Anda di halaman 1dari 11

KisahIslam.

Com |VERSI RC 1| - Kisah Sejarah Berita Aktual Tajam

Abu Bakar Ash-Shiddiq Rodhiallahu 'anhu (sebelum menjadi khalifah) I


Kontribusi dari Redaksi Friday, 23 February 2007 19:26

Ia bernama Abdullah bin Abi Quhafah Utsman bin Amir bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taym bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib, al-Qurasyi at-Tamimi. Nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah di kakeknya, Murrah. Imam an-Nawawi dalam bukunya at-Tahdzib berkata, Apa yang kami sebutkan bahwa nama Abu Bakar ash-Shiddiq adalah Abdullah adalah nama yang benar dan masyhur. Ada juga yang menyebutkan bahwa namanya adalah al-Atiq. Namun yang benar ialah apa yang telah disepakati oleh para ulama bahwa Atiq itu bukanlah nama dia, Atiq adalah gelarnya. Dia diberi gelar Atiq, karena dia dianggap lepas dari neraka, sebagaimana ini terdapat dalam riwayat Imam atTirmidzi. Juga disebutkan bahwa gelar itu diberikan karena ia memiliki wajah rupawan, sebagaimana dikatakan oleh Mush'ab bin Zubair, Laits bin Sa'ad dan sejumlah orang yang lain. Juga dikatakan bahwa dia mendapat gelar itu karena dalam silsilah keturunannya tidak ada yang mengandung aib. Mush'ab bin Zubair dan yang lainnya berkata: Kaum muslimin sepakat menamakannya sebagai Ash-Shiddiq. Sebab dialah orang yang pertama kali dan yang bersegera menyatakan kebenaran Rasulullah, serta selalu bersikap jujur dan benar. Dia tidak pernah melakukan tindakan-tindakan bodoh dan hina dalam kondisi apa pun. Dalam per-jalanan sejarah Islam, dia memiliki sikap dan perilaku yang sangat ter-hormat dan patut dicatat dalam tinta emas. Misalnya, sikapnya pada malam Isra' yang konsisten serta jawaban yang dia lontarkan pada orang-orang kafir. Dia hijrah ke Madinah bersama Rasulullah dengan meninggalkan keluarga dan anak-anaknya. Dia setia menemani Rasulullah di dalam gua dan di semua perjalanan. Juga ucapannya yang sangat terkenal pada saat perang Badar dan Perjanjian Hudaibiyah tatkala orang-orang yang lain bingung menyikapi keterlambatan mereka pada saat masuk Makkah. Dia sempat menangis tersedu-sedu tatkala Rasulullah bersabda: Dia adalah hamba yang dipilihkan untuknya akhirat dan dunia, namun dia memilih akhirat. Dia kokoh dan tidak goyah pada saat Rasulullah wafat. Kemudian khutbahnya yang sangat terkenal kala itu untuk me-nenangkan manusia yang sedang gusar karena meninggalnya Rasulul-lah. Kemudian sikapnya yang tangkas dalam pengambilan baiat demi kemaslahatan kaum muslimin. Kemudian perhatiannya yang sangat tinggi serta sikapnya yang ngotot untuk tetap mengirim pasukan Usa-mah bin Zaid ke Syam sesuai dengan rencana Rasulullah. Kemudian sikapnya yang sangat tegas dalam memerangi orang-orang murtad, serta perdebatannya dengan sahabat-sahabat utama Rasulullah me-ngenai masalah ini dengan dalil yang sangat kuat. Allah telah melapangkan dadanya untuk memerangi orang-orang murtad itu, kemudian dia menyiapkan pasukan untuk membuka Syam. Sejarah hidupnya ditutup dengan satu hal yang sangat penting yang menandai kehidupannya dan merupakan keutamaannya yang paling agung, yaitu penentuan Umar sebagai penggantinya, serta firasat tentang Umar dan wasiatnya kepada Umar, serta menyerahkannya kepada Allah. Dimana Allah menjadikan masa penggantinya, sebagai masa pemerintahan yang paling baik. Penunjukkannya kepada Umar yang merupakan salah satu tindakan baiknya dan yang menjadi perbuatannya yang mulia merupakan pembuka pelebaran Islam dan pengokohan agama, serta sebagai bukti kebenaran janji Allah bahwa Dia akan menolong agama ini secara keseluruhan. Dan betapa banyak cerita kebaikan dan keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq yang tidak mungkin bisa kita hitung. Demikian kata Imam anNawawi. Nama dan Gelarnya Tentang nama dan gelarnya telah kita singung sebelum ini. Ibnu Katsir berkata, Para ahli sejarah sepakat bahwa nama Abu Bakar ash--Shiddiq adalah Abdullah bin Utsman, kecuali apa yang diriwayatkan oleh lbnu Sa'ad dari lbnu Sirin yang menyebutkan ia bernama Atiq. Dan yang benar Atiq adalah gelarnya. Orang-orang berbeda pendapat mengenai waktu pemberian gelar dan sebabnya. Ada yang menyata-kan ia diberi gelar demikian karena ia memiliki wajah yang tampan dan rupawan, sebagaimana dikatakan oleh Laits bin Saad, Ahmad bin Hambal, lbnu Ma'in dan yang lainnya. Sedangkan Abu Nua'im al-fadhl bin Dakin mengatakan bahwa gelar itu diberikan kepadanya karena dia adalah orang yang merengkuh kebenaran pertama kali. Ada juga yang menyebutkan gelar itu diberikan karena keindahan dan kebersihan nasab keturunannya, dimana di antara nenek moyangnya tidak ada yang tercela. Ada pula yang menyatakan bahwa pertama kali dia bernama Atiq namun kemudian diganti menjadi Abdullah. Ath-Thabarani meriwayatkan dari al-Qasim bin Muhammad bahwa dia bertanya kepada Aisyah tentang nama Abu Bakar ash-Shiddiq. Dia berkata, Abdullah. Kemudian dia bertanya lagi: Namun orang-orang mengatakan bahwa namanya adalah Atiq. Aisyah berkata: Sesungguhnya Abu Quhafah memiliki tiga orang anak. Mereka itu bernama Atiq, Mu'tiq dan Mu'aitiq. Ibnu Mandah dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Musa bin Thalhah, dia berkata: Saya berkata kepada Abu Thalhah: Mengapa Abu Bakar ash-Shiddiq itu disebut Atiq? Dia berkata: Dia punya ibu yang anaknya selalu meninggal. Tatkala dia melahirkan Abu Bakar ash-Shiddiq dia menghadap Kiblat dan berdoa: Ya Allah, sesungguhnya anak ini selamat dari
http://www.kisahislam.com/i Powered by KIC-MMINFO GROUPS! Generated: 13 February, 2008, 11:01

