Anda di halaman 1dari 12

Biogas

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh aktifitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-
bahan organik termasuk diantaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah domestik
(rumah tangga), sambah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable
dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan karbon
dioksida.

Biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun untuk menghasilkan
listrik.

Daftar isi
[sembunyikan]

• 1 Biogas dan aktivitas anaerobik


• 2 Gas landfill
• 3 Rentang komposisi biogas umumnya
• 4 Kandungan energi
• 5 Pupuk dari limbah biogas
• 6 Siloksan dan gas engines (mesin berbahan bakar gas)
• 7 Biogas terhadap gas alam
• 8 Penggunaan gas alam terbaharui
• 9 Pranala luar

• 10 Referensi

[sunting] Biogas dan aktivitas anaerobik


Biogas yang dihasilkan oleh aktifitas anaerobik sangat populer digunakan untuk
mengolah limbah biodegradable karena bahan bakar dapat dihasilkan sambil
menghancurkan bakteri patogen dan sekaligus mengurangi volume limbah buangan.
Metana dalam biogas, bila terbakar akan relatif lebih bersih daripada batu bara, dan
menghasilkan energi yang lebih besar dengan emisi karbon dioksida yang lebih sedikit.
Pemanfaatan biogas memegang peranan penting dalam manajemen limbah karena metana
merupakan gas rumah kaca yang lebih berbahaya dalam pemanasan global bila
dibandingkan dengan karbon dioksida. Karbon dalam biogas merupakan karbon yang
diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman, sehingga bila dilepaskan lagi ke
atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon diatmosfer bila dibandingkan dengan
pembakaran bahan bakar fosil.
Saat ini, banyak negara maju meningkatkan penggunaan biogas yang dihasilkan baik dari
limbah cair maupun limbah padat atau yang dihasilkan dari sistem pengolahan biologi
mekanis pada tempat pengolahan limbah.

[sunting] Gas landfill


Gas landfill adalah gas yang dihasilkan oleh limbah padat yang dibuang di landfill.
Sampah ditimbun dan ditekan secara mekanik dan tekanan dari lapisan diatasnya. Karena
kondisinya menjadi anaerobik, bahan organik tersebut terurai dan gas landfill dihasilkan.
Gas ini semakin berkumpul untuk kemudian perlahan-lahan terlepas ke atmosfer. Hal ini
menjadi berbahaya karena:

• dapat menyebabkan ledakan,


• pemanasan global melalui metana yang merupakan gas rumah kaca, dan
• material organik yang terlepas (volatile organic compounds) dapat menyebabkan
(photochemical smog)

[sunting] Rentang komposisi biogas umumnya


Komposisi biogas bervariasi tergantung dengan asal proses anaerobik yang terjadi. Gas
landfill memiliki konsentrasi metana sekitar 50%, sedangkan sistem pengolahan limbah
maju dapat menghasilkan biogas dengan 55-75%CH4 [1].

Komposisi biogas[2]

Komponen %
Metana (CH4) 55-75
Karbon dioksida (CO2) 25-45
Nitrogen (N2) 0-0.3
Hidrogen (H2) 1-5
Hidrogen sulfida (H2S) 0-3
Oksigen (O2) 0.1-0.5

[sunting] Kandungan energi


Nilai kalori dari 1 meter kubik Biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan
setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu Biogas sangat cocok digunakan sebagai
bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan pengganti minyak tanah, LPG, butana,
batu bara, maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil.
[sunting] Pupuk dari limbah biogas
Limbah biogas, yaitu kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry) merupakan pupuk
organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman. Bahkan,
unsur-unsur tertentu seperti protein, selulose, lignin, dan lain-lain tidak bisa digantikan
oleh pupuk kimia. Pupuk organik dari biogas telah dicobakan pada tanaman jagung,
bawang merah dan padi.

[sunting] Siloksan dan gas engines (mesin berbahan


bakar gas)
Dalam beberapa kasus, gas landfill mengandung siloksan. Selama proses pembakaran,
silikon yang terkandung dalam siloksan tersebut akan dilepaskan dan dapat bereaksi
dengan oksigen bebas atau elemen-elemen lain yang terkandung dalam gas tersebut.
Akibatnya akan terbentuk deposit (endapan) yang umumnya mengandung silika (SiO2)
atau silikat (SixOy) , tetapi deposit tersebut dapat juga mengandung kalsium, sulfur
belerang, zinc (seng), atau fosfor. Deposit-deposit ini (umumnya berwarna putih) dapat
menebal hingga beberapa millimeter di dalam mesin serta sangat sulit dihilangkan baik
secara kimiawi maupun secara mekanik.

