Anda di halaman 1dari 66

1 JUDUL YANG SIGNIFIKAN DENGAN TEMA KONSEP PEMBELAJARAN KARYA WISATA (PTK ) DIBAWAH INI ADALAH :

KARYA WISATA SUATU SOLUSI SMART LEARNING BAGI PENINGKATAN HASIL PRESTASI BELAJAR IPS DI KELAS VI SD NEGERI _____ KEC. ______ KAB. _______

By : guntur-aneh.blogspot.com

Please add me facebook : guntur aneh mulai waras twitter : @guntur_aneh

klikot : guntur saleksa http://www.klikot.com/Profile_.aspx?user_id=1704713

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang sulit dipelajari oleh siswa, karena dalam proses pembelajarannya memerlukan pembuktian antara teori yang dipelajari di dalam kelas dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ini dibuktikan dengan perolehan prestasi yang diperoleh siswa lebih rendah dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain. Berdasarkan hasil pengamatan, pendidikan IPS di sekolah-sekolah dasar (SD) tidak menghasilkan perubahan yang mendasar baik kognitif, afektif maupun psikomotornya. Pendidikan IPS di Sekolah Dasar sekarang ini, menunjukkan indikasi bahwa pada pembelajaran hanya bersifat informasi dan terbatas oleh ruangan kelas, tidak menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar IPS. Kecenderungan pola pembelajaran seperti ini, mengakibatkan fungsi yang lemah. Dalam hal mengembangkan keaktifan siswa, sehingga prestasi belajar tidak tercapai secara optimal. Dikaitkan dengan konteks pendidikan dasar sembilan tahun, pendidikan IPS diharapkan mampu menunjang siswa untuk memiliki kompetensi dasar tamatan SD, yaitu pengetahuan minat, nilai (value), berfikir kritis, dan terlibat ke dalam hal-hal yang terjadi disekitarnya. Sehingga mampu mengembangkan

4 pengetahuan dan keterampilan-keterampilannya untuk melihat kenyataan sosial yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan metodik khusus pengajaran IPS di SD tercanturn tujuan umum dan tujuan khusus pengajaran IPS di SD yaitu tujuan khusus pengajaran IPS di adalah agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan seharihari. Pengajaran IPS bertujuan agar siswa mampu mengembangkan

pemahaman tentang perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini, sehingga siswa memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dan cinta tanah air. Tujuan khusus pengajaran IPS di SD adalah : (1) Mengenalkan kepada siswa tentang hubungan antara manusia dengan lingkungan hidupnya. (2) Memberikan pengetahuan agar siswa memahami peristiwa-peristiwa serta perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya. (3) Mengembangkan pengetahuan siswa untuk mengenal kebutuhankebutuhannya serta menyadari bahwa manusia lainpun mempunyai kebutuhan. (4) Menghargai budaya masyarakat sekitarnya, bangsa dan juga bangsa lain. (5) Memahami dan dapat menerapkan prinsip-prinsip ekonomi yang bertalian dengan dirinya sendiri maupun dalam hubungannya dengan orang lainnya di dunia. (6) Memahami bahwa antara manusia yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan serta dapat menghormati harkat dan nilai manusia. (7) Memupuk rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dilakukan orang lain. (8) Memahami dan bertanggung jawab dalam pemeliharaan, pernantapan, dan pengelolaan sumber daya manusia dan alam. (9) Memahami dan menghargai sejarah bangsanya serta hak-haknya sebagai manusia yang hidup di suatu negara yang merdeka.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, guru berkewajiban sebagai pengembang kurikulum, senantiasa harus memperhatikan tujuan yang dituangkan dalam persiapan pembelajaran. Melalui pendekatan IPS yang mengajarkan kepada siswa mulai dari lingkungan yang dekat kemudian berkembang kepada yang luas, maka di sekitar kita yang akan mempengaruhi dalam kehidupan ini akan dimulai dari keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam proses pembelajaran IPS, siswa dapat dibawa langsung ke dalam lingkungan alam dan masyarakat. Dengan lingkungan alam sekitar, siswa akan akrab dengan kondisi setempat. Sehingga mengetahui makna serta manfaat mata pelajaran IPS secara nyata. (Ishak, dkk., 2000:138). Merupakan suatu kesalahan apabila seorang guru IPS, lebih menitikberatkan pada model pembelajaran konvensional yaitu ceramah yang lebih bersifat informasi lisan secara sepihak dan terbatas oleh ruangan kelas, guru lebih aktif berbicara untuk mengemukakan fakta dan informasi tentang pokok yang menjadi pembahasan, sehingga siswa lebih berperan pasif sebagai pendengar dari pada terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Agar proses pembelajaran terlaksana dengan baik dan dapat mencapai sasaran, salah satu faktor yang penting yang harus diperhatikan metode atau cara-cara mengajar bahan pelajaran dengan memperhatikan tingkat kelas, situasi dan kondisi lingkungan siswa tanpa mengabaikan faktor-faktor lainnya. Salah satu metode yang dapat dikembangkan untuk memenuhi harapan dan tuntutan tersebut adalah dengan menggunakan metode karyawisata, seperti yang dikemukakan oleh Sumaatmadja (1980:12), metode Karyawisata adalah : Suatu kunjungan ke obyek tertentu di luar lingkungan sekolah yang ada di bawah bimbingan guru yang bertujuan untuk mencapai tujuan instruksional tertentu. Metode ini digunakan apabila : (a) sasaran pengamatan tidak mungkin dilaksanakan di dalam kelas; dan (b) menambah wawasan pengetahuan siswa tentang alam, sosial, dan budaya yang ada di lingkungan sekitar secara nyata

6 (Depdiknas, 2002:30). Berdasarkan latar belakang di atas, sehingga perlu dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) mengenai penerapan metode karyawisata dalam pembelajaran pendidikan IPS di SDN ________ Kecamatan _______ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ____/_____ yang dilihat dari aktifitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Melalui penelitian ini penulis mencoba memfokuskan pada salah satu mengajar yang diterapkan pada pembelajaran IPS di SDN ________ Kecamatan _______ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ____/_____ yang disesuaikan dengan pokok bahasan yang sekiranya cocok dengan metode mengajar ini. B. Rumusan Masalah Penelitian Tindakan Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah sejauhmana penerapan metode karyawisata dalam pembelajaran pendidikan IPS di SDN ________ Kecamatan _______ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ____/_____. Berdasarkan pokok permasalahan di atas, lebih lanjut penulis perinci ke dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut : 1. Bagaimanakah penerapan metode karyawisata, guru dalam pembelajaran IPS ? 2. Apakah pendapat guru dan siswa SDN ________ metode Karyawisata dalam pembelajaran IPS ? 3. Apakah guru SDN ________ Kecamatan _______ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ____/_____ telah mengerti tentang konsep metode karyawisata dalam pembelajaran pendidikan IPS ? 4. Kendala-kendala apa sajakah yang dihadapi guru dalam penerapan metode karyawisata pada pembelajaran pendidikan IPS di dalam proses pembelajaran ? 5. Bagaimanakah hasilnya siswa kelas V SDN ________ Kecamatan SDN ________ Kecamatan _______ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ____/_____ Kecamatan _______ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ____/_____ mengenai penerapan SDN ________ Kecamatan _______ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ____/_____

7 _______ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ____/_____ dengan

penerapan metode karyawisata dalam pembelajaran pendidikan IPS ? C. Definisi Operasional Untuk memperoleh persamaan persepsi mengenai penelitian ini, penulis perlu menjabarkan sebagai berikut :

1. Metode Metode adalah cara yang sistematis yang dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan. 2. Metode Karyawisata Metode Karyawisata adalah cara mengajar yang pelaksanaannya mengajak siswa secara langsung mengamati obyek atau sasaran yang ada di lingkungan sekitar. 3. Pembelajaran Pembelajaran adalah suatu proses interaksi peserta didik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. 4. Pendidikan IPS Pendidikan IPS merupakan ilmu yang memadukan sejumlah ilmu sosial dan ilmu lainnya serta kemudian diolah berdasarkan konsep pendidikan dan didaktik untuk dijadikan program pengajaran pada tingkat persekolahan. 5. Sekolah Dasar Sekolah Dasar adalah suatu lembaga pendidikan yang sifatnya sosial yang membekali siswa untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang pendidikan menengah. D. Tujuan Penelitian Tindakan Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian dibagi dua bagian, yaitu : a. Tujuan Umum Untuk memberikan kontribusi terhadap pengembangan

8 profesionalisme guru, terutama untuk menerapkan teori ke dalam praktek pembelajaran, memberikan pengetahuan, pemahaman dan wawasan yang akan meningkatkan kepekaan guru mengenai bagaimana siswa belajar dalam mata pelajaran tertentu. Merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk meninakatkan diri atau memperbaiki layanan pendidikan dan konteks pembelajaran di kelas. Tujuan ini dapat tercapai apabila guru melakukan berbagai tindakan alternatif dalam memecahkan berbagai persoalan pembelajaran di kelas. Dengan kata lain, melalui PTK guru dapat mengembangkan kemampuan professional secara terus menerus. Jadi guru akan mendapatkan pembelajaran banyak sebagai pengalaman penerapan tentang dari suatu keterampilan teori, bukan praktek untuk

mengembangkan ilmu baru. b. Tujuan Khusus 1. Ingin mendapatkan data tentang penerapan metode karyawisata dalam pembelajaran mata pelajaran pendidikan IPS di Kecamatan _______ Kabupaten ________ ____/_____ 2. Ingin mengetahui tanggapan guru dan siswa mengenai penerapan metode karyawisata dalam pembelajaran mata pelajaran pendidikan IPS di SDN ________ 3. Kecamatan _______ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ____/_____. Ingin mengetahui tingkat penguasaan, pemahaman konsep metode karyawisata dalam pembelajaran di SDN ________ 4. 5. Kecamatan _______ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ____/_____. Ingin mengetahui kendala-kendala yang dihadapi guru dan siswa dalam proses pembelajaran di SDN __________. Ingin mengetahui sampai sejauhmana keberhasilan penerapan metode karyawisata dalam menunjang tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran. SDN ________ Tahun Pelajaran

E. Manfaat Penelitian Tindakan Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat untuk mengadakan perubahan dan perbaikan dalam proses pembelajaran. Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini antara lain : 1. Inovasi Pebelajaran Dalam inovasi pembelajaran, guru perlu selalu mencoba mengubah, mengembangkan, dan meningkatkan gaya mengajarnya agar ia mampu melahirkan gaya dan model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kelasnya. Guru setiap tahun akan selalu berhadapan dengan siswa yang berbeda. Karena itu, jika guru melaksanakan penelitian tindakan kelas yang berorientasi pada persoalan sendiri dan menghasilkan pemecahannya, maka secara tidak langsung ia telah terlibat dalam proses inovasi pembelajaran secara kreatif 2. Peningkatan Professionalisme Guru Dalam PTK guru ditantang untuk terbuka pada pengalaman dan proses-proses baru. Dengan demikian tindakan-tindakan yang diputuskan dan dilaksanakan oleh guru dalam rangka PTK merupakan pendidikan bagi guru untuk lebih obyektif dalam melihat persoalan di kelas, dan hal ini secara tidak langsung dapat meningkatkan professionalisme guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas.

