Anda di halaman 1dari 15

ROSASEA

Oleh: Bella Oktaviani Pembimbing: Dr. Nopriyati, Sp. KK Bagian/Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNSRI/RSUP Mohammad Hoesin Palembang Pendahuluan Rosasea merupakan penyakit dengan definisi yang masih kurang memuaskan secara keseluruhan sampai saat ini. Penyakit ini dikarakteristikkan oleh eritema pada bagian sentral wajah yang persisten selama berbulan-bulan atau lebih, papul pustular, atau fimatous. Rosaea mengenai permukaan konveks wajah, mulai dari pipi, hidung, dagu hingga dahi. Rosasea cenderung tidak mengenai kulit periokular dan tidak berpotensi serius kecuali bila melibatkan okular.1,2,3,4 Rosasea sering terjadi pada populasi Kaukasian, namun dapat pula terjadi pada populasi Afrika dan Asia. National Rosacea Society (NRS) menafsirkan sekitar empat belas juta orang Amerika menderita rosasea. Pada suatu studi di Swedia, didapatkan sekitar 10% dewasa menderita rosasea. Di Indonesia sendiri belum diketahui jumlah penderita rosasea. Penyakit ini lebih banyak diderita oleh perempuan dibanding laki-laki, namun perubahan fimatous yang berat sering terjadi pada laki-laki. Perempuan kulit terang lebih sering terkena dibanding kulit gelap. Rosasea sering terjadi pada umur 30 sampai 50 tahun, namun dapat pula terjadi pada anak-anak, remaja, dan dewasa muda.1,2,3,4 Meskipun rosasea bukan merupakan penyakit yang mengancam kehidupan, namun penegakkan diganosis lebih awal serta kombinasi terapi topikal dan tabir surya yang cepat dan tepat dapat membantu mencegah risiko terapi oral dan pengeluaran biaya yang lebih besar untuk terapi laser dan sinar. Itulah sebabnya penulis membuat tinjauan pustaka ini, sehingga diharapkan penegakkan diagnosis rosasea dapat dilakukan lebih awal.4

Etiopatogenesis Penyebab rosasea belum diketahui secara pasti. Etiologi dan patofisiologi diduga bervariasi di antara berbagai pasien, karena terdapat varian klinis yang menonjol pada subtipe rosasea. Rosasea berkaitan dengan predisposisi familial. Variasi etiopatofisiologi rosasea meliputi reaktivasi pembuluh darah wajah, struktur atau komposisi jaringan ikat dermal, komposisi matriks, struktur pilosebaseous, kolonisasi mikroba, atau kombinasinya. Hal inilah yang menyebabkan perubahan respon kulit terhadap faktor pencetus rosasea.2,4,8,13 Faktor pencetus terjadinya rosasea antara lain suhu panas dan dingin, sinar matahari, angin, minuman hangat, latihan, makanan pedas, alkohol, stres emosi, kosmetik, iritan topikal, kemerahan kulit menopausal, dan obat-obatan pencetus kemerahan kulit. Rosasea diinduksi oleh paparan kronik faktor pencetus tersebut. Vasodilatasi dapat meningkatkan kejadian rosasea diduga karena saat vasodilatasi terjadi ekstravasasi sebagian plasma ke jaringan interstisial, yang menginduksi respon inflamasi, yang selanjutnya meningkatkan episode vasodilatasi berulang. Vasodilatasi kronik, edema, dan gangguan aliran limfatik menyebabkan telangiektasis dan fibrosis. Abnormalitas unit pilosebaseus bukan merupakan patogenesis rosasea, namun beberapa pasien mengalaminya, khususnya pasien tipe glandular. Rosasea umumnya terjadi pada wajah karena wajah memiliki pembuluh darah lebih superfisial, jumlahnya banyak, dan besar, serta aliran darahnya lebih banyak dibanding permukaan tubuh yang lain.1,2,3,4 Pemeriksaan histologi pada spesimen rosasea menunjukkan adanya kerusakan endotelial dan degenerasi mariks dermal. Faktor yang berkontribusi terjadinya degenerasi matriks dermal adalah gangguan yang diturunkan pada permeabilitas pembuluh darah dan atau keterlambatan pembuangan mediator inflamasi dan produk sisa, serta paparan kronik sinar matahari. Kerusakan jaringan ikat akibat sinar mengubah struktur vaskular dan limfatik serta penyokong dalam dermis. Hal inilah yang menyebabkan inflamasi persisten dan kronik pada dermal sehingga bermanifestasi eritema pada bagian konveks wajah pada individu berpredisposisi rosasea.4 Kerusakan akibat paparan sinar matahari diduga berperan sebagai faktor etiologi rosasea, karena elastosis solar sering melatarbelakangi gambaran histologi

