Anda di halaman 1dari 10

RUANG LINGKUP SOSIOLOGI KESEHATAN

Sosiologi kesehatan merupakan cabang sosiologi yang relatif baru. Di masa lalu
dalam sosiologi telah lama dikenal cabang sosiologi, sosiologi medis, yang
merupakan pendahulu sosiologi kesehatan dan terkait erat dengannya. Pertumbuhan
sosiologi medis berlangsung melalui enam tahap.

Menurut Mechanic tugas medis hanya dapat dilaksanakan secara efektif manakala yang
dipertimbangkan baik faktor biologis maupun faktor sosial dan psikologis. Mulai
dikajinya peran faktor sosial-budaya dalam keberhasilan pelaksanaan tugas medis
menjadi dasar bagi tumbuh dan berkembangnya sosiologi medis.

Straus membedakan antara sosiologi mengenai bidang medis dan sosiologi dalam
bidang medis. Menurutnya sosiologi mengenai bidang medis terdiri atas kajian
sosiologis terhadap faktor di bidang medis yang dilaksanakan oleh ahli sosiologi
yang menempati posisi mandiri di luar bidang medis dan bertujuan mengembangkan
sosiologi serta untuk menguji prinsip dan teori sosiologi. Menurut Kendall dan
Reader, sosiologi mengenai bidang medis mengulas masalah yang menjadi perhatian
sosiologi profesi dan sosiologi organisasi. Menurut Straus sosiologi dalam bidang
medis merupakan penelitian dan pengajaran bersama yang sering melibatkan
pengintegrasian konsep, teknik dan

personalia dari berbagai disiplin, dalam mana sosiologi digunakan sebagai


pelengkap bidang medis.

Dalam perkembangan selanjutnya perhatian sosiologi medis meluas ke berbagai


masalah kesehatan di luar bidang medis. Dengan demikian, berkembanglah bidang
sosiologi kesehatan.

Para ahli pun membedakan antara sosiologi mengenai kesehatan dan sosiologi dalam
kesehatan. Menurut Wilson sosiologi mengenai kesehatan adalah pengamatan dan
analisis dengan mengambil jarak, yang terutama dimotivasi oleh suatu masalah
sosiologi, sedangkan sosiologi dalam kesehatan adalah penelitian dan pengajaran
yang lebih bercirikan keintiman, terapan dan kebersamaan yang terutama didorong
oleh adanya masalah kesehatan. Menurut Wolinsky orientasi para ahli sosiologi
kesehatan lebih tertuju pada masalah kesehatan, bukan pada masalah sosiologi
sehingga sosiologi kesehatan cenderung miskin teori.

Twaddle merinci tujuh dimensi yang membedakan sosiologi kesehatan dengan sosiologi
medis. Menurutnya terjadinya pergeseranpergeseran dalam ketujuh dimensi tersebut
mengakibatkan bergesernya sosiologi medis menjadi sosiologi kesehatan. Namun,
sosiologi kesehatan merupakan bidang yang muda hingga kini bidang sosiologi medis
masih tetap dominan.

Pandangan Ilmu Sosial dan Budaya Lainnya tentang Kesehatan

Masalah kesehatan dipelajari pula oleh antropologi medis, suatu bidang ilmu sosial
yang erat kaitannya dengan sosiologi medis. Menurut Foster, kedekatan kedua bidang
tersebut bersumber pada dua hal. Namun, beberapa hal khusus membedakan keduanya;
ada tiga hal yang membedakan antropologi medis dengan sosiologi medis. Foster
menyebutkan tiga faktor yang hanya dijumpai pada antropologi medis. Foster dan
Anderson pun membedakan antara antropologi mengenai bidang medis dan antropologi
dalam bidang medis.

Antropologi medis mempunyai suatu cabang yang dinamakan etnomedisin. Pandangan


masyarakat tradisional terhadap masalah psikiatri dan cara-cara mereka
menanganinya merupakan suatu pokok bahasan suatu cabang khusus dalam etnomedisin
yang dikenal dengan nama etnopsikiatri, psikiatri lintas budaya atau psikiatri
transkultural.

Masalah kesehatan dapat ditinjau dari segi ilmu ekonomi kesehatan. Karena sumber
daya jumlahnya terbatas, sedangkan manusia mempunyai bermacam-macam keperluan maka
terjadi persaingan untuk memperoleh sumber daya yang dapat dialokasikan untuk
keperluan kesehatan. Masalah pengalokasian sumber daya ke dalam maupun di dalam
bidang kesehatan inilah yang dipelajari ekonomi kesehatan.

