Anda di halaman 1dari 14

DAFTAR ISI

BAB I ...................................................................................................................................................... 2 PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 2 A. B. C. Latar Belakang ............................................................................................................................ 2 Tujuan ......................................................................................................................................... 2 Rumusan Masalah ....................................................................................................................... 2

BAB II..................................................................................................................................................... 3 ISI............................................................................................................................................................ 3 A. B. 1. 2. C. 1. 2. 3. D. 1. 2. 3. 4. 5. E. 1. 2. Bunga Krisan .............................................................................................................................. 3 Manfaat Bunga Krisan ................................................................................................................ 4 Bunga pot ................................................................................................................................ 4 Bunga potong .......................................................................................................................... 5 Syarat Pertumbuhan .................................................................................................................... 5 Iklim ........................................................................................................................................ 5 Media Tanam .......................................................................................................................... 6 Ketinggian Tempat.................................................................................................................. 6 Pembudidayaan Tanaman ........................................................................................................... 6 Pembibitan .............................................................................................................................. 6 Pengolahan media tanam ........................................................................................................ 7 Teknik penanaman .................................................................................................................. 8 Pemeliharaan tanaman ............................................................................................................ 8 Panen ..................................................................................................................................... 10 Hama dan Penyakit ................................................................................................................... 10 Hama ..................................................................................................................................... 10 Penyakit................................................................................................................................. 11

BAB III ................................................................................................................................................. 13 KESIMPULAN ..................................................................................................................................... 13 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 14

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Setelah ditanam, tanaman memerlukan pemeliharaan karena selama pertumbuhan kadang kala mengalami hal-hal yang kurang menguntungkan seperti : gangguan hama, gulma, iklim yang buruk, kekurangan air dan sebagainya. Gangguan tersebut dapat menurunkan mutu hasil. Oleh karena itu, perlu adanya tindakan untuk menekan serendah mungkin faktor-faktor penghambat tersebut. Dalam hal ini, pemeliharaan tanaman sangatlah penting, karena merupakan salah satu faktor penentu dalam produktivitas tanaman. Semakin baik cara pemeliharaan tanamannya, maka semakin tinggi pula produktivitas tanaman dan begitu juga sebaliknya. Pemeliharaan tanaman disini dimaksudkan dengan semua tindakan manusia yang bertujuan untuk memberi kondisi lingkungan yang menguntungkan sehingga tanaman tetap tumbuh dengan baik dan mampu memberikan hasil atau produksi yang maksimal. Oleh karena itu, pemeliharaan sangatlah penting dalam proses budidaya tanaman karena merupakan salah satu faktor utama. Tidak terkecuali tanaman Krisan, tanaman ini juga membutuhkan pemeliharaan tanaman yang baik. Krisan merupakan komoditas andalan dalam industri hortikultura yang memiliki prospek pasar cukup cerah. Bunga yang dikenal sebagai salah satu Raja Bunga Potong ini semakin banyak penggemarnya. Selain bentuk dan tipe yang yang beragam, warna bunganya pun sangat bervariasi, dengan kombinasi warna yang indah. Karena itu, permintaan pasar baik dalam maupun luar negeri semakin meningkat setiap tahunnya, terutama untuk Bunga Krisan potong tipe standar yang sangat diminati dan laris di pasaran.

B. Tujuan Mengetahui bagaimana proses kegiatan pemeliharaan tanaman Krisan potong tipe standar sejak penanaman hingga panen.

C. Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. 5. Apa itu Bunga Krisan ? Apa saja manfaat dari Bunga Krisan ? Apa saja syarat atau lingkungan tumbuh yang baik untuk Bunga Krisan ? Seperti apakah kegiatan pemeliharaan tanaman yang baik untuk Bunga Krisan ? Apa saja hama dan penyakit yang dapat menyerang Bunga Krisan ?

BAB II ISI
A. Bunga Krisan Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicum (kuning), C. morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, dan tahun 797 bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East. Tanaman krisan dari Cina dan Jepang menyebar ke kawasan Eropa dan Perancis tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan di Inggris. Jenis atau varietas krisan modern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial (Prihatman, Kemal. 2000).