rosasea. Namun prevalensi rosasea tidak meningkat pada pekerja di luar ruangan dan kerusakan kulit selain wajah akibat sinar matahari tidak progresif menjadi fenotif rosasea, serta studi provokasi sinar pada pasien rosasea tidak menunjukkan peningkatan sensitivitas kulit terhadap paparan ultraviolet akut.4,8 Konsep bahwa rosasea diinduksi oleh mikroba dan inflamasi folikel masih kontroversi. Organisme komensal seperti Propionibacterium acnes dan Demodex folliculorum yang bermukim pada folikel rambut dan kelenjar sebasea masih belum jelas apakah dapat mencetuskan papul inflamasi folikulosentrik pada pasien rosasea. Selain itu, reaksi hipersensitivias diduga dicetuskan oleh mikroba atau bakteri terkait tungau seperti Bacillus oleronius. Argumentasi ini didukung oleh studi observasi terhadap penggunaan antiinflamasi nonsteroid dan kortikosteroid dalam mengurangi papul dan pustul rosasea tidak seefektif dibanding penggunaan tetrasiklin oral. Hal ini juga masih belum jelas apakah perbaikan papul dan pustul rosasea terjadi seiring dengan penurunan jumlah Propionibacterium acnes.1,4 Manifestasi Klinis Berdasarkan kesepakatan National Rosacea Society (NRS) Expert Committee pada tahun 2002 terdapat 4 klasifikasi subtipe rosasea. Klasifikasi ini tidak menunjukkan progresifitas penyakit, sehingga semua subtipe dapat terjadi secara bersama-sama pada satu individu. Berikut ini keempat klasifikasi subtipe rosasea: Rosasea eritematotelangiektasis (vaskular) Rosasea eritematotelangiektasis dikarakteristikkan dengan eritema wajah persisten dengan atau tanpa telangiektasis, sering kali disertai dengan edema wajah sentral, rasa terbakar dan pedih, kasar atau bersisik, mudah teriritasi, atau kombinasi dari tanda dan gejala ini (Gambar 1). Namun, tidak disertai berkeringat, kepala terasa ringan, atau palpitasi. Umumnya pasien memiliki riwayat mengalami kemerahan kulit memanjang (lebih dari 10 menit) setelah terpajan dengan berbagai faktor pencetus. Seiring waktu, kemerahan kulit menjadi lebih bertahan lama dan permanen. Telangiektasis mulai terbentuk, awalnya di cuping hidung, lalu meluas ke

hidung dan pipi. Ukuran telangiektasis ini ditentukan oleh jumlah kumulatif kerusakan akibat foto/sinar yang terjadi. Rosasea ini terbagi menjadi ringan, sedang, dan berat.4,6,8

Gambar 1. A. Subtipe rosasea eritematotelangiektasis. B. Tampak dekat subtipe rosasea eritematotelangiektasis berat menunjukkan kulit yang merah karena telangiektasis multipel, tampak pula sedikit pustul.10 Rosasea papulopustular Rosasea papulopustular dikarakteristikkan dengan eritema wajah sentral, persisten disertai papul eritematous, pustul hingga nodul dalam yang persisten, didominasi pada area konveks wajah (Gambar 2). Rasa terbakar dan pedih pada wajah dapat terjadi, namun lebih jarang dibanding rosasea eritematotelangiekasis. Kemerahan kulit biasanya tidak seberat rosasea eritematotelangiektasis. Rosasea ini juga terbagi menjadi ringan, sedang, dan berat.1,4,8,9

Gambar 2. A. Rosasea subtipe papulopustular ringan. Terdapat eritema persisen disertai pustul kecil. B. Rosasea subtipe papulopustular berat.10 Baik rosasea subtipe eritematotelangiektasis maupun subtipe papulopustular, eritema tidak mengenai area periorbital. Edema dapat ringan sampai berat. Edema yang berat dapat memberikan gambaran morfologi plak pada edema wajah solid, yang sering terjadi pada dahi dan glabella (Gambar 3), dan jarang terjadi pada kelopak mata dan pipi atas.4,8

