Anda di halaman 1dari 10

Usaha Jamur Tiram Putih Dunia Jamur Bagian I Pendahuluan

1.1.

Latar Belakang

Keinginan memberi manfaat lebih bagi masyarakat menengah ke bawah, sehingga dengan beberapa pertimbangan penulis menyusun proposal usaha jamur tiram putih ini. Usaha ini dipilih dengan pertimbangan diantaranya peluang usaha jamur tiram di sumatera selatan palembangmasih sangat besar, selain itu modal yang diperlukan tidak terlalu besar dengan harga jual yang cukup tinggi. Di Indonesia jamur tiram mulai dirintis di Cisarua, Lembang, Jawa Barat tahun 1988, dan pada waktu itu petani jamur tiram masih sangat sedikit. Jamur tiram putih dengan nama latin Pleurotus ostreatus adalah jamur pangan yang dapat dijadikan alternatif makanan sehat yang layak konsumsi. Jamur tiram juga dapat menjadi olahan makanan seperti bakso, oseng-oseng, maupun jamur yang crispy. jamur tiram memiliki nilai gizi tinggi. Mengandung protein 19 35 % dari berat kering dan karbohidrat 46,6 81,8 %. Selain itu mengandung tiamin atau vit. B1, riboflavin atau vit. B2, niasin, biotin juga beberapa garam mineral dari unsur-unsur Ca, P, Fe, Na, dan K dengan komposisi seimbang. Jika dibandingkan dengan daging ayam yang kandungan proteinnya 18,2 gram, lemaknya 25,0 gram, namun karbohidratnya 0,0 gram, maka kandungan gizi jamur lebih lengkap, hingga tidak berlebihan jika dikatakan jamur merupakan bahan pangan alternatif masa depan. Jamur tiram juga bermanfaat dalam pengobatan, seperti :

Dapat menurunkan tingkat kolesterol dalam darah. Memiliki kandungan serat mulai 7,4 % sampai 24,6% yang sangat baik bagi pencernaan. Antitumor, antioksidan, dll.

Jamur tiram tumbuh pada serbuk kayu, khususnya yang memiliki serat lunak seperti jenis kayu albasiah. Suhu optimum untuk pertumbuhan tubuh buah jamur tiram adalah 20 28C, dengan kelembaban 80 90 %. Pertumbuhan jamur tiram membutuhkan cahaya matahari tidak langsung, aliran udara yang baik, dan tempat yang bersih. (http://organikganesha.wordpress.com)

Berdasarkan hal inilah, penulis akan berusaha mewujudkan usaha ini, selain dapat meningkatkan ekonomi pribadi, usaha ini juga dapat membantu masyarakat menengah ke bawah yang menjadi pegawai usaha jamur tiram ini.

1.2.

Visi
Menjadi industri budidaya jamur tiram yang memenuhi kebutuhan jamur tiram dalam negeri khususnya daerah Palembang dan sekitarnya, serta Indonesia pada umumnya.

1.3.

Misi
Meningkatkan taraf hidup petani dengan menghasilkan jamur tiram. Memperkenalkan jamur tiram secara luas kepada masyarakat melalui pendekatan kualitas (cita rasa, mutu dan kesegaran) dan pendekatan pelayanan konsumen. Membuka pelatihan budidaya jamur tiram kepada masyarakat secara luas Mensosialisasikan manfaat jamur tiram bagi kesehatan masyarakat sekitar Palembang pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

BAGIAN II Gambaran Umum Rencana Usaha


II.1. Nama Unit Usaha Nama unit Usaha ini ialah Dunia Jamur yang bergerak dalam usaha penjualan dan pelatihan budidaya jamur tiram putih dengan kualitas baik. II.2. Lokasi Usaha

Lokasi usaha ini berada di Palembang, Sumatera Selatan. II.3. Lokasi Pemasaran Lokasi Pemasaran produk ini, antara lain yaitu: Di tempat lokasi usaha. Mall yang ada di Palembang. Pasar tradisional. Tempat-tempat lain yang strategis di Palembang. II..4. Jumlah Pengelola Jumlah pengelola usaha ini adalah tiga orang, yaitu:

ANALISIS PASAR
Deskripsi produk
Produk jamur tiram yang dihasilkan berupa : Jamur Tiram Putih segar

Produk turunan Jamur Tiram seperti jamur goreng tepung dan jamur siap masak dalam kemasan plastik, dll.

