Anda di halaman 1dari 20

PRARANCANGAN PABRIK BIOETANOL DARI MOLASSES KAPASITAS 9.000 TON/TAHUN (11.200 KL/TAHUN) BAB I STRATEGI PERANCANGAN 1.

1 Latar Belakang Pada dekade terakhir, aktivitas manusia sudah bergantung akan ketersediaan energi. Hal ini diakibatkan oleh pesatnya perkembangan sektor industri dan teknologi sehingga pola hidup masyarakat menjadi urban, khususnya Indonesia. Selama periode tahun 1990-2008, peningkatan konsumsi energi Indonesia merata pada berbagai sektor, yaitu pada sektor industri 5.57%, rumahtangga 1.87%, transportasi 5.31%, pertanian 2.66%, serta sektor lainnya 8.72% (Elinur dkk., 2010). Menurut Pusat Data dan Informasi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2011, dilaporkan bahwa konsumsi bahan bakar minyak Indonesia selama tahun 2010 menduduki peringkat 19 dunia, yaitu mencapai 476.13 miliar barrel/tahun (1304 barrel/hari), namun hal ini tidak diimbangi oleh produksi minyak Indonesia selama tahun 2010, yang hanya menduduki peringkat 22 dunia, yaitu mencapai 359.95 miliar barrel/tahun (986.0 barrel/hari). Kondisi ini menyebabkan neraca ketersediaan energi fosil Indonesia negatif, yang menyebabkan Indonesia saat ini menjadi net importir minyak mentah dan produk-produk turunannya serta memiliki kecenderungan yang besar mengalami krisis energi. Ketergantungan akan penggunaan bahan bakar fosil (fossil fuel) setidaknya memunculkan dua ancaman serius: (1) faktor ekonomi, berupa jaminan ketersediaan bahan bakar fosil untuk beberapa dekade mendatang, terkait dengan suplai, harga, dan fluktuasinya (2) faktor lingkungan, berupa polusi akibat emisi pembakaran bahan bakar fosil ke lingkungan. Melihat kondisi tersebut, pemerintah telah mengumumkan rencana untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada bahan bakar minyak, dengan meluncurkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti Bahan Bakar Minyak. Walapun kebijakan tersebut menekankan penggunaan batu bara dan gas sebagai pengganti BBM, kebijakan tersebut juga menetapkan sumber daya yang dapat diperbaharui seperti bahan bakar nabati sebagai alternatif pengganti BBM.

Bahan bakar nabati sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia karena bahan bakunya yang melimpah. Selain itu, untuk biodiesel dan bioetanol Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk memproduksinya secara komersial, mengingat kedua bahan bakar nabati ini dapat memanfaatkan kondisi geografis Indonesia, sehingga ketersediaan bahan baku dapat dipenuhi. Bioetanol (C2H5OH) dikenal sebagai bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak premium yang ramah lingkungan karena bersih dari emisi bahan pencemar. Bioetanol merupakan hasil fermentasi biomassa dari berbagai bahan baku, seperti bahan baku yang berbasis gula, pati dan etilen, dengan menggunakan bantuan mikroorganisme. Bahan baku yang berbasis gula lebih menguntungkan dalam memproduksi bioetanol secara massal, karena gula tidak memerlukan pre-treatment sebelum proses fermentasi dibandingkan dengan bahan baku lainnya. Contoh bahan baku yang berbasis gula seperti, tebu, gula bit, sorgum, dan molases. Molases lebih dipilih karena selain merupakan limbah proses sisa pengkristalan gula, ketersediaan molases juga cukup melimpah didukung oleh banyaknya jumlah pabrik gula di Indonesia. Molasses atau disebut juga gula tetes merupakan salah satu produk utama setelah gula pasir. Molasses mengandung gula sekitar 50% - 60% dan sejumlah asam amino dan mineral dihasilkan dari bermacam-macam tingkat pengolahan dari tebu menjadi gula. Produksi molasses mempunyai pangsa pasar yang relatif besar di dalam dan luar negeri. Sebagian besar dari produksi molasses laku terjual dengan harga Rp. 1.200 per kilogram. Pembuatan bioetanol dari bahan baku molases dapat diproduksi melalui proses fermentasi anaerob dengan bantuan bakteri Saccharomyces cereviseae. Secara umum etanol/bioetanol dapat digunakan sebagai bahan baku industri turunan alkohol, campuran untuk miras, bahan dasar industri farmasi, dan campuran bahan bakar untuk kendaraan (Nurdyastuti, 2006). Mengingat pemanfaatan bioetanol beraneka ragam sehingga grade etanol yang dimanfaatkan pun harus berbeda sesuai dengan penggunaanya. Secara umum, bioetanol dapat diaplikasikan pada berbagai sektor, yaitu : 1. Kadar 60% s/d 70%, sebagai substitusi produk alkohol (industri farmasi) sebagai substitusi Bahan Bakar Minyak jenis minyak tanah 2. Kadar 70% s/d 80%, sebagai substitusi produk alkohol (industri farmasi) 3. Kadar 70% s/d 90%, sebagai bahan pendukung produksi makanan & minuman

4. Kadar 99,5% sebagai substitusi Bahan Bakar Minyak jenis bensin. 1.2 Pemilihan Kapasitas Perancangan Pemilihan kapasitas pabrik bioethanol dari molasses ini didasarkan pada beberapa pertimbangan, yaitu: 1. Kebutuhan bioethanol dalam negeri Tabel 1.1 Perkembangan Kebutuhan dan Suplai Bioetanol Indonesia (satuan ton/tahun) Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Produksi 36.455,545 42.171,204 40.814,71 45.354,742 48.154,742 Ekspor 3.017,91 4.847,82 7.831,01 11.740,17 14.294,803 Impor 60,08 69,292 122,303 134,359 1260,053

Dari tabel diatas dapat diprediksi kondisi pada tahun 2015, dimana untuk memprediksi produksi tahun 2015 sebagai berikut.

