Anda di halaman 1dari 0

5

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Tinjauan Pustaka
Para pekerja adalah para pencari nafkah dalam membentuk
keluarga sejahtera dan secara kolektif merupakan tulang punggung
pembangunan ekonomi bangsa. Maka dari itu para pekerja berhak
mendapatkan perlindungan kesehatan dan keselamatan dalam bekerja
(Konvensi ILO No.155/1981; UU No. 13/2003) serta mendapatkan
pelayanan Kesehatan Kerja (Konvensi ILO No. 161/1985; UU No.36/2009;
UU 13/2003). Maka dari itu mereka memerlukan pengetahuan dan
keterampilan dalam menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya kecelakaan
kerja (Kurniawidjaja, 2010).
Seperti yang dikatakan The Occupational Safety and Health Act
(OSHAct) pada tahun 1970 Setiap pekerja pria dan wanita di negara
Amerika Serikat bekerja dengan keadaan aman dan sehat. dalam buku
Occupational & Environmental Medicine (Ladou, 2007).
Dalam suatu kegiatan industri, paparan dan risiko bahaya yang ada
di tempat kerja tidak selalu dapat dihindari. Usaha pencegahan guna
mencegah kemungkinan terjadinya penyakit akibat kerja dan kecelakaan
kerja harus senantiasa diupayakan. Dalam buku Bunga Rampai Hiperkes &
KK menyatakan menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1970 Tentang
Keselamatan Kerja, khususnya Pasal 9, 12 dan 14, yang mengatur
penyediaan dan penggunaan Alat Pelindung Diri di tempat kerja, baik bagi
pengusaha maupun bagi tenaga kerja, dan itu merupakan suatu keharusan.

2.2 Alat Pelindung Diri (APD)
Secara sederhana yang dimaksud Alat Pelindung Diri (APD) adalah
Seperangkat alat yang digunakan tenaga kerja untuk melindungi sebagian
atau seluruh tubuhnya dari adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja.

5

6

2.2.1. Pemilihan APD di Perusahaan
Potensi bahaya yang terdapat di setiap perusahaan berbeda- beda.
Hal ini tergantung pada jenis produksi, jenis teknologi yang digunakan,
bahan produksi dan proses produksi (Harrington, 2003).

2.2.2. Langkah menentukan APD
a. Interventarisasi potensi bahaya yang dapat terjadi
Langkah ini sebagai langkah awal agar APD yang digunakan sesuai
kebutuhan.
a. Menentukan jumlah APD yang akan disediakan
b. Memilih mutu dari APD yang akan digunakan
Menentukan mutu akan mempengaruhi tingkat keparahan kecelakaan
penyakit akibat kerja yang dapat terjadi.

2.2.3. Ketentuan APD
a. Dapat memberikan perlindungan terhadap bahaya
b. Berbobot ringan
c. Dapat diberikan secara fleksibel (tidak membedakan pria dan wanita)
d. Tidak mudah rusak
e. Sesuai ketentuan dari standar yang ada
f. Pemeliharaan mudah
(Sumamur, 2009)

2.2.4 J enis-jenis APD
a. Alat pelindung kepala
Terdiri dari berbagai macam, yaitu Topi pelindung (helm) berguna
untuk melindungi kepala dari benda-benda keras yang terjatuh, pukulan,
benturan kepala, dan terkena arus listrik. Tutup kepala berguna untuk
melindungi kepala dari kebakaran, korosi, panas atau dingin. Hats/cap
berguna untuk melindungi kepala dan rambut dari kotoran debu mesin-
mesin berputar (Bunga Rampai, 2009).
7


Gambar 2.1. Alat Pelindung Kepala

b. Alat pelindung mata dan muka
Spectacles berguna untuk melindungi mata dari partikel- partikel
kecil, debu dan radiasi gelombang elektromagnetik. Digunakan pada
tingkat bahaya yang rendah. Goggless berguna untuk melindungi mata dari
gas, uap, debu dan percikan larutan kimia. Perisai muka berguna untuk
melindungi mata atau muka. Dapat dipasang pada helm atau pada kepala
langsung. Banyak digunakan pada pekerjaan pengelasan (Bunga Rampai,
2009).

