Anda di halaman 1dari 23

GEOLOGI DAERAH BANGGALAMULYA DAN SEKITARNYA KECAMATAN KALIJATI KABUPATEN SUBANG JAWA BARAT

_______________________________________________________________________ Oleh: Riza Turmudzi *) dan Djauhari Noor **)

ABSTRAK Secara administratif daerah pemetaan mencakup dearah Banggalamulya dan sekitarnya Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, dengan luas 56 kilometer presegi. Geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi 3 (tiga) satuan geomorfologi, yaitu : Satuan Geomorfologi Perbukitan Lipat Patahan, Satuan Geomorfologi Perbukitan Gunungapi dan Satuan Geomorfologi Dataran Aluvial. Pola aliran sungai yang terdapat dan berkembang adalah pola aliran sungai trellis, rektangular dan dendritik dengan genetika sungai obsekuen dan konsekuen dengan jentera geomorfik dewasa. Tatanan batuan di daerah penelitian dari yang tua ke muda, adalah ; Satuan batulempung sisipan batupasir (Formasi Subang) yang berumur Miosen Akhir (N15 N17) di endapkan pada lingkungan laut dangkal yaitu pada neritik tengahluar (20-200 m). Selaras diatasnya diendapkan satuan batulempung selangseling batupasir (Formasi Kaliwangu) yang berumur Pliosen Awal (N18 N19) pada lingkungan laut dangkal yaitu pada neritik tengah (20-100 m). Secara tidak selaras diatas satuan ini diendapkan satuan tufa lapili yang berumur lebih muda dari N20 atau ekivalen dengan Formasi Tambakan (Koenigswald, 1935), yaitu berumur Pleistosen Awal pada lingkungan darat / proximal volcaniclastic facies (Visser, 1972). Pada kala holosen, satuan aluvial sungai menutupi satuan-satuan yang lebih tua yang tersingkap di daerah penelitian Strukturstruktur geologi yang berkembang di daerah penelitian berupa kekar gerus dan kekar tarik sedangkan struktur lipatan berupa antiklin Cijengkol berarah barattimur berada di bagian tengah daerah penelitian. Struktur patahan yang berkembang berupa sesar mendatar menganan Cilamaya dan sesar mendatar mengiri Cikeruh. Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian terjadi pada kala Plio-plistosen dengan gaya utama berarah Utara-Selatan yaitu N 175 E.

I. 1.1.

UMUM Pendahuluan

Secara regional, geologi daerah Banggalamulya, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang berada pada cekungan Jawa Barat Utara yang masuk dalam mandala sedimentasi paparan kontinen dengan sejarah perkembangan cekungannya yang relatif stabil (Soejono, 1984). Mandala Kontinen Jawa Barat Utara dibatasi oleh suatu sistem antiklin dan sinklin yang umumnya berarah barattimur yang di pengaruhi oleh sesar naik Baribis dan di selatan di batasi oleh struktur Rajamandala yang mempunyai pola struktur barat daya-timur laut mengikuti pola sesar Cimandiri, di bagian timur di pengaruhi oleh sesar Baribis yang umumnya berarah barat laut-tenggara, dapat di simpulkan bahwa daerah Subang merupakan daerah sedimentasi laut dangkal dengan arah sedimentasi dari utara karena di bagian selatannya merupakan daerah cekungan laut dalam dan daerah Subang merupakan pertemuan dari dua pola struktur, yakni barat daya-timur laut dan barat laut - tenggara. Daerah ini dipilih sebagai daerah penelitian disamping untuk mengetahui persebaran batuannya, stratigrafi, struktur geologi, sejarah geologi dan potensi geologi ekonomi serta untuk mengetahui sejarah sedimentasi perkembangan cekungan Jawa Barat Utara. 1.2. Tujuan Penelitian.

Tujuan penelitian adalah mengetahui kondisi geologi daerah Banggalamulya dan sekitarnya, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat yang mencakup sejarah perkembangan cekungan, sejarah perkembangan tektonik dan sejarah perkembangan bentangalam (geomorfologi). 1.3. Metodologi Penelitian.

Metodologi yang dipakai dalam penelitian ini adalah kajian pustaka, pemetaan geologi lapangan, pekerjaan laboratorium dan studio serta pembuatan laporan. Kajian pustaka dilakukan untuk mempelajari hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan daerah penelitian sedangkan pemetaan geologi lapangan berupa pengamatan, pengukuran, dan penyontohan batuan. Adapun pekerjaan laboratorium berupa analisis petrografi, analisis mikropaleontologi, analisis sedimentologi. Pekerjaan studio berupa pembuatan peta-peta dan analisa struktur geologi, pembuatan laporan sebagai bagian akhir dari proses penelitian. 1.4. Letak, luas, kesampaian dan waktu pelaksanaan.

Secara administratif, daerah penelitian termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang. Kabupaten Subang Propinsi Jawa Barat. Secara geografis batasbatas daerah penelitian adalah sebagai berikut : 1070 3330 BT, 060 3300 LS - 1070 3745 BT, 060 3300 LS ; 1070 3745 BT, 0603745 LS - 1070 3745 BT, 060 3745 LS dengan luas wilayah + 8 km x 7 km atau sekitar 56 km2. Daerah penelitian dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua, sedangkan untuk mencapai lapangan kerja daerah penelitian di lakukan dengan menggunakan kendaraan bermotor dan berjalan kaki.

Waktu pelaksanaan penelitian kurang lebih 6 (enam) bulan di mulai sejak awal bulan September 2011 hingga Februari 2012, dimulai dari kajian literaatur, pemetaan geologi lapangan, pekerjaan laboratorium dan studio serta penyusunan laporan. II. GEOLOGI UMUM

Gambar 1.1 Peta Geologi Daerah Banggamulya, Kecamatan Kalijati Kabupaten Subang, Jawa Barat

2.1. Geomorfologi 2.1.1. Fisiografi Regional Berdasarkan bentuk morfologi serta litologinya Van Bemmelen, (1949) membagi fisiografi Jawa Barat menjadi 4 Zona Fisiografi (Gambar 1.2), yaitu : (1). Zona Dataran Pantai Jakarta; (2). Zona Bogor; (3). Zona Depresi Tengah (Zona Bandung) dan (4). Zona Pegunungan Selatan Jawa Barat.

