Anda di halaman 1dari 13

Teleskop sebagai suatu alat bantu optik, apabila ditelusuri awal mula diciptakannya kita akan diarahkan kepada

seorang ahli pembuat kacamata berkebangsaan Belanda bernama Hans Lippershey (1570?-1619) yang pada sekitar tahun 1608 memperkenalkan sebuah sistem optik berupa sepasang lensa konvergen (cembung), namun Lippershey sendiri tidak mengembangkannya menjadi teleskop astronomi. Namun tidak dapat dipungkiri, dari sinilah Galileo mendasari pembuatan teleskopnya yang sangat melegenda sampai saat ini. Teleskop astronomi menggunakan Galileo yang sebuah sebagai lensa teleskop desainnya konvergen
Objektif (lensa konvergen) Kearah mata

pertama,

dengan panjang fokus yang besar dan sebuah lensa divergen dengan panjang fokus lebih kecil yang ditempatkan sebelum titik fokus, sistem optik seperti ini sekarang kita kenal sebagai refraktor Galilean. Pada teleskop

Eyepiece (lensa konvergen)

Gambar 1. Sistem optik refraktor

pertamanya, Galileo mendapatkan nilai perbesaran hanya sekitar 3 kali dan kemudian dia mengembangkannya hingga dapat menciptakankan sebuah teleskop dengan perbesaran 30 kali. Semakin berkembangnya zaman, jenis dan tipe teleskop pun turut berkembang, tidak hanya teleskop-teleskop refraktor yang menggunakan lensa sebagai komponen optik utamanya yang berkembang dalam konteks teleskop astronomi, pada tahun 1663 James Gregory (1638-1675) mengajukan sebuah ide mengenai teleskop dengan sistem optik yang menggunakan sebuah cermin berbentuk parabola sebagai objektif (disebut juga sebagai cermin utama) dan sebuah cermin kecil berbentuk elips (sebagai lensa kedua/sekundernya) yang ditempatkan setelah titik fokus cermin utamanya, teleskop seperti ini dikenal sebagai teleskop Gregorian. Dari sistem seperti inilah berkembang tipe teleskop lainnya (khususnya desain teleskop astronomi) yang dikenal sebagai sistem teleskop reflektor. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangan masing-masing jenis sistem optik teleskop, berkembanglah desain-desain sistem optik teleskop astronomi yang pada intinya berupaya menciptakan alat bantu optik dalam menampilkan suatu objek

Cermin elips Sekunder/kedua

Cermin parabolik utama Eyepieces

Kearah mata Cahaya dari objek

Gambar 2. Gregorian teleskop

yang dianggap jauh tak berhingga jaraknya kedalam visualisasi objek yang dapat diidentifikasi eksistensinya dengan baik dan jelas. Sampai saat ini, dipasaran banyak kita temui teleskop-teleskop astronomi amatir dengan berbagai jenis, diantaranya ialah: a. Dioptrics/Refraktor, b. Newtonian Reflektor, c. Catadioptrics (Schmidt-Cassegrain, Maksutov-Cassegrain) dll Yang masing-masing dibedakan berdasar sistem optiknya. Tentunya pula masing-masing kekurangannya.
Cahaya dari objek Cermin parabolik utama Cermin elips Sekunder/kedua Cermin parabolik utama Eyepieces

jenis

dapat

hadir

dipasaran

berdasarkan

kelebihan

dan

Kearah mata Eyepieces Kearah mata Cahaya dari objek

Gambar 4. Cassegrain teleskop

Gambar 3. Newtonian teleskop Adapun teleskop yang saat ini dimiliki oleh jurusan penidikan Fisika FPMIPA UPI Bandung ialah teleskop astronomi jenis Cassegrain dengan spesifikasi alat sebagai berikut: Desain optik Schmidt-Cassegrain
Lensa korektor Fokus Cermin elips Sekunder/kedua

