Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

JUNI 2012

STEPS OF PRESCRIPTION WRITNG

``

OLEH

FURQAN MOH. FADLI FADLY MUH. IQBAL R.

(G 501 08 009) (G 501 08 016) (G 501 08 043) (G 501 08 045)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS TADULAKO PALU 2012

1) Pilihan Obat Obat Antihiprtensi : a. Hidroklorotiazid (HCT) Hidroklorotiazid (HCT) merupakan prototype golongan tiazid yang dianjurkan untuk sebagian besar kasus hipertensi ringan sampai sedang dan dalam kombinasi dengan berbagai antihipertensi lain. Tiazid diabsorpsi melalui saluran cerna dengan baik. Umumnya efek obat tampak setelah satu jam dan memiliki waktu paruh 6 12 jam. Diuretic tiazid bekerja menghambat Na+ dan Cl- di hulu tubulus distal. Sistem transpor ini dalam keadaan normal membawa Na+ dan Cl- dari lumen ke dalam sel epitel tubulus. Na+ selanjutnya dipompakan keluar tubulus dan ditukar dengan K+, sedangkan Cl- dikeluarkan melalui kanal klorida. Efek farmakodinamik tiazid yang utama adalah meningkatkan ekskresi natrium, klorida dan sejumlah air. Sampai sekarang, tiazid merupakan obat utama dalam terapi hipertensi. Tiazid dapat digunakan sebagai obat tunggal pada hipertensi ringan sampai sedang, atau dalam kombinasi dengan antihipertensi lain bila TD tidak dapat diturunkan dengan diuretic saja. Tiazid jarang menyebabkan hipotensi ortostatik dan ditoleransi dengan baik, harganya murah, dapat diberikan satu kali sehari, dan efek antihipertensinya bertahan pada pemakaian jangka panjang. Tiazid, terutama dalam dosis tinggi dapat menyebabkan hipokalemia yang dapat berbahaya pada pasien yang mendapat digitalis. Tiazid juga dapat menyebabkan hiponatremia, hipomagnesemia, serta hiperkalsemia. Selain itu tiazid dapat menghambat ekskresi asam urat dari ginjal, dan pada pasien hiperurisemia dapat mencetuskan serangan gout akut. Tiazid juga dapat meningkatkan kadar

kolestrol LDL dan trigliserida. Pada penderita DM, tiazid dapat menyebabkan hiperglikemia karena mengurangi sekresi insulin. Pada pasien pria, gangguan fungsi seksual merupakan efek samping yang cukup mengganggu. Efek antihipertensi tiazid mengalami antagonisme oleh antiinflamasi non

steroid (AINS), terutama indometasin, karena AINS menghambat sintesis prostaglandin yang berperan penting dalam pengaturan aliran darah ginjal dan transpor air dan garam. Akibatnya terjadi retensi natrium dan air yang akan

mengurangi efek hampir semua obat antihipertensi.

Selain itu, probenesid

menghambat sekresi tiazid ke dalam lumen tubulus. Akibatnya efektivitas tiazid berkurang. b. Spironolakton Spironolakton merupakan diuretic hemat kalium yang termasuk ke dalam golongan antagonis aldosteron. Peranan utama aldosteron adalah memperbesar reabsorpsi natrium dan klorida di tubuli distal serta memperbesar ekskresi kalium. Sekitar 70% Spironolakton oral diserap di saluran cerna, mengalami sirkulasi enterohepatik dan metabolisme lintas pertama. Iktan dengan protein cukup tinggi. Mekanisme kerja antagonis aldosteron adalah penghambatan kompetitif terhadap aldosteron. Jadi, dengan pemberian antagonis aldosteron, reabsorpsi natrium dan kalium di hilir tubuli distal dan duktus koligentes dikurangi, dengan demikian ekskresi kalium juga berkurang. Antagonis aldosteron digunakan secara luas untuk pengobatan hipertensi dan edema yang refrakter. Biasanya obat ini diapakai bersama diuretic lain dengan maksud mengurangi ekskresi kalium, di samping memperbesar diuresis.

