Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOLOGI UMUM II
“PENGARUH ALLELOPATI JENIS TUMBUHAN TERHADAP
PERKECAMBAHAN”

Oleh:

Oleh:

Nama : Dian Octarina


NIM : 08081004023
Asisten : Ayu Dian Mardita
Kelompok : III (Tiga)

LABORATORIUM ZOOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2009

ABSTRAK
Praktikum yang berjudul, “Pengaruh Allelopati Jenis Tumbuhan Terhadap
Perkecambahan bertujuan untuk mempelajari pengaruh allelopati dari jenis tumbuhan
terhadap perkecambahan tanaman. Praktikum dilaksanakan pada hari Jum’at, 15-22 Mei
2009 pukul 13.30-15.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya, Inderalaya. Alat
yang digunakan adalah blender, cawan petri, corong penyaring, gelas ukur 10 cc,
kapas/tissue, kertas saring, mangkuk pengerus, penggaris, pipet tetes, piring plastik, dan
pisau/gunting sedangkan bahan yang digunakan adalah Acacia mangium, akuades,
Phaseolus radiates, Zea mays. Dari percobaan, didapat hasil yaitu kita dapat mengetahui
pengaruh allelopati Acacia mangium terhadap pertumbuhan Phaseolus radiates dan
Zea mays, serta faktor-faktor yang mempengaruhi perkecambahan. Kesimpulan yang
didapat pada praktikum ini adalah allelopati menghambat pertumbuhan tumbuhan jenis lain
yang tumbuh yang bersaing dengan tumbuhan allelopati tersebut.

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal
balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga
suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan
hidup yang saling mempengaruhi. Ilmu yang mempelajari ekosistem disebut ekologi.
Ekologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu oikos dan logos. Oikos
artinya rumah atau tempat tinggal, dan logos artinya ilmu. Ekologi merupakan cabang
ilmu yang masih relatif baru, yang baru muncul pada tahun 70-an. Akan tetapi,
ekologi mempunyai pengaruh yang besar terhadap cabang biologinya. Ekologi
mempelajari bagaimana makhluk hidup dapat mempertahankan kehidupannya dengan
mengadakan hubungan atarmakhluk hidup dan dengan benda tak hidup di dalam
tempat hidupnya atau lingkungannya (Anonima 2009 : 1).
Para ahli ekologi mempelajari hal berikut : pertama, perpindahan energi dan
materi dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain ke dalam
lingkungannya dan faktor-faktor yang menyebabkannya. Kedua, perubahan populasi
atau spesies pada waktu yang berbeda dalam faktor-faktor yang menyebabkannya.
Dan ketiga, terjadi hubungan antarspesies (interaksi antarspesies) makhluk hidup dan
hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Komponen-komponen
pembentuk ekosistem adalah komponen hidup (biotik) dan komponen tak hidup
(abiotik). Kedua komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi
membentuk suatu kesatuan yang teratur (Anonima 2009 : 1).
Alelopati merupakan sebuah fenomena yang berupa bentuk interaksi antara
makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya melalui senyawa kimia
(Rohman dan I wayan Sumberartha, 2001). Sedangkan menurut Odum (1971) dalam
Rohman dan I wayan Sumberartha (2001) alelopati merupakan suatu peristiwa
dimana suatu individu tumbuhan yang menghasilkan zat kimia dan dapat
menghambat pertumbuhan jenis yang lain yang tumbuh bersaing dengan tumbuhan
tersebut. Istilah ini mulai digunakan oleh Molisch pada tahun 1937 yang diartikan
sebagai pengaruh negatif dari suatu jenis tumbuhan tingkat tinggi terhadap
perkecambahan, pertumbuhan, dan pembuahan jenis-jenis lainnya. Kemampuan untuk
menghambat pertumbuhan tumbuhan lain merupakan akibat adanya suatu senyawa
kimia tertentu yang terdapat pada suatu jenis tumbuhan (Anonimb 2009 : 1).
Zat-zat kimia atau bahan organik yang bersifat allelopathy dapat dibagi
menjadi dua golongan berdasarkan pengaruhnya terhadap tumbuhan atau tanaman
lain, yaitu autotoxin, yaitu zat kimia bersifat allelopathy dari suatu tumbuhan yang
dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan anaknya sendiri atau individu lain
yang sama jenisnya dan antitoxic, yaitu zat kimia bersifat allelopathy dari suatu
tumbuhan yang dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan tumbuhan lain yang
berbeda jenisnya (Indrianto 2006 : 15).
Zat-zat kimia atau bahan organik yang bersifat allelopathy dilepaskan oleh
tumbuhan penghasilnya ke lingkungan tumbuhan lain melalui beberapa cara antara
lain melalui serasah yang telah jatuh kemudian membusuk, melalui pencucian daun
atau batang oleh air hujan, melalui penguapan dari permukaan organ-organ tumbuhan,
dan eksudasi melalui akar (root exudation) ke dalam tanah. Contoh jenis tumbuhan
yang mengeluarkan zat kimia bersifat allelopatyy melalui daun, misalnya
Adenostena fasciculatum, Eucalyptus globules, Camelina alyssum,
Erenophylla mitchellii, yang mengeluarkan zat allelopathy melalui perakaran
misalnya gandum, gandum hitam, dan apel, sedangkan yang mengeluarkan zat
Allelopathy melalui pembusukan nisalnya Helianthus, Aster, dan Agropyron repens
(Indrianto 2006 : 16).

