Anda di halaman 1dari 0

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II. 1. Landasan Teori
II. 1. 1. Osteoartritis
II. 1. 1. 1. Definisi
Osteoartritis merupakan tipe paling umum dari artritis, dan
dijumpai khususnya pada orang usia lanjut. Kadang-kadang kondisi ini
disebut juga penyakit sendi degeneratif atau osteoartritis (NIAMS,
2002).
Osteoartritis adalah gangguan sendi yang bersifat kronis
disertai kerusakan tulang rawan sendi berupa disintegrasi dan
perlunakan progresif, diikuti pertambahan pertumbuhan tulang rawan
sendi yang disebut osteofit, diikuti dengan fibrosis pada kapsula sendi
(Rasjad C, 2008).

Osteoartritis adalah bentuk artritis paling umum, dengan
jumlah pasiennya sedikit melampaui jumlah pasien artritis. Gangguan
ini sedikit lebih banyak pada perempuan dari pada laki-laki dan
terutama ditemukan pada orang-orang yang berusia lebih dari 45
tahun. Penyakit ini pernah dianggap sebagai suatu proses penuaan
normal, sebab insidens bertambah dengan meningkatnya usia (Carter
MA, 2006). Penderita osteoartritis meningkat sesuai bertambahnya
usia. Diperkirakan terdapat 12,1% dari populasi Amerika Serikat
(hampir 21 juta orang Amerika) yang berusia 25 tahun ke atas
menderita osteoartritis. Pada tahun 2030 diperkirakan 20% dari orang
Amerika, yaitu sekitar 72 juta orang, yang mencapai usia 65 tahun ke
atas dan akan beresiko tinggi menderita penyakit ini (NIAMS, 2002).

5
Prevelensi osteoartritis lutut radiologis di Indonesia cukup
tinggi, yaitu mencapai 15,5% pada pria, dan 12,7% pada wanita.
Pasien osteoartritis biasanya mengeluh nyeri pada melakukan aktivitas
atau jika ada pembebanan pada sendi yang terkena. Pada derajat yang
lebih berat nyeri dapat dirasakan terus menerus sehingga sangat
mengganggu mobilitas pasien. Karena prevelensi yang cukup tinggi
dan sifatnya yang kronik-progresif, OA mempunyai dampak sosio-
ekonomik yang besar, baik di Negara maju maupun di Negara
berkembang. Diperkirakan 1 sampai 2 juta orang lanjut usia di
Indonesia menderita cacat karena OA. Pada abad mendatang
tantangan terhadap OA akan lebih besar karena semakin banyaknya
populasi yang berumur tua (Soeroso J et all, 2007).
Menurut Stitik (2006) insidensi osteoartritis meningkat seiring
dengan bertambahnya usia. Perkiraan berdasarkan bukti radiologis
mengindikasi pola insidensi sebagai berikut :
1. Pada usia 18-24 tahun, 7% pria dan 2% wanita menunjukkan
tanda-tanda osteoartritis pada tangan.
2. Pada usia 55-64 tahun, 28% pria dan wanita mnunjukkan tanda-
tanda osteoartritis pada lutut, dan 23% menunjukan osteoartritis
pada pinggul.
3. Pada usia 65-74 tahun, 39% pria dan wanita menunjukkan tanda-
tanda osteoartritis pada lutut, dan 23% menunjukkan osteoartritis
pada pinggul.
4. Pada usia 75-79 tahun, sekitar 100% pria dan wanita menunjukan
beberapa tanda osteoartritis
II. 1. 1. 2. Etiologi
Berdasarkan patogenesis dari osteoartritis dibedakan menjadi
dua yaitu osteoartritis primer dan osteoartritis sekunder. Osteoartritis
primer disebut juga osteoartritis idiopatik yaitu osteoartritis yang
kausanya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit
sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi. Osteoartritis
sekunder adalah osteoartritis yang didasari oleh adanya kelainan
endokrin, inflamasi, metabolik, pertumbuhan, herediter, jejas mikro
dan makro serta imobilisasi yang terlalu lama (Soeroso J et all, 2007).

II. 1. 1. 3. Faktor Resiko
Berikut ini adalah beberapa faktor resiko yang terkait
terjadinya osteoartritis, yaitu :
1) Usia
Usia merupakan determinan utama pada osteoartritis (Dewi
SK, 2009). Dari semua faktor resiko untuk timbulnya
osteoarthristis, faktor ketuan adalah yang terkuat (Soeroso J et all,
2007). Osteoartritis lebih sering diderita oleh usia lanjut, meskipun
orang yang lebih muda juga dapat menderita hal yang sama. Pada
pria yang berusia kurang dari 45 tahun, osteoartritis yang terjadi
terutama terkait dengan riwayat trauma yang dimiliki. Berdasarkan
bukti-bukti radiografi. Pada individu yang berusia 45-65 tahun
terdapat 30% kasus osteoartritis, dan pada usia di atas 80 tahun
terdapat lebih dari 80% kasus (Shiddiqui, 2008; Lozada, 2008;
Stitik, 2008).
2) Jenis kelamin
Baik pria maupun wanita bisa mendrita penyakit ini.
Perbedaan utama insidensi antara pria dengan wanita tersebut
terkait dengan area yang dipengaruhi oleh osteoartritis. Pada
wanita, sendi yang sering terkena osteoartritis adalah sendi
interphalangeal distal, sendi interphalangeal proksimal, sendi
carpometacarpal pertama, sendi metatarsophalangeal, pinggul
(pada usia 55-64 tahun), dan lutut (pada usia 65-74 tahun).
Sedangkan pada pria yang berusia 65-74 tahun, pinggul dan lutut
lebih sering terkena osteoartritis dari pada wanita (Stitik, 2006)
(Dewi SK, 2009).

Secara keseluruhan, di bawah 45 tahun frekuensi
osteoartritis kurang lebih sama pada laki-laki dan wanita, tetapi di
atas 50 tahun (setelah menopause) frekuensi osteoartritis lebih
banyak pada wanita daripada pria. Hal ini menunjukan adanya
peran hormonal pada patogenesis osteoartritis (Soeroso J et all,
2007).

3) Suku bangsa
Prevelensi dan pola terkenanya sendi pada osteoartritis
nampaknya terdapat perbedaan di antara masing-masing suku
bangsa. Misalnya osteoartritis paha lebih jarang diantara orang-
orang kulit hitam dan Asia dari pada Kaukasia. Osteoartritis lebih
sering dijumpai pada orang-orang Amerika asli (Indian) dari pada
orang-orang kulit putih. Hal ini mungkin berkaitan dengan
perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainan
kongenital dan pertumbuhan (Soeroso J et all, 2007).
4) Genetik
Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis
misalnya, pada ibu dari seorang wanita dengan osteoartritis pada
sendi-sendi interphalanx distal (nodus Heberden) terdapat 2 kali
lebih sering osteoartritis pada sendi-sendi tersebut, dan anak-anak
perempuannya cenderung mempunyai 3 kali lebih sering, dari pada
ibu dan anak perempuan-perempuan dari wanita tanpa osteoartritis
tersebut. Adanya mutasi dalam gen prokolagen II atau gen-gen
struktural lain untuk unsur-unsur tulang rawan sendi seperti
kolagen tipe X dan XII, protein pengikat atau proteoglikan
dikatakan berperan dalam timbulnya kecendrungan familial pada
osteoartritis tertentu (terutama osteoartritis banyak sendi) (Soeroso
J et all, 2007).
5) Obesitas dan penyakit metabolik
Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan
meningkatnya resiko untuk timbulnya osteoartritis baik pada
wanita maupun pada pria. Kegemukan ternyata tak hanya berkaitan
dengan osteoartritis pada sendi yang menanggung beban, tapi juga
dengan osteoartritis sendi lain (tangan atas sternoklavikula). Oleh
karena itu di samping faktor mekanis yang berperan (karena
meningkatnya beban mekanis), diduga terdapat faktor lain
(metabolik) yang berperan pada timbulnya kaitan tersebut. Peran
faktor metabolik dan hormonal pada kaitan antara osteoartritis dan
kegemukan juga disokong oleh adanya kaitan antara osteoartritis
dengan penyakit jantung koroner, diabetes melitus dan hipertensi.
Pasien-pasien osteoartritis ternyata mempunyai resiko penyakit
jantung koroner dan hipertensi yang lebih tinggi daripada orang-
orang tanpa osteoartritis (Soeroso J et all, 2007).

6) Riwayat trauma sebelumnya
Trauma pada suatu sendi yang terjadi sebelumnya,
biasanya mengakibatkan jejas atau malformasi sendi yang akan
meningkatkan resiko terjadinya osteoartritis. Trauma berpengaruh
terhadap kartilago artikuler, ligament, atau menikus yang
menyebabkan biomekanika sendi menjadi abnormal, dan memicu
terjadinya degenerasi premature (Shiddiqui, 2008).

7) Pekerjaan
Osteoartritis lebih sering terjadi pada mereka yang
pekerjaannya memberikan tekanan pada sendi-sendi tertentu. Jenis
pekerjaan juga mempengaruhi sendi mana yang cenderung terkena
osteoartritis. Sebagai contoh, pada tukang jahit, osteoartritis lebih
sering terjadi di daerah lutut, sedangkan pada buruh bangunan
sering terjadi di daerah pinggang (Dewi SK, 2009).