Gambar 1.1 Hubungan Antara Tahun vs Produksi Bioetanol Dari gambar 1.1, pada batasan tahun 2003 sampai 2007 didapatkan hubungan antara tahun vs produksi etanol nasional dengan persamaan y = 2658,2x 5E+06, maka dengan persamaan itu dapat diperkiraan kapasitas nasional produksi etanol pada tahun 2015 sebesar 70.000 ton/tahun.

Gambar 1.2 Grafik Hubungan Antara Tahun vs Impor Bioetanol Dari gambar 1.2, pada batasan tahun 2003 sampai 2007 didapatkan hubungan antara tahun vs impor etanol dengan persamaan y = 246,5x - 493906. Dengan persamaan tersebut dapat diperkirakan pada tahun 2015 impor etanol mengalami kenaikan sebesar 2.800 ton/tahun.

Gambar 1.3 Grafik Hubungan Antara Tahun vs Ekspor Bioetanol

Dari gambar 1.3, pada batasan tahun 2003 sampai 2007 didapatkan hubungan antara tahun vs ekspor etanol dengan persamaan y = 2944,6x 6E+06. Dengan persamaan tersebut, pada tahun 2015 dapat diperkirakan ekspor etanol sebesar 37.500 ton/tahun. Kebutuhan etanol dalam negeri Produksi etanol + Impor etanol Ekspor Etanol = 70.000 + 2.800 37.500 = 35.300 ton/ tahun Dapat diketahui bahwa perkiraan pada tahun 2015 jumlah produksi etanol nasional lebih besar dari kebutuhan etanol nasional. Sehingga pabrik etanol yang akan didirikan ini sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan etanol dalam negeri dan sebagian kecil untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Kapasitas produksi dari pabrik baru yang akan didirikan ini hanya berkemampuan memenuhi 25% dari produksi etanol dalam negeri pada tahun 2015. Maka didapatkan kapasitas produksi pabrik baru sebesar : Kapasitas produksi pabrik baru = 25% x 35.500 = 8.825 ton/tahun 9.000 ton/tahun Pengambilan kapasitas tersebut dengan mempertimbangkan diprediksinya akan didirikan pabrik alkohol absolut yang lain sehingga mampu memenuhi kebutuhan nasional dalam rangka menjalankan program pemerintah sesuai road map. Tabel 1.2 Perusahaan Etanol yang telah Beroperasi di Indonesia Nama Perusahaan PT Basis Indah PT Bukitmanikam Subur Persada PT Indo Acidama Chemical PT Madu Baru PT Medco Ethanol Indonesia B2TP, BPPT PT Indo Lampung Distillery PT Basis Indah Lokasi Sulawesi Lampung Surakarta Yogyakarta Lampung Lampung Lampung Makassar Kapasitas Produksi (kL/tahun) 1.600 51.282 42.000 6.820 60.000 30 60.000 1.600

PT Molindo Raya Industrial PT PN XI PT Rhodia Manyar PT RNI & ChoiBiofuel Co. PT Sampurna 2. Road map pemanfaatan biofuel

Malang Jati roto Gresik Pasuruan Ponorogo

10.000 6.000 11.000 11.200 16.800

Indonesia pada tahun 2011-2015 membutuhkan 2,78 juta kL bioethanol sebagai konsumsi 10% Gasoline (Ditjen Migas 2009)

3. Ketersediaan bahan baku Bahan baku yang berupa tetes tebu (molasses) dapat diperoleh dari beberapa pabrik gula PTP Nusantara IX (kawasan Solo-Semarang) dengan jumlah 13 unit pabrik gula kapasitas tetes tebu 99.580 ton/tahun (PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara). 1.3 Pemilihan Lokasi Pabrik Salah satu hal yang dapat menentukan tingkat keberhasilan pabrik adalah penentuan lokas pabrik. Pemilihan lokasi pabrik merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan dan kelangsungan hidup suatu pabrik. Untuk itu sebelum pabrik berdiri perlu dilakukan studi kelayakan untukmempertimbangkan faktor-faktor penunjang yang mendukung kelangsungan pabrik tersebut. Adapun faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah: 1. Penyediaan bahan baku, 2. Penyediaan listrik dan bahan bakar, 3. Penyediaan air, 4. Transportasi, 5. Tenaga kerja. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut di atas maka lokasi pabrik etil alkohol ditetapkan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dengan alasan: 1. Penyediaan bahan baku