1.2. Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mempelajari pengaruh alelopati
dari jenis tumbuhan terhadap perkecambahan tanaman.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Interaksi antarkomponen ekologi dapatmerupakan interaksi antarorganisme,
antarpopulasi, dan antarkomunitas. Interaksi antar organisme dimana semua makhluk hidup
selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan
dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau
individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak kita lihat di sekitar kita.
Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan ada yang kurang erat.
Interaksi antarorganisme dapat dikategorikan sebagai netral, predasi, parasitisme,
komensalisme, dan mutualisme. Netral yakni hubungan tidak saling mengganggu
antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak
merugikan kedua belah pihak, disebut netral. Contohnya, antara capung dan sapi. Predasi
adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat sebab
tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai
pengontrol populasi mangsa (Anonimf 2009 : 1)
Interaksi antarpopulasi, yakni terjadi antara populasi yang satu dengan populasi lain
selalu terjadi interaksi secara langsung atau tidak langsung dalam komunitasnya.Contoh
interaksi antarpopulasi adalah alelopati. Allelopathy merupakan interaksi antarpopulasi, bila
populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain.
Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena
tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati
dikenal sebagai anabiosa.Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika
yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu. Kompetisi merupakan interaksi
antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga terjadi
persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi
kambing dengan populasi sapi di padang rumput (Anonimf 2009 : 1).
Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan sistem tumpang sari yaitu pada pohon-
pohon yang ada. Pohon-pohon yang terdapat pada areal hutan yang akan digunakan sebagai
tanaman utama, dapat mengeluarkan zat-zat penghambat tumbuh yang dikenal dengan
allelopathy. Zat-zat penghambat tumbuh yang paling umum adalah senyawa-senyawa
aromatic seperti fenol dan laktan, alkaloid tertentu, asam organic dan asam lemak bahkan
ion-ion logam dapat juga bertindak sebagai penghambat. Pengaruh buruk dari allelopathy
berupa gangguan atau hambatan pada perbanyakan dan perpanjangan sel, aktifitas giberalin
dan Indole Acetid Acid ( IAA ), penyerapan hara, laju fotosintesis, respirasi, pembukaan
mulut daun, sintesa protein, aktivitas enzim tertentu dan lain-lain. Patrick (1971) dalam
Salampessy (1998) menyatakan bahwa hambatan allelopathy dapat pula berbentuk
pengurangan dan kelambatan perkecambahan biji, penahanan pertumbuhan tanaman,
gangguan sistim perakaran, klorosis, layu, bahkan kematian tanaman (Anonimc 2009 : 1).
Alelopati merupakan sebuah fenomena yang berupa bentuk interaksi antara
makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya melalui senyawa kimia
(Rohman dan I wayan Sumberartha, 2001). Sedangkan menurut Odum (1971) dalam
Rohman dan I wayan Sumberartha (2001) alelopati merupakan suatu peristiwa dimana
suatu individu tumbuhan yang menghasilkan zat kimia dan dapat menghambat
pertumbuhan jenis yang lain yang tumbuh bersaing dengan tumbuhan tersebut. Istilah ini
mulai digunakan oleh Molisch pada tahun 1937 yang diartikan sebagai pengaruh negatif
dari suatu jenis tumbuhan tingkat tinggi terhadap perkecambahan, pertumbuhan, dan
pembuahan jenis-jenis lainnya. Kemampuan untuk menghambat pertumbuhan tumbuhan
lain merupakan akibat adanya suatu senyawa kimia tertentu yang terdapat pada suatu jenis
tumbuhan. Dalam Rohman dan I wayan Sumberartha (2001) disebutkan bahwa senyawa-
senyawa kimia tersebut dapat ditemukan pada jaringan tumbuhan (daun, batang, akar,
rhizoma, bunga, buah, dan biji). Lebih lanjut dijelaskan bahwa senyawa-senyawa tersebut
dapat terlepas dari jaringan tumbuhan melalui berbagai cara yaitu melalui penguapan,
eksudat akar, pencucian, dan pembusukan bagian-bagian organ yang mati
(Anonimd 2009 : 1).
Melalui penguapan, senyawa alelopati ada yang dilepaskan melalui penguapan.
