Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DENGAN PERILAKU KEKERASAN

A. Masalah Utama Perilaku Kekerasan

B. Proses Terjadinya Masalah

1. Pengertian Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan (Stuart dan Sundeen 1995). Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai orang lain secara fisik maupun psikologis (Berkowitz, dalam Harnawati, 1993). Setiap aktivitas bila tidak dicegah dapat mengarah pada kematian (Stuart dan Sundeen, 1998). Suatu keadaan dimana individu mengalami perilaku yang dapat melukai secara fisik baik terhadap diri sendiri atau orang lain (Towsend, 1998). Suatu keadaan dimana klien mengalami perilaku yang dapat membahayakan klien sendiri, lingkungan termasuk orang lain, dan barang-barang (Maramis, 1998). Perilaku kekerasan dapat dibagi dua menjadi perilaku kekerasn secara verbal dan fisik (Ketner et al., 1995).

2. Tanda dan Gejala Fisik: mata melotot / pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup, wajah memerah dan tegang, serta postur tubuh kaku. Verbal: mengancam, mengumpat dengan kata-kata kotor,

berbicara dengan nada keras, kasar dan ketus.

Perilaku: menyerang orang lain, melukai diri sendiri / orang lain, merusak lingkungan, amuk/agresif. Emosi: tidak ade kuat, tidak aman dan nyaman, merasa terganggu, dendam, jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut. Intelektual: mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, dan tidak jarang mengeluarkan kata-kata bernada sarkasme. Spritual: merasa diri berkuasa, merasa diri benar, keragu-raguan, tidak bermoral, dan kreativitas terhambat. Sosial: menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, dan sindiran. Perhatian: seksual. bolos, melarikan diri, melakukan penyimpangan

3. Rentang Respon Respon Adaptif Asertif Frustasi Pasif Respon maladaptif Agresif Kekerasan

Gambar. Rentang respon perilaku kekerasan Keterangan : 1) Asertif : Individu dapat mengungkapkan orang lain dan marah tanpa

menyalahkan ketenangan. 2) Frustasi

memberikan

: Individu gagal mencapai tujuan kepuasan saat marah dan tidak dapat menemukan alternatif.

3) Pasif 4) Agresif

: Individu tidak dapat mengungkapkan perasaannya. : Perilaku yang menyertai marah, terdapat dorongan untuk menuntut tetapi masih terkontrol.

5) Kekerasan

: Perasaan marah dan bermusuhan yang kuat serta hilangnya kontrol.

Perbandingan antara Perilaku Asertif, Pasif dan Agresif Pasif Isi pembicaraan Negatif merendahkan contohnya perkataan: Dapatkah saya? Dapatkah kamu? Asertif dan Positif Agresif dan Menyombongkan

diri, menawarkan diri, diri, contohnya perkataan: .. merendahkan orang Contohnya Kamu Kamu pernah.. selalu tidak lain.

Saya dapat perkataan: Saya akan ..

Tekanan suara

Cepat mengeluh

lambat, Sedang

Keras dan ngotot

Posisi badan

Menundukan kepala

Tegap santai

dan Kaku, ke depan

condong

Jarak

Menjaga dengan

jarak Mempertaha Siap sikap nkan yang nyaman jarak jarak

dengan akan

acuh/mengabaikan

menyerang orang lain. Mengancam, posisi menyerang

Penampilan

Loyo, tidak dapat Sikap tenang tenang

Kontak mata

Sedikit / sama sekali Mempertaha Mata melotot dan tidak nkan kontak dipertahankan. mata sesuai dengan hubungan

Sumber : Keliat (1999)

4.

