Anda di halaman 1dari 16

Agungarcseven's Blog

Just another WordPress.com weblog

Hubungan antara Teori, Sejarah, dan Kritik Arsitektur

TEMA : MAKNA
Tujuan dari arsitektur adalah menghasilkan wacana tektonis yang menandai sebagai tempat bernaung sekaligus pada saat yang sama mewakili suatu makna atau sebuah cerita Sebuah lukisan modern berhenti menghadirkan image yang dapat dikenali dalam kehidupan. Jadi mengapa arsitektur harus dibatasi untuk menghadirkan suatu yang eksternal dari diri arsitektur sendiri? Pemikiran ini menggaris bawahi posisi otonomi yang memandang fungsi sebagai eksternal dalam arsitektur.Postmodern menempatkan nilai lebih tinggi pada bentukan daripada fungsi dengan sengaja dan menolak dictum form follow function. Wacana Kritik Berbicara tentang Teori Kritis tidak bisa dipisahkan dengan wacana kritik. Kekuatan Teori Kritis terletak pada kemampuan elaborasi kritik dalam situasi dan kondisi tertentu. Sudah sejak awal Teori Kritis mengambil sikap kritis terhadap ilmu pengetahuan dalam hal ini teori tradisional dan masyarakat. Teori Kritis secara lengkap memberikan pendasaran kritik pada krisis teori tradisional yang melulu mempertahankan status quo yang ada, teori yang memisahkan teori dan praksis tidak berkecimpung dalam penerapan praktis sistem teoritis konseptualnya. Oleh sebab itu, penolakan Teori Kritis terhadap preskriptivisme dan filsafat sosial tradisional merupakan warisan Hegel. Teori dari makna Saya memandang makna sebagai suatu ide yang fundamental dalam arsitektur dan ide dari segala bentuk di lingkungan atau tanda dalam bahasa , yang membantu menjelaskan mengapa bentuk bisa mendadak menyeruak hidup dan terkadang terkesan hancur berkeping. Selama ada dalam masyarakat maka setiap kegunaan akan diubah dengan sendirinya menjadi sebuah tanda contoh sederhana seperti sebuah jas hujan yang melindungi kita dari hujan, tidak dapat dilepaskan dari tanda yang mengindikasikan situasi di atmosfer, jas hujan identik dengan tanda akan turun hujan.jas hujan akan dipisahkan dari maknanya jika guna sosialnya menurun atau masyarakat secara expisit menyangkal maknanya lebih lanjut Teori ini dikemukakan oleh Charles Jencks yang merupakan penjelasan mengenai pentingnya makna dari sebuah bangunan akan dapat memberikan jiwa, menghidupkan existensi dari bangunan itu sendiri.Teori ini berkaitan dengan tema makna yang memandang tujuan dari arsitektur bukan hanya menciptakan tempat hunian untuk bernaung namun jug sebuah karya yang sarat makna bahkan didasari konsep yang mampu menceritakan asal-usul terjadinya bentukan. Aplikasi Bentukan :

Seperti yang dihadirkan oleh Kisho Kurokawa dalam Pasific Tower, tersirat dari bentukan mampu bercerita banyak, mulai dari bentuk tower yang menyerupai separuh bulan ,terinspirasi dari Chu Mon yaitu gerbang simbolik dari pintu masuk ruang minum teh di Jepang ini menunjukan adanya distorsi geometri oleh non-geometri(bentukbalok yang kemudian dipotong cembung) Penggunaan dua material yang melambangkan dua budaya yaitu budaya Eropa yang diwakili oleh beton agregate putih berupa curving wall, sedangkan pada bagian plaza terdapat curtain wall dari kaca flat yang menciptakan efek transparan,mengingatkan kita pada bahan penutup pintu di Jepang. Gedung ini memang mengekspresikan simbiosis antara Timur dan Barat. Dari konsepnya dapat terlihat Kisho memulai desainnya berawal dari konsep bentukan, lebih mengutamakan bentuk daripada fungsi menggabungkan unsur barat dan timur dengan penggunaan dua material termasuk ke dalam kategori memodifikasi struktur. Beliau juga mencoba menghadirkan bentukan gabungan yang memiliki makna tersendiri yang tersirat, memberikan jiwa pada bangunan seperti yang diungkapkan oleh Jencks. Berdasaran uraian diatas bangunan ini cocok dengan teori Jencks karena memiliki nyawa sendiri yang mampu bercerita dan dapat dikategorikan kedalam bangunan yang memiliki tema makna karena berangkat dari bentukan Contoh kedua dari tema makna yaitu Rumah sakit anak-anak penderita Neuromuscular disorder(epilepsi) yang dibuat dengan ide dasar Bahtera Nuh (Noahs Ark) yang menceritakan bagaimana Nuh membawa dan merawat bermacam-macam binatang dalam bahteranya melalui badai dan banjir besar. Dan interpretasi pada kenyataannya yaitu sebagai tempat penampungan dan perawatan anak-anak dari berbagai usia, latar belakang, dan jenis penyakit yang cukup beragam.