10

11 BAB II LANDASAN TEORI

A. Belajar Manusia yang baru dilahirkan telah membawa beberapa naluri atau instink dan potensi-potesi yang telah diperlukan untuk kelangsungan hidupnya, tetapi jumlahnya terbatas sekali. Jika potensi bawaan itu tidak mungkin berkembang baik tanpa pengaruh dari luar yaitu lingkungan. Di samping kepandaian-kepandaian yang bersifat jasmaniah, seperti : merangkak, duduk, berjalan tegak, lari, naik sepeda, makan dengan sendok dan sebagainya, anak (manusia) itu membutuhkan kepandaian-kepandaian yang bersifat rohaniah. Manusia bukan hanya makhluk biologis seperti halnya dengan hewan. Manusia adalah makhluk sosial dan berbudaya. Jadi jelaslah bahwa belajar sangat penting bagi kehidupan manusia yang membutuhkan waktu yang lama, dan senantiasa belajar bila manapun dan dimanapun manusia berada. 1. Pengertian Belajar Sebagai landasan penguraian mengenai apa yang dimaksud dengan belajar, Ngalim Purwanto ( 2001:84) mengemukakan beberapa definisi sebagai berikut : a. Hilgard dan Bower, dalam bukunya Theories of learning (1975) mengemukakan : belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya). b. Gagne, dalam bukunya The Conditioning of learning (1997) menyatakan bahwa : Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa

12 sehingga perbuatannya (performancenya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi. c. Morgan, dalam bukunya Introduction to psychology (1978) mengemukakan : Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. d. Witherington, dalam buku Educational Psycology mengemukakan : Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian. Dari definisi-definisi yang di atas, dapat dikemukakan adanya beberapa elemen yang penting mencirikan pengertian belajar, yaitu : a. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. b. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar : seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi. tidak dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap dan merupakan akhir dari pada suatu periode waktu yang cukup panjang. c. Tingkah seperti : laku manusia mengalami perubahan karena belajar masalah, menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, perabahan dalam pengertian, pemecahan keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap. 2. Bagaimana Proses Belajar itu berlangsung ? Manusia sebagai makhluk yang berbudaya membutuhkan dunia luar untuk mengembangkan dan melangsungkan hidupnya. Manusia selalu berusaha untuk mengadakan interaksi dengan dunia luar. ia berusaha untuk

13 menggunakan dan mengubah dunia luar untuk kebutuhan dirinya. ia selalu belajar, menyesuaikan diri dengan dunia luar. Dengan kegiatan belajar atau menyesuaikan diri itu, berbagai macam cara mereka pergunakan. Di bawah ini uraian beberapa macam cara penyesuaian din yang dilakukan manusia dengan sengaja maupun tidak sengaja, dan bagaimana hubungannya dengan belajar. a. Belajar dan kematangan Kematangan (naturation) adalah suatu proses pertumbuhan organ-organ. Suatu organ dalam diri manusia hidup dikatakan telah matang, jika ia telah mencapai kesanggupan untuk menjalankan fungsinya masing-masing. Kematangan itu datang waktunya dengan sendirinya. Sedangkan belajar lebih membutuhkan kegiatan yang disadari. Suatu aktivitas, latihan-latihan, dan konsentrasi dari orang yang bersangkutan. Proses belajar terjadi karena perangsang-perangsan, dari luar. Sedangkan proses kematangan terjadi dari dalam. Akan tetapi ke dua preses itu dalam prakteknya berhuhungan erat satu sama lainnya, keduanya saling menyempurnakan b. Belajar dan Penyesuaian diri Penyesuaian diri merupakan suatu proses yang dapat merubah tingkah laku manusia. Penyesuaian diri yang terdapat pada diri manusia ada dua macam yaitu : 1. Penyesuaian diri outoplastic, seorang mengubah dirinya disesuaikan dengan keadaan lingkungan. 2. Penyesuaian diri alloplastis, yang berarti mengubah lingkungan disesuaikan dengan kebutuhan dirinya. Kedua macam penyesuaian diri ini termasuk ke dalam proses belajar, karena terjadi perubahan-perubahan yang kadang-kadang sangat mendalam dalam kehidupan manusia. Manusia dalam kehidupannya selalu belajar akan tetapi tidak semua belajar adalah penyesuaian diri.

14

c. Belajar dan pengalaman. Belajar dan pengalaman keduanya merupakan suatu proses yang dapat merubah sikap, tingkah laku, dan pengetahuan. Akan tetapi, belajar dan memperoleh pengalaman berbeda. Mengetahui sesuatu belum tentu merupakan belajar dalam arti paedagogis, tetapi sebaliknya tahap-tahap belajar berarti juga mengalami. d. Belajar dan bermain Di dalam bermain juga terjadi proses belajar. Persamaannnya ialah bahwa dalam belajar dan bermain keduanya terjadi perubahan yang dapat mengubah tingkah laku, sikap, dan pengalaman. Akan tetapi, antara keduanya terdapat perbedaan menurut kata bermain merupakan kegiatan yang khusus bagi anak-anak meskipun pada orang dewasa terdapat juga. Sedangkan belajar merupakan kegiatan yang umum, terdapat pada manusia sejak lahir sampai mati. Menurut sifatnya, perbedaan antara belajar dan bermain ialah kegiatan belajar mempunyai tujuan yang terletak pada masa depan. Sedangkan bermain hanyalah ditujukan untuk tertentu saja. e. Belajar dan Pengertian Belajar mempunyai arti yang lebih luas dari pada hanya mencapai pengertian. Ada proses belajar yang berlangsung dengan otomatis tanpa pengertian. Sebaliknya ada pula pengertian yang tidak menimbulkan proses belajar. Dengan mendapatkan sesuatu pengertian tertentu, belum tentu seseorang kemudian berubah tingkah lakunya. Belum tentu seseorang yang mengerti tentang sesuatu berarti menjalankan atau bersikap sesuai dengan pengertian yang telah dicapainya. f. Belajar dan Menghafal/Mengingat Menghafal atau mengingat tidak sama dengan belajar. Hafal atau ingat akan sesuatu belum menjamin bahwa dengan demikian orang sudah belajar dalam arti yang sebenarnya, sebab untuk mengetahui sesuatu tidak cukup hanya dengan menghafal saja, tetapi

15 harus dengau pengertian. g. Belajar dan Latihan Belajar dan latihan keduanya dapat menyebabkan perubahan atau proses dalam tingkah laku, sikap, dan pengetahuan. Akan tetapi antara keduanya mempunyai perbedaan. Di dalam praktek terdapat pula proses yang terjadi tanpa latihan. 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Berhasil baik atau tidaknya belajar itu tergantung kepada bermacam-macam faktor. Adapun faktor-faktor itu, antara lain : a. Kematangan / Pertumbuhan Kita tidak dapat memaksanakan anak untuk belajar, karena untuk dapat beiajar anak memerlukan kematangan potensi-potensi jasmaniah maupun rohaniahnya. Mengajarkan sesuatu dapat berhasil, jika tarap pertumbuhan pribadi memungkinkan dan potensi jasmaniah serta rohaniahnya telah matang. b. Kecerdasan / Intelegensi Di samping kematangan, dapat tidaknya seseorang mempelajari sesuatu dengan berhasil baik ditentukan atau dipengaruhi oleh tarap kecerdasannya. Kenyataan menunjukkan kepada kita, meskipun anak yang berumur 14 tahun ke atas pada umumnya telah matang untuk belajar ilmu pasti, tetapi tidak semua anak-anak pandai ilmu pasti. Demikian pula halnya dalam mempelajari mata pelajaran dan kecakapan-kecakapan lainnya. Jadi jelas bahwa dalam belajar intelegensi pun turut memegang peranan. c. Latihan dan Ulangan Terlatih atau sering mengulangi sesuatu, maka kecakapan dan pengetahuan yang dimilikinya dapat menjadi makin dikuasai dan mendalam. Sebaliknya tanpa latihari pengalaman-pengalaman yang telah dimilikinya dapat menjadi hilang atau berkurang. Karena latihan atau seringkali mengalami sesuatu, seseorang dapat timbul minatnya kepada sesuatu. Makin besar minat makin besar pula perhatiannya

16 sehingga memperbesar hasratnya untuk mempelajarinya. d. Motivasi Motif merupakan pendorong bagi organisme untuk melakukan sesuatu. Motif intrinsik dapat mendorong sescoraag sehingga akhirnya orang itu menjadi spesialis dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu. Tak mungkin seseorang mau berusaha mempelajari sesuatu dengan sebaik-baiknya jika la tidak mengetahui betapa penting dan faedahnya hasil yang akan dicapai dari belajarnya itu bagi dirinya. a. Sifat-sifat Pribadi Seseorang Tiap-tiap orang mempunyai sifat-sifat kepribadiannya masing-masing yang berbeda antara seorang dengan yang lain. Ada orang yang mempunyai sifat keras hati, berkemauan keras, tekun dalam segala usahanva, halus perasaannya, dan ada pula yang sebaliknya. Sifat-sifat kepribadian seseorang itu sedikit banyaknya turut pula mempengaruhi sampai dimanakah hasil belajarnya dapat dicapai. Termasuk ke dalam sifat-sifat kepribadian ini ialah faktor kesehatan fisik dan kondisi badan. b. Keadaan Keluarga Suasana dan keadaan keluarga yang bermacam-macam mau tidak mau turut mempengaruhi bagaimana dan sampai dimana belajar dialami dan dicapai anak-anak. Termasuk dalam keluarga ini, ada tidaknya atau tersedianya fasilitas-fasilitas yang diperlukan dalam belajar turut memegang peranan penting. c. Guru dan Cara Mengajar Guru dan cara mengajarnya merupakan faktor yang sangat penting. Bawaimana sikap dan kepribadian guru, dan bagaimana cara guru itu mengajarkan pengetahuan itu kepada anak didiknya, turut menentukan bagaimana hasil belajar yang dapat dicapai anak d. Alat-alat Pelajaran. Sekolah yang cukup memiliki alat-alat dan perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan

17 alat-alat itu, akan mempermudah dan mempercepat belajar anakanak. e. Motivasi Sosial Jika guru dan orang tua dapat memberikan motivasi yang baik pada anak-anak, timbulah pada diri anak itu dorongan dan hasrat untuk belajar lebih baik. Anak dapat menyadari apa gunanya belajar dan apa tujuan yang hendak dicapai dengan pelajaran itu, jika diberi perangsang atau diberi motivasi yang baik dan sesuai motivasi sosial dapat pula timbul pada anak dan orang lain di sekitarnya. f. Lingkungan dan Kesempatan Seseorang anak dari keluarga yang baik, memiliki intelegensi yang baik, di sekolah yang guru-gurunya dan alatalatnya baik, belum tentu pula dapat belajar dengan baik. Banyak pula anak-anak yang tidak dapat belajar dengan baik, dan tidak dapat mempertinggi belajarnya, akibat tidak adanya kesempatan yang disebabkan oleh sibuknya pekerjaan setiap hari, pengaruh lingkungan yang buruk dan negatif serta faktor-faktor lain terjadi di luar lingkungan dan kesempatan ini lebih-lebih lagi berlaku bagi cara belajar pada orang dewasa. 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Hasil Belajar Untuk memahami kegiatan pembelajaran perlu dilakukan analisis untuk menemukan persoalan-persoalan apa yang terlibat di dalam kegiatannya. Sebagai suatu proses barang tentu harus ada yang diproses (masukan atau input), dan hasil dari pemprosesan (lulusan atau output). Jadi dalam hal ini kita dapat menganalisis dengan pendekatan analisis system. Dengan pendekatan system, pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut :

18

Bagan 2.1 Proses Pembelajaran Instrumental Input

Bagan di atas menunjukkan bahwa masukan mentah (raw input) merupakan bahan baku yang perlu diolah, dalam pembelajaran ini diberi pengalaman belajar tertentu dalam, proses pembelajaran (teaching learning process). Terhadap proses pembelajaran itu turut berpengaruh pula sejumlah lingkungan yang merupakan masukan lingkungan (environmental input) dan berfungsi sejumlah faktor yang sengaja dirancang dan dimanipulasikan (instrumental input) guna menunjang tercapainya lulusan yang dikehendaki (out put). Berbagai faktor tersebut berinteraksi satu sama lain dalam menghasilkan keluaran tertentu.

