Anda di halaman 1dari 14

1. (Nia Lieanto) Hal hal yang dipersiapkan sebelum melakukan pencabutan atau ekstraksi gigi, yaitu: a.

Melakukan pemeriksaan radiografi pada gigi yang akan dicabut b. Melakukan tensi c. Bahan antiseptic (untuk mendesinfeksi daerah pencabutan) d. Tampon e. Elevator f. Forceps (Tang Ekstraksi) g. Needle Holder, Benang jahit, Needle h. Peralatan anastesi (Syringe, Sito Jet, Anastetikum) (Sumber: D.Fragiskos.2007.Oral Surgery. c Springer- Verlag Berlin Heidelberg)

(Fitriani Talamma) Sebelum operasi: a. Melakukan pembersihan karang gigi kurang lebih satu minggu sebelum pencabutan gigi. Dengan tujuan agar kalkulus dan sisa makanan tidak tertelan dan masuk ke dalam paru-paru. b. Pemeriksaan klinis dari jaringan penyangga gigi. (Trisnayati) Secara umum: Posisi dental unit: 1. Pasien harus duduk dalam kondisi baik dan nyaman sebelum dilakukan tindakan operasi. 2. Dentist potition 3. Illumination 4. Aspirasi 5. Persiapan dari mulut pasien sebelum ekstraksi Kondisi mulut pasien harus dalam keadaan steril dan bersih sebelum dilakukan ekstraksi. Sumber: Malik, anil neelima. 2008. Textbook of oral and maxillofacial surgery 2nd edition. New delhi: jaypee brother medical. (Melda) Persiapaan dari operator dan staf: I. Dokter gigi sebagai penentu II. Pakaian Klinik

III.

Menggosok

(Andi Ulya) Sterilisasi alat Metode yang dapat dipakai: autoclave, metode panas kering dengan menggunakan bahan kimia. 2. (Musdalifah Solina) Tipe pencabutan gigi ekstraksi gigi sederhana: bisa digunakan anastesi local dimana dilakukan pada gigi yang dapat dilihat dalam mulut. ekstraksi gigi dengan pembedahan: digunakan anastesi local dimana dilakukan pada gigi yang tidak terlihat dalam rongga mulut seperti gigi impaksi atau fraktur akar. (Sumber: Howe GL. 1989. Pencabutan Gigi Geligi (Ed. ke-2). Jakarta:EGC)

3. (Nasra Saputri) Armamentarium Pencabutan Gigi: Bagian bedah mulut biasanya menggunakan: tang ekstraksi untuk menghantarkan tekanan terkontrol pada gigi, dilatasi alveolar, luksasi, dan pencabutan. alat OD : mirror, sonde, ekskavator, pinset. Bein/root elevator: digunakan untuk mencongkel gigi atau tulang Cryer: Jenis dari bein untuk mengeluarkan sisa akar khususnya molar rahang bawah Knabel tang: bone shear untuk memotong tulang dalam arah memanjang ( side cutting), bone roungers untuk memotong tulang yang menonjol.

Periosteal elevator: untuk melepaskan perlekatan gingiva. Bone file: untuk menghaluskan tulang dengan gerakan pull-stroke. Periapikal currettes: untuk membersihkan soket bekas pencabutan, mengeluarkan jaringan granulasi, potongan tulang kecil, dan lain-lain. Chisel dan mallet: untuk menghilangkan atau memotong tulang alveolus. Scalpel (Handle and Blade): untuk oper currectomi. Scissors: sebagai gunting bedah. Needle Holder: digunakan dalam pembedahan untuk jarum bedah Anatomic Forceps dan Hemostats Towel champs: untuk menjepit jaringan Irrigation instrument: untuk mengeluarkan serpihan dalam mulut Desmotomes: untuk melepaskan perlekatan gingiva. Bite blok and mouth props: untuk membuka mulut pasien dan menjaga agar mulut pasien tetap tebuka selama operasi (biasanya pasien yang kurang kooperatif). tang ekstraksi mandibular: bentuk dari blade membentuk sudut terhadap handle. tang ekstraksi maksila: fungsinya sama dengan tang ekstraksi mandibular, perbedaannya hanya terdapat di handle dan shank. 4. (Trisnayati) Ekstraksi bedah adalah metode pencabutan gigi dari soketnya, setelah membuat flap dan membuang bagian dari tulang yang mengelilingi gigi. teknik ini relatif sederhana dan dalam lingkup practitioners umum jika prinsip-prinsip dasar