Gambar 1.2. Peta fisiografi Jawa Barat (van Bemmelen, 1949)

Geomorfologi daerah penelitian berdasarkan pembagian Fisiografi Jawa Barat menurut Van Bemmelen (1949) termasuk dalam Zona Dataran Pantai Jakarta dan Gunung Api Kuarter. 2.1.2. Geomorfologi Daerah Penelitian Secara umum morfologi daerah penelitian terdiri dari dataran dan perbukitan bergelombang landai, umumnya di susun oleh batuan sedimen yang berumur tersier dan batuan gunung api yang berumur kuarter, terdiri dari penjajaran bukit dan lembah yang berarah barattimur dengan ketinggian berkisar 50 m 450 m, bentuk penjajaran bukit dan lembah ini di kontrol oleh struktur perlipatan yang berarah barat-timur dan patahan yang berarah baratlaut-tenggara serta baratdaya-timurlaut, sedangkan di bagian utara di tempati oleh satuan Geomorfologi Perbukitan Gunungapi. Berdasarkan genetika pembentukan geomorfologinya maka daerah penelitian dapat di bagi menjadi tiga (3) satuan yaitu: (1). Satuan Geomorfologi Perbukitan Lipat Patahan; (2). Satuan Geomorfologi Perbukitan Gunungapi; dan (3). Satuan Geomorfologi Dataran Aluvial. 1. Satuan Geomorfologi Perbukitan Lipat Patahan. Genesa satuan geomorfologi ini dibentuk oleh batuan sedimen yang terlipat dan terpatahkan yang dicirikan oleh bentuk perbukitan bergelombang landai memanjang dari barat-timur. Satuan ini menempati 74 % luas daerah penelitian (gambar 1.3). Bentuk morfometri dari satuan ini memperlihatkan relief landai sampai bergelombang lemah dengan prosentase lereng 2% - 10% dengan ketingian 100-500 m dan stadia geomorfik dalam stadia dewasa. 2. Satuan Geomorfologi Perbukitan Gunungapi. Genesa satuan ini dibentuk oleh hasil pengendapan material erupsi gunungapi tufa lapili, menempati 16 % luas daerah penelitian, Morfometri satuan ini dicirikan oleh prosentase kelerengan 5% 10% dengan kisaran ketinggian 100-200 m. Berdasarkan bentuk-bentuk morfologinya, jentera satuan ini masuk dalam stadia muda. 3. Satuan Geomorfologi Dataran Aluvial Sungai. Genesa pembentukan satuan geomorfologi ini disusun oleh material hasil pengendapan sungai, menempati 10% 4

luas daerah penelitian, tersebar disepanjang sungai utama daerah penelitian yaitu sungai Cikeruh, dengan kelerengan berkisar antara 0% 2%, ketinggian 0-50 m, di susun oleh material - material berukuran lempung sampai bongkah. Secara umum pola aliran sungai daerah penelitian dapat digolongkan kedalam pola aliran sungai Sub-Trellis dimana antara sungai utama dan cabang-cabangnya membentuk bentuk yang menyerupai bentuk pagar, dengan genetika sungainya berupa sungai subsekuen, obsekuen dan konsekuen dengan stadia sungai menuju dewasa.

Gambar 1.3. Peta Geomorfologi Daerah Banggalamulya

2.2. Stratigrafi 2.2.1. Stratigrafi Regional. Berdasarkan struktur dan sejarah sedimentasi daerah Jawa Barat (Soejono, 1984) Jawa Barat dibagi menjadi 3 mandala sedimentasi, yaitu: Mandala Paparan Kontinen, Cekungan Bogor dan Cekungan Banten. Mandala Paparan menempati bagian utara Jawa Barat, dengan batas selatan di bagian timur adalah Gunung Kromong, Jatiluhur sampai Cibinong Jawa Barat, menyebar ke utara ke lepas pantai utara pulau Jawa. 5

Tatanan batuan yang menyusun Mandala Paparan Kontinen dari yang tertua hingga muda adalah Formasi Cibulakan yang terdiri dari napal, batupasir, batulempung dan batugamping, selaras diatas formasi ini ditutupi oleh Formasi Parigi berupa batugamping yang berumur Miosen Tengah, selanjutnya diatasnya secara selaras diendapkan Formasi Subang berupa lempung sisipan batupasir, kemudian diendapkan Formasi Kaliwangu berupa batupasir dan batulempung yang kaya moluska dan diatas satuan ini diendapkan Formasi Tambakan berupa endapan gunungapi muda yang berumur Kuater. Lingkungan pengendapan pada Mandala Paparan Kontinen ini menunjukan proses pengendapan laut dangkal dengan kondisi tektonik yang stabil.

Gambar 1.4. Peta Mandala Sedimentasi Jawa Barat (Soejono,1984)

2.2.2. Stratigrafi Daerah Penelitian Stratigrafi Daerah Penelitian terdiri atas 4 (empat) satuan batuan, di mulai dari tua ke muda yaitu (tabel 1-1): 1. 2. 3. 4. Satuan Batulempung Sisipan Batupasir Satuan Batulempung Selang Seling Batupasir Satuan Tufa Lapili Satuan Aluvial Sungai

1. Satuan Batulempung Sisipan Batupasir. a. Penamaan Penamaan satuan ini berdasarkan atas dominasi kehadiran batulempung sebagai penyusun utamanya dan batupasir hanya sebagai sisipan.

b. Penyebaran dan Ketebalan. Satuan batulempung sisipan batupasir menempati luas sekitar + 43 % dari daerah penelitian dengan penyebaran umumnya dari barat ke arah timur tersingkap di sepanjang sungai Cikeruh bagian tengah, sungai Cilamaya bagian tengah, sungai Cijengkol, dan sungai Cilaja. Kedudukan satuan ini umumnya kurang baik karena satuan batuan ini bersifat masif. Adapun di bagian sisipan yang berupa batupasirnya, kedudukan lapisannya berkisar antara N 1230E/170 sampai N 3010E/150, sedangkan ketebalan satuan ini menurut penelitian Soejono (1984) yaitu kurang lebih 800 m, sedangkan ketebalan dari hasil pengukuran penampang + 2500 m.