Faktor Predisposisi Menurut Townsend (1996) terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan tentang faktor predisposisi perilaku kekerasan, diantaranya adalah sebagai berikut : Teori Biologik Berdasarkan teori biologik, ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi seseorang melakukan perilaku kekerasan, yaitu sebagai berikut : a. Pengaruh neurofisiologik, beragam komponen sistem neurologis mempunyai implikasi dalam memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. Sistem limbik sangat terlibat dalam menstimulasi timbulnya perilaku bermusuhan dan respon agresif. b. Pengaruh biokimia, menurut Goldstein dalam Townsend (1996) menyatakan bahwa berbagai neurotransmiter (epinefrin, norepinefrin, dopamin, asetilkolin, dan serotinin) sangat berperan dalam

memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. Peningkatan hormon androgen dan norepinefrin serta penurunan serotinin dan GABA (6 dan 7) pada cairan serebrospinal merupakan faktor predisposisi penting yang menyebabkan timbulnya perilaku agresif pada seseorang. c. Pengaruh genetik, menurut penelitian perilaku agresif sangat erat kaitannya dengan genetik termasuk genetik tipe kariotipe XYY, yang umumnya dimiliki oleh penghuni penjara pelaku tindak kriminal (narapidana) d. Gangguan otak, sindrom otak organik berhubungan dengan berbagai gangguan serebral, tumor otak (khususnya pada limbik dan lobus temporal), trauma otak, penyakit ensefalitis, epilepsi (epilepsi lobus temporal) terbukti berpengaruh terhadap perilaku agresif dan perilaku kekerasan.

Teori Psikologik a. Teori psikoanalitik, teori ini menjelaskan bahwa tidak terpenuhinya kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan membuat konsep diri yang rendah. Agresi dan kekerasan dapat memberikan kekuatan prestise yang dapat meningkatkan citra diri serta memberikan arti dalam kehidupannya. Teori lainnya berasumsi bahwa perilaku agresif dan tindakan kekerasan merupakan pengungkapan secara terbuka terhadap rasa ketidakberdayaannya dan rendahnya harga diri pelaku tindak kekerasan. b. Teori pembelajaran, perilaku kekerasan merupakan perilaku yang dipelajari, individu yang memiliki pengaruh biologik terhadap perilaku kekerasan lebih cenderung untuk dipengaruhi oleh contoh peran eksternal dibandingkan anak-anak tanpa faktor predisposisi biologik. Teori sosiokultural Kontrol masyarakat yang rendah dan kecenderungan menerima perilaku kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah dalam masyarakat merupakan faktor predisposisi terjadinya perilaku kekerasan.

5.

Faktor Presipitasi Faktor presipitasi dapat dibedakan menjadi faktor internal dan eksternal. Internal adalah semua faktor yang dapat menimbulkan kelemahan, menurunnya percaya diri, rasa takut sakit, hilang kontrol dan lain-lain. Eksternal adalah penganiayaan fisik, kehilangan orang yang dicintai, krisis dan lain-lain.

Menurut Shives (1998) hal-hal yang dapat menimbulkan perilaku kekerasan atau penganiayaan antara lain sebagai berikut. Kesulitan kondisi sosial ekonomi. Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu. Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan

ketidakmampuannya dalam menempatkan diri sebagai orang yang dewasa. Perilaku mungkin mempunyai riwayat antisosial seperti penyalahgunaan obat dan alkohol serta tidak mampu mengontrol emosi pada saat menghadapi rasa frustasi. Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan, perubahan tahap perkembangan, atau perubahan tahap perkembangan keluarga.

6.

Mekanisme Koping Perawat perlu mengidentifikasi mekanisme koping klien, sehingga dapat membantu klien untuk mengembangkan mekanisme koping yang konstruktif dalam mengekspresikan kemarahannya. Mekanisme koping yang umum digunakan adalah mekanisme pertahanan ego seperti displacement, sublimasi, proyeksi, represif, denial, dan reaksi formasi. Perilaku kekerasan biasanya diawali dengan situasi berduka yang berkepanjangan dari seseorang karena ditinggal oleh orang yang dianggap sangat berpengaruh dalam hidupnya. Bila kondisi tersebut tidak teratasi, maka dapat menyebabkan seseorang rendah diri (harga diri rendah), sehingga sulit untuk bergaul dengan orang lain ini tidak diatasi akan memunculkan halusinasi berupa suara-suara atau bayangan yang meminta klien untuk melakukan tindak kekerasan. Hal tersebut dapat berdampak pada keselamatan dirinya dan orang lain (resiko tinggi mencederai diri, orang lain, dan lingkungan). Selain diakibatkan oleh berduka yang berkepanjangan, dukungan keluarga yang kurang baik dalam menghadapi kondisi klien dapat mempengaruhi perkembangan klien (koping keluarga tidak efektif).