Gambar 3. Rosasea dengan edema pada dahi dan kelopak mata.10

Rosasea fimatous Rosasea fimatous dikarakteristikkan dengan orifisium folikular patulous, penebalan kulit, nodularitas, dan kontur permukaan kulit yang ireguler pada area konveks (Gambar 4). Pori-pori berdilatasi sangat besar mengandung akumulasi debris keratin, sumbatan sebum yang panjang, dan vermikular, serta pembengkakan jaringan glandular. Gambaran histologi berupa hiperplasia kelenjar pilosebaseus dengan fibrosis, inflamasi, dan telangiektasis. Rosasea fimatous juga terbagi menjadi subtipe ringan, sedang, dan berat. Fima sering terjadi pada hidung, yang disebut rinofima, namun dapat pula terjadi di dagu (gnatofima), dahi (metofima), kelopak mata (blefarofima), dan telinga (otofima), tapi sangat jarang. Perempuan dengan rosasea tidak berkembang menjadi fima, mungkin karena alasan hormonal, namun dapat bermanifestasi sebagai ciri glandular atau sebasea, dikarakteristikkan sebagai penebalan kulit dan orifisium follikular yang besar.1,4,6

Gambar 4. A. Subtipe fimatous. Subtipe sedang dengan orifisium folikular patulous, penebalan kulit, dan nodularitas pada hidung dan pipi. B. Rinofima berat.10

Rosasea okular Rosasea okular terjadi pada 50% kasus rosasea, serta dapat muncul sebelum timbul manifestasi kutaneus pada lebih dari 20% individu. Separuh pasien mengalami rosasea okular setelah timbul gejala kutaneus, dan sebagian kecil mengalaminya bersama-sama. Beratnya gejala okular tidak sesuai dengan beratnya lesi rosasea kutaneus. Keterlibatan okular berupa blefaritis, konjungtivitis (Gambar 5), iritis, skleritis, hipopion, keratitis, dan terbagi menjadi subtipe ringan, sedang, dan berat. Blefaritis merupakan manifestasi klinis yang sering terjadi, dikarakeristikkan dengan eritema batas kelopak mata, bersisik, krusta, variasi kalazia dan infeksi staphylococcus karena disfungsi kelenjar meibomian. Kompleks gejala okular berupa sensasi mata kering, mata lelah, berair, penglihatan kabur, fotofobia, rasa nyeri, terbakar, gatal, dan sensasi benda asing. Pada kasus yang berat terjadi keratitis rosasea yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan. Rosasea okular diduga terjadi karena impaksi pada kelenjar meibomian, sehingga terjadi penurunan kadar lipid pada lapisan air mata, lebih banyak air mata yang mengalami evaporasi, dan mata menjadi lebih mudah iritasi. Aktivitas epithelium-derived protease acivity, khususnya matrix metalloproteinase (MMP)-9 meningkat pada air mata penderita rosasea okular.1,4

Gambar 5. Rosasea subtipe okular. Pasien ini mengalami blefaritis, konjungtivitis, dan keratitis.10

Selain keempat subtipe rosasea di atas, terdapat pula varian rosasea, yaitu rosasea granulomatous dan rosasea glandular. Rosasea granulomatous memiliki gambaran histologi berupa formasi granuloma, dengan gambaran klinis papul/nodul merah atau kuning coklat yang monomorfik dan berukuran sama (Gambar 6), serta berlokasi pada pipi dan kulit di antara kulit wajah periorifisium. Pada uji diaskopi, papul ini akan menunjukkan perubahan warna seperti apel-jelli sama seperti pada sarkoidosis atau lupus vulgaris. Tidak ada kelainan pada kulit sekitarnya.1,4

Gambar 6. Rosasea granulomatousa.10 Rosasea glandular lebih sering mengenai kulit laki-laki yang berminyak tebal. Lesi ditandai dengan papul edematous, pustul berukuran 0.5 - 1 cm, dan nodulokistik (Gambar 7). Lesi cenderung berkumpul pada area sentral wajah, namun bila diderita perempuan, rosasea glandular tidak mengenai dagu. Sering kali diserai dengan riwayat akne saat remaja dan skar. Kemerahan kulit jarang terjadi dibanding rosasea eritematotelangiektasis, namun sering terjadi edema pesisten yang menjadi masalah.2