19

B. Pembelajaran 1. Pengertian Pembelajaran Dalam buku Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengaa pendidik dari sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Inti pembelajaran adalah menciptakan situasi yang merangsang siswa belajar secara aktif. Guru memberikan rangsangan kepada siswa tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Rangsangan tersebut bisa bersifat verbal, visual, dan penginderaan lainnya, bisa pula berupa warna-warna, peta, diagram, model atau film. 2. Sumber-sumber Pembelajaran Murid memerlukan sumber-sumber pengalaman yang kaya juga dapat membantu mereka dalam kegiatan belajarnya; karena itu sekolah harus menyediakan sumber-sumber tersebut. Penggunaan alat Bantu dan sumber pembelajaran lebih kongkrit, dapat membangkitkan minat dan dorongan ingin tahu siswa serta dapat menambahkan berbagai variasi dan makna bagi proses pembelajaran. Menurut Dana (1998 :...) sumber-sumber pembelajaran dapat diklasifikasikan dalam 4 kelompok yaitu : (1) Kelompok alat Bantu tradisional seperti papan tulis, buku paket, buku referensi, buku pegangan, dan sebagainya. (2) Kelompok alat bantu pandang dengar (audio visual) seperti radio, tv, OHP, Film, slide, dan sebagainya. (3) Pengajaran berprograma dan pengajaran bantuan computer (4) Sumber-sumber manusiawi (nara sumber) dan sumber-sumber fisik yang kaya yang terdapat di dalam masyarakat dan lingkungan sekitar. 3. Strategi Pembelajaran Strategi pembelajaran merupakan keputusan guru tentang upayaupaya untuk mencapai tujuan pembelajaran dan cara-cara memprosesnya dengan terencana dan bertujaan. Di dalamnya tercakup upaya guru untuk

20 mangatur penggunaan keterampilan-keterampilan mengajar. Banyak sekali variasi yang dapat dipergunakan oleh guru. Berdasarkan pada tingkah laku murid, Joyce dan Harootunian (Dana, 1998.....) membedakan 4 kelompok strategi pembelajaran, yaitu : 1) Strategi untuk mendorong penguasaan isi dan keterampilan pengajaran, misalnya : latihan dan praktek, ceramah, pameran, dan demontrasi. 2) Strategi untuk mendorong berfikir produktif, misalnya : belajar penemuan dan belajar kreatif. 3) Strategi untuk menyusun kegiatan-kegiatan, antara lain prosedur membuka dan menutup pelajaran, pembentukan unit kerja untuk kegiatan-kegiatan kelompok. 4) Strategi untuk mendorong murid belajar sendiri atau belajar mandiri, misalnya : pengajaran individual, diskusi kelompok, tugas dan resitasi. Keputusan tentang strategi pembelajaran yang akan dipilih, tergantung pada tujuan pembelajaran khusus (TPK), karakteristik murid, dan jenis gaya mengajar yang paling cocok bagi guru yang bersangkutan. C. Pendidikan IPS di SD 1. Pengertian Menurut Ischak, dkk (2000:136) menyatakan bahwa : IPS adalah bidang studi yang mempelajari menelaah, menganalisis gejala dan masalah sosial di masyarakat dengan meninjau dari berbagai aspek kehidupan atau satu perpaduan. Da1am buku kurikulum Pendidikan Dasar (1993.25) disebutkan; Mata pelajaran IPS berfungsi sebagai ilmu pengetahuan untuk mengembangkan kemampuan dan sikap rasional tentang gejala-gejala sosial, serta kemampuan tentang perkembangan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia dimasa lampau dan masa kini.

21

Kemudian menurut Kosasih Jahiri dan Fatimah Makmur (1978/1979 : ...) menyatakn bahwa : IPS merupakan ilmu pengetahuan yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang-cabang ilmu sosial dan ilmu lainnya serta kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidikarn dan didaktik untuk dijadikan program pengajaran pada tingkat persekolahan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan IPS merupakan perpaduan ilmu-ilmu sosial untuk membekali siswa terlibat langsung dalam pemecahan masalah-masalah sosial. 2. Fungsi Pengajaran IPS di SD Pengajaran IPS di SD berfungsi mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk melihat kenyataan sosial yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan pengajaran sejarah berfungsi menumbuhkan rasa kebangsaan dan bangga terhadap perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini. 3. Tujuan Pengajaran IPS di SD Tujuan pendidikan IPS di SD secara keseluruhan dikemukakan oleh Ischak, dkk (2000:138) adalah sebagai berikut : 1) membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang berguna dalam kehidupannya kelak di masyarakat. 2) Membekali anak didik dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisis dan menyusun alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan di masyarakat. 3) Membekali anak didik dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat dan berbagai bidang keilmuwan serta bidang keahlian. 4) Membekali anak didik dengan kesadaran, sikap mental yang positif dan keterampilan terhadap pemanfaatan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari kehidupan tersebut. 5) Membekali anak didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keilmuwan IPS sesuai dengan perkembangan

22 kehidupan, masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi. 4. Prinsip-prinsip Pengajaran IPS di SD Agar proses pembelajaran terlaksana dengan baik dan dapat mencapai sasaran, seperti yang dikemukakan dan buku metodik khusus pengajaran IPS di SD (1) yang harus diperhatikan adalah prinsip-prinsip pengajaran IPS, antara lain : Dalam mengajarkan bahan-bahan pada IPS hendaknya dimulai dari lingkungan yang terdekat (sekitar), yang sederhana sampai kepada bahan yang lebih luas dan komplek. Pengalaman-pengalaman atau pengetahuan yang diperoleh di lingkungan sebelum masuk sekolah sangat terpengaruh dalam menerima maupun mempelajari konsep dasar, sehingga tugas guru dalam, hal ini adalah memotivasi agar pengalaman siswa tersebut dijadikan dasar dalam mempefajari IPS; (2) Dalam belajar IPS pengalaman langsung melalui pengamatan, observasi maupun mencoba sesuatu atau dramatisasi akan membantu siswa lebih memahami pengertian atau ide-ide dasar dalam pelajaran IPS sehingga ingatan siswa terhadap konsep-konsep yang dipelajari akan lebih mendalam; (3) Agar pelajaran IPS tetap menarik, dapat digunakan macam-macam metode. Perlu adanya variasi pengajaran bahan seperti melalui nyanyian, deklamasi, bermain peran dan sosiodrama; (4) Dalam mengajarkan IPS, ada bagian yang periu dihapalkan. Latihan dan pengalaman juga perlu dilaksanakan melalui suatu kegiatan pemecahan masalah, sehingga pengertian dan pernahaman siswa terhadap suatu konsep dapat diterapkan; 5. Ruang Lingkup Pengajaran IPS di SD Dalam buku Kurikulum (1994: 14-15) disebutkan bahwa ruang lingkup pengajaran IPS di tingkat SD dibatasi sampai gejala dan masalah sosial yang dapat dijangkau pada geografi dan sejarah. Ruang lingkup tersebut meliputi : (1) Pengetahuan sosial yaitu : keluarga, wilayah sekitar, wilayah propinsi, pemerintah daerah, Negara Republik Indonesia, pengenalan

23 kawasan dunia dan kegiatan ekonomi; (2) Sejarah meliputi : Kerajaan-kerajaan di Indonesia, tokoh dan peristiwa, Indonesia pada zaman penjajahan dan beberapa peristiwa penting pada zaman kemerdekaan. D. Metode Karyawisata 1. Pengertian Metode Karyawisata Seorang guru menanyakan kepada murid-muridnya tentang tanaman dan binatang-binatang yang ada di sekitar sekolah. Anak-anak menjawab dan hanya menyebutkan beberapa tumbuhan dan binatang saja. Pak guru menyarankan kepada murid-murid untuk pergi ke luar kelas untuk melihat dan memperhatikannya. Anak-anak serempak mengiyakan. Sebelum ke luar kelas, terlebih dahulu guru dan anak-anak membicarakan hal-hal yang diselidiki, kemudian aspek-aspek yang akan diselidiki itu dibagi ke dalam kelompok yang terdiri dari 3 atau 5 orang. Anak-anak ke luar kelas, ada yang bertanya kepada penjaga sekolah, ada yang pergi ke pinggir sungai, ada yang mengumpulkan daun-daunan, bunga-bungaan, dan rumput-rumputan. Setelah 15 menit, mereka di luar kelas, kembali ke kelas, mereka bekerja dalam kelompok masing-masing. Tiga puluh menit kemudian kepada kelas menyerukan supaya tiap-tiap kelompok memberikan laporan kepada kelas tentang apa-apa yang diketemukan pada waktu kelas-kelas. Satu kelompok melaporkan di depan kelas, diikuti dengan Tanya jawab diantara murid, maka habislah waktu 2 jam pelajaran. Guru mcnegaskan kepada murid-murid supaya menuliskan dan melengkapi hasil observasi masing-masing untuk diteruskan pada waktu pertemuan yang akan dating (ISPI, 2001:91). Dalam buku metodik khusus pengajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dl SD menyebutkan : Karyawisata dapat dilaksanakan sekitar sekolah, atau jauh di tempat lain. Keduanya memiliki persamaan yaitu melakukan kegiatan di luar kelas secara terencana untuk lebih dekat dengan situasi nyata. Kemudian dalam buku metodik khusus pengajaran IPS di SDN ________

24 Kecamatan _______ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ____/_____ menyebutkan : Metode Karyawisata adalah menugaskan siswa secara keseluruhan untuk mengunjungi suatu obyek, serta memperhatikan sesuatu sesuai dengan program yang telah disusun sebelumnya. Ada dua bentuk metode Karyawisata yang dapat dilakukan dalam proses pembelajaran yang dikemukakan oleh Rusyan (1996:12), yaitu : (1) Karyawisata dalam waktu singkat yakni metode karyawisata dilaksanakan tidak lebih dari satu hari atau pelaksanaannya biasa menggunakan jam pelajaran di sekolah, seperti mengunjungi kebun sekolah, puskesmas, pasar dan sebagainya. (2) Karyawisata dalam waktu lama, yakni dilaksanakan dalam beberapa hari atau minggu, karena karyawisata ini lokasinya jauh dari lingkungan sekolah. Misalnya karyawisata ke tempat bersejarah, seperti Candi Borobudur, Candi Mendut, atau Candi Prambanan. Hakikat pengajaran IPS digali dari sumber kehidupan masyarakat sehari-hari. Masyarakat dengan lingkungannya menjadi sumber, obyek, dan laboratorium IPS. Oleh karena itu, pembelajaran 1PS yang hanya terikat oleh ruangan kelas, tidak sesuai dengan hakikat IPS Sumaatmaja (1980 : 113). Pengajaran IPS tanpa melakukan pembelajaran di tengahtengah masyarakat nyata, tidak akan mencapai tujuan mencipatakan manusia Indonesia yang Pancasilais, cendikia, terampil membangun dirinya dan membangun bangsa untuk menjadi bangsa. Untuk menjadi manusia seutuhnya, anak didik harus dilibatkan untuk mencocokan materi IPS di dalam kelas dengan kenyataan di masyarakat. Dengan demikian, pada waktu-waktu tertentu para siswa harus diajak untuk berkaryawisata. Metode karyawisata yang diterapkan pada pengajaran IPS, jangan terlalu dibayangkan sebagai suatu perjalanan jauh, menggunakan waktu berhari-hari, dan menghabiskan biaya yang besar. Yang dimaksud karyawisata disini adalah suatu kunjungan ke obyek tertentu di luar lingkungan sekolah yang ada di bawah bimbingan guru, yang bertujuan