SchmidtCermin parabolik utama

Gambar 5. Sistem optik teleskop Schmidt-Cassegrain

Panjang fokus 2800mm Diameter cermin parabolik utama 279mm (11) Rentang perbesaran efektif 40-660 kali Limiting stellar magnitude 14,7 Penyangga Computerized Germanium equatorial mount Skysensor 2000-PC berkapasitas menyimpan 14.000 data objek pengamatan Kelebihan dan Kekurangan Jenis-jenis Teleskop Optik 1. Kelebihan: (a). Mudah digunakan dan memiliki desain yang sederhana. (b). Sedikit bahkan tidak membutuhkan biaya perawatan. (c). Sangat baik untuk pengamatan bulan, planet dan bintang ganda khususnya pada ukuran aperture yang besar. (d). Baik untuk jarak pandang objek bumi. (e). Dapat menghasilkan gambar dengan nilai kekontrasan yang tinggi dan tanpa cermin sekunder atau penghalang diagonal. (f). Pengoreksi warna yang baik pada desain achromatic dan sangat baik pada desain apochromatic, fluorite, dan ED. (g). Tabung optik yang tersegel mereduksi penurunan kualitas gambar yang diakibatkan kondisi udara dan dapat menjaga kondisi alat-alat optik didalamnya. (h). Lensa objektifnya dibuat dan diposisikan permanen. Kekurangan: (a). Pada ukuran aperture yang sama dengan Newtonians dan Catadioptrics, harganya lebih mahal. (b). Ukuran dan bentuknya lebih panjang dan berat serta kurang praktis, dibandingkan Newtonian dan Catadioptric dengan ukuran aperture yang sama. (c). Harga dan ketidakpraktisan membatasi kinerjanya. Refraktor (biasa kita kenal sebagai dioptrics)

(d). Kurang baik untuk pengamatan objek-objek langit dalam yang kecil seperti galaksi-galaksi dan nebula yang sangat jauh karena keterbatasan dan kesederhanaan aperturenya. (e). Harga rasio fokusnya biasanya panjang (f/11 atau lebih lambat) membuat pemotretan objek-objek langit dalam lebih sulit. (f). Terjadi aberasi warna pada desain achromatic. (g). Reputasinya kurang baik terutama dalam kaitan dengan mutu yang rendah dan disetarakan sebagai teropong mainan, suatu reputasi yang tidak pada tempatnya ketika dihadapkan dengan suatu refraktor yang bermutu dari suatu pabrikan mempunyai nama baik. 2. Kelebihan: (a). Harganya lebih murah dibandingkan dengan refraktor dan catadioptrics, terutama semenjak cermin dapat diproduksi dengan biaya yang lebih murah daripada lensa pada ukuran aperture sedang hingga besar. (b). Kompak dan mudah dibawa kemana-mana hingga teleskop dengan ukuran panjang fokus 1000mm. (c). sangat baik untuk objek-objek langit dalam yang sangat halus seperti remote galaxies, nebula dan kumpulan bintang (clusters) apalagi dengan nilai rasio fokus pada umumnya yang cukup cepat (f/4 sampai f/8). (d). Cukup baik untuk pengamatan bulan dan planet. (e). Cukup baik untuk astrophotography objek langit dalam (akan tetapi tidak sebaik dan lebih sulit penggunaannya dibandingkan catadioptrics). (f). Aberasi optisnya rendah dan dapat mengirimkan kualitas gambar yang cerah. Kekurangan: (a). Desain tabung optik yang terbuka menjadikannya mengalami penurunan kualitas gambar akibat kondisi udara dan kontaminasi Newtonians