Prospek Pasar

Budidaya jamur tiram di Palembang, Sumatera Selatan masih sangat terbuka lebar. Hal ini dikarenakan masyarakat yang masih jarang melakukan usaha ini

Kebutuhan dan Kecenderungan Pasar


Target market usaha ini adalah konsumen jamur dari house need sehingga kebutuhan akan jamur tiram masih tergolong tinggi dan pemenuhannya masih terbatas pada pasar tradisional pada umumnya dan beberapa retail pada beberapa kota besar.

Target Pasar
Pada tahun-tahun awal, pemasaran produk difokuskan pada pasar domestik, traditional market, dan house need. Produk jamur segar yang dihasilkan akan dipasarkan ke / melalui : 1. Agen baik dalam skala besar maupun kecil 2. Pasar tradisional dan sekitarnya. 3. Pasar swalayan, restoran, dan hotel. Pemasaran direncanakan akan dilaksanakan melalui sektor tersebut apabila produksi telah stabil serta sarana dan prasarana telah memadai.

Proyeksi Pengembangan Usaha


Usaha ini diorientasikan sebagai usaha kecil padat karya. Pengembangan budidaya jamur ini akan dibagi dalam tiga tahap, yaitu: tahap industri kecil awal, tahap industri kecil lanjut, dan tahap industri menengah. Penjelasan mengenai ketiga tahap industri tersebut adalah sebagai berikut : A. Tahap Industri Kecil Awal

Tahap ini merupakan langkah awal menuju terbentuknya industri padat karya yang kuat dan kokoh Menerapkan standar produksi yang tepat untuk mengoptimalkan hasil budidaya jamur. Penyempurnaan sistem produksi, keuangan dan distribusi. Penambahan tenaga kerja. Pencarian investor

Tahap industri kecil awal ini merupakan jembatan menuju berdirinya industri kecil yang kokoh. Investasi yang dibutuhkan untuk tahap industri kecil awal diperkirakan berkisar antara 10 juta hingga 30 juta rupiah. B. Tahap Industri Kecil Lanjut Tahap ini merupakan pengembangan dari tahap industri kecil awal. Setelah kebutuhan dana mencukupi, dan seluruh kekurangan telah dapat diatasi, maka dimulailah industri kecil lanjut yang ditargetkan untuk memiliki perijinan dan pembentukan badan usaha. Industri ini diharapkan

mampu menyerap banyak tenaga kerja, mulai dari pekerja kasar di bagian produksi hingga profesional di bidang pemasaran, R & D dan administrasi. Tahap industri kecil lanjut ini merupakan jembatan menuju berdirinya industri menengah nasional. Investasi yang dibutuhkan untuk tahap industri kecil lanjut ini diperkirakan berkisar antara 30 hingga 100 juta rupiah. C. Tahap Industri Menengah Nasional Secara umum, tahap industri menengah adalah perluasan dari industri kecil, mulai dari sistem, kapasitas produksi hingga ekspansi distribusinya. Tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan ekspor. Tahap ini diharapkan mampu menyerap sedikitnya 50 tenaga kerja. Investasi yang diperlukan masih dalam analisis.

ANALISIS OPERASIONAL
Lokasi Produksi
Lokasi usaha terletak di Palembang, Sumatera Selatan.

Kapasitas Produksi
Pada tahap awal produksi sekitar 6.000 baglog. Panen pertama dapat dilakukan setelah 60 80 hari setelah bibit ditanam di dalam media tanam. Setelah itu dapat dipanen setiap dua hari sekali secara teratur selama enam bulan.

Proses Produksi
Proses produksi dijelaskan dalam bagan sebagai berikut :

Investasi Yang Dibutuhkan Investasi awal yang dibutuhkan adalah Rp 17.000.000,-. Rancangan produksi . Skema kumbung pemeliharaan

Gambar rak penyimpanan log.