Beragam jenis krisan dibudidayakan untuk memenuhi preferensi konsumen. Berdasarkan jumlah bunga yang dipelihara pada satu tangkai, bunga krisan dapat dibagi menjadi dua tipe, yaitu tipe spray dan dan tipe standar. Pada bunga tipe spray, bunga terminal dibuang sehingga bunga-bunga lateral tumbuh dan mekar serempak. Pada bunga tipe standar, bunga lateral dibuang sehingga pada satu tangkai disisakan satu bunga terminal yang tumbuh membesar. Setiap tangkai bunga krisan terdiri atas banyak bunga yang disebut floret. Pada bagian dalam tiap floret dijumpai lima buah petal yang bersatu dan membentuk korola. Floret yang terdapat pada bagian luar disebut ray floret, sedang bagian dalam disebut disk floret. Tiap ray floret terdapat pistil yang terdiri atas ovari, bakal biji dan stilus yang menghubungkan ovari dengan stigma. Ray floret umumnya hanya mengandung pistil dan tidak mempunyai stamen dan polen, sedangkan disk floret mengandung dua alat reproduktif,

sehingga mempunyai banyak kemungkinan menghasilkan biji. Berdasarkan bentuk bunganya, krisan dapat dibedakan ke dalam lima kelompok, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. Tunggal, tersusun atas satu atau dua ray floret dan disk floret pada bagian tengahnya; Anemon, mirip dengan bunga tunggal tetapi piringan dasar bunganya lebar dan tebal (warna disk floret dapat sama atau berbeda dengan warna ray floret); Pompon, bentuk bunga yang bulat seperti bola dibentuk oleh ray floret yang pendek dan seragam (disk floret tidak tampak karena tertutup oleh ray floret); Dekoratif, bentuk bunga mirip pompon tetapi susunan ray floret di bagian terluar lebih panjang daripada bagian tengah bunga, dan Exhibition, bunga berukuran besar dengan diameter lebih dari 10 cm (disk floret tidak tampak).

Ray floret memiliki banyak variasi, antara lain incurve (melengkung ke dalam), reflex (melengkung ke luar), spider (berbentuk tabung ramping panjang pada baris terluar dan pendek pada bagian tengah. Bentuk ray floret terluar pada ujungnya kadang-kadang melengkung seperti mata kail), spoon (bagian terluar berbentuk seperti sendok) maupun bentuk lainnya (Wediyanto, Agus. 2007).

B. Manfaat Bunga Krisan Kegunaan tanaman krisan yang utama adalah sebagai bunga hias. Manfaat lainadalah sebagai tumbuhan obat tradisional dan penghasil racun serangga. Sebagai bunga hias, krisan di Indonesia digunakan sebagai : 1. Bunga pot

Ditandai dengan sosok tanaman kecil, tingginya 20-40 cm, berbunga lebat dan cocok ditanam di pot, polibag atau wadah lainnya. Contoh krisan mini (diameter bunga kecil) ini adalah varietas Lilac Cindy (bunga warna ping keungu-unguan), Pearl Cindy (putih kemerah-merahan), White Cindy (putih dengan tengahnya putih kehijau-

hijauan), Applause (kuning cerah), Yellow Mandalay (semuanya dari Belanda).Krisan introduksi berbunga besar banyak ditanam sebagai bunga pot, terdapat 12 varitas krisan pot di Indonesia, yang terbanyak ditanam adalah varietas Delano (ungu), Rage (merah) dan Time (kuning). 2. Bunga potong

Ditandai dengan sosok bunga berukuran pendek sampai tinggi, mempunyai tangkai bunga panjang, ukuran bervariasi (kecil, menengah dan besar), umumnya ditanam di lapangan dan hasilnya dapat digunakan sebagai bunga potong. Contoh bunga potong amat banyak antara lain Inga, Improved funshine, Brides, Greenpeas, Great verhagen, Puma, Reagen, Cheetah, Klondike dll (Prihatman, Kemal. 2000).

