Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS INSTRUMEN PERCOBAAN 2 ANALISIS PARASETAMOL DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL

DISUSUN OLEH : GOLONGAN/KELOMPOK : IIB/4 Dina Mailana Aynita Kurniawan S. Intan Hanifiani Fachri Aditiya M. Rifki Khadafi (G1F011064) (G1F011066) (G1F011068) (G1F011072) (G1F011042)

Hari/tanggal : Senin, 27 Mei 2013 Asisten : Rizky Novasari

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2013

PERCOBAAN 2 ANALISIS PARASETAMOL DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL I. Tujuan Melakukan prinsip analisis kuantitatif sampel dengan metode spektrofotometri visible.

II. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain: beaker glass, tabung reaksi, labu ukur, gelas ukur, mortir dan stamper, pipet volume, pipet tetes, rubble blub, tissue, timbangan analitik, spektrofotometer. Bahan-bahan yang diperlukan yaitu akuades, tablet paracetamol, Larutan HCl 4M, Larutan NaNo2 0.1%, Larutan Ammonium Sulfamat 0.5%. III. Cara kerja 1. Pembuatan larutan standar Paracetamol 50 mg Paracetamol

ditambah 4 mL HCl 4M diencerkan dengan aquades menggunakan labu takar 10 mL

Larutan stock paracetamol

2. Penetapan panjang gelombang maksimum Larutan stock paracetamol diencerkan menjadi 10 g/mL

diambil 0.5 mL dimasukkan ke dalam labu takar 25 mL ditambah 0.6 mL HCl 4M dan 1 mL NaNO 2 0.1%, didiamkan 3 menit

ditambah 1 mL Ammonium Sulfamat 0.5%, didiamkan 2 menit

diukur absorbansinya pada panjang gelombang 380-600 nm

maks

3. Pembuatan kurva kalibrasi Larutan stock paracetamol diencerkan menjadi 2,4,6 g/mL diambil masing-masing 0.5 mL dimasukkan ke dalam labu takar 25 mL ditambah 0.6 mL HCl 4M dan 1 mL NaNO 2 0.1%, didiamkan 3 menit ditambah 1 mL Ammonium Sulfamat 0.5%, didiamkan 2 menit diukur absorbansinya pada panjang gelombang maks yg didapat dibuat kurva kalibrasinya

Kurva kalibrasi -

4. Pengukuran kadar Paracetamol dalam sediaan tablet

10 tablet paracetamol - ditimbang satu persatu lalu degerus halus & diaduk sampai homogen diambil 50mg paracetamol

50 mg paracetamol ditambah 4mL HCl 4 M dan 30 mL aquades

dihidrolisis selama 30 menit

diambil 0.5 mL

dimasukkan ke dalam labu takar 25 mL

ditambah 0.6 mL HCl 4M dan 1mL NaNO 2 0.1%, didiamkan 3 menit

ditambah 1 mL Ammonium Sulfamat 0.5%, didiamkan 2 menit

diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimum

dilakukan replikasi sebanyak 3 kali

dihitung kadar paracetamol dalam sampel

Kadar paracetamol

IV. Data Pengamatan dan Perhitungan 1. Pembuatan larutan standar Parasetamol

Larutan stok (10 mg dalam 25 ml) M1 = = 0,4 mg/ml x 1000 = 400 g/ml

a. Pembuatan Larutan Standar 2g/mL M1. V1 = M2.V2 400.V1 = 2. 25 V1 = = 0,125 ml

b. Pembuatan Larutan Standar 4g/mL M1.V1 = M2.V2 400.V1 = 4.25 V1 = = 0,25 ml

c. Pembuatan Larutan Standar 6g/mL M1.V1 = M2.V2 400.V1 = 6. 25 V1 = = 0,375 ml

2. Pembuatan Kurva Kalibrasi Konsentrasi 2 g/ml 4 g/ml 6 g/ml Absorbansi 0, 469 0, 484 0, 736

Dengan regresi linier didapatkan persamaan garis lurus : y = a+bx y = 0,296 + 0,06675x , dengan a = 0,296; b = 0,06675;

r = 0,889 3. Pengukuran kadar Parasetamol dalam sediaan Tablet Perhitungan kadar sampel Replikasi ke1 2 3 Absorbansi 0, 523 A 0, 641 A 0, 604 A