Gambar 2.2. Alat Pelindung Mata dan Muka

8

c. Alat pelindung telinga
Sumbatan telinga (ear plug) dapat mengurangi intensitas suara 10
sampai 15 dB. Dibedakan oleh 2 jenis, yaitu : Ear plug sekali pakai
(Disposable Plugs) terbuat dari kaca halus (glass down), plastik yang
dilapisi glass down, lilin yang berisi katun wool (wax-impregnated cotton
wool) dan Ear plug Yang Dapat Dipakai Kembali (Reusable Plugs) terbuat
dari plastik yang dibentuk permanen (permanen moulded plastic) atau
karet. Kemudian ada juga yang fungsinya untuk tutup telinga (ear muff).
Alat ini dapat melindungi bagian luar telinga (daun telinga) dan alat ini
lebih efektif dari sumbat telinga karena dapat mengurangi intensitas suara
hingga 20 sampai 30 dB. Terbuat dari cup yang menutupi daun telinga.
Kelebihannya, bila pasien sedang infeksi ear muff tetap dapat digunakan.
Ukurannya juga fleksibel (Bunga Rampai, 2009).

Gambar 2.3. Alat Pelindung Telinga (earplug)


Gambar 2.4. Alat Pelindung Telinga (earmuff)
9

d. Alat pelindung pernapasan
Berguna untuk melindungi pernapasan terhadap gas, uap, debu atau
udara yang terkontaminasi di tempat kerja yang dapat bersifat racun,
korosi ataupun rangsangan. Masker untuk melindungi debu dan partikel-
partikel yang lebih besar yang masuk ke dalam pernapasan. Sedangkan
Respirator untuk melindungi pernapasan dari debu, kabut, uap logam, asap
dan gas. Alat ini dibedakan atas respirator pemurni udara yang fungsinya
untuk membersihkan udara dengan cara menyaring atau menyerap
kontaminan dengan toksinitas rendah sebelum memasuki sistim
pernapasan. Alat pembersihnya terdiri dari filter untuk menangkap debu
dari udara atau tabung kimia yang dapat menyerap gas, uap dan kabut. Dan
respirator penyalur udara membersihkan aliran udara yang tidak
terkontaminasi secara terus menerus. Udara yang dipompakan dari sumber
yang jauh atau dihubungkan dengan selang tahan tekanan atau dari
persediaan yang portabel seperti tabung yang berisi udara bersih atau
oksigen. Digunakan untuk tempat kerja yang terdapat gas beracun atau
kekurangan oksigen (Bunga Rampai, 2009).


Gambar 2.5. Alat Pelindung Pernapasan (Respirator)

e. Alat pelindung tangan
Berguna untuk melindungi tangan dan bagian-bagian dari benda-
benda tajam atau goresan, bahan-bahan kimia padat ataupun larutan,
benda-benda panas, dingin atau kontak arus listrik.
10


Gambar 2.6. Alat Pelindung Tangan


Gambar 2.7. Alat Pelindung Lengan

f. Alat pelindung kaki
Berguna untuk melindungi kaki dan bagian- bagiannya dari benda-
benda terjatuh. Benda-benda tajam atau potongan kaca, larutan kimia,
benda panas dan kontak listrik. Pada industri ringan, cukup memakai
sepatu yang baik dan bagi pekerja wanita tidak diperkenankan
menggunakan sepatu bertumit tinggi atau sepatu dengan alas yang datar
dan licin. Untuk mencegah tergelincir sebaiknya menggunakan sol anti slip
dari karet alam atau sintetik dengan motif timbul. Untuk industri khusus,
memakai sepatu yang bagian depanya terdapat besi pelindung jari-jari
kaki, terbuat dari kayu atau plastik dan pada bagian telapak kaki memakai
telapak anti slip (Bunga Rampai, 2009).
11


Gambar 2.8. Alat Pelindung Kaki

Sepatu safety memiliki spesifikasi, yaitu dapat terbut dari kulit,
karet sintetis atau plastik, untuk melindungi jari-jari kaki terhadap tertimpa
atau benturan benda-benda keras, dilengkapi dengan penutup jari dari baja
atau campuran baja dan karbon, untuk mencegah tusukan dari benda-benda
runcing, sol sepatu dilapisi logam, untuk bekerja dengan logam cair atau
benda panas, ujung celana tidak boleh dimasukan kedalam sepatu.


