Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH TUTORIAL

NAMA BLOK

: HEMATOLOGI DAN IMUNOLOGI SISTEM : AIDA : 070100155

KEL. TUTORIAL : A-13 NAMA NIM

NAMA FASILITATOR: dr. Zukesti

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2008-2009

MAKALAH TUTORIAL PERORANGAN


BLOK HEMATOLOGI DAN IMUNOLOGI SISTEM
8 APRIL 11 APRIL 2008 TEMA BLOK FASILITATOR : ANEMIA DEFISIENSI BESI : dr. ZUKESTI

DATA PELAKSANAAN a. Tanggal tutorial : 8 Januari 2008 b. Pemicu KE- I c. Pukul : 09.30-12.00 WIB d. Ruangan : ruang diskusi Fisika-6

DAFTAR ISI

JUDUL

HALAMAN

Pendahuluan....4 Pemicu...5 Daftar pertanyaaan..6 Isi7

PENDAHULUAN
Seluruh aktivitas tubuh, termasuk homeostatis diatur oleh system saraf dan system endokrin. System saraf bekerja dengan cepat, sedangkan system endokrin bekerja dengan lambat. System saraf bertanggung jawab untuk menginterpretasikan dan menjawab semua jenis sensasi yang diterima oleh tubuh, baik dari lingkungan, jaringan dan organ tubuh itu sendiri. Susunan saraf (sistema nervorum) terdiri dari susunan saraf pusat perifer. Susunan saraf pusat terdiri dari : 1. Otak besar (cerebrum) 2. Otak kecil (cerebellum) 3. Diencephan 4. Batang otak (brain stem) yang terdiri dari : Mesencephalon Pons Medulla oblongata 5. Medulla spinalis Susunan saraf perifer terdiri dari : 1. System saraf cerebrospinalis Saraf Kranialis (12 pasang) Saraf spinalis (31 pasang)

2. System saraf otonom Saraf simpatis (thoracolumbal) Saraf parasimpatis (craniosacral)

PEMICU
Pemicu I : Pak Rudi, laki-laki berumur 25 tahun dari kursi saat ia sedang bekerja di kantornya. Rekan-rekan kerjanya segera membawanya kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Ia masih dalam kondisi sadar namun sangat sulit berbicara dan tidak dapat berjalan. Lengan kirinya sulit digerakkan dan sudut mulut tertarik kekanan. Keluarganya menyampaikan bahwa Pak Rudi hanya mengeluhkan sering sakit kepala. Dan selama seminggu terakhir ini sering bekerja lembur dan pulang larut malam karena pekerjaan yang menumpuk di kantor. Apa yang terjadi pada Pak Rudi ?

More Info : Pada pemeriksaan dokter didapati TD 190/140 mmHg. Pak Rudi kemudian menjalani CT-Scann kepala. Hasil CT-Scann : Pendarahan intraventrikularn otak. Pak Rudi segera menjalani pembedahan otak untuk mengatasi pendarahan yang terjadi. Setelah menjalani perawatan selama beberapa minggu di rumah sakit, dokter menganjurkan untuk rawat jalan dan memberikan obat-obatan serta menganjurkan Pak Rudi untuk menjalani fisioterapi. Setelah beberapa, bulan Pak Rudi mengalami perbaikan dan dapat kembali bekerja seperti sebelumnya. Bagaimana analisa anda terhadap keadaan Pak Rudi ?

DAFTAR PERTANYAAN
Bagaimana mekanisme normal dari kelenjar tiroid & pengaruh T3 & T4 dalam metabolisme? Bagaimana proses terjadinya Hipertiroid? Mengapa Ibu Mimi bisa merasa kepanasan? Mengapa Ibu Mimi menderita diarrhea? Bagaimana pemeriksaan T3 & T4? Bagaimana terapi / pengobatan?

ISI
Tema blok : Intraventrikularisasi otak dan kontrol sistem Tutor : dr. Data pelaksanaan : e. Tanggal tutorial : 29 Januari 2008 f. Pemicu I

g. Pukul : 09.30-12.00 h. Ruangan : ruang diskusi Fisika-6

Pemicu : Mimi, seorang Ibu rumah tangga yang berusia 25 tahun, selama 1 tahun ini merasa jantungnya sering berdebar, dan berat badannya juga menurun meskipun makannya banyak. Dia tidak menderita demam, tetapi merasa kepanasan dan banyak berkeringat. Selain itu Mimi sering diarrhea. Mimi sudah berobat ke paramedis tetapi tidak ada perubahan. Apa yang terjadi pada Ibu Mimi ?