Beberapa genus tumbuhan yang melepaskan senyawa alelopati melalui penguapan adalah
Artemisia, Eucalyptus, dan Salvia. Senyawa kimianya termasuk ke dalam golongan
terpenoid. Senyawa ini dapat diserap oleh tumbuhan di sekitarnya dalam bentuk uap,
bentuk embun, dan dapat pula masuk ke dalam tanah yang akan diserap akar. Eksudat akar,
banyak terdapat senyawa kimia yang dapat dilepaskan oleh akar tumbuhan (eksudat akar),
yang kebanyakan berasal dari asam-asam benzoat, sinamat, dan fenolat. Pencucian,
sejumlah senyawa kimia dapat tercuci dari bagian-bagian tumbuhan yang berada di atas
permukaan tanah oleh air hujan atau tetesan embun (Anonimd 2009 : 1).
Hasil cucian daun tumbuhan Crysanthemum sangat beracun, sehingga tidak ada
jenis tumbuhan lain yang dapat hidup di bawah naungan tumbuhan ini. Pembusukan organ
tumbuhan, setelah tumbuhan atau bagian-bagian organnya mati, senyawa-senyawa kimia
yang mudah larut dapat tercuci dengan cepat. Sel-sel pada bagian-bagian organ yang mati
akan kehilangan permeabilitas membrannya dan dengan mudah senyawa-senyawa kimia
yang ada didalamnya dilepaskan. Beberapa jenis mulsa dapat meracuni tanaman budidaya
atau jenis-jenis tanaman yang ditanam pada musim berikutnya. Selain melalui cara-cara
tersebut, pada tumbuhan yang masih hidup dapat mengeluarkan senyawa alelopati lewat
organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah. Demikian juga tumbuhan
yang sudah matipun dapat melepaskan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas
tanah maupun yang di bawah tanah (Anonimd 2009 : 1).
Alelopati tentunya menguntungkan bagi spesies yang menghasilkannya, namun
merugikan bagi tumbuhan sasaran. Oleh karena itu, tumbuhan-tumbuhan yang
menghasilkan alelokimia umumnya mendominasi daerah-daerah tertentu, sehingga populasi
hunian umumnya adalah populasi jenis tumbuhan penghasil alelokimia. Dengan adanya
proses interaksi ini, maka penyerapan nutrisi dan air dapat terkonsenterasi pada tumbuhan
penghasil alelokimia dan tumbuhan tertentu yang toleran terhadap senyawa ini. Proses
pembentukkan senyawa alelopati sungguh merupakan proses interaksi antarspesies atau
antarpopulasi yang menunjukkan suatu kemampuan suatu organisme untuk
mempertahankan kelangsungan hidup dengan berkompetisi dengan organisme lainnya, baik
dalam hal makanan, habitat, atau dalam hal lainnya (Anonime 2009 : 1).
Senyawa-senyawa kimia dari dalam tubuh tumbuhan yang bersifat allelopathy
misalnya phenolic, terpenes, alkaloids, nitrils, glycosides, difenol, asam benzoate, asam
lemak, koumarin, fanin, slfida, glucocida, parin dan nucleocida. Beberapa jenis tumbuhan
penghasil sat allelopathy antara lain, Juglans nigra, Salvia leucophylla, Parthenium
argentatum, Arthemisia absinthium dan A. vulgaris, Encelia farinose, Hordeum vulgare,
Helianthus annuus, dan diduga jenis tumbuhan lainnya yang diduga menghasilkan zat
allelopathy, yaitu genus Eucalyptus, Acacia, pinus, Eucelia, Hordeum, grevillea, Camelina,
Adenostena, Erenophylla, dan Agropyron (Indrianto 2006 : 15).
Alelokimia pada tumbuhan dilepas ke lingkungan dan mencapai organisme sasaran
melalui penguapan, eksudasi akar, pelindian, dan atau dekomposisi. Setiap jenis alelokimia
dilepas dengan mekanisme tertentu tergantung pada organ pembentuknya dan bentuk atau
sifat kimianya. Mekanisme pengaruh alelokimia (khususnya yang menghambat) terhadap
pertumbuhan dan perkembangan organisme (khususnya tumbuhan) sasaran melalui
serangkaian proses yang cukup kompleks, namun menurut Einhellig (1995) proses tersebut
diawali di membran plasma dengan terjadinya kekacauan struktur, modifikasi saluran
membran, atau hilangnya fungsi enzim ATP-ase. Hal ini akan berpengaruh terhadap
penyerapan dan konsentrasi ion dan air yang kemudian mempengaruhi pembukaan stomata
dan proses fotosintesis. Hambatan berikutnya mungkin terjadi dalam proses sintesis protein,
pigmen dan senyawa karbon lain, serta aktivitas beberapa fitohormon. Sebagian atau
seluruh hambatan tersebut kemudian bermuara pada terganggunya pembelahan dan
pembesaran sel yang akhirnya menghambat pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan
sasaran (Anonime 2009 : 1).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat


Praktikum dilaksanakan pada hari Jum’at , 15-22 Mei 2009, pukul 13.30-15.00
WIB bertempat di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya, Inderalaya.

3.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah blender, cawan petri, corong penyaring, gelas ukur
10 cc, kapas/tissue, kertas saring, mangkuk pengerus, penggaris, pipet tetes, piring
plastik, dan pisau/gunting sedangkan bahan yang digunakan adalah Acacia mangium,
akuades, Phaseolus radiatus, Zea mays.

3.3. Cara Kerja

Dibuat ekstrak Acacia mangium, daun akasia dipotong-potong kecil untuk


mempermudah penggilingan dan pemblenderan. Ditimbang potongan daun akasia.
Dicampur potongan akasia dengan air dengan perbandingan (w/v) 1:7 ; 1:14 ; 1:21 ;
1:0 (kontrol) dan diblender sampai halus untuk masing-masing perlakuan. Disaring
ekstrak hasil pemblenderan. Disimpan hasil ekstrak di dalam lemari es (freezer)
selama 24 jam. Dipilih biji jagung dan kacang hijau yang berkualitas baik (besar, tidak
rusak, tenggelam dalam air). Ditaburkan biji jagung dan kacang hijau (10 buah) pada
piring plastik. Disira dengan ekstrak Acacia mangium sesuai dengan masing-masing
perlakuan, sebanyak 10 tetes (setiap hari). Diamati selama 1 minggu dan dihitung
panjang perkecambahan bijinya.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Dari praktikum yang telah dilaksanakan, didapat hasil sebagai berikut:

Pada Phaseolus radiatus maupun Zea mays, tidak tejadi pertumbuhan kecambah.