Gambar 2.9. Safety Shoes

g. Pakaian pelindung
Berguna untuk menutupi seluruh atau sebagian dari percikan api,
panas, suhu, cairan kimia dan minyak. Bentuknya dapat berupa apron
sehingga menutupi sebagian tubuh yaitu mulai dada sampai lutut, celemek
atau pakaian terusan dengan celana dan lengan panjang (overalls) (Bunga
Rampai, 2009).

12

h. Sabuk pengaman (safety belt)
Berguna untuk melindungi tubuh dari kemungkinan terjatuh,
biasanya digunakan pada pekerjaan konstruksi dan memanjat tempat
tinggi. Alat ini terdiri dari pengaman dan harus dapat menahan beban
sebesar 80 kg.

Gambar 2.10. Alat Pelindung J atuh

2.3. Kecelakaan Kerja
Kecelakaan (accident) adalah suatu kejadian atau peristiwa yang
tidak diinginkan yang merugikan terhadap manusia, merusak harta benda
atau kerugian terhadap proses (Bunga Rampai, 2009).
Kecelakaan biasanya menimbulkan penderitaan baik yang paling
ringan bahkan mungkin yang paling berat bagi yang mengalaminya,
disamping itu biasanya disertai kerugian material. Sedangkan menurut Levy
(1983) kecelakaan dapat dipandang sebagai suatu hasil atau keluaran yang
tidak diinginkan.

2.3.1.Golongan Kecelakaan Kerja
a. Kecelakaan Industri (industrial accident) yaitu kecelakaan yang terjadi di
tempat kerja karena adanya sumber bahaya atau bahaya kerja.
b. Kecelakaan dalam perjalanan (community accident) yaitu kecelakaan
yang terjadi di luar tempat kerja yang berkaitan dengan hubungan kerja.
13

2.3.2. Etiologi Kecelakaan Kerja
2.3.2.1. Etiologi langsung (immediate causes)
Suatu keadaan yang biasanya bisa dilihat dan dirasakan
langsung, dibagi dalam 2 kelompok, yaitu tindakan-tindakan tidak aman
(unsafe act) yaitu tingkah laku atau perbuatan yang akan menyebabkan
kecelakaan serta kondisi-kondisi yang tidak aman (unsafe conditions)
yaitu keadaan yang akan menyebabkan kecelakaan (Bunga Rampai,
2009).

2.3.2.2. Penyebab dasar (basic causes)
Terdiri dari 2 faktor yaitu manusia atau pribadi (personal factor)
dan faktor kerja atau lingkungan kerja (job or work environment factor),
yaitu faktor manusia atau pribadi, antara lain karena kurangnya
kemampuan fisik, mental dan psikologi, kurang atau lemahnya
pengetahuan dan keterampilan ataupun keahlian, stres dan motivasti
yang tidak cukup atau salah. Serta dari faktor kerja atau lingkungan,
antara lain karena tidak cukup kepemimpinan dan atau pengawasan, tidak
cukup rekayasa (engineering), tidak cukup pembelian atau pengadaan
barang, tidak cukup perawatan (maintenance), tidak cukup alat-alat,
perlengkapan, barang-barang dan bahan-bahan, tidak cukup standar kerja
dan yang terakhir karena penyalahgunaan (Bunga Rampai, 2009).

2.3.3. Pencegahan Kecelakaan Kerja
2.3.3.1. Lingkungan mikro (Micro System)
Merupakan tugas perusahaan dan sistem managemennya. Pada
tingkat ini, usaha pertama dapat diarahkan pada lingkungan fisik, antara
lain melalui perencanaan peralatan dengan memperhatikan segi-segi
keselamatan dan kesehatan kerjanya, merancang peralatan atau
lingkungan kerja yang sesuai dengan batas kemampuan pekerja dan cara
pembuangan bahan buangan memperhitungkan kemungkinan bahayanya,
baik bagi masyarakat maupun lingkungan (Bunga Rampai, 2009).
14

Usaha kedua diarahkan pada manusia, dimana dilakukan
pengamatan terhadap pemilihan, penempatan, pembinaan pegawai yang
benar, agar terwujud The Right Man in the Right Job dengan
kesadaran yang tinggi terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.
2.3.3.2. Lingkungan makro (Macro System)
Merupakan tugas pemerintah beserta aparat pelaksananya.