25 untuk mencapai tujuan instruksional (Sumaatmaja, 1980 : 113). Untuk dapat menerapkan metode karyawisata yang terarah sesuai dengan tujuan instruksional yang akan dicapai, guru harus menguasai hakekat metode karyawisata, yaitu kelemahan, kelebihan, langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan, dan pokok bahasan yang paling cocok dikembangkan melalui metode karyawisata. Agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan, guru harus memperhatikan dari pihak murid, yaitu bahwa mereka memiliki dorongandorongan minat dan perhatian terhadap apa yang sedang dipelajari (sense of interes), dorongan untuk melihat kenyataan (sense of reality), dan dorongan untuk menemukan sendiri hal-hal yang menarik perhatiannya (sense of discovery). Ketiga hakekat naluriah yang terdanat pada diri anak didik harus mendapat perhatian guru untuk selanjutnya dibina dan dikembangkan pada pengajaran IPS. Pelaksanaan metode karyawisata, harus tetap diusahakan mengembangkan minat anak didik yang dilibatkannya. Dari minat yang tetap tinggi tersebut, kita arahkan mereka untuk memecahkan hal-hal yang mereka peroleh didalam kelas dengan kenyataan di masyarakat. Berdasarkan ketiga aspek untuk tiap jenjang pendidikan sudah pasti berbeda-beda penekanan dan penyebaran bobotnya. Seperti yang dikemukakan oleh Sumaatmaja (1980 : 114) melalui tabel berikut :

26 Tabel 2.1 Penekanan dan penyebaran bobot metode karyawisata berdasarkan aspek sense of interes, sense of reality dan sense of discovery Aspek mental Jenjang Pendidikan 1. SD 2. SLTP 3. SLTA 4. PT Sense Mental 60% 40% 30% 20% Sense Of Reality 35% 45% 50% 50% Sense Of Discovery 5% 15% 20% 30%

Jumlah 100% 100% 100% 100%

Pada pembobotan di atas, yang perlu mendapat penekanan yaitu bahwa tiap aspek perkernbangan mental yang menjadi naluriah anak didik harus mendapat perhatian agar tujuan dapat tercapai. Tinjauan pembobotan dan penyebaran lain, Sumaatmaja (1980115) dapat pula didasarkan atas aspek wisata atau tamasya, pengetahuan atau fakta, dan aspek keimuwan. Penyebaran dan pembobotan aspek-aspek inipun dipengaruhi oleh penekanan dan tujuan yang akan dicapai dari penerapan metode karyawisata. Contoh pembobotan terdapat pada tabel berikut :

27 Tabel 2.2 Penyebaran dan pembobotan metode karyawisata berdasarkan aspek wisata, pengetahuan dan keilmuwan Aspek mental Jenjang Pendidikan 1. SD 2. SLTP 3. SLTA 4. PT Aspek Wisata 60% 40% 30% 20% Pengetahuan Fakta 35% 45% 50% 50% Keilmuan

Jumlah 100% 100% 100% 100%

5% 15% 20% 30%

Jika kita telah menentukan lay out seperti itu, pada pelaksanaan bobot dan penyebaran tersebut harus dipertahankan. Penyimpangan dan lay out, dapat menjadi indicator ketidakberhasilan pelaksanaan metode karyawisata. 2. Tahap-tahap Pelaksanaan Metode Karyawisata Untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan metode karyawisata, tahap-tahap pelaksanaannya dapat dibagi menjadi menjadi tiga tahap seperti yang dikemukakan oleh Sumaatmaja (1980 : 115) sebagai berikut : Tahap 1 Tahap persiapan yang meliputi materi atau topik karyawisata, persiapan teoritis, persiapan perlengkapan, dan aspek-aspek lain yang menunjang pelaksanaan metode karyawisata. Tahap II Tahap pelaksanaan karyawisata di lapangan, jika tahap persiapan pada tahap satu telah matang secara terperinci, maka tahap pelaksanaan akan lancar. Tahap pelaksanaan ini secara ketat harus berlandaskan perencanaan, lay out yang telah digariskan, dan tujuan instruksional yang akan dicapai.

Tahap III Tahap ketiga ini merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan metode

28 karyawisata, setelah kembali ke tempat kegiatan ini terdiri dari penyusunan dan pembuatan laporan hasil karyawisata. Bentuk laporan pertanggungan jawab ini bobotnya sesuai dengan tingkat atau jenjang pendidikan yang melaksanakan karyawisata. Untuk murid-murid SD, misalkan cukup dengan mampu menceritakan kembali dengan kata-kata yang sederhana, atau membuat karangan bebas yang mereka alami pada waktu melaksanakan karyawisata. Terpenuhinya tahap ketiga ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pelaksanaan metode karyawisata. 3. Kelemahan dan kelebihan Metode Karyawisata Pada penerapannya, metode karyawisata pada proses pembelajaran IPS harus dilandasi kesadaran guru, bahwa metode ini memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelemahannya antara lain : (1) jika terlalu sering dilaksanakan, akan mengganggu rencana pelajaran; (2) jika obyek yang akan dijadikan bahan karyawisata terlalu jauh letaknya, menyulitkan angkutan dan pembiayaan: (3) Jika pelaksanaan metode karyawisata terlalu kaku sifatnya, dapat menurunkan minat anak didik terhadap metode karyawisata, sehingga tujuan tidak akan tercapai. Kelebihannya antara lain : (1) Memperoleh pengalaman langsung; (2) Memperluas minat anak; (3) Memperkaya pengejaran di dalam kelas; (4) Membuktikan benar tidak pengajaran yang diperoleh di dalam kelas, dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN TINDAKAN KELAS

29

A. Jenis penelitian Tindakan Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. Upaya perbaikan ini dilakukan dengan melaksanakan tindakan untuk mencari solusi atas permasalahan yang diangkat dari kegiatan tugas sehari-hari. Untuk lebih jelasnya marilah kita pelajari definisi yang dikemukakan oleh Hopkin, Lewin, Corey, Glickman dan Calhon (Indrawati dan Wijaya, 2001 : 89) yang menyatakan sebagai berikut : Hopkin (1993 : 1) mengemukakan PTK adalah tindakan yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan dirinya atau teman sejawatnya untuk menguji asumsi-asumsi teori pendidikan di dalam praktek, atau mempunyai makna sebagai evaluasi dan implementasi keseluruhan prioritas sekolah. Guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas pada dasarnya memperluas peran guru termasuk di dalamnya refleksi kritis terhadap tugas profesionalnya. Lewin (1947) menyatakan PTK sebagai tiga tahap proses spiral, yaitu tahap-tahap : (1) perencanaan yang meliputi penelitian pendahuluan; (2) pengambilan tindakan; (3) Pengumpulan data (pactfinding) mengenai tindakan yang dilakukan. Corey (1953) menyatakan penelitian tindakan merupakan proses ilmiah yang dilakukan oleh praktisi sebagai usaha untuk mempelajari masalah yang ditemuinya dalam melaksanakan tugas untuk pembimbing. Glickman (1992) merumuskan penelitian tindakan dalam pendidikan sebagai studi yang dilakukan teman sejawat di sekolah sebagai hasil aktifitas yang dilakukannya untuk memperbaiki pengajaran. Calhon (1994) menyatakan bahwa penelitian tindakan adalah cara yang menarik (fancy) untuk mempelajari hal-hal yang terjadi di dalam sekolah dan menentukan cara membuat suasana yang lebih baik. Berdasarkan rumusan pengertian tersebut, seharusnya tindakan itu secara ilmiah sudah dilaksanakan oleh guru dalam melaksanakan tugas sehari-

30 hari. Namun demikian, hal itu tidak secara otomatis dapat dikatakan sebagai penelitian tindakan, sebab ciri utama penelitian tindakan terletak pada perencanaan yang matang (Indrawati dan Widjaya, 2001: 10) Di dalam PTK diperlukan hadirnya suatu kerja sama dengan pihakpihak lain seperti atasan, sejawat atau kolega, mahasiswa dan sebagainya. Kesemuanya itu diharapkan dapat dijadikan sumber data atau data sumber. Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa fungsi kolaborator hanyalah sebagai pembantu di dalam PTK ini, bukan sebagai pihak yang begitu menentukan terhadap pelaksanaan dan berhasil tidaknya penelitian (Wibawa, 2002 : 12) B. Prosedur Penelitian Tindakan Prosedur yang digunakan dalam penelitian ini adalah model siklus (Cyck) yang merupakan proses perbaikan secara terus menerus dari suatu tindakan yang. Model siklus yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk daur spiral dengan tingkah laku utama seperti yang dikembangkan oleh (Indrawati dan Widjaya, 2001 : 14-15) yang meliputi rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, dan refleksi. Kemudian siklus kegiatan dapat dilihat pada gambar 3.1 :

31

32

Refleksi Awal Perencanaan Perencanaan ~ Tindakan I Observasi, refleksi -~ Tindakan I ~~ Dan evaluasi Gambar 31 Penelitian Tindakan model spiral (lndrawati dan Widjaya, 2001 - 15) Secara rinci tahap-tahap kegiatan penelitian dalam siklus dijelaskan sebagai berikut : 1. Refleksi Awal Dalam tahap ini dimulai dengan konfirmasi ide penelitian kepada sekolah dan para guru, kemudian ditindak lanjuti dengan diskusi bersama antara guru, peneliti dan kepala sekolah. Setelah diperoleh kesepakatan tentang masalah penelitian, lalu ditinjaklanjuti dengan observasi pelaksanaan pembelajaran di kelas dan wawancara dengan rekan-rekan guru. Sebagaimana dalam penelitian tindakan kelas, guru berperan sebagai peneliti, observer dan sekaligus informan. Kegiatan selanjutnya adalah menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan oleh guru sekaligus peneliti yang meliputi : penyusunan, skenario pembelajaran dan persiapan alat-alat observasi yang akan digunakan. 2. Perencanaan Tindakan Kegiatan perencanaan tindakan diawali dengan mencari data yang sudah terdokumentasi baik di kelas maupun di sekolah. Kemudian dilanjutkan dengan pengamatan langsung situasi pembelajaran dikelas maupun di luar kelas. Hal ini membantu peneliti dalam membantu