teknik bedah Teknik. Indikasi Indikasi utama untuk melakukan bedah ekstraksi adalah: a. Gigi pada rahang atas atau rahang bawah dengan morfologi/bentuk akar yang tidak normal (Gambar 6.1). Dalam kasus tersebut, bedah ekstraksi dilakukan secara preventif, karena pencabutannya tidak mungkin dilakukan dengan teknik sederhana tanpa menimbulkan komplikasi (misalnya, rusak/fraktur akar, fraktur tulang alveolar, dll). b. Gigi dengan Hipersementosis pada akar dan ujung akar, dengan bentuk akar bulat besar (Gambar 6.2, 6.3). c. Gigi dengan dilaceration pada ujung akar (Gambar 6.4). d. Gigi dengan akar ankylosed atau dengan kelainan, misalnya, dens in dente (Gambar 6.5). e. Gigi Impaksi dan semi impaksi (Gambar 6.6). ekstraksi pada gigi tersebut dilakukan dengan teknik bedah, tergantung pada jenis dan lokalisasi dari gigi impaksi atau semi impaksi tsb (lihat Bab. 7). f. Gigi yang menyatu (fusi) dengan gigi sebelanhnya/tetangganya (Gambar 6.7A, b) atau gigi yang menyatu dengan gigi sebelahnya/tetangganya di daerah apikal (Gambar 6.8). Jika ekstraksi itu dipaksakan menggunakan teknik sederhana dalam kasus-kasus yang tidak biasa spt ini, maka bagian dari prosesus alveolar dapat retak atau terangkat/tercabut bersama dengan gigi. g. sisa ujung akar yang tertinggal di tulang alveolar (Gambar 6.9) dan terlibat dalam lesi osteolitik, atau berada dalam posisi sedemikian rupa sehingga, dalam kasus penempatan gigitiruan, bisa menciptakan masalah nantinya. h. gigi posterior rahang atas, yang akarnya masuk dalam sinus maksilaris (Gambar 6.10). Ketika sinus maksilaris meluas sejauh ridge alveolar,

tulang di daerah posterior rahang atas juga melemah. Hal ini meningkatkan risiko fraktur tuberositas maksilaris jika ekstraksi melibatkan gigi dengan pencangkaran yang kuat (molar), karena dengan teknik sederhana kekuatan besar yang dihasilkan selama pencabutan. i. Akar gigi yang ditemukan di bawah garis gusi, ketika pencabutannya tidak mungkin dilakukan dengan cara lain (Gambar 6.11, 6.12). j. Akar dengan lesi periapikal, yang pencabutan seluruh melalui soket gigi tidak akan mungkin dengan kuret sendiri (Gambar 6,13-6,15). k. geraham susu yang akarnya memeluk mahkota dari premolar yg terletak di bawahnya. Jika teknik ekstraksi sederhana dipaksakan, ada resiko besar terjadinya luksasi bersamaan dari premolar saat ekstraksi (Gambar 6.16). l. gigi Posterior yang mengalami supra-eruption. Hal ini biasa terjadi ketika gigi antagonisnya hilang, gigi ini supraeruption akan disertai dengan penekanan turun dari prosesus alveolaris. Dengan demikian, ekstraksi harus dilakukan menggunakan teknik bedah dengan recontouring bersamaan dari proses alveolar pada daerah yang bersangkutan (lihat Chap. 10).