Lokasi pabrik dipilih mendekati sumber bahan baku untuk mengurangi biaya transportasi dan kehilangan bahan baku dalam transportasi. Bahan baku tetes tebu diperoleh dari pabrik gula kawasan Solo-Semarang. 2. Penyediaan listrik Kebutuhan listrik dapat dipenuhi dengan menyediakan genset sendiri. Sehingga sewaktuwaktu terjadi gangguan listrik dari PLN maka pabrik tidak mengalami kerugian sebagai akibat terhentinya produksi. 3. Penyediaan air Di daerah Karanganyar, air untuk proses cukup tersedia karena dekat dengan sungai Bengawan Solo. 4. Transportasi Transportasi memadai sehinga akan mempermudah pengangkutan bahan baku dan produk. 5. Tenaga kerja Tenaga kerja di daerah Jawa sehingga akan dengan didirikannya pabrik akan mampu menyerap tenaga kerja dan menunjang program pemerintah untuk mengurangi pengangguran. 1.4 Tinjauan Pustaka 1.4.1 Pembuatan etanol Etanol untuk kebutuhan industri dapat dibuat secara fermentasi dari karbohidrat, yang produknya disebut sebagai bioetanol; atau hasil reaksi kimia dengan cara hidrasi ethylene, memakai katalis asam pospat. Etanol dari hidrasi gas ethylene yang merupakan hasil samping pemurnian minyak bumi, dikenal sebagai etanol sintetis. Setelah Perang II, eksplorasi minyak bumi secara besar-besaran memungkinkan pembuatan etanol sintetis lebih murah dan menggantikan proses produksi etanol secara fermentasi. Namun sejak kenaikan harga yang disertai ketidak-pastian penyediaannya, telah memacu berbagai negara Eropa, US, Brazil, untuk mengembangkan kembali teknologi pembuatan etanol secara fermentasi, terutama bertumpu pada sumber daya yang dapat terbarukan. Pembuatan etanol secara sintetis tidak dibahas lagi, mengingat salah satu tujuan pengembangan produk alkohol di sini, adalah sebagai bahan bakar cair pengganti minyak bumi.

Penerapan teknologi fermentasi etanol dalam skala industri, sejak Perang Dunia II belum ada perubahan yang mendasar. Proses fermentasinya menggunakan sistem bacth dengan masa inkubasi berkisar 50 jam dan semata-mata mengandalkan strain khamir yang telah terpilih secara nyata berproduktivitas tinggi. Khamir mempunyai sifat selektivitas sangat tinggi untuk membentuk etanol (metabolite lain sebagai hasil samping sangat kecil) dan sangat tahan terhadap perubahan kondisi pertumbuhan atau gangguan kontaminasi (Maiorella dkk, 1981). Konsentrasi etanol dalam broth di akhir proses, berkisar 8 sampai 12%v.v dan selanjutnya dipekatkan (dimurnikan) dengan proses distilasi atau cara lain. Berbagai penelitian maupun pengembangan modifikasi sistem proses fermentasi dan atau penggunaan mikroba lain, telah banyak dilakukan untuk memperbaiki hasil, meningkatkan konsentrasi etanol dalam broth dan mempersingkat waktu proses (Alico, 1982; Kosaric dkk, 1981; Maiorella dkk,1981). Produktivitas Saccharomyces cerevisiae pada proses fermentasi secara batch 1.8 hingga 2.5 g per-jam dalam setiap liter fermentor (Kosaric dkk, 1981; Maiorella dkk, 1981; Scott, 1983). Kapang juga mempunyai prospek bagus untuk industri etanol. Sebagai contoh genus Rhizopus yang biasa digunakan dalam proses fermentasi anggur China tipe tertentu. Kadar etanol akhir dalam broth anggur tersebut mendekati 18 %vv (Wittcoff, 1980). 1.4.2. Bahan Baku Bahan baku untuk pembuatan etanol secara fermentasi berupa karbohidrat, dan hampir semua karbohidrat terbentuk dalam tanaman melalui proses photosintesa, baik sebagai gula (sakharida) yang terdiri dari satu atau dua gugus sakharosa, maupun senyawa lebih komplek sebagai zat pati dan selulosa. Bahan sumber gula yang dapat dibuat menjadi etanol, meliputi nira tebu, nira kelapa, nira aren, beet dan sweet sorghum, namun bahan ini paling mahal dan biasa digunakan dalam industri gula. Molassess sebagai hasil samping dari industri pembuatan gula tersebut, lebih umum digunakan sebagai bahan baku industri etanol, dari pada langsung diambil niranya. Keuntungan penggunaan nira gula dan molassess dalam industri etanol, yaitu tidak memerlukan proses pendahuluan karena bentuk senyawa karbohidratnya sudah siap diubah oleh mikrobia (Kosaric dkk, 1981; Maiorella dkk, 1981). Bahan hasil pertanian yang berkadar pati tinggi, meliputi biji-bijian (gandum, jagung, beras, dll), kacang-kacangan dan umbi-umbian (kentang, ubi jalar dan ubi kayu). Karbohidrat