Foto 1-1. Foto singakapan Batulempung bernodul Gamping (kiri) CKR 13 dan singakapan Batulempung sisipan Batupasir (kanan) CKR 27.

b. Penyebaran dan Ketebalan. Satuan batulempung sisipan batupasir menempati luas sekitar + 43 % dari daerah penelitian dengan penyebaran umumnya dari barat ke arah timur tersingkap di sepanjang sungai-sungai Cikeruh bagian tengah, Cilamaya bagian tengah, Cijengkol, dan Cilaja. Kedudukan satuan ini umumnya sulit di ukur karena satuan batuan ini bersifat masif. Adapun di bagian sisipan yang berupa batupasirnya, kedudukan lapisannya berkisar antara N 1230E/170 sampai N 3010E/150, sedangkan ketebalan satuan ini berdasarkan penampang geologi diatas 1500 m dan menurut Soejono (1984) yaitu kurang lebih 800 m. c. Ciri Litologi. Pada umumnya satuan batulempung sisipan batupasir tersingkap dengan kondisi yang segar, di beberapa tempat singkapan satuan ini sudah mengalami pelapukan. Ciri litologi satuan ini mulai dari yang terbawah disusun oleh batulempung bernodul batugamping dan kadangkadang menyerpih, sedangkan ke arah atas berubah menjadi lempung dan tidak di temukan nodul gamping. Bagian tengah satuan batuan ini di cirikan oleh lempung masih tidak berlapis dan masif, Kemudian bagian atas satuan ini di dominasi oleh lempung dan mulai muncul sisipan batupasir yang merupakan batas dengan satuan batuan di atasnya dan terdapat struktur paralel laminasi, Satuan ini di daerah penelitian tersingkap di sungai-sungai Cikeruh, Cilamaya, Cijengkol dan Cilaja. Secara megaskopis batulempung berwarna abuabu, karbonatan, kompak, retas sampai agak keras. Sedangkan nodulnya berwarna coklat terang, kompak dan keras serta karbonatan, berukuran antara 10-60 cm. d. Umur dan Lingkungan Pengendapan Untuk menentukan umur satuan Batulempung sisipan Batupasir ini, penulis menganalisa sample batuan di 2 (dua) lokasi yang mewakili bagian atas dan bagian bawah satuan Batulempung sisipan Batupasir, sebagai berikut:
Tabel 1-2. Kisaran umur fosil planktonik berdasarkan Zonasi Blow (1969), pada Satuan Batulempung sisipan Batupasir yang berlokasi di sungai Cilamaya

Sampel CLMY-01 mewakili satuan batuan bagian atas dan sample CKR-13 mewakili bagian bawahnya. Berdasarkan hasil analisa fosil foraminifera plantonik pada sample CLMY-01, di jumpai fosil-fosil Globigerina foliata, Orbulina universa, Globigerina nepten, dan Globorotalia ciperensis, yang menurut zonasi Blow menunjukan kisaran umur Miosen Akhir atau N15-N17 (lihat tabel 1-2), sedangkan pada sample CKR-13, dijumpai sebaran fosilfosil Globarotalia menardi, Orbulina universa, Globorotalia miocea, dan Globarotalia morgaritae, yang menunjukan kisaran umur Miosen Akhir atau N16. (lihat tabel 1-3). 8

Berdasarkan kedua sample tersebut diatas maka dapat di simpulkan bahwa umur kisaran satuan Batulempung sisipan Batupasir adalah berumur Miosen Akhir atau N15-N17.
Tabel 1-3. Kisaran umur fosil planktonik berdasarkan Zonasi Blow (1969), pada satuan Batulempung sisipan Batupasir yang berlokasi di sungai Cikeruh.

Untuk menentukan lingkungan pengendapan satuan Batulempung sisipan Batupasir ini, penulis mengambil sample batuan di 2 lokasi yang mewakili bagian atas dan bagian bawahnya, sebagai berikut:
Tabel 1-4. Kisaran kedalaman fosil benthonik berdasarkan F.B. Phleger (1962), pada satuan Batulempung sisipan Batupasir yang berlokasi di sungai Cilamaya (CLMY 01).

Tabel 1-5. Kisaran kedalaman fosil benthonik berdasarkan F.B. Phleger (1962), pada satuan Batulempung sisipan Batupasir yang berlokasi di sungai Cikeruh (CKR 13)

Sampel CLMY-01 mewakili satuan batuan bagian atas dan sample CKR-13 mewakili bagian bawahnya. Berdasarkan hasil analisa fosil foraminifera bentonik pada sample CLMY01 di jumpai fosil-fosil, Texturalia sp, Robulus sp, Cibicides sp dan , Quinquecolina tenagos yang menurut F.B. Phleger menunjukan kisaran kedalaman 20-100 m atau Neritik Tengah 9

(tabel 1-4), sedangkan pada sample CKR-13, di jumpai sebaran fosil-fosil, Bolivina sp, Robulus sp, Cibicides sp dan Lagena sp yang menunjukan kisaran kedalaman 20-200 m atau Neritik Tengah sampai Neritik Luar (tabel 1-5). Berdasarkan kedua sample tersebut di atas maka dapat di simpulkan bahwa lingkungan pengendapan satuan Batulempung sisipan Batupasir adalah Neritik Luar ke Neritik Tengah atau dengan katalain terjadi Regresi dari lingkungan Neritik Luar ke Neritik Tengah. e. Hubungan Stratigrafi Berdasarkan kedudukan batuan di lapangan satuan Batulempung sisipan Batupasir dengan satuan yang berada di bawahnya tidak di ketahui di karenakan satuan yang lebih tua dari satuan ini di daerah penelitian tidak tersingkap, tetapi hubungan stratigrafi dengan satuan yang ada di atasnya yaitu satuan Batulempung selang-seling Batupasir adalah selaras dengan kedudukan batuannya yang sama dan juga ditunjang dengan adanya pengendapan yang menerus. f. Kesebandingan Stratigrafi Berdasarkan umur satuan ini dengan Formasi Subang yaitu sebanding pada N17 dan di tunjang dengan ciri litologi satuan Batulempung sisipan Batupasir yang memiliki kesamaan dengan ciri-ciri litologi Formasi Subang, maka di simpulkan satuan ini sebanding dengan Formasi Subang. 2. Satuan Batulempung selang-seling Batupasir a. Penamaan.