Sejarah
Untuk lebih jelas lihat artikel utama: Sejarah arsitektur Arsitektur lahir dari dinamika antara kebutuhan (kebutuhan kondisi lingkungan yang kondusif, keamanan, dsb), dan cara (bahan bangunan yang tersedia dan teknologi konstruksi). Arsitektur prasejarah dan primitif merupakan tahap awal dinamika ini. Kemudian manusia menjadi lebih maju dan pengetahuan mulai terbentuk melalui tradisi lisan dan praktekpraktek, arsitektur berkembang menjadi ketrampilan. Pada tahap ini lah terdapat proses uji coba, improvisasi, atau peniruan sehingga menjadi hasil yang sukses. Seorang arsitek saat itu bukanlah seorang figur penting, ia semata-mata melanjutkan tradisi. Arsitektur Vernakular lahir dari pendekatan yang demikian dan hingga bkini masih dilakukan di banyak bagian dunia. Permukiman manusia di masa lalu pada dasarnya bersifat rural. Kemudian timbullah surplus produksi, sehingga masyarakat rural berkembang menjadi masyarakat urban. Kompleksitas bangunan dan tipologinya pun meningkat. Teknologi pembangunan fasilitas umum seperti jalan dan jembatan pun berkembang. Tipologi bangunan baru seperti sekolah, rumah sakit, dan sarana rekreasi pun bermunculan. Arsitektur Religius tetap menjadi bagian penting di dalam masyarakat. Gaya-gaya arsitektur berkembang, dan karya tulis mengenai arsitektur mulai bermunculan. Karya-karya tulis tersebut menjadi kumpulan aturan (kanon) untuk diikuti khususnya dalam pembangunan arsitektur religius. Contoh kanon ini antara lain

adalah karya-karya tulis oleh Vitruvius, atau Vaastu Shastra dari India purba. Di periode Klasik dan Abad Pertengahan Eropa, bangunan bukanlah hasil karya arsitek-arsitek individual, tetapi asosiasi profesi (guild) dibentuk oleh para artisan / ahli keterampilan bangunan untuk mengorganisasi proyek. Pada masa Pencerahan, humaniora dan penekanan terhadap individual menjadi lebih penting daripada agama, dan menjadi awal yang baru dalam arsitektur. Pembangunan ditugaskan kepada arsitek-arsitek individual Michaelangelo, Brunelleschi, Leonardo da Vinci dan kultus individu pun dimulai. Namun pada saat itu, tidak ada pembagian tugas yang jelas antara seniman, arsitek, maupun insinyur atau bidang-bidang kerja lain yang berhubungan. Pada tahap ini, seorang seniman pun dapat merancang jembatan karena penghitungan struktur di dalamnya masih bersifat umum. Bersamaan dengan penggabungan pengetahuan dari berbagai bidang ilmu (misalnya engineering), dan munculnya bahan-bahan bangunan baru serta teknologi, seorang arsitek menggeser fokusnya dari aspek teknis bangunan menuju ke estetika. Kemudian bermunculanlah arsitek priyayi yang biasanya berurusan dengan bouwheer (klien)kaya dan berkonsentrasi pada unsur visual dalam bentuk yang merujuk pada contoh-contoh historis. Pada abad ke-19, Ecole des Beaux Arts di Prancis melatih calon-calon arsitek menciptakan sketsa-sketsa dan gambar cantik tanpa menekankan konteksnya. Sementara itu, Revolusi Industri membuka pintu untuk konsumsi umum, sehingga estetika menjadi ukuran yang dapat dicapai bahkan oleh kelas menengah. Dulunya produk-produk berornamen estetis terbatas dalam lingkup keterampilan yang mahal, menjadi terjangkau melalui produksi massal. Produk-produk sedemikian tidaklah memiliki keindahan dan kejujuran dalam ekspresi dari sebuah proses produksi. Ketidakpuasan terhadap situasi sedemikian pada awal abad ke-20 melahirkan pemikiranpemikiran yang mendasari Arsitektur Modern, antara lain, Deutscher Werkbund (dibentuk 1907) yang memproduksi obyek-obyek buatan mesin dengan kualitas yang lebih baik merupakan titik lahirnya profesi dalam bidang desain industri. Setelah itu, sekolah Bauhaus (dibentuk di Jerman tahun 1919) menolak masa lalu sejarah dan memilih melihat arsitektur sebagai sintesa seni, ketrampilan, dan teknologi. Ketika Arsitektur Modern mulai dipraktekkan, ia adalah sebuah pergerakan garda depan dengan dasar moral, filosofis, dan estetis. Kebenaran dicari dengan menolak sejarah dan menoleh kepada fungsi yang melahirkan bentuk. Arsitek lantas menjadi figur penting dan dijuluki sebagai master. Kemudian arsitektur modern masuk ke dalam lingkup produksi masal karena kesederhanaannya dan faktor ekonomi. Namun, masyarakat umum merasakan adanya penurunan mutu dalam arsitektur modern pada tahun 1960-an, antara lain karena kekurangan makna, kemandulan, keburukan, keseragaman, serta dampak-dampak psikologisnya. Sebagian arsitek menjawabnya melalui Arsitektur PostModern dengan usaha membentuk arsitektur yang lebih dapat diterima umum pada tingkat visual, meski dengan mengorbankan kedalamannya. Robert Venturi berpendapat bahwa gubuk berhias / decorated shed (bangunan biasa yang interior-nya dirancang secara fungsional sementara eksterior-nya diberi hiasan) adalah lebih baik daripada sebuah bebek / duck (bangunan di mana baik bentuk dan fungsinya menjadi satu). Pendapat Venturi ini menjadi dasar pendekatan Arsitektur Post-Modern.