Spironolakton merupakan obat pilihan untuk hipertensi hiperaldosteronisme primer dan sangat bermanfaat pada kondisi-kondisi yang disertai hiperaldosteronisme sekunder seperti asites pada sirosis hepatis dan sindrom nefrotik. Efek toksik yang utama yang utama dari spironolakton adalah hiperkalemia yang sering terjadi bila obat ini diberikan bersama-sama dengan asupan kalium yang berlebihan. Tetapi efek toksik ini juga dapat terjadi bila dosis yang biasa diberikan bersama dengan tiazid pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal yang berat. Efek samping lain yang ringan dan reversible di antaranya ginekomastia, efek samping mirip androgen, dan gejala saluran cerna. c. Furosemide Furosemide merupakan sekelompok diuretik yang efeknya sangat

kuatdibandingkan dengan diuretik lain. Tempat kerja utamanya dibagian epitel tebal ansa henle bagian asenden. Diuretik kuat mudah diserap melalui saluran cerna dengan derajat yang agak berbeda-beda, bioavaibilitas furosemid 65%.. obat golongan ini terikat pada protein plasma secara ekstensif, sehingga tidak difiltrasi di glomerulus

tetapi cepat sekali disekresi melalui transpor asam organik di tubuli proksimal dengan cara obat ini terakumulasi dicairan tubuli, Diuretik kuat ini bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi elektrolit Na+/K+/2cl- di ansa henle asendens bagian epitel tebal ; tempat kerjanya di permukaan sel epitel bagian luminal. Perubahan hemodinamik ginjal ini mengakibatkan menurunnya reabsorpsi cairan dan elektrolit di tubuli proksimal serta meningkatnya efek diuresis. Indikasi pada pengobatan ini adalah : a. Hipertensi b. Edema yang disebabkan kegagalan jantung, sirosis hepatis dan penyakit ginjal c. Edema paru-paru Kontraindikasi a. Anuria b. Hipersensitif terhadap furosemide c. Terapi bersamaan dengan sefaloridin d. Sirosis hati e. Pada Ibu hamil Efek samping a. Susunan SSP : Pusing, vertigo, paraestesis, sakit kepala, gangguan penglihatan, tinnitus xanthopsia, tuli, spasme otot, kelemahan gelisah b. Kardiovaskuler : hipotensi orthostatik c. Hematologi : anemia, leukopenia, agranulositosis, trombositopenia, anemia aplastik d. Saluran pencernaan : anoreksia iritasi oral dan gaster, mual, muntah e. Hipersensitivitas : purpura, sensitvitas, ruam kulit, urtikaria, dermatitis exfoliativa, eritema multiformias, pruritus. Interaksi obat a. Dengan anti-hipertensi lainnya meningkatkan efek anti hipertensi b. Glikosida digitalis : meningkatkan toksisitas digitalis c. Aminoglikosida : meningkatkan ototoksisitas aminoglikosida d. Steroid, ACTH : meningkatkan risiko hipokalemia e. Lithium : menurunkan ekskresi lithium

f. Salisilat : Meningkatkan toksisitas salisilat g. Sefaloridin : meningkatkan nefrotoksisitas dari sefaloridin h. Relaksan otot : meningkatkan relaksasi otot i. Norepinefrin : menurunkan responsivitas arterial j. Indometasin : menurunkan efek diuretik dan / atau hipotensif dari furosemid k. Hipoglikemik oral : menurunkan efek hipoglikemik l. Alkohol, barbiturat narkotik : meningkatkan risiko hipotensi orthostatik.