Penamaan satuan ini didasarkan atas adanya perulangan antara batulempung dengan batupasir sebagai penyusun utama, satuan ini tersingkap di bagian utara dan selatan daerah penelitian.

Foto 1-2.

Singkapan perselingan batulempung dan batupasir bagian atas dari daerah penelitian, terdapat di lokasi CKR 07.

10

b. Penyebaran dan Ketebalan. Satuan batulempung selangseling batupasir menempati + 31 % daerah penelitian. Satuan ini umumnya mempunyai ke dudukan batuan berarah barattimur, kedudukan batuan yang ada di utara berkisar N 2960 E/260 - N 3120 E/320 sedangkan di bagian selatan daerah penelitian kedudukannya adalah N 890 E/290 - N 1210 E/310. Satuan ini tersingkap di sepanjang sungai-sungai Cikeruh bagian hulu, Cilamaya bagian hulu, Cibayawak, Cibalupang, Cigunungleutik dan Ciledang. Ketebalan satuan ini berdasarkan penampang geologi berkisar 1250 m sedangkan menurut Soejono (1984) yaitu kurang lebih 690 meter. c. Ciri Litologi.

Satuan batuan ini tersingkap dengan segar dan jelas pada daerah penelitian sehingga dapat menentukan kedudukan dari satuan batuan ini. Di cirikan dengan perselingan antara Batulempung dan Batupasir. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, bagian bawah satuan ini di cirikan oleh hadirnya batupasir sebagai sisipan di dalam Batulempung dengan ketebalan batu pasir berkisar 5 - 10 cm dan kearah bagian atas mulai terjadi perselingan dan dominasi Batupasir semakin dominan, dan Batupasirnya bersifat tufaan, pada perselingan tersebut di perkirakan ketebalan Batupasir berkisar antara 0,2 m 4 m sedangkan Batulempung berkisar antara 0,2 - 3 m (gambar 1-6). Serta di temukan struktur sedimen Paralel laminasi dan Graded Bedding (Foto 3-3) yang menunjukan satuan ini di endapkan pada arus yang tenang. Secara megaskopis, Batulempung dengan warna hitam keabuabuan, kompaksi keras dan non karbonatan. Sedangkan Batupasir, warna coklat terang, kompak, bentuk butir membulatmembulat tanggung, ukuran butir 0,125-0,5 mm (pasir halus sedang), pemilahan sedang, kemas terbuka, porositas baik dan bersifat non karbonatan, tebal lapisan 0,2 m 3 m dengan komposisi mineral, Kuarsa 22 %, Biotit 27 %, Plagioklas 28 %, Piroksen 10 %, dan Ortokhlas 13 %. Secara Mikroskopis satuan batulempung selangseling batupasir ini (lihat lampiran petrografi) adalah Chiefly Volcanic Wacke sandstone (Gilbert, 1953). d. Umur dan Lingkungan Pengendapan. Untuk menentukan umur satuan Batulempung selangseling Batupasir ini, penulis mengambil sample batuan di 2 (dua) lokasi yang mewakili bagian atas dan bagian bawah satuan Batulempung selangseling Batupasir, sebagai berikut :
Tabel 1-6. Kisaran umur fosil planktonik berdasarkan Zonasi Blow (1969), pada satuan Batulempung selang-seling Batupasir yang berlokasi di sungai Cilamaya (CLMY 12)

11

Tabel 1-7. Kisaran umur fosil planktonik berdasarkan Zonasi Blow (1969), pada satuan Batulempung selang-seling Batupasir yang berlokasi di sungai Cigunungleutik (CGLT 02).

Sampel CLMY-12 mewakili satuan batuan bagian atas dan sample CGLT-02 mewakili bagian bawahnya. Berdasarkan hasil analisa fosil foraminifera plantonik pada sample CLMY-12, di jumpai sebaran fosil-fosil Globorotalia limbata, Orbulina universa, Globorotalia miocenica, dan Pulleniatina primalis, yang menunjukan kisaran umur Pliosen awal atau N18 N19. (tabel 1-6). Sedangkan pada sample CGLT-02 di jumpai fosil-fosil Globigerinoides extremus, Orbulina universa, Globorotalia margaritae, dan Globorotalia plesiutumida, yang menurut zonasi Blow menunjukan umur Pliosen awal atau N18 (tabel 1-7). Berdasarkan kedua sample tersebut di atas maka dapat di simpulkan bahwa umur satuan Batulempung selang-seling Batupasir adalah berumur Pliosen Awal atau N18-N19. Untuk menentukan lingkungan pengendapan satuan Batulempung selang-seling Batupasir ini, penulis mengambil sample batuan di 2 (dua) lokasi bagian atas dan bawah satuan Batulempung selangseling Batupasir, sebagai berikut:
Tabel 1-8. Kisaran kedalaman fosil benthonik berdasarkan F.B. Fhleger (1962), pada satuan Batulempung selang-seling Batupasir yang berlokasi di sungai Cilamaya (CLMY 12).

Sample CLMY-12 mewakili bagian atas dan sample CGLT 02 mewakili bagian bawah satuan ini. Berdasarkan hasil analisa fosil foraminifera Bentonik pada sampel CLMY12, di jumpai sebaran fosil-fosil, Robulus sp, Pyrgo sp dan Texturalia sp yang menunjukan kisaran kedalaman 20 40 m atau Neritik Tengah. (tabel 1-8), sedangkan pada sampel CGLT-02, di jumpai sebaran fosil-fosil, Lagena sp, Quinquecolina tenagos dan Texturalia sp yang menunjukan kisaran kedalaman 20-100 m atau Neritik Tengah (tabel 1-9). Berdasarkan

12

kedua sampel tersebut di atas maka dapat di simpulkan bahwa lingkungan pengendapan satuan Batulempung selangseling Batupasir adalah 20-100 m atau Neritik Tengah.
Tabel 1-9. Kisaran kedalaman fosil benthonik berdasarkan F.B. Phleger (1962), pada satuan Batulempung selang-seling Batupasir yang berlokasi di sungai Cikeruh (CGLT 02).