udara, yang apabila terjadi dalam jangka waktu yang lama dan terusmenerus akan mengakibatkan degradasi lapisan cerminnya dan akan mengakibatkan kualitas teleskopnya menurun. (b). Lebih rawan kerusakan dibandingkan refraktor atau catadioptrics dan membutuhkan biaya perawatan yang lebih besar (seperti kolimator). (c). Mengalami cacat optis koma. (d). Untuk ukuran aperture besar (lebih dari 8) menjadi tidak praktis, berat dan harganya cenderung menjadi lebih mahal. (e). Pada umumnya kurang baik untuk pengamatan medan pandang bumi. (f). Mengalami penurunan kuantitas cahaya lebih banyak dalam kaitannya dengan cermin sekunder (diagonal) penghalang apabila dibandingkan dengan refraktor. 3. Catadioptrics Schmidt-Cassegrain - Kelebihan: (a). Terbaik dari semua jenis dan desain teleskop. Mengkombinasikan kelebihan optis dari lensa dan cermin yang dapat menghilangkan kekurangan-kekurangannya. (b). Kualitas optiknya sangat baik yag dapat menghasilkan gambar yang sangat tajam dengan bidang pandang yang luas. (c). Sangat baik untuk pengamatan objek langit dalam atau astrophotography dengan film kecepatan tinggi atau CCD. (d). Sangat baik untuk pengamatan bulan, planet dan bintang ganda atau fotografi. (e). Sangat baik pula untuk pengamatan medan pandang bumi atau fotografi. (f). Pada umumnya nilai rasio fokus teleskop jenis ini berkisar pada nilai f/10. sangat berguna untuk semua tipe fotografi. Hindari teleskop dengan nilai rasio fokus yang cepat (karena akan menghasilkan penurunan kekontrasan dan meningkatkan aberasi).

Untuk astrophotography dengan kecepatan tinggi, gunakan pereduksi cahaya atau lensa korektor. (g). Desain tabung tertutup mengurangi efek penurunan kualitas gambar akibat kondisi udara. (h). Kebanyakan didesain sangat kompak dan mudah dibawa-bawa. (i). Mudah digunakan. (j). Tahan lama dan hampir tidak memerlukan biaya perawatan. (k). Untuk ukuran aperture yang besar, harganya sangat pantas dan sedikit lebih mahal dibandingkan dengan ukuran aperture yang sebanding pada refraktor. (l). Tipe teleskop yang sangat serbaguna (m). Memiliki ketersediaan jumlah aksesoris yang cukup banyak dibandingkan dengan teleskop tipe lain. (n). Memiliki kemampuan fokus dekat terbaik dibandingkan dengan teleskop tipe lain. - Kekurangan: (a). Harganya lebih mahal dari tipe Newtonian. (b). Bentuknya tidak seperti yang orang perkirakan sebagai sebuah teleskop. (c). Mengalami penurunan kuantitas Maksutov-Cassegrain Pada dasarnya teleskop tipe ini memiliki kelebihan dan kekurangan yang hampir sama dengan Schmidt-Cassegrain. Cermin sekunder Maksutov biasanya lebih kecil dari pada yang dimiliki desain tipe Schmidt, hal ini akan memberikan resolusi yang lebih baik untuk pengamatan planet. Tipe Maksutov lebih berat dari tipe Schmidt dan karena lensa korektor yang cukup tebal, maka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai keseimbangan termal pada malam hari, terutama pada ukuran aperture yang besar (lebih dari 90mm). Desain optik Maksutov cahaya yang disebabkan keberadaan cermin sekunder dibandingkan dengan refraktor.

