Anda di halaman 1dari 13

Sistem Kardiovaskular yang Berperan dalam Pengangkutan Zat-zat pada Tubuh Manusia serta Pemeriksaannya

Kevin Rianto Putra FK UKRIDA Jalan Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510 102011294 kaerpe_hehe@hotmail.com

Pendahuluan Sistem kardiovaskular merupakan sistem yang sangat krusial dalam kelangsungan hidup manusia. Sistem kardiovaskular memiliki komponen utama, yaitu jantung, pembuluh darah dan darah. Sepanjang hidup manusia jantung terus berdetak dan tidak pernah berhenti. Jantung merupakan pompa yang akan memompakan darah ke seluruh jaringan pada tubuh manusia. Darah mengalir di dalam pembuluh darah. Darah yang dipompakan mengandung zat-zat yang diperlukan oleh jaringan untuk menjalankan fungsinya dan akan membawa zatzat sisa dari jaringan untuk dibawa ke jantung, dipompakan ke paru dan akhirnya dikeluarkan dari tubuh. Mekanisme dan kerja jantung dapat diketahui dengan pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG).1 Tujuan penulisan tinjauan pustakan ini adalah untuk mengetahui mekanisme sistem kardiovaskular, struktur-struktur yang terlibat serta pemeriksaan EKG untuk mengetahui mekanisme dan kerja jantung. Penulis berharap tinjauan pustaka ini dapat memberikan manfaat bagi pembacanya. Penulis juga menerima kritik dan saran yang membangun atas tinjauan pustaka ini. Komponen Sistem Kardiovaskular Sistem kardiovaskular adalah sistem transpor tubuh, yang membawa gas-gas pernapasan, nutrisi, hotmon-hormon dan zar-zat lain dari dan ke jaringan tubuh. Sistem kardiovaskular memliki tiga komponen dasar, yaitu jantung, pembuluh darah dan darah.1 Jantung Jantung adalah organ berongga dan berotot seukuran dengan kepalan tangan pemilikinya. Jantung terletak di antara kedua paru pada rongga toraks sekitar garis tengah antara sternum dan vertebra. Jantung berfungsi sebagai pompa yang memberikan tekanan

pada darah untuk menghasilkan gradien tekanan yang dibutuhkan untuk mengalirkan darah ke jaringan.1 Ruang pada Jantung Jantung terdiri atas empat ruang, yaitu atrium kanan, atrium kiri, ventrikel kanan dan ventrikel kiri. Kedua atrium berfungsi untuk menerima darah yang kembali ke jantung dan memindahkannya ke ventrikel, yang akan memompa darah keluar dari jantung. Antara paruh kanan dan paruh kiri jantung dipisahkan oleh septum, yang merupakan suatu partisi berotot kontinyu yang mencegah pencampuran darah dari kedua sisi jantung. Dinding atrium relatif tipis. Atrium kanan berukuran lebih besar daripada atrium kiri. Ventrikel berdinding tebal.1,2 Katup pada Jantung Katup yang terdapat pada jantung memastikan darah mengalir ke satu arah. Katupkatup jantung terdiri atas katup atrioventrikularis kanan (trikuspidalis), katup

atrioventrikularis kiri (mitral), katup aorta dan katup arteri pulmonalis. Katup trikuspidalis dan katup mitral memisahkan atrium dengan ventrikel. Kedua katup ini membiarkan darah mengalir dari atrium ke dalam ventrikel selama pengisian ventrikel tetapi mencegah aliran balik darah ke dalam atrium sewaktu pengosongan ventrikel. Pada tepi daun katup atrioventrikularis diikat korda tendinae. Yang merupakan genjel fibrosa tipis kuat, jaringan tipe tendinosa. Korda tendinae mencegah katup atrioventrikularis membuka ke arah berlawanan ke dalam atrium. Korda tendinae melekat pada muskulus papilaris, yang menonjol dari permukaan dalam dinding ventrikel.1,3 Katup aorta dan katup arteri pulmonalis terletak pada pertemuan dimana arteri-arteri besar meninggalkan ventrikel. Katup-katup ini dikenal sebagai katup semilunar karena memiliki tiga daun katup yang masing-masing mirip kantung dangkal berbentuk bulan sabit. Katup yang tertutup mencegah darah mengalir dari arteri kembali ke ventrikel. Katup semilunar dicegah berbalik oleh struktur anatomis dan posisi daun katup.1,3 Otot dan Dinding Jantung Otot jantung berlurik-lurik dengan pola yang sama dengan pola yang terdapat pada otot rangka. Otot jantung mempunyai miofibril-miofibril tertentu yang mengandung filamen aktin dan miosin, yang hampir identik dengan filamen yang dijumpai pada otot rangka. Masing-masing sel otot jantung saling berhubungan, terletak bersisian satu dengan lainnya dalam suatu rangkaian membentuk serabut-serabut otot jantung. Di antara sel otot jantung satu dengan yang lainnya dipisahkan oleh diskus interkalaris. Pada setiap diskus interkalaris, terdapat desmosom yang secara mekanis menyatukan sel-sel otot jantung. Pada intervalinterval tertentu di sepanjang diskus interkalaris, membran yang saling berhadapan
2