Sebagian arsitek lain (dan juga non-arsitek) menjawab dengan menunjukkan apa yang mereka pikir sebagai akar masalahnya. Mereka merasa bahwa arsitektur bukanlah perburuan filosofis atau estetis pribadi oleh perorangan, melainkan arsitektur haruslah mempertimbangkan kebutuhan manusia sehari-hari dan mengunakan teknologi untuk mencapai lingkungan yang dapat ditempati. Design Methodology Movement yang melibatkan orang-orang seperti Chris Jones atau Christopher Alexander mulai mencari proses yang lebih inklusif dalam perancangan, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Peneilitian mendalam dalam berbagai bidang seperti perilaku, lingkungan, dan humaniora dilakukan untuk menjadi dasar proses perancangan. Bersamaan dengan meningkatnya kompleksitas bangunan,arsitektur menjadi lebih multidisiplin daripada sebelumnya. Arsitektur sekarang ini membutuhkan sekumpulan profesional dalam pengerjaannya. Inilah keadaan profesi arsitek sekarang ini. Namun demikian, arsitek individu masih disukai dan dicari dalam perancangan bangunan yang bermakna simbol budaya. Contohnya, sebuah museum senirupa menjadi lahan eksperimentasi gaya dekonstruktivis sekarang ini, namun esok hari mungkin sesuatu yang lain. Representasi dan Kesejarahan Postmodern Postmodern mereperesentasikan makna dari suatu tema. Para seniman postmodern memperkenalkan kembali sisi manusia pada karya-karya mereka yang mengakhiri era abstraksi yang dimulai dari Cubisme, construktivisme dan suprematisme. Intinya manusia lebih diutamakan dalam karya-karya postmodern yaitu dari segi jiwa (lifestyle) melebihi fungsi bangunan secara umum. Penilaian akan karya arsitektur akan berbeda-beda dari setiap pribadi manusia namun nilai lebihnya yaitu manusia akan merasa lebih dihargai secara emosi dan keinginan untuk mengekspresikan dirinya semaksimal mungkin. Karakteristik lain dalam karya postmodern yaitu merepresentasikan masa lalu untuk keperluan masa kini yang juga disesuaikan dengan kultur setempat. Pada dasarnya segala pembenaran dalam aliran postmodern berdasar pada ekologi, urbanisme dan kultur. Sebagai contoh bangunan Portland Building oleh Michael Graves. Graves memang berminat pada arsitektur figuratif yang artinya arsitektur yang berasosiasi dengan alam dan tradisi klasik. Dengan memanfaatkan fragmen-fragmen berkesan sejarah, maka akan muncul makna tradisional dan gambaran yang khas pada bangunan. Patung dan elemen-elemen masif lain memberikan kesan bangunan kembali ke masa kejayaan Yunani dan Romawi walaupun sebenarnya sudah berbeda sekali namun elemen-elemen ini masih memberikan gambaran yang kuat sifat tradisionalnya. Portland Building Teori Sejarah dan Kesejarahan Robert Venturi berpendapat sehubungan dengan adanya keburukan dan kebiasaan sebagai simbol dan gaya arsitektur (style) Secara artistik, kegunaan dari elemen konvensional dalam arsitektur lazimnya merupakan bentukan familiar dari sistem konstruksi yang ada ,membangkitkan pikiran dari masa lalu. Beberapa elemen mungkin dipilih secara hati-hati ataupun diadaptasi dari perbendaharaan yang sudah ada dan terstandarisasi daripada secara unik diciptakan melalui data original dan intuisi artistic

Kaitan antara teori ini dengan ragam tema sejarah jelas sekali terlihat saling mempengaruhi, dimana tema sejarah dalam arsitektur modern memperhatikan unsur sejarah masa lalu, pengaplikasiannya pada pengadopsian elemen-elemen original masa lalu yang dikombinasi hal ini mirip dengan apa yang dikemukakan oleh Venturi yang menyoroti penggunaan elemen yang diadopsi secara standard.Penggunaan elemen masa lalu tidak hanya terbatas pada aliran Greko-Roman saja seperti kolom ionic,doric,pedimen gaya Yunani dsb tapi perlu juga mengingat kesejarahan dibalik pengadopsian elemen tersebut, ada nilai tersendiri yang berkaitan dengan sejarah. Kalau diperhatikan secara seksama antara tema sejarah dengan tema makna ada batas tipis yang membedakan, dimana bisa saja London Bridge Tower dimasukkan kedalam tema makna dan tema sejarah

Kesimpulan
Bangunan adalah produksi manusia yang paling kasat mata. Namun, kebanyakan bangunan masih dirancang oleh masyarakat sendiri atau tukang-tukang batu di negara-negara berkembang, atau melalui standar produksi di negara-negara maju. Arsitek tetaplah tersisih dalam produksi bangunan. Keahlian arsitek hanya dicari dalam pembangunan tipe bangunan yang rumit, atau bangunan yang memiliki makna budaya / politis yang penting. Dan inilah yang diterima oleh masyarakat umum sebagai arsitektur. Peran arsitek, meski senantiasa berubah, tidak pernah menjadi yang utama dan tidak pernah berdiri sendiri. Selalu akan ada dialog antara masyarakat dengan sang arsitek. Dan hasilnya adalah sebuah dialog yang dapat dijuluki sebagai arsitektur, sebagai sebuah produk dan sebuah disiplin ilmu.