e. Hubungan Stratigrafi. Berdasarkan kedudukan batuan di lapangan, bahwa hubungan stratigrafi satuan Batulempung selangseling Batupasir dengan satuan yang ada di bawahnya yaitu satuan Batulempung sisipan Batupasir adalah selaras, didasarkan atas kedudukan satuan batuan yang sama dan ditunjang dengan adanya pengendapan yang menerus tanpa ada rumpang waktu antara satuan Batulempung sisipan Batupasir yang berumur Miosen Akhir (N15 - N17) dan Batulempung selangseling Batupasir yang berumur Pliosen Awal (N18 - N19). Hubungan satuan ini dengan satuan batuan di atasnya yaitu satuan Tuffa lapili adalah tidak selaras atas dasar perbedaan kedudukan batuannya yang berbeda. f. Kesebandingan Stratigrafi. Berdasarkan ciri batuannya, satuan ini dengan sebanding dengan ciri litologi formasi Kaliwangu. 3. Satuan Tufa Lapili a. Penamaan Penamaan satuan ini didasarkan kepada Tufa Lapili sebagai penyusun utama satuan batuan ini. b. Penyebaran dan Ketebalan Satuan tufa lapili ini tersingkap di bagian utara daerah penelitian, umumnya tersingkap di perbukitan, satuan ini menempati sekitar 16 % dari luas daerah penelitian, di wakili oleh warna coklat pada peta geologi. Satuan ini membentuk perbukitan dan dataran memanjang dari barat ke timur, di sekitar daerah Pasir Gombong. Pada daerah penelitian, kedudukan dari satuan tufa lapili ini tidak memperlihatkan bidangbidang perlapisan dan persebarannya mengikuti relief topografi oleh karena itu untuk ketebberdasarkan ketinggian kontur di mana ketinggian kontur yang paling rendah yaitu 100 m dan yang paling tinggi 200 m maka ketebalannya diperkirakan 100 meter. 13

Foto 1-3. Singkapan satuan Tufa Lapili

c. Ciri Litologi Secara umum, satuan batuan ini memiliki kondisi singkapan yang segar hingga lapuk, tidak mempunyai perlapisan atau masif, satuan ini tersingkap di bagian utara daerah penelitian membentuk bukit-bukit gunung api. Secara megaskopis tufa lapili ini memiliki ciri litologi: warna coklat kemerahan, bentuk butir membulatmembulat tanggung dengan ukuran butir 0,1250,5 mm, pemilahan Sedang, kemas terbuka, porositas baik, kekompakan retas dengan komposisi mineral Gelas.Berdasarkan pengamatan mikroskopik satuan Tuff lapili ini (lihat lampiran) dengan nama batuan Lithic Crystall (Pettijohn, 1975). c. Umur dan Lingkungan Pengendapan Berdasarkan urutan stratigrafi daerah penelitian, satuan tufa lapili ini berumur lebih muda dari N20, sedangkan mengacu pada umur regional Formasi Tambakan yang sebanding dengan satuan ini menurut Koenigswald (1935), berumur Pleistosen Awal yang di endapkan pada lingkungan darat. d. Hubungan Stratigrafi Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, satuan tufa lapili dengan satuan yang ada di bawahnya tidak selaras karena adanya perbedaan kedudukan batuannya. e. Kesebandingan Stratigrafi Berdasarkan umunya yang kuarter dan di tunjang ciri litologi satuan tufa lapili memiliki kesamaan dengan umur dan ciri-ciri litologi pada Formasi Tambakan yang berumur kuarter dan di cirikan oleh Tuff pasiran, maka satuan ini sebanding dengan Formasi Tambakan. 4. Satuan Endapan Aluvial. Satuan ini menyebar di sekitar sungai besar di daerah penelitian. Satuan ini menempati sekitar 10 % dari luas daerah penelitian dan di wakili oleh warna abu-abu pada peta geologi. Penyebarannya di sekitar sungai Cikeruh, biasanya menempati dataran banjir, dan meander-meander akibat dari erosi lateral lebih dominan dari pada erosi vertikal. Ketebalan satuan ini berdasarkan pengamatan di lapangan, memiliki ketebalan + 3 meter. 14

2.3. Struktur Geologi 2.3.1. Struktur Geologi Regional. Menurut Van Bemmelen (1949), selama zaman Tersier Jawa Barat telah mengalami tiga kali periode tektonik (orogenesa), yaitu: 1. Orogenesa Oligo-Miosen. Pada orogenesa ini terjadinya pembentukan cekungan Bogor, di mana sebelumnya terletak pada cekungan depan busur menjadi cekungan belakang busur. 2. Orogenesa Intra Miosen. Orogenesa periode ini di cirikan oleh perlipatan dan pensesaran yang kuat, terjadi pembentukan geantiklin yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa yang melahirkan gaya ke arah utara. Gaya gaya ini membentuk lipatan lipatan yang berarah barat timur dan sesar sesar mendatar dengan arah barat daya timur laut. Periode tektonik ini di perkirakan berlangsung dari kala Miosen hingga Pliosen. 3. Orogenesa Plio-Plistosen. Orogenesa pada periode ini di cirikan oleh adanya aktifitas gunung api, gaya-gayanya mengarah ke Utara dan menyebabkan terjadinya amblesan pada Zona Bandung bagian Utara. Proses amblesan Bandung ini mengakibatkan tekanan-tekanan kuat terhadap Zona Bogor sehingga terbentuk lipatan dan sesar naik yang berkembang di bagian Utara Zona Bogor dan memanjang dari Subang hingga Gunung Ceremai. Menurut Sukendar (1986) pola umum struktur Jawa Barat berdasarkan data gaya berat dan data seismik di bagi menjadi tiga pola arah umum (gambar 3- ): 1. Pola struktur Barat Laut-Tenggara, secara umum sesar ini membatasi daerah Bogor, Purwakarta, Bandung, Sumedang, Tasikmalaya, Banjar dan menerus ke sebagian Jawa Tengah. Sebagian besar daerah ini termasuk ke dalam Zona Fisiografi Bogor. 2. Pola struktur Barat-Timur, memotong sepanjang jalur Pegunungan Selatan, merupakan sesar normal dengan bagian Utara yang relatif turun terhadap bagian Selatannya. 3. Pola struktur Timurlaut-Baratdaya, seperti yang terlihat di lembah Cimandiri dekat Pelabuhan Ratu. Ketiga pola struktur tersebut sangat di pengaruhi oleh posisi jalur subduksi dan busur magmatik Indonesia. Seiring dengan proses yang terjadi, maka terjadi pula deformasi dan perkembangan tektonik hingga terbentuk morfologi pada masa sekarang. Sesar regional yang mempengaruhi geologi Jawa Barat, di antaranya adalah sesar regional Cimandiri dan Baribis. Keberadaan kedua sesar ini di yakini berbeda dalam hal umur serta mekanisme pembentukannya. Berbeda dengan sesar Cimandiri, sesar Baribis merupakan sesar muda (pola Jawa) yang terbentuk pada periode tektonik Plio-Plistosen dan di yakini masih aktif hingga sekarang (Pulunggono dan Martodjojo, 1984). Sesar Baribis untuk pertama kalinya di kemukakan oleh Van Bemmelen (1949) sebagai sesar naik yang membentang mulai dari Purwakarta hingga ke daerah Baribis di Majalengka. Beberapa peneliti mempunyai pandangan seperti yang di kemukakan oleh Martodjojo (1984), Simandjuntak (1994), Haryanto dkk (2002) dan Rahardjo dkk (2002). Martodjojo (1984), meyakini bahwa sesar Baribis menerus ke arah Tenggara melalui kelurusan Citanduy sebagai sesar naik, sedangkan Haryanto dkk (2002) berpendapat bahwa penerusan sesar ke arah Tenggara sebagai sesar mendatar dekstral. Berbeda dengan kedua penulis di atas, Simandjuntak (1994) berpendapat bahwa sesar Baribis menerus ke arah Timur melalui daerah 15