membentuk gap junctions (taut-taut berhubungan) yang permeabel, yang memungkinkan difusi ion-ion secara hampir sepenuhnya bebas. Ion-ion tersebut dengan mudah bergerak dalam cairan intrasel sepanjang sumbu longitudinal otot jantung sehingga potensial aksi dapat berjalan dengan mudah dari sati sel otot jantung ke otot jantung yang lain.1,3 Dinding jantung terutama terdiri dari serat otot jantung yang tersusun seperti spiral. Dinding ini tersusun dari lapisan epikardium, miokardium dan endokardium. Epikardium merupakan suatu permukaan tipis yang membungkus jantung di bagian luar, tersusun atas lapisan sel-sel mesotelial yang berada di atas jaringan ikat. Miokardium merupakan bagian tengah dinding jantung yang terdiri dari jaringan otot jantung yang berkontraksi untuk memompa darah. Endokardium merupakan bagian permukaan dalam dinding jantung yang tersusun dari lapisan endotelial yang terletak di atas jaringan ikat. Lapisan ini melapisi jantung, katup, dan menyambung dengan lapisan endotelial yang melapisi pembuluh darah yang memasuki dan meninggalkan jantung.1,2 Pembungkus Jantung Jantung dan pembuluh darah besar dibungkus oleh kantung berdinding ganda yang dapat membesar dan mengecil yang disebut perikardium. Perikardium melekat pada diafragma, sternum dan pleura yang membungkus paru. Lapisan serosa dalam terdiri dari lapisan membran viseral dan membran parietal. Membran viseral menutupi permukaan jantung sedangkan membran parietal melapisi permukaan bagian dalam fibrosa perikardium. Ruang potensial antara membran parietal dan membran viseral disebut rongga perikardial, yang mengandung cairan perikardial yang disekresikan oleh lapisan serosa yang berfungsi sebagai pelumas untuk mencegah gesekan antara lapisan-lapisan perikardium serwaktu lapisan-lapisan tersebut bergesekan setiap kali jantung berdenyut.1,2 Pembuluh Darah Darah terus menerus mengaliri sistem sirkulasi yang berasal dari dan berakhir ke jantung melalui dua lengkung vaskular terpisah. Sirkulasi paru (pulmonalis) terdiri dari lengkung tertutup pembuluh-pembuluh yang mengangkut darah antara jantung dan paru. Sirkulasi sistemik adalah sirkuit pembuluh yang mengangkut darah antara jantung dan sistem tubuh lain. Rangkaian vaskular ini terdiri dari pembuluh-pembuluh darah yang berbeda mulai pada saat awal keluar jantung sampai berakhir ke jantung lagi. Pembuluh darah yang merangkai rangkaian vaskuler terdiri dari arteri, arteriol, kapiler, venula dan vena.1 Arteri