4.2. Pembahasan
Allelopathy berpengaruh dalam pertumbuhan tumbuhan disekitarnya.
Allelopathy dapat menghambat atau mematikan pertumbuhan/perkecambahan. Hal ini
sesuai dengan Anonimc (2009 : 1) bahwa zat-zat penghambat tumbuh yang paling
umum adalah senyawa-senyawa aromatic seperti fenol dan laktan, alkaloid tertentu,
asam organik dan asam lemak bahkan ion-ion logam dapat juga bertindak sebagai
penghambat. Pengaruh buruk dari alleolopathy berupa gangguan atau hambatan pada
perbanyakan dan perpanjangan sel, aktifitas giberalin dan Indole Acetid Acid ( IAA ),
penyerapan hara, laju fotosintesis, respirasi, pembukaan mulut daun, sintesa protein,
aktivitas enzim tertentu dan lain-lain. Hambatan allelopathy dapat pula berbentuk
pengurangan dan kelambatan perkecambahan biji, penahanan pertumbuhan tanaman,
gangguan sistim perakaran, klorosis, layu, bahkan kematian tanaman.
Perkecambahan benih dapat dipengaruhi oleh faktor yang meliputi : tingkat
kemasakan benih, ukuran benih, dormansi, dan penghambat perkecambahan, serta
faktor luar yang meliputi: air, temperatur, oksigen, dan cahaya. Hal ini sesuai dengan
Sutopo (1983 : 25-29) bahwa benih yang dipanen sebelum mencapai tingkat
kemasakan fisiologis tidak mempunyai viabilitas tinggi. Pada beberapa jenis tanaman,
benih yang demikian tidak akan dapat berkecambah. Hal ini diduga benih belum
memiliki cadangan makanan yang cukup dan pembentukan embrio belum sempurna.
Karbohidrat, protein, lemak, dan mineral ada dalam jaringan penyimpanan benih.
Ukuran benih mempunyai korelasi yang positip terhadap kandungan protein pada
benih. semakin besar/berat ukuran benih maka kandungan protein juga makin
meningkat. Benih dorman adalah benih yang sebenarnya hidup tetapi tidak mau
berkecambah meskipun diletakkan pada lingkungan yang memenuhi syarat untuk
berkecambah. Penyebab dormansi antara lain adalah impermeabilitas kulit biji
terhadap air atau gas-gas (sangat umum pada famili leguminosae), embrio rudimenter,
halangan perkembangan embrio oleh sebab-sebab mekanis, dan adanya bahan-bahan
penghambat perkecambahan. Banyak zat-zat yang diketahui dapat menghambat
perkecambahan benih. Zat-zat tersebut adalah herbisida, auksin, bahan-bahan yang
terkandung dalam buah, larutan mannitol dan NaCl yang mempunyai tingkat osmotik
tinggi, serta bahan yang menghambat respirasi (sianida dan fluorida). Semua
persenyawaan tersebut menghambat perkecambahan tetapi tak dapat dipandang
sebagai penyebab dormansi.
Proses penyerapan terhadap air, juga dilakukan oleh benih tanaman. Hal ini
sesuai dengan Anonimg (2009 : 1) bahwa faktor yang mempengaruhi penyerapan air
oleh benih ada dua, yaitu sifat kulit pelindung benih dan jumlah air yang tersedia pada
medium sekitarnya. Jumlah air yang diperlukan untuk berkecambah bervariasi
tergantung kepada jenis benih, umumnya tidak melampaui dua atau tiga kali dari berat
keringnya. Proses respirasi akan berlangsung selama benih masih hidup. Pada saat
perkecambahan berlangsung, proses respirasi akan meningkat disertai dengan
meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan karbondioksida, air dan energi.
Pada umumnya, proses perkecambahan dapat terhambat bila penggunaan oksigen
terbatas. Temperatur harus dikendalikan dengan teliti beberapa macam benih
berkecambah diatas suatu batas yang lebar dari temperatur yang wajar, tetapi yang
lain mulai tumbuh dengan segera hanya dibatas yang sempit. Benih berkecambah
biasanya pada temperatur dimana benih itu telah menyesuaikan dengan iklim di
tempat benih tersebut dihasilkan. Ketersediaan air di lingkungan sekitar benih
merupakan faktor penting. Kurang tersedianya air pada lingkungan benih akan
menyebabkan jumlah air yang diambil untuk berkecambah menjadi semakin rendah
atau tidak terpenuhi.
Perkecambahan pada biji kacang hijau maupun jagung tidak terjadi. Hal ini
disebabkan karena praktikan tidak melakukan prosedur percobaan sebagai mana
mestinya. Yakni menetesi biji kacang hijau dan jagung sebanyak 10 tetes setiap
harinya secara rutin. Menurut Anonimc (2009 : 1), bahwa laju perkecambahan juga
tergantung pada tanggapan dari jenis benih terhadap daya penghambat dari
allelopathy dimana benih jagung memiliki laju perkecambahan benih yang lebih
lambat dari benih kacang hijau. Hal ini karena kondisi benih jagung yang lebih
memungkinkan untuk menerima daya penghambat dari allelopathy dibandingkan
benih kacang hijau.
BAB V