dalam bentuk zat pati tersebut untuk pembuatan etanol harus dihidrolisa dahulu menjadi glukosa. Pada Tabel 1.3 disajikan potensi berbagai jenis tanaman yang biasa dibudi-dayakan dan dapat dijadikan bahan baku bioetanol. Berdasarkan hasil panennya terlihat, bahwa beet dan kentang merupakan tanaman pilihan terbaik untuk daerah beriklim sedang. Adapun tebu dan ubi kayu tampaknya paling potensial untuk daerah tropis. Ubi kayu bersifat lebih kokoh dan tidak memerlukan persyaratan kualitas tanah yang tinggi. Tabel 1.3. Potensi beberapa Tanaman sebagai Bahan Baku Bioetanol Jenis Tanaman Jagung Ubi Kayu Tebu Ubi Jalar Shorgum Sweet Shorgum Kentang Beet Hasil Panen Ton per Tahu/Ha 1-6 10-50 40-120 10-40 3-12 20-60 10-35 20-100 Equivalen Ethanol L per Tahun /Ha 400-2500 2000-7000 3000-8500 1200-5000 1500-5000 2000-6000 1000-4500 3000-8000

Molasses merupakan salah satu bahan pembuatan etanol yang merupakan limbah pabrik gula berupa kristal gula yang tidak terbentuk menjadi gula pada proses kristalisasi. Sehingga harganya yang lebih murah dan dapat digunakan sebagai pengolah limbah pabrik. Produk molasses sendiri di Indonesia cukup tinggi, seperti yang dapat dilihat pada tabel 1.4 berikut. Tabel 1.4 Data Peningkatan Produksi Molasses Secara Nasional Tahun 1997 1998 2000 2001 2002 Sumber : Biro Pusat Statistik di table 1.8 Tabel 1.5 Konversi Bahan Baku Tanaman Yang Mengandung Pati Atau Karbohidrat Dan Tetes Menjadi Bio-Ethanol Kuantitas (Kg) 1.267.990.000 1.415.115.971 1.536.200.007 1.829.745.972 2.966.023.440 Persentase 14.06 15.07 17.04 20.30 32.90

Selain itu, molasses juga memiliki konversi etanol yang cukup besar, seperti dapat dilihat

Jenis Bahan Baku Ubi Kayu Ubi Jalar Jagung Sagu Tetes

Konsumsi Bahan Baku (Kg) 1000 1000 1000 1000 1000

Kandungan Gula dalam Bahan Baku (Kg) 250-300 150-200 600-700 120-160 500

Jumlah Hasil Konversi Bioetanol (Liter) 166.6 125 200 90 250

Perbandingan Bahan Baku dan Bioetanol 6,5 : 1 (96 % v/v) 8 : 1 (96 % v/v) 5 : 1 (96 % v/v) 12 : 1 (96 % v/v) 4 : 1 (96 % v/v) 4,2 : 1 (99,5 % v/v)

Molasses merupakan media fermentasi yang baik karena mengandung gula, sejumlah asam amino dan mineral. Sehingga dengan pertimbangan pertimbangan ini, molasses merupakan bahan baku yang paling tepat yang akan digunakan sebagai bahan baku bioetanol. 1.5. Pemilihan Proses 1.5.1. Biosintesa Etanol (Fermentasi) Mikrobia yang biasa diharapkan aktif dalam perubahan glukosa menjadi etanol, adalah khamir dari spesies Saccaromyces Cerevisiae. Pada fermentasi sistem batch, metabolisme khamir diharapkan berlangsung pada kondisi anaerob, karena adanya cukup oksigen (aerob) akan menjadikan Saccaromyces Cerevisiae berkembang bagus tetapi etanol sebagai salah satu produk metabolismenya hanya terbentuk sedikit . Secara umum, kondisi anaerob glukosa akan terurai menjadi etanol dan karbon dioksida melalui proses glikolisis. Dalam keseluruhan reaksi tersebut, dihasilkan energi untuk kebutuhan biosintesa, serta terbentuknya 1,97766 mole etanol dan karbon dioksida dari tiap mole glukosa yang dikonsumsi (pers 1)

Pembentukan etanol sistem batch, diawali dengan kondisi aerob kemudian dilanjutkan dengan kondisi anaerob. Jika kondisi anaerob dimulai terlalu dini maka sel yang ada tidak cukup banyak untuk melakukan fermentasi secara bagus. Bahkan untuk mewujudkan kondisi aerob perlu diadakan aerasi sebentar supaya nantinya tidak banyak kehilangan hasil (Crueger, 1984). Beberapa faktor penting yang mempengaruhi hasil etanol dan efisiensinya, yaitu (1) kondisi fisiologis inokulum mikroba yang ditambahkan ke dalam media, (2) kondisi lingkungan selama proses fermentasi berlangsung, dan (3) kualitas bahan media. Kondisi fisiologis (seed) tergantung pada kondisi pertumbuhan optimal yang spesifik bagi mikroba yang digunakan. Faktor lingkungan yang paling penting, yaitu pH dan suhu. Sedangkan faktor lain (1) buffer