33 kelemahan dan hambatan dalam belajar IPS yang selanjutnya difokuskan pada penggunaan metode karyawisata yang akan dijadikan bahan penelitian. Kegiatan selanjutnya, peneliti menyusun tindakan pelaksanaan penerapan metode karyawisata sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya. Dalam rencana tindakan ini, peneliti perlu melakukan hal-hal sebagai berikut : a. menentukan pokok bahasan-pokok bahasan yang akan dijadikan bahan penelitian sesuai dengan program pengajaran dan jadwal pelajaran sebagaimana biasanya. b. Menentukan tujuan instruksional yang akan yang dicapai muncul dalam dalam pembelajaran yang menggunakan metode karyawisata. c. Mengantisipasi kendala permasalahan pelaksanaan penerapan metode karyawisata d. Penerapan metode karyawisata dalam pembelajaran yang diketahui oleh tim observer sesuai dengan siklus yang diperlukan. 3. Pelaksanaan Tindakan Pada tahap ini, peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan perencanaan dan langkah-langkah tindakan yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. Pada waktu yang sama peneliti melakukan pengamatan terhadap jalannya data pelaksanaan tanpa tindakan dengan kegiatan tujuan belajar untuk siswa mengumpulkan wajar. Jenis tindakan yang dilaksanakan guru (peneliti) merupakan hasil kesepakatan antara peneliti dengan berkolaborasi dengan pihak-pihak yang lain dengan tujuan untuk mengadakan inovasi meningkatkan kualitas pembelajaran. 4. Observasi Kegiatan observasi dilaksanakan antara peneliti dan guru dengan menggunakan pedoman observasi yang telah disiapkan sebelumnya. Kasbolah (1988/1989 : 74) menyatakan : mengganggu

sebagaimana biasanya, sehingga proses pembelajaran berlangsung secara

34 Kegiatan observasi atau pengamatan dalam penelitian tindakan kelas disejajarkan kedudukannya dengan kegiatan pengumpulan data, dalam penelitian formal istilah observasi lebih sering digunakan dalam penelitian tindakan kelas karena data atau informasi yang dikumpulkan adalah data tentang proses berupa perubahan kinerja pembelajaran, walaupun data tentang hasil kegiatan pembelajaran juga diperlukan. Observasi kualitatif. Observasi dilakukan untuk mengetahui sejauhmana pelaksanaan tindakan sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya, dan seberapa jauh proses yang terjadi diharapkan menuju sasaran yang diharapkan (Indrawati dan Widjaya, 2001:16). 5. Refleksi Tahapan ini merupakan tahapan untuk memproses data yang didapat pada saat dilakukan pengamatan (observasi). Data yang didapat kemudian ditafsirkan dan di cari eksplanasinya, di analisis dan disintesis. Dalam proses pengkajian data ini dimungkinkan untuk melibatkan orang luar sebagai kolabolator, seperti halnya pada saat observasi. Keterlibatan kolabolator sekedar untuk membantu penelitian , untuk dapat lebih tajam melakukan refleksi, dan evaluasi. Dalam proses refleksi ini segala pengalaman, pengetahuan, dan teori instruksional yang dikuasai dan relevan dengan tindakan kelas yang dilaksanakan sebelumnya, menjadi bahan pertimbangan dan perbandingan sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan yang manfaat dan sahih (Wibawa, 2003:29). 6. Evaluasi Evaluasi dilakukan dengan menggunakan kriteria, misalnya kriteria efektivitas pengajaran dalam indikator penggunaan biaya, waktu, tenaga, dan pencapaian hasil. Evaluasi dapat dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif (Indrawati dan Widjaya, 2001:17). Setelah observasi, refleksi, dan evaluasi dilakukan biasanya muncul permasalahan baru atau pemikiran baru sehingga penelitian perlu dikatakan sebagai teknik yang paling tepat untuk mengumpulkan data, dan datanyapun cenderung didominasi data

35 melakukan perencanaan atau penyesuaian ulang, pengamatan ulang, dan refleksi ulang. Demikian langkah-langkah tersebut berulang sehingga membentuk siklus kedua, ketiga dan seterusnya. C. Instrumen Penelitian Tindakan Teknik pengumpulan data dan informasi dalam penelitian ini terdiri atas : 1. Lembar observasi Lembar panduan observasi ini direncanakan dan disusun dengan cermat dan teliti, digunakan untuk menjaring data situasi dan kondisi lingkungan sekolah yang dijadikan tempat penelitian, proses pembelajaran yang berlangsung di SDN tersruktur. (Hopkin, 1993) 2. Kuisioner Dalam penelitian ini kuisioner digunakan untuk mendapatkan data tentang pendapat guru dan siswa mengenai pembelajaran dengan menggunakan metode karyawisata. 3. Pedoman Wawancara Instrumen ini digunakan untuk memperoleh data tentang kegiatan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil dari proses pembelajaran dengan menggunakan metode karyawisata, pendapat guru tentang penerapan metode karyawisata. Di samping itu teknik wawancara digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh melalui kuisioner. Wawancara didasarkan atas perencanaan pertanyaan. (Patton, dalam Maleong, 2002:135) 4. Tes hasil belajar siswa, digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa. D. Lokasi dan Subjek Penelitian Tindakan Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri pertimbangannya sebagai berikut : 1. Letak geografis Sekolah Dasar Negeri ________ berada di daerah ________ . Dasar ________ dan siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan metode karyawisata. Pedoman ini disusun secara

36 pinggiran kota kecamatan _______. 2. Kondisi sosial ekonomi, rata-rata siswa yang masuk sekolah ini berlatar belakang ekonomi kelas bawah, sehingga sumber belajar bersifat apa adanya. 3. Peran serta masyarakat cukup mendukung dalam pemeliharaan dan kemajuan sekolah, sebagai akibat dari kerja keras kepala sekolah, guru, dan dewan sekolah mengadakan perubahan terutama sistem pengelolaan sekolah. 4. Kualifikasi guru, rata-rata guru yang bertugas di SDN _______ semuanya sudah berkualifikasi pendidikan D II. Juga S-1 5. Prestasi belajar siswa, perolehan rata-rata lulusan setiap tahun di SDN ________ kurang begitu memuaskan. E. Analisis dan Penafsiran Data Proses analisis data berlailgsung dari awal sampai akhir pelaksanaan program. Data dalam penelitian dianalisis dengan mengikuti pola mulai dari tahap orientasi sampai pada tahap berakhirnya seluruh program tindakan sesuai dengan karakteristik, fokus permasalahan dan tujuan pendidikan. Data akan diolah dengan menggunakan teknik analisis kualitatif untuk menunjukan dinamika proses dengan memberikan pemaknaan konseptual dan kontektual, yaitu data tentang unjuk kerja guru, aktivitas belajar siswa, pola interaksi pembelajaran, dan penggunaan sarana dan prasarana dalam pembelajaran PIPS (Wahyudin, 2002 : 82). Secara rinci prosedur pengalihan data yang dikemukakan oleh Wahyudin (2002:82) meliputi : 1. Pengumpulan, Kodifikasi, dan Katagorisasi Data Pada tahap ini, peneliti mengumpulkan seluruh data yang telah diperoleh berdasarkan instrument penelitian, kemudian data-data tersebut diberi identitas tertentu berdasarkan jenis dan sumbernya meliputi : Analisis terhadap pelaksanaan proses pembelajaran yang berlangsung, prosedur implemantasi penggunaan metode karyawisata dalam pembelajaran IPS, aktivitas siswa dalam pembelajaran, keberhasilan siswa dalam penguasaan materi pembelajaran, sikap, nilai, dan keterampilan

37 intelektual, keterampilan personal, dan keterampilan sosial, pendapat guru dan siswa tentang implementasi penggunaan metode karyawisata dalam pembelajaran PIPS selanjutnya. 2. Validasi Data Untuk mendapatkan data yang mendukung dan sesuai dengan karakteristik. Fokus permasalahan dan tujuan penelitian, teknik. Validasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a) Triangulasi data, mengecek keabsahan (validasi) data dengan mengkorfimasikan data yang sama dari sumber yang berbeda untuk memastikan keabsahannya (derajat kepercayaan). Dari guru dilakukan pada saat pelaksanaan diskusi latihan (refleksi) setelah tindakan, dan dengan data yang dijaring melalui lembar aksorvasi teman guru/syawat, dan kepala sekolah. Sedangkan dari siswa, dilakukan kuisioner dan wawancara dengan beberapa orang secara sampling. b) Audit trail, yaitu pengecekan keabsahan penelitian, dan prosedur penelitian yang telah diperiksa dengan menfirmasikan kepada sumber data pertama (guru dan siswa). Selain itu, peneliti juga mengkonfirmasikari dan mendiskusikan temuan penelitian teisebut dengan ternan sejawat guru. Kegiatan ini dilakukan guru memperoleh kritik, tanggapan, dan masukan, sehingga bisa mempertajam analisis, dan memperoleh validitas yang tinggi. c) Member Chek, mengecek kebenaran data temuan penelitian dengan mengkonfirmasikan kepada responden (sumber informasi). Dalam kegiatan ini data data informasi yang diperoleh tersebut di konfirmasikan dengan guru mitra penelitian, melalui refleksi, diskusi pada tiap siklus sampai akhir keseluruhan pelaksanaan tindakan. Sehingga terjaring data yang lengkap, dan memiliki vasilitas dan reabilitas yang tinggi. 3. Interpretasi Data Pada tahap ini, teman-teman penelitian di interpretasi berdasarkan kerangka teoritik, yang dipilih maupun norma praktis yang disetujui intruksi guru sendiri, yang menggambarkan pembelajaran yang baik.

38 Hophin (Wahyudin, 2002:84). Dari interpretasi ini diharapkan diperoleh makna yang berarti sebagai bahan untuk kegiatan tindakan-tindakan, dan untuk kepentingan peningkatan kinerja guru dalam proses pembelajaran selanjutnya.

39 BAB IV HASIL PENELITIAN TINDAKAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum SDN _______ 1. Letak Geografis SDN _______ dibangun pada tahun 1976 berdasarkan intruksi _____ berada gubernur, dan mengalami perubahan menjadi INPRES pada tahun 1982. Dengan luas tanah kurang lebih 5000 m2. Lokasi SDN dekat dengan lingkungan Kecamatan _____. Keadaan personil SDN ________ berjumlah 9 orang, yang terdiri dari 6 orang guru kelas, 1 orang guru agama, 1 orang guru bahasa inggris, dan, 1 orang kepala sekolah. Hampir semua guru di SDN lulusan SPG. Gambaran umum karateristik siswa difokuskan pada tiga hal pokok, yaitu : ditinjau dari jenis kelamin, prestasi akademik siswa kelas V, dan aktivitas siswa sehari-hari. Alasan ditetapkannya ketiga hal pokok tersebut, karena diprediksikan mempunyai relevansi dengan kelancaran dan keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode karyawisata, penetapan prestasi akademik siswa didasarkan pada rangkaian siswa di kelas V semester ___. Adapun penetapan aktivitas siswa didasarkan pada pengamatan penulisan pada semester 1, guru bidang studi agama islam dan informasi dari guru-guru sebelumnya. Keaktifan siswa secara umum siswa kelas V SDN ________ Kecamatan _______ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ____/_____ masuk katagori kurang aktif, mungkin disebabkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya, sehingga siswa menjadi kurang aktif . 3. Sumber Belajar Sumber belajar yang ada di SDN _______ berdasarkan penelitian penulis, berpedoman pada kurikulum Sekolah Dasar dan Suplemen tahun __________ telah memiliki kualifikasi pendidikan D2 PGSD. Dan hanya 1 orang dari Kantor Cabang Dinas Pendidikan