Pada internal combustion engines (mesin dengan pembakaran internal), deposit pada
piston dan kepala silinder bersifat sangat abrasif, hingga jumlah yang sedikit saja sudah
cukup untuk merusak mesin hingga perlu perawatan total pada operasi 5.000 jam atau
kurang. Kerusakan yang terjadi serupa dengan yang diakibatkan karbon yang timbul
selama mesin diesel bekerja ringan. Deposit pada turbin dari turbocharger akan
menurukan efisiensi charger tersebut.

Stirling engine lebih tahan terhadap siloksan, walaupun deposit pada tabungnya dapat
mengurangi efisiensi[3][4]

[sunting] Biogas terhadap gas alam


Jika biogas dibersihkan dari pengotor secara baik, ia akan memiliki karakteristik yang
sama dengan gas alam. JIka hal ini dapat dicapai, produsen biogas dapat menjualnya
langsung ke jaringan distribusi gas. Akan tetapi gas tersebut harus sangat bersih untuk
mencapai kualitas pipeline. Air (H2O), hidrogen sulfida (H2S) dan partikulat harus
dihilangkan jika terkandung dalam jumlah besar di gas tersebut. Karbon dioksida jarang
harus ikut dihilangkan, tetapi ia juga harus dipisahkan untuk mencapai gas kualitas
pipeline. JIka biogas harus digunakan tanpa pembersihan yang ektensif, biasanya gas ini
dicampur dengan gas alam untuk meningkatkan pembakaran. Biogas yang telah
dibersihkan untuk mencapai kualitas pipeline dinamakan gas alam terbaharui.

[sunting] Penggunaan gas alam terbaharui


Dalam bentuk ini, gas tersebut dapat digunakan sama seperti penggunaan gas alam.
Pemanfaatannya seperti distribusi melalui jaringan gas, pembangkit listrik, pemanas
ruangan dan pemanas air. Jika dikompresi, ia dapat menggantikan gas alam terkompresi
(CNG) yang digunakan pada kendaraan.

. PENDAHULUAN
Beberapa tahun terakhir ini energi merupakan persoalan yang krusial didunia.
Peningkatan permintaan energi yang disebabkan oleh pertumbuhan populasi penduduk
dan menipisnya sumber cadangan minyak dunia serta permasalahan emisi dari bahan
bakar fosil memberikan tekanan kepada setiap negara untuk segera memproduksi dan
menggunakan energi terbaharukan. Selain itu, peningkatan harga minyak dunia hingga
mencapai 100 U$ per barel juga menjadi alasan yang serius yang menimpa banyak
negara di dunia terutama Indonesia.
Lonjakan harga minyak dunia akan memberikan dampak yang besar bagi pembangunan
bangsa Indonesia. Konsumsi BBM yang mencapai 1,3 juta/barel tidak seimbang dengan
produksinya yang nilainya sekitar 1 juta/barel sehingga terdapat defisit yang harus
dipenuhi melalui impor. Menurut data ESDM (2006) cadangan minyak Indonesia hanya
tersisa sekitar 9 milliar barel. Apabila terus dikonsumsi tanpa ditemukannya cadangan
minyak baru, diperkirakan cadangan minyak ini akan habis dalam dua dekade
mendatang.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak pemerintah telah
menerbitkan Peraturan presiden republik Indonesia nomor 5 tahun 2006 tentang
kebijakan energi nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai
pengganti bahan bakar minyak. Kebijakan tersebut menekankan pada sumber daya yang
dapat diperbaharui sebagai altenatif pengganti bahan bakar minyak
Salah satu sumber energi alternatif adalah biogas. Gas ini berasal dari berbagai macam
limbah organik seperti sampah biomassa, kotoran manusia, kotoran hewan dapat
dimanfaatkan menjadi energi melalui proses anaerobik digestion. Proses ini merupakan
peluang besar untuk menghasilkan energi alternatif sehingga akanmengurangi dampak
penggunaan bahan bakar fosil