Bidang hukum merupakan suatu bidang yang erat sangkut-pautnya dengan berbagai
masalah kesehatan yang dihadapi warga masyarakat. Ketentuan yang mengatur masalah
kesehatan kita jumpai di berbagai cabang ilmu hukum. Masalah kesehatan pun
mempunyai aspek-aspek yang menarik perhatian ahli ilmu politik.

Menurut Davidoff dalam psikologi dikenal bidang psikologi kesehatan, yang


didefinisikannya sebagai sumbangan disiplin psikologi terhadap promosi dan
pemeliharaan kesehatan. Masalah kesehatan yang dikaji psikologi dapat terdiri atas
perilaku maupun proses mental.

PANDANGAN SOSIOLOGI MENGENAI KESEHATAN DAN PENYAKIT

Definisi Kesehatan dan Penyakit

Wolinsky menjelaskan bahwa bagi dokter simtom dan tanda penyakit merupakan bukti
gangguan biologis pada tubuh manusia yang memerlukan penanganan medis. Dari sudut
pandang medis, kesehatan ialah ketiadaan simtom dan tanda penyakit. Wolinsky
selanjutnya mengemukakan beberapa keberatan terhadap definisi kesehatan menurut
kalangan medis ini.

Definisi medis ini lebih sempit daripada definisi WHO, yang mencakup baik
kesejahteraan fisik, mental maupun sosial dan tidak semata-mata terbatas pada
ketiadaan penyakit ataupun kelesuan. Namun, menurut Mechanic definisi WHO ini
sulit dioperasionalisasikan untuk membedakan orang sehat dan orang sakit.

Konsep kesehatan dengan cakupan luas kita jumpai pula dalam pandangan Blum. Blum
mengemukakan bahwa kesehatan manusia terdiri atas tiga unsur, yaitu kesehatan
somatik, kesehatan psikis, dan kesehatan sosial. Definisi yang menyerupai definisi
WHO kita jumpai dalam UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.

Menurut definisi Parson seseorang dianggap sehat manakala ia mempunyai kapasitas


optimum untuk melaksanakan peran dan tugas yang telah dipelajarinya melalui proses
sosialisasi, lepas dari soal apakah secara ilmu kesehatan ia sehat atau tidak.
Menurut Parson pula, kesehatan sosiologis seseorang bersifat relatif karena
tergantung pada peran yang dijalankannya dalam masyarakat.

Ternyata definisi kesehatan yang mirip dengan ketiga macam definisi tersebut di
atas serupa kita jumpai pula di kalangan masyarakat. Menurut hasil penelitian di
Inggris di kalangan masyarakat awam pun dijumpai definisi negatif, definisi
fungsional, dan definisi positif.

Parson memandang masalah kesehatan dari sudut pandang kesinambungan sistem sosial.
Dari sudut pandang ini tingkat kesehatan terlalu rendah atau tingkat penyakit
terlalu tinggi mengganggu berfungsinya sistem sosial karena gangguan kesehatan
menghalangi kemampuan anggota masyarakat untuk dapat melaksanakan peran sosialnya.
Selain mengganggu berfungsinya manusia sebagai suatu sistem biologis, penyakit pun
mengganggu penyesuaian pribadi dan sosial seseorang.

Masyarakat berkepentingan terhadap pengendalian mortalitas dan morbiditas. Menurut


Parson ini disebabkan karena (1) penyakit mengganggu berfungsinya seseorang
sebagai anggota masyarakat dan (2) penyakit, apalagi kematian dini, merugikan
kepentingan masyarakat yang telah mengeluarkan biaya besar bagi kelahiran,
pengasuhan dan sosialisasi anggota masyarakat.

Tipologi Sehat dan Perilaku Sakit

Wolinsky membedakan delapan macam keadaan sehat, yaitu (1) sehat secara normal,
(2) pesimis, (3) sakit secara sosial, (4) hipokondrik, (5) sakit secara medis, (6)
martir, (7) optimis, dan (8) sakit serius.

Anggota masyarakat yang merasakan penyakit akan menampilkan perilaku sakit.


Menurut Mechanic perilaku sakit merupakan perilaku yang ada kaitannya dengan
penyakit. Di bidang sosiologi kesehatan dikenal pula konsep lain yang berkaitan,
yaitu perilaku upaya kesehatan.