Gambar skema rak penyimpanan log Profil dan Struktur Kepengurusan Struktur kepengurusan dibuat sesederhana mungkin sehingga selama tahap industri rumah tangga, tiap pengurus memegang jabatan rangkap. Susunan kepengurusannya adalah sebagai berikut :

Satu orang Manajer Utama merangkap Manager Pemasaran bertugas mengelola perusahaan secara umum. Sebagai seorang Manager Pemasaran, ia pun bertugas membuka pasar, melakukan negosiasi bisnis dan memastikan produk dipasarkan dengan baik dan sampai ke konsumen tanpa masalah. Satu orang Manajer Operasional Harian merangkap Manager Produksi. Direktur Operasional dan Manajer Produksi bertanggung jawab terhadap kelancaran produksi secara keseluruhan, melakukan pengembangan bibit, memastikan produk berada dalam kondisi baik. Satu orang Manajer Keuangan. Manajer Keuangan bertugas melakukan analisis keuangan. Bersama dengan manajer lainnya juga berkordinasi dalam melakukan pengembangan dan ekspansi skala produksi secara bertahap.

Dalam target jangka panjang, setelah memasuki tahap industri menengah, susunan kepengurusan akan disempurnakan dengan penambahan pengurus baru dan tidak ada lagi jabatan rangkap. Divisi produksi akan diorientasikan sebagai divisi padat karya, sehingga mampu menyerap banyak tenaga kerja. Tenaga kerja terlatih akan direkrut dari lulusan yang cakap dan ulet, dan tenaga pemasaran akan ditambah sesuai dengan kapasitas produksi berjalan.

BAGIAN III Aspek Keuangan


1. Analisa Biaya yang diperlukan untuk membuat 6.000 baglog jamur adalah: a. Modal Tetap No. Uraian Harga 1 Peralatan* Rp 1.000.000,Total Modal Tetap Rp 1.000.000,* Cangkul, ember, sekop, sprayer, alat steam, dll. b. Biaya Penyusutan nilai ekonomis peralatan adalah 2 tahun Rp 1.000.000,- : 24 Bulan = Rp 41.666,67 = Rp 41.700,c. Modal Kerja No. 1 2 3 4 Modal Kerja Polibag Tenaga kerja Rumah Jamur Media Tanam* Harga x Jumlah Unit Rp 1.000.000,- x 2 Bulan Rp 5.000.000,- x 2 rumah Harga Rp 2.000.000,Rp 2.000.000,Rp 10.000.000,Rp 2.000.000,-

Total Modal Ket:

Rp 16.000.000,-

Campuran serbuk kayu, bekatul, tepung jagung dan kapur. ** Umur ekonomis polibag & media tanam adalah enam bulan; Sehingga Penyusutan perbulan adalah; = (Rp Rp 2.000.000,- + Rp 2.000.000,-) : 6 = Rp 666.666,67 = Rp 666.700,- perbulan

*** Utilitas: Listrik + Transportasi + Air = Rp 250.000,d. Total Modal = Modal Tetap + Modal Kerja + Utilitas = Rp 1.000.000,- + Rp 16.000.000,- + Rp 250.000,= Rp 17.250.000,e. Pendapatan Kotor Setelah jamur tumbuh, pemanenan dapat dilakukan setiap hari pada log yang berbeda. Setiap kali panen dapat menghasilkan 6-8 kg/panen dengan harga Rp 20.000/kg. sehingga pendapatan rata-rata perbulan adalah: 6 Kg x Rp 20.000,- x 30 Hari = Rp 3.600.000,-

f. Biaya Produksi = Biaya penyusutan + modal kerja + Utilitas + Beban Gaji = Rp 41.700,- + Rp 666.700,- + Rp 250.000,- + Rp 1.000.000,= Rp 1.958.400 g. Pendapatan Bersih = Pendapatan Kotor - Biaya Produksi = Rp 3.600.000 - Rp 1.958.400 = Rp 1.641.600,- per bulan

PENUTUP Demikian proposal usaha jamur tiram ini disusun. Dari hasil analisis penulis mengenai peluang pemasaran, operasional, dan keuangan, penulis optimis bahwa budidaya jamur tiram ini layak dan berpotensi tinggi untuk dikembangkan.