C. Syarat Pertumbuhan Krisan termasuk tanaman yang tidak tahan genangan, kurang menyukai cahaya matahari dan percikan air hujan yang langsung. Oleh karena itu budidaya krisan sebaiknya dilakukan dalam bangunan rumah lindung berupa rumah plastik atau rumah kaca (Sudaryanto, Bambang. 2006). 1. Iklim - Untuk pembungaan membutuhkan cahaya yang lebih lama yaitu dengan bantuan cahaya dari lampu TL dan lampu pijar. Penambahan penyinaran yang paling baik adalah tengah malam antara jam 22.30 01.00 dengan lampu 150 watt untuk areal 9 m dan lampu dipasang setinggi 1,5 m dari permukaan tanah. Periode pemasangan lampu dilakukan sampai fase vegetatif (2 - 8 minggu) untuk mendorong pembentukan bunga. - Suhu udara terbaik untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah antara 20 - 26 C. Toleran suhu udara untuk tetap tumbuh adalah 17 - 30 C. Pada fase vegetatif, kisaran suhu harian yang dikehendaki untuk pertumbuhan optimal yaitu 22 28 C (siang hari) dan tidak melebihi 26 C (malam hari). Sedangkan pada fase generatif, suhu harian ideal yaitu 16 18 C. Jika suhu lebih dari 18 C, bunga yang dihasilkan cenderung berwarna kusam, pucat, dan memudar (Sudaryanto, Bambang. 2006).

Tanaman krisan membutuhkan kelembaban yang tinggi untuk awal pembentukan akar bibit, setek diperlukan 90 95 %. Tanaman muda sampai dewasa antara 70 - 80 %, diimbangi dengan sirkulasi udara yang memadai. Kadar CO2 di alam sekitar 3000 ppm. Kadar CO yang ideal untuk memacu fotosintesa antara 600 - 900 ppm. Pada pembudidayaan tanaman krisan dalam bangunan tertutup, seperti rumah plastik, greenhouse, dapat ditambahkan CO, hingga mencapai kadar yang dianjurkan.

2.

Media Tanam - Tanah yang ideal untuk tanaman krisan adalah bertekstur liat berpasir, subur, gembur dan drainasenya baik, tidak mengandung hama dan penyakit. - Derajat keasaman tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman sekitar 5,5 6,7. - Kemiringan lahan harus kurang dari 10 %. - Harus terbebas dari cemaran bahan kimia berbahaya, pohon yang menaungi rumah lindung serta bahan lain yang menghalangi munculnya ekspresi gen tanaman secara optimal (Wediyanto, Agus. 2007).

3. Ketinggian Tempat Ketinggian tempat yang ideal untuk budidaya tanaman ini antara 7001200 m dpl (Prihatman, Kemal. 2000).

D. Pembudidayaan Tanaman 1. Pembibitan

Persyaratan bibit

Bibit diambil dari induk sehat, berkualitas prima, daya tumbuh tanaman kuat bebas dari hama dan penyakit dan komersial di pasar. Bibit yang berkualitas yaitu bibit dengan kemurnian genetik tinggi, sehat (bebas patogen terutama penyakit sistemik), tidak mengalami gangguan fisiologis, mempunyai daya tumbuh kuat

dan meiliki nilai komersial di pasaran. Pilihlah bibit dan varietas yang baik, yaitu varietas yang produktif, adaptif di daerah tropik dan tidak menunjukkan gejala degeneratif (Sudaryanto, Bambang. 2006). Penyiapan bibit

Pembibitan krisan dilakukan dengan cara vegetatif yaitu dengan anakan, setek pucuk dan kultur jaringan. Bibit asal anakan Bibit asal stek pucuk