Jadi, untuk skenario/kasus tersebut, obat yang menjadi pilihan yang tepat adalah spironolakton karena tidak menimbulkan hiperglikemia pada pasien yang memiliki riwayat DM dan merupakan rekomendasi dari JNC 7 setelah indikasi penggunaan HCT dapat dihilangkan

Obat Antifungi : a. Whitefield Oinment Merupakan kombinasi asam benzoat dan asam salisilat (2 : 1 atau 6% : 3%). Asam benzoat memberikan efek fungistatik sedangkan asam salisilat memberikan efek keratolitik. Karena asam benzoat hanya bersifat fungistatik maka penyembuhan baru tercapai setelah lapisan tanduk yang menderita infeksi terkelupas seluruhnya, sehingga pemaikaian obat ini membutuhkan waktu beberapa minggu sampai bulanan. Salep ini banyak digunakan untuk pengobatan tinea pedis dan kadang-kadang juga untuk tinea kapitis. Dapat terjadi iritasi ringan pada tempat pemakaian, juga ada keluhan kurang menyenangkan dari para pemakainya karena salep ini berlemak.

b. Ketoconazole Ketokonazol merupakan anti-jamur sistemik per oral yang penyerapannya bervariasi antar individu. Penyerapan melalui saluran cerna akan berkurang pada pasien dengan pH lambung yang tinggi, pada pemberian bersama antagonis H2 atau bersama antasida. Dalam plsama 84% ketokonazol berikatan dengan protein plasma terutama albumin, 15% berikatan dengan eritrosit dan 1% dalam bentuk bebas. Sebagian besar obat ini mengalami metabolisme lintas pertama. Sebagian besar

ketokonazol dieksresikan bersama cairan empedu ke lumen usus dan hanya sebagian kecil saja yang dikeluarkan bersama urin, semuanya dalam bentuk metabolit yang tidak aktif. Gangguan fungsi ginjal dan hati yang ringan tidak mempengaruhi kadarnya dalam plasma. Mual, ruam, pruritus. Terkadang hepatotoksisitas dan ginekomastia merupakan efek sampingnya. Penggunaan bersama dengan terfenadin, astemizol atau sisaprid merupakan kontraindikasi karena dapat menyebabkan perpanjangan interval QT dan dapat menyebabkan aritmia ventrikel jantung. Kerusakan hati juga merupakan kontra indikasi Ada pula golongan azole dalam bentuk topikal. Dalam bentuk krim agen ini berguna untuk infeksi-infeksi demattofitik, termasuk tinea korporis, tinea pedis, dan tinea kruris. Penyerapan tidak diperhitungkan dan efek-efek yang tak diharapkan, jarang terjadi. c. Griseofulvin Tinea korporis, tinea pedis, tinea kruris dan tinea ungulum yang disebabkan Tricophyton rubrum, T. Tonsurans yang tidak responsif pada pengobatan topikal saja merupakan indikasi penggunaannya. Griseofulvin kurang baik penyerapannya pada saluran cerna bagian atas karena obat ini tidak larut dalam air.dosis oral 0.5 g hanya akan menghasilkan kadar plasma tertinggi 1 g/mL setelah 4 jam. Obat ini di metabolisme di hati dan metabolit utamanya adalah 6-metilgriseofulvin. Waktu paruh obat ini kira-kira 24 jam, 50 % dari dosis oral yang diberikan. Obat ini akan dihimpun dalam sel pembentuk keratin lalu muncul dan berdifferensiasi keratin yang mengandung jamur akan terkelupas dan diganti dengan sel normal. Riwayat sensitivitas terhadap griseofulvin, Porphiria, Gangguan hepatoseluler merupakan kontra indikasi pemakaian griseofulvin karena dapat menyebabkan efek samping : Hipersensitivitas : ruam kulit, urtikaria, edemaangioneuritik SSP : Paraestesia pada lengan dan kaki, sakit kepala,letih, mabuk, insomnia Saluran pencernaan : mual, muntah, keluhan lambung, diare Hematologi : Lekopenia, granulo-sitopenia Jika dikombinasikan bersama Antikoagulan oral dapat menurunkan efek antikoagulan sedangkan jika dikombinasikan dengan barbiturat dapat

menurunkan efek anti-jamur griseofulvin itu sendiri.