Arteri membawa darah dari jantung ke organ. Arteri berfungsi untuk mentranspor darah ke jaringan di bawah tekanan dan kecepatan yang tinggi sehingga darah dapat tiba di jaringan yang dituju dengan cepat. Arteri juga berfungsi sebagai reservoir (penampung) tekanan untuk menghasilkan gaya pendorong bagi darah ketika jantung dalam keadaan relaksasi. Arteri berjari-jari besar dan memiliki dinding pembuluh darah yang kuat karena mengandung banyak jaringan ikat elastik. Dinding arteri tersusun atas tiga lapisan yaitu, adventisia yang terdiri dari jaringan ikat fibrosa, media yang terdiri dari otot polos dan serabut elastis, dan intima yang terbentuk dari sel-sel endotel.1-3 Arteriol Ketika mencapai organ yang dituju, arteri bercabang menjadi banyak arteriol. Arteriol adalah pembuluh resistensi utama dalam rangkaian vaskular karena jari-jarinya cukup kecil untuk menghasilkan resistensi yang besar terhadap aliran darah. Tingginya resistensi arteriol menyebabkan penurunan tekanan darah yang mencolok. Penurunan tekanan ini membantu membentuk perbedaan tekanan yang mendorong darah mengalir dari jantung ke berbagai organ. Jari-jari arteriol yang mendarahi masing-masing organ dapat disesuaikan secara independen untuk mendistribusikan curah jantung di antara berbagai organ sistemik, bergantung pada kebutuhan sesaat tubuh dan membantu mengatur tekanan darah arteri.1 Dinding arteriol hanya mengandung sedikit jaringan ikat elastik. Namun, pembuluh ini memiliki lapisan otot polos yang tebal dan dipersarafi oleh serat saraf simpatis. Lapisan otot polos ini melingkar di sekitar arteriol. Ketika lapisan otot polos berkontraksi maka lingkaran pembuluh akan menjadi lebih kecil, meningkatkan resistensi dan mengurangi aliran melalui pembuluh. Peristiwa ini disebut dengan vasokonstriksi. Sementara, peningkatan keliling dan jari-jari pembuluh darah akibat melemasnya lapisan otot polos disebut dengan vasodilatasi. Vasodilatasi menyebabkan penurunan resistensi dan peningkatan aliran melalui pembuluh tersebut.1 Kapiler Kapiler merupakan tempat pertukaran bahan antara darah dan sel jaringan, bercabangcabang secara ekstensif untuk membawa darah agar dapat dijangkau oleh tiap sel. Kapiler memiliki dinding tipis, berjari-jari kecil, bercabang luas dan merupakan tempat ideal untuk meningkatkan difusi. Pembuluh ini memperkecil jarak difusi sembari memaksimalkan luas permukaan dan waktu yang tersedia untuk proses pertukaran. Karena luas permukaannya yang besar, maka aliran darah yang melewati kapiler akan melambat. Pertukaran antara darah dan jaringan tidak terjadi secara langsung. Cairan interstitium bekerja sebagai perantara. Pertukaran antara darah dan jaringan sekitar melewati dinding kapiler berlangsung melalui
4

cara difusi pasif menuruni gradien konsentrasi dan cara bulk flow. Bulk flow terjadi karena perbedaan dalam tekanan hidrostatik dan osmotik antara plasma dan cairan interstitium. Ketika tekanan di dalam kapiler melebihi tekanan di luar maka cairan terdorong keluar melalui pori dalam suatu proses yang dikenal sebagai ultrafiltrasi. Ketika tekanan yang mengarah ke dalam melebihi tekanan keluar maka terjadi perpindahan cairan masuk cairan interstitium ke dalam kapiler melalui pori, suatu proses yang dikenal sebagai reabsorbsi.1 Venula dan Vena Darah yang meninggalkan jaringan kapiler masuk ke sistem vena untuk dikembalikan ke jantung. Kapiler mengeluarkan isinya ke dalam venula yang secara progresif menyatu untuk membentuk vena kecil yang keluar dari organ. Vena memiliki jari-jari besar. Selain berfungsi untuk mengembalikan darah dari jaringan ke jantung, vena juga berfungsi sebagai reservoir darah. Ketika kebutuhan darah rendah, vena dapat menyimpan kelebihan darah sebagai cadangan. Karena kapasitas penyimpanannya, vena sering disebut pembuluh darah penyimpan. Vena memiliki dinding yang jauh lebih tipis dan lebih sedikit otot polos dibandingkan dengan arteri. Vena juga memiliki daya elastisitas yang lebih rendah dari arteri karena jaringan ikat vena lebih banyak mengandung serat kolagen daripada elastin.1 Darah Darah merupakan medium pengangkut tempat larut atau tersuspensinya bahan-bahan (O2, CO2, nutrien, zat sisa, elektrolit dan hormon) yang akan diangkut jarak jauh ke berbagai bagian tubuh. Darah terdiri atas eritrosit, leukosit dan trombosit yang terendam dalam plasma darah cair. Volume darah manusia lebih kurang 5 liter. Eritrosit mencakup 45% volume, leukosit dan trombosit 1% dan sisanya plasma darah.1,4 Eritrosit Eritrosit adalah sel datar berbentuk piringan yang mencekung di bagian tengah di kedua sisi. Struktur eritrosit sangat sesuai dalam fungsi utamanya mengangkut O2 dalam darah karena bentuk bikonkaf menghasilkan luas permukaan yang lebih besar untuk difusi O2 menembus membran dibandingkan dengan bentuk sel bulat dengan volume yang sama. Selain itu, tipisnya sel memungkinkan O2 cepat berdifusi antara bagian paling dalam dan eksterior sel. Eritrosit memberikan warna merah pada darah dan mengandung hemoglobin. Untuk memaksilkan kandungan hemoglobinnya, satu eritrosit dipenuhi oleh lebih dari 250 juta molekul hemoglobin, menyingkitkan hampir semua organel lain. Oleh karena itu, eritrosit tidak mengandung nukleus, organel ataupun ribosom. Eritrosit juga berperan dalam pengangkutan karbon dioksida dari jaringan dan dalam pengaturan pH darah. Jumlah eritrosit
5