memiliki cirri khas mudah dibuat tetapi membutuhkan material yang lebih banyak untuk membuat lensa korektornya dibandingkan dengan desain tipe Schmidt-Cassegarin. Istilah Karakteristik Teleskop a. Aperture (diameter lensa atau cermin) Bagian ini ialah salah satu faktor yang paling penting dalam memilih teleskop. Fungsi utama dari semua teleskop ialah untuk mengumpulkan cahaya. Dalam hal perbesaran, semakin besar aperture akan menghasilkan citra yang lebih baik. Clear aperture teleskop ialah diameter lensa atau cermin objektifnya yang ditulis dengan menggunakan satuan inci atau millimeter(mm). Semakin besar nilai aperturenya, semakin banyak sinar yang dapat dikumpulkannya dan semakin lebih jelas (baik) citra yang dihasilkannya. Dengan semakin meningkatnya nilai aperture, kejelasan detail dan kejernihan citra yang dihasilkan akan semakin baik. Sebagai contoh, sebuah globular cluster bintang seperti M13 hampir tidak terlihat lebih detail dengan menggunakan teleskop dengan aperture 4 dengan perbesaran / power 150 kali, akan tetapi apabila menggunakan teleskop aperture 8 dengan perbesaran/power yang sama, cluster bintang itu 16 kali lebih berkilauan, bintang-bintangnya terlihat terpisah-pisah menjadi titik-titik yang lebih menonjol dan cluster-nya itu sendiri akan terlihat di pusat daerah tersebut. b. Panjang Fokus Ialah jarak (dalam mm) sitem optik dari lensa atau cermin utama ke titik dimana teleskop mendapatkan fokusnya (titik fokus). Semakin besar nilai panjang fokus sebuah teleskop, maka akan semakin besar pula perbesaran/power yang dihasilkannya, sehingga citra yang dihasilkan semakin besar dan medan pandangnya semakin kecil. Sebagai contoh, sebuah teleskop dengan panjang fokus 2000 mm memiliki perbesaran/power dua kali lebih besar dan setengah kali medan pandang sebuah teleskop dengan panjang fokus 1000 mm. Sebagian besar perakit teleskop membuat spesifikasi yang berbeda untuk panjang fokus instrumen mereka masing-masing, namun demikian, jika

panjang fokus tidak diketahui dan kita tahu besar perbandingan rasio fokus, maka kita dapat menggunakan persamaan berikut untuk menghitungnya: panjang fokus adalah aperture (mm) dikali besar perbandingan rasio fokus. Sebagai contoh, sebuah aperture 8 (203,2 mm) dengan perbandingan rasio fokus f/10, akan menghasilkan panjang fokus 203,2 x 10 = 2032 mm. c. Resolusi Adalah kemampuan teleskop untuk menghasilkan detail. Semakin tinggi resolusi, detailnya akan semakin sempurna. Semakin besar aperture sebuah teleskop, akan semakin besar kemampuan yang dimiliki oleh instrumen tersebut, maka teleskop optik itu dianggap berkualitas tinggi. d. Resolving Power (kemampuan memisahkan) Untuk sebuah teleskop istilah ini merujuk pada Dawes Limit. Ialah keamampuan untuk memisakan dua buah bintang ganda yang memiliki jarak antar bintang yang berdekatan menjadi dua buah citra berbeda yang dapat dihitung dalam hitungan arc second. Secara teoritis, untuk menentukan Resolving Power (kemampuan memisahkan) sebuah teleskop, bagilah besar aperture teleskop (inci) tersebut dengan 4,56. Sebagai contoh, Resolving Power (kemampuan memisahkan) sebuah aperture teleskop berukuran 8 adalah 0,6 arc second. Resolving Power (kemampuan memisahkan) berkaitan langsung dengan aperture sehingga semakin besar aperture akan semakin baik Resolving Power (kemampuan memisahkan)-nya. Namun demikian Resolving Power (kemampuan memisahkan) seringkali bergantung terhadap kondisi atmosfer dan ketepatan visual pengamatnya. e. Contrast Citra kontras maksimum baik digunakan untuk mengamati objek-objek dengan nilai kontras yang rendah seperti bulan dan planet. Teleskop Newtonian dan catadioptric memiliki cermin-cermin sekunder (atau diagonal) yang menghalangi cahaya dalam presentase yang kecil yang berasal dari cermin utama. Beberapa referensi literatur mengenai astronomi amatir akan membawa kita untuk mempercayai bahwa kontras sebuah citra dikurangi secara drastis pada teleskop-teleskop Newtonian dan catadioptric yang