Tanggapan seseorang terhadap suatu penyakit ditentukan oleh berbagai faktor.


Mechanic menyebutkan sepuluh faktor atau variabel yang mempengaruhi tanggapan baik
si penderita sakit sendiri maupun orang lain terhadap situasi sakit seseorang.
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan
berikut!

Scambler menawarkan suatu klasifikasi yang lebih singkat, yang terdiri atas enam
kategori.

KESEHATAN DAN PENYAKIT DARI SUDUT PANDANG SOSIAL

Pengertian dan Konsep Penyakit

Dalam sosiologi kesehatan dikenal perbedaan antara konsep disease dan illness.
Bagi Conrad dan Kern disease merupakan gejala biofisiologi yang mempengaruhi
tubuh. Menurut Field disease adalah konsep medis mengenai keadaan tubuh tidak
normal yang menurut para ahli dapat diketahui dari tanda dan simtom tertentu.
Sarwono merumuskan disease sebagai gangguan fungsi fisiologis organisme sebagai
akibat infeksi atau tekanan lingkungan, baginya disease bersifat objektif.

Bagi Conrad dan Kern illness adalah gejala sosial yang menyertai atau mengelilingi
disease. Bagi Field illness adalah perasaan pribadi seseorang yang merasa
kesehatannya terganggu. Sarwono merumuskan illness sebagai penilaian individu
terhadap pengalaman menderita penyakit; baginya maupun bagi Field illness bersifat
subjektif.

Muzaham menerjemahkan istilah disease menjadi penyakit, dan illness menjadi


keadaan-sakit, sedangkan Sarwono pun menerjemahkan istilah disease menjadi
penyakit, tetapi menerjemahkan istilah illness menjadi sakit.

Dalam setiap masyarakat dijumpai suatu sistem medis. Menurut definisi Foster,
sistem medis mencakup semua kepercayaan tentang usaha meningkatkan kesehatan dan
tindakan serta pengetahuan ilmiah maupun keterampilan anggota kelompok yang
mendukung sistem tersebut. Foster mengidentifikasikan pula beberapa unsur
universal dalam berbagai sistem medis tersebut.

Penyakit merupakan suatu produk budaya. Menurut Geest dalammasyarakat berbeda


penyakit dinyatakan secara berbeda, dijelaskan secara berbeda, dan dikonstruksikan
secara berbeda pula.

Kontruksi Sosial Mengenai Penyakit

Sejumlah pengamat masalah kesehatan mengemukakan bahwa penyakit merupakan


konstruksi sosial. Contoh mengenai penyakit sebagai konstruksi sosial ini antara
lain disajikan oleh Conrad dan Kern, yang membahas konstruksi sosial perempuan
sebagai makhluk lemah dan tidak rasional yang terkungkung oleh faktor khas
keperempuanan seperti organ reproduktif dan keadaan jiwa mereka, dan kecenderungan
untuk mengkonstruksikan sindrom pramenstruasi dan menopause sebagai gangguan
kesehatan yang memerlukan terapi khusus. Contoh berikut disajikan oleh Diederiks,
Joosten dan Vlaskamp, yang mengkhususkan pembahasan mereka pada konstruksi sosial
cacat fisik dan mental. Contoh lain disajikan oleh Brumberg, yang membahas Untuk
memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
konstruksi sosial gejala anorexia nervosa di kalangan perempuan Barat. Contoh
terakhir bersumber pada tulisan Nijhof, yang didasarkan pada otobiografi pengidap
penyakit kronis.

KESEHATAN DAN FAKTOR SOSIAL

Hubungan Kesehatan dengan Kelas Sosial, Gaya Hidup, dan Jenis Kelamin

Penyakit tidak terdistribusi secara merata di kalangan penduduk. Masalah kelompok


mana yang menderita penyakit apa merupakan bidang kajian yang dinamakan
epidemiologi.

Data dari berbagai negara memaparkan adanya hubungan antara kesehatan dan kelas
sosial. Perbedaan mortalitas antarkelas disebabkan oleh berbagai faktor, seperti
penyakit jantung isemia, kanker paru-paru, penyakit serebrovaskular, bronkitis,
kecelakaan kendaraan bermotor, pneumonia dan bunuh diri.