2. ANAEROBIK DIGESTION
Biogas merupakan sebuah proses produksi gas bio dari material organik dengan bantuan
bakteri. Proses degradasi material organik ini tanpa melibatkan oksigen disebut anaerobik
digestion Gas yang dihasilkan sebagian besar (lebih 50 % ) berupa metana. material
organik yang terkumpul pada digester (reaktor) akan diuraiakan menjadi dua tahap
dengan bantuan dua jenis bakteri. Tahap pertama material orgranik akan didegradasi
menjadi asam asam lemah dengan bantuan bakteri pembentuk asam. Bakteri ini akan
menguraikan sampah pada tingkat hidrolisis dan asidifikasi. Hidrolisis yaitu penguraian
senyawa kompleks atau senyawa rantai panjang seperti lemak, protein, karbohidrat
menjadi senyawa yang sederhana. Sedangkan asifdifikasi yaitu pembentukan asam dari
senyawa sederhana.

Setelah material organik berubah menjadi asam asam, maka tahap kedua dari proses
anaerobik digestion adalah pembentukan gas metana dengan bantuan bakteri pembentuk
metana seperti methanococus, methanosarcina, methano bacterium.
Perkembangan proses Anaerobik digestion telah berhasil pada banyak aplikasi. Proses ini
memiliki kemampuan untuk mengolah sampah / limbah yang keberadaanya melimpah
dan tidak bermanfaat menjadi produk yang lebih bernilai. Aplikasi anaerobik digestion
telah berhasil pada pengolahan limbah industri, limbah pertanian limbah peternakan dan
municipal solid waste (MSW).

3. SEJARAH BIOGAS
Sejarah penemuan proses anaerobik digestion untuk menghasilkan biogas tersebar di
benua Eropa. Penemuan ilmuwan Volta terhadap gas yang dikeluarkan di rawa-rawa
terjadi pada tahun 1770, beberapa dekade kemudian, Avogadro mengidentifikasikan
tentang gas metana. Setelah tahun 1875 dipastikan bahwa biogas merupakan produk dari
proses anaerobik digestion. Tahun 1884 Pasteour melakukan penelitian tentang biogas
menggunakan kotoran hewan. Era penelitian Pasteour menjadi landasan untuk penelitian
biogas hingga saat ini.

4. KOMPOSISI BIOGAS
Biogas sebagian besar mengandung gs metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2), dan
beberapa kandungan yang jumlahnya kecil diantaranya hydrogen sulfida (H2S) dan
ammonia (NH3) serta hydrogen dan (H2), nitrogen yang kandungannya sangat kecil.

Energi yang terkandung dalam biogas tergantung dari konsentrasi metana (CH4).
Semakin tinggi kandungan metana maka semakin besar kandungan energi (nilai kalor)
pada biogas, dan sebaliknya semakin kecil kandungan metana semakin kecil nilai kalor.
Kualitas biogas dapat ditingkatkan dengan memperlakukan beberapa parameter yaitu :
Menghilangkan hidrogen sulphur, kandungan air dan karbon dioksida (CO2). Hidrogen
sulphur mengandung racun dan zat yang menyebabkan korosi, bila biogas mengandung
senyawa ini maka akan menyebabkan gas yang berbahaya sehingga konsentrasi yang di
ijinkan maksimal 5 ppm. Bila gas dibakar maka hidrogen sulphur akan lebih berbahaya
karena akan membentuk senyawa baru bersama-sama oksigen, yaitu sulphur dioksida
/sulphur trioksida (SO2 / SO3). senyawa ini lebih beracun. Pada saat yang sama akan
membentuk Sulphur acid (H2SO3) suatu senyawa yang lebih korosif. Parameter yang
kedua adalah menghilangkan kandungan karbon dioksida yang memiliki tujuan untuk
meningkatkan kualitas, sehingga gas dapat digunakan untuk bahan bakar kendaraan.
Kandungan air dalam biogas akan menurunkan titik penyalaan biogas serta dapat
menimbukan korosif

5. REAKTOR BIOGAS
Ada beberapa jenis reactor biogas yang dikembangkan diantaranya adalah reactor jenis
kubah tetap (Fixed-dome), reactor terapung (Floating drum), raktor jenis balon, jenis
horizontal, jenis lubang tanah, jenis ferrocement. Dari keenam jenis digester biogas yang
sering digunakan adalah jenis kubah tetap (Fixed-dome) dan jenis Drum mengambang
(Floating drum). Beberapa tahun terakhi ini dikembangkan jenis reactor balon yang
banyak digunakan sebagai reactor sedehana dalam skala kecil.
1. Reaktor kubah tetap (Fixed-dome)