normal pada laki-laki dewasa adalah 5,4 juta per milimeter kubik darah dan 4,8 juta per milimeter kubik darah pada perempuan dewasa.1,2,4 Leukosit Leukosit memiliki nukleus dan tidak berwarna dalam keadaan segar. Bentuknya bulat dalam peredaran darah. Leukosit digolongkan sebagai leukosit granular dan leukosit agranular, tergantung ada tidaknya granul spesifik dalam sitoplasmanya. Leukosit granular mencakup eosinofil, basofil dan neutrofil. Eosinofil, basofil dan neutrofil juga termasuk dalam polimorfonukleus (bentuk inti beragam). Leukosit agranular mencakup limfosit dan monosit. Limfosit dan monosit termasuk dalam mononukleus (satu inti). Fungsi utama leukosit adalah untuk sistem imunitas. Jumlah leukosit dalam sistem peredaran darah berkisar antara 5.000 9.000 per milimeter kubik darah.1,4 Trombosit Trombosit adalah badan kecil tanpa nukleus dan tidak berwarna. Trombosit berfungsi untuk pembekuan darah pada tempat cedera pembuluh darah dan berfungsi mencegah kehilangan darah berlebih. Jumlah trombosit berkisar antara 150.000 350.000 per milimeter kubik darah. Trombosit tidak memiliki nukleus, namun trombosit memiliki organel dan enzim sitosol. Trombosit juga banyak mengandung aktin dan miosin yang menyebabkan trombosit dapat berkontraksi.1,4 Plasma Darah Plasma darah adalah matriks cair yang menampung sel-sel darah dan mengandung sejumlah protein penting secara fisiologis. Bila darah membeku dan bekuan itu mengkerut, beberapa protein plasma besar terperangkap dalam bekuan darah. Cairan yang tertinggal disebut serum darah. Plasma terdiri dari 90% air dan mengandung campuran kompleks zat organik dan anorganik. Protein plasma merupakan unsur pokok plasma yang tidak dapat menembus membran kapiler untuk mencapai sel. Protein plasma dibagi menjadi albumin, globulin dan fibrinogen. Plasma juga mengandung nutrien, gas darah, elektrolit, mineral, hormon, vitamin dan zat-zat sisa.2,4 Albumin, dengan berat molekul 50.000, adalah protein plasma terkecil dan terbanyak. Albumin disintesis di hati dan berfungsi untuk mempertahankan tekanan koloid osmotik darah sehingga mencegah rembesnya cairan berlebih ke dalam matriks ekstrasel jaringan. Albumin juga berperan penting dalam mentranspor molekul kecil dalam darah.4 Globulin adalah protein dengan berat molekul 80.000 sampai sejuta lebih. Globulin dibagi menjadi globulin-, globulin- dan globulin-. Globulin- dan globulin- secara

reversibel bergabung dengan berbagai substansi dan berfungsi sebagai wahana transpor. Globulin- mencakup antibodi dari sistem imun.4 Fibrinogen disintesis di hati dan merupakan komponen esensial dalam pembekuan darah.
2

