Anda di halaman 1dari 32

ANATOMI MATA Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm.

Bola mata di bagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan 2 kelengkungan yang berbeda. Anatomi kornea. Kornea merupakan jaringan transparan yang disisipkan ke sklera pada limbus. Rata-rata kornea manusia dewasa tebal 0,54 mm di tengah, 0,65 di tepi, dan diameternya sekitar 11,5 mm dari anterior ke posterior. Kornea itu ada 5 lapis berbeda-beda, yaitu: lapisan epitel (bersambung dengan epitel konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma, membran Descement, dan lapisan endotel. Kekuatan refraksi kornea itu yang terbesar dibanding dengan organ refrakta lain sebesar + 43 dioptri.

Gambar 1. Lapisan kornea.

Lima lapisan dari luar kedalam: 1. Lapisan epitel

Tebalnya 50 m , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong kedepan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya air, elektrolit dan dan sel polygonal yang didepannya melalui desmosom dan macula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran glukosa merupakan barrier.

Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan menghasilkan erosi rekuren. Epitel berasal dari ectoderm permukaan.

2. Membran Bowman Terletak dibawah membrana basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi. 3. Jaringan Stroma Terdiri atas lamel yang merupakan sususnan kolagen yang sejajar satu dengan yang lainnya, Pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang dibagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan.Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak diantara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma. 4. Membran Descement Merupakan membrana aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane

basalnya. Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 m. 5. Endotel. Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40 mm. Endotel melekat pada membran descement melalui hemidosom dan zonula okluden. Bola mata dibungkus oleh 3 lapisan jaringan, yaitu : 1. Sklera, merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata, merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata. Bagian terdepan sklera disebut kornea yang bersifat transparan yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata. Kelengkungan kornea lebih besar dibandingkan sklera. 2. Jaringan uvea, merupakan jaringan vaskuler. Jaringan sklera dan uvea dibatasi oleh ruang yan potensial yang mudah dimasuki darah bila terjadi perdarahan pada ruda paksa yang disebut perdarahan suprakhoroid. Jaringan uvea ini terdiri atas iris, badan siliar, dan khoroid. Pada iris didapatkan pupil, dan oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar masuk ke dalam bola mata. Otot dilatator dipersarafi oleh parasimpatis. Otot siliar yang terletak di badan siliar mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan akomodasi. Badan siliar yang terletak di belakang iris menghasilkan cairan bilik mata (akuor humor) yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada pangkal iris yang dibatasi kornea dan sklera. 3. Retina, terletak paling dalam dan mempunyai susunan sebanyak 10 lapisan yang merupakan membran neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke otak. Terdapat rongga yang potensial antara retina dan khoroid sehingga retina dapat terlepas dari khoroid yang disebut ablasi retina. Badan kaca mengisi rongga di dalam bola mata dan bersifat gelatin yang hanya menempel pada papil saraf optik, makula dan 3

pars plana. Bila terdapat jaringan ikat di dalam badan kaca disertai dengan tarikan pada retina, maka retina akan robek dan akan terjadi ablasi retina. Lensa terletak di belakang pupil yang dipegang di daerah akuatornya pada badan siliar melalui Zonula Zinn. Lensa mata mempunyai peranan pada akomodasi atau melihat dekat sehingga sinar dapat difokuskan di daerah makula lutea. Terdapat 6 otot penggerak bola mata, dan terdapat kelenjar lakrimal yang terletak di daerah temporal atas di dalam rongga orbita. Sistem sekresi air mata atau lakrimal terletak di daerah temporal bola mata. Sistem ekskresi dimulai pada punctum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal, duktus nasolakrimal, dan meatus inferior. [1,2]

Gambar 2. Gambar anatomi mata

KERATITIS Keratitis merupakan radang kornea yang memberi gejala dan tanda-tanda berupa epifora, fotofobia, penglihatan kabur, mata merah, kadang sakit, blefarospasme, dan injeksi perikornea. Disebut injeksi

perikornea bila dalam pemeriksaan ditemukan pembuluh darah lurus radial kearah limbus terlihat jelas dan jika konjungtiva digerakkan pembuluh darah tersebut tidak ikut bergerak karena berasal dari pembuluh darah yang lebih profunda. Keratitis dibedakan menurut letak infiltrate, bentuknya, adanya defek epitel, cara terjadi dan penyebabnya. Keratitis Superfisial Radang epitel/subepitel yang dapat disebabkan oleh infeksi, keracunan, degenerasi, maupun alergi. Gambaran klinik tampak titiktitik putih atau pungtat yang merata, infiltrate di bagian atas (pada trakoma), di sela mata (keratitis sika) atau akibat sinar ultraviolet, dan di bagian bawah (blefarokonjungtivitis stafilokokus). Keratitis Virus Herpes Simpleks Keratitis ini bias digolongkan menurut lokasi dan bentuknya. Keratitis epitelialis (keratitis dendritika, keratitis geografika), dimana virus menyerang epitel basal. Keratitis metaherpetik atau pascainfeksi, bentuk linier tidak teratur sehingga hamper sama dengan keratitis geografika, kesembuhan sangat lambat (8-12 minggu). Keratitis interstitialis virus, putih seperti keju (nekrosis), ada radang limbus, harus dibedakan dengan keratitis karena infeksi sekunder atau jamur. Keratitis diskiformis, kekeruhan bentuk cakram di parenkim kornea yan edema tanpa nekrosis.
Gambar 3 keratitis herpes simpleks

Keratitis Herpes Simpleks (HSV) : HSV adalah virus DNA yang hanya menginfeksi manusia, sekitar 90 persen dari populasi seropositif terhadap antibodi HSV-1, walaupun sebagian besar bersifat subklinis. HSV-1 biasanya menginfeksi bagian di atas pinggang dan HSV-2 pada bagian bawah pinggang. HSV-2 dapat ditransmisikan ke mata melalui sekret genital yang terinfeksi dan persalinan pervaginam. 5