Gambar 7. Rosasea glandular.2 Diagnosis Banding Gejala eritema persisten pada bagian sentral wajah akibat rosasea sebaiknya dibedakan dengan berbagai penyakit sistemik lain, seperti polisitemia vera, penyakit jaringan ikat (lupus eritematosus kutaneus, dermatomiositis), sindrom karsinoid, mastositosis, dan gangguan neurologi yang menyebabkan kemerahan kulit. Gangguan neurologi ini seperti tumor otak, lesi medula spinalis, hipotensi ortostatik, migrain, dan penyakit Parkinson. Berbagai kondisi ini tidak memberikan gambaran papul dan pustul, serta memiliki berbagai manifestasi klinis sistemik, gejala ekstrafasial, dan tanda laboratorium spesifik, sehingga dapat dibedakan dengan rosasea. Manifestasi klinis lupus eritematosus kutaneus berupa eritema malar sulit dibedakan dengan rosasea, namun yang membedakannya ialah adanya papul pustul atau blefaritis pada rosasea dan adanya skuama tipis, perubahan pigmen, sumbatan follikular dan skar pada lupus.1,2,4 Diagnosis banding lain rosasea adalah dermatitis seboroik. Dermatitis seboroik sering terjadi bersama dengan rosasea. Berbeda dengan rosasea, dermatitis seboroik memiliki skuama tebal pada lipatan nasolabial, liang telinga, dan alis bagian tengah.1 Akne vulgaris terjadi pada kelompok usia yang lebih muda dibanding rosasea dan dikarakteristikkan dengan komedo terbuka dan tertutup pada lesi inflamasi. Pada usia 20 dan 30 tahunan, pasien dapat menderita akne vulgaris dan

rosasea secara bersamaan. Lesi papul pada rosasea umumnya lebih merah dan dalam dibanding akne dan lesi rosasea yang inflamasi tidak berada sekitar komedo.1,4,8 Eritema pada bagian pipi lateral yang terlihat pada eritromelanosis faciei dan keratosis pilaris rubra sering sulit dibedakan dengan rosasea eritematotelangiektasis, namun eritromelanosis dan keratosis ini memiliki papul folikular yang sangat kecil dan sumbatan keratotik.1 Sindrom Harber merupakan penyakit yang diturunkan ditandai dengan dermatosis seperti rosasea, persisten, dan onsetnya awal. Eritema dan telangiektasis terjadi bersamaan dengan komedo, atrofi, dan papul kecil. Pada dekade kehidupan yang lanjut, plak keratotik tersebar pada trunkus dan ekstremitas.1 Folikulitis demodex juga memberikan efloresensi papul dan pustul folikular eritema seperti rosasea. Folikulitis demodex sering terjadi pada kondisi imunosupresi dan pada kerokan kulit, sering ditemui kutu Demodex. Pemberian terapi permetrin dan atau ivermektin oral memberi efek yang memuaskan.1 Kemerahan kulit yang diinduksi obat dapat terjadi pada penggunaan obat vasodilator, penyekat saluran kalsium, asam nikotinik (niasin), morfin, amyl dan butil nitrat, obat kolinergik, bromokriptin, hormon pelepas tiroid, tamoxifen, asetat siproteron, steroid sistemik, dan siklosporin. Selain itu, terdapat beberapa kondisi kulit yang mirip dengan rosasea, yaitu erupsi akneiform yang diinduksi steroid topikal, dermatitis perioral, dan kerusakan foto kronik. Lesi erupsi akneiform yang diinduksi steroid topikal mirip dengan lesi rosasea subtipe papulopustular. Pada rosasea tidak ditemukan defek keratinisasi folikular. Dermatitis perioral berbeda dengan rosasea berdasarkan distribusinya di perioral, kadang periorbital, mikrovesikel, mikropustul, bersisik, dan terkelupas, mengenai dewasa muda dan anak-anak. Kerusakan kulit akibat paparan sinar kronik ditandai oleh telangiektasis dan eritema yang menonjol. Tidak seperti rosasea, kerusakan aktinik juga mengenai wajah perifer dan leher, dada atas, dan kulit aurikular posterior.1,2,4