Dimasukkan dalam persamaan : y = 0,296 + 0,06675x Replikasi 1 0,523 = 0,296 + 0,6675x 0, 227 = 0,6675x x = x = 3,4 ppm = 3,4x10-3 mg/ml Replikasi 2 0,641 = 0,296 + 0,6675x 0,345 = 0,6675x x x = = 5,17 ppm = 5,17x10-3 mg/ml

Replikasi 3 0,604 = 0,296 + 0,6675x 0,308 = 0,6675x x= x = 4,61 ppm = 4,61x10-3 mg/ml

Perhitungan Kadar

Kadar

x C x Fp

Kadar 1 =

x 3,4x10-3 mg/ml

= 0,042 mg/ml Kadar 2 = x 5,17x10-3 mg/ml

= 0,064 mg/ml Kadar 3 = x 4,61x10-3 mg/ml

= 0,057 mg/ml

Kadar (x) 0,042 0,064 0,057 0,054 -0,012 0,01 3x10-3

1,44x10-4 1x10-4 9x10-6 = 2,53x10-4

SD =

= = 0,01125

Jadi, kadar Parasetamol dalam tablet (mg/sampel) = x SD = 0,054 0,01125 mg/ml

V. PEMBAHASAN Spektrofotometri merupakan metode analisis yang didasarkan pada absorpsi radiasi elektromagnet. Cahaya terdiri dari radiasi terhadap kepekaan mata manusia. Gelombang dengan panjang berlainan akan menimbulkan cahaya yang berlainan sedangkan campuran cahaya dengan panjang-panjang ini akan menyusun cahaya putih. Cahaya putih meliputi seluruh spektrum nampak 400-760 nm. Dalam analisis spektrofotometri digunakan suatu sumber radiasi yang menjorok ke dalam daerah spektrum ultraviolet itu. Dari spektrum ini, dipilih panjang-panjang gelombang tertentu dengan lebar pita kurang dari 1 nm (Anonim, 1979). Spektrofotometri visible disebut juga spektrofotometri sinar tampak. Yang dimaksud sinar tampak adalah sinar yang dapat dilihat oleh mata manusia. Cahaya yang dapat dilihat oleh mata manusia adalah cahaya dengan panjang gelombang 400800 nm dan memiliki energi sebesar 299149 kJ/mol. Elektron pada keadaan normal atau berada pada kulit atom dengan energi terendah disebut keadaan dasar (groundstate). Energi yang dimiliki sinar tampak mampu membuat elektron tereksitasi dari keadaan dasar menuju kulit atom yang memiliki energi lebih tinggi atau menuju keadaan tereksitasi. Cahaya yang diserap oleh suatu zat berbeda dengan cahaya yang ditangkap oleh mata manusia. Cahaya yang tampak atau cahaya yang dilihat dalam kehidupan sehari-hari disebut warna komplementer. Misalnya suatu zat akan berwarna orange bila menyerap warna biru dari spektrum sinar tampak dan suatu zat akan berwarna hitam bila menyerap semua warna yang terdapat pada spektrum sinar tampak. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut.

Panjang gelombang (nm) 400 435 435 480 480 490 490 500 500 560 560 580 580 595 595 610 610 800

Warna warna yang diserap Ungu Biru Biru kehijauan Hijau kebiruan Hijau Hijau kekuningan Kuning Jingga Merah

Warna komplementer (warna yang terlihat) Hijau kekuningan Kuning Jingga Merah Ungu kemerahan Ungu Biru Biru kehijauan Hijau kebiruan