Infeksi primer terjadi pada masak kanak-kanak muda melalui droplet atau inokulasi langsung. Infeksi jenis ini jarang terjadi di awal kelahiran karena proteksi dari antibodi si ibu. Rekuren mengandung arti bahwa selama ini HSV berada pada tubuh manusia di akson saraf sensorik hingga ke gangglion dari saraf tersebut (periode laten). Periode laten dapat kembali dan menyebabkan reaktivasi dari virus, berreplikasi dan berjalan ke bawah melalui akson ke targer jaringan sehingga menyebabkan kambuhnya penyakit. Infeksi okular primer biasanya terjadi pada umur 6 bulan hingga 5 tahun dan biasanya dihubungkan dengan simptom umum dari penyakit virusnya. Blefarokonjungtivitis biasanya jinak, self-limited dan hanya bermanifestasi pada anak-anak. Tanda : vesikel pada kulit melibatkan konjungtivitis preauriculer. alis dan area periorbital. Kondisi dengan akut, unilateral, folikuler berhubungan limphadenopathy

Pada kondisi ini tujuan pengobatan adalah untuk

mencegah terjadinya keratitis dengan asiklovir salep mata lima kali dalam sehari selam tiga minggu. Epitelial keratitis dapat terjadi di segala usia, sakit ringan, mata berair dan penglihatan kabur. Tanda yang muncul secara kronologis opaknya sel epitelial yang tersusun dalam coarse punctate atau stellalte pattern, deskuamasi sentral yang menghasilkan lesi garis linear bercabang (dendritik) dengan akhir terminal bulb, berkurangnya sensasi kornea, infiltrat pada anterior stromal, perluasan sentrifugal progresif yang dapat menghasilkan konfigurasi amoeboid, dalam masa pemulihan pada epitel dapat terjadi bentuk garis lurus yang persisten yang mencerminkan arah dari sel pemulihan epitel. Keratitis herpes simpleks ada dua bentuk yaitu primer dan rekurens. Keratitis ini adalah penyebab ulkus kornea paling umum dan penyebab imunologik kebutaan dan kornea paling sama umum juga di Amerika. Bentuk epitelialnya adalah padanan dari herpes labialis yang memiliki ciri-ciri patologik perjalanan penyakitnya. 6

Perbedaan satu-satunya adalah bahwa perjalanan klinik keratitis dapat berlangsung lama karena stroma kurang vaskuler sehingga menghambat migrasi limfosit dan makrofag ke tempat lesi. Penyakit stroma dan endotel tadinya diduga hanyalah respons imunologik terhadap partikel virus atau perubahan seluler akibat virus, namun sekarang makin banyak bukti yang menunjukkan bahwa infeksi virus aktif dapat timbul di dalam stroma dan mungkin juga sel-sel endotel selain di jaringan lain dalam segmen anterior seperti iris dan endotel trabekel. Kortikosteroid topikal dapat mengendalikan peluang respons terjadinya peradangan yang merusak namun memberi

replikasi virus. Jadi setiap kali menggunakan kortikosteroid topikal harus ditambahkan obat anti virus. Herpes simpleks primer pada mata jarang ditemukan dan bermanifestasi sebagai blefarokonjungtivitis vesikuler kadang-kadang mengenai kornea dan umumnya terdapat pada anak-anak muda. Terapi anti virus topikal dapat dipakai untuk profilaksis agar kornea tidak terkena dan sebagai terapi untuk penyakit kornea. Gejala pertama umumnya iritasi, fotofobia dan berair-air. Bila kornea bagian pusat terkena terjadi sedikit gangguan penglihatan. Lesi paling khas adalah ulus dendritik. Ini terjadi pada epitel kornea, memiliki bulbus terminalis pada ujungnya. Ulkus geografik adalah sebentuk penyakit dendritik menahun yang lesi dendritiknya berbentuk lebih lebar. Tepian ulkus tidak kabur. Sensasi kornea menurun. Lesi epitelial kornea lain yang dapat ditimbulkan HSV adalah keratitis epitelial blotchy, keratitis stelata dan keratitis filamentosa. Terapi keratitis HSV hendaknya bertujuan menghentikan replikasi virus didalam kornea sambil memperkecil efek merusak respons radang. - Debridement Cara efektif mengobati keratitis adalah debridement epitelial karena virus berlokasi di dalam epitel. Debridement juga mengurangi beban 7

antigenik virus pada stroma kornea. Debridement dilakukan dengan aplikator berujung kapas khusus. Obat siklopegik seperti atropin 1% diteteskan ke dalam sakus konjungtiva dan ditutup sedikit dengan tekanan. Pasien harus diperiksa setiap hari dan diganti penutupnya sampai defek korneanya sembuh umumnya dalam 72 jam. Pengobatan tambahan dengan anti virus topikal mempercepat pemulihan epitel. - Terapi Obat Agen anti virus topikal yang dipakai pada keratitis herpes adalah idoxuridine, trifluridine, vidarabine dan acyclovir. Replikasi virus dalam pasien imunokompeten khususnya bila terbatas pada epitel kornea umumnya sembuh sendiri dan pembentukan parut minimal. Dalam hal ini penggunaan kortikosteroid topikal tidak perlu bahkan berpotensi sangat merusak. Penting sekali ditambahkan obat anti virus secukupnya untuk mengendalikan replikasi virus - Terapi Bedah Keratoplasi penetrans mungkin diindikasikan untuk rehabilitasi penglihatan pasien yang mempunyai parut kornea berat namun hendaknya dilakukan beberapa bulan setelah penyakit herpes non aktif. Pasca bedah infeksi herpes rekurens dapat timbul karena trauma bedah dan kortikosteroid topikal yang diperlukan untuk mencegah penolakan transplantasi kornea. Lensa kontak lunak untuk terapi atau tarsorafi mungkin diperlukan untuk pemulihan defek epitel yang terdapat pada keratitis herpes simpleks. Diagnosis banding dari lesi dendritik adalah keratitis Herpes Zoster, abrasi kornea dalam pemulihan, keratitis anthamena dan keropathi toksik sekunder akibat pemakaian obat topikal. Untuk tata laksana dapat dilakukan secara topikal asiklovir 3% salep digunakan 5 kali sehari, dapat juga menggunakan tindakan ganciklovir ataupun untuk lesi triflourotimidin. Lakukan juga debridement

dendritik dan menghilangkan virus yang ada untuk pasien dengan alergi antiviral dan ketidaktersediaan obat. 8

