Anda di halaman 1dari 15

36

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mikroba di alam mengambil peranan yang sangat penting dan terdapat di alam dalam berbagai kondisi klimat: baik dingin, panas, basah, kering, ada udara, tidak ada udara, asin, tawar, asam, basa, bertekanan atau tidak bertekanan, simbiosis dengan host atau parasit terhadap host, dan lain sebagainya. Mikroorganisme di alam juga hampir selalu dalam keadaan tercampur. Campuran ini dapat sangat kompleks artinya banyak jenisnya atau walaupun jenisnya sedikit sifat-sifatnya berbeda. Mungkin pula terdapat perbedaan sifat khusus yang agak jauh walaupun dari sifat umumnya sama. Dalam studi dan analisis terhadap mikroba diperlukan isolasi mikroba tersebut dari lingkungannya. Teknik isolasi yang benar dan tepat perlu dilakukan di lapangan dan di laboratorium. Teknik yang benar akan menjamin jenis-jenis yang tepat dan mempermudah mengidentifikasinya (Dwidjoseputro, 2005). Biakan murni diperlukan untuk mempelajari mikroorganisme di dalam laboratorium. Biakan murni adalah suatu biakan yang hanya mengandung satu spesies mikroorganisme. Sebelum menciptakan teknik pembuatan biakan murni, para ahli mikrobiologi mempelajari biakan campuran. Para ahli tersebut dapat mempelajari bentuk dan ukuran mikroorganisme dari biakan campuran tersebut, tetapi mereka hanya mengetahui sedikit mengenai kebutuhan nutrisi atau karakteristik pertumbuhan dari suatu spesies individual (Suriawiria, 2005). Oleh karena itu, praktikum kali ini dilakukan agar praktikan dapat mengetahui teknik isolasi yang benar dan tepat serta dapat mengidentifikasi mikroba melalui morfologi koloni mikroba. Praktikum kali ini yang dilakukan adalah isolasi dan morfologi koloni mikroba yang berguna untuk mengetahui bagaimana cara memisahkan atau mengambil bakteri dari sumbernya karena pada dasarnya bakteri di alam berada di lingkungan hidupnya masing-masing. Dengan begitu apabila bakteri telah

37

dipisahkan (diisolasi) maka dapat dengan mudah dipelajari dalam rangka pengembangan pengetahuan. 1.2 Tujuan 1. Mengetahui cara mengisolasi mikroba. 2. Mengetahui karakteristik pertumbuhan bakteri pada media NA. 3. Mengetahui teknik-teknik mengisolasi mikroba.

38

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Di dalam alam, mikroba terdapat sebagai populasi campuran dari berbagai jenis mikroba yang berbeda. Dengan ilmu pengetahuan tentang mikrobiologi, maka dapat dipelajari spesies mikroba yang telah dipisahkan (diisolasi), tumbuh dalam suatu lingkungan yang bebas dari pencemaran oleh bentuk-bentuk kehidupan lain. Untuk mempelajari kehidupan mikroba perlu dilakukan kulturisasi (pembiakan) dan isolasi (pemisahan) mikroba yang umumnya membutuhkan teknik-teknik tertentu (Sutedjo, 1996). Prinsip dari isolasi mikroba adalah mamisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lain yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat, karena dalam media padat sel-sel mikroba akan membentuk suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya (Sutedjo, 1996). Jika sel-sel tersebut tertangkap oleh media padat pada beberapa tempat yang terpisah, maka setiap sel atau kumpulan sel yang hidup akan berkembang menjadi suatu koloni yang terpisah, sehingga memudahkan untuk melakukan pemisahan selanjutnya (Sutedjo, 1996). Bila digunakan media cair, sel-sel mikroba sulit dipisahkan secara individu karena terlalu kecil dan tidak tetap tinggal di tempatnya. Akan tetapi bila sel-sel tersebut dipisahkan dengan cara pengenceran, kemudian ditumbuhkan dalam media padat dan dibiarkan membentuk koloni, maka sel-sel tersebut selanjutnya dapat diisolasi dalam tabung-tabung reaksi atau cawan petri yang terpisah. Isolasi mikroba dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penggoresan dan penaburan (Sutedjo, 1996). Untuk mempelajari sifat-sifat suatu organisme, adalah penting untuk mempelajarinya dari biakan murni yang bebas dari semua tipe organisme lain. Untuk melakukan ini, sel tunggal harus diisolasi dari seluruh sel lainnya yang dilakukan dengan cara sedemikian rupa sehingga progeni yang terkumpul juga masih terpisah (Suriawiria, 2005).

