Anda di halaman 1dari 22

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Kondisi Umum Glee Berry Hotel & Resto

Glee Berry Hotel & Resto merupakan hotel berbintang tiga dengan ownernya adalah PT. Fun Hotel Indonesia, hotel yang beralamatkan di jalan raya Kuta 139 kelurahan Kuta Badung Bali ini memiliki lima lantai dan sangat mudah dijangkau karena berjarak kurang lebih 6 km dari Bandara Internasional Ngurah Rai yang dapat ditempuh dengan berkendara dalam waktu IS menit dan 10 menit berkendara dari kawasan objek wisata pantai Kuta. Karena saat ini Glee Berry Hotel & Resto masih dalam proses pengerjaan sehingga belum banyak data yang bisa dicantumkan mengenai kondisi keseluruhan di Glee Berry Hotel & Resto.

2.2

Teori Dasar Pencahayaan

Cahaya adalah suatu gejala fisis. Suatu sumber cahaya memancarkan energi, sebagian dari energi ini diubah menjadi cahaya tampak. Perambatan cahaya di ruang bebas digunakan oleh gelombang-gelombang elektromagnetik. Jadi cahaya itu merupakan suatu gejala getaran. Gejala getaran yang sejenis dengan cahaya ialah gelombang-gelombang panas, radio, televise, radar, dan sebagainya. Gelombang gelombang ini hanya berbeda frekuensinya saja. Kecepatan rambat v gelombang gelombang elektromagnetik di ruang bebas sama dengan 3.105 km/detik. Karena sangat kecil, panjang gelombang cahaya maka dinyatakan dalam satuan mikron atau rnilimikron. I mikron (I J.l) = 10 -3mm I rnilirnikron (1 mJ.I) = 10-6 mm Panjang gelombang cahaya tampak berkisar antara 380-780 mJ.I, ini dibagi lagi atas beberapa daerah panjang gelombang. Setiap daerah memiliki suatu warna tertentu: Kuantitas dari cahaya yang jatuh pada permukaan bidang kerja disebut iluminasi yang mana mempunyai satuan lux, sedangkan alat yang digunakan untuk mengukur tingkat cahaya disebut luxmeter. Kuantitas cahaya sangat penting diketahui karena untuk melihat benda yang ukurannya kecil yang secara detail kita membutuhkan cahaya yang lebih terang. Cahaya dipancarkan dari suatu benda dengan fenomena sebagai berikut :

Pijar yaitu padat dan cair yang memancarkan radiasi yang dapat dilihat bila dipanaskan sampai suhu 1000 K. Intensitas menjadi meningkat dan penampakan menjadi semakin putihjika suhu naik. Muatan Listrik yaitu jika muatan listrik dilewatkan melalui gas maka atom dan molekul memancarkan radiasi yang mana spektrumnya merupakan karakteristik dari elemen yang ada. Electro Luminescence yaitu cahaya dihasilkan jika arus listrik dilewatkan melalui padatan tertentu seperti semikonduktor atau bahan yang mengandung fosfor. Photoluminescence yaitu radiasi pada salah satu panjang gelombang diserap, biasanya oleh suatu padatan dan dipancarkan kembali pada berbagai panjang gelombang. Bila radiasi yang dipancarkan kembali tersebut merupakan fenomena yang dapat terlihat maka radiasi tersebut disebut fluorescence dan phosphorescence. Istilah dalam pencahayaan yang sering digunakan baik dalam desain maupun evaluasi tingkat pencahayaan dalam suatu ruangan adalah : 1. Intensity (I) atau disebut luminus intensity merupakan jumlah cahaya yang dikeluarkan oleh suatu sumber cahaya pada suatu arah tertentu. Satuan untuk luminous intensity adalah candela (cd). 2. 3. Lumen (F) merupakan unit atau satuan cahaya yang keluar dari suatu sumber cahaya yang memancar rata. lllumination Level (E) merupakan jumlah atau kuantitas cahaya yang jatuh ke suatu permukaan. Satuan Illumination Level adalah footcandle jika area dalam satuan squarefoot dan lux jika area dalam satuan square meter. Luminance (L) atauphotometric brightness merupakan ukuran yang menunjukan jumlah cahaya yang terpancar atau terpantul dari suatu area atau permukaan. Satuan untuk luminance adalah foot/amber jika area dalam square foot dan candela jika area dalam square meter. Reflectance merupakan ukuran yang menunjukan jumlah cahaya yang merefleksikan oleh suatu permukaan. Luminer adalah jumlah lampu yang dirancang untuk mengarahkan cahaya, untuk tempat dan melindungi lampu serta untuk menempatkan komponen-komponen listrik. Glare (kesilauan) merupakan efek yang timbul karena penerangan yang tinggi, sehingga menyebabkan ketidaknyamanan dan kehilangan area pandangan.

4.

5. 6. 7.

8.

Suhu warna dinyatakan dalam skala Kelvin (K) adalah penampakan warna dari lampu itu sendiri dan cahaya yang dihasilkan. 9. Indeks ruang merupakan perbandingan yang berhubungan dengan ukuran bidang keseluruhan terhadap tingginya diantara tinggi bidang kerja dengan bidang titik lampu. 10. Tinggi mounting merupakan tinggi peralatan atau lampu diatas bidang kerja. 11. Efficacy merupakan perbandingan keluaran lumen terhitung dengan pemakaian daya. 12. Perubahan wama merupakan kemampuan sumber cahaya merubah wama permukaan secara akurat dapat diukur dengan baik oleh indeks perubahan wama. Indeks ini didasarkan pada ketepatan dimana serangkaian uji wama dipancarkan kembali oleh lampu yang

menjadi perhatian relative terhadap lampu uji. Penyesuaian yang sempurna akan diberi angka 100. lndeks CIE memiliki keterbatasan, namun cara ini merupakan cara yang sudah diterima secara luas untuk sifat-sifat perubahan warua dari sumber cahaya.

Tabel 2.1 Penerapan Kelompok Untuk Perubaban Warna Kelompok Perubahan Wama Indeks Umurn Perubahan Wama Penerapan Khusus

Dimana perubahan wama yang akurat diperlukan misal pemeriksaan wama Ra>90 1A Dimana pertimbangan warua yang akurat penting atau perubahan warua yang baik diperlukan untuk alasan penampilan misal Dimana perubahan warna yang cukup I moderate 2 60<Ra<80 Dimana perubahan warna memiliki sedikit arti namun adanya penyimpangan warua tidak dapat diterima Dimana perubahan warna tidak ada pening sama sekali dan penyimpangan warua 4 20<Ra<40 Somber :Biro Efislensl Energi, 2005 Dalam bidang pencahayaan (lighting), istilah sistem pencahayaan mempunyai dua pengertian yaitu sistem untuk pencahayaan dan pola distribusi cahaya. Untuk system pencahayaan dibedakan menjadi dua bagian yaitu general lighting dan local lighting. General lighting digunakan untuk pencahayaan menyeluruh atau system pencahayaan yang digunakan untuk mendapatkan pencahayaan yang merata. Local lighting digunakan untuk memberikan nilai aksen pada suatu bidang atau lokasi tertentu tanpa memperhatikan kerataan pencahayaan. Sistem pencahayaan merupakan salah satu faktor penting yang hams dipertimbangkan dalam proses mendesain. Untuk menciptakan suasana yang diinginkan pada sebuah ruangan, paling tidak dibutuhkan dua jenis sistem pencahayaan. Secara keseluruhan untuk general lighting dibedakan menjadi lima macam jenis sistem pencahayaan, yaitu :

a) Indirect Lighting

Suatu sistem pencahayaan dapat disebut Indirect Lighting apabila 90-100% distribusi cahaya mengarah pada suatu plafond dan dinding bagian atas pada ruangan. Sistem ini disebut indirect lighting karena distribusi cahaya melalui langit-langit atau dinding bagian atas yang menjadi sumber cahaya melalui pantulan cahaya lampu. Agar seluruh plafond dapat menjadi sumber cahaya maka perlu diberikan perhatian dan pemeliharaan yang baik. Keuntungan dari sistem ini adalah tidak menimbulkan bayangan dan kesilauan serta kerugian dari sistem ini adalah dapat mengurangi cahaya total yang jatuh pada permukaan keJja. b) Semi-Indirect Lighting Suatu sistem pencahayaan dapat disebut Semi-Indirect Lighting apabila 6090% distribusi cahaya mengarah pada plafond dan dinding bagian atas pada ruangan. Sistem pencahayaan ini disebut Semi-Indirect Lighting karena distribusi cahaya berada pada sumbu horizontal ruangan, dimana plafond atau dinding bagian atas menjadi sumber cahaya melalui pantolan cahaya lampu. c) General Diffuse and Direct-Indirect Lighting Suatu sistem pencahayaan disebut General Diffose and Direct-Indirect Lighting apabila distribusi cahaya seimbang antara cahaya yang mengarah pada plafond pada ruangan dengan cahaya yang jatuh ke bawah. Sistem ini merupakan system pencahayaan yang baik untuk ruangan dinding yang berwarna gelap, yang mana sangat dibutuhkan distribusi cahaya cukup tanpa menghadapi resiko glare (kesilauan). Kualitas pencahayaan sangat bergantung pada luas ruangan dan kegiatan yang dilakukan didalanmya. Dengan menggunakan sistem pencahayaan ini maka ruang bagian atas akan tidak akan terlihat kosong atau monoton. Semi Direct Lighting

Suatu sistem pencahayaan dapat disebut Semi Direct Lighting apabila 60-90% distribusi cahaya mengarah pada dinding bagian bawah dan lantai. Sistem ini disebut semi direct karena distribusi cahaya berada pada sumbu horizontal ruangan bagian bawah. e) Direct Lighting Suatu sistem pencahayaan dapat disebut direct lighting apabila 90-100% distribusi cahaya mengarah ke bawah atau benda-benda yang letaknya agak di bawah dan memerlukan penerangan lebih.

2.2.1 Sumber Pencahayaan Berdasarkan sumber pencahayaannya dapat dibedakan menjadi dua yaitu pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. 1. Pencahayaan Alami Pencahayaan alami merupakan pencahayaan yang dihasilkan oleh sumber cahaya alami yaitu sumber cahaya matahari dengan cahayanya yang kuat tetapi

2.

bervariasi menurut jam, musim, dan tempat. Pencahayaan yang bersumber dari sinar matahari dirasa kurang efektif dibandingkan dengan pencahayaan buatan, hal ini disebabkan karena sinar matahari tidak dapat memberikan intensitas cahaya yang tetap. Pencahayaan Buatan Pencahayaan buatan merupakan pencahayaan yang dihasilkan oleh sumber cahaya selain cahaya alami. Apabila pencahayaan alami tidak memadai atau posisi ruangan sukar untuk dicapai oleh pencahayaan alami maka dapat dipergunakan pencahayaan buatan. Pencahayaan buatan sebaiknya memenuhi persyaratan berikut :
Memiliki intensitas yang cukup sesuai dengan jenis pekeijaan Tidak menimbulkan pertambahan subu udara yang berlebiban pada ternpat keija Mampu memeberikan pencahayaan dengan intensitas yang tetap menyebar secara merata, tidak berkedip, tidak menyilaukan, dan tidak menimbulkan bayang-bayang yang mengganggu pekeijaan.

Beberapa jenis-jenis lampu yang digunakan dalam pencahayaan buatan, antara lain sebagai berikut : Lampu Pijar Lampu pijar bertindak sebagai 'badan abu-abu' yang secara selektif memancarkan radiasi, dan hampir selurubnya teijadi pada daerah nampak. Bola lampu terdiri dari hampa udara atau berisi gas, yang dapat menghentikan oksidasi dari kawat pijar tungsten, namun tidak akan menghentikan penguapan. Warna gelap bola lampu dikarenakan tungsten yang teruapkan mengembun pada permukaan lampu yang relatif dingin. Dengan adanya gas inert, akan menekan teijadinya penguapan, dan semakin besar berat molekulnya akan makin mudah menekan teijadinya penguapan. Untuk lampu biasa dengan harga yang murah, digunakan campuran argon nitrogen dengan perbandingan 9 : 1. Kripton atau Xenon hanya digunakan dalam penerapan khusus seperti lampu sepeda dimana bola lampunya berukuran kecil, untuk mengimbangi kenaikan harga, dan jika penampilan merupakan hal yang penting. Gas yang terdapat dalam bola pijar dapat menyalurkan panas dari kawat pijar, sehingga daya hantar yang rendah menjadi penting. Lampu yang berisi gas biasanya memadukan sekering dalam kawat timah. Gangguan kecil dapat menyebabkan pemutusan arus listrik, yang dapat menarik arus yang sangat tinggi. Jika patahnya I terputusnya kawat pijar merupakan akhir dari umur lampu pijar tersebut.

-10'h Visible radiation

Gambar 2.1Lampu Pijar dan DiagramAJir Eoergi Lampu Pijar Sumber :Biro Etiliellli Eaergi. 2005

Ciri-eirlnya sebagai berlkut : ./ Efficacy : 12lwnens/Watt ./ Indek.sPerubahan Wama: lA ./ Suhu Wama :Hangat (2.500K- 2.700K} ./ Umur T .!m'lm :1-2.000 jam S'lllllber :Biro Elltlend EDer1, 2005 Lampu Halogen-Tungsten Lampu halogen adalah sejenis lampu pijar. Lampu ini memiliki kawat pijar tungsten seperti Iampu pijar biasa yang digunakan di rumah, tetapi bola lampunya cllisi dengan gas halogen. Atom tungsten menguap dari kawat pijar panu dan bergerak naik ke dinding pendingin bola Iampo. Atom tungste.D, oksigen dan halogen bergabung pada dinding bola lampu membentuk molekul oksihalida tungsten. Suhu dinding bola lampu menjaga molekul oksihalida tungsten dalam keadaan uap. Molekul bergerak kearab. kawat pijar panas djmana suhu tinggi memecahnya menjadi teqrisah-pisah. Atom tungsten disimpan kembali pada daenLh pendinginan dari kawat pijar bukan ditempat yang sama dimana atom diuapkan. Pemecaban biasanya terjadi dekat sambungan antara kawat pijar tungsten dan k:awat timah mohbdenum dimana suhu torun secara tajam.

Gambar 2.2 Lampu Halogen T1111g11ten Somber :Biro Elisiensi Enei"1, 2005 Ciri-cirinya sebagai berikut : o/ Efficacy :18lumens/Watt o/ Indeks Perubahan Warna: lA ./ Suhu Wama: Hangat (3.000K-3.200K) ./ Umur Lampu :2 - 4.000 jam Sumber :Biro Efsiensi Energi, 2005 Lampu Neon (TL) Lampu neo 3 hingga 5 kali lebih efisien daripada lampu pijar standar dan dapat bertahan 10 hingga 20 kali lebih awet. Lampu ini kurang cocok untuk suasana pabrik, laboratorium, hotel, dan perkantoran karena efek gas neon menghasilkan wama merah. Dengan melewatkan listrik melalui uap gas atau logam akan menyebabkan radiasi elek.tromagnetik pada panjang gelombang tertentu sesuai d.engan komposisi kimia dan tekanan gasnya. Tabung neon memiliki uap merkuri bertekanan rendah, dan akan memancarkan sejumlah kecil radiasi biru/ hijau, namun kebanyakan akan berupa UV pada 253,7 nm dan 185 nm.

bollol Gambar 2.3 Lampu Neon

(TL) Somber :Biro EfisienBi Energi, 2005

CJri.driDya Hbaplberibt : u.Iofoafat E.flicxx:y :80 lumens/Watt (Bir HF menaibn nilaisebCSIII' 10%) Jndeb Perubllum Wama :2- 3 Suhu Wama :apa saja Umur Lampu :7- 15.000jam Trl-fosfor E.flicxx:y :90 lumeDS!Watt Jndeb Perubahm Wama: lA- 18 Suhu Wama: apa saja Umur Lampu :7- lS.OOO jam

Sumber :Biro Efsiensi Energi, 2005 LampuNecm.Kompak Lampu neon lmmpak diraDcaag dmgn bentuk: yaug k:ecil yaug mampu benaing daagao lampu pijar dan lampu merlmri eli puarm Procluk dipasanm tcr&edia dmgan gir pengorltiVl yang mdahteapatmg (GFG) dan yang tapisah (CFN).

Galhr2.4 LulpaN-Kliiii(IU Sum'bcr;BiroJ:lldtall berg ,2005 Clri.-clrlnya acbapi berilmt : E.f/lcllcy :60 l'lllllCDIIWatt Jndeb Perubahm Wama: 18 Suhu Wama: llaDgat, Mmmgab

UmurLampu: 7-lO.OOOjam

Lampu Kombinasi Lampu kombinasi kadang disebut sebagai lampu two-in-one. Lampu ini mengkombinasikan dua sumber cahaya yang tertutup dalam satu lampu yang diisi gas. Salah satu sumbemya adalah tabung pelepas merkuri kuarsa (seperti sebuah lampu merkuri) dan sumber lainnya adalah kawat pijar tungsten yang disambungkan secara seri. Kawat pijar ini bertindak: sebagai balas untuk tabung pelepasan yang menstabilkan arus, jadi tidak: diperlukan balas yang lain. Kawat pijar tungsten digulung dengan susunan melingkar pada tabung pelepasan dan dihubungkan dalam susunan seri. Lapisan bubuk fluorescent diletakkan ke bagian dalam dinding lampu untuk mengubah sinar UV yang dipancarkan dari tabung pelepas ke cahaya nampak:. Pada penyalaan, lampu hanya memancarkan cahaya dari kawat pijar tungsten, dan selama perjalanan sekitar 3 menit, pemancar didalam tabung pelepas melesat mencapai keluaran cahaya penuh. Lampu ini cocok untuk area anti nyala dan dapat disesuaikan dengan perlengkapan lampu pijar tanpa modifikasi.

Gambar 2.5 Lampo Kombinasi Somber :Biro Efisiensi Energi, 2005

Ciri-cirinya sebagai berikut : .,' Nilainya biasanya 160 W .,' Efficacy 20 hingga 30 Lm/W .,' Faktor daya tinggi 0,95 .,' Umur 8000 jam Sumber :Biro Efioiensi Energi, 2005

Lampu Uap Merkuri Lampu nap merkuri merupakan model tertua lampu HID. Walaupun mereka memiliki umur yang panjang dan biaya awal yang rendah, lampu ini memiliki efficacy yang buruk (30 hingga 65 lumens per watt, tidak termasuk kerugian balast) dan memancarkan warna hijau pucat. Isu paling penting tentang lampu uap merkuri adalah bagaimana caranya supaya digunakan jenis sumber HID atau neon lainnya yang memiliki efficacy dan perubahan warna yang lebih baik. Lampu uap merkuri yang bening, yang menghasilkan cahaya biru-hijau, terdiri dari tabung pemancar uap merkuri dengan elektroda tungsten di kedua UJungnya. Lampu tersebut memiliki efficacy terendah dari jenis HID, penurunan lumen yang cepat, dan indeks perubahan warna yang rendah. Disebabkan karakteristik tersebut, lampu jenis HID yang lain telah menggantikan lampu uap merkuri dalam banyak penggunaannya. Walau begitu, lampu uap merkuri masih merupakan sumber yang populer untuk penerangan taman sebab umur lampunya yang mencapai 24.000 jam dan bayangan taman yang hijaunya terlihat seperti gambaran hidup. Pernancar disimpan di bagian dalam bola lampu yang disebut tabung pemancar. Tabung pernancar diisi dengan gas merkuri dan argon murni. Tabung pernancar tertutup di dalam bola lampu yang berada diluamya, yang diisi dengan nitrogen.

Ciri-ciriDya 1ebapiberilwt : ./ Efficacy: 50- 60 lumens/Watt (tidak tmmasuk daribagian L) ./ Indeks Prmbabm Wama :3 ./ Suhu Wama: Mmengah ./ Umur Lampu :16.000-24.000 jam, perawatan lume.n bumk ./ Gir mudah Blat c:ld:troda kctiga lebih sedcduma dan lebih

dibuat. ./ Tabtmg p!M!ancar mengandung 100mg gas metkuri dan azgon. ./ Tidak: terdapat pemllllll8 awal. ktMa, eleklroda ketip dengan celah :yang lobih pemdek UDiuk memnlai pelepasan

./

Bola lampubagian luar dilapisi fospor. Hal iDi abnmemberi cabaya merah tamba'ban deqan menggnnakan UV, untuk meDgkorebi bias pelepiiWl merkuri. ./ Pembungkus kaca bagian luar mencegah lepamya mdiasi UV Slllllhu:BiroElbkulElleql,2005 Lampu LED Lampu LED merupakan lampu terbaru yang merupakan sumber cahaya yang efisien energinya. Ketika lampu LED memancarkan cahaya nampak pada gelombang spektrum yang sangat sempit, mereka dapat memproduksi cahaya putih. Hal ini sesuai dengan kesatuan susunan merah-biruhijau atau lampu LED biru berlapis fospor. Lampu LED bertahan dari 40.000 hingga 100.000 jam tergantung pada warna. Lampu LED digunakan untuk banyak penerapan pencahayaan seperti tanda keluar, sinyal lalu lintas, cahaya dibawah lemari, dan berbagai penerapan dekoratif. Walaupun masih dalam masa perkembangan, teknologi lampu LED sangat cepat mengalami kemajuan dan menjanjikan untuk masa depan. Pada cahaya sinyal lalu lintas, pasar yang kuat untuk LED, sinyal lalu lintas warna merah menggunakan lampu 10W yang setara dengan 196 LEDs, menggantikan lampu pijar yang menggunakan 150W. Berbagai perkiraan potensi penghematan energi berkisar dari 82% hingga 93%. Produk pengganti LED, diproduksi dalam berbagai bentuk termasuk batang ringan, panel dan sekrup dalam lampu LED, biasanya memiliki kekuatan 2-5W masing-masing, memberikan penghematan yang cukup berarti dibanding lampu pijar dengan bonus keuntungan masa pakai yang lebih lama, yang pada gilirannya mengurangi perawatan.

2.2.2 Tingkat Pencahayaan Untuk menganalisis kebutuhan daya listrik pada masing-masing area di hotel digunakan persamaan berikut. Untuk jumlah lampu, digunakan persamaan berikut : Ex A n = ---:-----::---:-:-= <p lampu X Cu X LLF Dimana: n cp E
)

= jumlah lampu =lumen = kuat penerangan (lux) 2

= luas ruangan (m

Cu = coeffisient of utilization /faktorpemanfaatan (50- 65 %) LLF =light lossfactor I faktor cahaya rugi (0.7 - 0.8) Sehingga untuk menghitung daya listrik rata-rata dengan persamaan berikut : Daya listrik rata-rata = n x waktu Gam) x 30 hari Dimana: Jam = diasumsikan menyala berapa jam/hari sesuai dengan fungsi ruangan tersebut

Agar menghasilkan pencahayaan yang optimal maka perlu diperhatikan tingkat pencahayaan pada suatu ruangan baik indoor maupun outdoor. 1) Tingkat Pencahayaan Rata-Rata (Erata-rata) Tingkat pencahayaan pada suatu ruangan pada umumnya didefmisikan sebagai tingkat pencahayaan rata-rata pada bidang keJja. Yang dimaksud dengan bidang kerja adalah bidang horizontal imajiner yang terletak 0.75 meter diatas lantai pada seluruh ruangan. Tingkat pencahayaan rata-rata Eratarata (lux) dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut :

Erata -rata

Ftotal X kp X kd A (lux)

Dimana : Ftotal = fluks luminous total dari semua lampu yang menerangi bidang kerja (lumen). A= Luas bidang kerja 2 (m kp = Koefisien penggunaan (0.9 0.95) k.J = Koefisien depresiasi/penyusutan (0.8)

2)

Koefisien (kp)

Penggunaan

Sebagian dari cahaya yang dipancarkan oleh lampu diserap oleh armature, sebagian dipancarkan ke arab atas dan sebagian lagi dipancarkan ke arab bawah. Faktor penggunaan didefinisikan sebagai perbandingan antara fluks luminous yang sampai dibidang kerja terhadap keluaran cahaya yang dipancarkan oleh lampu. Besamya koefisien penggunaan dipengaruhi oleh faktor : Distribusi intensitas cahaya dari armature. Perbandingan antara keluaran cahaya dari armature dengan keluaran cahaya dari lampu di dalam armature. Reflektansi cahaya dari langit-langit, dinding, dan lantai. Dimensi ruangan

Besamya koefisien penggunaan untuk sebuah armature diberikan dalam bentuk table yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat armature yang berdasarkan basil pengujian dari instansi terkait dengan nilai (0.9-0.95)

3) Koefisien Depresiasi (Penyusutan) (k.J) Koefisien depresiasi sering disebut koefisien rugi-rugi cahaya atau koefisien pemeliharaan, didefinisikan sebagai perbandingan antara tingkat pencahayaan setelah

jangka waktu tertentu dari instalasi pencahayaan digunak:an terhadap tingkat pencahayaan pada waktu instalasi baru. Besamya koefisien depresiasi dipengaruhi oleh :

Kebersihan armature. Kebersihan ruangan.

dari dari

lampu

dan

permukaan-permukaan cahaya lampu selama waktu

Penurunan keluaran penggunaan.

Penurunan keluaran cahaya lampu karena penurunan tegangan listrik.

Besamya koefisien depresiasi biasanya ditentukan berdasarkan estimasi. Untuk ruangan dan armature dengan pemeliharaan yang baik pada umumnya koefisien depresiasi diambil sebesar 0,8.
4)

Jumlah Armature

Untuk menghitung jumlah armature, terlebih dahulu dihitung fluks luminous total yang diperlukan untuk mendapatkan tingkat pencahayaan yang telah direncanakan maka digunakan persamaan berikut : ExA Ftotal (lumen) kp X kd

Dimana:
)

E = knat penerangan (lux) A= Luas bidang 2 kerja (m

Kemudian jumlah armature dihitung dengan persamaan :

_ Ftotal F xn 1

Dimana: F1= Fluks luminous satu buah lampu. n = Jumlah lampu dalam satu armature.

5) Tingkat Pencahayaan Oleh Komponen Pencahayaan Langsung Tingkat pencahayaan oleh komponen cahaya langsung pada suatu titik pada bidang kelja dari sebuah sumber cahaya yang dapat dianggap sebagai sumber cahaya titik, dapat dihitung dengan persamaan berikut :

Dimana: Ia = Intensitas cahaya pada suatu sudut (candela) h = Tinggi armature diatas bidang kelja (meter)

h I Gamar 2.T '1111kP ar-tJu Xoa!poSa!Ucr:D-aP_..,...Baata,:IOll clarl Samhr CabJa 'DIIk

Jib 1mdapat bebenlpa mab tingbt penc:ahayaaa t.c:IKbut merupabn penjumlehan dari tingbt pmcebayaan yag diakibalbD oleh masing masins 81111atunl dan dinyatabn den,pn perwnaan berikut: Et.!.J Epl +Ep2 +Ep3 +.........(lmt) 6) KebutuhanDII.ya Daya listrik ymg dibubhbn untuk mendapetbn tiugbt pencahayaan rata-rata lel1eD1u pada bidlllg kerja dtDjtnng dmgan m.enghiluDg tcrlebih clahuhljnmlah lampu }'DDS dipcrlukm dmpn pmamBIIIl :

DimiDa: N_, =jumlah 1ampu n =jumlah tampa dalam satu llllllatunl Daya')'IDg dibutullkaD UDiuk seuma armatur dlpet djhmmg cltDgaD penamaaa:

Dimana: wtotal = daya total yang dibutuhkan (Watt) W1 = daya setiap lampu (Watt) Dengan rnembagi daya total dengan luas bidang kerja, didapatkan kepadatan

daya (Watt/rn

yang dibutuhkan untuk sistern pencahayaan tersebut.