Keratitis Virus Herpes Zooster Infeksi akut yang mengenai ganglion Gasser, jarang bilateral, sakit saat awal, timbul vesikula pada kulit dahi, kelopak mata sampai ujung hidung, konjungtiva hiperemis, sensitivitas kornea menurun. Secara morfologi sama dengan penyakit herpes simpleks namun beda dari segi antigen dan klinis. Zoster lebih sering menginfeksi pasien usia lanjut. Kerusakan mata akibat penyakit ini dapat
Gambar 4 keratitis numular

dikarenakan oleh dua hal yaitu invasi virus langsung

dan iflamasi sekunder akibat mekanisme autoimun. Risiko keterlibatan mata sebesar 15% dari total kasus herpes zoster, meningkat bila dijumpai keterlibatan nervus ekternal nasal, keterlibatan nervus maksilaris, dan peningkatan usia. Herpes zoster oftalmikus dibagi menjadi 3 fase yakni : 1. Fase akut, ditandai dengan penyakit seperti infuenza, demam, malaise, sakit kepala hingga seminggu sebelum tanda kemerahan muncul, neuralgia preherpetik, kemerahan pada kulit, timbulnya keratitis dalam 2 hari setelah kemerahan muncul, keratitis nummular yang mucul sekitar 10 hari setelah kemerahan muncul, dan keratitis disciform yang dapat terjadi setelah tiga minggu. 2. Fase kronik, ditandai dengan keratitis nummular selama berbulanbulan, keratitis disciform dengan jaringan parut, keratitis neutrofik yang dapat menyebabkan infeksi bakteri sekunderdan keratitis plak mukus yang dapat timbul setelah bulan ketiga hingga keenam. 3. fase relapse, dapat dijumpai bahkan hingga sepuluh tahun setelah fase akut. Hal ini dapat diakibatkan oleh penghentian tiba-tiba dari steroid topikal. Lesi yang paling umum adalah episkleritis, skeleritis, iritis, glaukoma, keratitis numular, disciform atau plak mukus. Infeksi virus varicella-zoster (VZV) terjadi dalam dua bentuk yaitu primer (varicella) dan rekurens (zoster). Manifestasi pada mata jarang 9

terjadi pada varicella namun sering pada zoster oftalmik. Berbeda dari keratitis HVS rekurens yang umumnya hanya mengenai epitel, keratitis VZV mengenai stroma dan uvea anterior pada awalnya. Lesi epitelnya keruh dan amorf kecuali kadang-kadang ada pseudodendritlinier yang sedikit mirip dendrit pada keratitis HSV. Kekeruhan stroma disebabkan oleh edema dan sedikit infiltrat sel yang awalnya hanya subepitel. Kehilangan sensasi kornea selalu merupakan ciri mencolok dan sering berlangsung berbulan-bulan setelah lesi kornea tampak sembuh. Acyclovir intravena dan oral telah dipakai dengan hasil baik untuk mengobati herpes zoster oftalmik. Kortikosteroidtopikal mungkin diperlukan untuk mengobati untuk mengobati keratitis berat, uveitis dan glaukoma sekunder. Keratitis Jamur Keratitis jamur lebih sering ditemukan pada petani, sukar sembuh, infiltrate abu-abu, kadang ada hipopion, gejala inflamasinya berat dimulai dengan ulserasi superficial, disertai infeiltrat satelit ditempat lain seperti induk-anak ayam, ada satu tumpukan infiltrate yang luas dan disekitarnya ada infiltrate kecil-kecil, ulkus meluas sampai endotel, tepi ulkus tidak teratur (banyak karena Candida). Umum terjadi pada petani dengan riwayat trauma atau kontak benda organik seperti pohon atau daun, semakin sering pada populasi urban sejak penggunaan kortikosteroid dalam bidang mata diperkenalkan. Biasanya infeksi ini terjadi akibat jumlah inokulasi yang cukup banyak.
Gambar 5 keratitis jamur

Jamur dapat menyebabkan nekrosis stromal yang berat dan dapat masuk ke dalam bilik depan dengan melakukan penetrasi ke dalam membran Descement. Ketika sampai di bilik depan, proses infeksi akan sulit untuk dikendalikan. Organisme yang biasa ditemukan pada keratitis jamur adalah jamur berfilamen (Aspergillus, Fusarium sp) dan

10

Candida albicans. Infeksi candida sering terjadi pada pasien dengan gangguan sistem imun. Penampakan klinis : penderita keratitis jamur bisanya mengeluhkan sensasi benda asing, fotofobia, penglihatan yang kabur dan abnormal sekret. Progresi panyakit lebih lambat dan lebih tidak sakit daripada keratitis karena bakteri. Penggunaan topikal steroid akan meningkatkan replikasi jamur dan invasi kornea. Tanda yang dapat ditemukan antara lain adalah keratitis dengan filamen berwarna keabuan yang menginfiltrasi stroma dengan tekstur kering dan tepi yang tidak rata, lesi satelit, plak endothelial dan hipopion. Pada keratitis candida biasaya ditandai dengan lesi berwarna putih kekuningan. Infeksi fungal memilki infiltrat abu-abu dengan tepi yang tidak beraturan, sering ditemukan hipopion, tanda inflamasi, ulserasi yang superfisial, dan lesi satelit. Kebanyakan oppurtunistik infeksi sepert kornea kandida, karena jamur disebabkan oleh fusarium, aspergillus, penicilium,

cephalosporium dan lainnya. Tidak ada penampakan spesifik yang dapat membantu membedakan ulkus jamur yang satu dengan yang lain. Keratitis epitelial

Perubahan epitel kornea bervariasi mulai dari edema ringan dan vakuolisasi sampai erosi, pembentukan filament, keratinisasi parsial, dan lain-lain. Lokasi lesi juga bervariasi. Semua bentuk keratitis epitel memiliki pengaruh besar dalam
Gambar 6 keratitis epitel filamen

ini

menegakkan diagnosis. Pemeriksaan slitlamp dengan atau tanpa pewarnaan fluoresens menjadi keharusan dari pemeriksaan mata luar. 11

