Anda di halaman 1dari 17

LANDASAN TEORITIS

KONSEP DASAR MEDIK A. Definisi Ablasi Retina adalah suatu keadaan terpisahnya sel kerucut dan batang retina dari sel epitel pigmen retina. (Sidarta Ilyas, 2002) Kelainan retina yang sering disebut sebagai ablasio retina ini lebih tepat disebut sebagai separasi retina, karena terdapat robekan retina sehingga terjadi pengumpulan cairan retina antara lapisan basilus (sel batang) dan konus (sel kerucut) dengan sel-sel epitelium retina. (Vera H. Darling) Ablasi retina adalah lepasnya retina dari epitel pigmen retina/koroid dengan atau tanpa lubang atau robekan pada retina.

Tampak robekan pada retina

Ablasi Retina Regmatogenosa/Tarikan

Ablasi Retina Eksudatif 1

B. Anatomi Fisiologi

Dinding Bola Mata 1. Tunika Fibrosa a. Sklera Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata, merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata. Sklera anterior ditutupi oleh 3 lapis jaringan ikat vaskular. Sklera mempunyai kekakuan tertentu sehingga memepengaruhi pengukuran tekanan bola mata. Walaupun sklera kaku dan tipisnya 1 mm ia masih tahan terhadap kontusi trauma tumpul. Kekakuan sklera dapat meninggi pada pasien Diebetes Melitus dan atau merendah pada eksoftalmos goiter, miotika dan memium air banyak.

b. Kornea Kornea (Latin, Cornum=seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput bening mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang bola mata sebelah depan dan terdiri atas lapisan epitel, membran bowman, stroma, membran descemet, dan endotel. 2. Tunika Fibrosa a. Uvea anterior Iris Pada iris didapatkan pupil yang oleh 3 susunan saraf otot dapat mengatur jumlah sinar masuk ke dalam bola mata. Reaksi pupil ini merupakan juga indikator untuk fungsi simpatis (midriasis) dan parasimpatis (miosis) pupil. Corpus siliare/Badan siliar Badan siliar merupakan susunan otot melingkar dan mempunyai sistem sekresi di belakang limbus. Badan siliar yang terletak di belakang iris menghasilkan cairan bilik mata (akuos humor) yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak di pangkal iris di batas kornea dan sklera. Otot siliar yang terletak di badan siliar mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan akomodasi. Radang badan siliar akan mengakibatkan melebarnya pembuluh darah di dareah limbus yang akan mengakibatkan mata merah yang merupakan gambaran karakteristik peradangan intraokular. b. Uvea posterior Koroid Koroid atau lapisan tengah berisi pembuluh darah, yang merupakan ranting-ranting arteria oftalmika, cabang dari arteria karotis interna. Koroid merupakan tempat melekatnya retina. Lapisan vaskuler ini membentuk iris yang berlubang di tengahnya, atau yang disebut pupil (manik) mata. Selaput berpigmen sebelah belakang iris memancarkan warnanya dan dengan demikian menentukan apakah sebuah mata itu berwarna biru, coklat, kelabu dan seterusnya. Koroid bersambung pada bagian depannya dengan iris, dan tepat di belakang iris, selaput ini 3