capacity, (2) tingkat kontaminasi di awal pertumbuhan, (3) kepekatan gula, (4) konsentrasi alkohol, (5) pemilihan strain khamir, (6) kebutuhan nutrisi bagi pertumbuhan khamir, dan (7) jumlah oksigen yang tersedia (Stark dalam Alico, 1982). Pengaturan suhu dalam fermentor perlu dilakukan, terutama dalam selang waktu 48 jam di awal proses fermentasi. Suhu optimal untuk pertumbuhan khamir berkisar 28,9~32,2C. Di atas suhu tersebut, aktifitas khamir pada umumnya sudah terhambat dan cocok bagi pertumbuhan bakteri kontaminan. Adanya panas yang terbentuk selama proses fermentasi (125 Kcal/g etanol) harus dipertimbangkan pula dalam upaya pengaturan suhu proses (Alico, 1982). Kontaminasi mikroba yang tak diinginkan dapat diusahakan sekecil mungkin, dengan menambahkan inokulum khamir dalam jumlah besar. Hal ini untuk meyakinkan, bahwa pertumbuhan khamir jauh lebih besar dari pada kontaminan dan nutrient yang ada segera habis terkonsumsi. Jumlah cairan inokulum berkisar 38% terhadap jumlah bubur media fermentasi, dengan kerapatan sel 3x106 per ml (Alico,1982; Crueger, 1984). Penentuan konsentrasi gula dalam media, dipengaruhi oleh dua hal yang mendasar, yaitu (1) konsentrasi gula yang terlalu tinggi akan menghambat pertumbuhan sel khamir di awal proses fermentasi, dan (2) konsentrasi etanol tinggi akan mematikan khamir (Alico, 1982). Glukosa yang melebihi 15%wv akan menghambat berbagai enzim yang dihasilkan sel khamir. Toleransi berbagai khamir terhadap etanol tergantung pada strain yang dipilih, tetapi secara umum pertumbuhan sel terhenti sepenuhnya dalam alkohol yang konsentrasinya lebih besar 13,6 %vv (Maiorella, 1981). Dalam media fermentasi, selain ada sumber gula untuk pembentukan etanol, juga harus tersedia nutrisi yang dapat menunjang pertumbuhan sel. Kebutuhan utama untuk komponen dasar sel, yaitu unsur karbon, oksigen, nitrogen dan hidrogen. Bahan lain yang diperlukan dalam jumlah sedikit untuk komponen sel yaitu unsur pospor, sulfur, kalium dan magnesium. Disamping itu perlu trace minerals dan growth factor berupa asam amino, purine, pirimidin dan vitamin. Growth factor yang paling penting untuk khamir, meliputi biotin, asam pantotenat, inositol, thiamin, asam nikotinat, dan asam folat (Maiorella, 1981). Namun dalam skala industri, unsur karbon, hidrogen dan oksigen umumnya tersedia dalam sumber karbohidrat. Unsur nitrogen selain terdapat dalam asam amino, disediakan pula dalam bentuk amoniak atau berbagai garam amonium, terutama amonium sulfat. Berdasarkan alasan ekonomis, urea juga sering digunakan, tetapi kurang cepat terasimilasi kecuali jika disertai

penambahan

biotin.

Unsur

pospor

biasanya

disediakan

sebagai

asam

pospat

atau

amonium/kalium pospat. Sedangkan komponen lain umumnya sudah terdapat dalam sumber karbon, meskipun kadangkala perlu penambahan magnesium, Cl, sulfat, biotin dan thiamin (Maiorella, 1981).

1.5.2. Distilasi Proses akhir pembuatan etanol adalah distilasi, dimana alkohol hasil proses fermentasi yang berkonsentrasi 8%~12%v/v, dipisahkan dan dipekatkan untuk dapat dipakai sebagai bahan bakar ataupun kebutuhan lain. Distilasi adalah proses pemisahan dua atau lebih cairan dalam larutan dengan berdasarkan relative volatilitynya dan perbedaan titik didihnya. Distilasi fraksinasi merupakan pemisahan ataupengambilan uap dari setiap tingkat yang berbeda dalam kolom distilasi. Produk yang lebih berat diperoleh di bagian bawah, sedangkan yang lebih ringan akan keluar dari bagian atas kolom. Hasil distilasi alkohol berkisar 95-96%vv, pada kondisi tersebut campuran membentuk azeotrope, dimana campuran alkohol dan air sukar untuk dipisahkan. Agar diperoleh konsentrasi yang lebih tinggi dari kadar tersebut haruslah ditempuh dengan cara lain (Alico, 1982). Residu atau sisa distilasi yang tertinggal dalam kolom bagian bawah dan masih bercampur dengan air disebut stillage. Residu tersebut masih banyak mengandung bahan-bahan organik yang tidak terfermentasikan. Jika stillage tidak dimanfaatkan sebagai hasil samping, bahan tersebut menjadi limbah yang harus ditangani lebih lanjut. Limbah tersebut mempunyai beban BOD (Biological Oxygen Demand) tinggi sampai 40.000 ppm. Beberapa metode seperti anaerobic digestion, activated sludge dan metode lain dapat dilakukan untuk mengolahnya. Namun pengolahan dengan berbagai cara tersebut perlu biaya tinggi (Alico, 1982). Dalam proses produksi anhydrous alcohol, kondisi azeotrop harus dipecahkan dengan bahan pelarut lain, biasanya benzene, atau n-hexane kemudian alkohol dipisahkan lebih lanjut dari campurannya. Cara lain yang umum dipakai adalah desiccants process, dan molecular sieves. Pada proses desiccant, untuk mendapatkan anhydrous alcohol digunakan bahan kimia yang sifatnya stabil yang bereaksi hanya dengan air, dan tidak bereaksi dengan alkohol. Contohnya adalah kalsium oksida. Reaksi antara CaO dengan air mengeluarkan panas, sehingga