39

Sebelum melakukan isolasi kita harus menyusun suatu rencana kerja dan mempersiapkan terlebih dahulu medium yang segar, serta peralatan-peralatan gelas yang diperlukan nantinya. Suatu perencanaan yang baik sebelum melakukan isolasi diperlukan agar tidak membuang dana, energi, dan juga waktu untuk kegiatan tersebut (Roosheroe, 2006). Mengisolasi fungi dari substrat berbentuk cair tentu memiliki cara yang berbeda apabila mengisolasinya dari substrat yang padat. Semua sampel yang digunakan harus diberi label dengan kode yang jelas, beserta dengan tanggal pada waktu pengambilan sampel. Hal lain yang juga penting adalah mencatat faktorfaktor lingkungan, antara lain, pH, suhu, kelembapan, salinitas, ketinggian lokasi (keadaan cuaca cerah, mendung), juga makhluk hidup disekitar sampel (Roosheroe, 2006). Medium yang digunakan untuk mengisolasi fungi umumnya menggunakan Potato Dextrose Agar (PDA), Malt Extract Agar (MEA), Czapek Dox Agar (CDA), Carrot Agar (CA), Oat Meal Agar (OA), Dichloran Rose Bengal Chloramphenicol Agar (DRBC), Taoge Extract 6% Sucrose Agar (TEA) (Roosheroe, 2006). Medium yang khusus mempunyai komposisi yang khusus pula sesuai dengan fungi yang nantinya akan diisolasi. Terdapat medium yang bisa dibuat sendiri dan dan ada medium sudah tersedia secara komersil. Medium yang digunakan untuk fungi xerofilik dari ligkungan yang sangat kering, seperti yang berasal dari species Eurotium herbariorum dianjurkan menggunakan medium Dichloran 18% Glycerol (DG18). Medium yang digunakan untuk fungi yang tumbuh di lingkungan yang sangat asam, seperti terdapat dalam acar misalnya, maka medium yang dianjurkan adalah dengan menggunakan medium Acetic Dichloran Yeast Sucrose Agar (ADYESA). Medium yang digunakan untuk bahan-bahan yang mempunyai memiliki kadar protein yang tinggi seperti keju, daging, dan kacang-kacangan dianjurkan menggunakan medium Dichloran Creatine Sucrose Bromocresole Agar (DCSBA). (Roosheroe, 2006). Pengalaman telah membuktikan bahwa keberhasilan dalam mengisolasi yang dilakukan dengan cara modifikasi cukup baik. Faktor yang sangat menentukan

40

keberhasilan pada waktu mengisolasi fungi adalah medium isolasi dan juga suhu yang tepat pada saat proses inkubasi (Roosheroe, 2006). Yang disebut sebagai sifat-sifat suatu koloni ialah sifat-sifat yang ada sangkut-pautnya dengan bentuk, susunan, permukaan, pengkilatan, dan lain sebagainya sifat-sifat suatu koloni ini dapat dilakukan dengan pandangan biasa tanpa menggunakan alat bantu, misalnya mikroskop: pengamatan seperti ini disebut dengan pengamatan mikroskopi. Supaya sifat-sifat tersebut tampak dengan jelas, maka bakteri perlu ditumbuhkan pada medium yang padat (Dwidjoseputro, 2005). Sifat-sifat yang perlu diperhatikan pada koloni yang tumbuh di permukaan medium ialah: Besar kecilnya koloni Ada koloni yang hanya serupa suatu titik, ada pula yang melebar sampai menutup permukaan medium. Bentuk Ada koloni yang berbentuk bulat, ada yang memanjang. Ada yang tepinya rata, ada yang tepinya tidak rata. Kenaikan permukaaan Ada koloni yang rata saja dengan permukaan medium, ada pula koloni yang timbul, yaitu menjulang tebal di atas permukaan medium. Halus-kasarnya permukaan Ada koloni yang permukaannya halus saja, ada yang permukaannya kasar, tidak rata. Wajah permukaan Ada koloni yang permukaanya mengkilat, ada koloni yang permukaanya suram. Warna Kebanyakan kolon bakteri itu berwarna keputihan atau kekuning-kuningan, akan tetapi ada juga koloni yang kemerah-merahan, coklat, jingga, biru, hijau, ungu.