menebal guna membentuk korpus siliare sehingga korpus dan siliare terletak antara koroid dan iris. Korpus siliare itu berisi serabut otot sirkuler dan serabut-serabut yang letaknya seperti jari-jari sebuah lingkaran. Kontraksi otot sirkuler menyebabkan pupil mata juga berkontraksi. Semuanya ini bersama-sama membentuk traktus uvea, yang terdiri dari iris, korpus siliare dan selaput koroid. Peradangan pada masing-masing bagian, berturut-turut disebut iritis, siklitis dan koroiditis ataupun bersama-sama disebut uveitis. Bila salah satu bagian dari traktus ini mengalami peradangan, maka penyakitnya akan segera menjalar ke bagian traktus lain di sekitarnya. 3. Retina Retina atau selaput jala merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang menerima rangsangan cahaya. Retina berbatas dengan koroid dengan sel pigmen epitel retina dan terdiri ats lapisan: a. Lapis fotoreseptor, merupakan lapis terluar retina terdiri atas sel batang yang mempunyai bentuk ramping dan sel kerucul. b. Membran limitan eksterna yang merupakan mambran ilusi. c. Lapis nukleus luar, merupakan susunan lapis nukleus sel kerucut dan batang Ketiga lapis di atas avaskular dan mendapat metabolisme dari kapiler koroid. d. Lapis pleksiform luar, merupakan lapis aselular dan merupakan tempat sinapsis fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal. e. Lapis nukleus dalam, merupakan tubuh sel bipolar, sel horizontal dan sel muller lapis ini mendapat metabolisme dari arteri retina sentral. f. Lapis pleksiform dalam, merupakan lapis aselular merupakan tempat sinaps sel bipolar, sel amakrin dengan sel ganglion. g. Lapis sel ganglion yang merupakan lapis badan sel daripada neuron kedua. h. Lapis serabut saraf, merupakan lapis akson sel ganglion menuju ke arah saraf optik. Di dalam lapisan-lapisan ini terletak sebagian besar pembuluh darah retina. i. Membran limitan interna, merupakan membran hialin antara retina dan badan kaca.

Warna retina biasanya jingga dan kadang-kadang pucat pada anemia dan iskemia dan merah pada hiperemia. Pembuluh darah di dalam retina merupakan cabang arteri oftalmika, arteri retina sentral masuk retina melalui papil saraf optik yang akan memberikan nutrisi pada retina dalam. Lapisan luar retina atau sel kerucut dan batang mendapat nutrisi dari koroid. Untuk melihat fungsi retina maka dilkaukan pemeriksaan subyektif retina seperti: tajam penglihatan, penglihatan warna dan lapang pandangan. Pemeriksaan obyektif adalah elektroretinogram (ERG), elektrookulogram (EOG) dan visual evoked respons (VER). Ada 3 bilik pada mata 1. Camera anterior 2. Camera posterior Di dalam camera anterior dan camera posterior tardapat isi yang disebut aqueus humor. Cairan ini berasal dari badan siliar dan diserap kembali ke dalam aliran darah dan pada sudut antara iris dan kornea melalui vena halus yang dikenal sebagai Saluran Schlemm. 3. Corpus vitrius Isi corpus vitrius yaitu vitrous humor. Vitrous humor adalah cairan penuh albumen berwarna keputih-putihan seperti agar-agar. Vitrous humor berfungsi untuk memberi bentuk dan kekokohan pada mata, serta mempertahankan hubungan antara retina dengan selaput koroid dan sklerotik. Adneksa (aksesoris mata) 1. Palpebra superior (kelopak mata atas) 2. Palpebra inferior (kelopak mata bawah) Otot-otot palpebra: Muskularis levator palpebra (untuk membuka mata) Muskularis orbikularis oculi (untuk menutup mata)

3. Alis mata dan bulu mata 4. Kelenjar lakrimaris: menghasilkan airmata berisi enzim lisozim

5. Orbita Otot-otot extra okular (yang menggerakkan bola mata) Muskulus rectus superior (atas) Muskulus rectus inferior (bawah) Muskulus rectus medilis Muskulus rectus lateralis Muskulus obligus superior Muskulus obligus inferior

6. Pembuluh darah 7. Saraf-saraf Fisiologi Mata Mata adalah indera penglihatan. Mata dibentuk untuk menerima rangsangan berkas-berkas cahaya pada retina, lantas dengan perantaraan serabut-serabut nervus optikus, mengalihkan rangsangan ini ke pusat penglihatan pada otak untuk ditafsirkan. Fisiologi Melihat Proses penglihatan normal terjadi malalui 5 tahap, yaitu: 1. Refraksi berkas cahaya yang memasuki mata. 2. Memfokuskan bayangan pada retina melalui akomodasi. 3. Mengubah gelombang cahaya menjadi implus saraf. 4. Mengolah aktifitas saraf dalam retina yang diteruskan melalui Nervus optikus. 5. Mengolah implus saraf itu ke otak. Berkas cahaya yang memasuki mata harus melalui beberapa media refraksi, yaitu kornea, humor akueus, lensa mata dan korpus vitreus.