Keratitis Subepitel

Ada beberapa tipe lesi subepitel yang penting untuk diketahui. Contoh: infiltrat subepitel dari epidemik keratoconjungtivitis, adenoviruses 8 dan 19. Keratitis Stroma (representasi dari akumulasi sel-sel yang disebabkan oleh
Gambar 7 keratitis subepitel

Respon stroma kornea terhadap penyakit berupa infiltrate radang), edema (manifestasi dari penebalan konea, opasifikasi atau scarring), nekrosis atau melting yang mengakibatkan penipisan kornea, vaskularisasi kornea. Keratitis Endotel
Gambar 8 keratitis stromal

perforasi

kornea,

dan

Disfungsi endotel kornea menyebabkan edema kornea, yang pada awalnya melibatkan stroma kemudian epitel. Selama kornea belum terlalu edema, morfologi abnormalitas endotel dapat terlihat dengan slitlamp. Sel-sel inflamasi pada endotel (presipitat kornea) tidak selalu menjadi tanda penyakit kornea karena dapat berupa manifestasi klinis dari uveitis anterior yang dapat diikuti ataupun tidak diikuti keratitis stroma.

12

13

Keratitis Bakteri

Beragam jenis ulkus yang disebabkan bakteri yang berbeda memiliki bentuk yang sama, dan hanya bervariasi derajat keparahannya, terutama pada bakteri opurtunistik seperti streptokokus hemolitikus, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, nocardia, dan M fortuitum-chelonei, yang menyebabkan ulkus yang cenderung menyebar perlahan dan superfisial. Streptococcus pneumoniae (pneumococcal) Corneal Ulcer : Ulkus kornea karena pneumokokus biasanya timbul 24-48 jam setelah inokulasi pada kornea yang tidak intak. Ulkus biasanya berwarna keabu-abuan, berbatas tegas, dan cenderung menyebar secara acak dari fokus infeksi ke arah sentral kornea. Dinamakan acute serpiginous ulcer karena ulserasi aktif diikuti oleh jejak ulkus yang menyembuh. Pada awalnya lapis superfisial saja yang terkena kemudian menuju lapis dalam kornea. Kornea di sekitar ulkus biasanya tetap jernih. Hipopion tidak selalu menyertai ulkus. Hasil dari kerokan ulkus memperlihatkan bakteri kokus Gram-positif: lancet-shaped dengan kapsul. Lesi kornea Pseudomonas aeruginosa : Ulkus kornea Pseudomonas dimulai dengan infiltrate berwarna kuning atau keabu-abuan pada epitel kornea yang tidak intak. Ulkus kornea yang disebabkan Pseudomonas sering disertai rasa sakit. Lesi cenderung menyebar dengan cepat ke semua arah karena enzim proteolitik yang diproduksi oleh Pseudomonas. Pada awalnya hanya mengenai kornea superficial, namun dengan cepat akan menyebar ke seluruh kornea yang dapat menyebabkan perforasi kornea dan infeksi intraocular berat. Perforasi berhubungan dengan IL-12 yang dilepaskan pada saat inflamasi. Sering terdapat hipopion yang membesar seiring dengan 14

perluasan ulkus. Infiltrat dan eksudat berwarna hijau kebiruan karena pigmen yang diproduksi oleh Pseudomonas, warna tersebut merupakan patognomonic untuk infeksi P aeruginosa. Ulkus kornea karena Pseudomonas biasanya berhubungan dengan pemakaian lensa kontak lunak terutama jenis pemakaian jangka panjang. Selain itu juga berhubungan dengan pemakian larutan fluoresens dan tetes mata yang terkontaminasi. Hasil kerokan pada lesi memperlihatkan batang Gram-negatif tipis. Lesi kornea Moraxella liquefaciens : M liquefaciens (diplobacillus of Petit) menyebabkan ulkus berbentuk oval yang biasanya terletak di inferior kornea kemudian menginfeksi stroma bagian dalam dalam periode beberapa hari. Biasanya tidak disertai hipopion atau disertai namun hanya berupa hipopion kecil berjumlah satu, kornea di sekitar ulkus biasanya jernih. Ulkus M liquefaciens sering terjadi pada pasien dengan alkoholisme, diabetes, dan keadaan imunosupresi.Hasil kerokan memperlihatkan nakteri batang Gram-negatif, besar, dan square-ended diplobacilli. Lesi kornea Group A Streptococcus : Ulkus yang disebabkan Streptokokus beta- hemolitikus grup A tidak memiliki ciri khusus. Sekitar stroma kornea terdapat infiltrat dan edema, terdapat juga hipopion. Hasil kerokan lesi didapatkan kokus gram positif dalam bentuk rantai. Keratitis Acanthamoeba adalah protozoa yang hidup bebas,

Acanthamoeba

menempati air yang tercemar bakteri dan material organik. Infeksi kornea oleh achantamuba biasanya berhubungan dengan pemakian lensa kontak lunak yang
Gambar 10 keratitis Acanthamoeba

berulang, termasuk lensa hidrogel silikon atau lensa kontak keras. Keratitis karena Acanthamoeba juga dapat dialami bukan pemakai lensa kontak yang mengalami kontak mata dengan tanah atau air 15

yang tercemar. Gejala awal berupa rasa sakit yang sangat dan tidak sebanding dengan tampilan klinisnya, merah, dan fotofobia. Karakteristiknya adalah ulkus kornea dengan cincin pada stroma, dan infiltrat perineural. Diagnosis Acanthamoeba cukup sulit karena gejala yang mirip dengan keratitis herpes simpleks.Hilangnya sensasi kornea juga merupakan gejala yang mirip dengan keratitis herpes simpleks. Diagnosis ditegakkan dengan media agar non-nutrien dengan biakan E. coli. Spesimen lebih baik diambil dengan metode biopsi kornea daripada kerokan kornea, jika pasien adalah pemakai lensa kontak, tempat dan cairan lensa juga perlu dikultur jika bentuk diagnosis Acanthamoeba (trofozoit atau kista) tidak ditemukan pada kerokan.biopsi kornea. Pengobatan biguanide untuk keratitis Acanthamoeba atau tetes adalah mata propamidine mengandung isethionate (1% solution) topikal intensif dan polyhexamethylene (0.010.02% solution) neomisin. Sama seperti bakteri, Acanthamoeba juga dapat resisten terhadap obat yang digunakan, penyulit lain adalah kemampuan organisme ini untuk membentuk kista di dalam stroma kornea, jadi memerlukan pada kornea. Keratitis disciformis pasti tidak diketahui dan masih pengobatan dengan waktu yang lebih lama. Kortikosteroid topikal digunakan untuk mengontrol reaksi inflamasi