41

Kepekatan Ada koloni yang lunak seperti lendir, ada juga koloni yang lunak seperti mentega, ada koloni yang keras, dan ada koloni yang kering. Sifat-sifat khusus suatu koloni yang terdapat dalam medium yang berbentuk padat, antara lain: (agar-agar lempengan, agar-agar miring, dan tusukan gelatin). Sifat-sifat koloni pada agar-agar lempengan mengenai bentuk, permukaan, dan tepi. Bentuk koloni dilukiskan sebagai titik, bulat, berbenang, tak teratur, serupa akar, serupa kumparan. Permukaan koloni dapat datar, timbul mendatar, timbul melengkung, timbul berkawah. Tepi koloni ada yang utuh, ada yang berombak, ada yang berbelah-belah, ada yang bergerigi, ada yang berenangrenang, ada yang keriting. Sifat-sifat koloni pada agar-agar miring Sifat-sifat ini berkisar pada bentuk dan tepi koloni, dan sifat-sifat ini berkisar dan dinyatakan dengan kata-kata seperti serupa pedang, serupa duri, serupa tasbih, serupa titik-titik, serupa batang, dan serupa akar. Sifat-sifat koloni tusukan dalam gelatin Ada bakteri yang dapat mengencerkan gelatin, ada juga bakteri yang tidak mampu mengencerkan gelatin. Karena itu, maka bentuk-bentuk koloninya juga berbeda-beda. Lagipula bentuk koloni bakteri yang tidak dapat mengencerkan gelatin itu berbeda-beda satu sama lain, demikian pula bentuk-bentuk koloni yang memiliki kemampuan mengencerkan gelatin. Dapat berupa pedang, serupa tasbih, bertonjol-tonjol, berjontot, serupa batang. Jika bakteri yang memiliki kemampuan mengencerkan gelatin, dapat serupa kawah, dan serupa corong. Medium cair pada dasarnya dapat diperoleh dengan cara tidak mencampurkan agar-agar atau gelatin kepadanya. Di dalam medium cair, bakteri akan ketahuan sikapnya terhadap udara. Demikian pula sifat-sifat koloninya akan kelihatan berbeda-beda. Permukaan medium dapat memperlihatkan adanya serabut, cincin, langit-langit, atau selaput (Dwidjoseputro, 2005).

42

Bentuk, susunan, dan sifat media ditentukan oleh senyawa penyusun media, presentase campuran, dan tujuan penggunaan. 1. Bentuk Ditentukan oleh ada tidaknya zat pemadat, dan dikenal 3 media: a. Media padat Jumlah tepung agar-agar yang ditambahkan tergantung kepada jenis atau kelompok mikroba yang dipelihara. Ada yang mempertahankan kadar air tinggi. b. Media cair Kalau ke dalam media tidak ditambahkan zat pemadat. Umunya dipergunakan untuk pembiakan mikro alga tetapi juga mikroba lain, terutama bakteri. c. Media semi padat atau semi cair Kalu penambahan zat pemadat hanya 50% atau kurang dari yang seharusnya. Ini umumnya dipergunakan untuk pertumbuhan mikroba yang banyak memerlukan kandungan air dan hidup anaerobik atau fakultatif. 2. Susunan Sesuai dengan fungsi fisiologis dan masing-masing komponen yang terdapat di dalam media, maka susunan media mempunyai kesamaan isi, yaitu: kandungan air; kandungan nitrogen, baik berasal dari protein, asam amino, dan senyawa lain yang mengandung nitrogen; kandungan sumber energi baik sumber energi yang berasal dari karbohidrat, lemak, protein, dan senyawasenyawa lain; ion-ion, baik sebagai unsur makro atau pun sebagai unsur mikro; faktor pertumbuhan, umumnya vitamin dan asam amino. 3. Sifat Penggunaan media bukan hanya untuk pertumbuhan dan untuk perkembangbiakan mikroba, tetapi juga untuk tujuan-tujuan lain, misalnya saja dalam rangka isolasi, seleksi, evaluasi, dan diferensiasi biakan yang didapatkan. Artinya penggunaan beberapa jenis zat tertentu yang mana memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan mikroba dan juga perkembangbiakannya, hanya dilakukan dan dipergunakan, sehingga tiap-tiap