40 2004 sebagai acuan dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Sumber belajar kedua adalah buku paket yang pengadaannya oleh pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional. Buku paket dirasakan masih kurang terutama buku IPS sebagai pegangan siswa. Sumber belajar ketiga yang dipergunakan adalah lingkungan yang menuntut kreativitas guru untuk menunjang proses pembelajaran yang lebih baik. Tetapi sumber belajar ketiga ini belum dilaksanakan secara oftimal. 4. Refleksi Awal Pembelajaran IPS di Kelas V Pada observasi pertama kali dilaksanakan pada hari _________ pukul 07.30 - 09.30, sebagaimana kebiasaan yang dilakukan guru, ketika akan memulai pelajaran adalah melakukan renungan singkat yang diakhiri membaca do'a dan memberi salam, setelah itu mengabsen siswa dan menanyakan kepada siswa bagi yang masih mempunyai kaitan dengan masalah keuangan. Kegiatan membuka pelajaran, guru memulai dengan menanyakan pekerjaan rumah tanpa ada tindak lanjut dari pertanyaan itu, serta menyuruh siswa untuk memperhatikan pada saat guru sedang menjelaskan materi. Kegiatan inti pembelajaran, guru memulai dengan menyuruh siswa untuk memperhatikan materi yang sedang dijelaskan dan menyuruh menulis apabila ada hal-hal yang penting waktu guru sedang menjelaskan materi atau pokok bahasan. Kemudian guru menanyakan kepada siswa apakah sudah mengerti atau belum, dan guru memberikan kesempatan bertanya kepada siswa sekitar materi yang sudah dijelaskan. Selanjutnya guru memberikan soal-soal yang harus diselesaikan oleh siswa sebagai latihan tanpa ada bimbingan, Kegiatan akhir dari kegiatan ini adalah melaksanakan evaluasi, yang berupa soal maupun LKS yang dibagikan kepada siswa secara perorangan . Hasil evaluasi ini dikumpulkan tanpa diperiksa terlebih dahulu. Kegiatan akhir atau kegiatan penutup, guru memberikan kepada siswa sebagai pekerjaan rumah. Kemudin guru mengajak siswa untuk

41 menyiapkan buku pelajaran yang lain sebagai tanda bahwa pelajaran IPS telah selesai. 5. Observasi , Refleksi, Evaluasi dan Rencana Penerapan Metode Karyawisata Berdasarkan hasil observasi sebagaimana yang telah digambarkan di atas mengenai pola pelaksanaan pembelajaran di kelas V SDN ________ tabel Tabel Rincian Waktu Pelaksanaan Pembagian IPS Di kelas V SDN ______ NO 1 2 Jenis Kegiatan Waktu Kegiatan Awal Kegiatan Inti : a. Penjelasan Materi b. Tanya Jawab. c. Latihan 3 d. Evaluasi Kegiatan Akhir Jumlah Waktu 5 menit 15 menit 5 menit 10 menit 30 menit 5 menit 5 menit 70 menit Kecamatan _______ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ____/_____ Bila dilihat dari perincian waktu dapat diklasifikasikan pada

Data pada tabel di atas menunjukan bahwa dalam kegiatan inti proses pembelajaran berpusat pada aktivitas guru dan terlalu banyak waktu pada kegiatan evaluasi sehingga kurang efektif dan efisien. Seharusnya kegiatan inti yaitu kegiatan latihan yang banyak melibatkan aktivitas siswa dengan proses bimbingan dari guru kelas.

Berdasarkan gambaran tersebut di atas, menunjukan bahwa pembelajaran IPS di kelas V SDN ________ Kecamatan _______

42 Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ____/_____ tidak sesuai dengan hakekat pembelajaran IPS yang harus menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar IPS dan tidak terbatas oleh ruangan kelas. Atas dasar itulah perlu dilakukan perbaikan proses pembelajaran. Tindakan awal yang dilakukan penulis untuk memperbaiki proses pembelajaran pendidikan IPS di kelas V SDN ________ _______ Kabupaten ________ Kecamatan Tahun Pelajaran ____/_____ adalah

dengan cara mengadakan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan penulis selama ini. Adapun tujuannya adalah selain mengetahui kemampuan siswa dalam menyerap materi dengan pokok bahasan lingkungan sekitar, juga untuk memberikan pemahaman kepada penulis pentingnya menentukan suatu metode pembelajaran yang telah ditetapkan. Dari hasil tindakan awal tersebut dapat disimpulkan bahwa ketidakberhasilan siswa dalam menyerap penjelasan tentang pokok bahasan lingkungan sekitar disebabkan karena kurang tepatnya penggunaan metode pembelajaran, dan tidak menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar IPS. Atas dasar itulah penulis merencanakan pelaksanaan metode pembelajaran "Karyawisata" untuk memperbaiki proses pembelajaran sebagai solusi permasalahan tersebut di atas. B. Pelaksanaan Tindakan Tindakan Pertama 1. Perencanaan Adanya beberapa kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini, yaitu : 1) Penyusunan rancangan pembelajaran; 2) persiapan; dan 3) perumusan masalah.

1.1 Penyusunan Rancangan Pembelajaran

43 Format rancangan pembelajaran meliputi : Mata Pelajaran Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Kelas / Semester Alokasi Waktu I. : : : : : Tujuan Pembelajaran Umum

II. Tujuan Pembelajaran Khusus III. Kegiatan Pembelajaran IV. Metode V. Materi / Media dan Sumber VI. Evaluasi 1.2 Persiapan Pada tahap ini guru mempersiapkan materi atau topik yang pokok yang akan kita kunjungi. Topik dari yaitu "lingkungan sekitar" yang difokuskan pada lingkungan keluarga, maka yang pertama kali dilakukan adalah menentukan rumah siapa yang akan dikunjungi. Setelah ada kesepakatan antara guru dan siswa, selanjutnya guru dan beberapa perwakilan dari siswa minta izin kepada yang bersangkutan. Selanjutnya guru mempersiapkan beberapa pertanyaan yang akan ditanyakan pada saat kunjungan, tentunya tidak terlepas dari sumber yang ada pada buku sumber dan kurikulum yang berlaku. 1.3 Perumusan Masalah Berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi penulis terhadap hasil evaluasi dan proses pembelajaran, maka masalah yang perlu diperhatikan siswa saat melakukan kunjungan (karyawisata) ke lingkungan sekitar yaitu lingkungan keluarga adalah sebagai berikut : 1. Perhatikan lingkungan sekitar terutama lingkungan keluarga, lalu pahami dengan benar; 2. Buat laporan setelah kalian melakukan kunjungan dengan baik dan

44 benar. 2. Pelaksanaan Kegiatan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran adalah melaksanakan pre test, sasaran yang ingin dicapai melalui pre test, yakni : 1) Untuk melihat kemampuan siswa terhadap materi yang akan diajarkan; dan 2) Untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar siswa baik dalam bidang kognitif, afektif, maupun psikomotor dengan menggunakan metode karyawisata. Adapun hasil pre-tes yang diraih oleh siswa dapat dilihat pada tabel 4.5.

Table 4.5

45 Nilai Pre-tes Siswa Tindakan Pertama No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Jumlah Rata-rata No. Induk 977 976 978 988 989 1010 1011 1012 1013 1015 1017 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1029 Nama Siswa Responden 1 Responden 2 Responden 3 Responden 4 Responden 5 Responden 6 Responden 7 Responden 8 Responden 9 Responden 10 Responden 11 Responden 12 Responden 13 Responden 14 Responden 15 Responden 16 Responden 17 Responden 18 Responden 19 Responden 20 Responden 21 Nilai 4,00 5,00 6,00 6,00 5,00 5,00 4,00 3,00 4,00 5,00 4,00 5,00 6,00 4,00 3,00 4,00 5,00 4,00 4,00 4,00 6,00 157 4,75 Keterangan

Batas lulus 6,00

Data pada tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa ada 8 orang siswa atau kurang dari setengahnya (40%) yang dinyatakan lulus, sedangkan sisanya 13 orang siswa atau lebih dari setengahnya (60%) dinyatakan tidak lulus dalam pre-tes. Sedangkan nilai rata-rata lulus dari pre-tes tersebut adalah 4,96. Hasil dari Pre-tes yang dilaksanakan siswa tidak diinformasikan kepada siswa yang bersangkutan, ini hanya menjadi catatan bagi guru untuk mengarahkan atau memotivasi siswa dalam pelaksanaan metode karyawisata, sehingga anak mengetahui dengan sendirinya setelah selesai kunjungan.

Pada kegiatan inti, guru dan siswa keluar kelas menuju tempat kunjungan yaitu lingkungan sekitar yang difokuskan pada lingkungan

46 keluarga. Rumah yang kita kuniungi tentunya yang sudah mendapat izin yang dilakukan pada tahap persiapan. Keluarga yang kita kunjungi adalah keluarga Bapak Somad sebagai ketua RW, keluarga Bapak Suproni sebagai ketua dewan sekolah, dan keluarga Bapak Junaedi sebagai anggota masyarakat. Pada kegiatan inti ini, guru mengajak siswa untuk memperhatikan semua keadaan yang ada di rumah atau keluarga tersebut. Setelah selesai memperhatikan keadaan rumah, baik di dalam maupun di luar rumah, guru mengajak siswa berkumpul di dalam rumah tersebut, karena ruangan tidak mencukupi semua anak memposisikan diri pada tempat yang sekiranya nyaman. Setelah semuanya terkumpul guru meminta dan mempersilahkan kepada salah satu perwakilan anggota keluarga untuk menjelaskan sekitar keadaan keluarganya. Sementara siswa memperhatikan dan mencatat halhal yang penting sekitar apa yang sedang dijelaskan oleh salah satu anggota keluarga. Setelah selesai menjelaskan sekitar keadaan keluarganya, guru mempersilahkan kepada siswa untuk bertanya apabila ada hal-hal yang kurang dipahami, ternyata ada beberapa orang anak yang bertanya. Walaupun dengan menggunakan bahasa yang dicampurkan antara bahasa Indonesia dan bahasa jawa, sehingga menimbulkan tertawaan bagi anakanak yang lain. Setelah kegiatan kunjungan selesai guru dan siswa mengucapkan terima kasih kepada keluarga yang dikunjungi, lalu guru mengajak siswa untuk masuk kelas. Di perjalanan anak bercerita dengan teman-temannya dengan penuh kegembiraan bahwa soal-soal yang diberikan pada pre-tes tadi ada pada penjelasan atau temuan-temuan yang ia dapatkan selama proses kunjungan. Kegiatan selanjutnya, setiap siswa harus membuat laporan masingmasing yang nantinya harus dilaporkan di depan teman-temannya baik berupa lisan maupun tulisan. Bagi anak yang tidak sungguh-sungguh mengilcuti proses kunjungan sepertinya mereka resah dan merasa kesulitan untuk membuat laporan, tetapi proses pembuatan laporan ini

47 tidak terlepas dari bimbingan guru kelas. Setelah siswa selesai menyusun laporannya, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melaporkannya di depan teman-temannya baik lisan maupun tulisan. Tetapi tidak seorang pun yang mau ke depan untuk melaporkannya, melihat kejadian itu guru tidak memaksa anak untuk ke depan, tetapi menyuruh mengumpulkan hasil laporannya oleh seorang siswa. Pada kegiatan akhir guru tidak mengadakan menilai proses, akan tetapi hanya mengatakan pelaksanaan kunjungan (karyawisata) pada hari ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, pelaksanaan kunjungan (karyawisata) keluar kelas harus lebih baik, sedangkan kegiatan post-test dilaksanakan esok harinya yaitu hari ____tanggal ______. Hal ini dilakukan karena pelaksanaan kunjungan ke luar kelas pada waktu telah melampui waktu pelajaran IPS. Adapun hasil evaluasi tersebut dapat dilihat pada tabel 4.6 Data pada tabel 4.6 dapat disimpulkan bahwa ada 15 orang siswa atau kurang dari setengahnya (45%) yang dinyatakan lulus, sedangkan sisanya atau lebih dari setengahnya (55%) dinyatakan tidak lulus dalam post-test. Sedangkan nilai rata-rata kelas yang diraih oleh siswa tersebut adalah 6,00.