Hal ini tentunya menyebabkan klien sering keluar masuk RS atau menimbulkan kekambuhan karena dukungan keluarga tidak maksimal (regimen terapeutik inefektif).

C. Pohon Masalah

Resiko Tinggi Mencederai Diri, Orang Lain, dan Lingkungan

Perilaku Kekerasan

PPS: Halusinasi

Regimen Terapeutik Inefektif

Harga Diri Rendah Kronis

Isolasi Sosial : Menarik Diri

Koping keluarga Tidak Efektif

Berduka Disfungsional

Gambar Pohon Masalah Perilaku Kekerasan

D. Masalah Keperawatan 1. 2. 3. Perilaku kekerasan. Risiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Perubahan persepsi sonsori : halusinasi.

4. 5. 6. 7. 8.

Harga diri rendah kronis. Isolasi sosial. Berduka disfungsional. Penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif. Koping keluarga inefektif.

E. Data yang Perlu Dikaji

Masalah Keperawatan

Data yang Perlu Dikaji

Perilaku Kekerasan

Subjektif : Klien mengancam. Klien mengumpat dengan kata-kata kotor. Klien jengkel. Klien mengatakan ingin berkelahi. Klien menyalahkan dan menuntut. Klien meremehkan. mengatakan dendam dan

Objektif : Mata melotot / pandangan tajam. Tangan mengepal. Rahang mengatup. Wajah merah dan tegang. Postur tubuh kaku. Suara keras.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan masalah perilaku kekerasan, antara lain sebagai berikut. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Ketidakmampuan mengendalikan dorongan marah. Stimulus lingkungan. Konflik interpersonal. Status mental. Putus obat. Penyalahgunaan narkoba / alkohol.

F. Diagnnosis Keperawatan Perilaku kekerasan. G. Rencana Tindakan Keperawatan Dapat Menyebutkan Cara Mengontrol 1. Tindakan keperawatan untuk klien Tujuan a. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan b. Klien dapat mengidentifikasi tanda tanda perilaku kekerasan c. Klien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukan. d. Klien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukannya. e. Klien dapat menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasannya f. Klien dapat mengontrol perilaku kekerasan secara fisik, spiritual, social, dan dengan terapi psikofarmaka Tindakan a. Bina hubungan saling percaya Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar klien meras aman dan nyaman saat berinteraksi dengan saudara. Tindakan yang harus saudara lakukaan dalam rangka membina hubungan saling percaya adalah mengucapkan salam terapeutik, berjabat tangan, menjelaskan tujuan interaksi, serta membuat kontrak, topic, waktu, dan tempat setiap kali bertemu klien. b. Diskusikan bersama klien penyebab perilaku kekerasan yang terjadi dimasa lalu dan saat ini.