Tentukan tanaman yang sehat dan cukup umur. Pilih tunas pucuk yang tumbuh sehat, diameter pangkal 3-5 mm, panjang 5 cm, mempunyai 3 helai daun dewasa berwarna hijau terang, potong pucuk tersebut, langsung semaikan atau disimpan dalam ruangan dingin bersuhu udara 4 derajat C, dengan kelembaban 30 % agar tetap tahan segar selama 3-4 minggu. Cara penyimpanan stek adalah dibungkus dengan beberapa lapis kertas tisu, kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik rata-rata 50 stek. Teknik penyemaian bibit

Siapkan tempat atau lahan pesemaian berupa bak-bak berukuran lebar 80 cm, kedalaman 25 cm, panjang disesuaikan dengan kebutuhan dan sebaiknya bak berkaki tinggi. Bak dilubangi untuk drainase yang berlebihan. Medium semai berupa pasir steril hingga cukup penuh. Semaikan setek pucuk dengan jarak 3 cm x 3 cm dan kedalaman 1-2 cm, sebelum ditanamkan diberi Rotoon (ZPT). Setelah tanam pasang sungkup plastik yang transparan di seluruh permukaan Pemeliharaan pembibitan/penyemaian

Pemeliharaan untuk stek pucuk yaitu penyiraman dengan sprayer 2-3 kali sehari, pasang bola lampu untuk pertumbuhan vegetatif, penyemprotan pestisida apabila tanaman di serang hama atau penyakit. Buka sungkup pesemaian pada sore hari dan malam hari, terutama pada beberapa hari sebelum pindah ke lapangan. Pemindahan bibit

Bibit stek pucuk siap dipindahtanamkan ke kebun pada umur 10-14 hari setelah semai dan bibit dari kultur jaringan bibit siap pindah yang sudah berdaun 5-7 helai dan setinggi 7,5-10 cm.

2. Pengolahan media tanam - Pembentukan bedengan

Olah tanah dengan menggunakan cangkul sedalam 30 cm hingga gembur, kering anginkan selama 15 hari. Gemburkan yang kedua kalinya sambil dibersihkan dari gulma dan bentuk bedengan dengan lebar 100-120 cm, tinggi 20 - 30 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antara bedengan 30-40 cm. Pengapuran

Tanah yang mempunyai pH > 5,5, perlu diberi pengapuran berupa kapur pertanian misalnya dengan dolomit, kalsit, zeagro. Dosis tergantung pH tanah. Kebutuhan dolomit pada pH 5 = 5,02 ton/ha, pH 5,2 = 4,08 ton/ha, pH 5,3 = 3,60 ton/ha, pH 5,4 = 3,12 ton/ha. Pengapuran dilakukan dengan cara disebar merata pada permukaan bedengan.

3. Teknik penanaman - Penentuan pola tanam Tanaman bunga krisan merupakan tanaman yangdapat dibudidayakan secara monokultur. Pembuatan lubang tanam

Jarak lubang tanam 10 cm x 10 cm, 20 cm x 20 cm. Lubang tanam dengan cara ditugal. Penanaman biasanya disesuaikan dengan waktu panen yaitu pada hari-hari besar. Waktu tanam yang baik antara pagi atau sore hari. Pupuk dasar

Furadan 3G sebanyak 6-10 butir perlubang. Campuran pupuk ZA 75 gram ditambah TSP 75 gram ditambah KCl 25gram (3:3:1)/m luas tanam, diberikan merata pada tanah sambil diaduk. Cara penanaman

Penanaman dilakukan pada pagi atau sore hari dimana temperatur udara tidak terlalu panas dan sinar matahari belum/tidak terlalu terik. Ambil bibit satu per satu dari wadah penampungan bibit, urug dengan tanah tipis agar perakaran bibit krisan tidak terkena langsung dengan furadan 3G. Tanamkan bibit krisan satu per satu pada lubang yang telah disiapkan sedalam 1-2 cm, sambil memadatkan tanah pelan-pelan dekat pangkal batang bibit. Setelah penanaman siram dengan air dan pasang naungan sementara dari sungkup plastik transparan.