8) Kelainan pertumbuhan
Kelainan kongenital dan pertumbuhan paha (misalnya
penyakit Perthes dan dislokasi congenital paha) telah dikaitkan
dengan timbulnya osteoartritis paha pada usia muda. Mekanisme
ini juga diduga berperan pada lebih banyaknya osteoartritis paha
pada laki-laki dan ras tertentu (Soeroso J et all, 2007).
9) Faktor-faktor lain
Tingginya kepadatan tulang dikatakan dapat meningkatkan
resiko timbulnya osteoartritis. Hal ini mungkin timbul karena
tulang yang lebih padat (keras) tak membantu mengurangi
benturan beban yang diterima oleh tulang rawan sendi. Akibatnya
tulang rawan sendi menjadi lebih mudah robek. Faktor ini berperan
pada lebih tingginya osteoartritis pada orang gemuk dan pelari
(yang umumnya mempunyai tulang yang lebih padat) dan kaitan
negatif antara osteoporosis dan osteoartritis. Merokok dilaporkan
menjadi faktor yang melindungi untuk timbulnya osteoartritis,
meskipun mekanismenya belum jelas (Soeroso J et all, 2007).

II. 1. 1. 4. Patofisiologi













BAGAN 1. Diagram patofisiologi osteoartritis

Umur Jenis Kelamin Genetik Suku Obesitas

Pekerjaan Riw. Trauma
sebelumnya
Kerusakan fokal tulang
rawan sendi yang progresif
Pembentukan tulang baru pada tulang
rawan, sendi, dan tepi sendi
Perubahan metabolisme tulang
Peningkatan aktivitas enzim yang merusak makro molekul
matriks tulang rawan sendi

Penurunan kadar proteoglikan

Berkurangnya kadar proteoglikan

Perubahan sifat sifat kolagen

Berkurangnya kadar air tulang rawan sendi

Permukaan tulang rawan sendi terbelah pecah dengan robekan

Timbul laserasi

Osteoarthritis
Sumber dari : Ismiyadi, 2004
II. 1. 1. 5. Gambaran Klinis
Gejala-gejala utama ialah adanya nyeri pada sendi yang
terkena, terutama waktu bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-
lahan, mula-mula rasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang
berkurang saat istirahat. Terdapat hambatan pada pergerakan sendi,
kaku pagi , krepitasi, pembesaran sendi, dan perubahan gaya berjalan
(Soeroso J et all, 2007).

Seorang pasien secara klinis disebut positif menderita
osteoartritis bila memenuhi minimal 3 dari 6 kriteria menurut
American College of Rheumatology (ACR), yaitu usia > 50 tahun,
kekakuan pada pagi hari < 30 menit, krepitasi, nyeri tekan pada tulang,
pembesaran tulang, dan pada palpasi sekitar sendi tidak teraba hangat
(Ashari I, 2009).


GAMBAR 1. Perbandingan sendi sehat dengan sendi yang terkena
osteoartritis

Sumber dari : Adam, (http://www.orchardclinic.com/old_site/bahasa/conditions.php?t=1)
diakses pada tanggal 03/01/2011
II. 1. 1. 6. Pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium pada osteoartritis biasanya tak
banyak berguna. Darah tepi (hemoglobin, leukosit, laju endap darah)
dalam batas-batas normal, kecuali osteoartritis generalisata yang harus
dibedakan dengan artritis peradangan. Pemeriksaan imunologi (ANA,
faktor rheumatoid, dan komplemen) juga normal. Pada osteoartritis
yang disertai peradangan, mungkin didapatkan penurunan viskositas,
pleositosis ringan sampai sedang, peningkatan ringan sel peradangan
(<8000/m) dan peningkatan protein (Soeroso J et all, 2007).

II. 1. 1. 7. Pemeriksaan Radiologi
Pada sebagian besar kasus, radiografi pada sendi yang terena
osteoartritis sudah cukup memberikan gambaran diagnostik yang lebih
canggih. Gambaran radiografi sendi yang menyokong diagnosis
osteoartritis ialah :

(Soeroso J et all, 2007).

1) Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat
pada bagian sendi yang menanggung beban)
2) Peningkatan densitas (sclerosis) tulang subkondral
3) Kista tulang
4) Osteofit pada pinggir sendi
5) Perubahan struktural anatomi sendi
Berdasarkan perubahan-perubahan radiografi di atas, secara
radiografi osteoartritis dapat digradasi menjadi ringan, sedang, berat
(Kriteria Kellgren dan Lawrence).

II. 1. 1. 8. Klasifikasi
Menurut Kellgren dan Lawrence, secara radiologis osteoartritis
di klasifikasikan menjadi :
- Grade 0 : normal
- Grade 1 : ragu-ragu, tanpa osteofit, penyempitan sendi meragukan.
- Grade 2 : minimal, osteofit sedikit pada tibia dan patella dan
permukaan sendi menyempit asimetris.
- Grade 3 : moderate, adanya osteofit moderate pada beberapa
tempat, permukaan sendi menyempit, dan tampak sklerosis
subkondral.
- Grade 4 : berat, ada osteofit yang besar, permukaan sendi
menyempit secara komplit, sklerosis subkondral berat, dan
kerusakan permukaan sendi.

Gambar 2. Klasifikasi osteoartritis menurut Kellgren dan Lawrence


II. 1. 1. 9. Terapi
Penanganan osteoartritis memiliki 4 tujuan berikut ini (NIAMS, 2002):

1) Mengontrol nyeri
2) Memperbaiki fungsi sendi
3) Mempertahankan berat badan normal.
4) Mencapai suatu gaya hidup yang sehat.
Sumber dari : Cooper C et al. In: Brandt KD, Doherty M, Lohmander LS, eds,
Osteoarthritis.Oxford, NY. Oxford University Press; 1998, page 237-249
Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan pendekatan melalui:
latihan, pengontrolan berat badan , mengistirahatkan dan mengurangi
tekanan pada sendi, teknik-teknik meredakan nyeri tanpa obat,
pengobatan untuk mengontrol nyeri, pembedahan, terapi
komplementer dan alternatif (NIAMS, 2002).

1) Terapi non-farmakologis
- Penerangan : agar pasien mengetahui seluk beluk tentang
penyakitnya, bagaimana menjaganya agar penyakitnya tidak
bertambah parah serta persendiannya tetap tidak dipakai
(Soeroso J et all, 2007).
- Terapi fisik dan rehabilitasi : terapi ini untuk melatih pasien
agar persendiannya tetap dapat dipakai dan melatih pasien
untuk melindungi sendi yang sakit (Soeroso J et all, 2007).
- Penurunan berat badan : berat badan yang berlebihan ternyata
akan memperberat penyakit osteoartritis. Oleh karenanya berat
badan harus tetap dijaga agar tidak berlebihan. Apabila berat
badan berlebihan, maka harus diusahakan penurunan berat
badan, bila mungkin mendekati berat badan ideal (Soeroso J et
all, 2007).
2) Terapi farmakologis
- Obat anti inflamasi non steroid (OAINS)
Dalam hal seperti ini kita pikirkan untuk pemberian
OAINS, oleh karena obat golongan ini disamping mempunyai
efek analgetik juga mempunyai efek anti inflamasi. Oleh
karena pasien osteoartritis kebanyakan usia lanjut, maka
pemberian obat-obatan jenis ini harus sangat berhati-hati. Jadi
pilihlah obat yang efek sampingnya minimal dan dengan cara
pemakaian yang sederhana, di samping itu pengawasan
terhadap kemungkinan timbulnya efek samping selalu harus
dilakukan (Soeroso J et all, 2007).

Sebagai golongan obat luas yang berguna melawan
nyeri maupun inflamasi (peradangan), OAINS merupakan obat
pokok dalam menangani artritis. Semua OAINS bekerja dengan
cara yang serupa, denagn memblokir substansi yang disebut
prostaglandin yang berperan dalam inflamasi dan nyeri (Dewi
SK, 2009).

- Chondroprotective agent
Yang dimaksud obat ini adalah obat-obatan yang dapat
menjaga atau merangsang perbaikan (repair) tulang rawan
sendi pada pasien osteoartritis. Sampai saat ini yang termasuk
dalam kelompok obat ini adalah : Tetrasiklin, Asam Hialuronat,
Kondoitin Sulfat, Glikosaminoglikan, Vitamin-C, Superoxide
desmutase, dan sebagainya (Soeroso J et all, 2007).

3) Terapi bedah
Operasi perlu dipertimbangkan pada pasien osteoartritis
dengan kerusakan sendi yang nyata dengan nyari yang menetap
dan kelemahan fungsi. Tindakan yang dilakukan adalah osteotomi
untuk mengoreksi ketidaklurusan atau ketidaksesuaian,
debridement sendi untuk menghilangkan fragmen tulang rawan
sendi, pembersihan osteofit (Ismayadi, 2004).

II. 1. 2. Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS)
Obat analgesik antipiretik serta obat anti inflamasi nonsteroid
(AINS) merupakan salah satu kelompok obat yang banyak diresepkan
dan juga digunakan tanpa resep dokter. Obat-obat ini merupakan suatu
kelompok obat yang heterogen, secara kimia (Wilmana PF, Gan S,
2007).