disebabkan oleh hambatan ini, tetapi hal ini bukan merupakan sebuah permasalahan. (akan menjadi sebuah permasalahan ketika lebih dari 25% daerah permukaan cermin utama terhalangi) f. Power (perbesaran) Salah satu faktor lain yang harus dipertimbangkan dalam membeli sebuah teleskop adalah Power (perbesaran). Power (perbesaran), dari sebuah teleskop sebenarnya merupakan sebuah hubungan antara dua buah sistem optik independen-(1) teleskop itu sendiri, (2) eyepiece (okuler) yang kita gunakan. Untuk menentukan besar Power (perbesaran), bagilah panjang fokus teleskop (mm) dengan panjang fokus okuler (mm). Dengan mengganti sebuah okuler dari satu panjang fokus dengan okuler lainnya, kita dapat menambah atau mengurangi Power (perbesaran) sebuah teleskop. Sebagai contoh, okuler berukuran 30 mm digunakan pada teleskop C8 (2032 mm) akan menghasilkan Power (perbesaran) sebesar 68 kali (2032 : 30 = 68) dan okuler berukuran 10 mm yang digunakan pada instrumen yang sama akan menghasilkan Power (perbesaran) sebesar 203 kali (2032 : 10 = 203). g. Limit Magnitudo Para ahli astronomi menggunakan sebuah sistem magnitudo untuk menginidikasikan seberapa cerlang sebuah objek langit. Sebuah objek dikatakan memiliki sebuah nomor magnitudo tertentu. Semakin besar nomor manitudo akan menjadikan semakin redup objeknya. Dengan pertambahan nomor magnitudo sebuah objek (dalam nilai pertambahan nomor yang berurutan) akan mengindikasikan keredupan sebuah objek 2,5 kalinya. Bintang yang paling redup yang dapat kita lihat dengan mata telanjang (tidak menggunakan teleskop) berada pada magnitudo ke 6 (dilihat dari langit tergelap) dimana bintang yang paling cerlang memiliki magnitudo sama dengan 0 (atau bahkan bernomor negatif). Magnitudo bintang yang paling redup yang dapat kita lihat dengan bantuan sebuah teleskop (didukung dengan kondisi yang baik) akan menjadi referensi limit magnitudo sebuah teleskop. Limit magnitudo memiliki hubungan langsung dengan aperture, dimana dengan aperture yang semakin

besar maka akan semakin memberi kemungkinan untuk kita dapat melihat bintang-bintang yang lebih redup. Secara praktis, limit magnitudo sebuah teleskop dapat dihitung dengan: 7,5 + 5 LOG (aperture dalam cm). Sebagai contoh, Limit magnitudo untuk teleskop dengan aperture 8 ialah 14,0 (7,5 + (5 LOG 20,32) = 7,5 + (5x13) =14,0). Kondisi atmosfer dan ketepatan visual pengamatnya sering kali mengurangi limit magnitudo. Limit magnitudo untuk keperluan fotografi diperkirakan dua kali atau lebih redup magnitudonya daripada limit magnitudo visual. h. Perbandingan rasio fokus (kecepatan fotografi atau f/stop) Adalah perbandingan antara panjang fokus terhadap aperture sebuah teleskop. Untuk menghitung, bagilah panjang fokus (mm) dengan aperture (mm). Contoh, sebuah teleskop dengan panjang fokus 2032 mm dan aperture 8 (203,2 mm) memiliki besar rasio perbandingan fokus sebesar 10 (2032 : 203,2 = 10). Secara umum dinotasikan sebagai f/10. i. Fokus terdekat Ini adalah jarak terdekat dimana kita dapat memfokuskan teleskop secara visual atau fotografi untuk objek kerja medan dekat. j. Field of View (medan pandang) Luas daerah langit yang dapat kita lihat dengan menggunakan teleskop disebut juga sebagai Field of View (medan pandang) nyata, dengan satuan arc derajat (bidang angular). Semakin besar Field of View (medan pandang), maka akan semakin luas daerah langit yang dapat kita lihat. Field of View (medan pandang) angular dapat dihitung dengan cara membagi power/perbesaran dengan Field of View (medan pandang) (dalam derajat) dari eyepiece (okuler) yang digunakan. Sebagai contoh, jika kita menggunakan sebuah eyepiece (okuler) dengan Field of View (medan pandang) yang terlihat 50 derajat, dan power/perbesaran dengan eyepiece (okuler) sebesar 100 kali, maka Field of View (medan pandang)nya ialah 0,5 derajat (50 : 100 = 0,5) k. Mounting Teleskop Untuk kepentingan yang lebih khusus, kinerja teleskop akan sangat bergantung pada tripod dan maounting yang digunakannya. Mounting ialah