Etiologi

kontroversial. Dapat saja infeksi dari keratosit atau hipersensitivitas terhapat antigen virus.
Gambar 11. keratitis disciform

Keratitis stromal nekrotik

Disebabkan oleh invasi aktif virus dan nekrosis jaringan, dapat disertai dengan penyakit epitelial ataupun tidak (epitelial intak). Tanda yang 16

dapat ditemukan antara lain adalah stroma nekrotik kekejuan, dapat berhubungan dengan anterior uveitis, jika tidak tertangani dengan baik dapat menjadi jaringan parut, vaskularisasi, keropati lipid dan bahkan perforasi. Tata laksana dengan agen antiviral untuk meredakan penyakit epitelial yang aktif, mencegah inflamasi stromal. _______________________________________________________________________ ULKUS KORNEA Ulkus Kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi dari epitel sampai stroma. Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea. Ulkus kornea yang luas memerlukan penanganan yang tepat dan cepat untuk mencegah perluasan ulkus dan timbulnya komplikasi seperti desmetokel, perforasi, endoftalmitis.

Faktor-faktor pencetus terjadinya ulkus kornea: 1. Adanya kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan adanya

insufisiensi sistem lakrimal, sumbatan saluran lakrimal. 2. Faktor eksternal ; luka pada kornea (erosio kornea) karena trauma, penggunaan lensa kontak, luka bakar pada daerah muka.

17

3. Kelainan-kelainan kornea yang di sebabkan oleh : edema kornea kronik, exposure keratitis (lagoftalmus, anestesi umum, koma, dan kelainan palpebra seperti koloboma). 4. Kelainan-kelainan sistemik : malnutrisi, alkoholisme, sindroma Steven Jhonson, sindroma defisiensi imun. 5. Obat-obatan yang menurunkan mekanisme imun misalnya

kortikosteroid IDU (Idoryuridine), anastetik lokal dan golongan imunosupresif lainnya.

Gejala Klinik Ulkus kornea biasanya terjadi sesudah terdapatnya trauma ringan yang merusak epitel kornea. Gejala-gejala yang ditimbulkan olehnya bervariasi tergantung dari jenis ulkus apakah steril atau infektif, keadaan fisik pasien, besarnya ulkus dan virulensi inokulum. Ulkus akan memberikan gejala mata merah, sakit mata ringan hingga berat, fotofobia, penglihatan menurun dan kadang kotor. Ulkus kornea akan memberikan kekeruhan berwarna putih pada kornea dengan defek epitel yang bila diberi pewarnaan fluoresein akan berwarna hijau di tengahnya. Iris sukar dilihat karena keruhnya kornea akibat edema dan infiltrasi sel radang pada kornea. Gejala yang dapat menyertai adalah penipisan kornea, lipatan Descemet, reaksi jaringan uvea (akibat gangguan vaskularisasi iris), berupa suar, hipopion, hifema dan sinekhia posterior. Biasanya kokus gram positif, stafilokokus aureus dan streptokokus pneumoni akan memberikan gambaran ulkus yang terbatas, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih abu-abu pada ulkus yang supuratif. Daerah kornea yang tidak terkena tetap berwarna jernih dan tidak terlihat infiltrasi sel radang.

18

Gambar 12. Ulkus kornea yang disertai dengan hipopion

Etiologi A. Infeksi i. Infeksi Bakteri : P. aeraginosa, Streptococcus pneumonia dan spesies Moraxella merupakan penyebab paling sering. Hampir semua ulkus berbentuk sentral. Gejala klinis yang khas tidak dijumpai, hanya sekret yang keluar bersifat mukopurulen yang bersifat khas menunjukkan infeksi P aeruginosa. ii. iii. Infeksi Jamur : disebabkan oleh Candida, Fusarium, Aspergilus, Cephalosporium, dan spesies mikosis fungoides. Infeksi virus Ulkus kornea oleh virus herpes simplex cukup sering dijumpai. Bentuk khas dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil dilapisan epitel yang bila pecah akan menimbulkan ulkus. Ulkus dapat juga terjadi pada bentuk disiform bila mengalami nekrosis di bagian sentral. Infeksi virus lainnya varicella-zoster, variola, vacinia (jarang). iv. Acanthamoeba Acanthamoeba adalah protozoa hidup bebas yang terdapat didalam air yang tercemar yang mengandung bakteri dan materi organik. Infeksi kornea oleh acanthamoeba adalah komplikasi yang semakin dikenal pada pengguna lensa kontak lunak, khususnya bila memakai larutan garam buatan sendiri. Infeksi juga biasanya ditemukan pada

19

bukan pemakai lensa kontak yang terpapar air atau tanah yang tercemar. B. Noninfeksi i. Bahan kimia, bersifat asam atau basa tergantung PH. Bahan asam yang dapat merusak mata terutama bahan anorganik, organik dan organik anhidrat. Bila bahan asam mengenai mata maka akan terjadi pengendapan protein permukaan sehingga bila konsentrasinya tidak tinggi maka tidak bersifat destruktif. Biasanya kerusakan hanya bersifat superfisial saja. Pada bahan alkali antara lain amonia, cairan pembersih yang mengandung kalium/natrium hidroksida dan kalium karbonat akan terjadi penghancuran kolagen kornea. ii. Radiasi atau suhu Dapat terjadi pada saat bekerja las, dan menatap sinar matahari yang akan merusak epitel kornea. iii. Sindrom Sjorgen Pada sindrom Sjorgen salah satunya ditandai keratokonjungtivitis sicca yang merupakan suatu keadan mata kering yang dapat disebabkan defisiensi unsur film air mata (akeus, musin atau lipid), kelainan permukan palpebra atau kelainan epitel yang menyebabkan timbulnya bintik-bintik kering pada kornea. Pada keadaan lebih lanjut dapat timbul ulkus pada kornea dan defek pada epitel kornea terpulas dengan flurosein. iv. Defisiensi vitamin A Ulkus kornea akibat defisiensi vitamin A terjadi karena kekurangan vitamin A dari makanan atau gangguan absorbsi di saluran cerna dan ganggun pemanfaatan oleh tubuh. v. Obat-obatan