KRITIK DALAM ARSITEKTUR

Kritik arsitektur merupakan tanggapan dari hasil sebuah pengamatan terhadap suatu karya arsitektur. Disitu orang merekam dengan berbagai indra kelimanya kemudian mengamati,memahami dengan penuh kesadaran dan menyimpannya dalam memori dan untuk ditindaklanjuti dengan ucapan dalam bentuk pernyataan,ungkapan dan penggambaran dari benda yang diamatinya. Metode-metode kritik dalam arsitektur dikelompokan menjadi : 1. Kritik Normatif ciri kritik normatif ini mempunyai standar nilai berupa; doktrin,sistem,tipe atau ukuran. doktrin bisa jadi sebgai pujian atau sebaliknya,sedangkan sistem bisa menyangkut lebih luas pemaknaannya karena ada saling sangkut paut antara komponen yang satu dengan komponen yang lain. Contoh kritik normatifnya "sistem" versi Vitruvius, dia memandang sebuah bangunan adalah pengubah iklim,pengubah perilaku,pengubah budaya,pengubah sumber daya. 2. Kritik Penafsiran kritik ini biasanya bersifat subyektif tidak didasarkan pada data / pedoman baku dari luar, untuk memperhalus kritik salah satunya menggunakan analogi-analogi. hasilnya akan meningkatkan emosi bagi pendengar setelah itu terpengaruh atau menolak. Jika ada penolakan dari pendengar maka akan timbul kritik evokatif ( pembelaan ). 3.Kritik Deskriptif ciri-ciri kritik deskriptif, tidak menilai,tidak menafsirkan namun yang terpenting menggambarkan sesuatu yang ada, tanpa ada tambahan-tambahan yang mengaburkan. 4.Kritik Biografi Kritik ini didasari oleh kehidupan arsitek,klien,pembangunan (kontraktor) serta dampak mereka pada hasil akhir. Dan kebiasaannya mengemukakan fakta-fakta dan pengaruhnya. 5.Kritik Kontektual kontektual yang berhubungan dengan dunia luar, berupa tekanan-tekanan / peristiwa-peristiwa ekonomi,politik, atau antarpersonal sehingga akan mempengaruhi rancangan serta faktor produksi.

Sudut Pandang Architect #6 (Kritik Arsitektur-)


Telah dituliskan: 9 Desember 2011 | Penulis: Aris Architect | Filed under: Architecture | Tags: Architecture, Architecture and Critical Imagination, Arsitektur, book, Critical Imagination, objektif, resume, sudut pandang, wayne attoe |1 Comment

Book Resume Architecture and Critical Imagination Wayne Attoe Chapter 1 : Criticsm Bentuk yang paling dikenal dari sebuah kritik adalah komentar dan penilaian dalam koran, majalah dan profesional jurnal. Selain itu sejarahwan juga merupakan salah satu bentuk dari kritik, kritik mereka cenderung memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi di masa lampau atau menunjukan kejadian mana dimasa lalu yang layak untuk diberikan perhatian. Ketika sejarahwan memberitahukan untuk lebih selektif dalam memperhatikan dan memberitahukan apa makna dari salah satu peristiwa penting, mereka lebih menjadi penerjemah dibanding documenter. Bentuk lain dari kritik yang berkaitan dengan arsitektur salah satunya ialah pengajar di akademi yang membahas tentang kritik desain, Kritik arsitektur dapat ditemukan dalam berbagai situasi, termasuk dalam saat-saat penting ketika mengajukan usul solusi desain untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain dalam memberikan pendapat mengenai ide. Proses kritik biasanya berada diantara desainer dengan perusahaannya, diantara, klien dengan arsitek, diantara arsitek dengan kontraktor, diantara pengguna bangunan dengan bangunan itu sendiri. Untuk beberapa orang, kritik sangat berguna karena merupakan salah satu fasilitas untuk mengerti. Mereka ingin tahu mengapa bangunan berbentuk seperti emikian, siapa yang bertanggung jawab tentang itu, dan apa artinya itu. Meskipun respon kita terhadap kritik lebih sering bertahan dan diintimidasi dengan hal-hal yang muncul menjadi pendapat yang negatif tentang pekerjaan kita dan karena itu pribadi kita menjadi bernilai. Dengan mengerti metode tentang kritik seharusnya dapat membuat kemungkinan untuk membuat diskriminasi antara metode dan tujuan. Sehingga dapat melihat metode kritik sebagai taktik, kendaraan untuk menyampaikan konten secara signifikan. Kunci untuk mencapai pengertian mengenai kritik sebagai sarana bukan ancaman ialah melihat kritik itu sebagai perilaku bukan ancaman. Chapter 2 : Methods of Criticism I. Normative Criticism Esensi dari kritik normative adalah keyakinan dimana dalam belahan dunia lain, bangunan atau rancangan kota adalah sebagai model, pattern, standart atau prisnsip terhadap kualitasnya atau keberhasilannya. Normative dapat spesifik dan fisik sebagai standart untuk desain. Lingkup dalam kompleksitas, abstraksi dan spesifik metode normative dibedakan menjadi doctrine, system, tipe dan ukuran.