Sirkuit Lengkap Aliran Darah Sisi kanan dan kiri jantung berfungsi sebagai dua pompa terpisah. Darah yang kembali dari sirkulasi sistemik melalui dua vena cava, vena cava superior dan vena cava inferior. Vena cava superior mengembalikan darah yang berasal dari level di atas jantung dan vena cava inferior mengembalikan darah yang berasal dari level di bawah jantung. Darah yang masuk ini membawa CO2. Darah ini lalu mengalir dari atrium kanan ke ventrikel kanan, yang memompanya keluar menuju arteri pulmonalis, yang segera bercabang dan masingmasing berjalan ke paru kanan dan paru kiri.1 Di dalam paru, CO2 dari darah diserap dan darah kembali menerima O2. Setelah itu, darah tersebut dikembalikan ke atrium kiri jantung melalui vena pulmonalis. Darah yang kaya O2 ini selanjutnya mengalir ke dalam ventrikel kiri. Pada ventrikel kiri darah dipompa keluar ke seluruh tubuh kecuali paru melalui aorta. Aorta bercabang-cabang menjadi arteri yang mendarahi berbagai organ tubuh. Darah dari ventrikel kiri ini terdistribusi sedemikian sehingga setiap bagian tubuh menerima darah segar, darah arteri yang sama tidak mengalir dari organ ke organ. Sel-sel jaringan di dalam organ tersebut menyerap O2 dari darah dan mendifusikan CO2 ke dalam darah yang akan membawanya ke sisi kanan jantung.1 Aktivitas Listrik di Jantung Kontraksi sel otot jantung untuk menyemprotkan darah dipicu oleh potensial aksi yang menyapu ke seluruh membran sel otot. Jantung berkontraksi, atau berdenyut, secara ritmis akibat potensial aksi yang dihasilkannya sendiri, yang dinamakan otoritmisitas. Sel otot jantung terdiri dari sel kontraktil dan sel otoritmik. Sel kontraktil melakukan kerja mekanis memompa darah. Sel-sel ini dalam keadaan normal tidak membentuk potensial aksinya sendiri. Sel otoritmik tidak berkontraksi namun khusus memulai dan menghantarkan potensial aksi yang menyebabkan kontraksi sel-sel jantung kontraktil.1 Sel otoritmik jantung tidak memiliki potensial istirahat. Sel-sel ini memperlihatkan aktivitas pemacu, yaitu potensial membrannya secara perlahan terdepolarisasi antara potensial-potensial aksi sampai ambang tercapai, saat membran mengalami potensial aksi. Depolarisasi lambat potensial membran sel otoritmik ke ambang disebut potensial pemacu.

Melalui siklus berulang ini, sel-sel otoritmik memicu potensial aksi, yang kemudian menyebar ke seluruh jantung untuk memicu denyut berirama tanpa rangsangan saraf apapun.1 Potensial pemicu ditimbulkan oleh dua mekanisme perpindahan ion, yaitu penurunan arus K keluar yang disertai dengan masuknya arus Na+ secara konstan, dan peningkatan arus Ca2+ yang masuk.1 Fase awal depolarisasi lambat ke ambang disebabkan oleh penurunan siklis K+ keluar disertai kebocoran Na+ ke dalam yang berlangsung lambat dan konstan. Di sel otoritmik jantung, permeabilitas K+ tidak tetap di antara potensial aksi seperti di sel saraf dan sel otot rangka. Permeabilitas membran terhadap K+ menurun di antara dua potensial aksi karena saluran K+ secara perlahan menutup pada potensial negatif. Penutupan lambat ini secara bertahap mengurangi aliran keluar ion positif kalium mengikuti penurunan gradien konsentrasinya.1 Sel otoritmik jantung juga tidak memiliki saluran Na+ berpintu voltase. Sel-sel ini memiliki saluran yang selalu terbuka sehingga terjandi pemasukan pasif Na+ dalam jumlah kecil dan konstan pada saat yang sama ketika kecepatan pengeluaran K+ secara perlahan berkurang. Oleh karena itu, bagian dalam menjadi kurang negatif, mengakibatkan membran secara bertahap mengalami depolarisasi dan bergeser menuju ambang.1 Pada paruh kedua potensial pemacu, suatu saluran Ca2+ transien (Saluran Ca2+ tipe T), yang merupakan saluran Ca2+ bepintu voltase membuka. Sewaktu depolarisasi lambat berlanjut, saluran ini terbuka sebelum membran mencapai ambang. Pemasukan singkat Ca2+ yang terjadi semakin mendepolarisasi membran, membawanya ke ambang.1 Ketika ambang telah tercapai, terbentuk fase naik potensial aksi sebagai respons terhadap pengaktifan saluran Ca2+ berpintu voltase yang berlangsung lebih lama (Saluran Ca2+ tipe L) dan diikuti oleh pemasukan Ca2+ dalam jumlah besar. Fase turun disebabkan oleh pengeluaran K+ yang terjadi ketika permeabilitas K+ meningkat akibat pengaktifan saluran K+ berpintu voltase. Setelah potensial aksi selesai, terjadi depolarisasi lambat berikutnya menuju ambang akibat penutupan saluran K+ secara perlahan.1 Sel-sel jantung non-kontraktil yang mampu melakukan otoritmisitas terletak pada nodus sinuatrialis (nodus SA), nodus atrioventrikularis (nodus AV), berkas His (berkas atrioventrikularis) dan serat purkinje. Nodus SA adalah suatu daerah kecil khusus di dinding atrium kanan dekat pintu masuk vena cava superior. Sel-sel jantung dengan kecepatan inisiasi potensial aksi tertinggi terdapat pada nodus SA. Sekali suatu potensial aksi terbentuk di salah satu sel otot jantung maka potensial tersebut akan disebarkan ke seluruh miokardium melalui gap junctions dan sistem penghantar khusus. Nodus SA yang dalam keadaan normal
8
+