20

Obat-obatan imunosupresif. vi. vii.

yang

menurunkan

mekanisme

imun,

misalnya;

kortikosteroid, IDU (Iodo 2 dioxyuridine), anestesi lokal dan golongan Kelainan dari membran basal, misalnya karena trauma. Pajanan (exposure)

viii. Neurotropik C. Sistem Imun (Reaksi Hipersensitivitas) i. ii. Granulomatosa wagener Rheumathoid arthritis

Patofisiologi Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea dapat menimbulkan gangguan visus yang hebat apalagi bila letaknya di daerah sekitar pupil. Badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma kornea alih profesi sementara sebagai makrofag, kemudian disusul tuh sama respon dilatasi pembuluh darah yang terdapat dilimbus maka terlihat sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma, leukosit polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah ulkus kornea. Lesi yang ada dikornea itu baik yang ada superfisial maupun profunda (yang lebih dalam) dapat menimbulkan rasa sakit/fotofobia. Gesekan palpebra pada kornea akan menyebabkan sakit bertambah. Kontraksi iris sangat progresif, regresi iris, yang meradang dapat menimbulkan fotofobia. Ulkus dapat menyebar kedua arah alias melebar dan mendalam. Maka sering ada istilah superficial yaitu ulkus yang dapat cepat sembuh dan daerah infiltrasi ini menjadi bersih kembali, tapi kalau lesi sampai ke membran Bowman dan stroma maka 21

akan terbentuk jaringan ikat baru yang akan menyebabkan terjadinya jaringan sikatrik. Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditentukan oleh adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan sel radang. Dikenal ada 2 bentuk tukak pada kornea, yaitu sentral dan

marginal/perifer. Tukak kornea sentral disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, dan virus. Sedangkan perifer umumnya disebabkan oleh reaksi toksik, alergi, autoimun, dan infeksi. M. lacunata. Jenis Ulkus Kornea 1. Ulkus Kornea Sentral Ulkus kornea sentral dapat disebabkan oleh pseudomonas, yang streptococcus, pneumonia, virus, jamur, dan alergi. Pengobatan ulkus kornea secara umum adalah dengan pemberian antibiotika sesuai dan sikloplegik. Pembentukan parut akibat ulserasi kornea Infeksi pada kornea perifer biasanya disebabkan oleh kuman Stafilokok aureus, H. influenza, dan

adalah penyebab utama kebutaan dan gangguan penglihatan di seluruh dunia. Kebanyakan gangguan penglihatan ini dapat dicegah, namun hanya bila diagnosis penyebabnya ditetapkan secara dini dan diobati secara memadai. Ulserasi supuratif sentral dahulu hanya disebabkan oleh S pneumonia. Tetapi akhir-akhir ini sebagai akibat luasnya penggunaan di obat-obat sistemik dan lokal fungi, (sekurangdan virus kurangnya negara-negara maju), bakteri,

opurtunistik cenderung lebih banyak menjadi penyebab ulkus kornea daripada S pneumonia. Ulkus kornea sentral dengan hipopion

Ulkus sentral biasanya merupakan ulkus infeksi akibat kerusakan pada epitel. Lesi terletak di sentral, jauh dari limbus vaskuler. Hipopion 22

biasanya (tidak selalu) menyertai ulkus. Hipopion adalah pengumpulan sel-sel radang yang tampak sebagai lapis pucat di bagian bawah kamera anterior dan khas untuk ulkus sentral kornea bakteri dan fungi. Meskipun hipopion itu steril pada ulkus kornea bakteri, kecuali terjadi robekan pada membran descemet, pada ulkus fungi lesi ini mungkin mengandung unsur fungi.

Ulkus Kornea Bakterialis di bidang konstruksi, industri, atau pertanian yang

Ulkus kornea yang khas biasanya terjadi pada orang dewasa yang bekerja memungkinkan terjadinya cedera mata. Terjadinya ulkus biasanya karena benda asing yang masuk ke mata, atau karena erosi epitel kornea. Dengan adanya defek epitel, dapat terjadi ulkus kornea yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen yang terdapat pada konjungtiva atau di dalam kantong lakrimal. Banyak jenis ulkus kornea bakteri mirip satu sama lain dan hanya bervariasi dalam beratnya penyakit. Ini terutama berlaku untuk ulkus yang disebabkan bakteri oportunitik (misalnya Streptococcus alfa-hemolyticus, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Nocardia, dan M fortuitumchelonei), yang menimbulkan ulkus indolen yang cenderung menyebar perlahan dan superficial. Ulkus sentral yang disebabkan Streptococcus beta-hemolyticus tidak memiliki ciri khas. Stroma kornea disekitarnya sering menunjukkan infiltrat dan sembab, dan biasanya terdapat hipopion yang berukuran sedang. Kerokan memperlihatkan kokus gram (+) dalam bentuk rantai. Obat-obat yang disarankan untuk pengobatan adalah Cefazolin, Penisillin G, Vancomysin dan Ceftazidime.

23

Ulkus

kornea

sentral

yang

disebabkan

Staphylococcus

aureus,

Staphylococcus epidermidis, dan Streptococcus alfa-hemolyticus kini lebih sering dijumpai daripada sebelumnya, banyak diantaranya pada kornea yang telah terbiasa terkena kortikosteroid topikal. Ulkusnya sering indolen namun dapat disertai hipopion dan sedikit infiltrat pada kornea sekitar. Ulkus ini sering superficial, dan dasar ulkus teraba padat saat dilakukan kerokan. Kerokan mengandung kokus gram (+) satu-satu, berpasangan, atau dalam bentuk rantai. Keratopati kristalina infeksiosa telah ditemukan pada pasien yang menggunakan kortikosteroid topikal jangka panjang, penyebab umumnya adalah Streptococcus alfa-hemolyticus.