istem gerak yang dapat mempermudah pergerakan tabung teleskop dalam upaya mencari, mengarahkan dan mendapatkan posisi objek yang lebih tepat dan akurat. Pengarahan teleskop dengan menggunakan mounting (baik manual maupun otomatis dengan menggunakan motor) haruslah dilakukan dengan pergerakan yang halus untuk mendapatkan posisi objek yang tepat dan akurat, hal ini wajib dipenuhi dalam astrophotography. Mounting teleskop memiliki dua fungsi, yaitu (1) menyediakan sebuah sistem untuk melakukan pengontrolan gerak yang halus untuk memposisikan dan bergerak mengikuti (guide) instrumennya, dan (2) memberikan bantuan kepada teleskop agar anda dapat melakukan pengamatan dan pengambilan gambar objek tanpa tergangu oleh gangguan pergerakan. Secara garis besar terdapat dua jenis mount untuk teleskop astrnomi, diantaranya ialah: a. Altazimuth jenis ini ialah jenis yang paling sederhana, ia hanya memiliki dua sumbu gerak yaitu sumbu altitude (atas dan bawah/vertical) dan sumbu azimuth (kiri dan kanan/horizontal). Jenis mount seperti ini biasanya baik untuk mngemati objek-objek terrestrial dan objek-objek langit yang cukup terang sehingga kurang baik untuk digunakan astrophotography. b. Equatorial mount jenis ini memiliki banyak kelebihan disbanding jenis pertama, dengan menggunakan mount jenis ini, kita memiliki pilihan objek yang lebih banyak dan luas, bahkan pengamatan dengan periode yang lama sekalipun (astrophotograpy) dapat disupport oleh mount ini. Sistem pergerakannya mengikuti system pergerakan rotasi bumi pada porosnya, sehingga pergerakan setiap objek langit dapat dengan mudah dan akurat diikuti. Equatorial Mount ini memiliki dua tipe yang berbeda, yaitu (1) German Mount, dan (2) Fork Mount. Setting Teleskop Persiapan 1. Menentukan lokasi pengamatan yang memiliki permukaan tanah keras dan datar serta memiliki bidang cakrawala yang terbuka luas.

2. Menentukan arah utara-selatan geografis bumi dengan menggunakan sundial. (a). Simpan sundial pada permukaan tanah pada saat sebelum matahari transit,

Gambar 6. Sundial (b). Tandai ujung bayangan tongkat yang ada di tengah lingkaran setiap saat sebelum matahari transit dan setelah matahari transit, (c). Tarik garis lurus pada titiik tanda ujung bayangan saat sebelum dan setelah matahari transit yang berada pada satu lingkaran yang sama, arah yang ditunjukkan oleh garis tersebut ialah arah mata angin timur dan barat, dan apabila kita buat garis tegak lurus garis tersebut, maka kita akan mendapatkan arah utara dan selatan geografis bumi. (d). Tandai arah tersebut pada permukaan tanah di tempat teleskop akan dirangkai.

Gambar 7. Arah utara dan selatan geografis hasil pengukuran dengan sundial 3. Mempersiapkan sumber tegangan yang akan digunakan sebagai power supply penggerak teleskop.