Meskipun antara dua negara bagian AS yang bertetangga, Utah dan Nevada, tidak
dijumpai banyak perbedaan di bidang pendapatan per kapita, persentase penduduk
yang tinggal di perkotaan, jumlah dokter per 100.000 penduduk, rata-rata tingkat
pendidikan formal penduduk, struktur usia penduduk, komposisi ras, perbandingan
laki-laki dan perempuan serta lingkungan fisik, namun antara keduanya dijumpai
perbedaan mencolok di berbagai bidang kesehatan. Penjelasannya dicari pada
perbedaan gaya hidup penduduk kedua negara bagian tersebut. Dari kasus ini
disimpulkan bahwa tersedianya sarana kesehatan dan tingginya penghasilan tidak
dengan sendirinya menjamin kesehatan masyarakat.

Ketidaksamaan distribusi morbiditas dan mortalitas kita jumpai pula antara laki-
laki dan perempuan. Salah satu faktor sosial yang terkait dengan perbedaan
mortalitas laki-laki dan perempuan perbedaan perilaku, antara lain disebabkan
perbedaan sosialisasi peran.

Merokok yang mengakibatkan kerentanan terhadap berbagai penyakit tertentu


merupakan kebiasaan yang dalam banyak masyarakat lebih banyak dilakukan oleh kaum
laki-laki daripada oleh kaum perempuan. Hal yang sama berlaku bagi konsumsi
minuman keras.

Faktor sosial lain yang menyebabkan perbedaan mortalitas laki-laki dan perempuan
ialah kenyataan bahwa laki-laki lebih sering melibatkan diri dalam berbagai
kegiatan yang berbahaya. Temuan menarik lain ialah adanya perbedaan mortalitas
laki-laki dan perempuan dalam angka bunuh diri. Dalam kasus tertentu faktor sosial
justru mengakibatkan mortalitas lebih tinggi di kalangan perempuan.

Hubungan Kesehatan dengan Usaha dan Etnisitas

Masalah kesehatan penduduk meningkat sejalan dengan meningkatnya usia. Orang usia
lanjut biasanya menderita penyakit degeneratif dan penyakit kronis. Mereka
mempunyai angka morbiditas tertinggi sehingga tuntutan akan pelayanan kesehatan
meningkat pula. Mereka semakin sulit mandiri dan semakin tergantung pada orang
lain. Berbagai gangguan kesehatan tidak teratasi karena faktor sosial, seperti
ketidaktahuan dan faktor ekonomi. Faktor sosial yang terkait dengan usia lanjut
ialah ageism, suatu sistem diskriminasi yang mengandung stereotip yang
menggambarkan orang usia lanjut sebagai orang yang sakit, miskin dan kesepian.

Data dari berbagai masyarakat sering menunjukkan bahwa etnisitas atau ras warga
terkait dengan keadaan kesehatan mereka. Salah satu faktor yang menyebabkan
perbedaan kesehatan antara kelompok mayoritas etnik dan ras dengan kelompok
minoritas ialah kelas sosial.

Faktor sosial yang diduga merupakan penyebab utama masalah kematian ialah
kemiskinan yang gawat, dan kelangkaan akses ke pelayanan kesehatan dasar. Upaya
yang disarankan ialah pengalihan upaya pencegahan maupun pengobatan dari rumah
sakit, klinik, dan ruang gawat darurat ke pelayanan langsung ke komunitas berisiko
paling tinggi, dan kampanye pendidikan intensif. Temuan lain yang menyangkut
perbedaan distribusi penyakit antar-ras ialah hubungan bahwa jumlah pemuda Kulit
Putih yang dinyatakan tidak memenuhi syarat mengikuti wajib militer karena alasan
medis selalu lebih banyak daripada jumlah pemuda Kulit Hitam. Perbedaan ini diduga
disebabkan karena orang Kulit Putih lebih mudah menjalankan peran sakit daripada
orang Kulit Hitam.

Data mengenai keadaan kesehatan kelompok-kelompok minoritas etnik yang menetap di


Inggris menunjukkan lebih tingginya prevalensi morbiditas dan mortalitas tertentu
di kalangan kelompok etnis tertentu daripada di kalangan penduduk setempat.

Perbedaan sistem medis antara kaum migran dan penduduk setempat pun merupakan
salah satu faktor yang menjadi penyebab perbedaan kesehatan.

PETUGAS KESEHATAN

Dokter dan Pasien

Kajian awal terhadap hubungan dokter-pasien dalam sosiologi dipelopori Henderson.