Doctrinal criticism Kritik doktrin dalam arsitektur ialah kritik yang berbasis atau berdasarkan teori dari arsitek, keputusan-keputusan yang dibuat arsitek atau kutipan-kutipan arsitek. Teori-teori umum dalam dunia arsitek seperti form follow function, function follow form, that less is more, that less is bore, that buildings should be what they want to be, that they should ex-press structure, function, aspirations, construction methods, regional climate and materials, etc adalah teoriteori umum yang biasa dibahas dalam kritik doktrin. Keuntungan para desainer menggunakan kritik ini, mendapat suatu pedoman yang memberikan arah untuk membuat suatu keputusan desain, diwaktu yang sama memungkinkan desainer membuat kesepakatan tentang ruang sebagai interpretasi, desainer yang sering menggunakan doktrin tertentu dan mendesain sesuai dapat lebih terasa benar tanpa harus mematuhi persyartan khusus yang membatasi kebebasan. Dibalik keuntungan kritik ini, kritik doktrin memiliki bahaya. Mereka membuat mudah formula benar atau salah, padahal untuk memberi penilaian terhadap sesuatu harus melalui proses dan tidaklah mudah. Terkadang untuk beberapa doctrine memiliki arti yang samar atau ambiguitas sehingga memberikan pendapat yang bias dan mempengaruhi penilaian kritik. Systematic criticism Kritik yang bijaksana dan desainer terkadang bergantung hanya pada sebuah doktrin untuk mendukung penilaiannya, ini sangat berbahaya karena jika hanya satu prinsip mudah dibantah secara sederhana, tidak memadai, atau tidak berlaku. Salah satu alternative untuk single doktrin yaitu dengan menjalin prinsip-prinsip atau faktor dalam system untuk memberi penilaian pada suatu bangunan atau rancangan kota. Sistematik kritik agaknya lebih baik daripada single doktrin untuk mencapai kesepakatan dengan kompleksitas kebutuhan manusia dan pengalaman. System untuk mengevaluasi fisik lingkungan bervariasi antara komodity, ketegasan dan kesenangan. Typal criticism Metoda kritik ini berdasarkan dari struktur, fugnsi, dan tipe bentuk. Hal ini jarang digunakan pada kritik popular tentang arsitektur dan bahkan para sejarahwan menelantarkan hingga baru-baru ini. Meskipun jarang digunakan sebagai dasar untuk mengkritik, tp ini cukup mudah, dengan mudah dapat dikatakan bahwa sebagian besar lingkungan binaan sebenarnya dirancang oleh dasar tipe standar, asli tidak inovatif, dan bahwa setiap kepedulian nyata untuk kualitas, utilitas dan ekonomi dalam lingkungan akan fokus pada jenis standar, bukan pada sesuatu yang khusus. ada tiga fitur dasar dari sebuah bangunan dianalisis berkaitan dengan jenis, Struktur, Fungsi dan bentuk. Tipe kritik yang berdasarkan struktur menilai lingkungan dalam suatu hubungan untuk membuat lingkungan serupa dan pola yang mendukung. Tipe kritik yang berdasarkan fungsi akan membandingkan desain lingkungan dengan aktifitas yang serupa. Tipe kritik yang berdasarkan bentuk salah mengasumsikan keberadaan atau kemungkinan jenis bentuk

murni terlepas dari fungsi. penilaian kritis fokus pada cara-cara bentuk itu sendiri dimodifikasi dan variasi yang berkembang. Measured criticism Apa yang mebedakan diantara kritik ialah ukurannya. Angka atau sesuatu sepsifik standar memberikan norma-norma bagaimana seharusnya bangunan itu menampilkan bentuknya. Standar bisa mewakili minimal, rata-rata atau kondisi yang disukai. Standar-satandar itu dapa mencerminkan bermacam-macam tujuan dari sebuah bangunan. Biasanya tujuan dijabarkan dalam tiga jenis kinerja : Technical goals, yang pertama harus dilakukan dengan bahan/susunan bangunan adalah kepadatan dan perawatan. Functional goals lebih kepada kinerja bangunan sebagai fasilitas aktifitas yang lebih spesifik. Behavioural goals tidak hanya tentang bahan/susunan bangunan atau fasilitas aktifitas, namun lebih dari ke dampak bangunan pada perilaku individu penggunanya. Teknik pengukuran dalam evaluasi perilaku ialah dengan survey mengenai attitude dan simulasi mekanisme, teknik wawancara, observasi instrumental, observasi langsung, observasi rangsangan sesnsorik, observasi tidak langsung. Chapter 3 : Methods of Criticism II. Interpretive Criticism Pusat karakteristik dari kritik Interpretif adalah tergantung dari personal. Kritik berperan sebagai interpreter untuk penonton bukan berperan sebagai tuntutan untuk mebantu doktrin, system, atau tipe. juga tidak mengklaim untuk membuat tujuan, evaluasi pengukuran. Melakukan kritik ini memberikan sudut pandang baru pada sebuah objek, cara baru untuk melihat itu (biasanya dengan merubah metapora ketika kita melihat bangunan. Advocatory criticism Kritik ini tidak disebut kursi penilaian, dia lebih menjadi penganjur dari penulis yang menguraikan pekerjaannya, penulis yang terkadang lupa atau terlalu membenci. Dalam advocatory critic lebih focus pada melahirkan suatu penghargaan dari pada memberikan penilaian. Evocative criticism Bukan dari pengaruh bagaimana cara kita melihat bangunan, pemikiran kita sudah mengerti makna yang terkandung dari objek, kritik dapat menggungah kita dan membangkitakan respon emosional. Evocative critic mengerti apa yang dia rasa mengenai konfrontasi antara bangunan atau rancangan kota dengan pengguna, apapun maknanya dibutuhkan untuk membangkitkan rasa yang serupa bagi para pembaca atau penonton. Evocative critic bukan benar atau salah tapi sebagai pengganti dalam sebuah pengalaman. Grafis media dapat lebih menguatkan potensi kritik dibandingkan hanya sekedar verbal dalam evocative critic. Fotografi mempunya potensi yang kuat dalam membangkitkan respon