OBAT AINS










BAGAN 2. Diagram golongan obat AINS

Prototip obat golongan ini adalah aspirin, karena itu obat
golongan ini sering disebut juga sebagai obat mirip aspirin (aspirin-
like drugs). Kemajuan penelitian dalam dasawarsa terakhir ini
memberi penjelasan mengapa kelompok heterogen tersebut memiliki
kesamaan efek terapi dan efek samping. Ternyata sebagian besar efek
terapi dan efek sampingnya berdasarkan atas penghambatan
biosentesis prostaglandin (PG) (Wilmana PF, Gan S, 2007).

Asam Karboksilat Asam Enolat
Asam asetat
Derivat Asam
Salisitat
Derivat Asam
Propionat
Derivat Asam
Fenamat
Derivat
Pirazolon
Derivat
Oksikam
Aspirin
Benorilat
Diflunisal
Salsalat
As.tiaprofenat
Fenbufen
Fenoprofen
Ibuprofen
Ketoprofen
Naproksen
As.mefenamat
Meklofenamat
Azapropazon
Fenilbutazon
Oksifenbutazon
Piroksikam
Tenoksikam
Derivat Asam Asetat-inden/indol : Derivat Asam Fenilsetat
Diklofenak
Fenklofenak
Indometasin
Sulindak
Tolmetin
Sumber dari : Buku Farmakologi dan Terapi FKUI. 2007 .hal 230
II. 1. 2. 1. Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja berhubungan dengan sistem biosentesis PG
mulai dilaporkan pada tahun 1971 oleh Vane dkk yang
memperlihatkan secara in vitro bahwa dosis rendah aspirin dan
indometasin menghambat produksi enzimatik PG. penelitian lanjutan
telah membuktikan bahwa produksi PG akan meningkat bilamana sel
mengalami kerusakan (Wilmana PF, Gan S, 2007).

Golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase
sehingga konversi asam arakidonat menjadi PGG
2
terganggu. Setiap
obat menghambat siklooksigenase dengan kekuatan dan selektifitas
yang berbeda. Enzim siklooksigenase terdapat dalam 2 isofrom disebut
COX-1 dan COX-2. Secara garis besar COX-1 esensial dalam
pemeliharaan berbagai fungsi dalam kondisi normal di berbagai
jaringan khusunya ginjal, saluran cerna, dan trombosit. Di mukosa
lambung, aktivitas COX-1 menghasilkan prostasiklin yang bersifat
sitoprotektif. Siklooksigenase-2 ini diinduksi oleh berbagai stimulus
inflamator, termasuk sitokin, endotoksin, dan faktor pertumbuhan
(growth factors). Tromboksan A
2
, yang disintesis trombosit oleh COX-
1, menyebabkan agregasi trombosit, vasokonstriksi, dan proliferasi
otot polos. Sebaliknya prostasiklin (PGI
2
) yang disintesis oleh COX-2
di endotel makrovaskular melawan efek tersebut dan menyebabkan
penghambatan agregasi trombosit, vasodilatasi dan efek anti-
proliferatif (Wilmana PF, Gan S, 2007).














BAGAN 3. Mekanisme kerja obat AINS

II. 1. 2. 2. Enzim Siklooksigenase
Siklooksigenase (COX) adalah suatu enzim yang mengkatalis
sintesis prostaglandin dari asam arakidonat. Prostaglandin memediasi
sejumlah besar proses di tubuh termasuk inflamasi, nyeri, sekresi
pelindungan lapisan lambung, mempertahankan fungsi renal, dan
agregasi platelet. AINS memblok aksi dari enzim COX maka
menurunkan produksi mediator prostaglandin. Hal ini menghasilkan
kedua efek, baik yang efek positif (analgesik dan antiinflamasi)
Rangsangan Nyeri
Gangguan pada membran sel
Fosfolipid
Asam arakidonat
Enzim fosfolipase
Enzim siklooksigenase Enzim lipooksigenase
Dihambat kortikosteroid
Dihambat
obat
NSAID
serupa
aspirin
Hidroperoksid
Leukotrien
Endoperoksid
PGG
2
/PGH
Tromboksan A
2
Prostasiklin
PGE
2
,PGF
2
,PGD
2
Sumber dari : Buku Farmakologi dan Terapi FKUI. 2007 .hal 231
maupun efek yang negatif (ulkus lambung, penurunan perfusi renal,
perdarahan). Aktifitas COX dihubungkan dengan 2 isozenzim, yaitu
yang diekspresikan sebagai COX-1 dan yang diinduksi inflamasi
COX-2.

- Siklooksigenase-1 (COX-1)
Enzim COX-1 merupakan enzim yang dihasilkan sebagai
fungsi normal tubuh dalam pemeliharaan dan pengontrol produksi
dari prostaglandin yang efeknya sebagai fungsi fisiologis seperti
halnya dalam penagturan suhu, perlindungan mukosa lambung,
menjaga keseimbangan fungsi dari platelet dan aliran vaskuler
renal (Lloyd A, 2008).

- Siklooksigenase-2 (COX-2)
Enzim yang sangat dominan ketika terjadi respon inflamasi,
atau kerusakan jaringan. Dengan menunjukan terjadi peningkatan
sel makrofag, monosit, sel membran sinovial, kondrosit, fibroblast,
dan sel endotelial, dan berbagai macam sel peradangan. Lalu,
diekspresikan ke otak, diterjemahkan sebagai respon nyeri (Lloyd
A, 2008).

Sintesis kerja dari respon nyeri akibat respon inflamasi.
Dipengaruhi dari sintesis prostaglandin dan COX-2. Yang dapat
mempengaruhi fungsi dari gastrointestinal. Nyeri dapat dihambat
oleh inhibisi dari COX-1, yaitu dengan penggunaan OAINS (Lloyd
A, 2008).

II. 1. 2. 3. Efek Farmakodinamik
Semua obat mirip aspirin bersifat antipiretik, analgesik, dan
anti-inflamasi. Ada perbedaan aktivitas di antara obat-obat tersebut,
misalnya : parasetamol (asetaminofen) bersifat antipiretik dan
analgesik tetapi sifat anti-inflamasi lemah sekali (Wilmana PF, Gan S,
2007).
1) Efek analgesik
Sebagai analgesik, obat mirip-aspirin hanya efektif
terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang misalnya
sakit kepala, mialgia, artralgia, dan nyeri lain yang berkaitan
dengan inflamasi. Efek analgesiknya jauh lebih lama daripada efek
analgesik opiat. Tetapi berbeda dengan opiat, obat mirip-aspirin
tidak menimbulkan ketagihan dan tidak menimbulkan efek
samping sentral yang merugikan. Obat mirip-aspirin hanya
mengubah persepsi modalitas sensorik nyeri, tidak mempengaruhi
sensorik lain. Nyeri akibat terpotongnya saraf aferan, tidak teratasi
dengan obat mirip-aspirin. Sebaliknya nyeri kronis pascabedah
dapat diatasi oleh obat mirip-aspirin (Wilmana PF, Gan S, 2007).
2) Efek antipiretik
Sebagai antipiretik, obat mirip-aspirin akan menurunkan
suhu badan hanya pada keadaan demam. Walaupun kebanyakan
obat ini memperlihatkan efek antipiretik in vitro, tidak semuanya
berguna sebagai antipiretik karena bersifat toksik bila digunakan
secara rutin atau terlalu lama. Fenilbutazon dan antireumatik
lainnya tidak dibenarkan digunakan sebagai antipiretik atas alasan
tersebut (Wilmana PF, Gan S, 2007).
3) Efek anti-inflamasi
Kebanyakan obat mirip-aspirin, terutama yang baru, lebih
dimanfaatkan sebagai anti-inflamasi pada pengobatan kelainan
musculoskeletal, seperti artritis rheumatoid, osteoartritis dan
spondilitis ankilosa. Tetapi harus diingat bahwa obat mirip-aspirin
ini hanya meringankan gejala nyeri dan inflamasi yang berkaitan
dengan penyakitnya secara simtomatik, tidak menghentikan,
memperbaiki atau mencegah kerusakan jaringan pada kelainan
musculoskeletal ini (Wilmana PF, Gan S, 2007).
II. 1. 2. 4. Efek Samping
Selain menimbulkan efek terapi yang sama obat mirip-aspirin
juga memiliki efek samping serupa, karena didasari oleh hambatan
pada sistem biosintesis PG. Selain itu kebanyakan obat bersifat asam
sehingga lebih banyak terkumpul dalam sel yang bersifat asam
misalnya di lambung, ginjal, dan jaringan inflamasi. Jelas bahwa efek
obat maupun efek sampingnya akan lebih nyata di tempat dengan
kadar yang lebih tinggi (Wilmana PF, Gan S, 2007).