Ketiga obat diatas merupakan antifungi, namun dari penjelasan diatas untuk tinea corporis yang baik digunakan ialah ketokonazole dan griseofulvin. Pada kasus hanya terjadi secara superficial jadi yang baik digunakan ialah obat yang dapat bekerja secara superficial. Griseofulvin dan ketokonazole bekerja secara sistemik, namun terdapat ketokonazol topikal. Jadi, untuk kasus dalam skenario kita menggunakan ketokonazole.

2) Bentuk Sediaan Farmasetik a. Obat antihipertensi : Spironolactone Nama Generik : Spironolactone tablet 25, 50, dan 100 mg Nama dagang : aldactone tablet, spirola tablet, spirolacton tablet, dan carpiaton tablet (25 dan 100 mg) Sediaan yang cocok untuk Bapak Baruji adalah sediaan tablet b. Obat antifungi : Ketoconazole Nama generik : tablet 200 mg dan krim 2% Nama dagang : - Funet tablet 200 mg - Fungoral tablet 200 mg - Nizoral tablet 200 mg - Interzol krim 2% - Ketomed krim 2% - Profungal krim 2% Sediaan yang cocok untuk Bapak Baruji adalah sediaan krim topikal dengan pertimbangan luas lesi luka yang tidak terlalu besar dan untuk meningkatkan kepatuhan dalam pengobatan karena pasien juga diresepkan obat antihipertensi secara oral.

3) Dosis regimen 1. Spironolactone tablet

Dosis dewasa : 25 100 mg/hari, dosis yang dipilih adalah 100 mg/hari (hipertensi berat) Frekuensi : 1 kali sehari

Rute pemberian : per oral Waktu pemberian : pada pagi hari setelah makan pagi Durasi pengobatan : 14 hari

2. Ketoconazole krim topikal Dosis dewasa : dioleskan 1 2 kali/hari, dosis yang dipilih adalah 2 kali/hari Frekuensi : 2 kali sehari

Rute pemberian : topikal Waktu pemberian : pada pagi dan sore hari setelah mandi Durasi pengobatan : 14 hari

4) Penulisan Resep

1. Formula Official
Dr. Fadly SIP : 043/2012 Alamat praktek : Jl. Undata I no. 7 Palu Palu, 26 Juni 2012

R/ Tab Spironolactone 100 mg S s.d.d tab I m. p.c

No. XIV

R/ Cream Ketoconazole 2% Tube I (5g) S 2.d.d m et v u.e (setelah mandi)

Pro : Tn. Bajuri Usia : 54 tahun

2. Formula Spesialistik

Dr. Fadly SIP : 043/2012 Alamat praktek : Jl. Undata I no. 7 Palu Palu, 26 Juni 2012

R/ Tab aldactone 100 mg S s.d.d tab I m. p.c

No. XIV

R/ Cream Profungal 2% Tube I (5g) S 2.d.d m et v u.e (setelah mandi)

Pro : Tn. Bajuri Usia : 54 tahun

5) Penjelasan Obat Kepada Pasien 1. Spironolactone Efek : menghambat secara kompetitif terhadap aldosteron sehingga dengan pemberian spironolactone reabsorpsi natrium dan kalium dihilir tubuli distal dan ductus pengumpul berkurang, dengan demikian eksresi kalium juga berkurang Efek samping : efek toksik yang utama adalah hiperkalemia. Efek samping lain yang ringan dan reversible diantaranya ginekomastia, efek samping mirip androgen, dan gejala saluran cerna

Instruksi : obat diminum 1X sehari pada pagi hari agar tidak mengganggu aktifitas pada saat istirahat karena obat tersebut meningkatkan frekwensi berkemih. Durasi pengobatan pertama selama 2 minggu.

Peringatan : obat harus dihentikan jika terjadi gejala hiperkalemia yang berat dan segera pertimbangkan obat hipertensi yang lain.

2. Ketoconazole krim topical Efek : mengurangi sintesis ergosterol melalui penghambatan enzim-enzim sitokrom P450 pada jamur Efek samping : jarang terjadi Instruksi : krim diolesi ke area lesi sebanyak 2 x sehari pada pagi dan sore hari setelah mandi Peringatan : hanya untuk penggunaan obat luar