c. Diskusikan perasaan klien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan. Diskusikan bersama klien mengenai tanda dan gejala perilaku kekerasan, baik kekerasan fisik, psikologi, social, spiritual maupun intelektual. d. Diskusikan bersam klien perilaku secara verbal yang biasa dilakukan pada saat marah baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan e. Diskusikan bersama klien akibat yang di timbulkan dari perilaku marahnya. Diskusikan bersama klien cara mengontrol perilaku kekerasan baik secara fisik ( pukul kasur atau banyal serta tarik napas dalam ), obat obatan social atau verbal ( dengan mengungkapkan kemarahannya secara asertif), ataupun spiritual ( salat atau berdoa sesuai keyakinan klien ) 2. Tindakan keperawatan untuk keluarga Tujuan Keluarga dapat merawat klien dirumah Tindakan a. Diskusikan bersam keluarga tentang perilaku kekerasan meliputi penyebab, tanda dan gejala, perilaku yang muncul, serta akibat dari perilaku tersebut. b. Latih keluarga untuk merawat anggota keluarga dengan perilaku kekerasan. 1. Anjurkan keluarga untuk selalu memotivasi klien agar melakukan tindakan yang telah di ajarkan oleh perawat. 2. Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada klien bila anggota keluarga dapat melakukan kegiatan tersebut secara tepat. 3. Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila klien menunjukkan gejala-gejala perilaku kekerasan. c. Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi klien yang perlu segera dilaporkan kepada perawat, seperti melempar atau memukl benda/orang lian.

10

STRATEGI PELAKSANAAN TIINDAKAN KEPERAWATAN Masalah Pertemuan : Perilaku Kekekrasan : Ke-1 (Pertama)

A. Proses Keperawatan

1. Kondisi Klien tampak mondar-mandir, berbicra sambil mengepalkan tinj, pandangan mata tajam, wajah merah, dan tegang, serta sesekali tampak memukul-mukul dinding.

2. Diagnosis Keperawatan Perilaku kekerasan

3. Tujuan Khuss Membina hubungan saling percaya Menyebutkan penyebab dari perilaku marah yang ditampilkan Menyebutkan perilaku yang biasa dilakukan jika marah Terhindar dari cedera

4. Tindakan Keperawatan Membina hubungan saling percaya a. Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan klien b. Berkenalan dengan klien, meliputi nama dan nama panggilan yang Saudara sukai, serta nama dan nama panggilan klien c. Menanyakan perasaan dan keluhan klien saat ini d. Buat kontrak asuhan meliputi apa yang saudara akan lakukan bersama klien, berapa lama akan dikerjakan, dan tempatnya di mana. e. Jelaskan bahwa Saudara akan merahasiakan setiap informasi yang diperoleh untuk kepentingan terapi. f. Setiap saat tunjukan sikap empati terhadap pasien

11

g. Penuhi kebutuhan dasar klien Identifikasi tanda-tanda yang menunjukkan perilaku kekerasan Monitor klien selama masih melakukan tindakan yang mengarah pada perilaku kekerasan. Lakukan pendekatan dengan teknik komunikasi terapeutik Tangani kondisi kegawatdaruratan dengan isolasi fiksasi

B. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan

1. Orientasi Selamat pagi pak, perkenalkan nama saya suster , saya yang akan merawat Bapak hari ini. Nama bapak siapa, senangnya dipanggil apa? (mengulurkan tangan sambil tersenyum menunjukkan sikap terbuka) Saya perhatikan Bapak mondar-mandir sambil memukul-mukul dinding, bisa kita berbincang-bincang sekarang tentang apa yang menyebabkan Bapak memukul-mukul dinding? (Memberikan sentuhan dengan perlahan serta mennjukkan sikap empati). Berapa lama Bapak ingin berbincang-bincang? Dimana enaknya kita berbincang-bincang, Pak?

2. Kerja Sekarang Bapak bisa mulai menceritakan apa yang menyebabkan Bapak memukul-mukul dinding. Apa yang Bapak rasakan saat ini? (Dengarkan ungkapan kemarahan klien dan tetap bersikap empati selama lien mengungkapkan kemarahannya, selain itu lakukan observasi terhadap tanda-tanda perilaku kekerasan yang ditunjukkan selama klien mengungkapkan perasaan marahnya). Apa yang biasa Bapak lakukan jika Bapak merasa kesal/marah seperti ini? Baiklah Pak, untuk sementara waktu Bapak boleh menyendiri diruangan ini dulu sampai marahnya hilang, tujuannya agar Bapak lebih aman dan tenang, karena jika dalam kondisi kesal Bapak tetap diluar,

12

dikhawatirkan Bapak akan mengalami hal-hal yang tidak diniginkan, misalnya terjatuh atau terluka. (Melakukan isolasi pada klien di ruangan yang aman) Bapak akan dikeluarkan dari ruangan ini sampai kondisi Bapak lebih tenang dan jika Bapak perlu sesuatu, saya ada di ruang depan dan saya siap membantu Bapak kapan saja.