kontraindikasi Kontraindikasi untuk ekstraksi bedah adalah sebagai berikut: asimtomatik dari fraktur ujung akar, yang mana pulpa dalam keadaan vital, yang terletak jauh di dalam soket. Ekstraksi ujung akar tersebut harus tidak dipertimbangkan, terutama pada pasien yang lebih tua, apabila: a) Ada risiko dari komplikasi lokal yang serius, seperti sisa akar yang akan dicabut masuk ke dalam sinus maksilaris, atau terjadi cedera dari nervus alveolaris inferior saraf mental, atau saraf lingual. b) Sebagian besar dari proses alveolar perlu dikeluarkan. c) Ada masalah kesehatan yang serius pada pasien. Jika pasien dengan

masalah kesehatan kemudian memerlukan tidakan bedah ekstraksi, maka harus dilakukan kerjasama dengan dokter yang merawatnya dan hanya jika status umum pasien telah membaik; tindakan pencegahan yang diperlukan juga harus dilakukan. (Sumber : Fragiskos D. Fragiskos (Ed.). ORAL SURGERY. School of Dentistry, University of Athens, Greece. NEW YORK : SPRINGER. 2007)

(fitria sultan) a. Gigi dengan kerusakan jaringan periodontal yang hebat b. gigi yang rusak akibat karies yang luas c. untuk perawatan ortho

(Andi Rizqa A.) Indikasi untuk gigi anak: a. adanya kegoyangan b. gigi sulung dengan karies yang parah c. gigi yang sudah waktunya untuk tanggal d. gigi sulung yang persistensi e. gigi sulung yang impaksi sehingga menghalangi erupsi gigi normal f. supernumerary teeth (Musdalifah Solina) Indikasi: a. Untuk keperluan ortodontik: Gigi seperti premolar sering diekstrasi untuk kepentingan perawatan orthodontic. Serial ekstraksi juga sering dilakukan pada gigi desidui agar dapat ada tempat yang cukup bagi gigi permanen b. Untuk keperluan prostodonsi: Satu atau dua gigi dapat dicabut jika memberikan desain dan stabilitas bagi protesa (Sumber: Balaji, S.M. 2009. Textbook of Oral and Maxillofacial Surgery. New Delhi: Mosby Elsevier) (Trisnayati) Kontraindikasi: a. fraktur ujung akar yang asimtomatik b. apabila ada komplikasi local yang serius c. apabila terdapat permasalahan kesehatan yang serius dari pasien. (fitria sultan) Kontraindikasi sistemik:

a. b. c. d. e.

Pasien dengan kelainan jantung Dm yang tidak terkontrol Penyakit jantung Penyakit hepar Sifilis

Kontraindikasi local: a. infeksi akut (Friska Ranti) Kontraindikasi: a. Kanker dan tumor b. Kehamilan (Andi Rizqa A.) Kontraindikasi gigi anak: a. infeksi akut stomatitis (Andi Ulya) Kontraindikasi: a. Radang akut b. gigi yang masih bisa dipertankan. 5. (Mesyia Sari) Teknik Pencabutan: Teknik tertutup: Ekstraksi gigi dengan cara sederhana menggunakan tang. Tahapnya: a. dilakukan pelonggaran di daerah jaringan sekitar gigi yang akan diekstraksi. Lalu b. dilukasisi pada gigi dengan menggunakan elevator. c. Lakukan adaptasi gigi dengan tang Teknik terbuka: dilakukan menghilangkan tulang disekeliling gigi. Pengangkatan gigi bisa dengan elevator. Akar gigi yang jamak terlebih dahulu dihilangkan dengan bur. d. Toilet of socket. e. Permukaan tulang harus dihaluskan f. Luka ditutup a. b. c. Sumber: Balaji SM,. textbook of oral and maxillofacial surgery, 2009, Elsevier, India 6. (Alicia Linardi) Posisi operator dan pasien: Posisi operator dan kursi gigi pasien pada saat pencabutan gigi Untuk semua gigi, kecuali molar kanan bawah, premolar dan