(Seran, 2011) Pada spektrofotometer sinar tampak, sumber cahaya biasanya menggunakan lampu tungsten yang sering disebut lampu wolfram. Wolfram merupakan salah satu unsur kimia, dalam tabel periodik unsur wolfram termasuk golongan unsur transisi tepatnya golongan VIB atau golongan 6 dengan simbol W dan nomor atom 74. Wolfram digunakan sebagai lampu pada spektrofotometri tidak terlepas dari sifatnya yang memiliki titik didih yang sangat tinggi yakni 5930 C (Seran, 2011). Metode spektroskopi sinar tampak berdasarkan penyerapan sinar tampak oleh suatu larutan berwarna. Oleh karena itu metode ini dikenal juga sebagai metode kalorimetri. Hanya larutan senyawa yang berwarna yang dapat ditentukan dengan metode ini. Senyawa tak berwarna dapat dibuat berwarna dengan mereaksikannya dengan pereaksi yang menghasilkan senyawa berwarna. Contohnya ion Fe3+ dengan ion CNS- menghasilkan larutan berwarna merah. Lazimnya kolorimetri dilakukan dengan membandingkan larutan standar dengan cuplikan yang dibuat pada keadaan yang sama. Dengan kalorimetri elektronik (canggih) jumlah cahaya yang diserap (A)

berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Metode ini sering digunakan untuk menentukan kadar besi dalam air minum (Puspitasari, dkk, 2012). Sampel yang dapat dianalisa dengan metode ini hanya sampel yang memiliki warna. Hal ini menjadi kelemahan tersendiri dari metode spektrofotometri visible. Oleh karena itu, untuk sample yang tidak memiliki warna harus terlebih dulu dibuat berwarna dengan menggunakan reagent spesifik yang akan menghasilkan senyawa berwarna. Reagent yang digunakan harus betul-betul spesifik hanya bereaksi dengan analat yang akan dianalisa. Selain itu juga produk senyawa berwarna yang dihasilkan stabil. (SKOOG & WEST, 1971). Prinsip kerja spektrofotometri adalah bila cahaya (monokromatik maupun campuran) jatuh pada suatu medium homogen, sebagian dari sinar masuk akan dipantulkan, sebagian diserap dalam medium itu, dan sisanya diteruskan. Nilai yang keluar dari cahaya yang diteruskan dinyatakan dalam nilai absorbansi karena memiliki hubungan dengan konsentrasi sampel. Prinsip kerja spektrofotometri berdasarkan hokum Lambert-Beer, bila cahaya monokromatik (I0),melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya tersebut diserap (Ia), sebagian dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi dipancarkan (It). Transmitans adalah perbandingan intensitas cahaya yang di transmisikan ketika melewati sampel (It) dengan intensitas cahaya mula-mula sebelum melewati sampel (Io). Persyaratan hokum Lambert-Beer antara lain : Radiasi yang digunakan harus monokromatik, rnergi radiasi yang di absorpsi oleh sampel tidak menimbulkan reaksi kimia, sampel (larutan) yang mengabsorpsi harus homogeny, tidak terjadi flouresensi atau phosphoresensi, dan indeks refraksi tidak berpengaruh terhadap konsentrasi, jadi larutan harus pekat (tidak encer) (Day, 2002). Cara kerja spektrofotometri secara singkat adalah sebagai berikut. Tempatkan larutan pembanding, misalnya blangko dalam sel pertama sedangkan larutan yang akan dianalisis pada sel kedua. Kemudian pilih fotosel yang cocok 200 nm-650 nm (650 nm-1100 nm) agar daerah yang diperlukan dapat terliputi. Dengan ruang fotosel dalam keadaan tertutup nol galvanometer dengan menggunakan tombol darkcurrent. Pilih h yang diinginkan, buka fotosel dan lewatkan berkas cahaya pada blangko dan nol galvanometer didapat dengan memutar tombol sensitivitas. Dengan menggunakan tombol transmitansi, kemudian atur besarnya pada 100%. Lewatkan berkas cahaya pada larutan sampel yang akan dianalisis. Skala absorbansi menunjukkan absorbansi larutan sampel (Khopkar, 2003).