Gambar 1. Jenis digester kubah tetap (fixed-dome)


Reaktor ini disebut juga reaktor china. Dinamakan demikian karena reaktor ini dibuat
pertama kali di chini sekitar tahun 1930 an, kemudian sejak saat itu reaktor ini
berkembang dengan berbagai model. Pada reaktor ini memiliki dua bagian yaitu digester
sebagai tempat pencerna material biogas dan sebagai rumah bagi bakteri,baik bakteri
pembentuk asam ataupun bakteri pembentu gas metana. bagian ini dapat dibuat dengan
kedalaman tertentu menggunakan batu, batu bata atau beton. Strukturnya harus kuat
karna menahan gas aga tidak terjadi kebocoran. Bagian yang kedua adalah kubah tetap
(fixed-dome). Dinamakan kubah tetap karena bentunknya menyerupai kubah dan bagian
ini merupakan pengumpul gas yang tidak bergerak (fixed). Gas yang dihasilkan dari
material organik pada digester akan mengalir dan disimpan di bagian kubah.

Keuntungan dari reaktor ini adalah biaya konstruksi lebih murah daripada menggunaka
reaktor terapung, karena tidak memiliki bagian yang bergerak menggunakan besi yang
tentunya harganya relatif lebih mahal dan perawatannya lebih mudah. Sedangkan
kerugian dari reaktor ini adalah seringnya terjadi kehilangan gas pada bagian kubah
karena konstruksi tetapnya.

2. Reaktor floating drum

Reaktor jenis terapung pertama kali dikembangkan di india pada tahun 1937 sehingga
dinamakan dengan reaktor India. Memiliki bagian digester yang sama dengan reaktor
kubah, perbedaannya terletak pada bagian penampung gas menggunakan peralatan
bergerak menggunakan drum. Drum ini dapat bergerak naik turun yang berfungsi untuk
menyimpan gas hasil fermentasi dalam digester. Pergerakan drum mengapung pada
cairan dan tergantung dari jumlah gas yang dihasilkan.
Keuntungan dari reaktor ini adalah dapat melihat secara langsung volume gas yang
tersimpan pada drum karena pergerakannya. Karena tempat penyimpanan yang terapung
sehingga tekanan gas konstan. Sedangkan kerugiannya adalah biaya material konstruksi
dari drum lebih mahal. faktor korosi pada drum juga menjadi masalah sehingga bagian
pengumpul gas pada reaktor ini memiliki umur yang lebih pendek dibandingkan
menggunakan tipe kubah tetap.

3. Reaktor balon

Reaktor balon merupakan jenis reaktor yang banyak digunakan pada skala rumah tangga
yang menggunakan bahan plastik sehingga lebih efisien dalam penanganan dan
perubahan tempat biogas. reaktor ini terdiri dari satu bagian yang berfungsi sebagai
digester dan penyimpan gas masing masing bercampur dalam satu ruangan tanpa sekat.
Material organik terletak dibagian bawah karena memiliki berat yang lebih besar
dibandingkan gas yang akan mengisi pada rongga atas.

6. KONSERVASI ENERGI
Konversi limbah melalui proses anaerobik digestion dengan menghasilkan biogas
memiliki beberapa keuntungan, yaitu :
- biogas merupakan energi tanpa menggunakan material yang masih memiliki manfaat
termasuk biomassa sehingga biogas tidak merusak keseimbangan karbondioksida yang
diakibatkan oleh penggundulan hutan (deforestation) dan perusakan tanah.
- Energi biogas dapat berfungsi sebagai energi pengganti bahan bakar fosil sehingga akan
menurunkan gas rumah kaca di atmosfer dan emisi lainnya.
- Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang keberadaannya duatmosfer akan
meningkatkan temperatur, dengan menggunakan biogas sebagai bahan bakar maka akan
mengurangi gas metana di udara.
- Limbah berupa sampah kotoran hewan dan manusia merupakan material yang tidak
bermanfaaat, bahkan bisa menngakibatkan racun yang sangat berbahaya. Aplikasi
anaerobik digestion akan meminimalkan efek tersebut dan meningkatkan nilai manfaat
dari limbah.
- Selain keuntungan energy yang didapat dari proses anaerobik digestion dengan
menghasilkan gas bio, produk samping seperti sludge. Meterial ini diperoleh dari sisa
proses anaerobik digestion yang berupa padat dan cair. Masing-masing dapat digunakan
sebagai pupuk berupa pupuk cair dan pupuk padat.