KisahIslam.Com |VERSI RC 1| - Kisah Sejarah Berita Aktual Tajam

kematian, maka karuniakanlah ia padaku! Ath-Thabarani juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, Dia disebut dengan Atiq karena keelokan wajahnya. Sedangkan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Aisyah, dia berkata: Nama Abu Bakar yang diberikan oleh keluarganya adalah Abdullah, namun kemudian nama Atiq jauh lebih terkenal. Dan dalam lafazh yang lain disebutkan, namun setelah itu Rasulullah memberinya nama Atiq. Abu Ya'la dalam Musnadnya meriwayatkan juga dari Ibnu Sa'ad, serta al-Hakim dan dia menyatakan bahwa haditsnya adalah shahih dari Aisyah dia berkata: Demi Allah, sesungguhnya pada saat saya di rumah di suatu hari, sedangkan Rasulullah bersama para sahabat berada di beranda rumah dengan dibatasi oleh kain pembatas antara saya dengan mereka. Kemudian Abu Bakar ashShiddiq muncul. Melihat kedatangan Abu Bakar, Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang ingin melihat orang yang selamat dari api neraka maka hendaklah dia melihat Abu Bakar," dan bahwa sesungguhnya nama yang diberikan oleh keluarganya adalah Abdullah, namun nama Atiq mengalahkan ke-masyhuran nama Abdullah. At-Tirmidzi dan al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah bahwa Abu Bakar masuk ke rumah Rasulullah. Kemudian Rasulullah bersabda, "Wahai Abu Bakar sesungguhnya engkau adalah pembebas manusia dari api neraka." Al-Bazzar dan ath-Thabarani meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Abdullah bin Zubair dia berkata: Nama Abu Bakar adalah Abdullah. Suatu ketika Rasulullah bersabda kepadanya: Kau adalah pembebas dari api neraka. Oleh karena itu, ia dinamakan Atiq. Sedangkan gelar ash-Shiddiq, disebutkan bahwa dia diberi gelar sejak zaman Jahiliyah, karena dia sangat terkenal dengan kejujurannya, Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Masdi. Juga dikatakan bahwa dia mendapat gelar itu karena dia begitu cepat membenarkan apa yang Rasulullah bawa. Ibnu Ishaq dari Hasan al-Bashri dan Qatadah menyebutkan: Dia adalah orang yang pertama kali membenarkan apa yang Rasulullah lakukan pada malam Isra'. Al-Hakim di dalam al-Mustadrak meriwayatkan dari Aisyah, dia berkata: Kaum Quraisy datang kepada Abu Bakar dan berkata, "Apakah engkau telah menemui sahabatmu. Dia menyatakan bahwa dia dijalankan Tuhannya semalam ke Baitul Maqdis." Dia berkata, "Apakah dia mengatakan itu?" Mereka berkata, "Ya,” "Jika demikian, maka benarlah apa yang dia katakan, bahkan jika dia mengatakan yang lebih daripada itu, saya pasti akan membenar-kan apa yang dia katakan tentang kabar langit itu," lanjut Abu Bakar. Dengan pembenaran inilah, dia digelari ash-Shiddiq. Riwayat hadits ini sanadnya baik, dimana hadits ini juga diriwayatkan oleh Anas dan Abu Hurairah dalam hadits Ibnu Asakir dan Ummu Hani. Hadits ini juga diriwayatkan oleh ath-Thabarani. Sa'id bin Manshur dalam Sunannya berkata, Abu Ma'syar berkata kepada kami, yang berasal dari Abu Wahb mantan budak Abu Hurairah, dia berkata: Tatkala Rasulullah kembali dari perjalanan Isra' dan beliau berada di Dzi Thuwa, beliau berkata, 'Wahai Jibril, sesungguh-nya kaumku tidak akan mempercayai saya.' Jibril berkata, 'Abu Bakar percaya kepada apa yang kamu ceritakan, dan dia adalah ash-Shiddiq." Ath-Thabarani juga meriwayatkan hadits ini dalam al-Awsath dengan sanad yang bersambung pada Abi Wahb dari Abu Hurairah. Al-Hakim dalam al-Mustadrak dari an-Nazzal bin Sabrah, dia berkata, kami berkata kepada Ali, "Wahai Amirul Mukminin, beritahu kami tentang Abu Bakar." Dia berkata, Dia adalah orang yang Allah namakan dengan ashShiddiq lewat lisan Jibril dan dengan lisan Muhammad, dia adalah khalifah Rasulullah yang rela menjadi pemimpin dalam agama kami, dan kami rela dia menjadi pemimpin untuk dunia kami,” Sanad hadits ini baik. AdDaraquthni dan al-Hakim dari Yahya, dia berkata, Saya tidak ingat lagi berapa kali Ali mengatakan di atas mimbar: Sesungguhnya Allah menamakan Abu Bakar melalui lisan Nabi-Nya, dengan sebutan ash-Shiddiq. Ath-Thabarani dari al-Hakim bin Sa'ad, dengan sanad yang baik berkata, Saya mendengar Ali berkata dan bersumpah, "Sesungguhnya Allah menurunkan nama Abu Bakar dengan sebutan ash-Shiddiq dari langit." Dalam hadits Uhud disebutkan: Diamlah engkau, karena sesung-guhnya di atasmu ada Nabi, ash-Shiddiq dan dua orang syahid. Sedangkan Ibu Abu Bakar adalah anak paman ayahnya. Ia bernama Salma binti Shakhr bin Amir bin Ka'ab, dia diberi gelar Ummul Khair, sebagaimana dinyatakan oleh az-Zuhri dan diriwayatkan oleh Ibnu Asakir. Sumber: Tarikh Khulafaa'

http://www.kisahislam.com/i

Powered by KIC-MMINFO GROUPS!