Monografi 1. Paracetamol

Parasetamol merupakan zat hablur atau serbuk hablur putih tidak berbau, rasa pahit. Kelarutanya adalah larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol 95 % P, 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam alkali hidroksida. Berat molekulnya adalah 151, 16 dengan nama senyawa N asetil p aminofenol (Anonim, 1995). Acetaminophen atau Parasetamol adalah obat analgetik dan antipiretik yang digunakan untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal atau sakit ringan dan demam. Parasetamol digunakan dalam sebagian resep obat analgetik selesma dan flu. Berbeda dengan obat analgetik yang lain seperti aspirin dan ibuprofen, parastamol tidak memiliki sifat antiradang (Tjay, 2002). Parasetamol merupakan derivate dari asetanilida yang efek enalgetiknnya dapat diperkuat dengan koffein dengan kira-kira 50% dan codein. Overdose dapat menimbulkan antara lain mual, muntah dan anoreksia. Penanggulangannya dengan cuci lambung, juga perlu diberikan zat-zat penawar (asam amino N-asetilsistein atau metionin) sedini mungkin, sebaiknya 8-10 jam setelah intoksikasi. Penggunaan parasetamol dalam dosis besar dan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan pada hati, untuk itu parasetamol dikontraindikasikan untuk pasien dengan gangguan fungsi hati berat. Wanita hamil dapat menggunakan parasetamol dengan aman, juga selama laktasi walaupun mencapai susu ibu. Interaksi dengan dosis tinggi memperkuat efek antikoagulansia dan pada dosis biasa tidak interaktif (Tjay, 2002). 2. HCL

Nama resmi Sinonim RM/BM Pemerian

: Acidum hydrochloridum : Asam klorida : HCl/36,46 : Asam klorida mengandung tidak kurang dari 36,5 % b/b HCL.

Pemerian berupa cairan tidak berwarna, berasap, bau merangsang. Jika diencerkan dengan 2 bagian air asap menghilang. Bobot jenis lebih kurang 1,18. Berkhasiat sebagai zat tambahan dan penyimpanan dalam wadah tertutup rapat (Anonim, 1995). 3. NaNO2

Natrium Nitrit (3 : 714) Nama resmi Sinonim RM/BM Pemerian Kelarutan Penyimpanan : Natrii nitrit : Natrium nitrit : NaNO2/69,00 : Hablur atau granul, tidak berwarna atau putih kekuningan rapuh. : Larut dalam 1,5 bagian air, agak sukar larut dalam etanol 95 % P. : Dalam wadah tertutup rapat (Anonim, 1979)

4. Ammonium sulfamat

NH4OSO2NH2 BM 114,12 Pemerian : Kristal higroskopis, murni berupa pereaksi.

Kelarutan : Luar biasa larut dalam air, cairan ammonia; sedikit larut dalam etanol. Cukup larut dalam glycerol, glycol, formamide, pH dari larutan 0,2 M dalam air adalah 4,9; larutan encer stabil saat mendidih (Anonim, 1995) 5. Aquadest

BM 18,02 Air murni (H2O) adalah air yang dimurnikan yang diperoleh dengan destilasi, perlakuan menggunakan penukar ion, osmosis balik atau proses lain yang sesuai. Dibuat dari air yang memenuhi persyaratan air minum dan tidak mengandung zat tambahan lain. H2O memiliki berat molekul 18,02 g/mol dengan densitas 0,998 g/cm dalam fase cairan dan 0,92 g/cm dalam fase padatan. Titik leburnya 0 C (273,15 K) (32 F) dan titik didihnya 100 C (373.15 K) (212 F). Pemeriaannya cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dengan pH antara 5,0 - 7,0. Wadah dan penyimpanannya dalam wadah tertutup rapat (Anonim, 1995). Air murni adalah air yang dimurnikan yang di peroleh dengan destilasi.perlakuan dengan menggunakan penukar ion,osmosis yang baik,atau proses lain yang sesuai.Dibuat dari air yang memenuhi persyaratan air minum,dan tibak mengandung zat tambahan yang lain.Pemerian cairan jernih,tidak berwarna,dan tidak berbau. Aquadest digunakan untuk pembuatan sediaan-sediaan.Bila digunakan untuk seediaan steril air harus memenuhi uji sterilitas (Anonim,1995).