AINS juga dapat mengiritasi lambung atau pada kasus yang
jarang dapat mempengaruhi fungsi ginjal. Semakin lama seseorang
menggunakan AINS, semakin besar kemungkinan menderita efek
sampingnya, dari yang ringan sampai yang serius. Banyak obat-obat
lainnya tidak boleh diminum ketika pasien sedang diobati dengan
AINS karena AINS merubah cara tubuh menggunakan atau
mengeliminasi obat-obat lainnya tersebut. Selain itu AINS kadang
berhubungan dengan masalah saluran pencernaan yang serius,
termasuk tukak, perdarahan, dan perforasi lambung atau usus halus.
Orang-orang yang berusia lebih dari 65 tahun dan orang-orang yang
memiliki riwayat tukak atau perdarahan saluran cerna seharusnya
menggunakan AINS dengan perhatian (Dewi SK, 2009). Efek OAINS
pada saluran cerna yang paling umum adalah distres epigastrium,
mual, dan muntah (Lloyd A, 2008).
II. 1. 2. 5. Klasifikasi OAINS
OAINS adalah suatu istilah untuk semua obat variasi dari grup
mulai dari proses analgesik, antiinflamasi, dan efek antipiretik. Obat-
obat ini dapat dikatagorikan ke dalam inhibitor nonspesifik
konvensional dari kedua isoform COX (ibuprofen, naproxen, aspirin,
acetaminophen, ketorolak).
1) Salisilat, Salisilamid & Diflusinal
a. Salisilat
Asam asetil salisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal
atau aspirin adalah analgesik, antipiretik, dan anti-inflamasi
yang sangat luas digolongkan dan digunakan dalam obat bebas
(Wilmana PF, Gan S, 2007).

- Farmakodinamik :
Efek antipiretik dan anti-inflamasi salisilat terjadi
karena penghambatan sintesis prostaglandin di pusat
pengaturan panas dalam hipotalamus dan perifer di daerah
target. Lebih lanjut, dengan menurunkan sintesis
prostaglandin, salisilat juga mencegah sensitasi reseptor
rasa sakit terhadap rangsangan mekanik dan kimiawi.
Aspirin juga menekan rangsangan nyeri pada daerah
subkortikal (yaitu, talamus dan hipotalamus) (Mycek MJ et
all, 2001)
- Farmakokinetik :
a. Absorpsi : per-oral, kecuali metal salisilat diabsorbsi
melalui kulit.
b. Distribusi : lambung dan usus halus, setelah itu dapat
menyebar keseluruh jaringan tubuh dan cairan
transeluler sehingga ditemukan dalam cairan sinovial,
cairan spinal, cairan peritoneal, liur dan air susu. Obat
ini dapat menembus sawar darah otak dan sawar uri
(Wilmana PF, Gan S, 2007).
c. Metabolisme : di hati dihidrolisis menjadi asam salisilat
(Wilmana PF, Gan S, 2007).
d. Ekskresi : melalui ginjal dan sebagian kecil melalui
keringat dan empedu (Wilmana PF, Gan S, 2007).
- Indikasi :
a. Antipiretik dan analgesik : Umumnya digunakan
sebagai pengobatan gout, demam rematik, dan artritis
rheumatoid (Mycek MJ et all, 2001).
b. Penggunaan eksternal : Asam salisilat digunakan secara
topikal untuk mengobati kutil, kalus, dan
epidermofitosis. Metilsalisilat digunakan sebagai obat
luar atau kutan sebagai obat gosok (Mycek MJ et all,
2001).
c. Penggunaan kardiovaskular : Salisilat digunakan untuk
menghambat agregasi trombosit. Aspirin dosis rendah
digunakan sebagai profilaksis untuk menurunkan
insidensi serangan iskemia atau infark miokard akut,
stroke dan angina tak stabil (Mycek MJ et all, 2001).
Aspirin juga digunakan untuk mencegah thrombus
koroner dan thrombus vena-dalam berdasarkan efek
penghambatan agregasi trombosit (Wilmana PF, Gan S,
2007).
d. Kanker kolon : Terdapat bukti bahwa penggunaan
kronik aspirin mengurangi insidensi kanker kolorektal
(Mycek MJ et all, 2001).
- Efek samping :
Keracunan salisilat yang berat dapat menyebabkan
kematian, tetapi umumnya keracunan salisilat bersifat
ringan. Metilsalisilat jauh lebih toksik daripada natrium
salisilat dan intoksikasinya sering terjadi pada anak-anak. 4
ml metilsalisilat dapat menimbulkan kematian pada anak.
Gejala ringan yang mungkin timbul dari pemberian oral
nyeri kepala, pusing, tinnitus, gangguan pendengaran,
penglihatan kabur, rasa bingung, lemas, rasa kantuk,
banyak keringat, haus, mual, muntah dan kadang diare
(Wilmana PF, Gan S, 2007).

- Dosis dan sediaan :
Dosis salisilat untuk dewasa ialah 325 mg-650 mg,
diberikan secara oral tiap 3 atau 4 jam. Untuk anak 15-20
mg/kgBB, diberikan tiap 4-6 jam dengan dosis total tidak
melebihi 3,6 gram/hari. Aspirin tersedia dalam bentuk
tablet 100 mg untuk anak dan tablet 500 mg untuk dewasa.
Metilsalisilat (minyak wintergreen) hanya digunakan
sebagai obat luar dalam bentuk salep atau linimen dan
dimaksudkan sebagai counter irritant bagi kulit. Asam
salisilat berbentuk bubuk, digunakan sebagai keratolitik.
Dengan dosis tergantung dari penyakit yang diobati
(Wilmana PF, Gan S, 2007).
b. Salisilamid
Salisilamid adalah amida asam salisilat yang
memperhatikan efek analgesik dan antipiretik mirip asetosal.
Efek analgesik antipiretik salisilamid lebih lemah dari salisilat,
karena salisilamid dalam mukosa usus mengalami metabolisme
lintas pertama, sehingga hanya sebagian salisilamid yang
diberikan masuk sirkulasi sebagai zat aktif. Obat ini
menghambat glukuronidasi obat analgesik lain di hati misalnya
Na salisilat dan asetaminofen, sehingga pemberian bersama
dapat meningkatkan efek terapi dan toksisitas obat tersebut.
Salisilamid dijual bebas dalam bentuk obat tunggal atau
kombinasin tetap. Dosis analgesik antipiretik untuk orang
dewasa 3-4 kali 300-600 mg sehari, untuk anak 65
mg/kgBB/hari diberikan 6 kali/hari. Untuk febris reumatik
diperlukan dosis oral 3-6 kali 2 gram/hari (Wilmana PF, Gan S,
2007).

c. Diflusinal
Obat ini merupakan derivate difluorofenil dari asam
salisilat, tetapi in vivo tidak diubah menjadi asam salisilat.
Bersifat analgesik dan anti-inflamasi tetapi hampir tidak
bersifat antipiretik. Setelah pemberian oral, kadar puncak
dicapai dalam 2-3 jam. 99% diflusinal terikat albumin plasma
dan waktu paruh berkisar 8-12 jam. Indikasi diflusinal hanya
sebagai analgesik ringan sampai sedang dengan dosis awal 500
mg disusul 250-500 mg tiap 8-12 jam. Untuk osteoartritis dosis
awal 2 kali 250-500 mg sehari dengan dosis pemeliharaan tidak
melampaui 1,5 gram sehari. Efek sampingnya lebih ringan
daripada asetosal dan tidak dilaporkan menyebabkan gangguan
pendengaran dan efek samping lainnya mirip dengan obat-obat
AINS lainnya (Wilmana PF, Gan S, 2007).

2) Para Amino Fenol
Derivat para amino fenol yaitu fenasetin dan asetaminofen.
Asetaminofen (parasetamol) merupakan metabolit fenasetin
dengan efek antipiretik yang sama dan telah digunakan sejak tahun
1893. Efek antipiretik ditimbulkan oleh gugus amino benzene.
Asetaminofen di Indonesia lebih dikenal dengan nama
parasetamol, dan tersedia sebagai obat bebas. Tetapi perlu
diperhatikan bahwa efek anti-inflamasi hampir tidak ada (Wilmana
PF, Gan S, 2007).
- Farmakodinamik :
Efek analgesik parasetamol dan fenasetin serupa dengan
salisilat yaitu mengilangkan atau mengurangi nyeri ringan
sampai sedang. Keduanya menurunkan suhu tubuh dengan
mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti
salisilat (Wilmana PF, Gan S, 2007).
Efek anti-inflamasi sangat lemah, oleh karena itu
parasetamol dan fenasetin tidak digunakan sebagai
antireumatik. Parasetamol merupakan penghambat biosentesis
PG yang lemah. Efek iritasi, erosi dan perdarahan lambung
tidak terlihat pada kedua obat ini, demikian juga gangguan
pernapasan dan keseimbangan asam basa (Wilmana PF, Gan S,
2007).
- Farmakokinetik :
a. Absorpsi : Baik secara per-oral (Wilmana PF, Gan S,
2007).
b. Distribusi : Melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi
dalam plasma dicapai dalam waktu jam dan masa paruh
plasma 1-3 jam. Obat ini tersebar keseluruh cairan tubuh
(Wilmana PF, Gan S, 2007).
c. Metabolisme : Kedua obat ini dimetabolisme oleh enzim
mikrosom hati (Wilmana PF, Gan S, 2007).
d. Ekskresi : Kedua obat ini diekskresikan melalui ginjal,
sebagian kecil sebagai parasetamol (3%) dan sebagian
besar dalam bentuk terkonjugasi (Wilmana PF, Gan S,
2007).
- Indikasi :
Di Indonesia penggunaan parasetamaol sebagai
analgesik dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan
salisilat. Sebagai analgesik lainnya, parasetamol sebaliknya
tidak diberikan terlalu lama karena kemungkinan menimbulkan
nefropati analgesik. Jika dosis terapi tidak memberi manfaat,
biasanya dosis lebih besar tidak menolong. Karena hampir
tidak mengiritasi lambung, parasetamol sering dikombinasi
dengan OAINS untuk efek analgesic (Wilmana PF, Gan S,
2007).