Kendeng dan berakhir di sekitar Nusa Tenggara Barat, sehingga penulis ini menamakannya sebagai Baribis-Kendeng Fault Zone. Selanjutnya Rahardjo dkk (2002) berpendapat bahwa sesar Baribis merupakan sesar inversi yang semula merupakan sesar normal berubah menjadi sesar naik.

Lokas penelitian Gambar 1-5. Pola Struktur Umum Jawa Barat (Sukendar, 1986) 2.3.2. Struktur Geologi Daerah Penelitian Berdasarkan hasil pengamatan lapangan di daerah penelitian di jumpai indikasi struktur geologi yang berupa kekar, lipatan dan sesar. 1. Struktur Kekar Struktur kekar yang berkembang di daerah penelitian dapat di bedakan menjadi : (1). Shear joint atau compression joint, yaitu kekar yang terbentuk akibat gaya tekanan dan (2). Tension joint, yaitu kekar yang terbentuk akibat gaya tarikan. 2. Struktur Lipatan

Struktur lipatan yang terdapat di daerah penelitian berupa struktur antiklin yang diketahui berdasarkan adanya pembalikan arah kemiringan perlapisan batuannya, dengan kemiringan rata-rata sayap bagian utara 600 dan kemiringan ratarata sayap bagian selatan adalah 610. Sumbu lipatan berada di bagian tengah daerah penelitian memanjang dari barat ke timur sepanjang 6 km, melalui sungai Cijengkol dan dapat di klasifikasikan sebagai struktur antiklin yang simetris. 3. Struktur Sesar Berdasarkan hasil pengamatan unsur-unsur struktur geologi di lapangan dapat di ketahui bahwa di daerah penelitian terdapat 2 jenis sesar mendatar, yaitu: (1). Sesar Geser Cilamaya dan (2). Sesar Geser Cikeruh.

16

1. Sesar Geser Cilamaya Sesar geser Cilamaya adalah sesar geser dengan panjang kurang lebih kurang 7 km memanjang dari baratdaya daerah penelitian hingga kearah timurlaut melalui sungai Cilamaya. Adapun bukti-bukti sesar geser Cilamaya di lapangan diindikasikan oleh gejala struktur geologi berupa: a) Cermin Sesar pada batu lempung dengan kedudukan N 1240 E/660, gores garis 410, N 1310 E, Pitch 400 yang terdapat di sungai Cilamaya, pada lokasi CLMY-01 (Foto 4.2). b) Cermin Sesar pada batu lempung dengan kedudukan N 1210 E/470, gores garis 460, N 940 E, Pitch 410. yang terdapat di sungai Cilamaya, pada lokasi CLMY-01 (Foto 4.3). c) Kekar Gerus pada batulempung dengan arah umum berkisar N2910 E/540 dan N390 E/460, dengan arah Minolitisasi N3250E, di peroleh kedudukan N3250E, gores garis 170, N1800E, Pitch 150 (lihat lampiran), pada lokasi sungai Cilamaya, pada lokasi CLMY-02 (Foto 4.4).

Foto 1-4. Indikasi struktur geologi berupa cermin sesar yang terdapat pada batulempung. Lokasi sungai Cikeruh pada Sta.CLMY 01 di sungai Cikeruh.

Foto 1-5. Indikasi struktur geologi berupa cermin Sesar pada batu lempung dengan kedudukan N 1210 E/470, gores garis 460, N 940 E, Pitch 410. Lokasi sungai Cilamaya, pada Sta. CLMY-01 (Foto 4.3).