More Info : Ibu Mimi memeriksakan dirinya ke dokter dan dari hasil pemeriksaan ada pembesaran gondok diffuse grade 2 dan exopthalmus. Hasil laboratorium menunjukkan bahwa pemeriksaan darah rutin normal, kadar hormon T3:8 g/dl, T4:18 g/dl dan TSH: 0,001 g/dl (normal: T3=0,15 g/dl, T4=8 g/dl, TSH=2 U/ml) Tekanan darah 140/60 mmHg, Denyut jantung/nadi 112 x/menit, Temperatur tubuh 37,3C. Pada pemeriksaan feses rutin tidak dijumpai mikroorganisme.

Tujuan pembelajaran : a. Memahami sistem vaskularisasi otak dalam siklus willisi b. Memahami anatomi CNS c. Mengetahui pemahaman fisiologi tentang area motorik di cerebral cortex d. Mengetahui struktur histologi CNS e. Mengetahui mekanisme hantaran impuls ke sistem saraf pusat Pertanyaan yang muncul dalam curah pendapat : a. Mekanisme dan struktur anatomi vaskularisasi otak b. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan vaskularisasi c. Jelaskan area motorik pada cerebral cortex d. Struktur hitologi CNS e. Struktur anatomi CNS f. Fungsi saraf pusat dalam CNS

g. Hantaran rangsangan pada sistem saraf pusat

Jawaban atas pertanyaan Pendarahan otak cabang arteri carotis interna dan arteri vertebralis. ARTERIA VERTEBRALIS Pars prevertebralis Pars cervicalis s. transversaria (C6-C1) rr. spinales et musculares Pars atlantica sulcus a.v., membrana atlantooccipitalis post. , foramen occipitale magnum Pars intracranialis 8

rr. meningei,

a. inferior posterior cerebelli ( a. spinalis post.) a. spinalis ant. ARTERIA BASILARIS 2 aa. vertebrales a. basilaris a. inferior anterior cerebelli (a. labyrinthi) aa. pontis aa. mesencephalicae a. superior cerebelli aa. cerebri posteriores circulus arteriosus cerebri Willisi CIRCULUS ARTERIOSUS WILLISI Merupakan anastomose yang penting antara 4 arteri (a.vertebralis & a.carotis interna) yang memberikan darah ke otak

Dibentuk oleh : a.cerebri posterior, a.communicans posterior, a.carotis interna, a.cerebri anterior & a.comunicans anterior Masing-masing a.cerebralis mengantar darah ke satu permukaan dan satu kutub cerebrum : 1. a.cerebri anterior mengantar darah hamper seluruh permukaan medial & superior serta polus frontalis 2. a.cerebri media mengantar darah ke permukaan lateral & polus temporalis 3. a.cerebri posterior mengantar darah ke permukaan inferior & polus occipitalis Circulus arteiosus Willisi peredaran kolateral yg penting Pada usia lanjut anastomosis sering tak dapat memenuhi kebutuhan jika satu arteri besar tersumbat (mis a.carotis interna) serangan otak (stroke). Serangan yg paling umum : trombosis serebral, perdarahan serebral, emboli serebral & perdarahan subaraknoid.

10

REPRESENTASI SENSASI DI AREA CEREBRAL CORTEX : Dengan teknik positron emission tomography (pet ) dan magnetic

resonance imaging (MRI) berbagai fungsi cerebral cortex dapat diketahui, spt pemetaan bagian central cortex yang terlibat fungsi sensasi ( sensory receiving areas ). Dari nukleus sensory spesifik di thalamus, neuron neuron yang membawa informasi sensasi proyeksi secara specifik kedua area sensasi somatik dicerebral cortex yaitu : a. Area sensasi somatik I ( S I ) dipostcentral gyrus. b. Area sensasi somatik II didinding fissura silvii. SI juga proyeksi S I SESUAI AREA BROADMAN 1,2 DAN 3 Organisasi topografis (spatial