- Efek samping :
Reaksi alergi terhadap derivate para-aminofenol jarang
terjadi. Manifestasinya berupa eritema atau urtikaria dan gejala
yag lebih berat berupa demam dan lesi pada mukosa (Wilmana
PF, Gan S, 2007).

Fenasetin dapat menyebabkan anemia hemolitik,
terutama pada pemakaian kronik. Anemia hemolitik dapat
terjadi berdasarkan mekanisme autoimun, defisiensi enzim
glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) dan adanya metabolit
yang abnormal (Wilmana PF, Gan S, 2007).

- Sediaan dan posologi :
Parasetamol tersedia sebagai obat tunggal, berbentuk
tablet 500 mg atau sirup yang mengandung 120 mg/5 mL.
Selain itu parasetamol terdapat sebagai sediaan kombinasi
tetap, dalam bentuk tablet maupun cairan. Dosis parasetamol
untuk dewasa 300 mg-1 g per kali, dengan maksimum 4 gram
per hari, untuk anak 6-12 tahun 150-300 mg/kali, dengan
maksimum 1,2 gram/hari. Untuk anak 1-6 tahun 60-120
mg/kali dan bayi dibawah 1 tahun 60 mg/kali, pada keduanya
diberikan maksimum 6 kali sehari (Wilmana PF, Gan S, 2007).

3) Pirazolon dan Derivat
Dalam kelompok ini termasuk dipiron, fenilbutazon,
oksifenbutazon, antipirin dan aminopirin. Antipirin (fenazon)
adalah 5-oksi-1-fenil-2, 3-dimetilpirazolidin. Aminopirin
(amidopirin) adalah derivat 4-metilamino dari antipirin. Dipiron
adalah derivat metansulfonat dari aminopirin yang larut baik dalam
air da dapt diberikan secara suntikan (Wilmana PF, Gan S, 2007).

- Indikasi :
Saat ini dipiron hanya digunakan sebagai analgesic-
antipiretik karena efek anti-inflamasinya lebih lemah.
Sedangkan antipirin dan aminopirin tidak dianjurkan digunakan
lagi karena lebih toksik daripada dipiron. Karena keamanan
obat ini diragukan, sebaiknya dipiron hanya diberikan bila
pasien tidak tahan analgesik antipiretik yang lebih aman. Pada
beberapa kasus penyakit Hodgkin dan periarteritis nodusa,
dipiron merupakan obat yang masih dapat digunakan untuk
meredakan demam yang sukar diatasi denan obat lain. Dosis
untuk dipiron ialah 3 kali 0,3-1 gram/hari. Dipiron tersedia
dalam bentuk tablet 500 mg dan larutan obat suntik yang
mengandung 500 mg/mL (Wilmana PF, Gan S, 2007).

- Efek samping dan intoksikasi :
Semua derivate pirazolon dapat menyebabkan
agranulositosis, anemia aplastik dan trombositopenia. Di
beberapa Negara misalnya Amerika Serikat, efek samping ini
banyak terjadi dan bersifat fatal, sehingga pemakainannya
sangat dibatasi atau dilarang sama sekali. Di Indonesia
frekuensi pemakaian dipiron cukup tinggi dan agranulositosis
telah dilaporkan pada pemakaian obat ini, tetapi belum ada data
tentang kejadiannya. Kesan bahwa orang Indonesia tahan
terhadap dipiron tidak diterima begitu saja mengingat sistem
pelaporan data efek samping belum memadai sehingga
mungkin kematian oleh agranulositosis tercatat sebagai
penyakit infeksi. Maka pada pemakaian dipiron jangka
panjang. Harus diperhatiakan kemungkinan diskrasia darah ini.
Dipiron juga dapat menimbulkan hemolisis, edema, tremor,
mual, dan muntah, perdarahan lambung dan anuria (Wilmana
PF, Gan S, 2007).

Aminopirin tidak lagi diizinkan bereadar di Indonesia
sejak tahun 1977 atas dasar kemungkinan membentuk
nitrosamine yang bersifat karsiogenik (Wilmana PF, Gan S,
2007).

a. Fenilbutazon dan Oksifenbutazon
Fenilbutazon adalah 3,5-diokso-1, 2-difenil-4-
butilpirazolidin dan oksifenbutazon adalah derivate
oksifenilnya.

Dengan adanya AINS yang lebih aman,
fenilbutazon dan oksifenibutazon tidak lagi dianjurkan dan
digunakan sebagai anti-inflamasi kecuali obat lain tidak efektif
(Wilmana PF, Gan S, 2007).

4) Analgesik Anti-Inflamasi Non Steroid Lainnya
a. Asam Mefenamat dan Meklofenamat
Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik, anti-
inflamasi, asam mefenamat kurang efektif dibandingkan
aspirin. Meklofenamat digunakan sebagai obat anti-inflamasi
pada terapi artritis reumatoid, dan osteoartritis. Asam
mefenamat sangat terikat kuat oleh protein plasma. Dengan
demikaian interaksi terhadap obat antikoagulan harus
diperhatiakan (Wilmana PF, Gan S, 2007).

Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul
misalnya dispepsia, diare sampai diare berdarah dan gejala
iritasi lain terhadap mukosa lambung. Pada orang usia lanjut
efek samping diare hebat lebih sering dilaporkan. Efek samping
lain yang berdasarkan hipersensitivitas ialah eritema kulit dan
bronkokonstriksi. Anemia hemolitik pernah dilaporkan
(Wilmana PF, Gan S, 2007).

Dosis Asam mefenamat adalah 2-3 kali 250-500 mg
sehari. Sedangkan dosis meklofenamat untuk terpakai penyakit
sendi adalah 200-400 mg sehari. Karena efek toksiknya maka
di Amerika Serikat obat ini tidak dianjurkan untuk diberikan
kepada anak di bawah 14 tahun dan wanita hamil, dan
pemberiannya tidak melebihi 7 hari. Penelitian klinis
menyimpulkan bahwa penggunaan selama haid mengurangi
kehilangan darah secara bermakna (Wilmana PF, Gan S, 2007).

b. Diklofenak
Diklofenak adalah turunan asam fenilasetat sederhana
yang mempunyai flurbiprofen maupun meklofenamat. Obat ini
adalah penghambat siklooksigenase yang kuat dengan efek
anti-inflamasi, analgesik, dan antipiretik (Payan DG, Katzung
BG, 1998).

Absorpsi obat ini melalui sauran cerna berlangsung
cepat dan lengkap. Obat ini terikat 99% pada protein plasma
dan mengalami efek metabolisme lintas pertama (first-pass)
sebesar 40-50%. Walaupun waktu paruh singkat yakni 1-3 jam,
diklofenak diakumulasi di cairan synovial yang menjelaskan
efek terapi di sendi jauh lebih panjang dari waktu paruh obat
tersebut (Wilmana PF, Gan S, 2007).

Efek samping yang lazim ialah mual, gastritis, eritema
kulit dan sakit kepala sama seperti semua obat AINS,
pemakaian obat ini harus berhati-hati pada pasien tukak
lambung. Peningkatan enzim transaminase dapat terjadi pada
15% pasien dan umumnya kembali ke normal. Pemakaian
selama kehamilan tidak dianjurkan. Dosis orang dewasa 100-
150 mg sehari terbagi dua atau 3 dosis (Wilmana PF, Gan S,
2007).

c. Fenbufen
Berbeda dengan OAINS lainnya, fenbufen merupakan
suatu pro-drug. Jadi fenbufen sendiri bersifat inaktif dan
metabolit aktifnya adalah asam-4-bifenil-asetat. Zat ini
memiliki waktu paruh 10 jam sehingga cukup diberiakan 1-2
kali sehari (Wilmana PF, Gan S, 2007).

Absorpsi obat melalui lambung baik, dan kadar puncak
metabolit aktif dicapai dalam 7,5 jam. Efek samping obat ini
sama seperti OAINS lain. Pemakaian pada pasien tukak
lambung harus berhati-hati. Pada gangguan ginjal, dosis harus
dikurangi. Dosis untuk indikasi penyakit reumatik sendi adalah
dua kali 300 mg sehari dan dosis pemiliharaan satu kali sehari
600 mg sebelum tidur (Wilmana PF, Gan S, 2007).

d. Ibuprofen
Ibuprofen merupakan turunan sederhana asam fenil-
propionat. Pada dosis sekitar 2400 mg/hari, efek anti-inflamasi
ibuprofen setara degan 4 gram aspirin. Obat ini sering
dirsepkan dosis rendah, yang bersifat analgesik tetapi
mempunyai efek anti-inflamasi rendah. Ibuprofen tersedia
sebagai obat bebas dalam dosis rendah dengan berbagai nama
dagang (Payan DG, Katzung BG, 1998).