10

Diagnosis Tidak ada uji diagnostik yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis rosesa. Penegakan diagnosis dilakukan dengan melihat gejala primer dan sekunder dari rosasea. Biopsi kulit dapat dilakukan hanya untuk menyingkirkan diagnosis banding.12 a. Gambaran primer Diagnosis rosasea ditegakkan bila pada wajah bagian sentral ditemui satu atau lebih tanda-tanda di bawah ini: Kemerahan kulit (eritema transien) Eritema nontransien Papul dan pustul. Papul merah berbentuk kubah dengan atau tanpa disertai pustul, dapat pula disertai dengan nodul. Telangiektasis.5 b. Gambaran sekunder Tanda dan gejala di bawah sering muncul dengan satu atau lebih gambaran primer, tapi beberapa pasien dapat mengalaminya secara terpisah. Rasa terbakar dan pedih Plak Kulit kering. Edema.

Manifestasi okular.
Lokasi perifer. Perubahan fimatous.5 Penatalaksanaan Berikut ini penatalaksanaan umum rosasea: a. Menyarankan kepada pasien untuk menghindari faktor pencetus dan iritan, seperti sabun yang kuat dan pembersih kosmetik berbasis alkohol.1,4

11

b. Menyarankan pasien untuk menggunakan tabir surya sebagai pelindung terhadap sinar ultraviolet A dan ultraviolet B.4 c. Menyarankan kepada pasien untuk melakukan penilaian terhadap sensitivitas topikal. Bila pasien mengalami intoleransi/sensitif terhadap bahan-bahan kosmetik dapat digunakan light liquid foundation. Selain itu, penggunaan green tinted make up pada lesi sebelum aplikasi alas bedak dapat dilakukan untuk memudarkan area merah.1,4 d. Menyarankan kepada pasien untuk menggunakan pembersih wajah bebas sabun dan mengandung sodium sulfacetamide atau sulfur pada pasien yang sensitif, untuk mengurangi rasa terbakar dan perih akibat penggunaan obat topikal (azelaic acid). e. Menyarankan kepada pasien untuk menggunakan pelembab wajah yang lembut satu sampai dua kali sehari sebelum penggunaan produk kosmetik lain. Penatalaksanaan khusus rosasea dilakukan berdasarkan subtipenya. 1. Rosasea Eritematotelangiektasis Antibiotik topikal ringan Isotretinoin dosis rendah Tetrasiklin/eritromisin/metronidazol oral Laser vaskular Laser ini dapat membantu remodeling kolagen dermal sehingga matriks dermal dapat lebih kuat.2 Intense pulsed light Retinoid topikal dosis pemeliharaan Krim tretinoin dengan emolien.4 2. Rosasea Papulopustular Rosasea papulopustular berespon baik dengan pengobatan pada kebanyakan kasus. Perbaikan terjadi perlahan, namun relaps sering terjadi dengan cepat setelah pengobatan dihentikan.4, 9 Antibiotik topikal

12

Antibiotik oral Isotretinoin dosis rendah sampai sedang Laser vaskular atau intense pulsed light pada beberapa kasus Retinoid topikal dosis pemeliharaan 3. Rosasea Fimatous dan Rosasea Glandular Isotretinoin dosis sedang sampai tinggi Spironolakton Operasi pengecilan dan teknik kontur. Pada rinofima dapat dilakukan pembentukkan ulang dengan penggunaan scalpel yang dipanaskan, elektrokauter, dermabrasi, laser ablasi, eksisi tangensial dikombinasi scissor sculpting, dan radiofrequency electrosurgery. Kombinasi dari berbagai teknik operasi ini dapat memberikan hasil yang lebih memuaskan.2,8 Antibiotik topikal dan atau oral bila dibutuhkan pada lesi inflamasi Retinoid topikal dosis pemeliharaan 4. Rosasea Okular Pasien dengan rosasea okular harus dikonsulkan ke dokter spesialis mata. Pembersih. Air mata artificial. Emulsi oftalmik ciclosporin.11 Tetrasiklin oral 1 g/hari selama 6 minggu. Tetrasiklin bekerja sebagai agen antiinflamasi dan menekan sekresi sitokin. Selain itu dapat digunakan asam fusidik formulasi oftalmik topikal. Pada studi in vitro, ditemukan bahwa doksisiklin menurunkan konsentrasi dan aktivitas matriks metalloproteinase (MMP)-9 pada kultur epitel kornea. 3,4,7 Terapi Topikal Kombinasi azelaic acid gel 15%, krim/gel metronidazol 0.75 dan 1%, dan sodium sulfacetamid 10%, dengan krim/suspensi/pembersih sulfur 5% efektif