emosi, karena lebih detail, lebih mem-fokuskan terhadap point yang dibahas, pendapat pribadi serta mengacu kepada reality. Impressionistic criticism kritik impresionistik menggunakan karya seni atau bangunan sebagai dasar dimana kritikus kemudian membangun karya seninya sendiri. Media dari kritik impressionistic bukan terbatas hanya sekedar pidato verbal atau grafis manipulasin namun juga dapat menggunakan modifikasi dari bangunan itu sendiri. Impressionic criticism membangun gambaran provocative bukan fakta keseluruhan, namun membiaskan objek sehingga pembaca lebih teliti, analisa objek menjadi lebih sulit. Di tangan yang lain impressionistic kritik memberikan pelayanan dengan membuat lingkungan fisik terlihat dan menjadikan kenangan atau menghibur. Chapter 4 : Methods of Criticism III. Descriptive Criticism Lebih dari sekedar bentuk dari kritik, descriptive criticism melihat lebih factual. Mencatat fakta-fakta mengenai bangunan atau rancangan kota dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan objek. Asumsinya ialah jika kita mengetahui apa yang sebenarnya terjadi atau apa sebenernya permasalahannya, kita akan dapat mulai untuk mengerti. Bukan hanya untuk menghakimi atau meng-interpretasi, tapi untuk membantu kita apa sebenarnya terjadi. Depictive Criticism I (Static Aspects) Depictive kritik tidak dapat disebut kritik sepenuhnya karena tidak menggunakan pertanyaan baik atau buruk. Kritik ini focus pada bagian bentuk, material, serta teksture. Depictictive kritik pada sebuah bangunan jarang digunakan karena tidak menciptakan sesuatu yang controversial, dan dikarenakan cara membawakan verbal mengenai fenomena fisik jarang provocative atau seductive to menahan keinginan pembaca untuk tetap memperhatikan. Fotografi paling sering digunakan ketika ketelitian dalam penggambaran bahan bangunan diinginkan.. Media grafis digunakan dalam depdictive kritik karena memberikan banyak informasi tentang bangunan, selain itu juga media yang tepat untuk merekam dan disampaikan dalam bentuk non verbal. Depictive Criticism II (Dinamic Aspects) Dalam dynamic aspek, tidak seperti static aspect yang lebih melihat fisik dari bangunan seperti bentuk, material dan tekstur, tp lebih kepada perilaku dari bangunan, seperti bagaimana bangunan itu digunakan, bagaimana manusia bergerak dalam bangunan, apa saja yang dilakukan, apa yang terjadi didalamnya, dan bagaimana dampak bangunan itu terhadap lingkungan sekitar. Biographical Criticism Dalam biographical critics kita dituntut untuk lebih mendalam, khususnya pada pembuat atau arsitek dari bangunan yang akan dijadikan objek, seperti Le Corbusier dulunya adalah seorang tukang cat, dsb. Dengan mengetahui hal-hal seperti itu kita mampu untuk mengkritik

mengapa bentuk bangunannya dapat berbentuk seperti demikian. Kita juga dapat belajar bagaiman sang arsitek mulai berfantasi, bagaimana ia menetralisir konflik dan bentuk itu menjadi sesuatu yang artistic. Contextual Criticsim Untuk memberikan lebih ketelitian untuk lebih mengerti suatu bangunan, diperlukan beragam informasi dekriptif, informasi seperti aspek-aspek tentang sosial, political, dan ekonomi konteks bangunan yang telah didesain. kebanyakan kritikus tidak mengetahui rahasia informasi mengenai faktor yang mempengaruhi proses desain kecuali mereka pribadi terlibat. Dalam kasus lain, ketika kritikus memiliki beberapa akses ke informasi, mereka tidak mampu untuk menerbitkannya karena takut tindakan hukum terhadap mereka. Tetapi informasi yang tidak controversial tentang konteks suatu desain suatu bangunan terkadang tersedia. Chapter 5 : The Rhetoric of Criticism Bahasa dari kritik dipenuhi kerumitan yang sama dengan bahasa lainnya, tidak tepat dan bersifat pribadi (personal). Nikolaus Pevsner (1951) mengatakan bahwa kritik asitektur memungkinkan karena belum ada persetujuan mengenai pengertian dari terminologi. Kesulitan lain di dalam kritik adalah retoris (kemampuan berbicara). Kemampuan berbicara adalah sebuah hal yang penting dan aspek yang berwarna dalam komunikasi, kemampuan berbicara dapat digunakan untuk memanipulasi dan juga untuk meningkatkan pengertian, sehingga konsumen dari kritik berhati-hati untuk mengenali strategi retoris yang digunakan. Kritik, seperti perancang, tergantung pada metafora (kiasan) sampai struktur pikiran mereka. Penelitian yang saling berkaitan mengenai hal yang mendasari metafora kritik dari bangunan yang sama, memberi informasi dan terkadang menghibur, walaupun tidak meyakinkan, karena tidak ada cara untuk mengetahui keaslian dan motif dari penggunaaan metafora tersebut. Satire (sindiran), merupakan teknik retoris lain dari kritik, munkin terlihat seperti metafora (kiasan) dalam skala kehidupan, cukup besar untuk menaungi semua aspek di dunia. Karena sindiran bersifat luas, sebab mampu menciptakan sebuah dunia yang tergantung pada sudut pandang dunia, maka sindiran menjadi alat yang sangat efektif untuk kritik. Sebuah persyaratan yang penting pada sindiran adalah kesempurnaan dalam pilihan yang sedang. Bagian lain dari kritik retoris adalah dualisme, praktek dari menggolongkan fenomena sebagai pilihan. Dualisme adalah alat retoris yang kuat karena tegantung pada kejelasan, biasanya perbedaan yang dilebih-lebihkan. Kita dapat mengetahui sesuatu dengan mengetahui apa itu tidak. Juxtaposition (penjajaran), merupakan potensi lain dari alat retoris. Dengan penjajaran yang nyata, dua hal yang berlawanan dapat diberi kesan mirip, dan sebaliknya dua hal yang sama dapat diputuskan cukup berbeda. Juxtaposition (penjajaran) sering digunakan dalam kritik foto. Kontras merupakan dalam fotografi. Juxtaposition (penjajaran) merupakan sebuah kritik dari kebijaksanaan dan praktek yang mengizinkan pembonkaran bangunan-bangunan