Di antara berbagai tema sosiologi yang dikajinya kita jumpai tema konsep sistem
dan sistem sosial serta tema sosiologi medis. Pemikiran Henderson kemudian
dikembangkan lebih lanjut oleh Talcott Parsons, antara lain dalam tulisannya
mengenai praktik medis modern.

Salah satu tulisan Parsons yang sangat berpengaruh dalam sosiologi kesehatan
dimuatnya dalam buku The Social System. Baginya praktik medis merupakan mekanisme
dalam sistem sosial untuk menanggulangi penyakit para anggota masyarakat. Salah
satu sumbangan pikiran penting Parsons bagi sosiologi ialah lima pasangan variabel
yang dinamakannya variabel pola. Parsons membahas pula peran sakit. Baginya sakit
merupakan suatu peran sosial, dan seseorang yang sakit mempunyai sejumlah hak
maupun kewajiban sosial. Menurut Parsons situasi seorang pasien ditandai oleh
keadaan ketidakberdayaan dan keperluan untuk ditolong, ketiadaan kompetensi
teknis, dan keterlibatan emosional.

Menurut Parsons peran dokter terpusat pada tanggung jawabnya terhadap


kesejahteraan pasien, yaitu mendorong penyembuhan penyakitnya dalam batas
kemampuannya. Untuk melaksanakan tanggung jawabnya ini dokter diharapkan untuk
menguasai dan dan menggunakan kompetensi teknis tinggi dalam ilmu kedokteran dan
teknik-teknik yang didasarkan kepadanya.

Untuk kepentingan penyembuhan pasien, tidak jarang hubungan dokter-pasien


melibatkan hal yang bersifat sangat pribadi. Di samping kontak fisik dengan pasien
dokter pun dapat menanyakan hal sangat pribadi yang biasanya tidak diungkapkan
kepada orang lain. Sumber ketegangan lain yang dikemukakan Parsons ialah adanya
ketergantungan emosional pada dokter.

Pendekatan Teoritis dan Kajian Empiris

Menurut pendekatan interaksionisme simbolik baik dokter maupun pasien mempunyai


gambaran mereka sendiri mengenai kenyataan sosial, yang mempengaruhi interaksi di
antara mereka. Kajian interaksionisme simbolik terhadap hubungan dokter-pasien
menekankan pada kesenjangan dalam harapan dan kemungkinan terjadinya konflik.

Pandangan Parsons mengenai peran sakit telah memperoleh tanggapan sejumlah ahli
sosiologi. Empat hal yang dipermasalahkan oleh para ahli sosiologi ialah tipe
penyakit, keanekaragaman dalam tanggapan individu dan kelompok, hubungan petugas
kesehatan dengan pasien, dan orientasi kelas menengah.

Sejalan dengan perjalanan waktu mulai berkembang pekerjaan yang berhubungan dengan
bantuan kepada dokter dalam pelaksanaan tugasnya. Pekerjaan petugas kesehatan non-
dokter ini dalam literatur sering disebut sebagai paraprofesi. Ciri utama yang
membedakan status profesi dengan pekerjaan ialah ada-tidaknya otonomi. Oleh karena
petugas kesehatan non-dokter tidak memiliki otonomi profesional melainkan
didominasi dan dikendalikan oleh dokter maka pekerjaan mereka digolongkan ke dalam
okupasi, bukan profesi.

Perbedaan lain antara kelompok paraprofesi dengan profesi dokter ialah bahwa
pekerja kesehatan non-dokter lebih responsif terhadap pasien dan lebih
berorientasi pada mereka daripada para dokter.

Perawat merupakan paraprofesi yang paling dikenal. Sejarah pekerjaan perawat dapat
dibagi dalam dua periode: zaman sebelum dan sesudah Florence Nightingale. Sebelum
Florence Nightingale perawat dianggap sebagai pengganti ibu. Setelah itu, Florence
Nightingale mengubah citra perawat dari pengganti ibu menjadi perawat profesional.

KESEHATAN DAN LINGKUNGAN

Kesehatan dan Lingkungan Fisik

Lingkungan mempunyai dampak terhadap berbagai segi kehidupan masyarakat. Dalam


membahas dampak lingkungan terhadap kesehatan para ahli membedakan antara
lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Dalam bencana buatan manusia umumnya
masyarakat baru mulai memikirkan langkah-langkah untuk menanggulangi dampak
negatif dan mencegah terulangnya peristiwa serupa setelah dampak negatif tersebut
terwujud.