3. Terminasi Bagaimana perasaan Bapak setelah berada di ruangan ini? Sekarang Bapak bisa menenangkan diri di ruangan ini sambil Bapak pikirkan hal lain yang bisa membuat Bapak kesal/marah. saya akan kembali 15 menit lagi untuk melihat kondisi Bapak, dan jika kondisi Bapak sudah lebih tenang saya akan mengajarkan cara menghilangkan perasaan kesal/marah supaya Bapak tidak dimasukkan ke ruangan ini lagi. Bagaimana Pak, setuju?

13

LATIIHAN FASE ORIENTASI,KERJA DAN TERMINASI PADA SETIAP SP

Latihan 1 : membina hubungan saling percaya,pengkajian perilaku kekerasan dan mengajarkan cara menyalurkan rasa marah. Orientasi : assalamualaikum pak,perkenalkan nama saya A,saya perawat dari

puskesmas....,saya yang akan merawat bapak hari ini. Nama bapak siapa,senangnya dipanggil apa? Bisa kita berbincang-bincang sekarang tentang apa yang menyababkan bapak marah? Berapa lama Bapak mau kita berbincang-bincang? Dimana enaknya kita berbincang-bincang Pak? Kerja : Apa yang menyebabkan bapak memukul istri bapak dan memecahkan perabotan di rumah? Apa yang bapak rasakan sebelum Bapak memukul ibu dan memecahkan barang-barang dirumah? Apa perubahan yang terjadi pada diri bapak sebelum memukul ibu dan memecahkan barang-barang dirumah? Apakah bapak merasa kesal kemudian dada bapak berdebar-debar, mata melotot, rahang terkatup rapat dan tangan terkepal sebelum bapak memukul istri dan memecahkan barang-barang? Apakah ada tanda/hal lain yang bapak rasakan sebelum bapak memukul dan memecahkan barang? Apakah yang bapak rasakan ketika bapak marah?apakah merasakan dada berdebar-debar, mata melotot, atau dada berdebar-debar? Setelah bapak memukul istri dan merusak perabotan rumah tangga, apa yang bapak rasakan? Menurut bapak apa kerugian bila bapak memukul istri dan merusak perabotan rumah tangga? Menurut bapak adakah cara lain yang lebih baik untuk mengungkapkan kemarahan bapak agar tidak menimbulkan kerugian? Maukah bapak belajar cara marah yang baik agar rasa jengkel bapak tersalurkan tetapi tidak menimbulkan kerugian.

14

Terminasi : Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang-bincang dengan saya? Bagaimana kalau saya datang kembali kerumah bapak dua hari yang akan datang? Jam berapa sebaikn ya saya datang kembali?dimana enaknya kita bercakap-cakap nanti? Bagaimana kalau nantikita bicarakan tentang cara menyalurkan marah secara fisik? Nah selama dua hari tidak bertemu ini coba bapak pikirkan bagaimana menurut bapak cara menyalurkan marah secara fisik.