Air adalah pelarut yang kuat, melarutkan banyak jenis zat kimia. Zat-zat yang bercampur dan larut dengan baik dalam air (misalnya garam-garam) disebut sebagai zat-zat "hidrofilik" (pencinta air), dan zat-zat yang tidak mudah tercampur dengan air (misalnya lemak dan minyak), disebut sebagai zat-zat "hidrofobik" (takut-air). Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut menandingi kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol) antara molekulmolekul air. Jika suatu zat tidak mampu menandingi gaya tarik-menarik antar molekul air, molekul-molekul zat tersebut tidak larut dan akan mengendap dalam air. 1. Pembuatan Larutan Standar Asam Salisilat Langkah kerja pada pembuatan larutan standar dimulai dengan cara menimbang parasetamol sebanyak 10 mg lalu ditambahkan HCL 4 M sebanyak 4 ml. Selanjutnya memindahkan larutan standar yang diperoleh ke dalam labu takar 25 ml secara kuantitatif untuk diencerkan sampai tanda batas dengan aquades. Larutan yang terbentuk kemudian dijadikan sebagai larutan stok parasetamol (10 mg dalam 25 ml). dengan perincian yaitu M1 = = 0,4 mg/ml x 1000 = 400 g/ml. Setelah

didapatkan molaritasnya, selanjutnya menghitung banyaknya larutan yang diambil dengan rumus pengenceran didapatkan volume larutan berturut-turut sebesar 0,125 ml, 0,25 ml, 0,375 ml. 2. Pembuatan Kurva Kalibrasi Parasetamol Fungsi dari pembuatan kurva baku linier adalah untuk memperoleh persamaan larutan baku dalam penentuan kadar sampel. Langkah kerja yang dilakukan dalam rangka pembuatan kurva kalibrasi larutan parasetamol adalah membuat larutan parasetamol dalam aquadest dengan kadar bertingkat, yaitu 2 g/ml, 4 g/ml, dan 6 g/ml. Fungsi aquadest ini adalah untuk mengencerkan larutan agar dapat terbaca oleh spektrofotometer dan menghilangkan sisa-sisa serbuk parasetamol. Jika suatu larutan yang akan diukur absorbansinya dengan spektrofotometri visibel terlalu pekat akan butir-butir partikel dari sampel yang diuji akan menyebabkan absorbansi dari larutan tersebut tidak dapat terbaca dengan jelas, sebab terlalu banyak partikel/molekul sampel yang berinteraksi dengan cahaya dari spektrofotometri sehingga absorbansinya terlalu tinggi dan sulit ditentukan (Budi, 2008). Sebagai blanko digunakan aquadest. Sebanyak 0,5 ml larutan parasetamol dimasukkan ke dalam labu takar 25 ml dan ditambahkan larutan 0,6 ml HCL 4 M dan 1 ml NaNO 2

1% yang berfungsi untuk reaksi diazotasi pada masing-masing larutan, selanjutnya didiamkan selama 3 menit. NaNO2 akan bereaksi dengan parasetamol dan gugus amina primer mengalami diazotasi dan terbentuk garam diazonium yang reaktif. Reaksi diazotasi terjadi sangat lambat, oleh karena itu penambahan reagen perlu didiamkan beberapa menit dimaksudkan agar semua amina primer sudah mengalami diazotasi (Budi, 2008). lalu tambahkan 1 ml Ammonium Sulfamat 0,5%, diamkan 2 menit. Penambahan ammonium sulfamat dimaksudkan untuk menghilangkan nitrit agar tidak merusak garam diazonium yang dapat mengakibatkan reaksi kopling berjalan lambat atau tidak berjalan sama sekali (Budi, 2008). Absorbansinya kemudian diukur pada panjang gelombang maksimum. Setelah itu buat kurva kalibrasi regresi linier antara absorbansi larutan dengan konsentrasi parasetamol. Konsentrasi 2 g/ml 4 g/ml 6 g/ml = 425 nm Absorbansi 0, 469 0, 484 0, 736

Kurva Baku :