Foto 1-6. Indikasi struktur geologi berupa kekar Gerus pada batulempung dengan arah umum berkisar N2910 E/540 dan N390 E/460, dan arah minolitisasi N3250E, di peroleh kedudukan N3250E, gores garis 170, N1800E, Pitch 150. Lokasi sungai Cilamaya pada Sta. CLMY 02,

17

Berdasarkan data-data tersebut di atas, dapat di simpulkan bahwa sesar Cilamaya merupakan sesar mendatar dan berdasarkan hasil analisis dari data kekar, arah minolitisasi, kedudukan arah cermin-cermin sesarnya pada proyeksi Stereografi Wulfnet di peroleh jenis sesar mendatarnya adalah Right Lateral Slip Fault, (Rickard, 1971). 3. Sesar Geser Cikeruh

Sesar geser Cikeruh adalah sesar geser dengan panjang kurang lebih kurang 8 km memanjang dari tenggara daerah penelitian hingga kearah baratlaut melalui sungai Ckeruh. Adapun bukti-bukti sesar geser Cilamaya di lapangan diindikasikan oleh gejala struktur geologi berupa: a) Adanya cermin sesar pada batu lempung dengan kedudukan N 380 E/610, gores garis 190, N 870 E, Pitch 220, yang terdapat di sungai Cilamaya, pada lokasi CLMY-05 (Foto 4.5). b) Cermin sesar pada batu lempung dengan kedudukan N 520 E/690, gores garis 210, N 790 E, Pitch 110, yang terdapat di sungai Cikeruh, pada lokasi CKR-04 (Foto 4.6). c) Adanya cermin sesar pada batu lempung dengan kedudukan N 450 E/720, gores garis 220, N 960 E, Pitch 250, yang terdapat di sungai Cikeruh, pada lokasi CKR-03 (Foto 4.7).

Foto 1-7. Indikasi struktur geologi berupa cermin sesar yang terdapat pada batulempung. Lokasi sungai Cilamaya pada Sta. CLMY 05.

Foto 1-8. Cermin sesar yang terdapat pada Batulempung. Lokasi sungai Cikeruh pada Sta. CKR 04.

18

Foto 1-8. Cermin Batulempung.

sesar

pada

Lokasi sungai Cikeruh pada Sta. CKR 03.

Berdasarkan data-data tersebut di atas, dapat di simpulkan bahwa sesar Cikeruh merupakan sesar geser dan berdasarkan hasil analisis dari data kekar, arah minolitisasi, kedudukan arah cermin-cermin sesarnya pada proyeksi Stereografi Wulfnet di peroleh jenis sesar mendatarnya adalah Left Lateral Slip Fault, (Rickard, 1971). 2.3.3. Mekanisme pembentukan struktur geologi daerah penelitian. Dari hasil analisis data-data cermin sesar dan data kekar-kekar yang di peroleh di lapangan, maka gaya utama yang bekerja di daerah penelitian adalah Utara-Selatan (N 1750 E). Umur dari struktur-struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian terjadi dalam satu fase tektonik saja, yaitu pada kala Pliosen-Plistosen di mana gaya/aktifitas tektonik yang terjadi pada kala Pliosen masih terus berlangsung sampai pada kala Plistosen sehingga pada kala Plistosen memicu terjadinya aktifitas erupsi gunungapi di bagian tenggara daerah penelitian yaitu Gunung Api Tangkuban Perahu yang endapannya menghasilkan satuan endapan gunungapi berupa satuan Tufa Lapili pada daerah penelitian. Mekanisme pembentukan struktur geologi daerah penelitian di mulai pada Kala Pliosen seperti yang telah di sebutkan di atas dengan arah gaya utamanya adalah N 1750E yang membentuk pola-pola kekar gerus (Tension), yang kemudian di ikuti dengan pembentukan perlipantan berupa antiklin Cijengkol, kemudian gaya masih terus berlangsung sehingga terbentuk sesar mendatar menganan Cilamaya dan sesar mendatar mengiri Cikeruh. 2.4. Sejarah Geologi 2.4.1. Sejarah Geologi Jawa Barat

Kondisi Paleogeografi Jawa Barat pada kala Miosen awal adalah bagian daratan berada di bagian selatan Jawa Barat, yang meliputi sekitar Jampang Kulon, ke arah bagian tengah berupa laut dalam yang meliputi daerah Sukabumi, Bogor, Cianjur, Bandung hingga ke Tasikmalaya. Sedangkan di bagian utara Jawa Barat mulai Serang, Rangkas Bitung, Jakarta hingga Cirebon berupa laut dangkal. Pada kala akhir Miosen Tengah, kondisi Paleogeografi Jawa Barat daratan yang berada di bagian selatan Jawa Barat sudah mengalami penyusutan, tersebar dari Jampang Kulon 19

hingga ke Ujung kulon, sedangkan ke arah bagian tengah Jawa Barat masih berupa laut dalam dan ke arah utara di tempati oleh terumbu Batugamping yang menyebar hingga ke laut Jawa. Laut dangkal berada di bagian utara, barat dan selatan laut Jawa, Selat Sunda dan Samudra Hindia. Pada kala Miosen Akhir kondisi paleogeografi Jawa Barat sudah mengalami perubahan yang cukup berarti yaitu daratan ada pada bagian barat (Banten) dan selatan Jawa Barat (JampangkulonTasikmalaya). Kondisi laut dalam semakin menyempit, berada di bagian tengah Jawa Barat sedangkan laut transisi berada di bagian utaranya tersebar dari selatan Jakarta-Cirebon. Laut dangkal tersebar di bagian utara Jawa Barat mulai dari dataran pantai Jakarta hingga Cirebon dan menerus hingga kelaut Jawa. Pada Kala Pliosen kondisi Paleogeografi Jawa Barat hampir separuh Jawa Barat sudah berupa daratan, yaitu mulai dari Serang, Rangkas Bitung, Bogor, Bandung hingga ke Tasikmalaya. Ke arah utara di tempati oleh endapan kipas alluvial, sedangkan laut dangkal menempati bagian utara Jawa Barat, mulai dari dataran pantai Jakarta hingga Cirebon dan lautan berada di bagian utaranya yaitu di laut Jawa sekarang. Kondisi Pelogeografi Jawa Barat Kala Pliestosen -Resen sudah seperti kondisi saat ini di mana seluruh pulau Jawa Barat sudah berupa daratan, sedangkan lautan sama seperti kondisi lautan saat ini.