Generated: 13 February, 2008, 11:01

KisahIslam.Com |VERSI RC 1| - Kisah Sejarah Berita Aktual Tajam

Abu Bakar Ash-Shiddiq Rodhiallahu 'anhu (sebelum menjadi khalifah)2


Kontribusi dari Redaksi Friday, 23 February 2007 19:39

Dia dilahirkan dua tahun dua bulan setelah kelahiran Rasulul-lah. Dan meninggal dalam usia enam puluh tiga tahun sebagaimana usia Rasulullah. Dia tumbuh dan besar di Makkah dan tidak pernah keluar dari Makkah kecuali untuk tujuan dagang dan bisnis. Dia memiliki harta kekayaan yang sangat banyak dan kepribadian sangat menarik, memiliki kebaikan yang sangat banyak, dan sering melakukan perbuatan--perbuatan terpuji. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu Dughunnah, Sesungguhnya engkau selalu menyambung tali kasih dan keluarga, bicaramu selalu benar, dan kau menanggung banyak kesulitan, kau bantu orang-orang yang menderita dan kau hormati tamu. An-Nawawi berkata: Dia termasuk tokoh Quraisy di masa Jahiliyah, orang yang selalu diminta nasehat dan pertimbangannya, sangat dicintai di kalangan mereka, sangat tahu kode etik yang ada di kalangan mereka. Tatkala Islam datang, dia mengedepankan Islam atas yang lain, dan dia masuk Islam dengan sempurna. Zubair bin Bakkar dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ma'ruf bin Kharbudz dia berkata: Sesungguhnya Abu Bakar ashShiddiq adalah salah seorang dari sepuluh orang Quraisy yang kejayaannya di masa Jahiliyah bersambung hingga zaman Islam. Dia mendapat tugas untuk melaksanakan diyat (tebusan atas darah kematian) dan penarikan hutang. Ini terjadi karena orang-orang Quraisy tidak memiliki raja dimana mereka bisa mengembalikan semua perkaranya pada raja itu. Pada setiap kabilah di kalangan Quraisy saat itu, ada satu kekuasaan umum yang memiliki kepala suku dan kabilah sendiri. Adapun tugas dan kewenangan yang ada pada Bani Hasyim adalah memberi makan dan minum kepada orang yang berkunjung ke Ka'bah, artinya tidak ada seorang pun yang makan dan minum kecuali dari makanan dan minuman mereka. Sedangkan untuk Bani Abdud Dar adalah menjaga pintu masuk Ka'bah, membikin bendera dan mengadakan pertemuan. Artinya ialah, tidak seorang pun yang boleh masuk Ka'bah kecuali melalui izinnya. Jika orang-orang Quraisy mengibarkan bendera maka orang-orang dari Bani Abdud Darlah yang bertugas memancangkan. Jika mereka melakukan pertemuan, maka semua urusan pertemuan itu ditanggung dan dikelola oleh mereka. Dan pertemuan yang diadakan harus di Dar Nadwah, dan tidak dilakukan kecuali melalui pertemuan di tempat itu. Inilah tugas dari Bani Abdud Dar. Abu Bakar Adalah Orang yang Paling Bersih di Masa Jahiliyah Ibnu Asakir meriwayatkan dengan sanadnya yang shahih dari Aisyah, dia berkata: Demi Allah, Abu Bakar tidak pernah melantunkan satu syair pun di masa Jahiliyah dan tidak pula di masa Islam. Dia dan Utsman tidak pernah minumminuman keras di zaman Jahiliyah. Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdullah bin Zubair, dia berkata, Abu Bakar sama sekali tidak pernah mengucapkan syair. Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu al-Aliyyah ar-Rayahi, dia berkata: Dikatakan kepada Abu Bakar di tengah sekumpulan sahabat Rasulullah: Apakah kamu pernah meminum minuman keras di zaman Jahiliyah? Dia berkata, "Saya berlindung kepada Allah dari perbuatan itu!" Kemudian dikatakan padanya: "Mengapa tidak kamu lakukan itu?" Dia berkata, "Saya menjaga kehormatan saya, saya menjaga kepribadian saya, sebab orang yang minum minuman keras adalah orang yang menyia-nyiakan kehormatan dan kepribadiannya." Ar-Rayahi berkata: Perkataan itu didengar oleh Rasulullah dan dia bersabda, "Benar apa yang dikatakan oleh Abu Bakar, benar apa yang dikatakan oleh Abu Bakar." Hadits ini adalah hadits mursal dan gharib baik sanad dan matannya. Gambaran Tentang Sifat Abu Bakar Ibnu Saad meriwayatkan dari Aisyah bahwa seorang laki-laki berkata kepadanya: Coba sebutkan kepada saya gambaran tentang Abu Bakar! Kata Aisyah: Dia adalah laki-laki dengan kulit putih, kurus, tidak terlalu lebar bentuk tubuhnya, sedikit bungkuk, tidak bisa untuk menahan pakainnya turun dari pinggangnya, tulang-tulang wajahnya menonjol, kedua matanya cekung, keningnya menonjol, dan pangkal jemarinya datar. Ibnu Asakir meriwayatkan dari Aisyah, bahwa Abu Bakar mewarnai rambutnya dengan daun pacar dan katam (nama jenis tumbuhan). Dia juga meriwayatkan dari Anas, dia berkata, Rasulullah datang ke Madinah, dan tidak ada salah seorang dari para sahabatnya yang beruban kecuali Abu Bakar, maka dia menyemirnya dengan daun pacar dan katam. Masuk Islamnya Abu Bakar Imam at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya meriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri, dia berkata, Abu Bakar berkata: "Bukan-kah saya yang paling berhak untuk memangkunya (yakni khilafah), bukankah saya orang yang pertama kali masuk Islam, bukanlah saya demikian, bukanlah saya demikian?" Ibnu Asakir dari jalur Thariq al-Harits dari Ali, dia berkata: Orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan laki-laki adalah Abu Bakar. Ibnu Abi Khaitsamah meriwayatkan dengan sanadnya yang shahih dari Zaid bin Arqam berkata: Orang yang pertama kali melakukan shalat bersama Nabi adalah Abu Bakar. Ibnu Saad dari Arwa sahabat Rasulullah berkata: Orang yang pertama kali masuk Islam adalah Abu Bakar. Imam ath-Thabarani dalam bukunya al-Kabir dan Abdullah bin Ahmad dalam kitab Zawaid AzZuhud dari Asy-Sya'bi dia berkata: Saya menanyakan pada Ibnu Abbas tentang siapa orang yang pertama kali masuk Islam. Ibnu Abbas berkata: Abu Bakar. Tidakkah kau pernah mendengar apa yang dikatakan oleh Hassan? Jika kau sebut kesedihan saudaramu yang kamu percaya maka sebutlah saudaramu Abu Bakar, apa yang dia lakukan Manusia terbaik, terbersih dan sangat adilnya selain Nabi, yang paling bertanggungjawab atas tugasnya Orang kedua yang mendapat pengakuan kemuliannya orang pertama yang membenarkan Rasul-Nya Abu Nu'aim meriwayatkan dari Furat bin as-Saib dia berkata, Saya bertanya kepada Maimun bin Mahran, saya bertanya: Apakah Ali dalam pandanganmu lebih utama dari Abu Bakar atau Umar? Dia gemetar mendengar pertanyaan saya hingga tongkat yang
http://www.kisahislam.com/i Powered by KIC-MMINFO GROUPS! Generated: 13 February, 2008, 11:01

KisahIslam.Com |VERSI RC 1| - Kisah Sejarah Berita Aktual Tajam

dipegangnya terjatuh dari tangannya. Kemudian dia berkata, Saya tidak pernah membayangkan ada satu orang pun yang sanggup menyamai keduanya. Demi Allah tidak mungkin! Keduanya adalah tonggak utama Islam. Saya kembali bertanya: Apakah Abu Bakar atau Ali yang masuk Islam pertama kali? Dia berkata: Demi Allah, Abu Bakar telah beriman kepada nabi pada masa pendeta Bahira tatkala dia datang menemuinya. Dan terjadi perselisihan antara dia (Bahira) dan Khadijah hingga dia mengawinkan dengan Rasulullah. Pada saat itu Ali belum lahir. Telah dikatakan bahwa Abu Bakar adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari seluruh sahabat maupun yang lain. Bahkan ada sebagian yang menyatakan bahwa Abu Bakar orang pertama masuk Islam adalah merupakan ijma'. Namun juga ada disebutkan bahwa orang yang pertama kali masuk Islam adalah Ali, ada pula yang mengata-kan Khadijah. Dari beragam pendapat yang ini bisa digabungkan bahwa Abu Bakar adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan laki-Iaki dewasa, Ali yang berasal dari anak-anak, sedangkan Khadijah yang berasal dari kalangan wanita. Orang yang menyatakan gabungan perkataan ini adalah Imam Abu Hanifah. lbnu Abi Syaibah dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Salim bin Abi al-Ja'ad, dia berkata: Saya katakan kepada Muhammad bin al--Hanafiyyah: Apakah Abu Bakar orang yang pertama kali masuk Islam? Dia berkata: Tidak! Saya katakan lagi: Lalu mengapa nama Abu Bakar demikian menonjol sehingga hampir semua orang menyebutkan bahwa dia adalah orang yang pertama kali masuk Islam? Dia berkata: Karena dia adalah orang yang paling baik keislaman-nya mulai dari awal masuk Islam hingga dia menemui Tuhannya. Ibnu Asakir dengan sanad yang balk meriwayatkan dari Muhammad bin Sa'ad bin Abi Waqqash bahwa dia berkata kepada ayahnya Sa'ad: Apakah Abu Bakar orang yang pertama kali memeluk Islam? Ayahnya menjawab: Tidak! Dia masuk Islam dan sebelumnya ada lima orang yang telah masuk Islam. Namun dia orang yang paling baik keislamannya di antara kami. Ibnu Katsir berkata: Yang jelas ialah bahwa Ahli Bait Rasulullah adalah orang yang beriman kepadanya sebelum seorang pun di luar Ahli Baitnya beriman, mereka adalah: Khadijah, Zaid bin Tsabit, isteri Zaid Ummu Aiman, Ali dan Waraqah. Ibnu Asakir meriwayatkan dari Isa bin Yazid dia berkata, Abu Bakar berkata: Saya duduk di emperan Ka'bah, Zaid bin Amr bin Nufail juga duduk di sana. Saat itulah lewat di dekat kami Umayyah bin Abi ash-Salt. Lalu dia berkata, Bagaimana keadaan kalian pada pagi hari ini wahai orang-orang yang mencari kebaikan? Zaid berkata" Baik! Dia berkata: Apakah telah kamu dapatkan? Kata Zaid, Belum, kemudian dia berkata, "Setiap agama di hari Kiamat selain yang Allah tentukan adalah batil. " Apakah Nabi yang ditunggu itu berasal dari kalangan kami atau kalangan kamu? Zaid bin Amru berkata, "Saya tidak pernah mendengar sebelumnya mengenai Nabi yang ditunggu dan akan diutus." Abu Bakar berkata, "Maka saya keluar dari Ka'bah dan menemui Waraqah bin Naufal. Dia adalah orang yang banyak melihat ke langit dia selalu bergetar dadanya. Lalu saya pergi menemuinya dan saya ceritakan apa yang terjadi tadi.” Dia berkata, “Wahai anak pamanku, sesungguhnya kami adalah orang ahli tentang kitab-kitab dan ilmu. Nabi yang ditunggu-tunggu itu berasal dari kalangan nasab pertengahan Arab, dan kaummu juga berasal dari nasab pertengahan itu.” Saya katakan padanya, "Wahai pamanku, apa yang dikatakan oleh Nabi tersebut?” Dia berkata, “Dia mengatakan apa yang dikatakan (diwahyukan) kepadanya. Tidak pernah berlaku zhalim, tidak pula dizhalimi, dan membalas kezhaliman. Maka tatkala Rasulullah diutus saya beriman kepadanya." Ibnu Ishaq berkata, Muhammad bin Abdurrahman bin al -Hushain at-Tamimi berkata kepada saya bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak satu kalipun saya mengajak seseorang kepada agama Islam, kecuali dia akan raguragu dan penuh pertimbangan kecuali Abu Bakar, dia tidak pernah sejenak pun memikirkan kebenaran apa yang saya katakan dan tidak pula pernah meragukan apa yang saya sampai-kan." Al-Baihaqi berkata: Ini semua karena dia melihat dengan jelas dalil--dalil dan tanda-tanda kenabian Rasulullah. Dia mendengar perjalanan hidupnya sebelum dia mengajak kepada Islam. Maka tatkala dia menyerukan Islam, Abu Bakar telah memikirkan dan tidak mempertim-bangkan kebenaran yang dia bawa, dan dia masuk Islam secara spontan. Imam al-Baihaqi juga meriwayatkan dari Abu Maisarah bahwa Rasulullah jika berdakwah, beliau mendengar orang yang memanggilnya: Wahai Muhammad. Dan orang itu jika mendengar suara Rasulullah, dia akan berpaling dan lari. Kemudian Rasulullah rahasiakan itu kepada Abu Bakar, yang tak lain adalah sahabat lamanya di zaman Jahiliyah. Abu Nu'aim dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, Rasulullah bersabda, "Tidak seorang pun yang saya ajak bicara mengenai Islam kecuali dia akan selalu enggan dan mengingkari saya, dan dia menen-tang saya kecuali Ibnu Abu Quhafah (Abu Bakar), dimana setiap kali saya mengatakan sesuatu tentang Islam dia selalu mene-rimanya dan konsisten dengan apa yang saya katakan." Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Darda' dia berkata, bersabda RasuluIlah, “Apakah kalian meninggalkan sahabatku untukku? Sesungguhnya saya mengatakan: Wahai manusia, sesungguhnya saya adalah utusan Allah kepadamu sekalian, dan saat itu kalian katakan: Kau adalah pendusta, sedangkan Abu Bakar mengatakan: "Kau benar." Sumber: Tarikh Khulafaa'