7. KESIMPULAN
Harga bahan bakar minyak yang makin meningkat dan ketersediaannya yang makin
menipis serta permasalahan emisi gas rumah kaca merupakan masalah yang dihadapi
oleh masyarakat global. Upaya pencarian akan bahan bakar yang lebih ramah terhadap
lingkungan dan dapat diperbaharui merupakan solusi dari permasalahan energi tersebut.
Untuk itu indonesia yang memiliki potensi luas wilayah yang begitu besar, diharapkan
untuk segera mengaplikasi bahan bakar nabati. Biogas merupakan gas yang dihasilkan
dari proses anaerobik digestion dan memiliki prosepek sebagai energi pengganti bahan
bakar fosil yang keberadaaanya makin

8. DAFTAR PUSTAKA

Singh, R.K and Misra, 2005, Biofels from Biomass, Department of Chemical
Engineering National Institue of Technology, Rourkela

Presiden Republik Indonesia, 2006, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5


Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional, Jakarta

Prihandana, R. dkk, 2007, Meraup Untung dari Jarak Pagar, Jakarta , P.T Agromedia
Pustaka

Tim Nasional Pengembangan BBN, 2007, BBN, Bahan Bakar Alternatif dari Tumbuhan
Sebagai Pengganti Minyak Bumi

Daugherty E.C, 2001, Biomass Energy Systems Efficiency:Analyzed through a Life


Cycle Assessment, Lund Univesity.

Instruksi Presiden, Instruksi Preiden No 1 tahun 2006 tertanggal 25 januari 2006 tentang
penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati (biofuels), sebagai energi alternative,
Jakarta.
Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, 2004, Potensi energi terbaharukan di
Indonesia, Jakarta

Dasar-Dasar Teknologi Biogas

Biogas adalah gas mudah terbakar (flammable) yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-
bahan
organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara). Pada
umumnya
semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas, namun demikian hanya
bahan
organik (padat, cair) homogen seperti kotoran dan urine (air kencing) hewan ternak yang cocok
untuk
sistem biogas sederhana. Disamping itu juga sangat mungkin menyatukan saluran
pembuangan di
kamar mandi atau WC ke dalam sistem Biogas. Di daerah yang banyak industri pemrosesan
maka-
nan antara lain tahu, tempe, ikan pindang atau brem bisa menyatukan saluran limbahnya ke
dalam
sistem Biogas, sehingga limbah industri tersebut tidak mencemari lingkungan di sekitarnya.
Hal ini
memungkinkan karena limbah industri tersebut diatas berasal dari bahan organik yang homogen.

Jenis bahan organik yang diproses sangat mempengaruhi produktifitas sistem biogas disamping
pa-
rameter-parameter lain seperti temperatur digester, pH, tekanan dan kelembaban udara.

Salah satu cara menentuka bahan organik yang sesuai untuk menjadi bahan masukan sistem
Bio-
gas adalah dengan mengetahui perbandingan Karbon (C) dan Nitrogen (N) atau disebut rasio
C/N.
Beberapa percobaan yang telah dilakukan oleh ISAT menunjukkan bahwa aktifitas metabolisme
dari
bakteri methanogenik akan optim

Biogas, sebuah pengantar

Semangat pemerintah dalam upaya mengefesienkan biaya anggaran dengan secara


bertahap mengurangi subsidi BBM mengakibatkan dikembangkannya sektor energi
alternatif dan terbarukan. Teknologi biogas merupakan teknologi yang relatif sudah
sangat tua dikembangkan dan digunakan di berbagai negara sejak puluhan tahun yang
lalu. Teknologi ini mudah diaplikasikan dan di operasikan bahkan di berbagai belahan
dunia, mulai dari pedalaman afrika dengan teknik super sederhana, sampai skala industri
di Jerman. Teknologi ini sangat sesuai dikembangkan di Nusa Tenggara Barat (NTB),
mengingat NTB merupakan salah satu sentra penghasil ternak terbesar di Indonesia.