Ulkus Kornea Fungi

Ulkus kornea fungi, yang pernah banyak dijumpai pada pekerja pertanian, kini makin banyak diantara penduduk perkotaan, dengan dipakainya obat kortikosteroid dalam pengobatan mata. Sebelum era kortikosteroid, ulkus kornea fungi hanya timbul bila stroma kornea kemasukan terpengaruhi sangat banyak mikroorganisme. masih dapat Mata yang belum kortikosteroid mengatasi masukkan

mikroorganisme sedikit-sedikit. Kerokan dari ulkus kornea fungi, kecuali yang disebabkan Candida umumnya mengandung unsur-unsur hifa; kerokan dari ulkus Candida umumnya mengandung pseudohifa atau bentuk ragi, yang menampakkan kuncup-kuncup khas. Ulkus kornea virus

Ulkus Kornea Herpes Zoster

24

Biasanya diawali dengan perasaan lesu, timbul 1-3 hari sebelum timbul gejala kulit. berwarna Pada mata kelihatan vesikel dan edem palpebra, dengan fluoresin yang lemah. Kornea konjungtiva hiperemis, kornea keruh. Infiltrat berbentuk dendrit abu-abu kotor hipestesi tapi dengan rasa sakit. Ulkus Kornea Herpes simplex Awalnya dimulai injeksi siliar disertai terdapatnya dataran sel di permukaan epitel kornea bentuk dendrit atau bintang infiltrasi. Terdapat hipertesi kornea. Terdapat pembesaran kelenjar preaurikel. Bentuk dendrit kecil, ulceratif, jelas diwarnai dengan fluoresin dengan benjolan diujungnya 2. Ulkus Kornea Perifer Ulkus Marginal

Kebanyakan ulkus kornea marginal bersifat jinak namun sangat sakit. Ulkus ini timbul akibat konjungtivitis bakteri akut atau menahun khususnya blefarokonjungtivitis stafilokokus. Ulkus timbul akibat sensitisasi terhadap produk bakteri, antibodi dari pembuluh limbus bereaksi dengan antigen yang telah berdifusi melalui epitel kornea. Infiltrat dan ulkus marginal mulai berupa infiltrat linier atau lonjong terpisah dari limbus oleh interval bening dan hanya pada akhirnya menjadi ulkus dan mengalami vaskularisasi. Proses ini sembuh sendiri umumnya setelah 7 sampai 10 hari. Terapi terhadap blefaritis umumnya dapat mengatasi masalah ini, untuk beberapa kasus diperlukan kortikosteroid topikal untuk mempersingkat perjalanan penyakit dan mengurangi gejala. Sebelum mamekai kortikosteroid perlu dibedakan keadaan ini yang dulunya dikenal sebagai ulserasi kornea catarrhal dari keratitis marginal.

25

Ulkus Mooren

Penyebab ulkus mooren belum diketahui namun diduga autoimun. Ulkus ini termasuk ulkus marginal. Pada 60-80 kasus unilateral dan ditandai ekstravasi limbus dan kornea perifer yang sakit dan progresif dan sering berakibat kerusakan mata. Ulkus mooren paling sering terdapat pada usia tua namun agaknya tidak berhubungan dengan penyakit sistemik yang sering diderita orang tua. Ulkus ini tidak responsif terhadap antibiotik maupun kortikosteroid. Belakangan ini telah dilakukan eksisi konjungtiva limbus melalui bedah dalam usaha untuk menghilangkan substansi perangsang. Keratoplasi tektonik lamelar telah dipakai dengan hasil baik pada kasus tertentu. Terapi imunosupresif sistemik ada manfaatnya untuk penyakit yang telah lanjut. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata. Pemeriksaan diagnosis yang biasa dilakukan adalah : Ketajaman penglihatan Tes refraksi Pemeriksaan slit-lamp Keratometri (pengukuran kornea) Respon refleks pupil Goresan ulkus untuk analisis atau kultur Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi

Pengobatan Ulkus kornea adalah keadan darurat yang harus segera ditangani oleh spesialis mata agar tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea. Pengobatan pada ulkus kornea tergantung penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang mengandung antibiotik, anti virus, anti jamur, 26

sikloplegik dan mengurangi reaksi peradangan dengann steroid. Pasien dirawat bila mengancam perforasi, pasien tidak dapat memberi obat sendiri, tidak terdapat reaksi obat dan perlunya obat sistemik. a. Penatalaksanaan ulkus kornea di rumah 1. 2. 3. 4. Jika memakai lensa kontak, secepatnya untuk melepaskannya Jangan memegang atau menggosok-gosok mata yang meradang Mencegah penyebaran infeksi dengan mencuci tangan sesering Berikan analgetik jika nyeri b. Penatalaksanaan medis 1. Pengobatan konstitusi Oleh karena ulkus biasannya timbul pada orang dengan keadaan umum yang kurang dari normal, maka keadaan umumnya harus diperbaiki dengan makanan yang bergizi, udara yang baik, lingkungan yang sehat, pemberian roboransia yang mengandung vitamin A, vitamin B kompleks dan vitamin C. Pada ulkus-ulkus yang disebabkan kuman yang virulen, yang tidak sembuh dengan pengobatan biasa, dapat diberikan vaksin tifoid 0,1 cc atau 10 cc susu steril yang disuntikkan intravena dan hasilnya cukup baik. Dengan penyuntikan ini suhu badan akan naik, tetapi jangan sampai melebihi 39,5C. Akibat kenaikan suhu tubuh ini diharapkan bertambahnya antibodi dalam badan dan menjadi lekas sembuh. 2. Pengobatan lokal Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan. Lesi kornea sekecil apapun harus diperhatikan dan diobati sebaik-baiknya. Konjungtuvitis, dakriosistitis harus diobati dengan baik. Infeksi lokal pada hidung, telinga, tenggorok, gigi atau tempat lain harus segera dihilangkan. 27

mungkin dan mengeringkannya dengan handuk atau kain yang bersih

Infeksi pada mata harus diberikan : 1. Sulfas atropine sebagai salap atau larutan. Kebanyakan dipakai sulfas atropine karena bekerja lama 1-2 minggu. Efek kerja sulfas atropine : Sedatif, menghilangkan rasa sakit. Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang. Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor pupil.

Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya akomodsi sehingga mata dalan keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya M. konstriktor pupil, terjadi midriasis sehinggga sinekia posterior yang telah ada dapat dilepas dan mencegah pembentukan sinekia posterior yang baru 2. Skopolamin sebagai midriatika. 3. Analgetik. Untuk menghilangkan rasa sakit, dapat diberikan tetes pantokain, atau tetrakain. 4. Antibiotik Anti biotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau yang berspektrum luas diberikan sebagai salap, tetes atau injeksi subkonjungtiva. Pada pengobatan ulkus sebaiknya tidak diberikan salap mata karena dapat memperlambat penyembuhan dan juga dapat menimbulkan erosi kornea kembali. 5. Anti jamur Terapi medika mentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya preparat komersial yang tersedia berdasarkan jenis keratomitosis yang dihadapi bisa dibagi : a. Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya : topikal amphotericin B 1, 2, 5 mg/ml, Thiomerosal 10 mg/ml, Natamycin > 10 mg/ml, golongan Imidazole

28

b. c. d.

Jamur berfilamen : topikal amphotericin B, thiomerosal, Ragi (yeast) : amphotericin B, Natamicin, Imidazol Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan sulfa, berbagai

Natamicin, Imidazol

jenis anti biotik 6. Anti Viral Untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik diberikan streroid lokal untuk mengurangi gejala, sikloplegik, anti biotik spektrum luas untuk infeksi sekunder analgetik bila terdapat indikasi. Untuk herpes simplex diberikan pengobatan IDU, ARA-A, PAA, interferon inducer. Perban tidak seharusnya dilakukan pada lesi infeksi supuratif karena dapat menghalangi pengaliran sekret infeksi tersebut dan memberikan media yang baik terhadap perkembangbiakan kuman penyebabnya. Perban memang diperlukan pada ulkus yang bersih tanpa sekret guna mengurangi rangsangan. Untuk menghindari penjalaran ulkus dapat dilakukan : 1. a) b) Kauterisasi Dengan zat kimia : Iodine, larutan murni asam karbolik, larutan Dengan panas (heat cauterisasion) : memakai elektrokauter atau

murni trikloralasetat termophore. Dengan instrumen ini dengan ujung alatnya yang mengandung panas disentuhkan pada pinggir ulkus sampai berwarna keputih-putihan. 2. Pengerokan epitel yang sakit Parasentesa dilakukan kalau pengobatan dengan obat-obat tidak menunjukkan perbaikan dengan maksud mengganti cairan coa yang lama dengan yang baru yang banyak mengandung antibodi 29

dengan harapan luka cepat sembuh. Penutupan ulkus dengan flap konjungtiva, dengan melepaskan konjungtiva dari sekitar limbus yang kemudian ditarik menutupi ulkus dengan tujuan memberi perlindungan dan nutrisi pada ulkus untuk mempercepat penyembuhan. Kalau sudah sembuh flap konjungtiva ini dapat dilepaskan kembali. Bila seseorang dengan ulkus kornea mengalami perforasi spontan berikan sulfas atropine, antibiotik dan balut yang kuat. Segera berbaring dan jangan melakukan gerakan-gerakan. Bila perforasinya disertai prolaps iris dan terjadinya baru saja, maka dapat dilakukan : Iridektomi dari iris yang prolaps Iris reposisi Kornea dijahit dan ditutup dengan flap konjungtiva Beri sulfas atripin, antibiotic dan balut yang kuat Bila terjadi perforasi dengan prolaps iris yang telah berlangsung lama, kita obati seperti ulkus biasa tetapi prolas irisnya dibiarkan saja, sampai akhirnya sembuh menjadi leukoma adherens. Antibiotik diberikan juga secara sistemik. 3. Keratoplasti Keratoplasti adalah jalan terakhir jika urutan penatalaksanaan diatas tidak berhasil. Indikasi keratoplasti terjadi jaringan parut yang mengganggu penglihatan, kekeruhan kornea yang menyebabkan kemunduran tajam penglihatan, serta memenuhi beberapa kriteria yaitu : Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas penderita Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita. Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia.

PENCEGAHAN

30

Pencegahan terhadap ulkus dapat dilakukan dengan segera berkonsultasi kepada ahli mata setiap ada keluhan pada mata. Sering kali luka yang tampak kecil pada kornea dapat mengawali timbulnya ulkus dan mempunyai efek yang sangat buruk bagi mata. Lindungi mata dari segala benda yang mungkin bisa masuk kedalam mata Jika mata sering kering, atau pada keadaan kelopak mata tidak bisa menutup sempurna, gunakan tetes mata agar mata selalu dalam keadaan basah Jika memakai lensa kontak harus sangat diperhatikan cara memakai dan merawat lensa tersebut. KOMPLIKASI Komplikasi yang paling sering timbul berupa: Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat singkat Kornea perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis dan panopthalmitis Prolaps iris Sikatrik kornea Katarak Glaukoma sekunder

KESIMPULAN Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea. Leukoma yaitu bercak putih seperti porselen yang tampak dari jarak jauh, yang merupakan jaringan sikatrik setelah penyembuhan proses radang pada kornea yang lebih dalam. Pengobatan umumnya untuk ulkus kornea adalah dengan sikloplegik, 31

antibiotika yang sesuai dengan sediaan topikal, dan pasien dirawat bila mengancam perforasi. Pengobatan atau terapi pada ulkus kornea bertujuan untuk menghalangi hidupnya bakteri dengan antibiotika, dan mengurangi reaksi radang dengan steroid. Prognosis pada umumnya baik, tergantung pada ukuran dan dalamnya ulkus, pengobatan dan faktor-faktor pencetus.

KESIMPULAN. 1. American Academy of Opthalmology. External Disease and Cornea. Section 11. San Fransisco: MD Association, 2005-2006. 2. Fahreza A. Dkk. Keratitis diakses dari. http://www.scribd.com/doc/39509670/Ulkus-Kornea.

32