C. Insiden Terjadi pada orang dewasa dengan perbandingan 1 : 10000

D. Etiologi 1. Miopia yang berat/tinggi ( 6 Dioptri) 2. Kerusakan retina (akibat trauma) 3. Terganggunya dinamika okular (karena operasi katarak sebelumnya) 4. Retinopati diabetes 5. Retinitis 6. Tumor mata E. Patofisiologi Hampir pada semua kasus ablasio retina, proses berawal dengan terjadinya robekan kecil di suatu tempat di atas retina. Tempat tersebut biasanya terdapat di bagian perifer dan pada umumnya sudah mengalami degenerasi. Robekan pada umumnya dicetuskan oleh suatu trauma fisik. Ketika terjadi robekan, penderita melihat kilatan-kilatan cahaya. Bintik-bintik yang beterbangan di lapangan penglihatan yang juga terlihat oleh penderita disebabkan oleh pendarahan akibat pecahnya pembuluh darah kecil disekitar robekan tersebut. Bentuk robekan seringkali menunjukkan jenis dan arah trauma fisik yang menimbulkannya. Setelah terjadinya robekan, cairan dalam korpus vitrum segera memasuki celah di belakang retina. Pada kebanyakkan kasus, retina akan segera terlepas dari lapisan penopangnya. Retina selanjutnya akan menggelembung ke depan. Sehingga menyebabkan visus turun secara tiba-tiba biasanya tidak menyebabkan rasa sakit dan lapang pandang sebagian buram (seperti tirai pada mata). Kadang-kadang timbul bintik-bintik atau benang hitam pada mata. F. Klasifikasi Dikenal 3 bentuk ablasi retina: 1. Ablasi retina regmatogenosa Ablasi retina regmatogenosa terjadi akibat adanya robekkan pada retina sehingga cairan masuk ke belakang antara sel pigmen epitel dengan retina. Terjadi pendorongan retina oleh badan kaca cair (fluid vitreous) yang masuk melalui

robekan atau lubang pada retina ke rongga subretina sehingga mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel pigmen koroid. 2. Ablasi retina eksudatif Ablasi retina eksudatif adalah ablasi yang terjadi akibat tertimbunnya eksudat di bawah retina dan mengangkat retina. Penimbunan cairan subretina sebagai akibat keluarnya cairan dari pembuluh darah retina dan koroid (ekstra vasasi). Penglihatan dapat berkurang dari ringan sampai berat. Ablasi ini dapat hilang atau menetap bertahun-tahun setelah penyebabnya berkurang atau hilang. 3. Ablasi retina traksi (tarikan) Pada ablasi ini lepasnya jaringan retina terjadi akibat tarikan jaringan parut pada badan kaca yang akan mengakibatkan ablasi retina dan penglihatan turun tanpa rasa sakit. Pada badan kaca terdapat jaringan fibrosis yang dapat disebabkan diabetes melitus proliferatif, trauma dan perdarahan badan kaca terjadi akibat bedah atau infeksi. G. Tanda dan Gejala 1. Kilatan cahaya (flashing lights) 2. Bayangan 3. Visus menurun 4. Defek lapangan pandang H. Komplikasi Komplikasi pada ablasi retina adalah kebutaan. I. Test Diagnostik Pemeriksaan visus (snellen) Funduscopy Oftalmoskopi direk.

J. Penatalaksanaan Penderita harus segera dirujuk. Yang bisa diobati dengan sinar laser fotokoagulasi hanya lubang retina yang kecil tanpa ada cairan di bawah retina. Dengan sinar laser terjadi reaksi peradangan yang akan menutup lubang. Ablasi yang murni biasanya memerlukan tindakan bedah untuk menutup setiap lubang, mengurangi tarikan badan kaca, mengeluarkan cairan dari bawah neuroretina dan melekatkankembali retina pada tempatnya. Pagi hari sebelum operasi meneteskan obat mata midriatikum pada mata yang akan dioperasi bila perlu diberikan obat sedatif.