Suatu masalah kesehatan lingkungan yang kini dihadapi masyarakat yang melaksanakan
industrialisasi ialah pencemaran air. Pemanfaatan air tercemar untuk kebutuhan
setiap hari mengakibatkan kematian dan berbagai penyakit.

Penurunan kualitas udara karena pencemaran udara oleh gas atau debu dapat
mengakibatkan berbagai macam gangguan kesehatan. Pencemaran udara karena kebakaran
hutan telah membawa berbagai dampak negatif bagi kesehatan lingkungan. Penduduk
daerah perkotaan yang menghirup udara yang tercemar gas buang kendaraan bermotor
serta kotoran dan gas yang disalurkan melalui cerobong asap pabrik menghadapi
risiko terkena berbagai penyakit. Banyak warga masyarakat dalam jangka waktu lama
berada di ruang tertutup dengan udara yang didinginkan alat penyejuk menghirup
udara tercemar sehingga menghadapi risiko terkena berbagai gangguan kesehatan,
seperti asma.

Kesehatan terancam pula oleh berbagai bentuk lain pencemaran lingkungan fisik.
Lalu lintas pun merupakan lingkungan fisik yang mempengaruhi kesehatan manusia.
Lingkungan fisik lain yang diidentifikasikan sebagai faktor penyebab gangguan
kesehatan ialah perumahan, hidup berkerumun dan kepadatan penduduk. Sering kali
berbagai jenis pencemaran terjadi secara bersamaan.

Kesehatan dan Lingkungan Sosial

Gangguan kesehatan dapat datang dari lingkungan sosial. Manusia sering hidup dalam
lingkungan sosial yang membuat mereka marah, frustrasi atau cemas, dan perasaan-
perasaan demikian dapat mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan. House, Landis
dan Umberson mengemukakan hasil penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara
hubungan sosial dan kesehatan. Antara lain dikemukakan pada arti penting social
support bagi kesehatan.

Ancaman lingkungan terhadap kesehatan ditanggapi warga masyarakat dengan berbagai


ragam reaksi. Ada yang bermigrasi ke kawasan lain. Ada pula warga masyarakat yang
berupaya menanggulanginya. Kesadaran ataupun kecurigaan warga masyarakat bahwa
lingkungan fisik mereka menyebabkan penyakit kemudian sering diikuti dengan
berbagai bentuk tindakan terhadap mereka yang dianggap bertanggung jawab.

Tindakan terhadap organisasi yang mencemari kesehatan lingkungan fisik melibatkan


berbagai pihak, seperti community at risk, berbagai kelompok dan organisasi lain
yang peduli terhadap komunitas berisiko, dan pemerintah. Sasaran tindakan
komunitas berisiko beserta pendukung mereka ini umumnya terdiri atas perusahaan
milik negara ataupun swasta yang proses produksi atau distribusinya membahayakan
kesehatan karyawannya atau lingkungan sekitarnya atau yang memproduksi atau
mengedarkan produk yang dianggap membahayakan kesehatan konsumennya. Tindakan
dapat pula ditujukan pada instalasi yang direncanakan akan dibangun karena
dikhawatirkan akan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Tindakan memperjuangkan kesehatan lingkungan tersebut ada yang berbentuk perilaku


kolektif dan ada yang berbentuk gerakan sosial. Pihak yang dituntut biasanya akan
menempuh berbagai upaya hukum maupun politik untuk mempertahankan kepentingan
ekonominya atau bahkan untuk melakukan tuntutan balik.

UPAYA KESEHATAN

Upaya Kesehatan Kuratif, Preventif dan Promotif

Di negara dengan sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada upaya kuratif
mulai berkembang berbagai kritik terhadap sistem tersebut. Para pengkritik
menyarankan agar sistem pelayanan kesehatan beralih ke upaya preventif dan
perawatan penderita penyakit kronis. Di samping kedua macam upaya tersebut di atas
kita menjumpai pula upaya promosi kesehatan.

Dalam upaya pencegahan medis dibedakan tiga jenjang intervensi klinis, yaitu
pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tertier. Ada pembedaan
antara tiga jenjang pencegahan, yaitu pencegahan pada jenjang medis, pencegahan
pada jenjang perilaku, dan pencegahan pada jenjang struktur.