Gambar 1-6. Paleogeografi kala Miosen Tengah

Gambar 1-7. Paleogeografi kala Miosen Akhir

20

Gambar 1-8. Paleogeografi Kala Pliosen

Gambar 1-9. Paleogeografi Kala Plistosen - Resen

2.4.2. Sejarah Geologi Daerah Penelitian Sejarah geologi daerah penelitian di mulai pada kala Miosen Akhir, dengan kisaran umur N15N17, di endapkan satuan Batulempung sisipan Batupasir dengan lingkungan pengendapan Neritik luar ke Neritik tengah dengan kedalaman 20-200 meter. Kemudian di atasnya di endapkan secara selaras satuan batulempung selang seling batupasir pada kala Pliosen Awal (N18 N19), dengan lingkungan pengendapan Neritik Tengah dengan kedalaman 20 sampai 100 meter. dengan kondisi laut pada saat itu masih mengalami Transgresi pada satuan Batulempung sisipan Batupasir. Kedua satuan batuan tersebut memiliki kesamaan pada proses lingkungan pengendapan berupa paparan dengan kondisi tektonik yang stabil (back arc basin), kedua satuan ini terendapkan secara selaras dengan bukti berdasarkan pengamatan kedudukan batuan di lapangan yang relatif sama dan searah yaitu barat-timur dan juga di tunjang data hasil analisis fosil planktonik dengan umur yang menerus tanpa ada rumpang waktu pengendapan. Selanjutnya, pada kala Pliosen (N20) terjadi aktifitas tektonik (Orogenesa Pliosen) yang mengakibatkan proses deformasi pada batuan yang diendapkan sebelumnya dengan mekanisme pembentukannya di mulai pada Kala Pliosen (N20) dengan arah gaya utamanya adalah N 1750 E yang membentuk pola-pola kekar gerus (Tension), yang kemudian di ikuti dengan pembentukan perlipatan berupa antiklin Cijengkol, kemudian gaya masih terus 21

berlangsung sehingga terbentuk sesar geser menganan Cilamaya dan kemudian sesar mendatar mengiri Cikeruh. Tektonik ini juga memicu terjadinya aktifitas erupsi gunung api dibagian tenggara daerah penelitian yaitu dari Gunung Tangkuban Perahu, yang menghasilkan satuan endapan gunung api berupa tufa lapili di daerah penelitian yang di endapkan secara tidak selaras karena satuan tufa lapili tidak memperlihatkan bidang perlapisan dan menutupi satuan yang ada di bawahnya yang di endapkan pada lingkungan darat. Kemudian terjadi pula proses eksogen berupa pelapukan, erosi dan sedimentasi, sehingga menghasilkan endapan aluvial yang menutupi satuan batuan yang berada di bawahnya sepanjang aliran sungai dengan batas berupa bidang erosi, sehingga di simpulkan bahwa keseluruhan proses pengendapan batuan di daerah penelitian mengalami proses kenaikan cekungan atau regresi dari laut dangkal ke darat. III. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan diatas daerah penelitian yaitu daerah Banggamulya dan sekitarnya, kecamatan Kalijati, Kabupaten Sumedaang, Jawa Barat dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Satuan geomorfologi daerah penelitian dapat dikelompokan menjadi 3 (tiga) satuan geomorfologi, yaitu: Satuan Geomorfologi Perbukitan Lipat Patahan, Satuan Geomorfologi Perbukitan Gunungapi dan Satuan Geomorfologi Dataran Aluvial. Pola aliran sungai daerah penelitian berpola Trellis dengan genetika sungai subsekuen, konsekuen dan obsekuen dan jentera geomorfiknya berada pada tahap dewasa. 2. Tatanan batuan di daerah penelitian dari yang tua ke muda, adalah Satuan Batulempung sisipan Batupasir (Formasi Subang) yang berumur Miosen Akhir (N15 N17) dan di endapkan pada lingkungan laut dangkal yaitu Neritik Tengah-Luar (20200 m), kemudian diatasnya di endapkan secara selaras satuan Batulempung selang seling Batupasir (Formasi Kaliwangu) yang berumur Pliosen Awal (N18 N19) yang di endapkan pada lingkungan laut dangkal yaitu Neritik Tengah (20-100 m), kemudian di atasnya di endapkan secara tidak selaras satuan Tufa Lapili diperkirakan berumur Pleistosen Awal (N20) ekivalen dengan Formasi Tambakan (Koenigswald, 1935), diendapkan pada lingkungan darat yaitu pada facies Proximal Volcaniclastic Facies. Satuan termuda berupa aluvial sungai yang menutupi satuan-satuan yang lebih tua. 3. Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian adalah kekar gerus dan kekar tensional dan ekstensional dan struktur lipatan antiklin Cijengkol serta sesar geser menganan Cilamaya dan sesar geser mengiri Cikeruh. Keseluruhan struktur yang ada terbentuk pada kala Pliosen Akhir hingga Plistosen Awal oleh gaya utama yang berarah Utara-Selatan yaitu N 175 E. IV. DAFTAR PUSTAKA 1. Bemmelen, R. W. Van, 1949, The Geology of Indonesia, Vol. IA : General Geology of Indonesia and Adjacent Archipelagoes, Government Printing Office, The Hague, 732 p.

22

2. Billings, Marlan P., 1960, Structural Geology, Second Edition, Prentice Hall Inc. Englewood Cliffs, New Jersey, 514 p. 3. Blow, W. H. and Postuma J. A. 1969. Range Chart, Late Miosen to Recent Planktonic Foraminifera Biostratigraphy, Proceeding of The First. 4. Kadarisman, D.S. 2001. Pedoman Praktikum Petrografi. Program Studi Teknik Geologi Universitas Pakuan, Bogor. 5. Kadarisman, D.S. 2001. Pedoman Praktikum Mineral Optik. Program Studi Teknik Geologi Universitas Pakuan, Bogor. 6. Martodjojo, Soejono, 1984, Evolusi Cegungan Bogor Jawa Barat, Disertasi Doktor, Fakultas Pasca Sarjana, Institut Teknologi Bandung. 7. Mudjur M., 1985, Petrografi Batuan Metamorf dan Batuan Sedimen, Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Pakuan Bogor. 8. Noor, Djauhari, dan Kadarisman, Denny. S., 2002, Pedoman Ekskursi Geologi Regional Jawa Barat 2011, Edisi 4, Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Pakuan, Bogor. 9. Noor, Djauhari., 2006, Geomorfologi dan Geologi Foto Edisi I, Program Studi Teknik Geologi Universitas Pakuan, Bogor. 10. Koesoemadinata, R.P. 1985, PRINSIP-PRINSIP SEDIMENTASI, Jurusan Geologi, Institut Teknologi Bandung, Bandung

23