2.4. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan suatu hasil tahu yang terjadi setelah
seseorang melakukan penginderaan suatu objek tertentu melalui indera
penglihatan, penciuman, perasaan dan perabaan. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui proses melihat atau mendengar
selain itu melalui pengalaman dan proses belajar dalam pendidikan formal
maupun non formal. Tujuannya untuk dapat menjawab masalah-masalah
kehidupan manusia. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan itu dari
pengalaman, tingkat pendidikan, keyakinan, fasilitas, penghasilan dan sosial
budaya (Notoatmodjo, 2007).
Berdasarkan konsep Taksonomi Bloom yang dikembangkan pada
tahun 1956 oleh Benjamin Bloom, seorang psikolog bidang pendidikan.
Konsep ini mengklasifikasikan tujuan pendidikan dalam tiga ranah, yaitu
kognitif, afektif dan psikomotorik (Forehand, 2005).
Ranah kognitif meliputi fungsi memproses informasi, pengetahuan
dan keahlian mentalitas. Bloom mengklasifikan ranah kognitif dalam enam
level, yaitu pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension),
aplikasi (apply), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi
(evaluation) dalam satu dimensi (Schultz, 2005).
Konsep tersebut mengalami perbaikan sengiring dengan
perkembangan dan kemajuan jaman serta teknologi. Salah seorang murid
Bloom yang bernama Lorin W. Anderson dan Kratwohl pada tahun 1990
merevisinya menjadi dua dimensi, yaitu dimensi proses dan dimensi
pengetahuan. Dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi
15

Taksonomi Bloom. Revisi ini ada perubahan kata kunci, pada kategori dari
kata benda menjadi kata kerja (Forehand, 2005)..
Pada dimensi proses, terdiri atas mengingat (remember),
memahami (understand), menerapkan (apply), menganalisis (analyze),
menilai (evaluate), dan berkreasi (create). Sedangkan pada dimensi
pengetahuan terdiri atas pengetahuan faktual (factual knowlwdge),
pengetahuan konseptual (conceptual knowledge), pengetahuan prosedural
(procedural knowledge), dan pengetahuan metakognisi (metacognitive
knowledge).
Struktur Ranah Kognitif dari Taksonomi Bloom (sebelum di
revisi). Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak).
Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktifitas otak adalah
termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam
jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai jenjang yang
tertinggi. Meliputi 6 tingkatan :
1. Pengetahuan (Knowledge), yang disebut C1
Menekan pada proses mental dalam mengingat dan mengungkapkan
kembali informasi-informasi yang telah diperoleh secara tepat sesuai
dengan apa yang telah diperoleh sebelumnya.
2. Pemahaman (Comprehension), yang disebut C2
Tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan
dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu.
3. Penerapan (Aplication), yang disebut C3
Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau
menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang
dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh,
menggunakan, mengklasifikasikan, memanfaatkan, menyelesaikan dan
mengidentifikasi hal-hal yang sama.
4. Analisis (Analysis), yang disebut C4
Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan
hubungan antar-bagian tersebut, melihat penyebab-penyebab dari suatu
16

peristiwa atau memberi argumen-argumen yang menyokong suatu
pernyataan.
5. Sintesis (Synthesis), yang disebut C5
Menggabungkan, meramu, atau merangkai berbagai informasi menjadi
satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. Kemampuan berfikir
induktif dan konvergen merupakan ciri kemampuan ini.
6. Evaluasi (Evaluation), yang disebut C6
Mempertimbangkan, menilai dan mengambil keputusan benar-salah,
baik-buruk, atau bermanfaat-tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria
tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif (Wuryanto, 2011).
Keenam jenjang berpikir yang terdapat pada ranah kognitif
menurut taksonomi Bloom jika diurutkan secara hirarki adalah sebagaimana
terlukis pada gambar di bawah ini :
EVALUASI
Mengkritik
Menilai
Menafsirkan
RANAH KOGNITIF BLOOM
SINTESIS
Merangkai
Merancang
Mengatur
ANALISIS
Memilah
Membedakan
Membagi
PENERAPAN
Menghitung
Membuktikan
Melengkapi
PEMAHAMAN
Menerangkan
Menjelaskan
Merangkum
PENGETAHUAN
Mengingat
Menghafal
Menyebut