caninus, operator berdiri pada samping tangan kanan pasien. Untuk pencabutan gigi kanan bawah dengan metode intra alveolar, operator bekerja di belakang pasien. Tinggi kursi pasien untuk pencabutan gigi atas, kursi pasien harus disesuaikan sehingga daerah kerja kurang lebih 8cm dibawah bahu operator untuk gigi bawah tinggi kursi pasien harus diatur sehingga gigi yang akan dicabut lebih kurang 16 cm di bawah siku operator. Bila operator berdiri di belakang pasien, kursi pasien harus direndahkan secukupnya. (Sumber: Bakar,Abu. 2012. Kedokteran Gigi Klinis. Yogyakarta: Quantum Sinergis Media) 7. (Nurfitri Amaliah) Memperkirakan Kesulitan Pencabutan Untuk memperkirakan kesulitan pencabutan diperlukan gabungan pemeriksaan klinis dan radiografis yang akan memberikan gambaran tentang tingkat kesulitan pencabutan. Secara klinis, mahkota, jaringan pendukung dan strukturstruktur penting di dekatnya kemudian akan dievaluasi. MAHKOTA Ukuran mahkota menunjukkan ukuran akarnya. Karena itu, mahkota yang besar biasanya menunjukkan akar yang besar pula. Secara umum, mahkota yang masih utuh akan memungkinkan adaptasi yang baik dari tang yang dipakai. Sedangkan mahkota yang rusak akan semakin menambah kesulitan. Kerusakan mahkota yang luas karena karies maupun trauma akan mempersulit penempatan dan adaptasi tang. Adanya restorasi yang luas, sering mengakibatkan terjadinya fraktur mahkota pada waktu pencabutan. Protesa mahkota penuh atau , biasanya dilepas terlebih dahulu sebelum dilakukan pencabutan gigi. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan adaptasi tang dan untuk mencegah tertelannya bahan restorasi STRUKTUR-STRUKTUR YANG BERDEKATAN. Struktur di dekatnya harus harus diperiksa terlebih dahulu sebelum pencabutan. Adanya restorasi yang cukup besar pada gigi di dekatnya akan mengalami fraktur dan pergeseran harus diperhatikan dan diberitahukan kepada pasien. Gigi di dekatnya yang malposisi dan berjejal rentan terhadap fraktur atau luksasi dan sering mempersulit adaptasi tang. Untuk pencabutan gigi malposisi diperlukan tindakan pembedahan yaitu dengan pembukaan flap yang biasanya diikuti dengan pemotongan terencana dari gigi. Gigi yang modot serta tidak mempunyai antagonis membutuhkan tekanan pencabutan sedemikian rupa sehingga ada kemungkinan prossesus alveolaris menjadi fraktur. Ini seringkali menjadi indikasi pembedahan. STRUKTUR-STRUKTUR PENDUKUNG GIGI Pemeriksaan klinis terhadap jaringan pendukung gigi dapat menunjukkan bertambahnya kegoyangan gigi akibat kerusakan tulang dan resesi gingiva atau

lesi periodontal. Meskipun meningkatnya derajat kegoyahan akan mempermudah longgarnya alveolus, tetapi perlu diperhatikan pula mengenai adanya jaringan granulasi yang menggantikan hilangnya tulang tersebut. Jaringan granulasi harus dihilangkan karena akan menimbulkan kecenderungan pendarahan pasca-bedah dan memperlambat proses penyembuhan. Adanya fistula mukosa di dekat gigi yang akan dicabut akan mengubah rencana pencabutan yaitu karena fistula harus dieksisi. Sumber: Pedersen, Gordon W. 1996. Buku Ajar Bedah Mulut. Jakarta: EGC.

8. (Andi Rizqa) Pemeriksaan Klinis dan Penunjang: A.Pemeriksaan Subyektif identitas pasien: 1) nama (nama lengkap dan nama panggilan) 2) Tempat dan tanggal lahir 3) Alamat tinggal 4) golongan darah 5) Status pernikahan 6) Pekerjaan 7) Pendidikan 8) Kewarganegaraan 9) Nomor telepon Keluhan utama Pressent Illness Riwayat medic Riwayat dental Riwayat keluarga Riwayat social B. Pemeriksaan Objektif Pemeriksaan obyektif yang dilakukan ada 2 yaitu: 1) Pemeriksaan ektra oral Melihat penampakan secara umum dari pasien, pembengkakan di muka, leher, pola skeletal, kompetensi bibir, temporomandibular joint, serta melakukan palpasi limfonodi, TMJ, dan otot-otot mastikasi. 2) Pemeriksaan intra oral Pemeriksaan didalam rongga mulut yang meliputi bibir, mukosa labial, mukosa bukal, dasar mulut dan bagian ventral lidah, bagian dorsal lidah, palatum (palatum keras dan lunak), gingiva, dan gigi geligi. C. Pemeriksaan Penunjang Dental radiografi memegang peranan penting dalam menegakkan diagnosi, merencanakan perawatan, dan mengevaluasi hasil perawatan. Ada dua macam radiografi yang digunakan dalam bidang kedokteran gigi:

1. Radiografi intra oral (teknik bidang bagi, teknik bite wing, teknik oklusal, dan teknik bucal object rule) 2. Radiografi ekstra oral (panoramic, oblique lateral, posteroanterior jaw, reverse towns projection) Sumber: Bakar, Abu. 2012. Kedokteran Gigi Klinis. Yogyakarta: Quantum Sinergis Media. 9. (Isriani Usla) Komplikasi yang terjadi adalah dry socket. => Dry Socket atau alveolitis (oesteitis alveolar) merupakan komplikasi yang paling sering dan paling sakit setelah pencabutan gigi. Biasanya di mulai pada hari ke 3-5 sesuda operasi/pembedahan di tandai dengan hilangnya bekuan darah pada socket alveolar sebelum bekuan darah tersebut di gantikan oleh jaringan granulasi. Keluhan utama adalah rasa sakit yang sangat hebat. Terjadi inflamasi pada marginal gingival di sekitar socket bekas pencabutan, dan mukosa di sekitarnya biasanya berubah warna menjadi kemerahan. Sumber: Pedersen,Gordon W. 1996. Buku ajar praktis bedah
mulut. Jakarta;EGC.

10.

(Andi Ulya) Komplikasi sistemik: Kegagalan pemberian anastettikum Fraktur gigi Dislokasi dari gigi yang disebelahnya Pendarahan yang berlebihan Kerusakan gusi Rasa sakit pasca pencabutan Pembengkakan pasca operasi edema

(Nasra Saputri) Pra ekstraksi: a. kesulitan dalam menganastesi b. Trismus selama ekstraksi: fraktur gigi adanya sinusistis akut kerusakan jaringan lunak dislokasi TMJ pasca ekstraksi: pendarahan penyembuhan tertunda dan infeksi terjadinya dry socket emfisema bedah

a. b. c. d.

(Sumber: More UJ. Principles of Oral and Maxillofacial Surgery Ed. 6th. by Wiley-BlackWell Publication. USA: 2011;p.156-171) 11. (Friska Ranti) Patomekanisme Sakit: Bekuan darah tidak terbentuk dengan benar, bekuan darah yang lepas sebelum luka sembuh di lokasi bekas pencabutan gigi. Setelah bekuan darah lepas, tidak terbentuk jarringan baru di daerah bekas gigi yang dicabut. Tulang dan saraf di daerah bekas pencabutan gigi kemudian terkena udara, cairan, dan makanan. Hal ini menyebabkan rasa sakit tidak hanya di daerah bekas pencabutan gigi tetapi juga di sepanjang saraf yang menjalar ke sisi wajah. (Melda) Patomekanisme sakit: peradang pada soket gigi paca operasi akan meningkatkankan pengeluaran plasmin. Plasmin yang dikeluarkan mempunyai aktifitas fibrinolisis yang akan meyebabkan kegagalan penjendelaan darah yang akhirnya tulan terbuka. Pada soket gigi akan terbentuk suatu ruangan atau rongga mati antara jaringan lunak dan sekitar soket gigi . ruangan ini merupakan media yang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroorganisme. Hal ini akan mengganggu proses penyembuhan dan dapat menyebabkan terjadinya infeksi yang mengakibatkan rasa sakit. (Sumber: Winata surja iwan.dkk. 2010. Pengaruh pemberian oxygene dental gel pada soket gigi pasca operasi molar ketiga bawah terhadap pencegahan terjadinya alveolar osteitis.ugm) 12. (Melda) Patomekanisme bengkak: disebabkan oleh bakteri aerob seperti klebsiella,sp dan streptococcus,sp yang menginfeksi jaringan gingiva sehingga terjadi infeksi yang kemudian membuat gusi bengkak dan kemerahan yang disertai rasa sakit. 13. (Fitriani Talamma) Prosedur penatalaksanaan: Soket harus diirigasi dengan larutan saline normal yang hangat dan semua bekuan darah degenerasi dibuang. Tulang yag tajam harus dieksisi dengan tang ronguer atau dihaluskan dengan stone wheel. Gulungan kasa yang mngandung oksida seng dan minyak eugenol dimasukkan kedalam soket. Gulungan kasi tadi tidak boleh terlalu padat karena bisa mengeras dan sulit di keluarkan. Table analgesic dan obat kumur saline diresepkan, serta pasien di janjikan untuk kembali 3 hari lagi. 14. (Fitriani Talamma) mengingat bahwa diagnose pada kasus adalah dry soket , dan telah ditangai sesuai dengan penatalaksanaa sesuai dengan penatalaksanaan diatas maka