kerajaan (mulia). Penggunaan juxtaposition (penjajaran) yang lain adalah untuk menunjukkan bahwa dua hal yang seperti mirip merupakan dua hal yang cukup berbeda. Kemampuan berbicara dalam kritik adalah sebuah penemuan, bahwa semua kritik menyimpang, bahwa sebuah pendirian kritik hanya cerminan dari metafora utama yang baik atau yang berubah-ubah yang tidak menunjukkan bahwa kritik tidak berlaku atau tidak berarti. Jika kritik dilihat sebagai dialog, jika kritik diingat sebagai hipotesa, dan jikakritik dilihat sebagai sebuah percobaan, sebagai bagian dari proses uji coba, kemudian kritik dapat memainkan peran penting dalam membantu mencari dan mengembangkan solusi desain lingkungan yang lebih baik. Perhatian kepada teknik dalam kritik mengurangi kemampuan dari kritik untuk memanipulasi pembaca/pendengar. Kritik sendiri menjadi dapat dikritik, juga dapat digambarkan, ditafsirkan dan diduga. Tetapi ada bahaya apabila melihat retoris dalam kritik terlalu dekat, teknik dapat menjadi apa yang kita lihat. Ketika hal ini terjadi maka kemampuan untuk membentuk kritik akan hilang. Tujuan akhir dari kritik adalah bukan dikritik tapi untuk memberi efek pada dunia. Chapter 6 : Settings for Critism Kritik pada umumny selalu berada di : diri, kuasa, ahli, teman sebaya, dan orang awam. Kategori kategori ini merujuk pada situasi dan aturan pada saat kritik diambil. Contoh dari tata cara kekuasaan yaitu seorang prinsipal dari sebuah kantor atau seorang guru menguraikan dan menyampaikan dugaan pada pekerjaan yang akan dimulai. Sebaliknya tata cara ahli terlihat seperti tidak memiliki kekuatan yang spesifik pada apa yang dikritik, pengaruh tergantung pada kesan oang lain dengan pengetahuan khusus dan wawasan yang dalam. Tata cara teman sebaya malah menemukan kesamaan dugaan satu dengan lainnya mengenai dasar dari ilmu pengetahuan yang dibagi dan tanpa kekuatan khusus satu dengan lainnya. Orang awam tidak memiliki kekuatan yang dipercaya dan sah, tetapi karena keterlibatan langsung dengan lingkungan yang terbangun maka orang awam dapat memiliki pengaruh. Orang awan bertindak tanpa informasi yang berguna dan keahlian, tetapi orang awan bertindak. Ada tambahan tata cara kritik selain yang disebutkan sebelumnya seperti aspek-aspek dari kekuasaan, ahli, teman sebaya, orang baru, dan orang awam. Pada tata cara kritik diri, situasinya adalah perancang atau pengambil keputusan mengkritik dirinya sendiri dalam proses merancang. Kritik diri adalah pusat dari pemikiran yang tenang, dan pada kenyataannya sudah disadari oleh banyak orang yang kreatif, beberapa penelitian yang nyata dilakukan tentang hal ini. Kritik Diri Bagian yang lebih besar dari pekerjaan dari seorang penulis dalam menulis sebuah kritik; menyaring pekerjaan, menggabungkan, membangun, menghapus, memperbaiki, menguji : kerja keras yang menakutkan ini adalah untuk mendapatkan kritik yang kreatif. Terdapat lima suara yang berasal dari kesunyian dalam diri yang agak menakutkan dari menciptakan sebuah rancangan. 1. Suara harus