memiliki laju otoritmisitas tertinggi mengendalikan irama jantung, sehingga disebut sebagai pemacu jantung. Nodus AV adalah suatu berkas kecil sel-sel otot jantung khusus yang terletak di dasar atrium kanan dekat septum, tepat di atas pertemuan atrium dan ventrikel. Berkas His adalah suatu jaras sel-sel khusus yang berasal dari nodus AV dan masuk ke septum antarventrikel. Serat Purkinje adalah serat-serat halus terminal yang menjulur dari berkas His dan menyebar ke seluruh miokardium ventrikel.1,2 Siklus Jantung Siklus jantung merupakan peristiwa yang terjadi pada jantung berawal dari permulaan sebuah denyut jantung sampai permulaan denyut jantung berikutnya. Siklus jantung mencakup periode akhir kontraksi (sistole) dan relaksasi (sistole) jantung sampai akhir sistole dan diastole berikutnya. Kontraksi jantung mengakibatkan perubahan tekanan dan volume darah dalam jantung dan pembuluh utama yang mengatur pembukaan dan penutupan katup jantung serta aliran darah yang melalui ruang-ruang dan masuk ke arteri.2,3 Peristiwa Mekanik dalam Siklus Jantung Selama masa diastole (relaksasi), tekanan darah atrium dan ventrikel sama-sama rendah, namun tekanan atrium lebih besar dari tekanan ventrikel. Atrium secara pasif menerima darah dari vena dan pada keadaan normal sekitar 80% darah mengalir melewati atrium masuk ke ventrikel melalui katup AV yang terbuka. Tekanan ventrikel mulai meningkat saat ventrikel mengembang untuk menerima darah yang masuk. Katup semilunar aorta dan arteri pulmonalis menutup karena tekanan dalam pembuluh lebih besar daripada tekanan dalam ventrikel.2,3 Pada akhir diastole ventrikular, nodus SA melepas impuls, atrium berkontraksi dan peningkatan tekanan dalam atrium mendorong tambahan darah sebanyak 20% ke dalam ventrikel. Volume darah dalam setiap ventrikel di akhir diastole disebut dengan volume diastole akhir (VDA). Volume normalnya sekitar 120 ml.2,3 Aliran listrik menjalar ke ventrikel dan ventrikel mulai berkontraksi sehingga tekanan dalam ventrikel meningkat dengan tiba-tiba. Hal ini menyebabkan katup AV menutup. Ventrikel kemudian menjadi rongga tertutup dan volume darah tidak dapat berubah, yang disebut periode kontraksi isovolumetrik.2,3 Jika kontraksi ventrikular tetap berlanjut, tekanan akan meningkat dengan cepat sampai 80 mmHg pada ventrikel kiri dan sekitar 8 mmHg pada ventrikel kanan, mendorong katup semilunar aorta dan arteri pulmonalis untuk terbuka. Pada saat ini dimulailah ejeksi darah. Sekitar 70% dari proses pengosongan darah terjadi dalam sepertiga pertama dari
9

periode ejeksi dan 30% sisanya terjadi selama dua pertiga berikutnya. Oleh karena itu, waktu sepertiga yang pertama disebut sebagai periode ejeksi cepat dan waktu dua pertiga yang terakhir disebut sebagai periode ejeksi lambat.1-3 Ventrikel tidak mengosongkan isinya secara sempurna selama fase ejeksi. Jumlah darah yang tertinggal di ventrikel pada akhir sistole ketika ejeksi selesai disebut volume sistolik akhir (VSA). Sementara, jumlah darah yang dipompa keluar dari masing-masing ventrikel disebut dengan isi sekuncup (IS). Isi sekuncup juga bisa diartikan sebagai perbedaan antara volume darah di ventrikel sebelum kontraksi dengan volume darah setelah kontraksi ( VDA VSA = IS ).1,2 Pada akhir sistolik, relaksasi ventrikel mulai terjadi secara tiba-tiba, sehingga tekanan intraventrikel menurun dengan cepat sampai di bawah tekanan aorta dan truncus pulmonar. Hal ini menyebabkan katup semilunar tertutup. Akibat penutupan katup semilunar aorta, tekanan aorta meningkat secara singkat. Ventrikel kembali menjadi rongga tertutup dalam periode relaksasi isovolumetrik karena katup masuk dan keluar menutup. Jika tekanan dalam ventrikel menurun tajam di bawah tekanan atrium, katup AV membuka dan siklus jantung dimulai kembali.2,3 Frekuensi Jantung Frekuensi jantung normal berkisar antara 60-100 denyut per menit, dengan rata-rata denyutan 75 kali per menit. Dengan kecepatan seperti itu, siklus jantung berlangsung selama 0,8 detik (sistole 0,5 detik dan distole 0,3 detik).2 Curah Jantung Curah jantung adalah volume darah yang dipompa oleh masing-masing ventrikel per menit. Selama suatu periode waktu, volume darah yang mengalir melalui sirkulasi pulmonar sama dengan volume darah yang mengalir melalui sirkulasi sistemik. Karena itu, curah jantung dari masing-masing ventrikel normalnya sama, meskipun dari denyut per denyut dapat terjadi variasi ringan. Curah jantung terkadang disebut sebagai volume jantung per menit. Volumenya kurang lebih 5L per menit pada laki-laki dan kurang 20% pada perempuan berukuran rata-rata.1,2 Curah jantung bergantung pada kecepatan jantung (denyut per menit) dan isi sekuncup. Cara perhitungan curah jantung adalah dengan cara mengalikan kecepatan jantung dengan isi sekuncup ( curah jantung = kecepatan jantung x isi sekuncup ). Pada aktivitas berat, curah jantung dapat meningkat. Kemampuan jantung untuk meningkatkan curahnya disebut dengan cadangan jantung.1,2
10