http://www.kisahislam.com/i

Powered by KIC-MMINFO GROUPS!

Generated: 13 February, 2008, 11:01

KisahIslam.Com |VERSI RC 1| - Kisah Sejarah Berita Aktual Tajam

ABU BAKAR, Pembaiatannya Sebagai Khalifah 1


Kontribusi dari Redaksi Wednesday, 15 November 2006 16:30

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab berpidato di depan manusia tatkala dia pulang dari menunaikan ibadah haji. Dia berkata dalam khutbahnya itu: Telah sampai berita kepada saya bahwa seseorang di antara kalian ada yang berkata, jika Umar meninggaI maka saya akan membai'at Fulan, janganlah sampai ada di antara kamu yang tertipu dengan mengatakan bahwa pembaitan Abu Bakar itu adalah satu kekeliruan. Jikapun demikian, namun Allah telah menjaga dari keburukannya. Sedangkan kamu sekarang tidak dalam kondisi dimana leher-leher bisa dipancung sebagaimana di zaman Abu Bakar. Sesungguhnya dia adalah orang yang paling baik di antara kami tatkaIa Rasulullah meninggal dunia. Sedang-kan AIi dan Zubair serta orang-orangyang bersama mereka terlambat datang untuk membaiat karena mereka berdua berada di ruman Fathimah. Sedangkan orang-orang Anshar juga membaiat belakangan di Saqifah Bani Sa'idah. Sedangkan orangorang Muhajirin sepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah. Saya katakan kepadanya, "Wahai Abu Bakar pergilah kamu sekarang untuk menemui saudara--saudara kami dari kaIangan Anshar." Kemudian kami berangkat mewakili mereka hingga kami bertemu dengan orang yang shalih. Mereka menyebutkan kepada kami apa yang sedang dilakukan oleh orang--orang Anshar. Kemudian kedua orang itu bertanya, "Lalu kalian akan pergi kemana wahai orangorang Muhajirin?" Saya katakan, "Kami ingin bertemu dengan saudara-saudara kami dari golongan Anshar." Mereka berkata, "Jangan, janganlah kaIian mendekati mereka, selesaikan urusan-mu sendiri wahai kaum Muhajirin;" saya katakan, "Demi Allah, saya akan datangi mereka." Kemudian kami berangkat hingga sampai di Saqifah Bani Saidah. Mereka saat itu sedang berkumpul dan di antara para hadirin ada seorang laki-laki yang berselimut. Saya bertanya, "Siapakah orang ini?" Mereka berkata, 'Sa'ad bin Ubadah." saya bertanya, "Kenapa dia?" Mereka berkata, 'Dia sedang sakit demam." Tatkala kami telah duduk, salah seorang dari mereka berdiri dan menyampaikan pidatonya. Dia memuji Allah sebagaimana yang se-harusnya. Dia berkata, "Amma Ba'du. Kami adalah penolong (agama) Allah dan pasukan Islam. Kamu sekalian wahai orang-orang Muhajirin adalah bagian dari kami. Kalian datang kepada kami dan kalian ingin mengesampingkan kami dari hak kami dan merampas kekuasaan kami." Tatkala dia selesai mengucapkan khutbahnya, saya ingin me-nyampaikan ucapan balasan sesuai dengan apa yang saya siapkan dan saya anggap sangat baik. Saya ingin mengatakannya di hadapan Abu Bakar. Saya merasa bahwa saya lebih tahu darinya dalam batas tertentu, dan dia lebih sabar dariku dan lebih tenang penampilannya. Abu Bakar berkata, "Jangan terburu-buru wahai Umar! Dan saya tidak ingin menjadikan dia marah. Dia lebih tahu daripada saya. Demi Allah, dia sama sekali tidak meninggalkan satu kalimat pun yang saya anggap sangat indah dalam persiapan balasan yang saya siapkan. Dia mengatakannya dengan gamblang sesuai dengan apa yang saya ren-canakan bahkan lebih baik darinya. Hingga akhirnya dia mengakhiri pidatonya. Kemudian dia berkata, 'Amma Ba'du. Adapun yang engkau sebutkan tentang kebaikan-kebaikan yang ada pada kalian, maka itu memang hak kalian. Namun orang-orang Arab tidak mengakui kepemimpinan selain orang Quraisy, mereka adalah orang berasal dari keturunan yang terbaik dan dari tempat yang terbaik. Saya rela jika kalian memilih salah seorang dari dua orang ini. Maka baiatlah ia se-bagaimana kalian suka. Kemudian dia mengambil tanganku dan tangan Abu Ubaidah bin al-Jarrah, yang saat itu duduk di antara kami. Saya sangat tidak senang dengan apa yang dia katakan terakhir. "Demi Allah, lebih baik leher saya dipenggal daripada saya maju menjadi pemimpin di saat masih ada Abu Bakar." Salah seorang dari golongan Anshar berdiri dan ber-kata, "Dari kami ada pemimpin dan dari kalian ada satu pemimpin, wahai orang-orang Quraisy.' Kemudian terjadi kegaduhan dan ada teriakan-teriakan, hingga saya sangat khawatir terjadi persengketaan. Saya berkata, 'Angkat tanganmu, wahai Abu Bakar! Dia angkat tangan-nya. Lalu saya baiat Abu Bakar dan kaum Muhajirin juga mengikutinya, lalu kaum Anshar juga ikut membaiatnya. Maka ketahuilah bahwa kami tidak pernah menghadiri sama sekali satu majlis yang sangat genting yang lebih mendapat taufik daripada pembaitan Abu Bakar. Kami khawatir jika kami memecah belah umat, sedangkan saat itu belum dilakukan pembaiatan. Dengan demikian kita akan dihadapkan pada pembaiatan orang yang tidak kami sukai atau kami berbeda pendapat dengan mereka hingga akan timbul fitnah besar. lmam an-Nasai Abu Ya'la dan al-Hakim -dia menyatakan ke-shahihannya- meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud dia berkata, "Tatkala Rasulullah telah dipanggil Allah ke hadirat-Nya, orang-orang Anshar berkata, 'Dari kami ada seorang pemimpin dan dari kalian ada seorang pemimpin. 'Kemudian Umar mendatangi mereka dan berkata, 'Wahai kaum Anshar tidakkah kaIian tahu bahwa Rasulullah telah memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat pada saat hidupnya. Lalu siapa di antara kalian yang merasa dirinya berhak untuk maju mendahului Abu Bakar?' Orang-orang Anshar berkata, 'Kami berlindung kepada Allah untuk maju mendahului Abu Bakar." Ibnu Sa'ad, al-Hakim dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri dia berkata: Tatkala Rasulullah wafat kaum muslimin ber-kumpul di rumah Sa'ad bin Ubadah. Hadir di tengah mereka Abu Bakar dan Umar. Salah seorang dari kaum Anshar berdiri, "Wahai orang-orang Muhajirin sesungguhnya Rasulullah jika menempatkan seseorang dari kalian maka dia akan senantiasa mengambil dari kami sebagai teman. Maka kami melihat bahwa pemerintahan ini hendaknya diperintah oleh dua orang, seorang dari kami dan seorang dari kalian." Orang--orang yang berpidato dari golongan
http://www.kisahislam.com/i Powered by KIC-MMINFO GROUPS! Generated: 13 February, 2008, 11:45

KisahIslam.Com |VERSI RC 1| - Kisah Sejarah Berita Aktual Tajam

Anshar menekankan hal itu secara bergantian. Zaid bin Tsabit berdiri dan berkata, "Tidakkah kalian tahu bahwa Rasulullah adalah dari kalangan Muhajirin dan khalifahnya adalah dari kalangan Muhajirin, sedangkan kita adaIah pembantu RasuIullah (Anshar), dengan begitu kita juga adalah pembantu khalifahnya. Kemudian dia mengambil tangan Abu Bakar dan berkata, 'Inilah sahabat Anda sekalian.' Lalu Umar membaiatnya, diikuti oleh kaum Muhajirin lalu kaum Anshar. Kemudian Abu Bakar naik ke mimbar, dan dia melihat ke wajah hadirin, namun tidak dapatkan Zubair. Dia memerintahkan agar Zubair dipanggil lalu dia datang menemui panggilan Abu Bakar. Abu Bakar berkata, "Kau adalah anak bibi Rasulullah dan seorang hawari Rasulullah apakah kau ingin mengoyak-ngoyak kesatuan kaum muslimin?" Zubair menjawab, "Tidak wahai khalifah Rasulullah!" Lalu dia membaiat Abu Bakar. Lalu dia kembali melihat orang yang hadir, dia juga tidak mendapatkan Ali di tengah mereka. Dia kemudian mengutus seseorang untuk memanggil Ali dan Ali pun datang memenuhi panggilan tersebut. Abu Bakar berkata, "Kau adalah anak paman RasuluIlah dan dia kawin-kan engkau dengan anaknya, apakah kau akan mengoyak-ngoyak kesatuan kaum muslimin?" Ali menjawab, "Tidak wahai khalifah Rasulullah! Dan dia pun membaiatnya." Ibnu Ishaq dalam kitab Sirah-nya berkata, az-Zuhri berkata kepada saya, Anas bin Malik berkata kepada saya, dia berkata: "Tatkala Abu Bakar dibaiat di Saqifah Bani Saidah, keesokan harinya Abu Bakar duduk di atas mimbar. Lalu Umar berpidato sebelum Abu Bakar. Dia memuji Allah dan menyatakan syukurnya. Lalu berkata, "Sesungguh-nya Allah telah menjadikan orang terbaik di antara kalian memangku jabatan khalifah. Dia adalah sahabat Rasulullah, orang yang menemani-nya saat berada di dalam gua. Maka bangunlah kalian semua dan nyatakan baiat kepadanya." Lalu para hadirin berdiri dan menyatakan baiat secara umum setelah baiat di Saqifah. Kemudian Abu Bakar berdiri dan memuji Allah dan menyatakan syukumya. Kemudian dia berkata, "Amma Ba'du. Wahai manusia! Sesungguhnya saya telah dipilih untuk memimpin kalian dan bukanlah saya orang ter-baik di antara kalian. Maka,jika saya melakukan hal yang baik, bantulah saya. Dan jika saya melakukan tindakan yang menyeleweng luruskanlah saya. Sebab kebenaran itu adalah amanah. sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian adalah kuat dalam pandangan saya hingga saya ambilkan hak-haknya untuknya. sedangkan orang yang kuat di antara kalian adalah lemah di hadapanku hingga saya ambil hak orang lain darinya, insya Allah. Dan tidak ada satu kaum pun yang meninggalkan jihad dijalan Allah kecuali akan Allah timpakan kepadanya kehinaan. Dan tidak pula menyebar kemaksiatan kepada satu kaum kecuali akan Allah timpakan kepada mereka petaka. Taatlah kalian kepadaku selama saya taat kepada Allah dan jika saya melakukan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban taat kalian kepadaku. Bangunlah untuk melakukan shalat. rahimakumullah. " Musa bin 'Uqbah meriwayatkan dalam kitabnya al-Maghazi, aI-Hakim -dia menyatakan keshahihan riwayat ini- dari Abdur Rahman bin' Auf , dia berkata, Abu Bakar berkhutbah, lalu berkata, "Demi Allah sesungguhnya saya tidak pernah berambisi kepada kekuasaan meskipun sehari ataupun semalam dalam hidupku. Saya juga tidak pernah menginginkannya. Saya tidak pernah satu kalipun meminta kepada Allah baik secara terang-terangan maupun secara rahasia. Namun saya khawatir terjadi fitnah. Dan tidaklah ada dalam kepemimpinan ini untuk berleha-leha. Sebab saya telah dibebani tugas yang demikian besar. Dan tidaklah ada padaku satu kekuatan dan daya kecuali dengan bantuan Allah." Ali dan Zubair berkata, "Dan kemarahan kami tidak lain karena kami tidak diikutkan dalam musyawarah. Sesungguhnya kami memandang bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling berhak untuk memangku khilafah. Karena sesungguhnya dia adalah teman Rasululah di dalam gua. Dan kami mengetahui kemuliaan yang ada padanya. Rasulullah telah memerintahkannya menjadi imam pada saat dia masih hidup." Bersambung >>> Ke Artikel: ABU BAKAR, Pembaiatannya Sebagai Khalifah 2 ABU BAKAR, Hal-hal yang Terjadi Pada Masa Kekhilafahannya

http://www.kisahislam.com/i

Powered by KIC-MMINFO GROUPS!

Generated: 13 February, 2008, 11:45

KisahIslam.Com |VERSI RC 1| - Kisah Sejarah Berita Aktual Tajam

ABU BAKAR, Pembaiatannya Sebagai Khalifah 2


Kontribusi dari Redaksi Wednesday, 15 November 2006 16:33

Ibnu Sa'ad juga meriwayatkan dari Ibrahim At-Tamimi dia berkata: Tatkala Rasulullah meninggal Umar mendatangi Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan berkata, "Angkat tanganmu hingga aku berbaiat kepadamu, karena engkau adalah Amin (kepercayaan) umat ini sebagaimana Rasulullah katakan.' Abu Ubaidah berkata, 'Saya tidak pernah melihat satu kelemahan pendapat yang berasal darimu sejak engkau masuk Islam! Apakah engkau akan membaiat saya, padahal di antara kalian ada ash-Shiddiq, dan seorang dari dua orang yang ada di dalam gua?" Ibnu Sa'ad juga meriwayatkan dari Muhammad bahwa Abu Bakar berkata kepada Umar, 'Bentangkan tanganmu agar aku bisa membaiatmu'. Umar berkata kepadanya, 'Engkau jauh lebih baik dariku!" Abu Bakar berkata, "Kau lebih kuat dariku!' Dia mengulang-ulang kata tersebut. Kemudian Umar berkata, "Sesunggguhnya kekuatanku adalah untukmu bersama keutamaanmu.' Lalu dia pun membaiatnya. Ahmad meriwayatkan dari Hamid bin Abdur Rahman bin' Auf dia berkata, bahwa Rasulullah meninggal sedangkan Abu Bakar berada di sebuah tempat di Madinah. Lalu dia datang ke tempat Rasulullah dan menyingkap wajahnya yang mulia. Dia mencium wajah Rasulullah sambil berkata, "Ibu dan ayahku jadi tebusan untukmu. Alangkah baiknya engkau saat engkau hidup dan saat engkau wafat. Muhammad telah meninggal demi Tuhan pemelihara Ka'bah' -kemudian dia menyebutkan hadits-. Dia berkata: Abu Bakar dan Umar berangkat hingga mereka sampai di tempat orang-orang Anshar. Kemudian Abu Bakar berbicara di hadapan mereka. Dia tidak meninggalkan satu hal pun yang diturunkan Allah mengenai kaum Anshar dan disebutkan Rasulullah mengenai mereka kecuali dia menyebutkannya, dia berkata, "Kalian semua telah tahu bahwa Rasulullah bersabda, 'Andaikata semua orang melewati satu lembah dan kaum Anshar melewati lembah yang lain, maka saya pasti akan melewati lembah di mana kaum Anshar lewat.' Wahai Sa'ad kau tahu bahwa Rasulullah bersabda dan saat itu kau sedang duduk, 'Orang-orang Quraisy adalah pemangku kekuasaan ini. Orang yang baik akan ikut orang yang baik, dan orang yang jelek akan ikut orang jelek;' Sa'ad berkata, 'Kau benar, kami adalah para wazir (menteri) sedangkan kalian adalah para Amir.''' Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri dia berkata: TatkaIa Abu Bakar dilantik sebagai khalifah, dia melihat sebagian orang yang tidak begitu sreg. Maka dia berkata, "Wahai manusia, apakah yang menghalangi kalian, bukanlah aku adalah orang yang paling berhak? Bukankah orang pertama yang masuk Islam, bukankah ... bukankah ... Dia kemudian menyebutkan beberapa hal." Ahmad meriwayatkan dari Rafi'ath-Thai, dia berkata, "Abu Bakar mengatakan kepadaku tentang proses pembaitannya, tentang apa yang dikatakan oleh orang-orang Anshar dan apa yang dikatakan oleh Umar. Dia berkata, 'Mereka membaiat saya dan saya menerima baiat mereka. Saya khawatir bahwa akan terjadi satu fitnah, yang setelah itu terjadi tindakan murtad." Ibnu Ishaq dan Ibnu 'Abi dalam al-Maghazi meriwayatkan dari Rafi' Ath-Thai, bahwa dia berkata kepada Abu Bakar, "Apa yang men-dorong kamu untuk menerima jabatan ini, padahal engkau telah melarangku untuk tidak menjadi pemimpin dari dua orang?" Abu Bakar berkata, "Saya tidak mendapat jalan lain, dan saya takut terjadi perpecahan pada umat Muhammad." Ahmad meriwayatkan dari Qais bin Abi Hazim dia berkata, Se-sungguhnya saya pernah duduk bersama Abu Bakar selama sebulan setelah wafatnya Rasulullah. Dia kemudian mengisahkan kepadaku tentang kisahnya. Kemudian ada panggilan adzan untuk shalat: ash--shalat Jami'ah. Lalu orang-orang berkumpul. Dan dia naik ke mimbar, lalu berkata, "Wahai manusia, sungguh saya menginginkan perkara ini di tangan orang lain. Dan jika kalian menuntut aku untuk melaksanakan semua sunnah Rasulullah, maka pastilah saya tidak akan sanggup memikulnya. Sebab dia terjaga dari godaan syetan dan kepadanya diturunkan wahyu dari langit.' Ibnu Sa'ad meriwayatkan dari Hasan al-Bashri dia berkata: Tatkala Abu Bakar dilantik menjadi khalifah dia berdiri mengucapkan khutbahnya di hadapan manusia. Lalu berkata, "Amma Ba'du. Se-sungguhnya saya diberi beban kekuasaan ini, padahal saya sangat tidak suka, sesungguhnya saya menginginkan di antara kalian ada yang menggantikan posisi ini. Ketahuilah jika kalian membebani saya seperti yang dibebankan Rasulullah, niscaya saya tak akan sanggup melakukannya. Rasulullah adalah hamba yang kepadanya diturunkan wahyu serta dijaga dari kesalahankesalahan. Ketahuilah bahwa saya adalah manusia biasa, dan saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa syetan selalu menggodaku. Jika kalian melihat saya sedang marah, maka jauhilah saya, sehingga saya tidak membuat kesalahan pada rambut dan kulit kalian." Ibnu Sa'ad dan al-Khathib meriwayatkan dari Malik dari 'Urwah dia berkata, "Tatkala Abu Bakar resmi dilantik sebagai khalifah dia berbicara di hadapan manusia. Dia memuji dan bersyukur kepada Allah, kemudian berkata, 'Amma Ba'du. Sesungguhnya saya telah di-nobatkan. Namun al-Qur'an turun, dan Rasulullah mengajarkan sunnah-sunnah. Lalu kami diajari sunah-sunnah itu dan kami tahu. Maka ketahuilah wahai manusia secerdas-cerdasnya manusia adalah orang yang bertakwa, sedangkan orang yang paling lemah adalah orang yang ingkar. Sesungguhnya orang yang paling lemah di antara kalian adalah orang yang paling kuat hingga aku ambil untuknya hak-hak-nya. Dan orang yang paling kuat di antara kalian adalah orang yang lemah hingga aku ambil darinya hak-hak orang lain. Wahai manusia, sesungguhnya
http://www.kisahislam.com/i Powered by KIC-MMINFO GROUPS! Generated: 13 February, 2008, 11:45

KisahIslam.Com |VERSI RC 1| - Kisah Sejarah Berita Aktual Tajam

saya ini adalah orang yang mengikuti jejak Rasulullah, dan saya bukan orang yang membikin-bikin hal yang baru (mubtadi'). Jika saya melakukan hal yang baik, maka bantulah saya dan jika saya melakukan hal yang jelek, maka luruskanlah saya. Saya akhiri khutbah ini, dan saya minta ampun kepada Allah untuk saya dan untuk kalian. Imam Malik berkata, 'Tidak ada seorang pun yang menjadi . pemimpin kecuali dia harus memenuhi persyaratan seperti itu." Al-Hakim dalam al-Mustadrak meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, 'Tatkala Rasulullah wafat kota Makkah serasa bergoncang. Abu Quhafah mendengar itu. Lalu dia berkata, 'Ada apa ini?" Mereka berkata, 'Rasulullah meninggal;" dia berkata, "Satu perkara yang sangat agung, lalu siapa yang akan menjadi pengganti setelah wafatnya?” Mereka berkata, "Anakmu!' Dia bertanya, 'Apakah orang-orang Bani Abdi Manaf dan Bani alMughirah rela dengan keputusan ini?" Mereka berkata, "Ya!" Dia berkata, "Tidak ada yang akan menurunkan apa yang kau angkat dan tidak akan diangkat apa yang kau letakkan." AI-Waqidi meriwayatkan dari jalan Aisyah, Ibnu Umar, Sa'id Ibnu al-Musayyib dan yang lain, mereka berkata, 'Sesungguhnya Abu Bakar dibaiat pada saat Rasulullah wafat pada hari Senin tanggal dua belas Rabiul Awwal tahun sebelas Hijrah." Imam ath-Thabarani meriwayatkan dalam al-Awsath dari Ibnu Umar dia berkata, "Abu Bakar tidak pernah duduk di tempat duduk Rasulullah hingga dia menghadap Allah, dan Umar tidak pernah duduk di tempat duduk Abu Bakar hingga dia menghadap Allah, demikian juga, Utsman tidak pernah duduk di tempat duduk Umar hingga dia menghadap Allah.' Bersambung >>> Ke Artikel: ABU BAKAR, Hal-hal yang Terjadi Pada Masa Kekhilafahannya

http://www.kisahislam.com/i

Powered by KIC-MMINFO GROUPS!

Generated: 13 February, 2008, 11:45

KisahIslam.Com |VERSI RC 1| - Kisah Sejarah Berita Aktual Tajam

ABU BAKAR, Hal-hal yang Terjadi Pada Masa Kekhilafahannya


Kontribusi dari Redaksi Wednesday, 15 November 2006 16:38

Hal-hal penting yang terjadi di masa kekhalifahannya adalah: Diteruskannya pengiriman tentara Usamah yang pernah disiapkan Rasulullah sebelum meninggalnya, perang melawan orang-orang yang murtad dan para pembangkang yang tidak mau membayar zakat perang terhadap Musailamah al-Kadzdzab, serta pengumpulan al-Qur' an. Al-Ismaili meriwayatkan dari Umar dia berkata, "Tatkala Rasulullah wafat banyak orang yang murtad dan mereka berkata, 'Kami akan tetap melakukan shalat namun kami tidak akan pernah membayar zakat. 'Saya datang menemui Abu Bakar dan saya katakan kepadanya, 'Satukan manusia dan bersikaplah dengan penuh kasih kepada mereka karena keadaan mereka itu adalah laksana orang-orang yang buas." Abu Bakar berkata, 'Saya mengharap bantuanmu, namun yang saya dapatkan adalah pengkhianatanmu. Apakah kamu demikian garang di masa jahiliyyah, dan menjadi penakut di dalam Islam, wahai Umar?' Lalu dengan apa harus saya satukan mereka, dengan syair yang dibikin-bikin dan sihir yang dibuat-buat? Tidak! Tidak! Rasulullah te-lah meninggal dan wahyu telah putus. Demi Allah saya akan perangi mereka selama pedang masih bisa bertahan ditanganku, walaupun mereka hanya menolak untuk memberikan seutas tali binatang yang pernah diberikan kepada Rasulullah." Ternyata saya dapatkan bahwa dia jauh lebih berani dan kuat keinginannya dan orang yang paling semangat terhadap satu perkara yang mungkin padapandangan orang itu adalah kecil dan tidak berharga tatkala mereka memerintah. Abu al-Qasim al-Baghawi dan Abu Bakar Asy-Syafi'i dalam kitab-nya al-Fawaid, juga Ibnu Asakir meriwayatkan dari Aisyah dia berkata, 'Tatkala Rasulullah meninggal kemunafikan muncul dimana-mana, sedangkan orang-orang Arab murtad dari Islam. Adapun orang-orang Anshar melarikan diri (tidak memihak). Andaikata hal-hal yang menimpa ayahku menimpa gunung-gunung, niscaya ia akan menghan-curkannya. Dan tidak satu masalah pun dimana orang-orang berbeda pendapat kecuali ayah saya akan datang untuk memecahkan per-soalan itu. Mereka berkata: Dimana seharusnya Nabi dikebumikan? Kami tidak mendapatkan seorang pun yang mengetahui masalah ini. Lalu Abu Bakar berkata, "Saya mendengar Rasulullah bersabda, Tidak ada seorang nabi pun yang meninggal kecuali dia harus disemayam-kan di tempat pembaringan di mana dia meninggal." Orang-orang juga berbeda pendapat tentang warisannya. Ternyata tak seorang pun yang mengetahui tentang masalah ini, maka berkatalah Abu Bakar: Saya mendengar Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya kami para nabi tidak mewariskan (harta), dan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah. 11 Sebagian ulama berkata: Ini adalah masalah pertama dimana terjadi perbedaan antara para sahabat. Sebagian mereka berkata: Kami akan menyemayamkannya di Makkah, di kota tempat dia dilahir-kan. Sedangkan yang lain berkata: Hendaknya dia disemayamkan di masjidnya; Yang lain berkata, Dia hendaknya disemayamkan di Baqi'; yang lain berkata, Hendaknya dia disemayamkan di Baitul Maqdis, tempat para nabi disemayamkan. Demikianlah yang terjadi, hingga akhirnya Abu Bakar memberitahukan kepada mereka tentang apa yang dia dengar dari Rasulullah. Hadits ini adalah hadits yang hanya diriwayatkan oleh Abu Bakar, sedangkan kaum Muhajirin dan Anshar semuanya merujuk kepadanya. Imam al-Baihaqi Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata, 'Demi Dzat yang tidak ada Tuhan selain dia, andaikata Abu Bakar tidak menjadi khaIifah, maka Allah tidak akan disembah lagi di muka bumi.' Dia mengulangi perkataan tersebut dua kali hingga tiga kali. Maka ditanyakan kepadanya: Apa yang kau maksudkan wahai Abu Hurairah? Dia berkata, 'Sesungguhnya RasuluIlah telah mempersiapkan tentara Usamah bin Zaid dalam jumIah tujuh ratus tentara ke negeri Syam. Tatkala dia sampai di daerah Dzi Khasyab, Rasulullah dipanggil Allah menghadap ke hadirat-Nya. Orang-orang di sekitar Madinah serentak murtad. Para sahabat Rasulullah berkumpul: Terjadi Tarik ulur di antara mereka, apakah mereka akan terus melanjutkan perjalanan ke wilayah Romawi sedangkan orang-orang di sekitar Madinah pada murtad? Abu Bakar berkata, "Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, andaikata anjing-anjing menarik-narik kaki isteri-isteri Rasulullah, saya tidak akan pemah menarik mundur pasukan yang telah dipersiapkan Rasulullah, dan saya tidak akan pernah akan membuka bendera yang diikatkan RasuIullah. Kemudian dia mengirim tentara Usamah. Dan setiap kali pasukan itu melewati kabilah yang hendak murtad mereka selalu berkata: Jika saja mereka tidak memiliki kekuatan yang demikian besar, niscaya orang-orang ini tidak akan keIuar dari Madinah. Namun demikian biarlah mereka pergi hingga bertemu dengan pasukan Romawi. Kaum muslimin bertemu dengan pasukan Romawi, pasukan Islam memenangkan pertempuran dan mereka puIang dengan selamat. Akhirnya orang-orang yang ingin murtad itu tetap memeluk Islam." Al-Baihaqi juga meriwayatkan dari 'Urwah dia berkata, Rasulullah pada saat sakitnya bersabda, "Teruskan perjuangan pasukan Usamah." Dia berjaIan dengan pasukannya hingga sampai ke daerah al-Jurf. Isterinya, fatimah bintu Qais mengutus seseorang untuk menemuinya dan berkata, "Jangan terburu-buru berangkat sebab saat ini Rasulullah dalam keadaan sakit keras." Tak lama kemudian Rasulullah meninggal. Tatkala Rasulullah meninggal dia kembaIi menemui Abu Bakar dan berkata: Sesungguhnya Rasulullah mengutusku sedangkan saya waktu itu tidak berada seperti keadaanmu saat ini, saya kini khawatir orang--orang Arab kafir kembali. Dan jika mereka kafir, maka merekalah orang yang seharusnya diperangi pertama kali. Jika mereka tidak kafir, maka saya akan melanjutkan perjalanan perang karena masih banyak orang--orang yang tangkas dan baik. Abu Bakar kemudian berpidato di hadapan kaum Anshar dan Muhajirin, "Demi Allah, dimakan burung ganas lebih baik bagi saya daripada saya harus memulai sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah.' Lalu dia mengutusnya
http://www.kisahislam.com/i Powered by KIC-MMINFO GROUPS! Generated: 13 February, 2008, 11:44

KisahIslam.Com |VERSI RC 1| - Kisah Sejarah Berita Aktual Tajam

kembali sesuai dengan pesan Rasulullah. Adz-Dzahabi berkata, 'Tatkala kabar wafatnya Rasulullah telah tersebar luas ke semua wilayah, banyak golongan Arab yang murtad dari agama Islam, mereka tidak mau membayar zakat. Lalu Abu Bakar bangkit untuk memerangi mereka. Umar dan yang lain menyarankan agar tidak memerangi mereka. Demi Allah jika mereka tidak mau memberikan seutas tali yang mereka pernah serahkan kepada Rasu-lullah, maka akan saya perangi mereka atas tindakannya itu." Umar berkata, "Lalu bagaimana kau akan perangi manusia sementara Rasulullah telah bersabda, 'Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan: Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai Rasulullah. Siapa pun yang mengatakannya maka dia terjaga harta dan darahnya kecuali dengan haknya, sedangkan perhitungannya ada pada sisi Allah." Abu Bakar berkata, 'Demi Allah sungguh akan saya perangi siapa saja yang memisahkan antara shalat dan zakat. Sebab zakat adalah hak harta, dan Rasulullah telah bersabda: 'kecuali dengan haknya. '" Umar berkata, "Demi Allah saya melihat bahwa Allah telah membukakan dada Abu Bakar untuk berperang. Maka tahulah saya bahwa apa yang dikatakan itu adalah benar." (HR. Bukhari dan Muslim). Dari 'Urwah dia berkata, 'Abu Bakar keluar dengan kaum Muhajirin dan Anshar hingga sampai ke Najd. Sedangkan orang-orang Badui pada melarikan diri bersama dengan keluarga dan kerabatnya. Orang--orang berkata kepada Abu Bakar, "Pulanglah ke Madinah kepada ke-luarga dan wanita-wanita, dan dudukkan seseoang untuk memimpin tentara. Mereka mengatakan itu hingga akhirnya Abu Bakar pulang. Dan dia memerintahkan Khalid bin al-Walid untuk memimpin tentara.' Dia berkata kepada Khalid, 'Jika mereka menyerah dan membayar zakat, maka jika ada di antara kalian yang akan pulang-pulanglah; Setelah itu Abu Bakar pulang ke Madinah." Imam ad-Daraquthni meriwayatkan dari Ibnu Umar dia berkata, 'Tatkala Abu Bakar muncul dan dia duduk di pelana kudanya, Ali bin Abi Thalib mengambil tali kekangnya. Dia berkata, 'Mau kemana engkau wahai khalifah Rasulullah? Saya akan katakan kepadamu sebagaimana yang pernah Rasulullah katakan kepadamu pada Perang Uhud: Sarungkan pedangmu, dan janganlah kau jadikan kami ber-sedih karena kehilangan dirimu, pulanglah ke Madinah. Demi Allah jika kami kehilangan dirimu, maka tidak akan ada lagi aturan dalam Islam untuk selamanya." Dari Hanzhalah bin Ali al-Laitsi dia berkata bahwa Abu Bakar mengutus Khalid dan memerintahkannya untuk memerangi manusia atas lima perkara. Barangsiapa yang meninggalkan salah satunya maka dia harus diperangi karena dia laksana meninggalkan empat yang lain. Mereka harus diperangi jika mereka tidak mengucapkan syahadatain, meninggalkan shalat tidak membayar zakat meninggalkan puasa dan tidak mau menunaikan haji. Khalid bin Walid dan orang-orang yang bersamanya berangkat pada buIan Jumadil Akhir. Dia memerangi Bani Asad, Bani Ghathafan. Ada yang terbunuh dan ada pula yang ditawan. Sedangkan sisanya kembali ke pangkuan Islam. Pada peristiwa ini dua orang sahabat yakni 'Ukasyah bin Muhshin dan Tsabit bin Aqram mati syahid. Pada bulan Ramadhan di tahun itu Fatimah, putri Rasulullah, penghulu para wanita dunia wafat dalam usia 24 tahun. Adz-Dzahabi berkata bahwa Rasulullah tidak memiliki nasab keturunan kecuali darinya. Sebab dari anak Zainab tidak ada ketu-runan, sebagaimana dikatakan oleh Zubair bin Bakkar. Sedangkan Ummu Aiman meninggal sebulan sebelum meninggalnya fatimah. Pada bulan Syawwal Abdullah bin Abu Bakar meninggal. Kemudian Khalid melanjutkan ekspedisinya ke Yamamah untuk memerangi Musailamah al-Kadzdzab di akhir tahun itu. Kedua pasukan bertemu. Mereka dikepung dalam beberapa hari. Kemudian Musailamah -semoga Allah melaknatnyaterbunuh. Pembunuhnya adalah Wahsyi yang tak lain adalah pembunuh Hamzah di perang Uhud. Pada perang itu, orang yang mati syahid adalah, Abu Hudzaifah bin 'Utbah, Salim bekas budak Hudzaifah, Syuja' bin Wahb, Zaid bin al-Khaththab, Abdullah bin Sahl, Malik bin Amr, ath-Thufail bin Amr ad--Dawsi Yazid bin Qais, Amir bin alBakir, Abdullah bin Makhramah, Saib bin Utsman bin Mazh'un, Abbad bin Basyar, Ma'nu bin Adi, Tsabit bin Qais bin Syamas, Abu Dujanah Samak bin tiarb dan beberapa sahabat lain yang jumlahnya tujuh puluh. Saat terbunuh, Musailamah berusia seratus lima puluh tahun. Dia lahir sebelum lahimya Abdullah ayah Rasulullah . Pada tahun 12 Hijriyyah Abu Bakar mengutus aI-Ala' bin al-Hadhrami ke Bahrain. Orang-orang di sana telah murtad. Mereka kemudian bertemu dengan kemenangan berada di tangan kaum muslimin. Dia juga mengutus Ikrimah bin Abu Jahal ke Amman yang penduduknya murtad. Sementara itu al-Muhajir bin Umayyah diutus kepada orang-orang Najir yang murtad. Sedangkan Ziad bin Labid al--Anshari di utus kepada satu kelompok manusia yang telah murtad. Pada tahun itu, Abu al-Ash bin al-Rabi', suami Zainab putri Rasulullah, meninggal dunia. Juga Ash-Sha'ab bin Jatsamah serta Abu Martsad al-Ghanawi.
http://www.kisahislam.com/i Powered by KIC-MMINFO GROUPS! Generated: 13 February, 2008, 11:44

KisahIslam.Com |VERSI RC 1| - Kisah Sejarah Berita Aktual Tajam

Setelah usai memerangi orang-orang murtad, Abu Bakar mengutus Khalid bin Walid untuk menuju wilayah Bashrah dan memerangi Ublah. Dia kemudian membuka dan menaklukkannya. Dia juga menaklukkan wilayah kaisar yang ada di wilayah Irak dengan cara perang dan dengan cara damai. Pada tahun ini pula Abu Bakar menunaikan ibadah haji. Kemudian dia pulang dan mengirim Amr bin al-Ash dan pasukannya ke Syam. Pada saat itulah terjadi perang Ajnadain, yakni pada bulan Jumadil Ula tahun 13 Hijriyyah. Kaum muslimin mendapatkan kemenangan, sedangkan Abu Bakar mendapat kabar tersebut saat menjelang akhir hayatnya. Pada perang tersebut Ikrimah bin Hisyam bin al-Ash mati syahid. Di saat itu juga terjadi perang Marj as-Shafr. Kaum muslimin dapat memukul mundur kaum musyrikin dan beberapa orang mati syahid di antaranya al-Fadl bin al-Abbas.

http://www.kisahislam.com/i

Powered by KIC-MMINFO GROUPS!

Generated: 13 February, 2008, 11:44