Gambar 2.11. Ranah Kognitif Bloom

Keenam jenjang berpikir pada ranah kognitif ini bersifat kontinu
dan tumpang tindih (overlap), dimana ranah yang lebih tinggi meliputi
semua ranah yang ada dibawahnya. Overlap diantara 6 jenjang berpikir itu
akan lebih jelas pada gambar di bawah ini :

17











Gambar 2.12. Overlap Ranah Kognitif
Keterangan: (1) Pengetahuan adalah jenjang berpikir paling dasar. (2)
Pemahaman, mencakup pengetahuan (3) Aplikasi atau penerapan,
mencakup pemahaman dan pengetahuan. (4) Analisis, mencakup aplikasi,
pemahaman dan pengetahuan. (5) Sintesis, meliputi juga analisis, aplikasi,
pemahaman dan pengetahuan, (6) Evaluasi, meliputi sintesis, analisis,
aplikasi, pemahaman dan pengetahuan.
Struktur Ranah Kognitif dari Taksonomi Bloom (setelah di
revisi).
A. Struktur dari dimensi proses kognitif.
1. Mengingat (Remember)
Dapat mengingat kembali pengetahuan yang diperoleh dalam jangka
waktu yang lama. Kata operasionalnya : mengurutkan, menjelaskan,
mengidentifikasi, menamai, menempatkan, mengulangi, menemukan
kembali dan sebagainya.
2. Mengerti (Understanding)
Membangun makna dari pesan-pesan instruksional, termasuk lisan,
tulisan, dan grafik komunikasi. Kata operasionalnya : menerjemahkan,
mencontohkan, mengklasifikasikan, meringkas, menyimpulkan,
membandingkan, menjelaskan dan sebagainya.
1

2

3

5

6

4

18

3. Menerapkan (Applying)
Melaksanakan atau menggunakan prosedur dalam suatu situasi tertentu.
Kata operasionalnya : melaksanakan, menggunakan, menjalankan,
melakukan, mempraktekan, memilih, menyusun, memulai,
menyelesaikan, mendeteksi dan sebagainya.
4. Menganalisis (Analysing)
Kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau
keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami
hubungan diantara bagian-bagian yang satu dengan yang lainnya. Kata
operasionalnya : menguraikan, membandingkan, mengorganisir,
menyusun ulang, mengubah struktur, mengkerangkakan, menyusun
outline, mengintegrasikan, membedakan, menyamakan, membandingkan,
mengintegrasikan dan sebagainya.
5. Mengevaluasi (Evaluating)
Kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap situasi,
nilai atau ide atau mampu melakukan penilaian berdasarkan kriteria dan
standar. Kata operasionalnya : menyusun hipotesis, mengkritik,
memprediksi, menilai, menguji, membenarkan, menyalahkan dsb.
6. Berkreasi (Creating)
Kemampuan menyusun unsur-unsur untuk membentuk suatu keseluruhan
koheren atau fungsional, mereorganisasi unsur ke dalam pola atau
struktur baru. Kata operasionalnya : merancang, membangun,
merencanakan, memproduksi, menemukan, membaharui,
menyempurnakan, memperkuat, memperindah, mengubah dan
sebagainya (Wuryanto, 2011).
19


Gambar 2.13. Struktur Ranah Kognitif Sebelum dan Sesudah Revisi

B. Struktur dari Dimensi Pengetahuan
Dibedakan atas 4 jenis pengetahuan, sebagai berikut :
1. Pengetahuan faktual (Factual Knowledge)
Yaitu elemen dasar yang digunakan untuk mengkomunikasikan sesuatu
agar mudah dipemahaman dan terorganisisir secara sistematis. Termasuk
di dalamnya pengetahuan terminologi dan elemen dengan informasi
khusus, misalnya notasi, lambang, tempat kejadian, nama penemu dll
(Wuryanto, 2011).
2. Pengetahuan konseptual (Conceptual Knowledge)
Yaitu hubungan antara elemen-elemen dasar dalam struktur yang lebih
besar yang memungkinkan mereka untuk berfungsi bersama-sama.
Termasuk di dalamnya pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori,
pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan generalisasi, pengetahuan
tentang teori, model dan struktur (Wuryanto, 2011).
3. Pengetahuan Prosedural (Procedural Knowledge)
Yaitu bagaimana melakukan sesuatu atau penyelidikan dan kriteria untuk
menggunakan keterampilan, algoritma, teknik, dan metode (Wuryanto,
2011). Termasuk di dalamnya pengetahuan tentang subyek-keterampilan
khusus, pengetahuan subjek-teknik khusus dan metode, pengetahuan
kriteria untuk menentukan ketika untuk menggunakan prosedur yang
tepat.
20