Prognosis pada kasus adalah baik. 15. (Alicia Linardi) pada dasarnya dry soket dapat sembuh dalam 5-10 hari walaupun tanpa perawatan. Dry socket dalam kedokteran gigi biasanya ditangani dengan dressing intra-alveolar; di mana penggunaannya masih menjadi kontroversi dan berhubungan dengan beberapa efek samping seperti neuritis, reaksi tubuh terhadap benda asing, dan myospherulosis. Peneliti melaporkan suatu kasus penggunaan dressing intra-alveolar (pasta zinc-oxide eugenol) yang menimbulkan gejala menyerupai trigeminal neuralgia selama 3 tahun dan menyebabkan osteomyelitis kronis pada rahang atas kanan serta reaksi terhadap benda asing pada zona yang berhubungan dengan tulang alveolar molar satu rahang atas. Komplikasi jangka panjang ini berhasil ditangani dengan pengambilan benda asing secara keseluruhan dan kuretase daerah yang terlibat. (Sumber: International Journal of Dentistry. Volume 2010 (2010), Article ID 479306, 4 pages.) 16. (Nurfitri Amaliah) Usia dan jenis kelamin berpengaruh terhadap komplikasi terjadinya pencabutan gigi terutama komplikasi yang terjadi pasca operasi. Prevalensi terjadinya komplikasi ini lebih besar terjadinya pada operasi gigi impaksi rahang bawah, karena tulang mandibular yang lebih padat sehingga vaskularisasi kurang baik. Dari hasil penelitian yang diperoleh dari 60 pasien (24 wanita dan 36 pria) dengan rentang usia 20-40 tahun, didapatkan hasil sebagai berikut: a. Pengaruh usia: Komplikasi pasca pencabutan gigi sering terjadi pada usia 20-35 tahun dengan presentase sebesar 45,5 %. Urutan kedua pada usia 36-43 sebesar 24,5% dan urutan terakhir 44-65 sebesar 30,0%. b. Pengaruh jenis kelamin: Wanita lebih banyak mengalami ketidakstabilan hormone yaitu progesterone dan estrogen dalam tubuhnya, baik semasa pubertas, remaja, kehamilan, sampai menopause ditambah dengan penggunaan kontrasepsi oral. Ketidakstabilan hormone tersebut mengandung komponen kombinasi estrogen dan progesterone dan berhubungan dengan naiknya fenomena thromboembolic dan berpengaruh pada koagulasi dan fibrinolysis. Fibrinolysis adalah salah satu penyebab terjadinya komplikasi pasca operasi/pencabutan gigi yaitu dry socket. (Sumber: Dwirahardjo, Bambang. Prevalensi Alveolar Osteitis Pasca Operasi Impaksi Molar Ketiga Bawah Pada Pria dan Wanita. Indonesian Journal Dentistry 2005: 12(2), 96-99.