Ibuprofen dimetabolisme secara luas di hati, sedikit
diekskresikan dalam bentuk tidak berubah. Iritasi saluran cerna
dan perdarahan dapat terjadi, walaupun kurang sering
dibandingkan aspirin. Penggunaan ibuprofen bersamaan
dengan aspirin dapat menurunkan efek total anti-inflamasi.
Obat ini dikontraindikasikan pada mereka yang menderita polip
hidung, angioedema, dan reaktivitas ronkospastik terhadap
aspirin. Di samping gejala saluran cerna, telah dilaporkan
adanya rash, pruritus, tinitus, pusing, nyeri kepala, ansietas,
meningitis aseptik, dan retensi cairan. Interaksi dengan
antikoagulan jarang terjadi. Efek hematologik yang berat
meliputi agranulositosis dan anemia aplastik, efek terhadap
ginjal, meliputi gagal ginjal akut, nefritis interstinal, dan
sindrom nefrotik (Payan DG, Katzung BG, 1998).

e. Ketoprofen
Ketoprofen merupakan turunan asam propionat yang
mempunyai beberapa kemampuan menghambat
siklooksigenase dan lipooksigenase (Payan DG, Katzung BG,
1998). Absorpsi berlangsung baik dari lambung dan waktu
paruh plasma sekitar 2 jam (Wilmana PF, Gan S, 2007). Obat
ini dimetabolisme secara baik di hati. Meskipun 99% terikat
dengan protein plasma, obat ini mengubah aktivitas warfarin
atau digoksin. Sebaliknya, pemberian bersama probenesid akan
menaikkan kadar ketoprofen dan memperpanjang waktu paruh
plasmanya (Payan DG, Katzung BG, 1998).

Keefektifan ketoprofen sama seperti obat-obat AINS
yang lain dan aspirin dalam pengobatan artritis reumatoid dan
osteoartritis. Meskipun efek gandanya terhadap prostaglandin
dan leukotrien, tidak diperlihatkan efek lain yang
menjadikannya lebih superior dari obat AINS lain. Efek
samping utamanya adalah terhadap susunan saraf pusat dan
saluran cerna (Payan DG, Katzung BG, 1998).

f. Naproksen
Naproksen merupakan suatu asam neftilpropionat yang
terkikat denag protein plasma dan mempunyai waktu paruh
yang panjang.
13
Merupakan suatu derivat asam propionat yang
efektif dan insidensi efek samping obat ini lebih rendah
dibandingkan derivat asam propionat lain (Wilmana PF, Gan S,
2007).

Absorpsi obat ini berlangsung baik melalui lambung
dan kadar puncak plasma dicapai dalam 2-4 jam. Bila diberikan
dalam bentuk garam natrium naproksen, kadar puncak plasma
dicapai lebih cepat. Waktu paruh obat ini 14 jam, sehingga
cukup diberikan dua kali sehari. Ekskresi terutama melalui
urin, baik dalam bentuk utuh maupun konjugat glukuronida dan
demetilat. Interaksi obat sama seperti ibuprofen.
Efek samping yang dapat timbul ialah dispepsia, ringan
saampai perdarahan lambung. Efek samping terhadap SSP
berupa sakit kepala, pusing, rasa lelah dan ototoksisitas.
Gangguan terhadap hepar dan ginjal pernah dilaporkan. Dosis
untuk terapi penyakit reumatik sendi adalah 2 kali 250-375 mg
sehari. Bila perlu dapat diberikan 2 kali 500 mg sehari
(Wilmana PF, Gan S, 2007).

g. Asam Tiaprofenat
Asam tiaprofenat memperlihatkan sifat sama seperti
derivate asam propionate lainnya. Waktu paruh dalam plasma
kira-kira 2 jam dan ekskresi terutama melalui ginjal sebagai
konjugat asilglukuronida. Efek samping sama seperti obat
AINS lainnya. Dosis 3 kali 200 mg sehari (Wilmana PF, Gan S,
2007).

h. Indometasin
Merupakan derivate indol-asam asetat. Obat ini sudah
dikenal sejak 1963 untuk pengobatan artritis reumatoid dan
sejenisnya. Walaupun obat ini efektif tetapi karena toksik maka
penggunaan obat ini dibatasi. Indometasin memiliki efek anti-
inflamasi dan analgesik-antipiretik yang kira-kira sebanding
dengan aspirin. Telah terbukti bahwa indometasin memiliki
efek analgesik perifer maupun sentral. In vitro indometasin
menghambat siklooksigenase. Seperti kolkisin, indometasin
menghambat motilitas leukosit polimorfonuklear (Wilmana PF,
Gan S, 2007).
Absorpsi indometasin setelah pemberian oral cukup
baik, 92-99% indometasin terikat pada protein plasma.
Metabolismenya terjadi di hati. Diekskresikan dalam bentuk
asal maupun metabolit melalui urin dan empedu. Waktu paruh
plasma kira-kira 2-4 jam (Wilmana PF, Gan S, 2007).
Efek samping indometasin menimbulkan insidensi efek
toksik yang tinggi yang berhubungan dengan dosis. Efek
terhadap saluran cerna meliputi nyeri abdomen, diare,
perdarahan saluran cerna, dan pankreatitis. Nyeri kepala yang
hebat dialami oleh 20-25 % penderita dan mungkin disertai
dengan pusing, bingung, dan depresi (Payan DG, Katzung BG,
1998). Halusinasi dan psikosis pernah dilaporkan. Indometasin
juga dilaporkan menyebabkan agranulositosis, anemia aplastik
dan trombositopenia. Vasokonstriksi pembuluh koroner pernah
dilaporkan. Hiperkalemia dapat terjadi akibat hambatan yang
kuat terhadap biosintesis PG di ginjal. Alergi dapat pula timbul
dengan manifestasi urtikaria, gatal dan serangan asma. Obat ini
mengurangi efek natriuretik dari diuretik tiazid dan furosemid
serta memperlemah efek hipotensif -bloker. Dosis
indometasin yang lazim ialah 2-4 kali 25 mg sehari. Untuk
mengurangi gejala reumatik di malam hari, indometasin
diberikan 50-100 mg sebelum tidur (Wilmana PF, Gan S,
2007).

i. Piroksikam
Merupakan salah satu AINS dengan struktur baru yait
oksikam, derivat asam enolat. Waktu paruh dalam plasma lebih
dari 45 jam sehingga dapat diberikan hanya sekali sehari.
Absorpsi berlangsung cepat di lambung, terikat 99% pada
protein plasma. Obat ini menjalani siklus enterohepatik. Kadar
taraf mantap dicapai sekitar 7-10 hari dan kadar dalam plasma
kira-kira sama dengan kadar di cairan sinovial. Efek samping
tersering adalah gangguan saluran cerna, antara lain yang berat
adalah tukak lambung. Efek samping lain adalah pusing,
tinnitus, nyeri kepala dan eritema kulit. Indikasi piroksikam
hanya untuk penyakit inflamasi sendi misalnya artritis
reumatoid, osteoartritis, spondilitis ankilosa. Dosis 10-20 mg
sehari deiberikan pada pasien yang tidak member respon cukup
dengan AINS yang lebih aman (Wilmana PF, Gan S, 2007)
(Payan DG, Katzung BG, 1998).

j. Meloksikam
Cenderung menghambat COX-2 lebih dari COX-1
tetapi penghambatan COX-1 pada dosis terapi tetap nyata.
Penelitian terbatas menyimpulkan efek samping meloksikam
(7,5 mg per hari) terhadap saluran cerna kurang dari
piroksikam 20 mg sehari. Meloksikm diberikan dengan dosis
7,5-15 mg sekali sehari. Efektivitas dan keamanan derivate
oksikam lainnya : lornoksikam, sinoksikam, sudoksika dan
tenoksikam dianggap sama dengan piroksikam (Wilmana PF,
Gan S, 2007).

k. Nabumeton
Nabumeton adalah prodrug. Nabumeton
memperlihatkan sifat selektif menghambat iso-enzim
prostaglandin untuk peradangan tetapi kurang menghambat
prostasiklin yang bersifat sitoprotektif. Waktu paruh > 24 jam,
sehingga diberikan dosis sekali sehari. Sebaliknya sifat-sifatnya
sangat mirip dengan obat-obat AINS yang lain. Efek samping
yang timbul selama pengobatan relatif lebih sedikit, terutama
efek samping terhadap saluran cerna(Wilmana PF, Gan S,
2007) (Payan DG, Katzung BG, 1998).
l. COX-2 Selektif
Rofekoksib terbukti kurang menyebabkan gangguan
gastrointestinal dibandingan naproksen. Selekoksib tidak
terbukti lebih aman dari AINSt. Tidak ada koksib yang klinis
terbukti lebih efektif dari AINSt. Obat ini memperlihatkan
waktu paruh yang panjang sehingga cukup diberikan sekali
sehari 60 mg (Wilmana PF, Gan S, 2007).