4. Pengetahuan metakognitif (Metacognitive Knowledge)
Yaitu pengetahuan kognisi secara umum serta kesadaran dan
pengetahuan tentang kognisi sendiri. Termasuk di dalamnya pengetahuan
strategis, pengetahuan tentang operasi kognitif, pengetahuan tentang diri
sendiri (Wuryanto, 2011).
Pertanyaan yang dapat dipergunakan untuk mengukur pengetahuan
secara umum dikelompokan dua jenis, yaitu :
a. Pertanyaan subjektif, misalnya jenis pertanyaan esai.
Penilaian untuk pertanyaannya melibatkan faktor-faktor subjektif dan
penilaian.
b. Pertanyaan objektif, misalnya pertanyaan pilihan berganda betul, salah
dan pertanyaan menjodohkan. Lebih disukai karena lebih mudah
disesuaikan dengan pengetahuan yang akan diukur dan lebih cepat dinilai
(Notoatmodjo, 2007).

2.5. Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup terhadap
suatu stimulus atau objek. Allport (1954) dalam kutipan Notoatmojo (2007)
menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai tiga komponen pokok, yaitu :
a. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek.
b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
c. Kecenderungan untuk bertindak.
Sikap pada awalnya diartikan sebagai suatu syarat untuk
munculnya suatu tindakan. Fenomena sikap adalah mekanisme mental yang
mengevaluasi, membentuk pandangan, mewarnai perasaan, dan akan ikut
menetukan kecendrungan perilaku kita terhadap manusia atau sesuatu yang
kita hadapi, bahkan terhadap diri kita sendiri. Pandangan dan perasaan kita
terpengaruh oleh ingatan akan masa lalu, oleh apa yang kita ketahui dan
kesan kita terhadap apa yang sedang kita hadapi saat ini (Azwar, 2007).
21

Berdasarkan Taksonomi Bloom dalam kutipan Sudrajat, sikap
termasuk dalam Ranah Afektif yaitu meliputi fungsi yang berkaitan dengan
sikap dan perasaan, terdiri dari :
1. Penerimaan (Receiving/Attending)
Terbagi ke dalam tiga tahap, yaitu :
a. Kesiapan untuk menerima (awareness), yaitu adanya kesiapan
untuk berinteraksidengan stimulus (fenomena atau objek yang akan
dipelajari), yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk
memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan.
b. Kemauan untuk menerima (willingness to receive), yaitu usaha
untuk mengalokasikan perhatian pada stimulus yang bersangkutan.
c. Mengkhususkan perhatian (controlled or selected attention).
Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna, suara atau kata-
kata tertentu saja.
2. Sambutan (Responding)
Mengadakan aksi terhadap stimulus, yang meliputi proses berikut :
a. Kesiapan menanggapi (acquiescene of responding). Contoh
mengajukan pertanyaan, atau mentaati peraturan lalu lintas.
b. Kemauan menanggapi (willingness to respond), yaitu usaha untuk
melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan.
c. Kepuasan menanggapi (satisfaction in response), yaitu adanya aksi
atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan
keinginan mengetahui. Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan
menanggapi ini adalah bertanya, membuat coretan atau gambar,
memotret dari objek yang menjadi pusat perhatiannya dan
sebagainya.
3. Penilaian (Valuing)
Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki
dan menghayatinilai dari stimulus yang dihadapi. Penilaian terbagi atas :
a. Menerima nilai (acceptance of value)
b. Menyeleksi nilai yang lebih disenangi (preference for a value)
22

