat meningkatkan kebutuhan oksigen 6) beri oksigen tambahan 4Lpermenit R: memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas 7) bantu fisioterapi dada R: memudahkan upaya pernafasan dalam dan meningkatkan drainase sekret dari segemen paru c. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, nutrisi terpenuhi dengan KH: - Nafsu makan pasien meningkat - Diit RS habis - menunjukan peningkatan BB

12

Intervensi : 1) auskultasi bunyi usus R: penurunan BU menunjukan penurunanan motilitas gaster dan konstipasi yang berhubunagn dengan pembatasan masukan cairan dan makanan 2) berikan perawatan oral, berikan wadah sekali pakai dan tisu R:. .rasa tak enak, bau dan penampilan adalah pencegah utama terhadap nafsu makan. 3) berikan makan porsi kecil tapi sering R: .membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan 4) hindari makanan yang terlalu panas dan terlalu dingin R: suhu ekstrim dapat meningkatkan spasme batuk 5) sajikan makanan hangat dan bervariasi R: .meningkatkan nafsu makan 6) timbang BB R: berguna untuk menentukan kebutuhan kalori 7) kolaborasi dengan tim ahli gizi untuk memberikan makanan sesuai kebutuhan R: .metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan apada situasi ndan kebutuahn individu d. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan in adekuat pertahanan primer dan sekunder, penyakit kronis. Tujuan Kriteria hasil yang diharapkan : Mencegah terjadinya infeksi. :

Menyatakan pemahaman penyebab / faktor resiko individu Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeks. Menunjukkan teknik, perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman.

13

Intervensi 1) Awasi suhu Rasional : Demam dapat terjadi karena infeksi / dehidrasi 2) Kaji pentingnya latihan nafas, batuk efektif, perubahan posisi sering, dan masukan cairan adekuat. Rasional : Aktifitas ini meningkatkan mobilisasi dan pengeluaran sekret untuk menurunkan resiko terjadi infeksi paru. 3) Tunjukkan dan bantu pasien tentang pembuangan tisu dan sputum Rasional : Cegah penyebaran patogen melalui cairan. 4) Dorong keseimbangan antara aktifitas dan istirahat Rasional : Menurunkan konsumsi / kebutuhan keseimbangan oksigen dan memperbaiki pertahanan pasien terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan. Kolaborasi 5) Dapatkan spesimen dengan batuk / penghisapan untuk pewarnaan kuman gram kultur / sensitivitas. Rasional : Dilakukan untuk mengidentifikasikan organisme penyebab dan kerentanan terhadap berbagai anti mikrobia. 6) Berikan anti mikrobia sesuai indikasi Rasional : Dapat diberikan untuk organisme khusus yang

teridentifikasi dengan kulturdan sensitivitas, atau diberikan secara profilaktik karena resiko tinggi. e. Deficit self care berhubunagn dengan kelemahan fisik Setelah terpenuhi, KH :- melakukan perawatan diri sendiri - mampu melakukan perawatan tanpa sesak nafas dilakukan tindakan keperawatna 3x24jam,perawatan diri

14

Intervensi : 1) Diskusikan tingkat umum sbelum timbul penyakit dan potensial yang sekarang diantisipasi R: mungkin dapat melanjutkan aktifitas umum deangn melakukan adaptasi yang diperlukan pada keterbatasan saat ini 2) Pertahankan mobilitas dan kontrol program latihan R: .mendukung kemandirian fisik dan emosional 3) Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam pertawatan diri R: menyikan untuk meningkatkan kemandirian, yang akan

meningkatkan harga diri 4) Anjurkan untk mencoba melakukan perwatan diri sendiri R: dengan gerakan akan melatih Rom pasien untuk melakukan ADL 5) Kolaborasi dengan ahli terapi okupasi R :berguna untuk menentukan alat bantu untuk memenuhi kebutuhan pasien f. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplay dan kebutuhan oksigen, kelemahan, dispnea. Tujuan : Mengembalikan aktifitas klien seperti semula. Kriteria hasil yang diharapkan : Melaporkan / Menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktifitas yang dapat diukur dengan tak adanya dispnea, kelemahan berlebihan, dan tanda vital dalam rentang normal. Intervensi : 1) Evaluasi respons pasien terhadap aktifitas. Catat laporan dispnea, peningkatan kelemahan / kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas. Rasional : Menetapkan kemampuan / kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi.

15

2) Bantu aktivitas perawatan dini yang diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan. Rasional : Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. 3) jelaskan pentingnya istirahjat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktifitas dan istirahat Rasional : tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan penyembuhan. 4) berikan lingkunagn yang tenang dan nyaman dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. Dorong penggunaan manajemen stres dan pengalih yang tepat. Rasional : menurunkan stres dan rangsangan berlebihan , kebutuhan metabolik, menghemat energi untuk

meningkatkan istirahat. (Dongoes.2000)

16

DAFTAR PUSTAKA

A.price Sylvia dan M.wilson Lorraine.2005. patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit ; Jakarta, penerbit buku kedokteran.EGC

Diane C. Baughman dan Joann C. hockley.2000. keperawatan medical bedah buku saku brunner and suddart ; Jakarta , penerbit buku kedokteran,EGC.

Doengoes E. Marylynn, et all.2001.Rencana Asuhan Keperawatan:Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.Alih Bahasa:I Made Kariasa. Jakarta: EGC.

Mansjoer,Arif dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran: Jakarta. Media Aesculapius.

NANDA,Panduan Diagnosa Keperawatan; definisi dan klasifikasi.2005-2006 Smeltzer C. Suzanne & Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Edisi 8. Jakarta : EGC

17

LAPORAN PENDAHULUAN PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK

DISUSUN OLEH :

ERNI WAHYU SETIOWATI J230 123 085

PROGRAM PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2013

18