48 Tabel 4.6 Nilai Post-test Siswa Tindakan Pertama No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Jumlah Rata-rata 3. No. Induk 977 976 978 988 989 1010 1011 1012 1013 1015 1017 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1029 Nama Siswa Responden 1 Responden 2 Responden 3 Responden 4 Responden 5 Responden 6 Responden 7 Responden 8 Responden 9 Responden 10 Responden 11 Responden 12 Responden 13 Responden 14 Responden 15 Responden 16 Responden 17 Responden 18 Responden 19 Responden 20 Responden 21 Nilai 6,00 6,00 6,00 8,00 6,00 5,00 5,00 9,00 5,00 6,00 6,00 5,00 6,00 5,00 4,00 5,00 7,00 6,00 5,00 5,00 6,00 182 6,00 Keterangan

Batas lulus 6,00

Observasi, evaluasi, refleksi, dan revisi pembelajaran Berdasarkan hasil pengamatan terhadap tindakan pertama menunjukan bahwa kegiatan pembelajaran dengan menggunakan "metode karyawisata" belum sesuai dengan yang diharapkan. Pada kegiatan anak, pada saat mengadakan pre-tes siswa cenderung menyelesaikan soal apa adanya, padahal pengalaman yang dlalami oleh siswa di lingkungan keiuarganya ada keterkaitan antara materi pelajaran yang diberikan di daiam kelas dengan kenyataan yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Pada kegiatan inti siswa cenderung tidak memperhatikan pada saat kunjungan berlangsung, masih banyak siswa bercanda, jajan di warung yang tidak terkontrol oleh guru. Hampir 50% siswa tidak memperhatikan apa yang dijelaskan oleh nara sumber. Ini dibuktikan dari

49 nilai-nilai yang diraih oleh siswa pada saat melaksanakan post-tes hasilnya kurang begitu memuaskan walaupun sudah ada peningkatan, tetapi kurang sesuai dengan apa yang diharapkan, dan dibuktikan pula dengan hasil laporan yang dibuat oleh siswa masih banyak yang tidak sesuai dengan materi yang dijelaskan oleh nara sumber dan hasil temuan-temuan di lapangan. Pada kegiatan inti khususnya pada forum Tanya jawab siswa kurang termotivasi oleh suasana tersebut, dan merasa bingung apa yang harus ditanyakan. Dan ketika nara sumber dan guru menanyakan sudah mengerti atau tidak, tidak ada satu orang pun yang menjawab. Dilihat dari segi hasil, sudah ada peningkatan baik itu rata-rata kelas maupun secara perorangan, tetari dari persentasenya sudah meningkat walaupun belum maksimal. Berdasarkan hasil temuan yang disampaikan di atas, langkah untuk selanjutnya adalah mengadakan refleksi. Yang hasilnya sebagai berikut : 1) Guru mengadakan perencanaan yang lebih baik; 2) Guru memberikan pengertian dan pemahaman pada siswa tentang makna dan manfaat pada saat mengadakan kunjungan (karyawisata); 3) Guru menyusun butir-butir soal yang lebih baik yang akan diberikan pada siswa baik pre-tes maupun post-tes; dan 4) Guru memotivasi siswa agar berani bertanya apabila ada hal-hal yang kurang dimengerti. Tindakan Kedua 1. Perencanaan Pada tahap perencanaan, kegiatan yang dilakukan guru yaitu persiapan untuk kunjungan (karyawisata) dan merumuskan masalah berdasarkan hasil analisis dan refleksi penulis pada tindakan pertama. Adapun persiapan yang dilakukan guru adalah : 1) Membuat rancangan pembelajaran. Formatnya sama dengan format rancangan pembelajaran tindakan pertama. 2) Membuat tata tertib pada saat melakukan kunjungan (karyawisata) antara lain : 1) Semua pelaksanaan kunjungan harus diikuti dari

50 awal sampai akhir; 2) Tidak boleh jajan, pada saat penjelasan dari 2) Membuat tata tertib pada saat melakukan kanjungan (karya wisata) antara lain : 1) Semua pelaksanaan kunjungan harus diikuti dari awal sampai akhir; 2) Tidak boleh jajan, pada saat penjelasan dad nara sumber; dan 3) Semua siswa harus membuat laporan dan menyampaikannya di depan kelas dengan baik dan benar. Sedangkan rumusan masalah yang harus diperhatikan oleh siswa pada tindakan kedua ini adalah : 1) Coba kalian perhatikan dengan baik pada saat kalian mengadakan kunjungan ke lingkungan sekolah dengan cermat. 2) Buat laporan tentang lingkungan sekolah setelah kalian mengadakan kunjungan (karyawisata) dengan baik dan benar. 2. Pelaksanaan dan Observasi kegiatan Pembelajaran Pada tindakan kedua ini, kegiatan pertama yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran sama dengan kegiatan sebelumya yaitu melaksanakan pre-tes. Adapun hasil pre-tes dapat dilihat pada tabel

51 Tabe1 Nilai Pre-tes Siswa Tindakan Kedua No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Jumlah Rata-rata No. Induk 977 976 978 988 989 1010 1011 1012 1013 1015 1017 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1029 Nama Siswa Responden 1 Responden 2 Responden 3 Responden 4 Responden 5 Responden 6 Responden 7 Responden 8 Responden 9 Responden 10 Responden 11 Responden 12 Responden 13 Responden 14 Responden 15 Responden 16 Responden 17 Responden 18 Responden 19 Responden 20 Responden 21 Nilai 4,00 5,00 6,00 6,00 5,00 5,00 4,00 3,00 4,00 5,00 4,00 5,00 6,00 4,00 3,00 4,00 5,00 4,00 4,00 4,00 6,00 157 4,75 Keterangan

Batas lulus 6,00

Berdasarkan data pada tabel di atas dapat disimpulkan bahwa 5 orang siswa atau 27% siswa yang dinyatakan lulus pada pre-tes. Sedangkan sisanya sebanyak 16 orang siswa atau 73% dinyatakan tidak lulus. Kegiatan membuka pelajaran, guru memulai dengan mengumumkan hasil penyusunan laporan yang disusun pada tindakan pertama, yang hasilnya hanya ada beberapa orang saja yang sudah mendekati kesempurnaan. Secara umum hasilnya masih jauh sesuai dengan apa yang di harapkan. Berdasarkan hasil evaluasi penyusunan laporan tersebut guru harus memotivasi siswa agar dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode karyawisata lebih diperhatikan dan diikuti dengan sungguh-sungguh, sehingga proses pembelajaran lebih baik

52 dan mencapai hasil yang memuaskan. Pada kegiatan inti guru membawa siswa keluar untuk mengamati dan memperhatikan lingkungan sekolah, dari mulai letak geografis sekolah, denah sekolah, letak dan penataan sekolah, lingkungan alam sekolah serta memperhatikan bagaimana komunikasi sosial di warga sekolah yaitu siswa, guru, kepala sekolah, dan dewan sekolah. Setelah selesai memperhatikan keadaan lingkungan sekolah, guru mengajak siswa untuk berkumpul di suatu tempat yang nyaman, untuk mendengarkan informasi dan penjelasan dari salah satu nara sumber yang dilingkungan sekolah yaitu salah seorang guru kelas V, kepala sekolah, dan pengurus koperasi sekolah, yang telah diinformasikan sebelumnva untuk memberikan penjelasan. Semua siswa memperhatikan dengan sungguh dan Berdasarkan data pada tabel di atas dapat disimpulkan bahwa 5 orang siswa atau 27% siswa yang dinyatakan lulus pada pre-tes. Sedangkan sisanya sebanyak 16 orang siswa atau 73% dinyatakan tidak lulus. Kegiatan membuka pelajaran, guru memulai dengan mengumumkan hasil penyusunan laporan yang disusun pada tindakan pertama, yang hasilnya hanya ada beberapa orang saja yang sudah mendekati kesempurnaan Secara umum hasilnya masih jauh sesuai dengan apa yang di harapkan. Berdasarkan hasil evaluasi penyusunan laporan tersebut guru harus memotivasi siswa agar dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode karyawisata lebih diperhatikan dan diikuti dengan sungguh-sungguh, sehingga proses pembelajaran lebih baik dan mencapai hasil yang memuaskan. Pada kegiatan inti guru membawa siswa keluar untuk mengamati dan memperhatikan lingkungan sekolah, dari mulai letak geografis sekolah, denah sekolah, letak dan penataan sekolah, lingkungan alam sekolah serta memperhatikan bagaimana komunikasi

53 sosial di warga sekolah yaitu siswa, guru, kepala sekolah, dan dewan sekolah. Setelah selesai memperhatikan keadaan lingkungan sekolah, guru mengajak siswa untuk berkumpul di suatu tempat yang nyaman, untuk mendengarkan informasi dan penjelasan dari salah satu nara sumber yang di lingkungan sekolah yaitu salah seorang guru kelas V, kepala sekolah, dan pengurus koperasi sekolah, yang telah diinformasikan sebelumnya untuk memberikan penjelasan. Semua siswa memperhatikan dengan sungguh dan mencatat hal-hal yang penting dari semua yang dijelaskan oleh nara sumber tersebut . Setelah semua nara sumber menjelaskan sekitar lingkungan sekolah, guru memberikan waktu dan mempersilahkan kepada siswa yang ingin bertanya kepada nara sumber apabila ada hal-hal yang kurang dimengerti. Semua siswa terdiam beberapa saat. Setelah beberapa saat terdiam, beberapa orang siswa mengangkat tangannya untuk bertanya. Siswa bertanya dengan polos dan bahasa yang sederhana, terkadang dicampur dengan bahasa daerah (sunda) yang menimbulkan tertawaan bagi anak-anak yang lain. Setelah tanya jawab dan penjelasan selesai guru dan siswa mengucapkan terima kasih kepada nara sumber, guru dan siswa bersalaman dengan penuh kegembiraan dan keceriaan. Kegiatan kunjungan (karyawisata) telah berakhir, guru mengajak siswa untuk masuk kelas kembali, semua siswa bercerita dengan gembira. Setelah sernua siswa masuk kelas, guru menyuruh siswa untuk mengingat kembali pada saat kita melaksanakan kunjungan. Kemudian guru menyuruh siswa untuk membuat laporan berbentuk tulisan maupun lisan yang harus dilaporkan ke depan teman-temannya dengan menggunakan bahasa sendiri secara bergiliran. Setelah kegiatan membuat laporan anak mengumpulkannya kepada guru. Kemudian guru mempersilahkan kepada siswa satupersatu untuk melaporkannya. Tetapi semua diam tidak ada yang mau ke depan, guru bertanya kepada siswa, apakah dipanggil berdasarkan

54 absent, atau berdasarkan hasil yang dikumpulkan, siswa menjawab ada yang mau berdasarkan absent ada juga yang mau berdasarkan hasil yang dikumpulkan. Setelah tercapai kesepakaian akhirnya guru memutuskan berdasarkan nomor urut absent. Satu persatu siswa dipanggil untuk ke depan melaporkannya, sementara guru memberikan penilaian baik dari kebahasaan maupun ketepatan dengan yang dijelaskan oleh nara sumber yang berdasarkan pada kurikulum. Pada kegiatan akhir guru tidak melaksanakan post-tes. Posttes dilalukan esok harinya karena hari ini waktu pelajaran IPS sudah habis. Selanjutnya guru menyampaikan informasi bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode karyawisata sedikit meningkat dari pelaksanaan lapangan minggu lalu. Selanjutnya guru menyiapkan mata pelajaran yang lain. Dapat disimpulkan bahwa siswa yang dinyatakan lulus dalam post-tes dengan pokok bahasan lingkungan sekolah adalah sebanyak 29 orang atau 88% dari keseluruhan jumlah siswa, sedangkan sisanya sebanyak 4 orang atau 12% siswa dinyatakan belum lulus. Adapun nilai rata-rata kelas pada post-tes tindakan kedua ini adalah 6,12. juga yang mau berdasarkan hasil yang dikumpulkan. Setelah tercapai kesepakatan akhirnya guru memutuskan berdasarkan nomor urut absent. Satu persatu siswa dipanggil untuk ke depan melaporkannya, sementan guru memberikan penilaian baik dari kebahasaan maupun ketepatan dengan yang dijelaskan oleh nara sumber yang berdasarkan pada kurikulum. Pada kegiatan akhir guru tidak melaksanakan post-tes. Posttes dilalukan esok harinya karena hari ini waktu pelajaran IPS sudah habis Selanjutnya guru menyampaikan informasi bahwa pembelajaran dengas menggunakan metode karyawisata sedikit meningkat dari pelaksanaan lapangat minggu lalu. Selanjutnya guru menyiapkan mata pelajaran yang lain. Adaput hasil post-tes pada tindakan kedua ini dapat dilihat pada tabel Berdasarkan data pada tabel 4.8 dapat

55 disimpulkan bahwa siswa yang dinyatakan lulus dalam post-tes dengan pokok bahasan lingkungan sekolal adalah sebanyak 19 orang atau 88% dari keseluruhan jumlah siswa, sedangkan sisanya sebanyak 2 orang atau 2 % siswa dinyatakan belum lulus. Adapun nila rata-rata kelas pada post-tes tindakan kedua ini adalah 6,12.