Selain potensi aplikasinya yang memadai (mudah di buat), produksi biogas juga
memberikan nilai tambah ekonomis bagi masyarakat sebagai sarana penyedia energi siap
pakai. Berdasarkan basis perhitungan pemanfaatan kotoran 2 ekor sapi, maka produksi
biogas dapat mencapai 1m3 perhari. 1 m3 Biogas setara dengan:

• 60-100 watt lampu bohlam selama 6 jam.


• 5-6 jam memasak menggunakan kompor gas
• Setara dengan 0,7 liter bensin
• Dapat memproduksi 1,25 kwh listrik

Biogas merupakan campuran gas Metana (60-70%), CO2 dan gas lainnya yang dihasilkan
oleh bakteri metanogenesis yang terdapat pada rawa dan perut rumansia seperti sapi dan
kerbau. Biogas terbentuk melalui tiga tahap, yaitu: hidrolisis, asidifikasi (pengasaman),
dan metanogenesis. Pada tahap hidrolisis, molekul-molekul dioksidasi secara enzimatik
menjadi molekul-molekul pendek. Molekul rantai pendek tersebut di uraikan lebih lanjut
menjadi asam organik oleh bakteri asetogenik. Selanjutnya asam organik tersebut
diuraikan membentuk gas metana. Keseluruhan gas yang diproduksi pada ketiga tahap
proses tersebut dinamakan biogas. Tahap pembuatan biogas dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1: Tahap pembuatan biogas

Pembuatan Biogas

Semua bahan organik dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan biogas, sampah
hijau, kotoran ternak maupun unggas. Namun demikian, kotoran hewan lebih sering
dipilih karena ketersediaannya yang melimpah, memiliki keseimbangan nutrisi, mudah
dicerna dan relatif dapat diproses secara biologi. Kotoran sapi merupakan substrat yang
dianggap paling cocok karena telah secara alami mengandung bakteri penghasil gas
metana.

Secara teknis proses pembentukan biogas berlangsung dalam biodigester yang


merupakan wadah kedap udara tempat terbentuknya biogas. Biodigester ini dapat dibuat
dari drum, beton atau plastik. Teknologi biodigester yang saat ini paling banyak
dikembangkan adalah menggunakan plastik polietilen. Penggunaan plastik sebagai
material konstruksi sangat menguntungkan karena sederhana, mudah diinstalasi dan
dioperasikan dengan harga yang sangat murah dibandingkan menggunakan drum atau
beton. Harga material instalasi berkisar andara 200-300 ribu rupiah. Teknologi
biodigester plastik ini sangat direkomendasikan terutama karena harganya yang sangat
murah, operasionalnya mudah, sederhana dan sangat mudah dibuat. Lebih dari 200 ribu
unit instalasi biogas plastik telah dibangun dan beroperasi dengan baik di Vietnam.
Plastik juga tahan lama dengan usia pakai dapat mencapai 5-10 tahun. Ilustrasi
biodigester plastik ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2: Ilustrasi instalasi biodigester plastik

Berdasarkan Gambar 2, kotoran ternak secara langsung dibersihkan menggunakan air


dari lantai kandang. Campuran air dan kotoran masuk kedalam biodigester dan diproses
membentuk biogas. Gas akan masuk ke dalam tabung penampung gas dan langsung ias
digunakan untuk memasak atau keperluan lainnya. Sedangkan keluaran/output digester
dapat langsung digunakan sebagai pupuk cair atau dikeringkan menjadi pupuk kompos.
Informasi lengkap mengenai teknik pembuatan biodigester dari bahan plastic ini
sebenarnya telah sangat banyak dipublikasikan. Namun kebanyakan menggunakan
bahasa inggris. Sebuah kelompok pecinta pertanian telah mendokumentasikan tata cara
pembuatan biodigester plastic dengan cukup detail. Dokumen yang menjelasan detail
teknis pembuatan biodigester dari plastic tersebut di lampirkan dalam attachment (Teknik
pembuatan biodigester dari plastik dan Biogas skala rumah tangga).