Dengan regresi linier didapatkan a = 0,296; b = 0,06675; r = 0,889 Dari data di atas didapatkan persamaan kurva baku, y = 0,296 + 0,06675x, hasil dari percobaan ini kurang mendekati akurat (r = 1) karena nilai r yang diperoleh sebesar 0,889. 3. Pengukuran Kadar Parasetamol dalam Sediaan Tablet

Langkah-langkah dalam penetapan kadar parasetamol secara kuantitatif dilakukan dengan mengambil 1 tablet dan menimbangnya. Bobot 1 tablet parasetamol sebesar 620 mg, lalu digerus dalam mortir hingga halus dan diaduk sampai homogen. Tujuan penggerusan ini adalah untuk mempermudah dan mempercepat pelarutan dari parasetamol menggunakan aquades karena semakin luas permukaan suatu zat (partikel parasetamol semakin kecil dan luas permukaannya semakin besar) maka semakin besar pula kelarutannya (semakin banyak partikel parasetamol yang bertumbukan dengan pelarut) (Martin, et al., 1990). Kemudian timbang secara seksama sejumlah 50 mg sampel parasetamol, direplikasi sebanyak 3 kali. Lalu ditambahkan 4 ml HCl 4 M dan 30 ml aquadest, dan dihidrolisis selama 30 menit. Sebanyak 0,5 ml larutan parasetamol dimasukkan ke dalam labu takar 25 ml dan ditambahkan larutan 0,6 ml HCl 4 M dan 1 ml NaNO 2 0,1% untuk reaksi diazotasi pada masing-masing larutan, selanjutnya didiamkan selama 3 menit. NaNO 2 akan bereaksi dengan parasetamol dan gugus amina primer mengalami diazotasi dan terbentuk garam diazonium yang reaktif. Reaksi diazotasi terjadi sangat lambat, oleh karena itu penambahan reagen perlu didiamkan beberapa menit dimaksudkan agar semua amina primer sudah mengalami diazotasi (Budi, 2008). Kemudian ditambahkan 1 ml Ammonium Sulfamat 0,5 %, diamkan 2 menit. Penambahan ammonium sulfamat dimaksudkan untuk menghilangkan nitrit agar tidak merusak garam diazonium yang dapat mengakibatkan reaksi kopling berjalan lambat atau tidak berjalan sama sekali (Budi, 2008). Jika terlalu pekat, pengenceran dapat dilakukan kembali untuk sampel dengan akuades hingga didapatkan nilai absorbansi 0,2 0,8. Kemudian dilakukan pengukuran absorbansinya menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang maksimum. Sebagai blanko digunakan aquadest. Absorban yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2 sampai 0,8 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai transmitans. Anjuran ini berdasarkan anggapan bahwa kesalahan dalam pembacaan T adalah 0,005 atau 0,5% (kesalahan fotometrik) (Rohman, A. 2007). Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh bahwa kadar parasetamol dalam tablet yang dianalisis berturut-turut sebesar 0,042 mg/ml; 0,064 mg/ml; dan 0,057 mg/ml dengan bobot kadar rata-rata 1 tablet sebesar 0,054 mg/ml. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh bahwa kadar parasetamol dalam obat yang dianalisis adalah 0,054 0,01125 mg/ml.