13

dalam membersihkan papul dan pustul yang meradang dan mengurangi eritema bila digunakan 1-2 kali per hari. Penggunaan tetrasiklin dan eritromisin topikal dapat memperbaiki iritasi pada kulit dengan rosasea. Selain itu, formulasi yang terdiri dari benzoyl peroxide 5% dan klindamisin 1% telah terbukti efektif dan ditoleransi baik oleh pasien rosasea. Tacrolimus topikal telah dilaporkan memperbaiki eritema, sedangkan pimecrolimus topikal memperbaiki lesi eritema dan papulopustular.3,4 Pada rosasea yang refrakter dengan terapi sebelumnya, dapat digunakan terapi foto dinamik. Terapi dilakukan setelah pengolesan krim asam metil aminolevulinik 16% selama 3 jam, selanjutnya dilakukan penyinaran dengan sinar merah 37 J/cm2. Terapi ini dilakukan dengan interval 1 minggu, dan pasien dapat menggunakan 1 atau 2 terapi lain selama interval itu.4,8 Terapi Sistemik Antibiotik oral, seperti tetrasiklin atau oksitetrasiklin 250-500 mg satu kali sehari tiap pagi, eritromisin 250 mg dua kali sehari, doksisiklin 40 mg per hari, minosiklin 100 mg satu sampai dua kali sehari, dapat mengontrol lesi papul dan pustul dan membantu mengobati lesi okular. Pada kasus rosasea yang resisten dapat digunakan alternatif terapi isotretinoin 10-60 mg/hari. Selain mengurangi lesi inflamasi, isoretinoin juga dapat memperbaiki kualias hidup dan memperbaiki rinofima. Isotretinoin tidak boleh diberikan pada kasus rosasea dengan keterlibatan okular, karena retinoid dapat merusak fungsi kelenjar Meibomian.2,3,7,11 Kemerahan kulit dan rasa terbakar merupakan gejala yang sulit untuk diobati, namun sering digunakan obat penyekat non-kardioselektif seperti propanolol 40 mg dua kali sehari atau nadolol 40 mg per hari, dan oksimetazolin topikal 0.05% tiap hari. Selain itu, dapat dilakukan laser vaskular atau intense pulse light untuk mengurangi kemerahan kulit dan rasa terbakar.4 Terapi rosasea yang sukses dicapai bila terapi mampu menginduksi remisi tanda dan gejala, serta meminimalkan dan mengontrol relaps.4

14

Prognosis Bila rosasea dapat didiagnosis lebih awal, dilakukan modifikasi perilaku, dan diberikan kombinasi terapi tabir surya dan agen topikal, maka manifestasi klinis rosasea dapat dikontrol hingga jangka panjang, efektif, dan aman serta risiko terapi oral dan biaya untuk terapi laser atau sinar dapat ditekan. Durasi penyakit rosasea dan hasil akhir sangat bervarisi dan sulit untuk diprediksikan. Pada suatu studi pemantauan terhadap 70 pasien setelah 6 bulan menjalani pengobatan dengan tetrasiklin, dua per tiga nya mengalami relaps rata-rata setelah periode 2.6 tahun. Sebagian besar gejala rosasea berhasil dikontrol, namun kemeraan kulit seringkali sulit untuk ditekan.3,4 Kesimpulan Rosasea adalah penyakit kulit yang dikarakteristikkan dengan eritema pada bagian sentral wajah yang persisten, papul pustular, atau fimatous dan atau manifestasi okular. Penyakit ini sering terjadi pada kelompok umur 30 sampai 50 tahun dan penyebabnya belum diketahui secara pasti. Rosasea terdiri atas subtipe eritematotelangiektasis, papulpustul, fimatous, dan okular. Penegakkan diagnosis rosasea dilakukan berdasarkan gambaran primer dan sekunder, dan penatalaksanaan dilakukan berdasarkan subtipe.

15