43

media mempunyai sifat (spesifikasi) tersendiri sesuai dengan maksudnya (Suriawiria, 2005). BAB III METODE KERJA 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum mikrobiologi mengenai Isolasi dan Morfologi Koloni Mikroba dilaksanakan pada hari Kamis, 13 Oktober 2011 pukul 15.00-17.00 WITA dan dilanjutkan pada hari Jumat, 14 Oktober 2011 pukul 11.00-13.00 WITA bertempat di Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman Samarinda. 3.2 Alat dan Bahan Pada praktikum kali ini alat-alat yang digunakan adalah beacker glass, laminar air flow kabinet, cawan petri, blue tip, mikro pipet, rak tabung reaksi, tabung reaksi, labu erlenmeyer, vorteks, lampu bunsen, korek api, aluminium foil, kertas label, botol semprot, kain hitam, dan inkubator. Bahan-bahan yang digunakan adalah tissue, alkohol, Natrium Agar (NA), Potato Dextrose Agar (PDA), NaCl 0,9%, dan es kelapa, serta ketombe. 3.3 Cara Kerja 3.3.1 Bakteri 1. Disterilkan tangan dengan disemprotkan alkohol 70%. 2. Dimasukkan 1 ml sampel menggunakan blue tip kedalam NaCl 0,9% lalu ditutup menggunakan aluminium foil. 3. Dihomogenkan dengan vorteks. 4. Diambil larutan yang sudah divorteks sebanyak 1 ml menggunakan blue tip. 5. Dimasukkan ke dalam cawan petri dan ditambah media NA 1 lalu dihomogenkan.

44

6. Diambil lagi larutan hasil vorteks sebanyak 1 ml ke dalam cawan petri yang lain, lalu ditambahkan media NA2 hingga menutupi dasar cawan petri dan dihomogenkan. 7. Dimasukkan cawan petri ke dalam inkubator selama 24 jam dengan suhu 37C. 8. Diamati. 3.3.2 Jamur 1. Disterilkan tangan yang ingin digunakan untuk menggosok kulit kepala dengan alkohol 70%. 2. Dioleskan jari yang sudah disterilkan ke kulit kepala yang berketombe lalu desentuhkan ke cawan petri yang berisi PDA (dilakukan sebanyak 2 kali pada cawan petri berisi media PDA yang lain). 3. Dimasukkan kedua cawan petri ke dalam inkubator dengan suhu 30 C selama 48 jam. 4. Diamati.

45

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Tabel Hasil Pengamatan Isolasi dan Morfologi Mikroba No. 1. NA1 Gambar a. SP1 Form Margin Warna b. SP2 Form Margin Warna c. SP3 Form Margin Warna d. SP4 Form Margin Warna a. SP1 Form : Punctiform : Entire (even) : Putih susu : Punctiform : Circular : Entire (even) : Putih susu : Circular : Undulate (wavy) : Transparan : Filamentous : Filamentous : Krem Keterangan

Elevation: Flat

Elevation: Flat

Elevation: Flat

Elevation: Flat NA2

46

Margin Warna b. SP2 Form Margin Warna c. SP3 Form Margin

: Entire (even) : Putih susu : Circular : Entire (even) : Putih susu : Circular : Undulate (wavy)

Elevation: Flat

Elevation: Flat

Elevation: Flat 3. PDA1 Warna : Transparan Tidak ada yang tumbuh

4.