Latihan 2: mengontrol perilaku kekerasan secara fisik Orientasi: assalamualaikum pak, sesuai dengan janji saya dua hari yang lalu sekarang saya datang lagi. Apakah bapak sudah memikirkan kira-kira bagaimana cara menyalurkan marah secara fisik? Bagaimana kalau kita bicarakan cara tersebut sekarang? Di mana enaknya kita berbincang-bincang tentang hal tersebut? Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang tentang hal tersebut? Kerja : kalau tanda-tanda marah yang bapak sebutkan dua hari yang lalu seperti mata melotot, dada berdeba-debar, perasaan kesal, hal pertama yang bisa bapak lakukan adalah memukul-mukul kasur, dan bantal. Kedua, bapak bisa menarik napas dalam untuk menyalurkan perasaan-perasaan tadi. Nah...,coba sekarang kita kekamar, disana nanti akan saya peragakan cara memukul kasur dan bantal. Begini caranya pak! (perawat memperagakan caranya memukul kasur dan bantal). coba bapak ulangi!Ya.....,bagus sekali cara bapak memukul kasur dan bantal. Sekarang saya ajarkan caranya menarik napas dalam. Begini pak, tarik napas melalui hidung tahan sampai hitungan ketiga lalu hembuskan perlahan-lahan melalui mulut. Lakukan berulang-ulang sampai perasaan kesal dan dada berdebar-debar tadi hilang atau berrkurang,kurang lebih slama 5 kali pak. Sekarang kita buat jadwalnya ya pak,berapa kali dalam sehari bapak mau melakukan latihan melakukan latihan memukul kasur dan bantal serta menarik napas dalam?

15

Terminasi : bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara menyalurkan marah secara fisik? Coba bapak sebutkan lagi cara-cara memukul kasur dan bantal serta latihan tarik napas dalam tadi! Setelah ini coba bapak lakukan latihan memukul kasur dan bantal taik napas dalam sesuai dengan jadwal yang kita buat tadi. Dua hari lagi saya akan kembali mengunjungi bapak ya? Bagaiman kalau waktunya seperti sekarang ini saja,bapak setuju? Nanti kita membicarakan tentang cara bicara yang baik bila sedang marah,setuju? Latihan 3.mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal. Orientasi : assalamualaikum pak,sesuai dengan janji saya dua hari yang lalu sekarang saya datang lagi. Baimana pak, sudah dilakukan latihan tarik napas dalam ,pukul kasurr dan bantal,dan bicara yang ik? Apa yang di rasakan setelah melakukan latihan secara teratur? bagaimana kalau sekarang kita latihan cara lain untuk menyalurkan marah bapak,yaitu dengan cara mengungkapkan sesuatu dengan cara mengungkapkan sesuatu sesuatu dengan cara yang baik kepada orang yang dianggap bermasalah dengan bapak? Di mana enaknya kita berbincang-bincang tentang hal tersebut? Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang tentang hal tersebut? Kerja : pak, kalau bapak sedang marah coba bapak langsung duduk dan tarik napas dalam,jika tidak redah juga merahnya,bisa pukul bantal atau guling atau jika tidak reda juga dan bapak masih kesal dengan orang yang menyebabkan bapak marah ,coba ketemu dengan yang bersangkutan kemudian sampaikan dengan kata-kata yang sopan,jelas dan maksudnya dan tidak menyalahkan. Atau bila bapak merasa dipaksa oleh orang lain untuk melakukan sesuatu padahal bapak tidak mau maka coba bapak sampaikan juga penolakan nya dengan cara yang sopan ,tidak menggurui,dan berikan penjelasan mengapa bapak mengambil sikap demikian?

16

bagaimana pak,bisa bapak coba cara ini? Bagaimana kalau sekarang kita buat jadwal untuk mengungkapkan kepada seseorang yang telah membuat kesal? Terminasi : :bagaiman perasaan bapak setelah bercakap-cakap tentang menyalurkan marah dengan mengungkapkan kepada seseorang yang telah membuat bapak kesal? coba bapak sebutkan cara menyalurkan marah dengan mengungkapkan kepada seseorang yang telah membuat bapak kesal! besok insya allah saya akan mengunjungi bapak lagi ya. bagaimana kalau waktunta seperti sekarang saja ini ,bapak setuju? setelah ini coba bapak bertemu dengan seseorang di rumah sakit ini pernah membuat bapak kesal,sesuai jadwal yang telah kita buat tadi. nanti kita akan membicarakan cara penggunaan obat yang benar untuk mngontrol rasa marah bapak,setuju pak ?