4. Pemeliharaan tanaman - Pengaturan dan penambahan cahaya

Krisan perlu diberi cahaya lampu tambahan untuk menambah panjang hari yang diterima tanaman agar diperoleh tinggi tanaman yang standar. Penambahan cahaya yang paling baik adalah tengah malam antara pukul 22.00 02.00. Penambahan cahaya tersebut dihentikan setelah tanaman berumur 30 35 hari setelah tanam atau rata rata tanamantelah mencapai ketinggian 50 55 cm. Pemupukan susulan Lakukan pemupukan susulan saat tanaman berumur satu bulan setelah tanam. Ulangi secara periodik seminggu sekali dan akhirnya sebulan sekali. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan tiap m luas lahan yaitu a. Pada fase vegetatif : 200gr Urea + 200gr ZA + 100gr KNO b. Pada fase generatif : 10gr Urea + 10gr TSP + 25gr KNO Cara pemberian pupuk yaitu ditaburkan pada larikan secara merata dan tutup dengan tanah bedengan secara sempurna. Pemberian jaring penegak tanaman

Pasanglah jaring penegak tanamansebelum penanaman stek, naikkan jaring perlahan lahan seiring dengan pertumbuhan tanaman hingga panen bunga. Setelah panen, jaring disimpan untuk digunakan pada penanaman berikutnya. Jaring penegak dapat terbuat dari tali plastik atau kawat yang dirangkai/dianyam memanjang searah bedengan.

Penjarangan dan penyulaman

Waktu penyulaman seawal mungkin yaitu 10-15 hari setelah tanam. Penyulaman dilakukan dengan cara mengganti bibit yang mati atau layu permanen dengan bibit yang baru.

Penyiangan

Waktu penyiangan dan penggemburan tanah umumnya 2 minggu setelah tanam. Penyiangan dengan cangkul atau kored dengan hati-hati membersihkan rumput - rumput liar. Pengairan dan penyiraman

Pengairan yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari, pengairan dilakukan kontinu 1-2 kali sehari, tergantung cuaca atau medium tumbuh. Pengairan dilakukan dengan cara mengabutkan air atau sistem irigasi tetes hingga tanah basah (Prihatman, Kemal. 2000). 5. Panen Krisan siap dipanen ketika berumur 3 4 bulan setelah tanam, dengan penentuan stadium panen yaitu ketika bunga telah setengah mekar atau 3 4 hari sebelum mekar penuh. Lakukan pemanenan pada pagi hari pukul 06.00 08.00, saat suhu udara tidak terlalu tinggi dan bunga berturgor optimum (Sudaryanto, Bambang. 2006). Pemanenan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu dipotong tangkainya dan dicabut seluruh tanaman. Tata cara panen bunga krisan adalah tentukan tanaman siap panen, potong tangkai bunga dengan gunting steril sepanjang 60-80 cm dengan menyisakan tunggul batang setinggi 20-30 cm dari permukaan tanah (Prihatman, Kemal. 2000). Letakkan bunga yang telah dipanen pada wadah yang telah disiapkan (ember plastik) dengan pangkal tangkai bunga secara berdiri. Jangan meletakkan bunga hasil panen di atas tanah. Usahakan agar tangkai bunga tidak patah dan daun tidak rusak. Adapun langkah langkah pasca panen dapat dilakukan dengan meletakkan bunga di tempat yang bersih dan terang, kemudian lakukan sortasi dan grading. Pisahkan antara bunga yang mulus dan cacat. Kemudian potong pangkal tangkai bunga sehingga panjangnya memenuhi standard. Buanglah tiga daun terbawah dan daun daun yang tua/kering/terserang hama. Lakukan grading berdasarkan warna, ukuran influoresens, dan panjang tangkai bunga (Sudaryanto, Bambang. 2006).