PDA2

Tidak ada yang tumbuh

4.2 Pembahasan Terdapat beberapa faktor kesalahan dalam proses praktikum kali ini yang menyebabkan hasil isolasi menjadi kurang maksimal, yaitu:

47

Tangan yang belum disterilkan dengan menggunakan alkohol dapat membuat media, sampel, dan alat yang digunakan terkontaminasi. Berbicara pada saat pengenceran dan penanaman, karena udara bisa membawa mikroba masuk ke dalam media. Membuka cawan petri (seluruhnya) pada saat memasukkan media. Media PDA yang diletakkan kurang dari 48 jam dapat menyebabkan jamur tidak tumbuh. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan terhadap media NA pada pengenceran 1 didapatkan 4 spesies bakteri, yaitu pada spesies 1 bentuk koloni (form) adalah filamentous, tepi koloni (margin) adalah filamentous, kontur permukaan koloni (elevation) adalah flat, dan warnanya krem. Pada spesies kedua diperoleh bentuk koloni (form) adalah circular, tepi koloni (margin) adalah undulate (wavy), kontur permukaan koloni (elevation) adalah flat, dan mempunyai warna transparan. Pada spesies ketiga didapatkan bentuk koloni (form) adalah circular, tepi koloni (margin) adalah entire (even), kontur permukaan koloni (elevation) adalah flat, dan species tersebut memiliki warna putih susu. Pada spesies keempat didapatkan bentuk koloni (form) adalah punctiform, tepi koloni (margin) adalah berupa entire (even), kontur permukaan (elevation) adalah flat, dan pada spesies ini memiliki warna putih susu. Untuk hasil pengamatan yang diperoleh dalam media NA pada pengenceran 2 didapatkan 3 spesies bakteri, yaitu pada spesies pertama didapatkan bentuk koloni (form) adalah punctiform, tepi koloni (margin) adalah berupa entire (even), kontur permukaan koloni (elevation) adalah berupa flat, dan memiliki warna putih susu. Pada spesies kedua didapatkan bentuk koloni (form) adalah circular, tepi koloni (margin) adalah berupa entire (even), kontur permukaan koloni (elevation) adalah dalam bentuk flat, dan memiliki warna putih susu. Sedangkan pada species terakhir didapatkan bentuk koloni (form) adalah bentuk circular, tepi koloni (margin) terdapat dalam bentuk undulate (wavy), kontur permukaan koloni (elevation) adalah berupa flat, dan memiliki warna transparan. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan terhadap media PDA1, tidak diperoleh atau terdapat satu pun jenis jamur yang seharusnya tumbuh. Begitu pula

48

hasil pengamatan yang telah dilakukan terhadap media PDA 2, tidakdiperoleh atau terdapat satu pun jenis/spesies jamur yang juga seharusnya tumbuh. Pada praktikum kali ini digunakan metode pour plate. Metode ini dilakukan dengan menginokulasikan sejumlah bakteri ke dasar cawan baru kemudian medium agar cair dimasukkan dan dibiarkan memadat. Metode ini cocok digunakan apabila kita ingin menguji apakah suatu koloni bakteri merupakan bakteri yang aerobik, anaerobik fakultatif, ataukah anaerob obligat. Pengujian ini dapat terjadi karena hasil akhir metode pour plate adalah berupa pertumbuhan bakteri pada dasar medium, tengah medium, dan pada permukaan medium. Bakteri yang terdapat pada dasar medium mungkin adalah bakteri anaerob obligat, sedangkan bakteri yang tumbuh pada bagian tengah medium adalah bakteri anaerob fakultatif, dan bakteri yang tumbuh pada permukaan adalah bakteri aerob walaupun perlu pengkajian lebih lanjut mengenai hal ini. Kekurangan metode ini adalah sulit menentukan kontaminan dan kerapatan mikroba karena jarak antar koloni terlalu rapat (Narulita, 2010). Metode totol adalah salah satu teknik di dalam menumbuhkan mikroorganisme di dalam media agar dengan cara menuangkan stok kultur bakteri atau menghapuskannya di atas media agar yang telah memadat. Bedanya dengan puor plate adalah, pencampuran stok kultur baktei dilakukan setelah media agar memadat sedangkan pour plate kultur dicampurkan ketika media masih cair (belum memadat). Kelebikan teknik ini adalah mikroorganisme yang tumbuh dapat tersebar merata pada bagian permukaan media agar (Anonim, 2009). Pada praktikum kali ini digunakan NaCl 0,9% yaitu untuk menjaga tekanan osmotik pada bakteri. Seandainya lebih atau kurang dari 0,9% kemungkinan bakteri akan mengalami hipertonis atau hipotonis. Pengenceran berfungsi untuk mengurangi jumlah mikroba yang ada dalam sampel, sehingga hanya mikroba-mikroba tertentu saja yang hidup dan berkembang biak pada media. Sehingga bakteri lebih mudah diamati. Penentuan besarnya atau banyaknya tingkat pengenceran tergantung kepada perkiraan jumlah mikroba dalam sampel.