perlu rancangan khusus pada kolomnya. Selain itu berbagai macam pati juga dapat dipakai sebagai dessicant. Molecular sieves adalah kristal aluminosilikat, merupakan bahan penyaring yang tidak mengalami hidrasi maupun dehidrasi pada struktur kristalnya. Molekul penyaring ini secara selektif menyerap air, karena lubang kristalnya mempunyai ukuran lebih kecil dibanding ukuran molekul alkohol, dan lebih besar dibandingkan molekul air. Alkohol yang berbentuk cair maupun uap dilewatkan kolom yang berisi bahan penyaring, air akan tertahan dalam bahan tersebut dan akan diperoleh alkohol murni. Biasanya proses ini menggunakan dua kolom, kolom kedua untuk aliran uap alkohol sedangkan pada kolom pertama setelah proses dialirkan udara atau gas panas untuk menguapkan air (Winston dkk, 1981). Pada industri pembuatan etanol, juga akan diperoleh hasil lain, baik yang dapat dimanfaatkan langsung maupun harus diproses lebih lanjut. Hasil samping tersebut antara lain stillage, karbon dioksida, dan minyak fusel. Stillage dari proses distilasi jumlahnya cukup besar, yaitu 10~13 kali jumlah alkohol yang dihasilkan. Mengingat bahan yang terkandung di dalamnya, stillage dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, makanan ternak dan biogas. Sedangkan gas karbon dioksida yang dihasilkan selama proses fermentasi biasanya diserap dan dimurnikan kemudian ditekan menjadi bentuk cair. 1.6. Kegunaan Produk Pada perancangan ini ditujukan membangun sebuah pabrik bioetanol di Indonesia dengan kapasitas 9.000 ton per tahun (37,3 kL per hari) grid bahan bakar untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar konvensional. Dengan dioperasikannya pabrik bioetanol ini, diharapkan produksi etanol dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri serta dapat meningkatkan jumlah ekspor etanol yang memiliki daya saing di pasar internasional. 1.7 Sifat Fisis dan Kimia Bahan baku dan Produk a. Bahan baku : Molasses Sifat Fisik Molassess merupakan hasil samping pada industri pengolahan gula dengan wujud bentuk cair. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Pond dkk., (1995) yang menyatakan bahwa molasses adalah limbah utama industri pemurnian gula. Molassess merupakan

sumber energi yang esensial dengan kandungan gula didalamnya. Oleh karena itu, molasses telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pembuatan industry pangan. Molasses mengandung biotin yang berfungsi sebagai vitamin untuk pertumbuhan bakteri. Keadaan ini mengakibatkan terbentuknya lapisan lemak yang membungkus dinding sel bakteri sehingga asam glutamate yang dihasilkan oleh bakteri hanya sebagian kecil yang dikeluarkan. Komposisi cairan molasses sangat bervariasi tergantung dari lokasi penanaman, variasi tebu dan iklim. Sifat Kimia Komposisi nilai nutrisi molasses dari tetes tebu adalah sebagai berikut: Tabel 1.9. Komposisi Nilai Nutrisi Molasses Nutrisi Kadar Gula Total Kadar Kalsium Berat Jenis Brix Molasses Min 55 % 0,8 1,3 % 1,4 1,6 kg/L Min 80oC

Molasses tebu dapat digolongkan sebagai asam karena memiliki pH = 5,5-6,5, sedangkan molasses beet yang terdapat di Amerika lebih bersifat basa, pH = 7,5-8,6. Suasana pH yang rendah ini merupakan tanda adanya asam organic bebas, ditambah dengan pH yang rendah yang dihasilkan selama proses klarifikasi. Molasses tebu memiliki perbedaan komposisi dengan beet molasses. Molasses beet mengandung sukrosa lebih banyak dibandingkan dengan molasses tebu, tetapi sebaliknya kandungan gula invert jauh lebih kecil. Tabel 1.10. Komposisi Molasse Tebu dan Molasses Beet Komposisi Bahan Kering Sukrosa Gula Invert N C P2O5 MgO CaO Molasses Tebu 78 - 75 48,5 1,0 0,2 2,8 28 - 34 0,02 0,07 0,01 0,1 0,15 0,7 Molasses Beet 77 84 33,4 21,2 0,4 1,5 28 33 0,6 2,0 0,0 30,1 0,1 11

Komposisi SiO2 K2O Al2O3 Fe2O3

Molasses Tebu 0,1 0,5 2,2 4,5 0,005 0,06 0,001 0,02

Molasses Beet Sumber : Rhodes dan Fletcher (1996)

b. Produk Etanol Sifat Fisik Etanol atau etil alkohol adalah senyawa yang memiliki rumus molekul C 2H5OH. Dalam suhu kamar (25oC) bahan kimia ini berbentuk cairan, mudah menguap (volatile) dan mudah terbakar. Etanol tidak berwarna, mudah bercampur dengan air, metanol, eter, kloroform, dan aseton serta berbau khas alkohol. Cairan yang memiliki berat molekul 46,07 ini memiliki specific gravity (SG) sebesar 0,916 dan mendidih pada suhu 78,25oC (Perry).