Dua suara yang selalu ada dalam hidup adalah suara yang mencoba untuk meyakinkan harus melakukan ini atau itu. Ketika harus dibesar besarkan pada suara ini maka akan menjadi obsesi dan hal ini disebut cara dorongan yang obsesif. Suara harus #1: Kekuasaan Suara kekuasaan ini sering dijelaskan sebagai orang tua dan dikaitkan dengan super-ego. Merupakan sisa dari pengalaman masa kecil ketika mempelajai mana hal yang benar dan salah, serta standar dan orang lain juga mengetahui hal tersebut. Yang harus dilakukan adalah mencoba dan sering gagal dan ditegur. Bahaya dari terlalu mendengarkan suara kekuasaan adalah seseorang tidak akan dapat benarbenar bertindak, karena mengetahui akan gagal, atau keputusan tidak akan dibenarkan, maka menghindari keputusan. Bahaya lain adalah karena ingin memuaskan suara kekuasaan maka seseorang akan mengabaikan kebutuhan orang lain seperti klien atau pengguna dai bangunan. Suara harus #2 : Teman sebaya Teman sebaya yang profesional sering menyarankan kita untuk melakukan ini atau itu, tetapi tanggung jawab diri sendiri untuk melakukan ini dan itu. Suara teman sebaya sering datang dari orang yang berkerja dan tinggal dengan kita, umumnya orang yang berumur sama dan terkadang penasehat yang lebih tua, yang kita butuhkan untuk berteman dan persetujuan. Terkadang kita melakukan sesuatu karena saran dari mereka, karena takut dihindai/ditinggalkan, dan takut sendirian. 2. Suara Ketakutan

Terkadang kritik membuat kita jauh dari perbuatan dan tidak dapat bertindak langsung. Karena berpikir bila melakukan kesalahan maka akan gagal. Ketakutan akan kegagalan muncul ketika tidak dapat mengantisipasi suara orang tua dan suara teman sebaya sekaligus dan tahu bahwa mereka benar. 3. Suara Nasehat

Terdapat lima suara yang selalu ada dalam hidup yang tidak memberitahu apa yang harus dilakukan, tetapi juga membuat ragu-ragu untuk bertindak. Suara nasehat dituntut untuk lebih mengetahui diri kita dibandingkan kita mengetahui diri kita sendiri. Suara ini ditemukan dari pengalaman yang diserap dan didalami dan tidak penting untuk diketahui. Suara kekuasaan dan suara teman sebaya hanya menjadi sudut pandang lain dalam pandangan-pandangan dari kritik yang kita ada di dalamnya. Tata Cara Memerintah Sumber dari kritik perintah adalah kekuatan yang dibawa pada sebuah posisi sosial. Hubungannya dengan petinggi yang membuat keputusan dan dugaan. Sama dengan dasa untuk kritik pada pendidikan di studio.

Kritik desain secara tradisional memiliki tiga tujuan yaitu memberitahu, melakukan dugaan, dan menyaring orang-orang malas dan pembuat masalah. Sayangnya kita kurang tahu banyak mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam kritik desain. Kritik Ahli Kritik ahli dijalankan bukan dari dari posisi yang memiliki kekuatan tapi dari informasi khusus dan sensitifitas yang terbukti. Kritik ini biasanya ditulis di media yang terkenal. Kritik Rekan Seting kritik antar rekan yang paling sering ialah situasi penjurian dalam sebuah kejuaraan. Disini profesional arsitek meng-evaluasi dan mendapat pengakuan desain dari sesama arsitek. Situasi lain untuk kritik rekan ini dapat dilihat seperti buku atau artikel yang membahas arsitek oleh arsitek lainnya Dalam kritik rekan tercermin sekali controversy antara pengkritik dan yang dikritik, namun tidak berarti ini negative, karena apresiasi terhadap objek tentang fakta-fakta sering kali disampaikan. Kritik Awam Dalam Hal ini orang awam yang dimaksud ialah orang awam yang menggunakan lingkungan dimana ia bukan yang membawa atau membentuk lingkungan itu dan bukan orang yang dilatih khusus sebagai desainer atau kritikus. Hal ini bukan berarti kritik orang awam kurang bernilai dibanding profesional desainer atau kritikus Dalam kritik Awam Terdapat 2 karakter yaitu observasi perilaku dan aktifitas, dan Sikap umum. Dari metode ini dan karakter diatas, kritik awam memiliki 4 kategori respon : 1. 2. 3. 4. Sikap Terhadap Lingkungan Mengangkat perilaku dalam lingkungan Modifikasi lingkungan yang tidak disengaja Modifikasi lingkungan yang disengaja.

Chapter 7 : The end of Criticism Akhir dari ini dapat menjadi permulaan. Jika kritik tidak melihat ke depan itu akan menjadi hal yang sia-sia dan tidak berguna, hanya sebagai pemuas ketertarikan saja terhadap suatu objek. Poin-poin yang dapat digaris bawahi seperti issue masa depan, permasalah masa depan, aspirasi untuk masa depan. Bentuk kritik arsitektur haru menggunakan lebih banyak seni dan literature, karena dengan sedikit seni dan literature dapat menimbulkan misunderstanding. Apa sebenernya yang special dari kritik arsitektur? Yaitu dampak yang dihasilkan tidak hanya bagi individual personal saja, namun juga bagi lingkungan sekitar, baik lingkungan binaan maupun lingkungan alami. Kritik arsitektur alangkah baiknya apabila lebih memikirkan hasil yang didapat berguna untuk ke depannya bukan hanya sekedar mengkritik bangunan yang telah dibangun.

Terkadang kritikus arsitektur hanya berfokus pada bangunan yang telah dibangun dengan alasan tidak sesuai dengan pemikiran mereka, atau ego terhadap idealism diri. Dalam kritik arsitektur, masa lalu sebenarnya merupakan pembelajaran untuk menghadapi masa depan yang lebih baik. Kritik itu bukan penghakiman, kritik itu melihat ke depan, kritik itu bebas, kritik itu membangun