KONSEP DASAR KEPERAWATAN A. Pengkajian 11 Pola Gordon 1. Pola Persepsi dan Pemeliharan Kesehatan Apakah pernah mengalami gangguan penglihatan sebelumnya? Apakah ada riwayat gangguan penglihatan dalam keluarga/riwayat miopi? Sudah berapa lama mengalami gangguan penglihatan? Apakah ada riwayat infeksi, mis: karena conjungtivitis? Apakah ada riwayat penyakit diabetes melitus? Apakah pernah terjadi trauma pada mata? Apakah ada riwayat terpapar polusi? 2. Pola Nutrisi Metabolik Apakah sering mengonsumsi sayur-sayuran hijau seperti bayam atau tidak? Apakah ada kebiasaan mengkonsumsi makanan-makanan tertentu? Apakah ada mengonsumsi suplemen makanan seperti vitamin A? 3. Pola Eliminasi Apakah ada kesulitan untuk BAB/BAK karena penglihatan menurun? 4. Pola Aktivitas dan Latihan Adanya gangguan pada sistem penglihatan sehingga menyebabkan sulitnya melakukan aktivitas sehari-hari. Apakah kehilangan perannya? 5. Pola Istirahat dan Tidur Apakah ada gangguan tidur? Apakah nyeri setelah operasi mengganggu tidur? 6. Pola Persepsi Kognitif Apakah penggunaan alat bantu penglihatan seperti kacamata atau lensa kontak dapat membantu mengatasi visus yang menurun? Bila ada rasa tidak nyaman bagaimana cara mengatasinya? Apakah ada rasa nyeri setelah operasi? Perubahan lapang pandang (seperti tirai). 7. Pola Persepsi dan Konsep Diri Apakah pasien ada merasa putus asa dengan keadaan dirinya? Apakah pasien merasa malu dengan alat bantu yang digunakan? Bagaimana pendapat pasien tentang konsep dirinya? 8. Pola Peran dan Hubungan dengan Sesama Apakah klien hidup sendiri? Hidup berkeluarga? Ikut keluarga?

10

Apa peran klien dalam masyarakat dan lingkungan kerja? Apakah klien merasa puas dengan peran tersebut? Apakah pasien merasa tersisihkan atau terisolir dari tetangga dimana pasien tinggal? Adakah perilaku menutup diri? Adakah perasaan malu akan keadaannya? 9. Pola Reproduksi Seksualitas Apakah ada gangguan dalam hubungan seksualitas saat mengalami gangguan penglihatan? Apakah ada penyimpangan seksualitas? Apakah genetalia bersih? 10. Pola Mekanisme Koping dan Toleransi Terhadap Stres Apakah pasien merasa cemas atau takut dengan penyakit yang diderita? Bagaimana cara klien mengatasi jika merasa terganggu pada penglihatan? Bagaimana dukungan dari orang-orang sekitar? 11. Pola Sistem Kepercayaan Apakah selama sakit keluarga pasien sering membantu pasien dalam kegiatan kerohanian? Apakah pasien beranggapan penyakitnya ini merupakan suatu kutukan? Apakah pasien menyerahkan penyakitnya ini kepada Tuhan atau menyalahkan Tuhan? Apakah selama pasien sakit, disekitar tempat tidur terdapat Kitab Suci atau alatalat keagamaan lainnya? B. Diagnosa Keperawatan Pre operasi 1. Resiko tinggi cedera yang berhubungan dengan penurunan visus dan defek lapang pandang. 2. Kecemasan yang berhubungan dengan kurangnya pemahaman mengenai perawatan pasca operasi. 3. Gangguan konsep diri yang berhubungan dengan kehilangan perannya. Post operasi 1. Nyeri yang berhubungan dengan insisi bedah pada retina. 2. Risiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan prosedur invasive (bedah). 3. Risiko tinggi cedera yang berhubungan dengan penurunan visus.