Aliran balik vena ke jantung dapat membuat jantung mampu menyesuaikan input dengan outputnya. Peningkatan aliran balik vena akan meningkatkan volume akhir diastolik. Peningkatan volume diastolik akhir akan mengembangkan serabut miokardium ventrikel. Semakin banyak serabut otot jantung yang mengembang pada permulaan kontraksi, semakin banyak isi ventrikel, sehingga daya kontraksi semakin besar. Hal ini disebut Hukum FrankStarling untuk jantung.2 Elektrokardiogram Elektrokardiogram (EKG) adalah rekaman grafik aktivitas listrik yang menyertai kontraksi atrium dan ventrikel jantung. Depolarisasi dan polarisasi otot jantung menghasilkan daya potensial pada permukaan kulit yang dapat direkam melalui sebuah poligraf atau osiloskop setelah melekatkan elektroda pada lokasi permukaan tubuh yang tepat. Posisi elektroda berhubungan satu sama lain dan terhadap jantung disebut sadapan. Ada 12 sadapan konvensional yang dipakai dalam merekam EKG.2 3 sadapan tungkai standar meliputi lengan kanan terhadap lengan kiri, lengan kanan terhadap tungkai kiri dan lengan kiri terhadap tungkai kiri. Sadapan ini bipolar karena dapat mendeteksi variasi gelombang listrik sebagai dua titik dan memperlihatkan perbedaannya. 3 sadapan tungkai modifikasi diperkuat dengan hubungan listrik yang mengakibatkan defleksi peningkatan amplitudo. Sadapan ini unipolar karena hanya dapat mendata perubahan voltase di salah satu titik, asalkan titik lain tidak menunjukkan perubahan aktivitas listrik yang berarti selama kontraksi jantung berlangsung. Sadapan prekordial unipolar merekam data pada 6 posisi dada, yaitu V1 sampai V6.2 EKG normal terdiri atas sebuah gelombang P, sebuah kompleks QRS dan sebuah gelombang T. Gelombang P disebabkan oleh potensial listrik yang dicetuskan sewaktu atrium berdepolarisasi sebelum kontraksi atrium dimulai. Gelombang P dapat dikatakan terjadi pada permulaan kontraksi atrium. Kompleks QRS disebabkan oleh potensial listrik yang dicetuskan sewaktu ventrikel berdepolarisasi sebelum berkontraksi, yaitu sewaktu gelombang depolarisasi menyebar melalui ventrikel. Kompleks QRS dapat dikatakan terjadi pada permulaan kontraksi ventrikel. Gelombang T memperlihatkan repolarisasi ventrikel. Durasi gelombang ini lebih panjang dan amplitudonya lebih rendah dibandingkan gelombang depolarisasi (kompleks QRS) yang menunjukkan bahwa repolarisasi berlangsung tidak selaras dan lebih lambat daripada depolarisasi.2,3