49

Dalam proses menghomogenkan membentuk angka 8 agar larutan atau campuran dan koloni dapat tercampur dan menyebar merata. BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 1. Isolasi mikroba dilakukan dengan cara mengencerkan sumber isolat ke dalam NaCl 0,9%, lalu sekitar 1ml sampel dituangkan ke cawan petri dan dilanjutkan dengan menuangkan media agar lalu dihomogenkan dan dimasukkan ke dalam inkubator selama 24 jam dengan suhu 37C. 2. Pada media NA1 terdapat 4 species mikroba. Spesies pertama bentuknya filamentous, tepinya filamentous, kontur permukaannya flat, dan warnanya krem. Spesies kedua bentuknya circular, tepinya undulate ( wavy), kontur permukaannya flat, dan warnanya transparan. Spesies ketiga bentuknya circular, tepinya entire (even), kontur permukaannya flat, dan warnanya putih susu. Spesies keempat bentuknya punctiform, tepinya entire ( even), kontur permukaannya flat, dan warnanya putih susu. Untuk NA 2 terdapat 3 spesies mikroba. Spesies pertama bentuknya punctiform, tepinya entire (even), kontur permukaannya flat, dan warnanya putih susu. Spesies kedua bentuknya circular, tepinya entire (even), kontur permukaannya flat, dan warnanya putih susu. Spesies ketiga bentuknya circular, tepinya undulate (wavy), kontur permukaannya flat, dan warnanya transparan. 3. Teknik dalam mengisolasi mikroba adalah: Isolasi pada agar, mengencerkan mikroorganisme sehingga diperoleh individu spesies yang dapat dipisahkan dari organisme lainnya. Isolasi pada medium cair, pada saat mikroorganisme tidak dapat tumbuh pada agar, tetapi dapat tumbuh pada kultur cair. Isolasi sel tunggal, untuk mengisolasi sel mikroorganisme berukuran besar yang tidak dapat diisolasi dengan metode agar atau medium cair.

50

5.2 Saran Sebaiknya media hidup mikroba yang dijadikan sampel lebih beragam seperti makanan opor, nasi kuning, dan lain-lain. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2009. Praktikum Mikrobiologi Umum Teknik Isolasi dan Transfer Kultur. http://kutankrobek.wordpress.com/2009/01/20/praktikumDiakses pada mikrobiologi-umum-teknik-isolasi-dan-transfer-kultur/.

tanggal 18 Oktober 2011 di Samarinda pukul 00.53 WITA Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit Djambatan: Jakarta Narulita, R. 2010. Teknik Isolasi Bakteri. www.scribd.com/doc/36404715/isolasi. Diakses pada tanggal 17 oktober 2011 di Samarinda pukul 22.40 WITA Roosheroe, I. G. 2006. Mikrobiologi Dasar dan Terapan. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta Suriawiria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Papas Sinar Sinanti: Yogyakarta Sutedjo, M. M. 1996. Mikrobiologi Tanah. PT. Rineka Cipta: Jakarta