Percobaan ini bertujuan untuk melakukan prinsip analisis kuantitatif sampel dengan metode spektrofotometri visibel. Sampel yang dianalisis ialah parasetamol. Pemerian parasetamol berupa hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau dan rasa pahit ini tergolong dalam sampel yang tidak berwarna sehingga untuk dianalisis dengan spektrofotometri visibel harus diberi reagen pewarna mengingat prinsip dari spektrofotometri visibel yakni hanya dapat menganalisis sampel yang memiliki warna. Namun dalam percobaan yang telah kami lakukan, larutan dari parasetamol itu tetap berwarna putih/tidak berwarna meskipun telah ditambah beberapa larutan seperti natrium nitrit dan ammonium sulfamat. Hasil vs Literatur Salah satu persyaratan CPOB perlu dilakukan penetapan kadar parasetamol dalam tablet, menurut persyaratan Farmakope Indonesia (FI) Edisi IV tahun 1995 yaitu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0%. Hasil yang diperoleh berbeda jauh dan tidak sesuai dengan literatur. Sehingga kadar parasetamol yang seharusnya didapat adalah sekitar 479,16 mg (532,4 mg x 90%). Namun dalam praktikum hingga 0,054 mg. Hasil yang berbeda ini dapat terjadi karena pada saat pengocokan dan pengadukan atau pada saat dihidrolisis dengan menggunakan labu ukur tidak tercampur secara sempurna dan larutan belum homogen yang ditandai dengan banyak partikel parasetamol yang terlihat beterbangan dalam larutan sampel tersebut sehingga kadar parasetamol yang terlarut dalam larutan tidak optimal dan sempurna. Oleh karena itu, pada saat pembacaan absorbansi dengan spektrofotometer visibel hasil yang diperoleh tidak optimal. Berdasarkan literatur, penentuan kadar sampel metode regresi linier yaitu metode parametrik dengan variabel bebas (konsentrasi sampel) dan variabel terikat (absorbansi sampel) menggunakan persamaan garis regresi Kurva Larutan Baku. Konsentrasi sampel dapat dihitung berdasarkan persamaan kurava baku tersebut (Rohman, 2007). Aplikasi dalam bidang farmasi dalam praktikum kali ini adalah dapat digunakan untuk menganalisis senyawa organik maupun anorganik secara kuantutatif berdasarkan hukum Lambert-Beer, menjelaskan informasi dari struktur suatu sampel berdasarkan panjang gelombang serapan maksimum suatu senyawa, serta dapat menentukan jenis khromofor, ikatan rangkap terkonjugasi, dan auksokrom dari suatu senyawa organik (Dachriyanus, 2004).

Disisi lain metode spektrofotometri juga memiliki keuntungan utama pemilihan yaitu metodesederhana untuk menetapkan kuantitas zat yang sangat kecil. Spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh suatu sistem kimia itu sebagai suatu fungsi dari panjang gelombang radiasi, demikian pula pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu panjang gelombang tertentu (Underwood, 2002).

VI. KESIMPULAN 1. Pengukuran kadar parasetamol menggunakan spektrofotometri visibel karena parasetamol memenuhi persyaratan senyawa yang dapat diukur dengan spektrofotometri visibel, yakni reprodusibel, selektif, sensitif. 2. Berdasarkan hasil analisis kuantitatif dengan menggunakan spektrofotometri visibel diketahui bahwa kadar parasetamol yang terkandung dalam obat yang dianalisis adalah 0,054 0,01125 mg/ml. 3. Kadar parasetamol yang diperoleh tidak sesuai dengan persyaratan parasetamol dalam tablet menurut Farmakope Indonesia Edisi I.

VII. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Budi, Darmawan Setia, 2008, Penentuan Kadar Glukosa dalam Darah, http://www.scribd.com. Diakses tanggal 8 Juni 2013. Dachriyanus, 2004, Analisis Struktur Senyawa Organik Secara Spektroskopi, Andalas University Press, Padang. Day, R. A. and A. L. Underwood, 2002, Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta. Khopkar, S, 2003, Konsep Dasar Kimia Analitik, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Martin, A, et al, 1990, Farmasi Fisik, UI-Press, Jakarta.

Puspitasari, dkk, 2012, Penentuan Kadar Besi (Fe) Menggunakan Spektrometer Laboo, Politeknik Negeri Bandung, Bandung. Rohman, Abdul, 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Seran, Emel, 2011, Spektrofometri Sinar Tampak (Viseble), https://wanibesak.wordpress.com/tag/prinsip-dasar-spektrofotometer-visible/. Diakses tanggal 4 Juni 2013. SKOOG, D.A. and D.M. WEST 1971. Prin-ciples of instrumental analysis. Holt, Rinehart and Winston, Inc., New York. Tjay, T.H., Rahardja, K, 2002, Obat-obat Penting : Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek Sampingnya Edisi VI, Penerbit PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai