Anda di halaman 1dari 3

PEMBAHASAN

Metodologi Bentonit banyak digunakan sebagai penukar kation-kation logam, namun masih kurang efektif dalam melakukan adsorbsi terhadap molekul-molekul organic. Pada modifikasi bentonit (clay) menjadi organoclay bertujuan untuk meningkatkan kapasitas adsorbsi suatu bentonit agar dapat mengadsorbsi molekul-molekul organic yang ukurannya lebih besar, modifikasi bentonit dapat menggunakan surfaktan, baik surfakyan kationik ataupun nonionic. Salah satu bahan yang digunakan adalah bentonit alam dan surfaktan kationik jenis ammonium kuartener (R4N)+Clyangsedikitnya memiliki satu rantai alkil panjang, yaitu di-(hydrogenatedtallow)dimetilamoniumklorida (DTDA) dengan rumus kimia [(CH3)2N+R1R2Cl]. Parameter yang diperhatikan dalam proses ini adalah konsentrasi surfaktan dan waktu swelling (pengembangan) bentonit terhadap kualitas organoclay yang dihasilkan. Semakin banyak surfaktan yang terserap dalam bentonit, maka d-spacing yang terbentuk akan semakin lebar. Parameter ukuran kualitas organoclay yang dihasilkan adalah stabiitas organoclay terhadap panas dan peningkatan d-spacing yang tercapai. Sebelum dimodifikasi menjadi organoclay, harus dilakukan purifikasi terlebih dahulu terhadap bentonit untuk menghilangkan berbagai pengotor yang terdapat di dalamnya. Purifikasi terutama meliputi pengurangan kadar besi dan pemisahan mineral pengotor dengan metoda pengendapan. Setelah dilakukan purifikasi, bentonit dimodifikasi dengan menambahkan surfaktan dengan metoda pertukaran kation, dimana kation logam seperti Na+, Ca2+ dan Mg2+dalam struktur monmorilonit digantikan dengan kation ammomium dari surfaktan yang juga bermuatan positif. Pertukaran ion ini menyebabkan bentonit menjadi bersifat hidrofobik karena adanya kation dasi surfaktan yang berikatan dengan bentonit, sehingga yang awalnya bentonit bersifat hidrofilik, menjadi hidrofobik.. Salah satu parameter penting dalam melihat keberhasilan pertukaran ion ini adalah dengan melihat perubahan KTK (Kapasitas Tukar Kation) sebelum dan sesudah modifikasi. Sebelum ditambahkan surfaktan, bentonit murni dibiarkan mengembang dalam air (swelling) untuk meningkatkan d-spacing sehingga

mempermudah pertukaran kation. Ammonium kuartener memiliki muatan positif pada ion nitrogen yang berfungsi sebagai atom pusat yang berikatan dengan empat radikal organik. Kapasitas tukar kation dipengaruhi oleh substitusi isomorfik dalam struktur oktahedral dan tetrahedral pada lapisan monmorilonit, ikatan hidrogen antara H dan O dan ukuran partikel bentonit. Sebelum ditambahkan surfaktan, bentonit murni dibiarkan mengembang dalam air (swelling) untuk meningkatkan d-spacing sehingga mempermudah pertukaran kation. Ammonium kwartener memiliki muatan positif pada ion nitrogen yang berfungsi sebagai atom pusat yang berikatan dengan empat radikal organik. Pertukaran kation bertujuan untuk mengubah bentonit yang bersifat hidrofilik (menarik air) menjadi bersifat hidrofobik (menolak air), sehingga dapat dicampur dengan material yang bersifat hidrofobik juga seperti polimer atau dapat digunakan untuk adsorben molekul-molekul organic.. Selain konsentrasi dan waktu swelling surfaktan, sifat bawaan surfaktan dapat mempengaruhi kwalitas organoclay yang dihasilkan. Pertukaran kation bertujuan untuk mengubah bentonit yang bersifat hidrofilik (menarik air) menjadi bersifat hidrofobik (menolak air). Selain konsentrasi dan waktu swelling surfaktan, sifat bawaan surfaktan dapat mempengaruhi kualitas organoclay yang dihasilkan. Pada proses purifikasi terjadi juga prosespertukaran kation bivalent dalam bentonit, terutama Mg2+dan Ca2+ dengan kation monovalent, dalam hal ini Na+.Dengan ukurannya yang lebih kecil dibandingkan Ca2+, ion Na+ memiliki kapasitastukar kation yang lebih besar. Sementara itu KTK(Kapasitas Tukar Kation) organoclay (OLS) mengalami penurunan bila dibandingkan dengan KTK bentonit mentah maupun bentonit hasil purifikasi. Dalam OLS kation inorganik telah digantikan dengan kation organik (surfaktan), yang memiliki ukuran yang lebih besar, sehingga kecil kemungkinan masih terjadi ion exchange dalam OLS. Tabel 1. KTK Bentonit, Bentonit Murni dan OLS Sample Bentonit Bentonit Murni Organoclay KTK (meq/100 gr) 45,05 80,56 16,43

Data tersebut menyimpulkan bahwa pada organoclay pertukaran ion yang terjadi didalamnya menjadi berkurang signifikan dibandingkan bentonit sebelum dimodifikasi. Ini karena adanya surfaktan yang telah berikatan dengan bentonitnya. Sehingga kapasitas tukar kation terhadap ion logam menjadi berkurang namun dapat spesifik untuk mengadsorb molekul organic.