Gambar 1.1. Struktur Molekul Etanol

Titik Didih (Td,n) Temperatur kritik Tekanan kritik Volume kritik Acentricity Molar enthalpy Molar entrophy Molar density Mass density Heat capacity

= 78,32oC; Hv,n = 0,839 MJ/kg 0,659 MJ/liter. = 240,75oC = 6147 kPa = 0,167080000042915 m3/kgmol = 0,644370019435883 = -278815,229 kJ/kgmol = -6,7073 kJ/kgmol.C = 17,0958 kgmol/m3 = 787.605 kg/ m3 = 159,264045769961 kJ/kgmol.C

Data fisik lainnya pada kondisi T=25 oC dan P=1 bar adalah sebagai berikut :

Kalor pembakaran netto : Hb,25 C = 25,79 MK/kg = 21,03 MK/liter (bensin 30 MJ/liter). Hal ini disebabkan etanol absolute memiliki angka oktan riset (RON) = 109 (Perry) Sifat Kimia Etanol Etanol termasuk dalam alkohol primer, yang berarti bahwa karbon yang berikatan dengan gugus hidroksil paling tidak memiliki dua hidrogen atom yang terikat. Reaksi kimia yang dijalankan oleh etanol kebanyakan berkaitan pada gugus hidroksilnya

Reaksi asam-basa Gugus hidroksil etanol menyebabkan sifatnya sedikit basa. Etanol hampi netral dalam air,

dengan pH 100% etanol adalah 7,33, berbanding dengan pH air murni yang sebesar 7,00. Etanol dapat diubah menjadi konjugat basanya, ion etoksida (CH3CH2O), dengan mereaksikannya dengan logam alkali seperti natrium 2CH3CH2OH + 2Na 2CH3CH2ONa + H2 ataupun dengan basa kuat seperti natrium hidrida: CH3CH2OH + NaH CH3CH2ONa + H2. Reaksi ini tidak dapat dilakukan dalam larutan akuatik, karena air lebih asam daripada etanol. Halogenasi Etanol bereaksi dengan hidrogen halida dan menghasilkan etil halida seperti etil klorida dan etil bromida: CH3CH2OH + HCl CH3CH2Cl + H2O Reaksi dengan HCl memerlukan katalis seperti seng klorida. Hidrogen klorida dengan keberadaan seng klorida dikenal sebagai reagen Lucas. CH3CH2OH + HBr CH3CH2Br + H2O Reaksi dengan HBr memerlukan proses refluks dengan katalis asam sulfat. Etil halida juga dapat dihasilkan dengan mereaksikan alkohol dengan agen halogenasi yang khusus, seperti tionil klorida untuk pembuatan etil klorida, ataupun fosforus tribromida untuk pembuatan etil bromida. CH3CH2OH + SOCl2 CH3CH2Cl + SO2 + HCl

Pembentukan ester Etanol bereaksi dengan asam karboksilat dengan katalis asam akan menghasilkan

senyawa etil eter dan air: RCOOH + HOCH2CH3 RCOOCH2CH3 + H2O Agar reaksi ini menghasilkan rendemen yang cukup tinggi, air perlu dipisahkan dari campuran reaksi seketika ia terbentuk. Etanol juga dapat membentuk senyawa ester dengan asam anorganik. Dietil sulfat dan trietil fosfat dihasilkan dengan mereaksikan etanol dengan asam sulfat dan asam fosfat. Senyawa yang dihasilkan oleh reaksi ini sangat berguna sebagai agen etilasi dalam sintesis organik. Dehidrasi Asam kuat yang sangat higroskopis seperti asam sulfat akan menyebabkan dehidrasi etanol dan menghasilkan etilena maupun dietil eter: 2 CH3CH2OH CH3CH2OCH2CH3 + H2O (pada 120'C) CH3CH2OH H2C=CH2 + H2O (pada 180'C)

Oksidasi Etanol dapat dioksidasi menjadi asetaldehida, yang kemudian dapat dioksidasi lebih

lanjut menjadi asam asetat. Dalam tubuh manusia, reaksi oksidasi ini dikatalisis oleh enzim tubuh. Pada laboratorium, larutan akuatik oksidator seperti asam kromat ataupun kalium permanganat digunakan untuk mengoksidasi etanol menjadi asam asetat. Proses ini akan sangat sulit menghasilkan asetaldehida oleh karena terjadinya overoksidasi. Etanol dapat dioksidasi menjadi asetaldehida tanpa oksidasi lebih lanjut menjadi asam asetat menggunakan piridinium kloro kromat (Pyridinium chloro chromate, PCC). C2H5OH + 2[O] CH3COOH + H2O Produk oksidasi etanol, asam asetat, digunakan sebagai nutrien oleh tubuh manusia sebagai asetil-koA. Pembakaran Pembakaran etanol akan menghasilkan karbondioksida dan air: C2H5OH(g) + 3 O2(g) 2 CO2(g) + 3 H2O(l) (Hr = 1409 kJ/mol) 1.8. Deskripsi Proses secara Umum Secara umum sintesis bioetanol yang berasal dari biomassa terdiri dari dua tahap utama, yaitu hidrolisis dan fermentasi.