Upaya Preventif : Kasus HIV/AIDS

HIV merupakan sejenis virus yang ditularkan dari seseorang ke orang lain melalui
pertukaran darah atau cairan tubuh. Oleh karena mengakibatkan defisiensi pada
ketahanan tubuh manusia maka virus ini diberi nama HIV. Adanya berbagai penyakit
tertentu merupakan sindrom yang menjadi indikasi bahwa orang dengan HIV telah
mengidap apa yang dinamakan penyakit AIDS.

Oleh karena HIV/AIDS merupakan PMS maka yang paling rentan terhadap infeksi
HIV/AIDS maupun PMS lain ialah orang yang terlibat dalam perilaku risiko tinggi
yaitu mereka yang sering berganti pasangan seks tanpa menggunakan alat pelindung.
Selain melalui hubungan seks, yang merupakan cara penularan dominan, dan maka
infeksi HIV/AIDS dapat pula terjadi melalui cara-cara lain, seperti infeksi janin
dalam kandungan orang dengan HIV/AIDS; infeksi intravena; prosedur tindak medis
invasif; kontak dengan darah atau cairan tubuh orang dengan HIV/AIDS.

Mengingat bahwa infeksi HIV/AIDS cenderung terjadi di kalangan orang yang


berperilaku risiko tinggi maka perilaku dan gaya hidup inilah yang menjadi sasaran
intervensi upaya pencegahan. Di kalangan para pemerhati masalah HIV/AIDS dikenal
apa yang dinamakan rumus ABC: abstinence (abstinensi), be faithful (setialah), dan
kondom (condom). Pencegahan dilakukan dengan kegiatan yang biasanya dinamakan KIE
(komunikasi, informasi, edukasi). Kegiatan KIE bertujuan mengubah perilaku,
pengetahuan, sikap, dan keyakinan warga masyarakat.

Upaya intervensi perilaku tidak terbatas pada orang yang berperilaku risiko tinggi
melainkan mencakup pula berbagai kalangan masyarakat. Berbagai program KIE
mengenai HIV/AIDS yang dijumpai dalam masyarakat lain dan kini telah mulai
dilaksanakan dalam masyarakat kita ialah intervensi kelompok risiko tinggi,
program pendidikan di tempat kerja, program pendidikan kesehatan di sekolah,
intervensi komunitas, intervensi melalui media massa.

Intervensi di bidang struktur sosial diarahkan pada perubahan struktur sosial,


sistem sosial, dan lingkungan melalui perundangundangan dan kebijakan.
Penanggulangan masalah seks komersial yang menjadi sumber penyebaran PMS dan
HIV/AIDS menuntut adanya intervensi struktural, bukan hanya intervensi perilaku.

Dalam upaya promosi kesehatan dijumpai dua pendekatan, yaitu pendekatan individual
dan pendekatan struktural. Dari strategi komprehensif promosi kesehatan yang
dirumuskan WHO nampak bahwa badan dunia ini menganut pendekatan struktural. Dari
perumusan tujuan utama Departemen Kesehatan serta strategi untuk mewujudkannya
dapat kita simpulkan bahwa yang kita anut ialah baik pendekatan individual maupun
struktural.

SISTEM MEDIS ALTERNATIF

Makna dan Pengertian Sistem Alternatif

Dalam berbagai masyarakat kita menjumpai lebih dari satu sistem medis. Ada sistem
medis yang berkembang dalam masyarakat Barat dan yang oleh para ahli diberi
berbagai nama. Di luar itu, ada sistem medis masyarakat non-Barat yang oleh orang
Barat dinamakan sistem medis primitif, non-Barat, tradisional, rakyat (folk
medicine), pribumi, non- Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut! ilmiah. Dalam sistem pelayanan kesehatan kita yang
dinamakan pengobatan tradisional ialah upaya pengobatan atau perawatan di luar
ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan.

Kleinman membuat klasifikasi dengan membedakan tiga macam pelayanan medis lokal
(local health care systems), yaitu sistem pelayanan kesehatan populer (popular),
sistem pelayanan kesehatan rakyat (folk), dan pelayanan kesehatan profesional yang
berorientasi ke biomedisa Barat.

Salah satu bentuk sistem medis alternatif, menurut Conrad dan Kern, terdiri atas
berbagai bentuk kegiatan yang berpusat pada komunitas berupa sistem medis yang
bersifat swadaya dengan menekankan pada pertolongan pada diri sendiri maupun
perawatan diri sendiri.