56 Tabe1 Nilai Post-Test Siswa Tindakan Kedua No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Jumlah Rata-rata No. Induk 977 976 978 988 989 1010 1011 1012 1013 1015 1017 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1029 Nama Siswa Responden 1 Responden 2 Responden 3 Responden 4 Responden 5 Responden 6 Responden 7 Responden 8 Responden 9 Responden 10 Responden 11 Responden 12 Responden 13 Responden 14 Responden 15 Responden 16 Responden 17 Responden 18 Responden 19 Responden 20 Responden 21 Nilai 6,00 6,00 7,00 8,00 6,00 5,00 7,00 6,00 6,00 7,00 6,00 7,00 8,00 6,00 5,00 6,00 7,00 6,00 6,00 5,00 6,00 202 6,12 Keterangan

Batas lulus 6,00

3. Observasi, evaluasi, refleksi, dan revisi pembelajaran Berdasarkan hasil refleksi terhadap kegiatan pembelajaran pada tindakan kedua menunjukan bahwa kegiatan kunjungan (karyawisata ) keluar kelas yaitu ke lingkungan sekitar baik lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah yang telah dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran IPS telah dapat meningkatkan kemampuan siswa secara optimal hal tersebut banyak dari hasil evaluasi masing-masing siswa dengan kemampuan yang dimilikinya lebih dari setengah atau 88% siswa telah beihasil dalam pembelajaran dengan menggunakan metode karyawisata tersebut .

57 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengolahan data dan pembahasan hasil penelitian tentang penerapan metode karyawisata untuk perbaikan proses pembelajaran pada pendidikan IPS di kelas V SDN ________ berikut : 1) Penerapan metode karyawisata, khususnya guru SDN _______ jarang melaksanakan bahkan tidak pernah melaksanakan. Padahal dalam pelaksanaan metode karyawisata guru dan siswa dapat memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, sehingga adanya persamaan persepsi antara teori yang diberikan di dalam kelas dengan kenyataan. 2) Persepsi guru dan siswa terhadap bentuk penerapan metode karyawisata dalam pembelajaran IPS harus selalu mengunjungi tempat-tempat yang jauh dan menyediakan waktu yang lama serta mengeluarkan biaya yang cukup besar. Padahal yang sebenarnya penerapan pembelajaran dengan menggunakan metode karyawisata kita dapat memanfaatkan sumber yang ada dilingkungan sekitar. 3) Pada dasarnya tidak ada hambatan dalam pelaksanaan metode karyawisata, asal guru dapat memanfaatkan sumber belajar dengan penuh kreativitas dan mengerti hakekat dari pelaksanaan metode karyawisata. 4) Penerapan metode karyawisata dalam pembelajaran IPS dapat memberikan dampak yang positif terhadap perbaikan proses pembelajaran dengan meningkatnya kemampuan siswa sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-masing siswa. Hal ini terbukti adanya perubahan hasil evaluasi yang meningkat dari masing-masing siswa, dari tindakan pertama sampai tindakan ketiga. Kecamatan _______ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ____/_____ dapat disimpulkan sebagai

58 B. Saran Agar terjadi proses, perbaikan dan mencapai keberhasilan dalam pembelajaran IPS di SD disarankan : 1) Guru harus memperoleh dan menerima data lain dari orang tua siswa tentang kemampuan anak didik, sehingga guru dapat mengetahui masalah perkembangan yang dimiliki siswa. Data tersebut dapat digunakan sebagai patokan guru dalam mendidik anak, dan menentukan batas lulus siswa. Agar tujuan pembelajaran tercapai dengan baik, sebaiknya guru harus bijaksana dalam menentukan batas lulus evaluasi pembelajaran. Oleh karena itu yang menjadi batas lulus adalah kemampuan rata-rata siswa di kelas. Sehingga siswa dapat mengembangkan potensi seoptimal mungkin tanpa ada batasan dan tekanan. 2) Guru IPS harus berupaya menambah wawasan keilmuannnya dan meningkatkan kemampuannya dalam menggunakan suatu metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. 3) Guru IPS harus berpegang pada prinsip-prinsip pengajaran IPS, dan memotivasi siswa untuk mempelajari dari mulai lingkungan yang terdekat (sekitar), yang sederhana samapi kepada bahan yang lebih luas dan kompleks data menerima pengalaman-pengalaman atau pengetahuan pendahuluan yang diperoleh dilingkungan sebelum masuk sekolah, karena sangat berpengaruh dalam menerima maupun mempelajari konsep dasar IPS.

59 DAFTAR PUSTAKA

Belen, S. dkk., ( 2001). Pendidikan IPS, Jakarta, Universitas Terbuka, Depdikbud Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ( 1999). Metodik Khusus Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah dasar, Jakarta : Depdikbud Departemen Pendidikan Nasional (2002) Pedoman Pelaksanaan Tes Kemampuan Dasar dan Menengah bagi Siswa Kelas V SD, SDLB, SLA Tingkat Dasar dan Menengah dan MI, Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional. .................(2003) Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentarrg Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. E. S. Kasbolah Kasihani ( 2000) Penelitian Tindakan Kelas, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Indrawati dan Widjaya Maman (2001) Penelitian Tindakan Kelas, Bandung : Departemen Pendidikan Nasional. Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia ( 2001) Beberapa Inovasi Pendidikan, Jurnal Pendidikan, Jakarta. PT. Zulupy Pratama Karya. Malleong, IL (1996) Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya. Mudyahardjo Reja (1996) Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta : Universitas Terbuka, Depdikbud Nasution, S (1982) Asas-asas Kurikulum, Bandung : Jemmars. Pasaribu, IL dan Simanjuntak B (1983) Proses Belajar Mengajar, Bandung : Tarsito. Pidarta Made (1997) Landasan Kependidikan, Jakarta : Asdi Mahastya. Purwanto Ngalim M (1998) Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya. ................(1998) Psikologi Pendidikan, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya. Rusyan Tabrani, A (1996) Metode Pembelajaran, Jakarta : PT. Amanah Duta Sumaatmadja. Nursid (1980) Metodologi Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial,

60 Bandung : Alumni SU Ischak, dkk (2000) Pendidikan IPS 1, Jakarta : Universitas Terbuka Sukarman Henry (2003) Dasar-dasar Didaktik dan Penerapannya dalam Pembelajaran, Bandung : Departemen Pendidikan Nasional. Suprayakti (2003) Interaksi Belajar Mengajar, Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional. Universitas Pendidikan Indonesia (2002) Pedoman Penulisan Bimbingan Karya Ilmiah (Laporan Buku, Makalah, Skripsi, Tesis, Disertasi) Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia. Wibawa Basuki (2003) Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional. Winarno dan Juniarto Eko, R (2003) Perencanaan Pembelajaran, Jakarta : Deartemen Pendidikan nasional. Wahyudin, D (2002) Implementasi Keterampilan Proses dalam Pendidikan IPS di SD. Tesis Magister Pendidikan Studi S.II SD. UPI Bandung : tidak diterbitkan. Yahya Rudrik (2003) Wawasan Kependidikan, Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional. Zainul Asmawi dan M. Mulyana Agus (2003) Tes dan Asesmen di SD, Jakarta : Universitas Terbuka.

61 Lampiran I Pedoman Wawancara Awal dengan Guru

Inti Wawancara

: Persepsi Guru tentang Penggunaan Metode Karyawisata

NO .

ASPEK YANG DINYATAKAN Metode yang sering digunakan dalam pembelajaran IPS di SD.

TANGGAPAN

2.

Wawasan tentang metode Karyawisata dalam pembelajaran IPS di SD.

3.

Persepsi Guru tentang metode karyawisata umumnya, khususnya dalam pembelajaran IPS di SD.

4.

Kendala-kendala IPS di SD.

dalam

penggunaan

metode karyawisata dalam pembelajaran

5.

Usaha-usaha mendalami SD.

yang

dilakukan

untuk metode

penggunaan

karyawisata dalam pembelajaran IPS di

Lampiran 2

62

Pedoman Wawancara Awal dengan Siswa

Inti Wawancara

: Pelaksanaan Pembelajaran IPS dengan menggunakan metode karyawisata

NO 1. 2.

ASPEK YANG DINYATAKAN Sikap Siswa terhadap mata pelajaran IPS. Sikap siswa terhadap guru dalam proses pembelajaran IPS

TANGGAPAN

3.

Keberhasilan siswa dalam menyerap dan menerima materi pembelajaran IPS.

4.

Nilai yang diraih oleh siswa setelah belajar IPS.

Lampiran 3

63

Pedoman Wawancara Akhir dengan Siswa

Inti Wawancara NO 1.

: Tanggapan, Kesan dan Sikap Siswa TANGGAPAN

ASPEK YANG DINYATAKAN Tanggapan dan kesan terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode karyawisata dalam mata pelajaran IPS.

2.

Kesulitan-kesulitan yang diaiami siswa selama pelaksanaan proses pembelajaran IPS dengan menggunakan metode karyawisata

3.

Keberhasilan siswa setelah dilaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan metode karyawisata.

4.

Sikap

siswa

jika dengan

pembelajaran menggunakan

dilaksanakan

metode karyawisata.

Lampiran 4

64 Kuisioner untuk Siswa NO 1. PERNYATAAN Penggunaan metode Karyawisata IPS dapat mempermudah dan mempelajari mata pelajaran 2. Belajar dengan menggunakan metode YA TIDAK

Karyawisata dapat menyamakan pelajaran yang diberikan di dalam kelas dengan kenyataan 3. Dengan penggunaan metode Karyawisata kami lebih merasa senang dalam belajar 4. Dengan penggunaan metode Karyawisata belajar lebih banyak bermain 5. Penggunaan metode Karyawisata supaya sering dilaksanakan.

Lampiran 5

65 Kuisioner untuk Guru NO 1. PERNYATAAN Apakah yang dirasakan guru selama ini dalam memberikan pelajaran IPS ? 2. Sejauhmanakah hasil evaluasi yang dilaksanakan oleh siswa dalam pembelajaran IPS ? 3. Metode apakah yang paling cocok dalam pembelajaran IPS dalam rangka menunjang tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan ? 4. Apakah penggunaan metode Karyawisata dalam pembelajaran IPS dapat memotivasi dalam belajar ? 5. Apa sajakah kesulitan-kesulitan yang dirasakan guru, bila metode karyawisata dipergunakan dalam pembelajaran IPS ? YA TIDAK

66