c. Komitmen (commitment)
4. Pengorganisasian (Organization)
Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai
tertentu seperti pada tahap komitmen, tetapi mulai melihat beberapa nilai
yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. Proses ini terjadi
dalam dua tahapan, yakni :
a. Konseptualisasi nilai, yaitu keinginan untuk menilai hasil karya orang
lain, atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral
atau kebiasaan.
b. Pengorganisasian sistem nilai, yaitu menyusun perangkat nilai dalam
suatu sistem berdasarkan tingkat preferensinya. Dalam sistem nilai ini
yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada
tingkat yang amat penting, menyusul kemudian nilai yang dirasakan
agak penting, dan seterusnya menurut urutan kepentingan.atau
kesenangan dari diri yang bersangkutan.
5. Karakteristik (Characterization)
Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan
sistem nilai. Kalau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah
dapat disusun, maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang
bersangkutan. Artinya mudah berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi.
Pada tahap karakterisasi, sistem itu selalu konsisten. Proses ini terdiri
atas dua tahap, yaitu :
a. Generalisasi, yaitu kemampuan untuk melihat suatu masalah dari
suatu sudut pandang tertentu.
b. Karakterisasi, yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang
member corak tersendiri pada kepribadian diri yang bersangkutan.
Pengukuran sikap dilakukan secara langsung maupun tidak
langsung. Secara langsung ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan
responden terhadap suatu obyek dan dengan mengobservasi tindakan atau
kegiatan responden. Dan pengukuran secara tidak langsung yakni
23

wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam,
hari atau bulan lalu (recall).

2.6. Perilaku
Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme yang
bersangkutan. Oleh sebab itu, perilaku manusia pada hakekatnya adalah
tindakan atau aktifitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan
sangat luas antara lain berbicara, berjalan, menangis, tertawa, bekerja,
menulis dan membaca. J adi perilaku adalah semua kegiatan manusia yang
dapat diamati langsung maupun yang tidak diamati dan dapat dipengaruhi
baik oleh faktor genetik (keturunan) dan lingkungan (Notoatmojo, 2007).
Secara lebih operasional, perilaku dapat diartikan suatu respon
organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar obyek
tersebut. Respon ini terbentuk dua macam, yakni :
a. Bentuk pasif adalah respon internal, yaitu terjadi di dalam diri
manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain,
misalnya berpikir, tanggapan atau sikap, batin dan pengetahuan.
Perilakunya masih terselubung (covert behavior).
b. Bentuk aktif yaitu apabila perilaku itu jelas dapat di observasi secara
langsung. Oleh karena perilaku mereka ini sudah tampak dalam
bentuk tindakan nyata maka disebut overt behavior.
(Notoatmodjo, 2010)
Robert Kwick (1974) (dalam Notoatmodjo, 2007) menyatakan
bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat
diamati dan bahkan dapat dipelajari.
Dalam proses pembentukan dan atau perubahan, perilaku
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam dan dari luar
individu itu sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain susunan syaraf pusat,
persepsi, motivasi, emosi, proses belajar dan lingkungan.
24

Beberapa teori yang telah dicoba untuk mengungkapkan
determinan perilaku dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku,
khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, yaitu :
Teori Lawrence Green (1980) :
a. Faktor predisposisi (predisposing factor)
Faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap
kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang
berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat,
tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan sebagainya.
b. Faktor pemungkin atau pendukung (enabling factor)
Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau
fasilitas kesehatan bagi masyarakat seperti, puskesmas, rumah sakit,
poliklinik, posyandu, polindes, pos obat desa, dokter atau bidan
praktek swasta dan jamban. Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung
atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan.
c. Faktor pendorong atau penguat (reinforcing factor)
Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat,
tokoh agama dan para petugas kesehatan. Termasuk juga disini
undang-undang, peraturan-peraturan baik dari pusat maupun
pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan. Untuk berperilaku
sehat, masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan
sikap positif serta dukungan fasilitas saja, melainkan diperlukan
perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh agama dan
para petugas terlebih lagi petugas kesehatan. Di samping itu, undang-
undang juga diperlukan untuk memperkuat perilaku masyarakat
tersebut.