Menurut Aakster istilah alternatif mengacu pada sistem medis di luar metode normal
yang berlaku dengan beberapa ciri yang membedakannya dengan sistem medis modern,
seperti biayanya tidak dijamin asuransi kesehatan, metodenya tidak diajarkan di
perguruan tinggi, metodenya didasarkan pada pandangan lain mengenai penyakit dan
pandangan lain mengenai hubungan antara tenaga kesehatan dengan penderita
penyakit.

Aakster membedakan beberapa tipe sistem medis alternatif, yaitu yang memakai
metode diagnosis atau perawatan yang menyimpang, yang mempunyai pandangan
menyimpang mengenai penyakit, yang mempunyai gambaran menyimpang mengenai penyakit
atau manusia, dan sistem medis Timur.

Salah satu sistem medis alternatif faith healing, yaitu penggabungan penyembuhan
dengan keyakinan pada kekuatan adikodrati. Ada yang menggabungkannya dengan ilmu
kesehatan modern, dan yang melakukannya secara mandiri.

Menurut Wallis penelitian telah menemukan adanya hubungan antara keyakinan agama
dan kesehatan, namun di kalangan para ahli masih belum ada kesepakatan mengenai
faktor penyebab adanya hubungan tersebut. Pun masih belum ada kesepakatan apakah
dari berbagai temuan penelitian tersebut dapat dibuat generalisasi.

Pemanfaatan Sistem Medis Alternatif

Para ahli menyebutkan berbagai alasan mengapa sistem medis alternatif tumbuh dan
berkembang. Disebutkan bahwa sistem medis alternatif dinilai lebih baik daripada
sistem medis konvensional; adanya kesadaran bahwa sistem medis konvensional pun
mempunyai keterbatasan; biaya sistem medis alternatif lebih murah daripada biaya
sistem medis konvensional.

Menurut Kalangie dalam menghadapi sistem medis berbeda warga masyarakat menerapkan
hierarchy of resort in curative practices, yaitu pilihan tertentu yang sering
berurutan. Untuk gangguan tidak dianggap serius orang berpaling ke pengobatan atau
perawatan di rumah; bila ini tidak berhasil, orang berpaling ke penyembuh
tradisional; bila gagal, orang berpaling ke sistem medis modern.

Kemungkinan lain adalah bahwa orang berpaling dari perawatan di rumah ke ilmu
kesehatan modern, namun tidak memperoleh hasil yang diharapkan sehingga berpaling
ke upaya tradisional.

Kalangie mengidentifikasikan lima faktor yang mendasari keputusan seseorang untuk


memilih suatu sistem medis tertentu, yaitu gambaran mengenai kegawatan penyakit,
pengalaman di masa lalu dengan berbagai sistem medis, pengetahuan dan keterampilan
terapeutik dalam keluarga dan nasihat pihak lain, biaya komparatif sistem medis
berbeda; dan kenyamanan relatif dan ketersediaan sistem medis.

Pertumbuhan dan penyebarluasan sistem medis alternatif dalam masyarakat Barat ada
yang berlangsung melalui suatu proses gerakan sosial untuk mengubah struktur
perawatan medis yang kemudian menghasilkan pelembagaan berbagai sistem medis
alternatif tersebut.

PENYELENGGARAAN SISTEM MEDIS MODERN

Medikalisasi dan Dimedikalisasi

Zola berpandangan bahwa proses medikalisasi kehidupan sehari-hari telah menjadikan


masalah kesehatan semakin penting bagi keberadaan manusia sehingga bidang medis
telah menjadi suatu institusi pengendalian sosial utama dalam masyarakat. Zola pun
mengemukakan bahwa gejala sehat dan sakit sering dihubung-hubungkan dengan masalah
moral. Selanjutnya, Zola menyebutkan empat cara medikalisasi.
Jary dan Jary mendefinisikan medikalisasi sebagai cara memandang perilaku yang tak
dikehendaki sebagai penyakit yang memerlukan intervensi sehingga penilaian medis
diperluas ke bidang politik, moral dan sosial. Abercrombie, Hill, dan Turner
merumuskannya sebagai penempelan merek medis pada perilaku yang secara moral dan
sosial dianggap tak dikehendaki, sedangkan Marsh
Sumber buku Sosiologi Kesehatan karya Kamanto Sunarto