11

C. Rencana Keperawatan Pre operasi DP1 Resiko tinggi cedera yang berhubungan dengan penurunan visus dan defek lapang pandang. Tujuan : Tidak terjadi cedera setelah dilakukan tindakan keperawatan. Kriteria Hasil: 1. Klien mengatakan pemahaman tentang faktor yang dapat menyebabkan cedera. 2. Klien akan melakukan pola hidup untuk mencegah cedera. 3. Klien mampu mengidentifikasi bahaya di lingkungan sekitar. Intervensi: 1. Orientasikan pasien pada lingkungan. R/ : Meningkatkan keamanan dalam lingkungan. 2. Beri pasien posisi bersandar, kepala tinggi atau sesuai keinginan pasien. R/ : 3. Letakkan bel pemanggil dan barang-barang yang diperlukan di dekat pasien. R/ : Memudahkan pasien dalam memenuhi kebutuhannya. 4. Bantu pasien ketika ambulasi. R/ : Menurunkan risiko jatuh atau cedera ketika langkah sempoyongan. 5. Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba dan menggaruk mata. R/ : Menurunkan stres pada mata. 6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi dan gunakan prosedur yang tepat ketika memberikan obat mata. R/ : Cedera dapat terjadi bila wadah obat menyentuh mata. DP2 Kecemasan yang berhubungan dengan kurangnya pemahaman mengenai perawatan pasca operasi. Tujuan : Kecemasan dapat diminimalkan sampai batas toleransi atau hilang setelah diberi tindakan keperawatan pasca operasi.

12

Kriteria Hasil: 1. Klien mengatakan tidak cemas. 2. Ekspresi wajah klien tampak rileks. Intervensi: 1. Kaji derajat dan durasi gangguan visual. R/ : Informasi dapat menghilangkan ketakutan yang tidak diketahui. 2. Orientasikan klien pada lingkungan yang baru. R/ : Pengenalan terhadap lingkungan membantu mengurangi ansietas dan meningkatkan keamanan. 3. Jelaskan rutinitas perioperatif. R/ : Klien yang telah mendapat banyak informasi lebih mudah menerima penanganan dan mematuhi instruksi. 4. Jelaskan intervensi sedetilnya, perkenalkan diri pada setiap interaksi, pergunakan sentuhan untuk membantu komunikasi verbal. R/ : Klien yang mengalami gangguan penglihatan bergantung pada pemasukkan indera yang lain untuk mendapatkan informasi. 5. Dorong untuk melakukan perawatan diri sehari-hari bila mampu. R/ : Perawatan diri dan kemandirian akan meningkatkan rasa sehat. 6. Dorong partisipasi keluarga atau orang yang berarti dalam perawatan pasien. R/ : Membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hariannya. 7. Dorong partisipasi dalam aktivitas sosial dan pengalihan bila memungkinkan. R/ : Isolasi sosial dan waktu luang yang terlalu lama menimbulkan perasaan negatif. DP3 Gangguan konsep diri yang berhubungan dengan kehilangan perannya. Tujuan : Konsep diri menjadi positif setelah dilakukan tindakan keperawatan. Kriteria Hasil: 1. Menilai keadaan dirinya terhadap hal-hal yang realistis tanpa menyimpang. 2. Menyatakan dan menunjukkan peningkatan konsep diri. 3. Menunjukkan adaptasi yang baik, menguasai kemampuan diri. Intervensi:

13

1. Dorong pasien untuk mengatakan perasaannya terutama tentang cara ia merasakan sesuatu dan tentang perannya. R/ : Untuk lebih respek dan peka terhadap perasaan pasien. 2. Dorong pasien untuk melakukan interaksi sosial. R/ : Meningkatkan hubungan pasien dengan sesama. 3. Beri pasien motivasi untuk tidak putus asa. R/ : Membangun kembali kepercayaan diri pasien. 4. Bantu pasien dalam menyesuaikan diri dengan perubahan keadaan. R/ : Agar pasien terbiasa dengan keadaannya yang sekarang/kehilangan peran. 5. Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien. R/ : Mendekatkan hubungan pasien dengan Tuhan. Post operasi DP1 Nyeri yang berhubungan dengan trauma dan intervensi bedah. Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang setelah diberi tindakan keperawatan. Kriteria Hasil: 1. Klien mengatakan nyeri berkurang. 2. Klien tampak rileks. Intervensi: 1. Kaji ulang keluhan nyeri pasien. R/ : Perubahan tingkat nyeri menunjukkan respon pasien terhadap nyeri. 2. Kurangi tingkat pencahayaan, cahaya diredupkan, diberi tirai/kain. R/ : Tingkat pencahayaan yang lebih rendah, lebih nyaman setelah pembedahan. 3. Berikan kompres dingin sesuai indikasi pada trauma tumpul. R/ : Mengurangi edema, akan mengurangi nyeri. 4. Ajarkan dan anjurkan tehnik napas dalam bila terasa nyeri. R/ : Tehnik napas dalam dapat mengurangi rasa nyeri. 5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetika. R/ : Pemberian obat sesuai indikasi membantu pasien mengatasi nyeri. DP2 Risiko tinggi cedera yang berhubungan dengan penurunan visus.