Kotoran sapi menjadi listrik

Salah satu pemanfaatan biogas yang sangat strategis namun belum banyam di terapkan
adalah menjadikannya bahan baker generator listrik. Karena ketika sudah menjadi listrik
maka akan sangat mudah untuk di manfaatkan dengan berbagai macam cara. Baik untuk
penerangan, atau menjadi sumber energi bagi alat-alat listrik lainnya. Balai besar
Pengembangan Mekanisasi Pertanian –Serpong telah berhasil mengembangkan
pembangkit listrik skala rumah tangga menggunakan bahan baker campuran solar-biogas,
teknologi ini bias diadopsi dan menurut hemat penulis sangat aplikatif untuk masyarakat,
terutama di daerah terpencil. Penulis juga berkeyakinan bahwa modifikasi Gen-set
berbahan bakar bensin juga dapat dilakukan melalui penambahan converter. Strateginya
mirip dengan penambahan converter pada mesin mobil berbahan bakar bensin agar
mampu menggunakna bahan bakar gas. Namun demikian penelitian lebih lanjut untuk
kasus generator listerik berbahan bakar murni biogas ini masih perlu dilakukan. Atikel
mengenai pembangkit listrik tenaga solar-biogas di lampirkan di attachment.

Biogas di Gumi Sasak


Penulis pernah memfasilitasi pembuatan biogas di Kampung Bunmundrak, Desa
Sukarare, Lombok Tengah dengan hasil yang memuaskan. Biodigester plastik yang
dibuat mampu memproduksi gas secara terus-menerus dan dapat dipergunakan untuk
memasak. Pengalaman ini bisa dijadikan contoh untuk penerapan teknologi ini di
kalangan masyakat yang lebih luas. Dokumentasi mengenai aktifitas penulis dan
kelompok peternak di Lombok Tengah ketika melakukan percobaan pembuatan
biodigester plastik dapat dilihat di Gambar 3.

Gambar 3. Pembuatan biodigester di Bunmundrak-Sukarare-Lombok Tengah

al pada nilai rasio C/N sekitar 8-20.

2.3. Perhitungan Peluang Pemanfaatan Biogas dalam Mengatasi Masalah BBM

Program penghapusan BBM yang dilaksanakan pada tahun 2005 akan menjadi
momentum yang tepat dalam penggunaan energi alternatif seperti biogas. Hal ini bisa
dihitung dengan adanya jumlah bahan baku biogas yang melimpah dan rasio antara
energi biogas dan energi minyak bumi yang menjanjikan (8900 kkal/m3 gas methan
murni) [7].

Hal yang pertama harus diperhitungkan dalam menghitung jumlah energi yang dihasilkan
adalah berapa banyak jumlah bahan baku yang dihasilkan. Jumlah bahan baku gas ini
didapatkan dengan menjumlahkan jumlah feses dan sampah organik yang dihasilkan
setiap hari. Jumlah bahan baku ini akan menentukan berapa jumlah energi dan volume
alat pembentuk biogas [5].
Sebagai pertimbangan, telah diketahui di China dan India, dalam 1 hari jumlah feses yang
dihasilkan 1 ekor sapi adalah 5 kg [7] dan 80 kilogram kotoran sapi yang dicampur 80
liter air dan potongan limbah lainnya dapat menghasilkan 1 meter kubik biogas [1]. Jika
diasumsikan bahwa jumlah feses manusia yang dihasilkan sebanyak 0.5 kg/hari/orang, 1
keluarga terdiri dari 5 orang, dan setiap keluarga memelihara 1 ekor sapi, serta 1 desa
terdiri dari 40 orang, maka akan didapatkan hasil perhitungan jumlah feses yang
dihasilkan sebanyak 140 kg feses/ hari. Dengan jumlah ini, maka biogas yang dihasilkan
setiap hari sebanyak 1,75 m3/hari atau sebesar 15.575 kkal/hari.

Hal ini akan semakin mengejutkan dengan adanya perhitungan bahwa jumlah penduduk
indonesia berdasarkan data statistik pada tahun 2000 sebanyak lebih dari 200 juta jiwa
[9]. Dengan hanya mengandalkan asumsi perhitungan jumlah kotoran manusia tanpa
memperhitungan sampah organik dan feses hewan ternak, akan didapatkan hasil feses
sebanyak 100 juta kg feses/hari atau 1,25 juta m3/hari atau 11.125 juta kkal/hari. Apabila
dengan asumsi konversi 1 J = 4.2 kal maka akan didapatkan hasil total energi yang
dihasilkan hanya dari jumlah penduduk adalah sebesar 30.66 MW.