25

Model ini secara sistematis dapat digambarkan sebagai berikut :
GREEN, 1990
B = f (PF, EF, RF)
PREDISPOSING FACTORS
ENABLING FACTORS BEHAVIOR
REINFORCING FACTORS
Keterangan :
B =Behavior
RF =Reinforcing Factors
EF =Enabling Factors
RF =Reinforcing Factors
Bagan 2.1. Teori Green, 1990

Disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang
kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan
sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Di samping itu,
ketersediaan fasilitas, sikap, dan perilaku para petugas kesehatan juga akan
mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku. (Notoatmodjo, 2010)
Sebagai contoh : Seorang karyawan yang tidak mau mengenakan
alat pelindung diri pada saat bekerja dapat disebabkan karena karyawan
tersebut tidak atau belum mengetahui manfaat dari alat pelindung diri
tersebut jika ia gunakan (predisposing factors). Tetapi barangkali juga
karena tempat penyimpanan alat pelindung diri tersebut yang sulit dijangkau
atau karena kualitas dari alat pelindung diri tersebut yang kurang baik
(enabling factors). Sebab lain mungkin karena dari pimpinan perusahaan
tidak pernah mengajarkan bagaimana cara menggunakan alat pelindung diri
tersebut (reinforcing factors).
Notoatmodjo (2007) dalam bukunya menyatakan Becker (1979)
mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan
(health related behavior) sebagai berikut :
26

a. Perilaku kesehatan (health behavior) yaitu hal-hal yang berkaitan
dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatan.
b. Perilaku sakit (the sick role behavior), yakni segala tindakan atau
kegiatan yang dilakukan oleh individu yang merasa sakit, untuk
merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit.
c. Perilaku peran sakit (the sick role behavior), yakni segala tindakan
atau kegiatan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit untuk
memperoleh kesembuhan.

2.7. Kerangka Teori
Pengetahuan, sikap dan perilaku mengenai Alat Pelindung Diri
merupakan salah satu faktor yang harus dipahami oleh seluruh karyawan
agar terhindar dari insiden kecelakaan kerja. Sejauh ini faktor penyebab
utama kecelakaan kerja adalah ketidakpahaman karyawan terhadap Alat
Pelindung Diri. Kerangka teori dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :















27

Kerangka Teori Penelitian

INSIDEN KECELAKAAN KERJA


Faktor Faktor
Dasar Langsung



Faktor Lingkungan Faktor Manusia
- Kurang Pengawasan - Kurang Kemampuan, Fisik,
- Tidak cukup perawatan mental dan psikologi
alat dan perlengkapan - Lemahnya pengetahuan dan
- Tidak cukup standar keterampilan
Kerja - Stres
- Motivasi Kurang


Faktor Faktor Faktor
Pendorong Pendukung Predisposisi

- Perilaku - Fasilitas Sarana - Pengetahuan
- Keluarga dan Prasarana - Sikap
- Pimpinan - Pengalaman
- Tokoh Masyarakat - Kepercayaan
- Tenaga Kesehatan - Nilai-nilai

Bagan 2.2. Kerangka Teori


Mental :
- Lalai
Fisik :
- Mengantuk
- Kurang
Konsentrasi
- Kerusakan Alat
28

2.8. Kerangka Konsep
Berdasarkan uraian teori dalam rumusan masalah di atas, maka
penulis mengembangkan kerangka konsep sebagai berikut :

Kerangka Konsep Penelitian
Variabel Independen Variabel Dependen



Bagan 2.3. Kerangka Konsep

2.9. Hipotesis Penelitian
Hipotesis berasal dari kata Hipo yang berarti bawah dan Thesa
yang berarti adalah kebenaran.

Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
H1 : Terdapat hubungan antara pengetahuan pegawai pada alat
pelindung diri terhadap insiden kecelakaan kerja di bagian
produksi PT. Lintas Utama Bekasi.
H2 : Terdapat hubungan antara sikap pegawai pada alat pelindung
diri terhadap insiden kecelakaan kerja di bagian produksi PT.
Lintas Utama Bekasi.
H3 : Terdapat hubungan antara perilaku pegawai pada alat pelindung
diri terhadap insiden kecelakaan kerja di bagian produksi PT.
Lintas Utama Bekasi.



1. Pengetahuan
2. Sikap
3. Perilaku
Insiden Kecelakaan Kerja