organization) dari serabut syaraf yang berasal dari berbagai bagian tubuh spt tungkai dan paha dibagian puncak dan kepala dikaki gyrus (lihat gbr.7.4 ). Luas daerah representasi ( cortikal receiving areas ) juga sebanding dgn jumlah reseptor didaerah itu . Luas daerah representasi punggung dan bagian belakang di postcentral gyrus adalah kecil manakala luas daerah representasi ( cortical receiving areas ) dari sensasi dijari tangan dan bagian mulut yang berhubungan dengan berbicara adalah besar. Hal ini ditunjukkan pada gbr.7.5. berikut. FUNGSI AREA 1,2 DAN 3 = S I Stimulasi pd SI, titik demi titik pd SI, sensasi di proyeksikan ke permukaan tubuh yang sesuai ( lokalisasi yang jelas ). Sensasi kebaskebas , perasaan dicucuk. Dengan elektroda perangsang yang lebih halus bisa diperoleh sensasi murni dari sentuhan pana dingin dan sakit , sensasi pergerakan. Sel sel 11

didalam gyrus postcentralis tersusun dalam kolom Vertikal. Sel sel pada kolom tertentu semuanya diaktivasi. Serabut afferen yg berasal dari bagian tubuh tertentu dan semua sel-sel memberikan respon pada modalitas sensorik yang sama.

Lokasi SII ( area sensasi somatik II ) didinding atas fissura sylvii. Kepala direpresentasikan ujung inferior dari pada gyrus

postcentralis dan kaki pada bagian bawah fissura sylvii. Representasi bagian tubuh tidak seperti serupa di S I jelasnya ( gyrus

postcentralis ). Pengaruh cortex : Ablasi S I pada binatang percobaan menimbulkan : Defisit sensasi posisi dan kemampuan bergerak. Defisit proses sensorik di S II. Ablasi S II: defisit dalam proses belajar yang berhubungan diskriminasi lesi cerebral

sentuhan / tekanan. Tidak berpengaruh pada proses data sensorik di S I. Ablasi area 5-7 ( area assosiasi dari area 1,2 dan3 ) menimbulkan abnormalitas yang kompleks dari orientasi ruang pd bagian tubuh yg kontra lateral. Area 1,2 dan3 ( S I = gyrus postcentralis ) mempunyai proyeksi ( hubungan syaraf ) dengan : a. S II = area somatik II. Dan dari S I proyeksi ke S II dan area 5-7.

12

b. Menuju thalamus melalui sistem anterolateral ke S I, dst. informasi a dan b mencapai kesadaran. c. Menuju cerebellum melalui tractus spino cerebellaris anterior dan posterior informasi ini tidak mencapai kesadaran. Reseptor : - Pacinian corpuscles, ujung ujung syaraf, golgi tendon organ didalam dan sekitar persendian. - Reseptor sentuh dikulit. - Spindel otot ( muscle spindle ).

Ulasan : Ada beberapa hal yang masih belum jelas dalam hal ini karena keterbatasan kepustakaan dan kesulitan materi. Setelah mendapat penjelasan dari narasumber dalam pleno pakar, disimpulkan bahwa circulus arteriosus cerebri willisi memegang peranan penting dalam vaskularisasi otak. Arteri yang paling berperan penting adalah arteri carotis interna, arteri basilaris dan, arteri vertebralis.

Kesimpulan : Dalam kasus ini terjadi gangguan intraventrikularisasi pada area Brocca di daerah gyrus postcentralis dan area 4 di gyrus precentralis yang menyebabkan gangguan motorik dan sensorik seperti lengan kiri yang susah digerakkan, sudut mulut tertarik ke kanan, dan sakit kepala. Setelah menjalani terapi dia berangsur-angsur sembuh 13

disebabkan karena adanya kemampuan plastisitasi dari ekstrapiramidalis sel dari cerebrum yang dapat mencontoh kerja otak kiri yang telah terganggu, sehingga hemisfer kiri yang telah cedera diambil alih oleh hemisfer kanan. Akan tetapi kerja hemisfer kanan tidak sesempurna yang dikiri, akibatnya terjadi kekakuan dan gerakan yang tidak serentak.

Daftar Pustaka : Scanlon Valerie, Tina Sanders. Sistem vaskular. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi. EGC. Jakarta 2007; 271-280. Scanlon Valerie, Tina Sanders. Sistem saraf. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi. EGC. Jakarta 2007; 147-152. Putz R, Pabst R. Pembuluh darah otak. Atlas Anatomi Manusia Sobotta Ed.22. EGC. Jakarta 2006; 310-335 Junqueira Luis, Carneiro Jose. Jaringa dan susunan saraf. Histologi Dasar. EGC. Jakarta 2007; 155-178.

14