14

Tujuan : Tidak terjadi cedera setelah dilakukan tindakan keperawatan. Kriteria Hasil: 1. Klien mengatakan pemahaman tentang faktor yang dapat menyebabkan cedera. 2. Klien akan melakukan pola hidup untuk mencegah cedera. 3. Klien mampu mengidentifikasi bahaya di lingkungan sekitar. Intervensi: 1. Diskusikan pada klien apa yang terjadi pada pasca operasi tentang nyeri, pembatasan aktivitas, penampilan dan balutan mata. R/ : Membantu mengurangi rasa takut dan kerja sama dalam pembatasan yang diperlukan. 2. Orientasikan pasien pada lingkungan. R/ : Meningkatkan keamanan mobilitas dalam lingkungan. 3. Beri klien posisi bersandar, kepala tinggi atau miring ke sisi yang tidak sakit sesuai keinginan. R/ : Menurunkan tekanan pada mata yang dapat meminimalkan risiko perdarahan atau jahitan terbuka. 4. Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, membungkuk. R/ : Menurunkan stres pada area operasi. 5. Bantu klien ketika ambulasi pasca operasi sampai stabil dan penglihatan memadai. R/ : Menurunkan risiko jatuh atau cedera ketika langkah sempoyongan. 6. Pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi. R/ : Digunakan untuk melindungi mata dari cedera dan menurunkan gerakan mata. 7. Observasi kegelisahan, disorientasi, gangguan balutan. Observasi hifema (perdarahan pada mata) dengan senter sesuai indikasi. R/ : Ketidaknyamanan dapat disebabkan karena prosedur pembedahan. 8. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi dan gunakan prosedur yang tepat ketika memeberikan obat mata. R/ : Cedera dapat terjadi bila wadah obat menyentuh mata. DP3 Risiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan prosedur invasive (bedah).

15

Tujuan : Infeksi tidak terjadi sampai proses penyembuhan setelah dilakukan tindakan keperawatan. Kriteria Hasil: 1. Penyembuhan luka tepat waktu. 2. Tidak terapat drainase purulen, eritema dan demam. 3. Pasien dapat melakukan tindakan untuk mencegah infeksi. Intervensi: 1. Tekankan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh atau mengobati mata. R/ : Menurunkan jumlah bakteri pada tangan, mencegah kontaminasi area operasi. 2. Gunakan tehnik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam keluar dengan tisu basah atau bola kapas untuk tiap usapan, ganti balutan. R/ : Tehnik aseptik menurunkan risiko penyebaran bakteri dan kontaminasi silang. 3. Anjurkan untuk tidak menyentuh atau menggaruk mata yang dioperasi. R/ : Mencegah kontaminasi dan kerusakan sisi operasi. 4. Jelaskan tanda terjadinya infeksi. R/ : Infeksi mata dapat terjadi 2-3 hari setelah prosedur dan memerlukan upaya intervensi. 5. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. R/ : Antibiotik berguna untuk mencegah atau membunuh mikroorganisme pada luka operasi.

16

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 1998. Diagnosa Keperawatan, Edisi 6. EGC: Jakarta. Darling, Vera H., Perawatan Mata. Yayasan Essentia Medica dan Andi: Yogyakarta. Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. EGC: Jakarta. Ilyas, Sidarta. 2004. Ilmu Perawatan Mata. CV. Seagung Seto: Jakarta. Lewis, dkk. 2000. Medical Surgical Nursing, Assesment and Management of Clinical Problems. Mosby: St. Louis Missouri. Pearce, Evelyn. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Gramedia: Jakarta. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan DepKes RI. 1990. Asuhan Keperawatan Pasien Akibat Gangguan Sistem Penglihatan dan Pendengaran Edisi I. Youngson, Robert. 1995. Penyakit Mata. Acran: Jakarta.

17