KESIMPULAN

Dari hasil praktikum diperoleh kesimpulan sebagai berikut:


1. Allelopathy merupakan pengaruh yang menghambat atau merusak pertumbuhan dari
tumbuhan lain disekitar yang disebabkan oleh senyawa kimia yang dihasilkan oleh
suatu tumbuhan ke lingkungannya.
2. Allelopathy adalah senyawa kimia yang menghambat pertumbuhan jenis lain yang
tumbuh bersaing dengan tumbuhan penghasil Allelopathy tersebut.
3. Berdasarkan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tumbuhan, zat-zat kimia yang bersifat
allelopathy dapat dibagi menjadi autotoxic dan antitoxic.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkecambahan terdiri dari faktor dalam dan faktor
luar.
5. Faktor dalam perkecambahan, meliputi tingkat kemasakan benih, ukuran benih,
dormansi, dan penghambat perkecambahan.
6. Faktor luar yang mempengaruhi perkecambahan meliputi : air, temperatur, oksigen, dan
cahaya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim a. 2009. Ekosistem. Http://id.wikipedia.org/wiki/Ekosistem. Diakses tanggal 13


Mei 2009 jam 20:28 WIB.

Anonim b. 2009. Allelopathy. Http://iqbalali.com/2008/01/23/alelopati. Diakses tanggal 13


Mei 2009 jam 19:58 WIB.
Anonim c. 2009. Pengaruh Allelopathy terhadap Perkecambahan. www.irwantoshut.com.
Diakses tanggal 17 Mei 2009 jam 22:13 WIB.

Anonim d. 2009. Allelopathy Gulma. Http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-4.htm.


Diakses tanggal 18 Mei 2009 jam 21:27 WIB.

Anonim e. 2009. Interaksi Populasi. Http://nandito106.wordpress.com/2009/03/02/


alelopati-interaksi-antarpopulasi. Diakses tanggal 19 Mei 2009 jam 20:28 WIB.

Anonim f. 2009. Interaksi Populasi. Http://www.cixers.co.cc/2008/09/interaksi-antar-


komponen-ekologi.html. Diakses tanggal 19 Mei 2009 jam 20:47 WIB.

Indrianto. 2006. Ekologi Hutan. Bumi Aksara. Jakarta : v + 210 hlm.

Sutopo, L. 1985. Teknologi Benih. Grafindo. Jakarta : ix + 223 hlm.

LAMPIRAN GAMBAR