a. Hidrolisa Hidrolisis merupakan reaksi pengikatan gugus hidroksil (-OH) oleh suatu senyawa. Gugus -OH dapat diperoleh dari senyawa air. Hidrolisis dapat digolongkan menjadi hidrolisis murni, hidrolisis katalis asam, hidrolisis katalis basa, gabungan alkali dengan air dan hidrolisis dengan katalis enzim. Sedangkan berdasarkan fase reaksi yang terjadi diklasifikasikan menjadi hidrolisis fase cair dan hidrolisis fase uap. Hidrolisis pati terjadi antara suatu reaktan pati dengan reaktan air. Reaksi ini adalah orde satu karena reaktan air yang dibuat berlebih, sehingga perubahan reaktan dapat diabaikan. Reaksi hidrolisis pati dapat menggunakan katalisator ion H+ yang dapat diambil dari asam. Reaksi yang terjadi pada hidrolisis pati adalah sebagai berikut (C6H10O5)n + n H2O n C6H12O6 Zat-zat penghidrolisis ada beberapa macam, antara lain : 1. Air Kelemahan zat penghidrolisa ini adalah prosesnya berjalan lambat, kurang sempurna dan hasilnya kurang baik. Biasanya ditambahkan katalisator. Untuk mempercepat reaksi dapat dipakai uap air pada temperatur tinggi. 2. Asam Asam berfungsi sebagai katalisator dengan pengaktif air dengan kadar asam yang encer. Umumnya kecepatan reaksi sebanding dengan ion H + tetapi konsentrasi yang tinggi hubungannya tidak terlihat lagi. Dalam industri asam yang dipakai H2SO4, HCl, asam oksalat. Tetapi asam oksalat jarang digunakan karena harganya mahal. HCl lebih menguntungkan karena lebih reaktif dibandingkan H2SO4. 3. Basa Basa yang dipakai dalam 3 bentuk yaitu basa encer , basa pekat, dan basa padat. 4. Enzim Proses hidrolisis dapat dilakukan dengan menggunakan enzim yang sering disebut dengan enzymatic hydrolysis yaitu hidrolisis dengan menggunakan enzim jenis selulase atau jenis yang lain. Keuntungan dari hidrolisis dengan enzim adalah dapat mengurangi penggunaan asam sehingga dapat mengurangi efek negatif terhadap lingkungan. Penggunaan enzim dalam industri misalnya pembuatan alkohol dari tetes tebu. (4)

Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mempercepat atau menyempurnakan reaksi adalah dengan mengatur variabel yang berpengaruh pada proses, sebagai berikut :

Katalisator, yang dapat digunakan untuk hidrolisa diantaranya enzim atau asam yaitu HCl, H2SO4, HNO3 Suhu dan tekanan, hal ini mengikuti persamaan Arrhenius, dimana makin tinggi suhu makin cepat jalannya reaksi. Pencampuran, pada proses basah dapat dilakukan dengan cara mengaduk, untuk proses kontinyu dapat dilakukan dengan mengatur masuknya bahan agar timbul olakan. Perbandingan zat pereaksi, salah satu pereaksi apabila diberi berlebihan agar dapat menggeser kesetimbangan kearah kanan. Suspensi pati yang rendah kadarnya justru memberikan hasil yang lebih baik karena molekul zat pereaksi mudah bergerak.

b.

Fermentasi Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi dalam lingkungan anaerobik tanpa akseptor elektron eksternal. Gula merupakan bahan yang umum digunakan dalam fermentasi. Beberapa contoh hasil fermentasi adalah etanol, asam laktat, asam butirat, etanol. Ragi dikenal sebagai bahan yang umum digunakan dalam fermentasi untuk menghasilkan etanol dalam bir, anggur dan minuman beralkohol lainnya. Respirasi anaerobik dalam otot mamalia selama kerja yang keras (tidak memiliki akseptor elektron eksternal) dapat dikategorikan sebagai bentuk fermentasi. Reaksi dalam fermentasi berbeda-beda tergantung pada jenis gula yang digunakan dan produk yang dihasilkan. Glukosa (C6H12O6) yang merupakan gula paling sederhana akan menghasilkan etanol (2C2H5OH) melalui fermentasi. Persamaan Reaksi Kimia :

+ 2 ATP (Energi yang dilepaskan:118 kJ per mol) Jalur biokimia yang terjadi bervariasi tergantung jenis gula yang terlibat, tetapi pada umumnya melibatkan jalur glikolisis, yang merupakan bagian dari tahap awal respirasi

aerobik pada sebagian besar organisme. Jalur terakhir akan bervariasi tergantung produk akhir yang dihasilkan.

Gambar 1.4. Jalur Glikolisis Glukosa

Mikroorganisme yang digunakan untuk fermentasi alkohol : Bakteri : Clostridium acetobutylicum, Klebsiella pnemoniae, Leuconoctoc mesenteroides, Sarcina ventriculi, Zymomonas mobilis, dan lain-lain. Fungi : Aspergillus oryzae, Endomyces lactis, Kloeckera sp., Kluyreromyces fragilis, Mucor sp., Neurospora crassa, Rhizopus sp., Saccharomyces beticus, S. cerevisiae, S.ellipsoideus, S. oviformis, S. saki, Torula sp., dan lain-lain.