II. 1. 2. 6. Pemilihan Obat
1) Untuk mengatasi nyeri akut termasuk proses inflamasi yang akut,
sebaiknya diberikan dari pilihan kolkisin atau OAINS yang
memiliki daya anti-inflamasi yang kuat dan bekerja cepat
(Wilmana PF, Gan S, 2007).
2) Untuk mengontrol kadar asam urat pilihan ada antara obat
urikosurik atau obat yang menghambat produksi asam urat
(urikostatik) (Wilmana PF, Gan S, 2007).
3) Pada pasien tipe over-producer yakni dimana pada ekskresi asam
urat mencapai >600 mg/hari, sebaiknya diberikan obat tipe
urikostatik (contoh : alopurinol). Pada pasien tipe dimana ekskresi
asam urat <600 mg/hari, pilihan dicari kelompok obat urikosurik
(contoh : probenesid dan sulfinpirazon) (Wilmana PF, Gan S,
2007).
II. 1. 3. Dispepsia
II. 1. 3. 1. Definisi
Dispepsia sebetulnya adalah kumpulan gejala nyeri atau rasa
tidak nyaman pada epigastrium, mual, muntah, perut kembung, rasa
cepat kenyang, rasa perut penuh, sendawa, regurgitasi dan rasa panas
yang menjalar di dada (Djojoningrat D, 2007). Dalam
perkembangannya, gejala rasa panas di dada dan perut serta sendawa
tidak dimasukan lagi dalam sindrom dispepsia, karena korelasinya erat
dengan penyakit Gastro Esophageal Refluk Disease (GERD) (Firdaus
U, 2001). Definisi dispepsia di atas menunjukkan bahwa sumber
gejala-gejala yang timbul berasal dari saluran cerna bagian atas,
khususnya lambung dan duodenum.
II. 1. 3. 2. Klasifikasi Dispepsia
Batasan dispepsia terbagi atas dua yaitu :
1) Dispepsia Organik
Dispepsia organik adalah suatu dispepsia yang telah
diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebab misalnya
adanya tukak di lambung dan usus dua belas jari, radang pancreas,
radang empedu, dan lain-lain. Dispepsia organik jarang ditemukan
pada usia muda, tetapi banyak ditemukan pada usia >40 tahun
(Hadi S, 2002). Dispepsia organik dapat digolongkan menjadi :
a. Tukak saluran cerna bagian atas
Tukak dapat ditemukan pada mukosa, sub mukosa dan
lapisan muskularis dari saluran cerna bagian atas, di distal
esophagus, lambung dan duodenum. Keluhan yang sering
diutarakan penderita adalah nyeri di daerah epigastrium berupa
nyeri yang tajam dan menyayat atau terasa tertekan, penuh atau
terasa perih seperti pada orang yang lapar. Nyeri pada bagian
kanan atau kiri epigastrium, terjadi 30 menit sesudah makan
dan menjalar ke punggung nyeri terasa berkurang atau sembuh
sementara sesudah makan atau setelah minum antasida. Gejala
lain seperti mual, muntah, kembung, bersendawa dan
berkurangnya nafsu makan sehingga berat badan bisa menurun
(Hadi S, 2002).
Hasil pemeriksaan endoskopi pada saluran cerna bagian
atas yang dilakukan terhadap 80 pasien di RSUP dr. Jamil
Padang tahun 1990-1991, menmukan penderita penyakit tukak
lambung sebanyak 23 orang (proporsi 2,4%) dan tukak
duodenum 24 orang (2,96%) (Kalbe, 1992).
b. Batu empedu
Kelainan utama yang dapat timbul pada kandung
empedu adalah terbentuknya batu. Hal ini juga dapat terjadi
pada saluran empedu. Pada kandung empedu, batu dapat
menyebabkan peradangan disebut kolestitis akut, juga dapat
menimbulkan kolik bilier dengan gejala nyeri epigastrium yang
menjalar ke punggung dan bisa berlangsung sampai berjam-
jam dan menyebabkan penderitanya muntah. Di dalam saluran
empedu, batu menyebabkan penyumbatan sehingga terjadi
penyakit hepatitis, atau dapat menyebabkan serangan
pankreatitis akut (Bateson M,1992).
c. Gastritis
Gastritis adalah peradangan/inflamasi pada lapisan
mukosa dan submukosa lambung. Keadaan ini antara lain
diakibatkan oleh makanan/obat-obatan yang mengiritasi
lambung dan adanya pengeluaran asam lambung yang
berlebihan oleh lambung itu sendiri. Gejalanya seperti mual
dan muntah, nyeri pada epigastrium, nafsu makan menurun dan
kadang-kadang terjadi perdarahan (Sutanto, Hariwijaya M,
2007). Hasil pemeriksaan endoskopi pada saluran cerna bagian
atas yang dilakukan terhadap 810 orang di RSUP dr. Jamil
Padang pada tahun 1990-1991, ditemukan penederita gastritis
sebanyak 314 orang (proporsi 38,8%) (kalbe, 1992).

d. Karsinoma saluran cerna
Karsinoma dari saluran pencernaan (esophagus,
lambung, pankreas, kolon) sering menimbulkan dispepsia.
Keluhan utama yaitu rasa nyeri di perut. Keluhan bertambah
dengan turunnya nafsu makan, timbul anoreksia sehingga berat
badan menurun (Hadi S, 2002). Hasil pemeriksaan endoskopi
pada saluran cerna bagian atas yang dilakukan terhadap 810
orang di RSUP dr. Jamil Padang tahun 1990 -1991
menemukan, penderita kanker lambung sebanyak 11 orang
(proporsi 1,36%) (Hadi S, 2002). Ditemukan 7 orang penderita
kanker esophagus dari hasil pemeriksaan endoskopi saluran
cerna bagian atas yang dilakukan terhadap 810 orang (proporsi
0,86%) di RSUP dr. Jamil Padang pada tahun 1990-1991
(Kalbe, 1992).
e. Pankreatitis
Gambaran yang khas dari pankreatitis akut adalah rasa
nyeri di epigastrium yang hebat. Sifat nyeri timbulnya
mendadak dan terus menerus, seperti ditusuk-tusuk dan rasa
terbakar. Perasaan nyeri tersebut menjalar ke seluruh perut dan
perut menjadi tegang. Timbul terasa mual, kadang-kadang
muntah.
Penderita pankreatitis kronik juga mengeluh rasa nyeri
di perut bagian atas. Rasa nyeri juga seperti ditusuk-tusuk,
menjalar ke punggung, disertai mual dan muntah, sifatnya
hilang timbul, sehingga tidak jarang dibuat diagnosa sakit
lambung. Pada pankreatitis kronik tidak ada keluhan rasa
pedih, melainkan disertai tanda-tanda diabetes mellitus atau
keluhan steatorrhoe (Hadi S, 2002).
f. Sindrom malabsorpsi
Malabsorpsi adalah suatu keadaan terdapatnya
gangguan pada proses absorpsi dan digesti secara normal pada
satu atau lebih zat gizi (Sutanto, Hariwijaya M, 2007). Pada
penderita ini di samping mempunyai keluhan rasa nyeri perut,
nausea, anoreksia, sering flatus, kembung, keluhan utama
lainnya ialah timbulnya diare yang berlendir (Syam AF, 2007).
g. Gangguan metabolisme
Diabetes Mellitus (DM) dapat menyebabkan
gastroparesis yang hebat sehingga timbul keluhan rasa penuh
setelah makan, cepat kenyang, mual dan muntah. Gastroparesis
didefinsikan sebagai ketidakmampuan lambung untuk
mengosongkan ruangan. Hal ini terjadi apabila makanan
berbentuk padat tertahan di lambung. Gangguan metabolit lain
seperti hipertiroid menimbulkan keluhan nyeri perut dan
vomitus. Hipotiroid dan hiperkalsemia juga dapat
menyebabkan nyeri abdomen bagian atas (Hadi S, 2002).
h. Penyakit lain
Penyakit jantug iskemik sering memberikan keluhan
perut kembung dan cepat kenyang. Penderita infark miokard
dinding inferior juga sering menimbulkan gejala mual dan
perut kembung (Hadi S, 2002).
i. Dispepsia akibat infeksi bakteri Helicobacter pylori.
Orang yang terinfeksi bakteri Helicobacter pylori dapat
mengalami dispepsia. Penemuan bakteri ini dilakukan oleh dua
dokter peraih Nobel dari Australia, yaitu Barry Marshall dan
Robin Warre yang menemukan adanya bakteri yang bisa hidup
dalam lambung manusia. Penemuan ini mengubah cara
pandang para ahli mengenai penyebab penyakit lambung
termasuk cara pengobatannya. Telah terbukti saat ini bahwa
infeksi Helicobacter pylori pada lambung bisa menyebabkan
peradangan pada mukosa lambung yang disebut dengan
gastritis. Proses ini bisa belanjut hingga terjadi ulkus/tukak
bahkan kanker lambung.
Dalam pertemuan di Centers for Disease Control and
Prevention di Atlanta, Georgia pada 1991, semua ahli
mengakui hubungan langsung antara Helicobacter pylori
dengan penyakit gastritis. Sekitar 75% jenis penyakit tukak
lambung telah terbukti disebabkan oleh Helicobacter pylori
yang dapat diobati secara permanen menggunakan larutan
antibiotik (Tim Redaksi, 2009)
2) Dispepsia Fungsional
Dispepsia fungsional atau nonorganik atau dispepsia
nonulkus (DNU) adalah dispepsia yang terjadi tanpa diserti
kelainan atau gangguan struktur organ berdasarkan pemeriksaan
klinis, laboratorium, radiologi, dan endoskopi (RSUD Paniai,
2007).
Penyebab Dispepsia Fungsional :
- Gangguan pergerakan piloroduodenal.
- Menelan terlalu banyak udara
- Menelan makanan tanpa dikunyah terlebih dahulu.
- Mengkonsumsi makanan atau minuman seperti alkohol,
bersoda, kopi, makanan berlemak, gorengan, dan makanan
yang bersifat asam karena bisa mengiritasi lambung.
- Terlalu sering menggunakan obat penghilang rasa nyeri
(OAINS)
- Jarang sarapan pagi.
- Strees
II. 1. 3. 3. Manifestasi Klinik
Sindroma dispepsia dapat bersifat ringan, sedang, dan berat,
serta dapat akut atau kronis sesuai dengan perjalanan penyakitnya.
Pembagian akut dan kronik berdasarkan atas jangka waktu tiga bulan
(TBM Calcaneus FK Unhas, 2010).
Nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada
mungkin disertai dengan sendawa dan suara usus yang keras
(borborigmi). Pada beberapa penderita, makan dapat memperburuk
nyeri; pada penderita yang lain, makan bisa mengurangi nyerinya.
Gejala lain meliputi nafsu makan yang menurun, mual, sembelit, diare
dan perut kembung (TBM Calcaneus FK Unhas, 2010).
II. 1. 3. 4. Pencegahan
Pola makan yang normal dan teratur, pilih makanan yang
seimbang dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur, sebaiknya
tidak mengkomsumsi makanan yang berkadar asam tinggi, cabai,
alkohol, dan pantang rokok, bila harus makan obat karena sesuatu
penyakit, misalnya sakit kepala, gunakan obat secara wajar dan tidak
mengganggu fungsi lambung (medical journal, 2010).
II. 1. 3. 5. Penatalaksanaan Medik
1) Penatalaksanaan non farmakologis
a. Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam
lambung
b. Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang
pedas, obat-obatan yang berlebihan, nikotin rokok dan stres
c. Atur pola makan