(Nia Lieanto) Pengaruh usia dan jenis kelamin terhadap terjadinya komplikasi pencabutan gigi, dalam hal ini yang dimaksud pada skenario yaitu dry socket atau alveolar osteitis. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Department of Oral and Maxillofacial Surgery. Dental Teaching Hospital of College of Dentistry, University of Mosul, dari 180 pasien (86 laki-laki dan 94 perempuan) berusia 13-65 tahun , dilakukan sebuah penelitian dan di dapatkan hasil yaitu :

Berdasarkan jenis kelamin Dry socket lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki dengan persentase sebesar 16,1% pada perempuan dan 8,9% pada lakilaki.

Berdasarkan usia Dry socket lebih sering terjadi pada usia 20-29 tahun dengan persentase sebesar 31,4%, kemudian urutan kedua yaitu usia 30-39 tahun (26,7%), urutan ketiga usia diatas 60 tahun (25%), urutan keempat yaitu pada usia 50-59 tahun (22,7%), urutan kelima yaitu usia 40-49 tahun (20%), dan urutan keenam yaitu usia 13-19 tahun (15%).

(Sumber: Maha T. Al-Saffar, Tahani A. Al-Sandook. Mohammad S. Suleiman. "Protective Effect of Topical Ibuprofen Against Dry Socket". Vol. 8 No.2.2008). (Trisnayati) Dry socket adalah komplikasi yang paling umum terjadi setelah ekstraksi gigi, dengan kejadian puncak dalam Usia grup 40-45-tahun. Kebanyakan penelitian menyatakan bahwa kejadian dry socket adalah 1% -4% untuk semua tindakan ekstraksi gigi, dan 5% - 30% terjadi pada rahang bawah molars ketiga. Insiden dry socket adalah lebih tinggi dalam mandibula, terjadi sampai 10 kali lebih sering untuk geraham rahang bawah dibandingkan dengan rahang atas molars. Biasanya, dry socket dimulai 1-3 hari setelah ekstraksi gigi dan durasi biasanya berkisar dari 5-10 hari. Gambaran klinis dry socket yang parah nyeri berdenyut

yang dimulai 24-72 jam setelah ekstraksi, ditandai halitosis, dan rasa busuk. Sweet dan Butler mengamati bahwa dry socket terjadi dalam 4,1% dari pasien wanita dibandingkan 0,5% laki-laki, dan Tjernberg melaporkan peningkatan 5 kali lipat kejadian dari kondisi tersebut pada wanita. (Sumber: Noroozi, ahmad Reza. Modern concepts in understanding and management of the dry socket syndrome: comprehensive review of the literature. Volume 107, Number 1. Januari 2009) 17. (Isriani Usla) hubungan penyakit sistemik dengan komplikasi pencabutan gigi yang dialami pasien antara lain adalah sebagai berikut: Penyakit kardiovaskular Pada penyakit kardiovaskular, denyut nadi pasien meningkat begitupun dengan tekanan darah pasien yang naik, menyebabkan bekuan darah yang sudah membentuk terdorong sehingga terjadi pendarahan. hipertensi Bila anastesi local yang kita lakukan menggunakan kandungan vasokonstriktor, pembuluh darah akan menyempit menyebabkan tekanan meningkat, pembuluh darah kecil akan pecah, sehingga terjadi pendarahan. hemofilli Pada pasien hemofilli A (hemofilli klasik) ditemukan defisiensi factor VIII. Pada hemofilli B (penyakit Christmas) terdapat defisiensi factor IX. Sedangkan pada non Willebrands disease teerjadi kegagalan pembentukan platelet, tetapi penyakit ini jarang ditemukan.

Diabetes Mellitus Bila DM tidak terkontrol akan terjadi gangguan sirkulasi perifer, sehingga penyembuhan luka akan berjalan lambat, fagositosis terganggu, PMN akan menurun, diapedesis dan kemotaksis juga terganggu karena hiperglikamia sehingga terjadi infeksi yang memudahkan terjadinya pendarahan.

Sumber: http://dentistrymolar.wordpress.com/2010/08/05/perdarahanpasca-ekstraksi-gigi-pencegahan-dan-penatalaksanaannya/