11

Pada EKG juga dapat diketahui interval P-R. Interval P-R adalah rentang waktu antara gelombang P sampai permulaan gelombang QRS. Interval ini mewakili jeda waktu antara aktivasi nodus SA dan permulaan depolarisasi ventrikel.2 Enzim Kardiovaskular Enzim jantung atau enzim kardiovaskuler terbagi menjadi enzim fungsional dan enzim nonfungsional. Enzim fungsional umumnya dibuat di dalam hati dan terdapat dalam sirkulasi darah (berfungsi di dalam plasma, bekerja di dalam darah), namun kadarnya lebih tinggi di dalam jaringan. Substratnya juga dalam sirkulasi, sifatnya kontinu atau intermiten (dalam keadaan tertentu baru aktif). Contoh dari enzim fungsional antara lain, lipoprotein lipase, pseudocholinesterase, proenzim pembekuan darah dan pemecahan bekuan darah.5 Bila enzim fungsional berfungsi dalam darah maka sesuai namanya enzim nonfungsional tidak berfungi di dalam darah. Substratnya pun tidak terdapat di dalam darah. Terbalik dengan fungsional, kadar enzim inipun kurang di dalam jaringan. Contoh-contoh dari enzim ini antara-lain : Sekresi eksokrin, amilase pankreas, lipase, alkaline fosfatase, fosfatase asam prostat (PAP), empedu. Enzim intrasel nonfungsional tidak ada dalam sirkulasi darah. Apabila dalam plasma kadarnya lebih besar daripada normal, ada indikasi pada kerusakan/kematian sel, enzim ini berdifusi pasif kedalam plasma. Selain itu pada latihan fisik yang berat, pelepasan enzim otot akan semakin besar.5 Sistem Limfatik Sistem limfatik adalah komponen tambahan sistem sirkulasi. Sistem ini terdiri dari organ-organ yang memproduksi dan menyimpan limfosit, suatu cairan yang bersirkulasi (limfe), yang merupakan derivat cairan jaringan dan pembuluh-pembuluh limfatik yang mengembalikan limfe ke sirkulasi.2 Anatomi Sistem Limfatik Pembuluh limfatik berasal dari kantung tertutup mikroskopik yang disebut kapiler limfatik. Kapiler limfatik berukuran lebih besar dan lebih tidak beraturan dibandingkan dengan kapiler darah, tetapi struktur dasarnya sama. Dalam kapiler limfatik mengalir cairan jaringan yang disebut dengan limfe.2 Limfe mengalir dari kapiler limfatik utama menuju limfatik penampung, selanjutnya masuk ke pembuluh yang lebih besar yang akan bergabung untuk membentuk trunkus limfatik utama. Duktus thoraks adalah trunkus limfatik utama yang mengumpulkan cairan dari seluruh tubuh, kecuali untuk kuadran kanan atas. Duktus ini memasuki vena subclavia kiri pada sisi pertemuan vena tersebut dengan vena jugularis interna.2
12

Duktus limfatik kanan adalah trunkus limfatik yang lebih kecil. Saluran ini bermuara pada pertemuan vena jugularis interna dan vena subclavia kanan. Duktus ini menerima aliran limfe dari sisi kanan kepala dan leher serta lengan kanan. Trunkus bronkomediastinal kanan menampung limfe dari struktur mediastinal dan paru-paru, kemudian menyatu dengan duktus limfatik kanan.2 Fungsi Sistem Limfatik Sistem limfatik memiliki beberapa fungsi. Sistem ini berfungsi untuk mengembalikan kelebihan cairan jaringan yang keluar dari kapiler. Jika cairan tidak dikeluarkan, maka cairan tersebut akan terkumpul dalam ruang antar sel dan mengakibatkan edema; Sistem limfatik juga berperan dalam mengembalikan protein plasma ke dalam sirkulasi. Setiap protein plasma yang keluar dari kapiler menuju ruang antar jaringan direabsorbsi ke dalam pembuluh limfe. Jika protein dibiarkan terakumulasi, maka tekanan osmotik cairan jaringan akan meningkat dan mengacaukan dinamika kapiler; Pembuluh limfatik khusus memiliki fungsi untuk mentranspor nutrien yang terabsorbsi terutama lemak dari sistem pencernaan ke darah; Sistem limfatik juga berfungsi dalam mengeluarkan zat-zat toksik dan debris selular dari jaringan setelah infeksi atau kerusakan jaringan; Sistem limfatik mengendalikan kualitas aliran cairan jaringan dengan cara menyaringnya melalui nodus-nodus limfe sebelum mengembalikannya ke sirkulasi.2 Kesimpulan Jantung, darah dan pembuluh darah merupakan komponen utama dalam sistem kardiovaskular yang sangat penting dalam hidup manusia. Pemeriksaan EKG dapat digunakan untuk mengetahui mekanisme dan kerja jantung. Daftar Pustaka 1. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Ed 6. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2011 2. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2003 3. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Ed 11. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007 4. Fawcett DW, Bloom. Buku ajar histologi. Ed 12. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2002 5. Unqueira, Luiz Carlos. Histologi dasar : teks dan atlas. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.
13