2) Penatalaksanaan farmakologis
Sampai saat ini belum ada regimen pengobatan yang
memuaskan terutama dalam mengantisipasi kekambuhan. Hal ini
dapat dimengerti karena proses patofisiologinya pun masih belum
jelas. Dilaporkan bahwa sampai 70% kasus DF reponsif terhadap
placebo.
Obat-obatan yang diberikan meliputi antasid (menetralkan
asam lambung) golongan antikolinergik (menghambat pengeluaran
asam lambung) dan prokinetik (mencegah terjadinya muntah)
(medical journal, 2010).
II. 1. 3. 6. Test Diagnostik
Berbagai macam penyakit dapat menimbulkan keluhan yang
sama, seperti halnya pada sindrom dispepsia, oleh karena dispepsia
hanya merupakan kumpulan gejala dan penyakit di saluran
pencernaan, maka perlu dipastikan penyakitnya. Untuk memastikan
penyakitnya, maka perlu dilakukan beberapa pemeriksaan, selain
pengamatan jasmani, juga perlu diperiksa : laboratorium, radiologis,
endoskopi, USG, dan lain-lain (anonim b, 2011)
- Laboratorium : Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan lebih
banyak ditekankan untuk menyingkirkan penyebab organik lainnya
seperti: pankreatitis kronik, diabets mellitus, dan lainnya. Pada
dispepsia fungsional biasanya hasil laboratorium dalam batas
normal (anonim b, 2011).
- Radiologis : Pemeriksaan radiologis banyak menunjang diagnosis
suatu penyakit di saluran makan. Setidak-tidaknya perlu dilakukan
pemeriksaan radiologis terhadap saluran makan bagian atas, dan
sebaiknya menggunakan kontras ganda (anonim b, 2011).
- Endoskopi (Esofago-Gastro-Duodenoskopi) : Sesuai dengan
definisi bahwa pada dispepsia fungsional, gambaran endoskopinya
normal atau sangat tidak spesifik.
- USG (ultrasonografi) : Merupakan diagnostik yang tidak invasif,
akhir-akhir ini makin banyak dimanfaatkan untuk membantu
menentukan diagnostik dari suatu penyakit, apalagi alat ini tidak
menimbulkan efek samping, dapat digunakan setiap saat dan pada
kondisi klien yang beratpun dapat dimanfaatkan
- Waktu Pengosongan Lambung : Dapat dilakukan dengan
scintigrafi atau dengan pellet radioopak. Pada dispepsia fungsional
terdapat pengosongan lambung pada 30 40 % kasus.
II. 1. 3. 7. Faktor Yang Mempengaruhi Dispepsia
1) Usia
Dispepsia bisa terjadi pada semua golongan usia, terutama
usia di atas 20 tahun (Irwan D, 2007). Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Eddy Bagus di Unit Gastroenterologi RSUD Dr.
Soetomo Surabaya tahun 2001, dari 39 sampel yang diperiksa
79,4% umur penderita dispepsia berada pada usia 30 sampai 50
tahun (Bagus E, 2002).
2) Jenis Kelamin
Kasus dispepsia lebih sering di temukan pada wanita
daripada pria, dengan perbandingan sekitar 2 : 1 (Tarigan CJ,
2003). Menurut penelitian yang telah dilakukan Sianturi C (2006)
di RSUP Adam Malik Medan pada tahun 2001-2004 menyatakan
proporsi kejadian dispepsia lebih tinggi pada perempuan sebesar
63%. Sedangkan menurut penelitian yang telah dilakukan oleh
yanti harahap proporsi penderita dispepsia berdasarkan jenis
kelamin lebih tinggi pada perempuan yaitu 61,6% sedangkan pada
laki-laki sebesar 38.4% (Harahap Y, 2009).
3) Lama Penggunaan OAINS
Semakin lama seseorang menggunakan obat AINS,
semakin besar kemungkinan menderita efek sampingnya, dari yang
ringan sampai yang serius. Penyakit yang berhubungan dengan
penggunaan obat AINS meliputi masalah dengan saluran
pencernaan yang serius, termasuk tukak, perdarahan, dan perforasi
lambung atau usus halus (Dewi SK, 2009).
Karena mekanisme kerja dari penggunaan obat AINS dapat
memblok aksi dari enzim COX maka menurunkan produksi
mediator prostaglandin. Hal ini menghasilkan kedua efek, baik
yang efek positif (analgesik dan antiinflamasi) maupun efek yang
negatif (ulkus lambung, penurunan perfusi renal, perdarahan)
(Lloyd A, 2008).
II. 2. Kerangka Teori


















Ket :

BAGAN 4. Kerangka teori
OAINS
Menghambat enzim siklooksigenase
Menghambat COX-1
Menghambat COX-2
Fungsi normal terganggu :
- Saluran cerna
- Ginjal
- Trombosit
Respon nyeri dihambat
Perlindungan terhadap
mukosa lambung
terganggu
Terjadi kerusakan pada
mukosa lambung
Dispepsia
Terapi utama untuk
osteoartritis
1. Usia
2. Jenis Kelamin
3. Etnis
4. Psikologis
5. Penggunaan Obat-obatan : OAINS
6. Pola Makan Tidak Teratur
7. Kebiasaan Tidak Sehat
8. Lingkungan
Dispepsia Fungsional Dispepsia Organik
: Variabel yang diteliti
II. 3. Kerangka Konsep
Dalam penelitian ini sampel yang diteliti yaitu pasien
osteoartritis yang menggunakan OAINS sampai terjadi dispepsia,
sehingga variabel dependen yang diteliti adalah dispepsia dan variabel
independen adalah terhadap usia, jenis kelamin, dan lama penggunaan
OAINS. Berdasarkan variabel-variabel tersebut, terbentuk kerangka
konsep dalam penelitan ini adalah :




BAGAN 5. Kerangka konsep
II. 4. Penelitian Terkait Yang Pernah Dilakukan
No. Judul
Penelitian
Nama
Peneliti
Tempat &
Tahun
Penelitian
Rancangan
Penelitian
Variabel
Penelitian
Hasil
Penelitian
1. Karakteristik
Penderita
Dispepsia
Rawat Inap
Di RS.
Martha
Friska Medan
Tahun 2007
Yanti
Harahap
Di RS.
Martha
Friska
Medan
Tahun
2007
Metode
penelitian
deskriptif
dengan
menggunakan
desain case
series
Karakteristik
penderita
dispepsia
Ada
hubungan
antara umur
dengan lama
sakit
(p<0.05);
tidak ada
hubungan
antara umur
dengan jenis
dipepsia
(p>0.05)
Usia

Jenis Kelamin
Lama Penggunaan OAINS
Dispepsia
II. 5. Hipotesis Penelitian
1) Ada hubungan antara usia dengan terjadinya penyakit dispepsia
2) Ada hubungan antara jenis kelamin dengan terjadinya penyakit
dispepsia
3) Ada hubungan antara lama penggunaan OAINS dengan terjadinya
penyakit dispepsia