Latihan 4. Mengontrol perilaku kekerasan secara spritual.

Orientasi: Assalamualaikum Pak, sesuai dengan janji saya dua hari yang lalu sekarang saya datang lagi. Bagaimana Pak, sudah di lakukan latihan tarik napas, dalam pukul kasur dan bantal serta bicara yang baik? Apa yang di rasakan setelah melakukan latihan secara teratur? Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara lain untuk menyalurkan marah Bapak, yaitu dengan ibadah? Berapa lama Bapak mau kita berbincangbincang tentang hal tersebut?

17

Kerja: Pak kalau Bapak sedang marah coba Bapak langsung duduk dan tarik napas dalam, jika tdk reda juga marahnya rebahkan badan lalu rileks, jika tidak reda juga ambil air wudu kemudian shalat. Bagaimana Bapak mencoba cara ini? Bagaimana kalau sekarang kita buat jadwal salatnya Bapak?

Terminasi: Bagaimana perasaan Bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara menyalurkan marah melalui melakukan ibadah? Coba Bapak sebutkan lagi cara ibadah yang dapat Bapak lakukan bila Bapak mearasa marah. Dua hari lagi saya akan mengunjungi Bapak lagi ya? Bagaimana kalau waktunya seperti sekarang ini saja, Bapak setuju tidak? Setelah ini coba Bapak tunaikam salat sesuai jadwal yg telah kiya bikin tadi. Nantikita akan membicarakan cara penggunaan obat yg benar untuk mengontrol rasa marah Bapak. Setuju Pak?

Latihan 5. Mengontrol perilaku kekerasan dengan obat

Orientasi: Assalamualaikum Pak, sesuai dengan janji saya dua hari yg lalu sekarang saya datang lagi. Bagaimana Pak, sudah dilakukan latihan tarik napas dalam, pukul kasur bantal, bicaa yg baik srta salat dan baca doanya? Apa yg dirasakan setelah melakukan latihan secaa teratu? Bagaiman kalau sekarang kita bicara dan latihan tentang cara minum obat yg benar? Dimana enaknya kita berbincang-bincang tentang hal tersebut? Berapa lama Bapak mau kita berbincang-bincang tentang hal trsebut? Sekarang saya akan jelaskan tentang hal pentingnya minum obat.

18

Kerja: Bapak perlu minum obat ini secara teratur agar pikiran menjadi lebih tenang dan tidurnya juga tenang. Obatnya ada tiga macam Pak, yg warnanya oranye namanya CPZ, yg putih namanya THP, dan yg merah jambu namanya HLP. Semuanya ini harus Bapak minum 3 kali sehari, yaitu pada jam 7 pagp, jam 1 siang, dan jam 7 malam. Bila nanti setelah minum obat mulut Bapak terasa kering, untuk membantu mengatasinya Bapak bisa mengisap-ngisap es batu. Bila terasa berkunang-kunang, Bapak sebaiknya istirahat dan jangan beraktivitas dulu. Sebelum minum obat ini bapak lihat dulu label di kotak obat apakah benar nama Bapak tertulis disana, berapa dosis yg harus diminum dan jam berapa aaja yg harus diminum. Baca juga apakah nama obatnya sudah benar? Latihan 6 . memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang cara merawat klien perilaku kekerasan di rumah. Orientasi : assalamualaikum pak.perkenalkan nama saya....,saya perawat dari puskesmas.... saya ayang akan merawat bapak hari ini. Nama ibu siapa,senangnya di panggil apa? Bisa kita berbincang-bincang sekarang tentang apa yang menyebabkan bapak marah dan cara mengatasinya? Berapa lama ibu mau berbincang-bincang? Di mana enaknya kita berbincang-bincang,bu? Kerja : bu,marah adalah suatu perasaan yang wajar

19

DAFTAR PUSTAKA

Fitria,Nita.2010.Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP) dan (SP).Jakarta : Salemba Medika

20