E. Hama dan Penyakit 1. Hama - Ulat tanah (Agrotis ipsilon) Gejala : Memakan dan memotong ujung batang tanaman muda, sehingga pucuk dan tangkai terkulai. Pengendalian : Mencari dan mengumpulkan ulat pada senja hari dan semprot dengan insektisida. Thrips (Thrips tabacci)

Gejala : Pucuk dan tunas-tunas samping berwarna keperak-perakan atau kekuning-kuningan seperti perunggu, terutama pada permukaan bawah daun. Pengendalian : Mengatur waktu tanam yang baik, memasang perangkap berupa lembar kertas kuning yang mengandung perekat, misalnya IATP buatan Taiwan. Tungau merah (Tetranycus sp) Gejala : Daun yang terserang berwarna kuning kecoklat-coklatan, terpelintir, menebal, dan bercak-bercak kuning sampai coklat. Pengendalian : Memotong bagian tanaman yang terserang berat dan dibakar dan penyemprotan pestisida. Penggerek daun (Liriomyza sp) Gejala : Daun menggulung seperti terowongan kecil, berwarna putih keabu-abuan yang mengelilingi permukaan daun. Pengendalian : Memotong daun yang terserang, penggiliran tanaman, dengan aplikasi insektisida. 2. Penyakit - Karat/Rust Penyebab : Jamur Puccinia sp. karat hitam disebakan oleh cendawan P chrysantemi, karat putih disebabkan oleh P horiana P.Henn. Gejala : Pada sisi bawah daun terdapat bintil-bintil coklat/hitam dan terjadi lekukan-lekukan mendalam yang berwarna pucat pada permukaan daun bagian atas. Bila serangan hebat meyebabkan terhambatnya pertumbuhan bunga. Pengendalian : Menanam bibit yang tahan hama dan penyakit, perompesan daun yang sakit memperlebar jarak tanam dan penyemprotan insektisida. Tepung oidium Penyebab : Jamur Oidium chrysatheemi.

Gejala : Permukaan daun tertutup dengan lapisan tepung putih. Pada serangan hebat daun pucat dan mengering. Pengendalian : Memotong/memangkas daun tanaman yang sakit dan penyemprotan fungisida. Virus kerdil dan mozaik

Penyebab : Virus kerdil krisan, Chrysanhenumum stunt Virus dan Virus Mozaoik Lunak Krisan (Chrysanthemum Mild Mosaic Virus). Gejala : Tanaman tumbuhnya kerdil, tidak membentuk tunas samping, berbunga lebih awal daripada tanaman sehat, warna bunganya menjadi pucat. Penyakit kerdil ditularkan oleh alat-alat pertanian yang tercemar penyakit dan pekerja kebun. Virus mosaik menyebabkan daun belang hijau dan kuning, kadang-kadang bergaris-garis. Pengendalian : Menggunakan bibit bebas virus, mencabut tanaman yang sakit, menggunakan alat-alat pertanian yang bersih dan penyemprotan insektisida untuk pengendalian vektor virus (Prihatman, Kemal. 2000). .

BAB III KESIMPULAN


Tanaman krisan adalah salah satu jenis tanaman bunga yang sangat populer dan diminati di kalangan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, sudah banyak sekali petani yang membudidayakan tanaman krisan ini. Ada dua tipe krisan, yaitu bunga krisan potong tipe standar dan tipe spray. Namun dalam hal ini, yang kami bahasa adalah budidaya tanaman krisan potong tipe standar. Mulai dari memperhatikan lingkungan tumbuh yang cocok untuk krisan, persiapan bibit dengan kualitas yang baik, pengolahan media tanam, teknik penanaman, pemeliharaan tanaman, pemanenan serta jenis jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman krisan beserta cara pengendaliannya.

DAFTAR PUSTAKA

Prihatman, Kemal. 2000. KRISAN ( C. morifolium Ramat, C. indicum, C. daisy ) (pdf). http://www.warintek.ristek.go.id/. (Diakses pada tanggal 21 September 2013 pukul 15.17 WIB) Sudaryanto, Bambang. 2006. BUDIDAYA TANAMAN KRISAN (pdf). http://yogya.litbang.deptan.go.id/. (Diakses pada tanggal 21 September 2013 pukul 15. 34 WIB) Wediyanto, Agus. 2007. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR BUDIDAYA KRISAN POTONG (pdf). http://florikultura.org/. (Diakses pada tanggal 21 September 2013 pukul 15.25 WIB)